Share

Bab 7

Author: Liz
Tengah hari di puncak musim panas, kabin mobil terasa panas seperti oven.

Permukaan jok kulitnya panas luar biasa, menempel di kulit dan menimbulkan rasa perih.

Rania meraba-raba mencari ponselnya, lalu menelepon Arga, tetapi panggilan itu tak kunjung diangkat.

Suhu di dalam mobil terus merangkak naik. Pandangannya mulai mengabur, kepalanya berdenging kencang.

Kalau dibiarkan begini, dia bisa mati di sini.

Sambil mengatupkan rahang, dia balik badan dan mencabut sandaran kepala jok dengan sekuat tenaga. Menggunakan ujung besi di bagian bawahnya, dia menghantam kaca jendela mobil sekeras mungkin.

Brak! Brak! Brak!

Berulang kali.

Dia menghantam titik yang sama dengan segenap tenaga yang tersisa.

Prang!

Kaca jendela akhirnya pecah berkeping-keping.

Embusan udara sejuk menerobos masuk ke kabin, menyadarkan kesadarannya yang mulai buyar.

Dia memaksakan diri merangkak keluar lewat jendela yang pecah, jatuh terempas ke tanah, dan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.

Butuh waktu cukup lama baginya untuk sekadar bisa berdiri kembali.

Baru saat itulah dia menyadari bahwa mobil itu terparkir di tengah jalan pegunungan yang berkelok.

Sementara di lereng bukit tak jauh dari sana, tampak ada sebuah acara berkemah yang sedang berlangsung.

Rania melihat Arga sedang memayungi Clara dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dengan lembut menyuapkan air minum kepadanya.

Setelah meneguk air, Clara mengatakan sesuatu yang membuat Arga, yang biasanya tak pernah tersenyum, turut melengkungkan bibirnya.

Menyaksikan pemandangan itu, Rania merasa semuanya begitu konyol dan tak masuk akal.

Dia memalingkan wajah, menyeret kakinya yang terasa seberat timah, melangkah turun satu demi satu, lalu memesan taksi menuju rumah sakit.

Tak lama setelah dia tiba di rumah sakit, ponselnya berdering. Arga menelepon.

"Rania, kok kamu pergi nggak bilang-bilang? Terus, kaca mobil itu kenapa?"

Dengan suara parau, Rania menjawab, "Arga, kamu ngunci aku di dalam mobil cuma demi memayungi dan nyuapin air buat Clara."

"Kamu tahu nggak sih, aku hampir mati kepanasan di dalam?"

Di seberang telepon, Arga terdiam selama dua detik.

"Maaf, waktu turun aku buru-buru. Aku lupa kalau di dalam mobil bisa panas banget."

"Aku lihat Clara sama yang lain lagi ada acara. Dia seorang cewek, di tengah panas begini masih harus ngangkut banyak barang. Mana mungkin aku membiarkannya? Gimana kalau dia sampai kena heatstroke?"

Mendengar nada bicara Arga yang seolah-olah itu hal yang sangat wajar, Rania tiba-tiba tertawa.

Dia takut Clara kepanasan, tetapi lupa kalau Rania masih demam tinggi dan dikunci di dalam mobil yang tertutup rapat.

"Arga, aku baru aja selesai periksa di UGD."

"Dokter bilang aku kena sengatan panas. Kalau telat setengah jam lagi, otakku bisa rusak permanen."

Napas Arga di seberang telepon tersentak tertahan.

"Rania ...."

Namun, Rania tak mau mendengar sepatah kata pun lagi. Dia langsung memutus sambungan telepon.

Setelah itu, dia memaksakan diri mengumpulkan sisa tenaganya untuk menelepon seorang teman.

"Tolong jualin rumah lama punya ibuku, secepatnya ya. Aku lagi butuh uang mendesak."

Selanjutnya, dia membuka daftar kontak di ponselnya dan menelepon siapa saja yang mungkin mengenal Profesor Lukman.

Dia harus bisa mendatangkan Profesor Lukman untuk menyelamatkan ibunya.

Pagi harinya, Arga datang ke rumah sakit.

Menatap wajah Rania yang pucat, ada kilat rasa bersalah di matanya.

"Rania, aku yang nggak mempertimbangkan semuanya dengan baik. Aku minta maaf."

Rania menatapnya datar.

"Arga, aku nggak butuh minta maafmu. Aku ngomong sekali lagi, kita udah selesai. Cepat balikin 800 jutaku."

Arga menarik napas panjang, menahan rasa kesal di matanya.

"Kamu harus ngambek di saat kayak gini?"

"Kamu bisa nggak sih jangan terus kayak anak kecil, cemburu nggak jelas sama Clara?"

Rania bahkan sudah tak punya sisa tenaga untuk membantah.

Dia mencabut paksa jarum infus di punggung tangannya, menyibakkan selimut, dan bersiap turun dari tempat tidur.

Arga dengan sigap menahannya.

"Kamu mau ke mana? Dengan kondisi kamu sekarang, kamu harus rawat inap minimal seminggu buat observasi!"

Rania menatap dingin tangan Arga yang menahannya di bahu.

"Kalau bukan karena kamu, aku nggak bakal kena sengatan panas. Kalau bukan karena kamu sama Clara, ibuku nggak bakal masuk ICU."

Raut wajah Arga makin dingin.

"Ibumu sakit itu 'kan musibah, ngapain sih kamu malah nyeret-nyeret Clara? Kamu bisa nggak sih ngomong yang masuk akal?"

Rania menyunggingkan senyum mengejek.

"Ya udah, kalau gitu sekarang kamu suruh Clara balikin 800 juta ke aku, atau kamu yang panggil Profesor Lukman buat operasi ibuku."

"Kamu bisa lakuin yang mana?"

Arga mengatupkan bibir. "Udah aku bilang, itu melanggar aturan."

Rania mendengus dingin. "Kalau gitu, minggir."

Dia mendorong Arga dengan keras, lalu melangkah keluar dari ruang rawat.

Beberapa hari berikutnya, Rania sibuk luar biasa. Dia sibuk keliling mencari tahu kabar Profesor Lukman, sibuk menjaga ibunya di ICU dan sibuk menelepon satu per satu sanak saudara serta teman untuk memberi tahu bahwa pernikahan dibatalkan.

Sementara itu, Arga juga tak kalah sibuk.

Dia sibuk mengurus urusan rumah sakit dan sibuk membantu Clara memuluskan proyek senilai 10 miliar itu.

Sampai pada sore hari di hari kelima ibunya dirawat, Rania mendapat telepon dari seorang teman.

"Rania, aku dapat kabarnya!"

"Profesor Lukman ada di kota kita dan malam ini beliau bakal hadir di sebuah acara amal!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 23

    Tiga tahun kemudian.Nama Rania kini telah menjadi sosok yang sangat dikenal di lingkup arsitektur dan desain.Dia berhasil memadukan teknik sulam tradisional dengan apik ke dalam struktur cahaya dan bayangan arsitektur modern, menjadikan setiap karyanya mahakarya yang luar biasa.Dan pada akhirnya, dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, dia berhasil membeli kembali rumah lama peninggalan ibunya.Pada hari dia menerima sertifikat tanah itu, dia duduk sendirian di dalam rumah, dari siang hingga malam.Dion tidak mendesaknya. Dia hanya menunggu dengan tenang di luar pintu, hingga Rania membukanya, barulah dia melangkah maju."Ayo pulang."Dia menggenggam tangan Rania, gerakannya terasa begitu alami.Selama tiga tahun ini, hubungan mereka pun berkembang secara alami hingga akhirnya mereka bersama. Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak pula dramatis hingga menyakitkan.Pria itu akan menyiapkan makanan ringan dan selimut hangat saat Rania begadang mengerjakan desain.Sebaliknya, Rania

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 22

    Tak lama kemudian, hari persidangan pun tiba.Arga kini mengenakan setelan jas yang tak lagi pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, matanya cekung, dan janggut hitam kebiruan tumbuh di dagunya. Sementara itu, Clara, yang dikawal oleh petugas pengadilan dengan kedua tangan terborgol, tak lagi menampilkan raut memelas dan rapuh seperti biasanya.Suara hakim bergema di ruang pengadilan yang khidmat dan penuh wibawa."Terkait kasus malpraktik medis, setelah melalui persidangan, terdakwa Arga terbukti melakukan kelalaian berat dalam proses diagnosis dan perawatan, sehingga menunda waktu penanganan terbaik bagi pasien, dan bertanggung jawab utama atas kematian pasien tersebut.""Putusan pengadilan adalah sebagai berikut. Terdakwa Arga diwajibkan untuk meminta maaf secara terbuka kepada pihak penggugat, Rania, melalui media tingkat kota, serta bersama-sama mengganti rugi berbagai kerugian yang diderita oleh penggugat Rania dengan total sebesar 3,6 miliar.""Izin praktik medis Arga dicabut dan

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 21

    Arga tak tahu bagaimana dia bisa kembali ke kamar sewanya.Dia meraih ponselnya, jari-jarinya melayang di atas nama kontak Rania.Setelah cukup lama, dia mulai mengirimkan pesan untuk Rania.[Kita perlu bicara.]Pesan terkirim, tapi langsung muncul notifikasi gagal terkirim.Dia menatap layar ponsel, membiarkan waktu berlalu menit demi menit, lalu dengan keras kepala mengirimkan satu pesan lagi.[Rania, kita ketemu, ya.]Tetap gagal terkirim.Air mata menetes membasahi layar ponsel, tetapi dia terus-menerus mengirimkan pesan yang tak akan pernah sampai kepada Rania.[Rania, aku salah. Maafin aku, ya?][Aku mohon .…][Rania, maafin aku.][Rania, aku cinta kamu .…]…Sementara itu, Rania sedang duduk di depan komputer, sibuk bekerja.Gelar juara dalam kompetisi desain tersebut telah mendatangkan tawaran kerja sama dari sebuah perusahaan besar.Demi proyek ini, dia bekerja hingga larut malam setiap hari. Meski tubuhnya lelah, batinnya merasakan kepuasan yang belum pernah dia rasakan sebel

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 20

    Arga tidak membela diri sedikit pun. Karena memang tidak ada yang bisa dia bantah. Pada akhirnya, dia meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya pada surat pemberitahuan penonaktifan sementara untuk menjalani investigasi. Tepat pada sore hari saat dia dinonaktifkan dari jabatannya, Rania, selaku keluarga korban, menerima wawancara eksklusif dari media.Di hadapan kamera, dia memaparkan dengan jelas dan runtut seluruh rangkaian peristiwa, mulai dari saat ibunya jatuh sakit hingga mengembuskan napas terakhir.Dia membentangkan fakta tersebut di hadapan publik, bagaikan pisau bedah yang tajam, dengan presisi mengoyak selubung prinsip palsu yang selama ini dikenakan Arga. "Seorang dokter yang demi seorang 'adik tingkat' semata, rela mengabaikan peraturan rumah sakit, menelantarkan pasien, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka."Rania menatap lurus ke arah kamera, mengucapkan setiap kata dengan tegas, "Dia nggak pantas mengenakan jas putih itu."Di rumahnya, Arga menatap layar televisi. C

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 19

    Kepala Arga berdengung hebat, pikirannya seketika menjadi kosong.Waktu itu, Clara menyodorkan setumpuk dokumen untuk ditandatangani, katanya itu surat jaminan proyek.Dia tak pernah menyangka bahwa 'adik tingkat' yang dia anggap baik dan polos itu akan menipunya, sehingga dia sama sekali tidak membacanya dengan teliti.Tanpa dia sadari, sejak saat itu, Clara sudah menyiapkan jebakan untuk menyeretnya ke dalam jurang kehancuran. Arga mendongak. Tatapannya yang dulu tenang dan terkendali, kini dipenuhi amarah yang menggelegak dan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia merasa dirinya bagaikan lelucon yang sangat konyol.Demi perempuan ini, dia telah melanggar semua prinsipnya, berulang kali menyakiti Rania, dan secara tidak langsung menyebabkan kematian ibu Rania.Demi perempuan ini, dia telah kehilangan segala hal paling berharga dalam hidupnya. Namun, yang dia dapatkan ternyata hanyalah akhir tragis di tangan perempuan berhati kejam ini. "Keluar."Senyum di wajah Clara sempat kaku, te

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 18

    Teriakan Clara membuat kepala Arga makin sakit.Dia mengangkat tangan, memijat pelipisnya, dan bertanya dengan suara parau. "Ada apa sebenarnya?""Aku juga nggak tahu ...." Clara menangis, emosinya nyaris runtuh. "Sekarang dananya macet, proyeknya berhenti total, dan mereka minta aku ganti rugi! Kak Arga, aku butuh banyak banget uang buat ngebuka pembekuan aset. Kalau nggak, aku bakal tamat dan bisa masuk penjara! Kak Arga, tolong bantu aku, ya?"Mendengar isak tangis gadis itu, rasa lelah dan muak yang tak terlukiskan perlahan menyelimuti hati Arga."Clara, aku sudah nggak punya uang lagi.""Semua uangku sudah aku berikan padamu. Rumah dan mobil juga sudah diagunkan. Aku nggak punya sisa sepeser pun."Bahkan untuk mengembalikan uang Rania, dia harus menurunkan gengsinya dan meminjam dari teman-temannya. Mana mungkin dia masih memiliki uang.Tangis Clara terhenti. Seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya, dia menatap Arga dengan mata terbelalak.Tak lama kemudian, seolah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status