Share

Bab 3

Author: Melody
Saat aku duduk sendirian di depan ruang pemeriksaan kandungan, aku menerima telepon dari Siska.

"Aku sudah minta orang memeriksa penthouse di Peninsula itu. Unitmu ada di lantai paling atas dan dilengkapi teras. Harganya kira-kira 110 miliar, masih bisa dinegosiasikan."

Aku mengiakannya.

Siska terdiam selama dua detik, lalu berkata, "Shania, sebenarnya anak itu kamu gugurkan nggak?"

"Nggak."

"Dia tahu?"

"Nggak."

Terdengar suara pemantik api dari seberang telepon. Siska menarik napas panjang dan berkata, "Kamu benar-benar nekat."

Aku tidak menjawab. Siska kembali bertanya, "Lalu apa rencanamu? Terus menyembunyikannya?"

"Aku akan menyembunyikannya sampai semua yang harus kudapatkan sudah berada di tanganku."

"Setelah itu?"

"Aku akan membawa anak ini pergi dan meninggalkan kota ini."

Siska tertawa pelan, tetapi tidak ada sedikit pun kegembiraan dalam tawanya. "Baiklah. Aku akan bantu mengawasi urusan rumah itu. Kamu sendiri harus hati-hati. Jangan sampai ketahuan."

Setelah menutup telepon, aku menatap layar ponsel sambil termenung cukup lama.

Siska adalah orang yang paling memahami kerasnya kenyataan di kalangan kami.

Saat pertama kali bertemu dengannya, dia mengenakan gaun pinjaman dan sepatu hak tinggi yang kulitnya sudah terkelupas. Di sebuah pesta, dia membawa segelas sampanye dan berkeliling mengajak orang-orang bersulang.

Semua orang menganggapnya bahan tertawaan.

Para nyonya kaya menjulukinya "toilet umum" di belakangnya. Para tuan muda memanggilnya "Kak Siska" di depan, tetapi menyebutnya "gratisan" di belakang.

Dia pernah mendengar semua itu, tetapi hanya tersenyum dan membiarkannya berlalu.

Saat itu, aku baru saja dibawa olehnya masuk ke lingkungan ini dan masih sangat naif. Suatu kali, aku tidak tahan dan bertanya kepadanya, "Kamu nggak merasa hidup seperti ini sangat melelahkan?"

Dia menatap dirinya sendiri di cermin. Lipstiknya baru teroles setengah dan dia bahkan tidak menoleh kepadaku.

"Kamu pikir aku mau?"

"Waktu aku berusia 16 tahun, ibuku terkena gagal ginjal. Ayahku kabur. Aku kerja tiga pekerjaan sekaligus, tetapi uang yang kukumpulkan bahkan nggak cukup untuk membayar sebagian kecil biaya dialisis."

"Ada seorang pria yang bilang akan memberiku enam juta kalau aku mau makan bersamanya. Aku terima."

"Kemudian dari enam juta jadi sepuluh juta, sepuluh juta jadi dua puluh juta, dan dua puluh juta akhirnya menjadi sebuah rumah."

Dia meletakkan lipstiknya, lalu berbalik menatapku. Tatapannya begitu jernih hingga tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja menceritakan semua itu.

"Shania, bertahan hidup dengan baik saja sudah cukup sulit. Harga diri nggak bisa ngenyangin perut."

Saat itu, aku tidak percaya. Aku merasa diriku berbeda darinya.

Aku menikah dengan Keenan. Aku punya perlindungan dari pernikahan dan status yang sah sebagai istrinya. Namun, belakangan aku baru menyadari bahwa apa yang disebut status sah itu tidak lebih dari selembar kertas yang bisa disobek kapan saja.

Anakku bahkan belum lahir, tetapi dia sudah membawa pulang anak dari wanita lain.

Pada saat itulah, aku akhirnya memahami ucapan Siska. Dunia ini tidak akan memperlakukanmu dengan baik hanya karena kamu selalu mengikuti aturan.

Pemeriksaan kandunganku selesai dan semuanya normal. Begitu sampai di rumah, pengasuh menghampiriku dengan ekspresi serba salah.

"Nyonya, Tuan Keenan meminta saya memberi tahu Anda kalau malam ini akan ada tamu yang makan malam di rumah. Dapur harus menyiapkan makanan untuk sepuluh orang."

"Tamu siapa?"

Pengasuh itu tampak ragu untuk menjawab. Pada akhirnya, dia berkata pelan, "Nona Martha."

Kunci mobil di tanganku nyaris terlepas.

"Dia datang sendiri?"

"Sepertinya dia juga bawa beberapa temannya."

Aku mengangguk, lalu pergi ke dapur untuk membantu menyiapkan bahan makanan.

Pukul tujuh malam, Martha datang. Dia lebih kurus dibandingkan tiga tahun lalu. Dia mengenakan gaun kasmir berwarna putih gading, rambutnya tergerai, dan wajahnya tanpa riasan. Namun, justru penampilannya yang polos itu membuat kecantikannya terasa begitu mencolok.

Keenan sendiri yang pergi ke depan untuk menyambutnya.

Aku berdiri di depan ruang makan sambil membawa sepiring buah yang baru saja kutata. Martha tertegun sesaat saat melihatku, lalu tersenyum. Dia memanggilku, "Kakak Ipar."

Ekspresi Keenan diam-diam berubah. Namun, dia tidak mengoreksi Martha.

Di meja makan, Martha duduk di sebelah kanan Keenan, sedangkan anak laki-laki itu duduk di sebelah kiri Martha. Mereka bertiga terlihat seperti sekeluarga.

Aku duduk di ujung lain meja panjang. Makanan di hadapanku nyaris tidak kusentuh. Salah seorang teman Martha bertanya kepadaku, "Kakak Ipar, kenapa nggak makan?"

"Perutku sedang kurang nyaman."

Keenan bahkan tidak mengangkat kepala.

Setelah makan, Martha berjongkok dan memeluk anak laki-laki itu, lalu mengecup keningnya. Anak itu melingkarkan kedua tangannya di leher Martha dan memanggil, "Mama."

Aku berbalik dan masuk ke dapur, lalu membuka keran air. Derasnya suara air menenggelamkan semua suara. Termasuk suara isakanku saat aku menggigit punggung tanganku sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 10

    Pada hari keempat dirawat di rumah sakit, Siska terbang ke Kota Bershka.Saat dia membuka pintu kamar rawat, dia melihat Keenan sedang berjongkok di lantai untuk mengikat tali sepatuku. Langkahnya terhenti sejenak.Keenan mengangkat kepala dan meliriknya tanpa berkata apa-apa. Setelah selesai mengikat tali sepatuku, dia berdiri."Kak Siska." Dia mengangguk ringan.Siska tidak menghiraukannya dan langsung berjalan ke samping tempat tidurku, lalu duduk. "Kondisimu lumayan juga. Lebih baik dari yang kukira."Dia kembali melirik Keenan. "Kamu keluar dulu. Aku mau bicara beberapa hal dengannya."Keenan menatapku. Aku tidak memberikan tanggapan, jadi dia berbalik dan keluar.Setelah pintu tertutup, Siska menatapku. "Apa rencanamu?""Nggak tahu.""Sudah berapa hari dia datang?""Empat hari. Setiap hari."Siska terdiam sejenak. "Kamu mulai luluh?"Aku tidak menjawab.Siska mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. "Apartemen yang dulu kamu minta aku

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 9

    Saat usia kehamilanku memasuki 35 minggu, aku pingsan di perpustakaan.Ketika sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Jarum infus tertancap di punggung tanganku, sementara alat monitor jantung di samping tempat tidur terus berbunyi.Orang pertama yang datang adalah dosen pembimbingku. Dia menelepon Siska di lorong rumah sakit.Orang kedua yang datang adalah Keenan. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa datang secepat itu. Belakangan baru kuketahui bahwa dua minggu sebelumnya dia sudah menyewa sebuah apartemen di Kota Bershka. Tepat di gedung sebelah tempat tinggalku.Saat aku membuka mata, dia sedang duduk di samping ranjang. Matanya dipenuhi urat merah. Dagunya mulai ditumbuhi janggut tipis.Begitu melihatku membuka mata, dia langsung berdiri. Namun, seolah takut membuatku terkejut, dia perlahan duduk kembali."Dokter bilang kamu anemia dan kecapekan. Kamu perlu dirawat di rumah sakit untuk menjalani observasi."Aku menggerakkan jari, berusaha menarik tanganku dari genggamannya. Namun, ge

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 8

    Keenan tidak mendengarkan perkataanku.Keesokan harinya, dia datang lagi. Kali ini, dia tidak muncul di gedung perkuliahan, melainkan di bawah apartemen tempat tinggalku.Dia membawa dua kantong besar berisi barang dan berdiri di depan pintu masuk gedung. Aku melihat ke bawah dari jendela. Setelah ragu selama satu menit, aku tidak turun.Dia berdiri di sana selama tiga jam. Pada akhirnya, dia meletakkan barang-barang itu di pos satpam lalu pergi.Saat aku turun untuk mengambilnya, satpam berkata, "Suamimu yang datang? Penampilannya lumayan rapi. Dia berdiri di sana lama sekali lho."Aku tidak menjelaskan apa-apa dan membawa kantong-kantong itu ke atas. Isinya susu bubuk untuk ibu hamil, asam folat, tablet kalsium, dan celana hamil berbahan katun yang tebal.Label ukurannya masih terpasang. Ukurannya pas. Dia masih ingat ukuranku. Selama dua tahun menikah, dia tidak pernah membelikanku pakaian.Aku memasukkan semua barang itu ke lemari tanpa menggunakannya.Hari ketiga, dia datang lagi.

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 7

    Malam setelah menutup telepon itu, aku tidak bisa tidur.Pukul 3 dini hari, bayi di dalam perut menendangku sekali. Aku mengusap perut, lalu terjaga sepenuhnya.Siapa pun ayah Negan, apa yang telah dilakukan Keenan tidak akan berubah. Dia menyuruhku menggugurkan kandungan. Dia memberiku selembar surat keterangan aborsi sebagai bentuk pertanggungjawaban.Dari awal sampai akhir, dia bahkan tidak pernah bertanya kepadaku, apakah aku bersedia. Semua fakta itu tidak akan menghilang hanya karena satu panggilan telepon.Keesokan harinya, aku tetap pergi kuliah seperti biasa. Saat jam istirahat, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.[ Halo, Shania. Aku Martha. ]Aku menatap layar selama sepuluh detik tanpa membalas. Dia kembali mengirim pesan.[ Bisa bertemu? Aku ingin menjelaskan soal Negan kepadamu. ]Aku sempat mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya. Pada akhirnya, aku hanya membalas dua kata.[ Nggak perlu. ]Dia tidak mengirim pesan lagi.Sore harinya di perpustakaan, dosen pembim

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 6

    Hari pertama tiba di Kota Bershka, langit turun hujan.Siska membantuku menyewa sebuah apartemen satu kamar di dekat kampus. Biaya sewanya 12 juta per bulan.Gedungnya sudah tua dan tidak memiliki lift. Aku membawa semua barang bawaanku sendirian sampai lantai lima. Di tengah jalan, aku berhenti untuk istirahat sebanyak empat kali.Setelah selesai memindahkan semuanya, aku duduk di lantai ruang tamu yang kosong. Seluruh tubuhku dipenuhi keringat.Ponselku berbunyi. Ada pesan dari Keenan.[ Sudah sampai? ]Aku tidak membalas.Dia kembali mengirim pesan.[ Suhu di Kota Bershka turun. Pakai pakaian yang lebih tebal. ]Aku membalik ponselku, meletakkannya di lantai dengan layar menghadap ke bawah.Hari kedua, aku pergi ke kampus untuk melakukan daftar ulang. Dosen pembimbingku usianya sudah lebih dari 50 tahun. Rambutnya telah memutih, cara bicaranya sangat lambat.Dia membolak-balik berkas dataku, lalu mengangkat kepala. "Kamu lulus S1 tahun berapa?""Tujuh tahun lalu.""Selama itu kamu m

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 5

    Aku berdiri di dekat pintu masuk tanpa bergerak. Tatapan Keenan beralih dari hasil USG ke surat penerimaan universitas, lalu kembali ke wajahku. Dia perlahan berdiri dan berjalan ke arahku.Setiap langkahnya terasa berat."Empat bulan." Dia menggenggam hasil USG yang paling awal dan berkata dengan suara bergetar, "Kamu menyembunyikannya dariku selama empat bulan."Aku mundur selangkah hingga punggungku membentur kusen pintu."Kamu nggak menggugurkan anak ini. Selama ini kamu membohongiku." Dia kembali maju selangkah dan mengangkat hasil USG itu di depan wajahku. "Dan ini, Fakultas Hukum Universitas Rosewood. Kapan kamu mengikuti ujian masuknya? Berapa banyak hal yang kamu sembunyikan dariku?"Aku tidak menjawab.Tiba-tiba, dia menghantam kusen pintu dengan tinjunya, kurang dari sepuluh sentimeter dari wajahku. Aku tidak menghindar ataupun berkedip."Shania, sebenarnya kamu anggap aku apaan?"Aku menatap matanya dan menjawab dengan tenang, "Keenan, kamu menyuruhku menggugurkan anakku se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status