Share

Bab 2

Author: Melody
Semua orang di kalangan kami tahu ada satu hal yang paling dibenci Keenan. Bukan pengkhianatan, bukan pula kebohongan. Melainkan ditinggalkan. Saat ibu Keenan mengandung dirinya, ayahnya, Bastian, sudah bertunangan dengan wanita lain.

Ibunya menyewa sebuah kamar seluas 12 meter persegi di kawasan kumuh seorang diri. Karena tidak punya uang untuk membeli susu formula, dia terpaksa memberi Keenan air tajin yang dicampur air.

Saat Keenan berusia lima tahun, ibunya membawanya ke depan gerbang kediaman keluarga mereka dan berkata akan pergi membelikannya makanan enak.

Keenan berdiri di sana selama tujuh jam.

Menunggu sampai hari gelap, menunggu sampai petugas keamanan menelepon polisi, menunggu sampai Bastian akhirnya keluar dari rumah.

Ibunya tidak pernah kembali.

Dia menerima 600 juta dari Bastian, pergi ke kota lain, menikah, lalu melahirkan seorang anak perempuan. Keluarga baru, kehidupan baru, anak baru. Sedangkan anak yang lama cukup ditinggalkan di depan pintu.

Bastian merasa keberadaan Keenan memalukan dan tidak ingin menerimanya. Kalau bukan karena kakeknya yang berkata, "Bagaimanapun juga, dia tetap darah daging keluarga kita," Keenan tidak akan dibiarkan tinggal di rumah itu.

Ibu tirinya tidak pernah memukul atau memarahinya. Dia hanya menganggap Keenan tidak ada.

Saat membagikan angpau, Keenan selalu dilewati. Saat keluarga mereka berfoto bersama, dia disuruh pergi ke ruang kerja untuk mengerjakan tugas.

Ketika berusia 14 tahun, seorang teman sekelas mengejeknya, "Ibumu saja nggak menginginkanmu."

Keenan mematahkan tulang hidung anak itu.

Bastian datang ke sekolah untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di depan kepala sekolah, dia berkata, "Anak ini memang sama seperti ibunya. Memalukan."

Keenan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sejak saat itu, dia mencurahkan seluruh waktunya untuk belajar dan mencari uang.

Pada usia 18 tahun, dia pergi ke luar negeri dengan beasiswa penuh. Saat kembali pada usia 21 tahun, hanya dalam tiga hari dia berhasil mengakuisisi 60 persen saham milik Bastian.

Bastian menelepon dan memohon kepadanya, tetapi Keenan hanya mengatakan satu kalimat, "Enam ratus juta yang dulu itu kukembalikan kepadamu. Mulai sekarang, kita impas."

Semua orang bilang Keenan kejam. Namun, menurutku dia bukan kejam. Dia hanya takut.

Takut suatu hari dia kembali menjadi anak laki-laki kecil yang berdiri di depan pintu selama tujuh jam, menunggu seseorang yang tidak akan pernah kembali. Karena itulah, dia selalu menjaga jarak dari semua orang. Termasuk dariku.

Satu-satunya pengecualian adalah Martha. Martha adalah satu-satunya orang yang mendekatinya atas kemauan sendiri, lalu pergi atas kemauan sendiri, tetapi tetap rela dia tunggu.

Keenan menunggunya selama tiga tahun. Sekarang, Martha sudah kembali dengan membawa anak Keenan.

Saat ini, Keenan menatap wajah anak laki-laki itu dengan tatapan yang begitu lembut hingga terasa seperti bukan dirinya. Dia berkata, "Negan, mulai sekarang Papa nggak akan membiarkan siapa pun meninggalkanmu."

Anak laki-laki itu mengangguk dan memeluk lehernya semakin erat.

Aku berdiri di depan pintu dapur dan mendengar ucapan itu.

Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan anak dalam kandunganku? Bagaimana dengan anak yang bahkan belum sempat lahir, tetapi sudah dijatuhi hukuman mati olehnya?

Aku tidak menanyakannya.

Aku kembali ke kamar tidur lain, menutup tirai, lalu duduk lama dalam kegelapan.

Kemudian, aku mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Kak Siska.

[ Tolong carikan orang untuk menaksir harga penthouse dupleks di Peninsula. ]

Kak Siska langsung membalas.

[ Kenapa? Mau dijual? ]

[ Aku: Taksir dulu saja, belum buru-buru. ]

Dia mengirim pesan suara yang hanya berisi tiga kata, "Jangan gegabah dulu!"

Aku meletakkan ponsel dan mengusap perutku.

Sudah empat bulan. Tidak lama lagi perutku akan semakin terlihat dan aku tidak akan bisa menyembunyikannya. Namun sebelum itu terjadi, aku harus mendapatkan semua yang memang harus kudapatkan.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Keenan mengetuk pintu kamarku. Dia berdiri di depan pintu dengan sebuah kartu hitam di tangannya.

"Ini kartu untuk keperluan rumah tangga. PIN-nya tanggal lahirmu."

Aku menerimanya dan berkata, "Terima kasih, Pak Keenan."

Dia mengernyitkan kening. "Panggil namaku."

"Keenan."

Dia seolah-olah mengembuskan napas lega, lalu berbalik dan pergi.

Aku menutup pintu dan menunduk menatap kartu hitam itu. Tiba-tiba, aku merasa semua ini sangat menggelikan.

Selama dua tahun pernikahan kami, PIN kartu rumah tangga yang dia berikan kepadaku selalu menggunakan tanggal lahir Martha. Kali ini, dia mengubahnya menjadi tanggal lahirku bukan karena dia mulai memedulikanku. Melainkan karena tanggal lahir Martha akan dia gunakan untuk kartu yang lain.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 10

    Pada hari keempat dirawat di rumah sakit, Siska terbang ke Kota Bershka.Saat dia membuka pintu kamar rawat, dia melihat Keenan sedang berjongkok di lantai untuk mengikat tali sepatuku. Langkahnya terhenti sejenak.Keenan mengangkat kepala dan meliriknya tanpa berkata apa-apa. Setelah selesai mengikat tali sepatuku, dia berdiri."Kak Siska." Dia mengangguk ringan.Siska tidak menghiraukannya dan langsung berjalan ke samping tempat tidurku, lalu duduk. "Kondisimu lumayan juga. Lebih baik dari yang kukira."Dia kembali melirik Keenan. "Kamu keluar dulu. Aku mau bicara beberapa hal dengannya."Keenan menatapku. Aku tidak memberikan tanggapan, jadi dia berbalik dan keluar.Setelah pintu tertutup, Siska menatapku. "Apa rencanamu?""Nggak tahu.""Sudah berapa hari dia datang?""Empat hari. Setiap hari."Siska terdiam sejenak. "Kamu mulai luluh?"Aku tidak menjawab.Siska mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. "Apartemen yang dulu kamu minta aku

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 9

    Saat usia kehamilanku memasuki 35 minggu, aku pingsan di perpustakaan.Ketika sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Jarum infus tertancap di punggung tanganku, sementara alat monitor jantung di samping tempat tidur terus berbunyi.Orang pertama yang datang adalah dosen pembimbingku. Dia menelepon Siska di lorong rumah sakit.Orang kedua yang datang adalah Keenan. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa datang secepat itu. Belakangan baru kuketahui bahwa dua minggu sebelumnya dia sudah menyewa sebuah apartemen di Kota Bershka. Tepat di gedung sebelah tempat tinggalku.Saat aku membuka mata, dia sedang duduk di samping ranjang. Matanya dipenuhi urat merah. Dagunya mulai ditumbuhi janggut tipis.Begitu melihatku membuka mata, dia langsung berdiri. Namun, seolah takut membuatku terkejut, dia perlahan duduk kembali."Dokter bilang kamu anemia dan kecapekan. Kamu perlu dirawat di rumah sakit untuk menjalani observasi."Aku menggerakkan jari, berusaha menarik tanganku dari genggamannya. Namun, ge

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 8

    Keenan tidak mendengarkan perkataanku.Keesokan harinya, dia datang lagi. Kali ini, dia tidak muncul di gedung perkuliahan, melainkan di bawah apartemen tempat tinggalku.Dia membawa dua kantong besar berisi barang dan berdiri di depan pintu masuk gedung. Aku melihat ke bawah dari jendela. Setelah ragu selama satu menit, aku tidak turun.Dia berdiri di sana selama tiga jam. Pada akhirnya, dia meletakkan barang-barang itu di pos satpam lalu pergi.Saat aku turun untuk mengambilnya, satpam berkata, "Suamimu yang datang? Penampilannya lumayan rapi. Dia berdiri di sana lama sekali lho."Aku tidak menjelaskan apa-apa dan membawa kantong-kantong itu ke atas. Isinya susu bubuk untuk ibu hamil, asam folat, tablet kalsium, dan celana hamil berbahan katun yang tebal.Label ukurannya masih terpasang. Ukurannya pas. Dia masih ingat ukuranku. Selama dua tahun menikah, dia tidak pernah membelikanku pakaian.Aku memasukkan semua barang itu ke lemari tanpa menggunakannya.Hari ketiga, dia datang lagi.

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 7

    Malam setelah menutup telepon itu, aku tidak bisa tidur.Pukul 3 dini hari, bayi di dalam perut menendangku sekali. Aku mengusap perut, lalu terjaga sepenuhnya.Siapa pun ayah Negan, apa yang telah dilakukan Keenan tidak akan berubah. Dia menyuruhku menggugurkan kandungan. Dia memberiku selembar surat keterangan aborsi sebagai bentuk pertanggungjawaban.Dari awal sampai akhir, dia bahkan tidak pernah bertanya kepadaku, apakah aku bersedia. Semua fakta itu tidak akan menghilang hanya karena satu panggilan telepon.Keesokan harinya, aku tetap pergi kuliah seperti biasa. Saat jam istirahat, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.[ Halo, Shania. Aku Martha. ]Aku menatap layar selama sepuluh detik tanpa membalas. Dia kembali mengirim pesan.[ Bisa bertemu? Aku ingin menjelaskan soal Negan kepadamu. ]Aku sempat mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya. Pada akhirnya, aku hanya membalas dua kata.[ Nggak perlu. ]Dia tidak mengirim pesan lagi.Sore harinya di perpustakaan, dosen pembim

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 6

    Hari pertama tiba di Kota Bershka, langit turun hujan.Siska membantuku menyewa sebuah apartemen satu kamar di dekat kampus. Biaya sewanya 12 juta per bulan.Gedungnya sudah tua dan tidak memiliki lift. Aku membawa semua barang bawaanku sendirian sampai lantai lima. Di tengah jalan, aku berhenti untuk istirahat sebanyak empat kali.Setelah selesai memindahkan semuanya, aku duduk di lantai ruang tamu yang kosong. Seluruh tubuhku dipenuhi keringat.Ponselku berbunyi. Ada pesan dari Keenan.[ Sudah sampai? ]Aku tidak membalas.Dia kembali mengirim pesan.[ Suhu di Kota Bershka turun. Pakai pakaian yang lebih tebal. ]Aku membalik ponselku, meletakkannya di lantai dengan layar menghadap ke bawah.Hari kedua, aku pergi ke kampus untuk melakukan daftar ulang. Dosen pembimbingku usianya sudah lebih dari 50 tahun. Rambutnya telah memutih, cara bicaranya sangat lambat.Dia membolak-balik berkas dataku, lalu mengangkat kepala. "Kamu lulus S1 tahun berapa?""Tujuh tahun lalu.""Selama itu kamu m

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 5

    Aku berdiri di dekat pintu masuk tanpa bergerak. Tatapan Keenan beralih dari hasil USG ke surat penerimaan universitas, lalu kembali ke wajahku. Dia perlahan berdiri dan berjalan ke arahku.Setiap langkahnya terasa berat."Empat bulan." Dia menggenggam hasil USG yang paling awal dan berkata dengan suara bergetar, "Kamu menyembunyikannya dariku selama empat bulan."Aku mundur selangkah hingga punggungku membentur kusen pintu."Kamu nggak menggugurkan anak ini. Selama ini kamu membohongiku." Dia kembali maju selangkah dan mengangkat hasil USG itu di depan wajahku. "Dan ini, Fakultas Hukum Universitas Rosewood. Kapan kamu mengikuti ujian masuknya? Berapa banyak hal yang kamu sembunyikan dariku?"Aku tidak menjawab.Tiba-tiba, dia menghantam kusen pintu dengan tinjunya, kurang dari sepuluh sentimeter dari wajahku. Aku tidak menghindar ataupun berkedip."Shania, sebenarnya kamu anggap aku apaan?"Aku menatap matanya dan menjawab dengan tenang, "Keenan, kamu menyuruhku menggugurkan anakku se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status