Share

Bab 8

Author: Liz
Di depan pintu masuk acara amal, Rania dicegat karena tidak memiliki undangan.

Namun, dari luar dia justru bisa melihat Arga di dalam gedung acara.

Tampak Clara sedang menggandeng lengannya.

Arga sedang mendampingi Clara dan berbincang akrab dengan Profesor Lukman.

Menatap pemandangan itu, Rania tiba-tiba merasa enam tahun hubungan mereka hanyalah lelucon yang sangat konyol.

...

Akhirnya, acara pun usai.

Rania bergegas maju, menghalangi langkah Profesor Lukman, dan memohon agar sang profesor bersedia menyelamatkan ibunya.

Setelah menatapnya beberapa saat, Profesor Lukman mengenalinya. "Kamu ... tunangannya Arga, 'kan? Kita pernah bertemu setahun yang lalu."

"Si anak ini maunya apa sih? Tadi di dalam kok nggak ngomong, malah cuma kenalin adik tingkatnya doang."

Rania menyunggingkan senyum getir.

"Dia melarangku menyebut namanya, jadi urusan operasi ibuku ini nggak ada hubungannya sama dia. Profesor, asal Bapak mau selamatkan ibuku, aku rela melakukan apa saja."

Profesor Lukman menghela napas.

"Si anak ini, masih muda kok udah kaku banget. Urusan nyawa orang gini harusnya bisa lebih fleksibel."

"Besok pagi aku ada jadwal kosong, bisa langsung operasi ibumu."

Rania berterima kasih berkali-kali, lalu berjanji akan bertemu dengan Profesor Lukman di rumah sakit besok pagi pukul delapan.

Sesampainya di rumah sakit, telepon dari temannya masuk, mengabarkan bahwa rumah tua itu sudah terjual seharga 1,4 miliar.

Beban berat yang selama ini menghimpit hatinya akhirnya terangkat.

Ibunya akhirnya punya harapan untuk diselamatkan.

Namun, keesokan harinya pukul delapan, Profesor Lukman tak kunjung tiba.

Rania berulang kali menelepon Profesor Lukman, tetapi panggilannya tak pernah diangkat.

Dokter penanggung jawab itu tampak panik dan berkeringat dingin. "Mana Profesor Lukman? Kondisi pasien memburuk lagi, harus segera dioperasi. Kalau terus ditunda, nyawanya nggak akan tertolong!"

Tepat saat itu, seorang perawat yang kebetulan lewat bersuara.

"Aku tadi lihat Profesor Lukman."

Rania langsung menoleh. "Di mana?"

"Dibawa sama Pak Arga."

Dia buru-buru menelepon Arga, tetapi sama saja, tidak ada yang mengangkat.

Tanpa pikir panjang, dia mulai mencari dari satu lantai ke lantai lainnya.

Akhirnya, di depan ruang pemeriksaan VIP, dia melihat sosok Profesor Lukman melalui kaca.

Baru saja dia hendak melangkah masuk, sebuah tarikan keras tiba-tiba menghentikannya.

Arga menyeretnya paksa hingga ke ujung lorong.

Rania berusaha keras melepaskan diri dari cengkeramannya, matanya memerah penuh urat-urat darah.

"Arga, ibuku lagi nunggu Profesor Lukman buat nyelamatin nyawanya. Atas dasar apa kamu bawa dia pergi?"

"Dada Clara rasanya nggak enak, perlu diperiksa secara menyeluruh."

Dia gemetar hebat karena marah. "Di rumah sakit sebesar ini, apa dokter-dokter lain masih kurang banyak buat meriksa dia? Profesor Lukman itu aku yang minta datang khusus buat operasi ibuku!"

"Profesor Lukman itu spesialis jantung paling top di negara ini. Aku baru tenang kalau Clara diperiksa sama beliau."

Nada suara Arga melembut.

"Rania, kamu sabar sebentar ya."

"Lagian kamu udah nunggu berhari-hari, nambah beberapa jam lagi juga nggak bakal kenapa-napa, 'kan?"

Rania menatap pria di hadapannya, merasa sosok itu begitu asing dan mengerikan.

"Bukannya kamu yang paling berpegang teguh pada prinsip? Kamu nggak mau ngelanggar aturan demi ibuku, terus sekarang ini maksudnya apa?"

"Kasus khusus, penanganan khusus," ucapnya datar.

Selesai bicara, dia memanggil petugas keamanan rumah sakit.

"Jaga dia baik-baik, jangan sampai dia ganggu konsultasi Profesor Lukman."

"Kalau ada apa-apa, kalian yang tanggung jawab."

Petugas keamanan itu langsung maju dan memegang paksa kedua lengan Rania.

"Arga! Dasar berengsek! Lepasin aku! Ibuku nggak bisa nunggu lagi!"

"Arga, aku mohon!"

Rania meronta sekuat tenaga, berteriak dan menangis penuh keputusasaan.

Mendengar teriakan itu, hati Arga terasa nyeri, tetapi dia tak menoleh dan terus melangkah pergi.

Di dalam ruang pemeriksaan VIP, Profesor Lukman menatap hasil EKG. "Gadis ini nggak kenapa-napa, Arga. Kamu cuma terlalu khawatir."

Clara duduk di tepi tempat tidur pemeriksaan sambil memegangi dadanya. "Tapi, dadaku beneran sakit banget, terus rasanya sesak ...."

Arga melangkah maju, membantunya turun dari tempat tidur.

"Profesor, tolong diperiksa lebih detail lagi ya. Biar aku lebih tenang."

Profesor Lukman menatapnya dengan tatapan aneh.

"Arga, kamu jadi nikah sama tunanganmu, 'kan?"

Arga terkekeh pelan, raut wajahnya tampak begitu yakin.

"Tentu saja. Kalau aku udah memutuskan untuk menikahi Rania, seumur hidup cuma dia yang bakal jadi istriku."

Jari-jari Clara yang mencengkeram ujung bajunya seketika mengeras. Dia menggigit bibir bawahnya tanpa bersuara.

Profesor Lukman mengangguk. "Tapi, tadi aku udah janjian sama tunanganmu buat operasi jam delapan. Kok tiba-tiba jadwalnya berubah?"

Arga menjelaskan, "Mereka lagi jalani pemeriksaan pra-operasi yang lain. Sekalian nunggu hasilnya keluar, jadi lebih gampang buat Profesor langsung konsultasi."

"Mumpung ada waktu luang, tolong bantu periksa Clara juga ya, Profesor."

Begitulah, empat jam berlalu begitu saja.

Clara telah menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaan dan hasilnya menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak memiliki masalah kesehatan.

Barulah setelah itu Arga membawa Profesor Lukman menuju ruang ICU tempat Ibu Rania dirawat.

Namun, di dalam ICU, tempat tidur pasien itu kini kosong.

Rania dan ibunya, keduanya telah menghilang.

Saat Arga masih bingung, dokter penanggung jawab yang menangani Ibu Rania melangkah masuk.

"Mereka ke mana?" tanya Arga buru-buru.

Dokter itu menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Karena kondisi pasien memburuk dengan sangat cepat, beliau meninggal dunia dua jam yang lalu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 23

    Tiga tahun kemudian.Nama Rania kini telah menjadi sosok yang sangat dikenal di lingkup arsitektur dan desain.Dia berhasil memadukan teknik sulam tradisional dengan apik ke dalam struktur cahaya dan bayangan arsitektur modern, menjadikan setiap karyanya mahakarya yang luar biasa.Dan pada akhirnya, dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, dia berhasil membeli kembali rumah lama peninggalan ibunya.Pada hari dia menerima sertifikat tanah itu, dia duduk sendirian di dalam rumah, dari siang hingga malam.Dion tidak mendesaknya. Dia hanya menunggu dengan tenang di luar pintu, hingga Rania membukanya, barulah dia melangkah maju."Ayo pulang."Dia menggenggam tangan Rania, gerakannya terasa begitu alami.Selama tiga tahun ini, hubungan mereka pun berkembang secara alami hingga akhirnya mereka bersama. Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak pula dramatis hingga menyakitkan.Pria itu akan menyiapkan makanan ringan dan selimut hangat saat Rania begadang mengerjakan desain.Sebaliknya, Rania

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 22

    Tak lama kemudian, hari persidangan pun tiba.Arga kini mengenakan setelan jas yang tak lagi pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, matanya cekung, dan janggut hitam kebiruan tumbuh di dagunya. Sementara itu, Clara, yang dikawal oleh petugas pengadilan dengan kedua tangan terborgol, tak lagi menampilkan raut memelas dan rapuh seperti biasanya.Suara hakim bergema di ruang pengadilan yang khidmat dan penuh wibawa."Terkait kasus malpraktik medis, setelah melalui persidangan, terdakwa Arga terbukti melakukan kelalaian berat dalam proses diagnosis dan perawatan, sehingga menunda waktu penanganan terbaik bagi pasien, dan bertanggung jawab utama atas kematian pasien tersebut.""Putusan pengadilan adalah sebagai berikut. Terdakwa Arga diwajibkan untuk meminta maaf secara terbuka kepada pihak penggugat, Rania, melalui media tingkat kota, serta bersama-sama mengganti rugi berbagai kerugian yang diderita oleh penggugat Rania dengan total sebesar 3,6 miliar.""Izin praktik medis Arga dicabut dan

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 21

    Arga tak tahu bagaimana dia bisa kembali ke kamar sewanya.Dia meraih ponselnya, jari-jarinya melayang di atas nama kontak Rania.Setelah cukup lama, dia mulai mengirimkan pesan untuk Rania.[Kita perlu bicara.]Pesan terkirim, tapi langsung muncul notifikasi gagal terkirim.Dia menatap layar ponsel, membiarkan waktu berlalu menit demi menit, lalu dengan keras kepala mengirimkan satu pesan lagi.[Rania, kita ketemu, ya.]Tetap gagal terkirim.Air mata menetes membasahi layar ponsel, tetapi dia terus-menerus mengirimkan pesan yang tak akan pernah sampai kepada Rania.[Rania, aku salah. Maafin aku, ya?][Aku mohon .…][Rania, maafin aku.][Rania, aku cinta kamu .…]…Sementara itu, Rania sedang duduk di depan komputer, sibuk bekerja.Gelar juara dalam kompetisi desain tersebut telah mendatangkan tawaran kerja sama dari sebuah perusahaan besar.Demi proyek ini, dia bekerja hingga larut malam setiap hari. Meski tubuhnya lelah, batinnya merasakan kepuasan yang belum pernah dia rasakan sebel

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 20

    Arga tidak membela diri sedikit pun. Karena memang tidak ada yang bisa dia bantah. Pada akhirnya, dia meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya pada surat pemberitahuan penonaktifan sementara untuk menjalani investigasi. Tepat pada sore hari saat dia dinonaktifkan dari jabatannya, Rania, selaku keluarga korban, menerima wawancara eksklusif dari media.Di hadapan kamera, dia memaparkan dengan jelas dan runtut seluruh rangkaian peristiwa, mulai dari saat ibunya jatuh sakit hingga mengembuskan napas terakhir.Dia membentangkan fakta tersebut di hadapan publik, bagaikan pisau bedah yang tajam, dengan presisi mengoyak selubung prinsip palsu yang selama ini dikenakan Arga. "Seorang dokter yang demi seorang 'adik tingkat' semata, rela mengabaikan peraturan rumah sakit, menelantarkan pasien, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka."Rania menatap lurus ke arah kamera, mengucapkan setiap kata dengan tegas, "Dia nggak pantas mengenakan jas putih itu."Di rumahnya, Arga menatap layar televisi. C

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 19

    Kepala Arga berdengung hebat, pikirannya seketika menjadi kosong.Waktu itu, Clara menyodorkan setumpuk dokumen untuk ditandatangani, katanya itu surat jaminan proyek.Dia tak pernah menyangka bahwa 'adik tingkat' yang dia anggap baik dan polos itu akan menipunya, sehingga dia sama sekali tidak membacanya dengan teliti.Tanpa dia sadari, sejak saat itu, Clara sudah menyiapkan jebakan untuk menyeretnya ke dalam jurang kehancuran. Arga mendongak. Tatapannya yang dulu tenang dan terkendali, kini dipenuhi amarah yang menggelegak dan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia merasa dirinya bagaikan lelucon yang sangat konyol.Demi perempuan ini, dia telah melanggar semua prinsipnya, berulang kali menyakiti Rania, dan secara tidak langsung menyebabkan kematian ibu Rania.Demi perempuan ini, dia telah kehilangan segala hal paling berharga dalam hidupnya. Namun, yang dia dapatkan ternyata hanyalah akhir tragis di tangan perempuan berhati kejam ini. "Keluar."Senyum di wajah Clara sempat kaku, te

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 18

    Teriakan Clara membuat kepala Arga makin sakit.Dia mengangkat tangan, memijat pelipisnya, dan bertanya dengan suara parau. "Ada apa sebenarnya?""Aku juga nggak tahu ...." Clara menangis, emosinya nyaris runtuh. "Sekarang dananya macet, proyeknya berhenti total, dan mereka minta aku ganti rugi! Kak Arga, aku butuh banyak banget uang buat ngebuka pembekuan aset. Kalau nggak, aku bakal tamat dan bisa masuk penjara! Kak Arga, tolong bantu aku, ya?"Mendengar isak tangis gadis itu, rasa lelah dan muak yang tak terlukiskan perlahan menyelimuti hati Arga."Clara, aku sudah nggak punya uang lagi.""Semua uangku sudah aku berikan padamu. Rumah dan mobil juga sudah diagunkan. Aku nggak punya sisa sepeser pun."Bahkan untuk mengembalikan uang Rania, dia harus menurunkan gengsinya dan meminjam dari teman-temannya. Mana mungkin dia masih memiliki uang.Tangis Clara terhenti. Seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya, dia menatap Arga dengan mata terbelalak.Tak lama kemudian, seolah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status