Se connecterDi meja makan, Mason terus memohon agar aku menerimanya tinggal bersamaku. Aku menolak dengan alasan seadanya, tetapi sikapku sangat tegas.Aku tidak akan pernah bisa bersikap seperti dulu, juga tidak bisa sepenuhnya mengesampingkan dendam terhadap anak ini. Aku mengabaikan ekspresi kecewanya dan melahap makananku dengan santai.Di tengah makan, Erika yang sedang hamil besar datang dengan membawa segelas air lemon dan bersiap-siap untuk menyiramku. Christian melindungiku dan basah kuyup karenanya.Erika berseru sambil menangis, "Aku sudah mengandung anakmu dengan susah payah, tapi kamu malah berbuat begini terhadapku? Bisa-bisanya kamu datang temui wanita ini tanpa sepengetahuanku!"Aku samar-samar menangkap kata "perselingkuhan" dari mulut orang di sekitar. Aku pun menyeka mulutku, lalu mendorong Christian menjauh."Erika, ngomong yang jelas dikit. Aku mantan istri Christian dan Mason itu anakku. Meski sudah cerai, aku masih bisa bertemu anakku. Buat apa kamu menyudutkanku? Apa kamu
Aku sibuk mempersiapkan karyaku untuk mengikuti sebuah kompetisi. Jika bisa memenangkan kompetisi tersebut, reputasi merek kami akan meningkat. Jadi, aku pun begadang beberapa malam di studio.Ketika pulang keesokan paginya, sepasang ayah dan anak berdiri kaku di pintu masuk kompleks apartemenku. Aku pun merasa terkejut.Kemudian, Mason dengan gembira berlari ke arahku dan memelukku. "Mama, aku sangat merindukanmu!"Aku termenung sejenak, lalu segera mendorongnya menjauh. "Aku bukan mamamu. Kamu salah orang!"Mata Mason langsung memerah dan berlinang air mata. "Mama, kamu mamaku."Menghadapi Mason lebih melelahkan daripada bekerja. Aku tidak lagi memiliki kasih sayang ibu yang tulus untuk anak ini. Setiap kali melihatnya, aku akan teringat bagaimana dia ingin membunuhku demi orang luar.Aku menoleh ke arah Christian dan menuntut, "Kamu sudah janji nggak akan datang menggangguku."Christian tersenyum kecut dan menyahut, "Dia kangen sama ibunya, aku juga nggak berdaya."Aku membalas, "Bu
Malam itu juga, aku meninggalkan rumah Christian. Christian menawarkan untuk mengantarku, tetapi aku menolak dan menyuruhnya untuk mempertimbangkannya dengan baik dalam tiga hari.Jika dia menolak, aku bisa menuntut, pisah rumah, atau memaksanya dengan opini publik. Aku akan memilih pilihan yang membuatku merasa puas.Wajah Christian perlahan-lahan berubah muram.Keesokan harinya, Christian meneleponku. Suaranya penuh kelelahan. "Sudah terjadi sesuatu pada Erika. Dia mencoba bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya, tapi berhasil diselamatkan. Rania, aku yang bersalah padamu. Aku nggak bisa membiarkannya terluka. Kita cerai saja."Aku tidak berkomentar. Tindakan Erika justru sudah menyelamatkanku dari kerepotan.Dua bulan kemudian, aku berhasil mendapatkan akta cerai. Aku hampir tidak dapat menyembunyikan kegembiraanku saat menuruni tangga.Christian yang menggandeng tangan Mason memanggilku, lalu mengatakan dia ingin mentraktirku makan.Aku berbalik dan tersenyum. "Aku nggak
Christian mengerutkan kening dan bertanya, "Rania, apa lagi maumu sekarang?"Erika berjalan mendekat dengan air mata mengalir di wajahnya."Kak Rania, aku dan Kak Christian benar-benar nggak punya hubungan apa-apa. Mantan pacarku duduk di belakang kami di konser itu. Dia terus menggangguku, jadi aku nggak punya pilihan selain bersandiwara bersama Kak Christian untuk mengusirnya. Aku benar-benar nggak bermaksud merusak rumah tangga kalian."Aku bertepuk tangan sambil tertawa. "Pasangan murahan seperti kalian memang serasi. Di video itu, kalian berciuman hingga lidah kalian juga kelihatan. Tapi, kalian masih mau cuci otak sendiri dengan bilang kalian nggak punya hubungan apa-apa? Kalau kamu dikuntit, memangnya nggak bisa lapor polisi? Cuma bisa selamatkan diri dengan mencium pria yang sudah menikah? Tolong deh, memangnya ini sinetron?"Wajah Christian berubah menjadi sangat suram.Seorang teman Christian menasihatiku, "Kakak Ipar, kalian sudah menikah begitu lama. Memangnya kamu masih n
Dokter Ariel adalah dokter yang mendiagnosis kehamilanku sebelumnya. Setelah aborsi, aku beristirahat di rumah sakit selama tiga hari.Ketika aku pulang ke rumah, Christian langsung marah dan menuntut penjelasan. "Kamu dari mana saja? Nomormu nggak bisa dihubungi, kamu juga nggak balas pesan WhatsApp-ku! Kamu bahkan nggak peduli sama anak. Kalau bukan karena Erika, entah betapa sibuknya aku sekarang! Jangan harap aku lepaskan kamu kalau kamu nggak kasih aku penjelasan yang masuk akal!"Aku duduk di sofa dan merasa sangat lelah. "Bukannya ibumu senggang? Bukannya dia paling suka anak-anak?"Christian membalas, "Ibuku sudah tua, mana bisa dia jaga anak selama itu? Sebagai seorang ibu, kamu malah nggak peduli?"Aku pun tersenyum. Dulu, wanita tua itu berebut untuk merawat anak itu di sisinya. Setelah salah mendidik anak, dia pun mengirim anak itu kembali. Sekarang, dia merasa itu terlalu merepotkan?Aku bertopang dagu dan menyahut sambil tersenyum tipis, "Kalau begitu, bukannya masih ada
Setelah hening sejenak, Christian berujar, "Kamu bahkan nggak bisa urus satu anak dengan baik, kamu akan kewalahan kalau melahirkan lagi. Yang kuinginkan sekarang cuma Mason tumbuh dengan baik."Aku menatapnya sangat lama. Mataku terasa perih karena menahan air mata. "Aku cuma bercanda."Aku tidak ingin mengatakan apa pun lagi. Jadi, aku menutup mulutku dan pergi ke kamar mandi untuk muntah. Ketika aku keluar, Christian sedang menelepon. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, dia pun bergegas keluar. Aku mencoba menghentikannya, tetapi dia mendorongku ke samping.Christian sangat marah dan menunjukku sambil berseru, "Ini masalah hidup dan mati, tapi kamu masih saja cemburuan! Dia masih muda, tapi harus minum-minum sampai lambungnya sakit demi bisnis. Dia nggak seperti kamu yang bisa dapatkan uang meski cuma di rumah setiap hari!"Aku mengambil kartu nama dari laci di pintu masuk dan menyahut, "Kamu sudah minum alkohol dan nggak boleh mengemudi. Ini nomor sopir pengganti. Telepon saja







