Share

Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan
Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan
Author: Melody

Bab 1

Author: Melody
Malam setelah aku menyerahkan surat keterangan aborsi itu, aku mengemasi beberapa potong pakaian dan bersiap pindah ke kamar tidur lain. Anak laki-laki itu sudah ditempatkan di kamar anak yang berada di sebelah kamar tidur utama. Pengasuh sedang menyiapkan tempat tidurnya.

Saat aku melewati lorong sambil membawa bantal, Keenan sedang bersandar di dinding dengan sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di antara jarinya.

"Shania, kenapa kamu nggak nanya siapa ibu anak itu?"

Aku terdiam sejenak.

Sebenarnya, aku tahu. Cinta pertama Keenan, Martha.

Tiga tahun lalu, dia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Saat Martha pergi, Keenan berdiri di bandara selama empat jam. Setelah pulang, dia mabuk semalaman.

Namun, aku tidak mengatakannya. Aku hanya tersenyum tipis. "Kalaupun aku bertanya, memangnya apa yang akan berubah?"

Ucapan itu membuat ekspresi Keenan membeku. Dia mungkin sudah mempersiapkan diri menghadapi pertanyaanku, pertengkaran, bahkan amukanku yang membanting barang. Satu-satunya yang tidak dia duga adalah ketenanganku.

Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat dan bertanya, "Kamu nggak marah?"

"Kalau aku marah, apa kamu akan menyuruhnya pergi?"

Jakun Keenan bergerak. Dia tidak menjawab.

Aku menarik tanganku kembali dan berkata dengan lembut, "Kalau begitu, nggak ada yang perlu ditanyakan. Istirahatlah lebih awal."

Aku baru berjalan dua langkah ketika tiba-tiba dia berkata dari belakang, "Aku sudah minta Pak Kevin mempercepat proses pengalihan kepemilikan properti. Besok dokumennya sudah bisa ditandatangani."

Aku tidak menoleh dan hanya mengucapkan terima kasih dengan pelan.

Keesokan paginya, pengacara bernama Kevin datang ke rumah.

Aku menerima dokumen itu dan membolak-baliknya. Ternyata selain penthouse dupleks di Peninsula, ada tambahan sebuah mobil dan kartu berisi 10 miliar.

Kevin membetulkan kacamatanya lalu berkata pelan, "Pak Keenan menambahkannya tadi malam."

Tanganku tetap stabil saat menandatangani dokumen.

Setelah aku selesai menandatanganinya, Keenan turun dari lantai atas. Anak laki-laki itu menggandeng tangannya dan bersembunyi dengan takut-takut di belakangnya. Keenan menatapku, lalu setelah ragu sejenak berkata, "Kondisimu belum pulih. Siang nanti kita makan bersama."

Dulu, dia tidak pernah berinisiatif mengatakan hal seperti itu.

Kami sudah menikah selama dua tahun. Dia tidak pernah memberi kabar saat pergi dinas, tidak pernah memberi tahu saat akan pulang, bahkan kami selalu makan sendiri-sendiri.

Hatiku terasa getir, tetapi aku hanya memasang ekspresi sedikit keberatan. "Nggak perlu, Pak Keenan. Sore ini aku masih harus ke rumah sakit untuk pemeriksaan."

Kata "pemeriksaan" membuat tatapannya berubah sesaat. Mungkin dia teringat surat keterangan aborsi itu. Bibirnya bergerak sedikit sebelum akhirnya dia hanya berkata, "Biar sopir antarin kamu."

"Nggak usah repot-repot." Aku menundukkan pandangan dan menimpali, "Aku bisa naik taksi."

Keenan jelas terlihat tidak senang. Dia tidak terbiasa aku menolaknya. Dulu, sedingin apa pun sikapnya, aku selalu tersenyum dan berusaha mendekatinya.

"Shania." Nada bicaranya menjadi lebih berat, "Kalau aku bilang sopir akan mengantarmu, biarkan dia mengantarmu."

Aku tidak menolak lagi. Tahu kapan harus berhenti adalah kemampuan dasar dalam profesi kami.

Di dalam mobil, Keenan mengirimiku sebuah pesan.

[ Beri tahu aku hasilnya setelah selesai diperiksa. ]

Sudah dua tahun kami bersama dan ini pertama kalinya dia peduli saat aku pergi ke rumah sakit. Sayangnya, itu hanya karena rasa bersalah. Aku membalas dengan satu kata "baik".

Sesampainya di rumah sakit, aku tidak pergi untuk pemeriksaan pascaaborsi. Aku malah pergi ke bagian kandungan.

Hasil USG menunjukkan usia kandunganku sudah empat bulan dan semuanya normal. Aku melipat hasil pemeriksaan itu dengan hati-hati, lalu menyelipkannya ke kompartemen terdalam di dalam tasku.

Setelah itu, aku memotret lobi rumah sakit dan mengirimkannya kepada Keenan dengan pesan.

[ Semuanya baik-baik saja. ]

Dia langsung membalas.

[ Ya, banyak istirahat. ]

Aku mematikan ponsel dan mengusap perutku, lalu berbisik, "Mama akan melindungimu. Tapi uang papamu juga tetap harus Mama ambil."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 10

    Pada hari keempat dirawat di rumah sakit, Siska terbang ke Kota Bershka.Saat dia membuka pintu kamar rawat, dia melihat Keenan sedang berjongkok di lantai untuk mengikat tali sepatuku. Langkahnya terhenti sejenak.Keenan mengangkat kepala dan meliriknya tanpa berkata apa-apa. Setelah selesai mengikat tali sepatuku, dia berdiri."Kak Siska." Dia mengangguk ringan.Siska tidak menghiraukannya dan langsung berjalan ke samping tempat tidurku, lalu duduk. "Kondisimu lumayan juga. Lebih baik dari yang kukira."Dia kembali melirik Keenan. "Kamu keluar dulu. Aku mau bicara beberapa hal dengannya."Keenan menatapku. Aku tidak memberikan tanggapan, jadi dia berbalik dan keluar.Setelah pintu tertutup, Siska menatapku. "Apa rencanamu?""Nggak tahu.""Sudah berapa hari dia datang?""Empat hari. Setiap hari."Siska terdiam sejenak. "Kamu mulai luluh?"Aku tidak menjawab.Siska mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. "Apartemen yang dulu kamu minta aku

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 9

    Saat usia kehamilanku memasuki 35 minggu, aku pingsan di perpustakaan.Ketika sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Jarum infus tertancap di punggung tanganku, sementara alat monitor jantung di samping tempat tidur terus berbunyi.Orang pertama yang datang adalah dosen pembimbingku. Dia menelepon Siska di lorong rumah sakit.Orang kedua yang datang adalah Keenan. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa datang secepat itu. Belakangan baru kuketahui bahwa dua minggu sebelumnya dia sudah menyewa sebuah apartemen di Kota Bershka. Tepat di gedung sebelah tempat tinggalku.Saat aku membuka mata, dia sedang duduk di samping ranjang. Matanya dipenuhi urat merah. Dagunya mulai ditumbuhi janggut tipis.Begitu melihatku membuka mata, dia langsung berdiri. Namun, seolah takut membuatku terkejut, dia perlahan duduk kembali."Dokter bilang kamu anemia dan kecapekan. Kamu perlu dirawat di rumah sakit untuk menjalani observasi."Aku menggerakkan jari, berusaha menarik tanganku dari genggamannya. Namun, ge

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 8

    Keenan tidak mendengarkan perkataanku.Keesokan harinya, dia datang lagi. Kali ini, dia tidak muncul di gedung perkuliahan, melainkan di bawah apartemen tempat tinggalku.Dia membawa dua kantong besar berisi barang dan berdiri di depan pintu masuk gedung. Aku melihat ke bawah dari jendela. Setelah ragu selama satu menit, aku tidak turun.Dia berdiri di sana selama tiga jam. Pada akhirnya, dia meletakkan barang-barang itu di pos satpam lalu pergi.Saat aku turun untuk mengambilnya, satpam berkata, "Suamimu yang datang? Penampilannya lumayan rapi. Dia berdiri di sana lama sekali lho."Aku tidak menjelaskan apa-apa dan membawa kantong-kantong itu ke atas. Isinya susu bubuk untuk ibu hamil, asam folat, tablet kalsium, dan celana hamil berbahan katun yang tebal.Label ukurannya masih terpasang. Ukurannya pas. Dia masih ingat ukuranku. Selama dua tahun menikah, dia tidak pernah membelikanku pakaian.Aku memasukkan semua barang itu ke lemari tanpa menggunakannya.Hari ketiga, dia datang lagi.

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 7

    Malam setelah menutup telepon itu, aku tidak bisa tidur.Pukul 3 dini hari, bayi di dalam perut menendangku sekali. Aku mengusap perut, lalu terjaga sepenuhnya.Siapa pun ayah Negan, apa yang telah dilakukan Keenan tidak akan berubah. Dia menyuruhku menggugurkan kandungan. Dia memberiku selembar surat keterangan aborsi sebagai bentuk pertanggungjawaban.Dari awal sampai akhir, dia bahkan tidak pernah bertanya kepadaku, apakah aku bersedia. Semua fakta itu tidak akan menghilang hanya karena satu panggilan telepon.Keesokan harinya, aku tetap pergi kuliah seperti biasa. Saat jam istirahat, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.[ Halo, Shania. Aku Martha. ]Aku menatap layar selama sepuluh detik tanpa membalas. Dia kembali mengirim pesan.[ Bisa bertemu? Aku ingin menjelaskan soal Negan kepadamu. ]Aku sempat mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya. Pada akhirnya, aku hanya membalas dua kata.[ Nggak perlu. ]Dia tidak mengirim pesan lagi.Sore harinya di perpustakaan, dosen pembim

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 6

    Hari pertama tiba di Kota Bershka, langit turun hujan.Siska membantuku menyewa sebuah apartemen satu kamar di dekat kampus. Biaya sewanya 12 juta per bulan.Gedungnya sudah tua dan tidak memiliki lift. Aku membawa semua barang bawaanku sendirian sampai lantai lima. Di tengah jalan, aku berhenti untuk istirahat sebanyak empat kali.Setelah selesai memindahkan semuanya, aku duduk di lantai ruang tamu yang kosong. Seluruh tubuhku dipenuhi keringat.Ponselku berbunyi. Ada pesan dari Keenan.[ Sudah sampai? ]Aku tidak membalas.Dia kembali mengirim pesan.[ Suhu di Kota Bershka turun. Pakai pakaian yang lebih tebal. ]Aku membalik ponselku, meletakkannya di lantai dengan layar menghadap ke bawah.Hari kedua, aku pergi ke kampus untuk melakukan daftar ulang. Dosen pembimbingku usianya sudah lebih dari 50 tahun. Rambutnya telah memutih, cara bicaranya sangat lambat.Dia membolak-balik berkas dataku, lalu mengangkat kepala. "Kamu lulus S1 tahun berapa?""Tujuh tahun lalu.""Selama itu kamu m

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 5

    Aku berdiri di dekat pintu masuk tanpa bergerak. Tatapan Keenan beralih dari hasil USG ke surat penerimaan universitas, lalu kembali ke wajahku. Dia perlahan berdiri dan berjalan ke arahku.Setiap langkahnya terasa berat."Empat bulan." Dia menggenggam hasil USG yang paling awal dan berkata dengan suara bergetar, "Kamu menyembunyikannya dariku selama empat bulan."Aku mundur selangkah hingga punggungku membentur kusen pintu."Kamu nggak menggugurkan anak ini. Selama ini kamu membohongiku." Dia kembali maju selangkah dan mengangkat hasil USG itu di depan wajahku. "Dan ini, Fakultas Hukum Universitas Rosewood. Kapan kamu mengikuti ujian masuknya? Berapa banyak hal yang kamu sembunyikan dariku?"Aku tidak menjawab.Tiba-tiba, dia menghantam kusen pintu dengan tinjunya, kurang dari sepuluh sentimeter dari wajahku. Aku tidak menghindar ataupun berkedip."Shania, sebenarnya kamu anggap aku apaan?"Aku menatap matanya dan menjawab dengan tenang, "Keenan, kamu menyuruhku menggugurkan anakku se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status