Share

Bab 4

Author: Melody
Setelah Martha datang ke rumah untuk makan malam, keadaan mulai terasa semakin tidak beres. Keenan mulai pulang kerja dua jam lebih awal setiap hari. Bukan untuk pulang ke rumah, melainkan untuk menjemput Martha dan anak itu pergi bermain.

Di media sosialnya mulai bermunculan foto mereka bertiga.

Taman bermain, akuarium, restoran keluarga.

Dalam foto-foto itu, senyum Keenan terlihat begitu santai dan lembut. Semua itu adalah sisi dirinya yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Pada hari kelima, Keenan pulang dengan membawa sebuah dokumen. Dia melemparkannya ke atas meja tamu dan berkata dengan datar, "Lihat dulu, lalu tanda tangani."

Aku mengambil dan membukanya.

[ Perjanjian Perceraian ]

Pada halaman pembagian harta tertulis dengan sangat jelas. Penthouse dupleks di Peninsula menjadi milikku, ditambah kompensasi 40 miliar yang akan dibayarkan setiap tiga bulan. Rapi dan lugas, seolah dia sedang menyelesaikan sebuah transaksi bisnis.

Aku membaca setiap halamannya sampai selesai. Tidak ada satu pun klausul mengenai anak.

Tentu saja. Dalam pikirannya, anak itu sudah tidak ada.

Aku mengambil pena dan menandatanganinya.

Keenan berdiri di depan jendela membelakangiku, kedua bahunya tampak kaku. Dia tidak menoleh untuk melihatku menandatangani dokumen itu, tetapi aku bisa merasakan bahwa dia sedang menunggu.

Menungguku menangis, menungguku mengamuk, menungguku bertanya kenapa.

Aku meletakkan kembali perjanjian yang sudah kutandatangani ke atas meja, lalu berdiri dan bertanya, "Pak Keenan, kapan saya harus pindah?"

Dia berbalik dan sedikit mengernyit, seolah reaksiku benar-benar di luar dugaannya.

"Nggak perlu buru-buru."

Aku mengangguk dan berjalan menuju kamar tidur lain. Baru dua langkah, tiba-tiba dia memanggilku, "Shania."

Dia terdiam beberapa detik sebelum bertanya dengan suara agak serak, "Kondisimu ... sudah pulih?"

Aku menundukkan pandangan. "Sudah cukup baik."

"Syukurlah."

Ada sedikit kelegaan dalam suaranya.

Aku menutup pintu kamar, menyandarkan tubuh ke daun pintu, lalu meletakkan tangan di perutku.

Sudah empat bulan.

Selama ini aku selalu mengenakan pakaian rumah yang longgar dan menyelimuti tubuhku. Dia sama sekali tidak menyadarinya. Dan dia memang tidak akan menyadarinya.

Keesokan harinya, kami pergi mengurus perceraian.

Keenan datang. Martha tidak ikut, tetapi layar ponselnya menyala tiga kali dan setiap kali itu adalah pesan dari Martha. Dia selalu membalas dengan cepat, ekspresinya pun terlihat lembut.

Setelah semua proses selesai dan kami keluar dari gedung, Keenan memanggilku.

"Mobilku diparkir di gerbang timur. Aku antar kamu pulang."

Aku menggeleng dan menjawab, "Nggak perlu."

"Shania ...."

"Pak Keenan." Aku menatapnya sambil berusaha menjaga suaraku tetap tenang saat berkata, "Kita sudah bercerai."

Dia tertegun sesaat. Seolah baru pada detik itu dia menyadari bahwa perceraian kami benar-benar terjadi.

Aku berbalik dan pergi. Saat sampai di persimpangan jalan, aku menoleh sekali. Keenan masih berdiri di depan kantor pencatatan sipil tanpa bergerak sedikit pun. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan dan aku juga tidak ingin tahu lagi.

Aku tidak pulang ke rumah, melainkan langsung pergi ke rumah sakit. Hari ini jadwal pemeriksaan anatomi janin secara menyeluruh. Aku tidak bisa menundanya lagi.

Di ruang pemeriksaan, dokter menempelkan alat USG ke perutku. Di layar terlihat sosok kecil yang meringkuk.

"Sangat sehat. Bayinya perempuan."

Aku menatap layar dan air mataku tiba-tiba jatuh begitu saja.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku menelepon Siska, "Kak, tolong pasarkan penthouse di Peninsula itu."

"Sudah yakin?"

"Ya. Urus secepat mungkin. Aku mau meninggalkan kota ini."

"Mau ke mana?"

Aku berpikir sejenak, lalu menjawab, "Kota Bershka."

Siska terdiam, lalu kembali bertanya, "Kenapa Kota Bershka?"

"Aku diterima sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Rosewood. Surat penerimaannya sudah datang minggu lalu."

Aku sudah mempersiapkan semuanya selama dua tahun dan tidak seorang pun mengetahuinya.

Mereka hanya tahu aku adalah wanita peliharaan Keenan yang disimpan di rumah, tidak bekerja, tidak bersosialisasi, dan begitu pendiam hingga seperti sebuah pajangan. Tidak ada yang peduli apakah sebuah pajangan suka membaca atau tidak.

Siska tertawa dari seberang telepon. Kali ini dia benar-benar tertawa.

"Shania, sumpah, kamu wanita paling jago menahan diri yang pernah kukenal."

Aku menyalakan mobil dan melaju menuju rumah yang sebentar lagi tidak akan menjadi milikku. Aku harus kembali untuk mengemasi barang-barang terakhirku. Aku akan pergi ke tempat yang tidak ada Keenan.

Saat tiba di depan rumah, aku melihat sebuah Maybach hitam yang sangat kukenal terparkir di sana.

Itu mobil Keenan.

Aku membawa tas dan membuka pintu.

Lampu di area pintu masuk menyala. Keenan sedang duduk di sofa ruang tamu. Di atas meja di hadapannya, berjajar beberapa benda. Begitu melihatnya, darahku seakan membeku seketika.

Itu semua hasil USG dan surat penerimaan universitas yang kusembunyikan di kompartemen tersembunyi dalam lemari kamar.

Dari usia kandungan delapan minggu sampai enam belas minggu, semuanya ada di sana. Tidak ada satu lembar pun yang tertinggal.

Keenan mengangkat kepala dan menatapku. Matanya tampak merah padam, seperti binatang buas yang terperangkap dan sedang murka.

Suaranya begitu serak saat bertanya, "Shania, jelaskan padaku ... apa ini?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 10

    Pada hari keempat dirawat di rumah sakit, Siska terbang ke Kota Bershka.Saat dia membuka pintu kamar rawat, dia melihat Keenan sedang berjongkok di lantai untuk mengikat tali sepatuku. Langkahnya terhenti sejenak.Keenan mengangkat kepala dan meliriknya tanpa berkata apa-apa. Setelah selesai mengikat tali sepatuku, dia berdiri."Kak Siska." Dia mengangguk ringan.Siska tidak menghiraukannya dan langsung berjalan ke samping tempat tidurku, lalu duduk. "Kondisimu lumayan juga. Lebih baik dari yang kukira."Dia kembali melirik Keenan. "Kamu keluar dulu. Aku mau bicara beberapa hal dengannya."Keenan menatapku. Aku tidak memberikan tanggapan, jadi dia berbalik dan keluar.Setelah pintu tertutup, Siska menatapku. "Apa rencanamu?""Nggak tahu.""Sudah berapa hari dia datang?""Empat hari. Setiap hari."Siska terdiam sejenak. "Kamu mulai luluh?"Aku tidak menjawab.Siska mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. "Apartemen yang dulu kamu minta aku

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 9

    Saat usia kehamilanku memasuki 35 minggu, aku pingsan di perpustakaan.Ketika sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Jarum infus tertancap di punggung tanganku, sementara alat monitor jantung di samping tempat tidur terus berbunyi.Orang pertama yang datang adalah dosen pembimbingku. Dia menelepon Siska di lorong rumah sakit.Orang kedua yang datang adalah Keenan. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa datang secepat itu. Belakangan baru kuketahui bahwa dua minggu sebelumnya dia sudah menyewa sebuah apartemen di Kota Bershka. Tepat di gedung sebelah tempat tinggalku.Saat aku membuka mata, dia sedang duduk di samping ranjang. Matanya dipenuhi urat merah. Dagunya mulai ditumbuhi janggut tipis.Begitu melihatku membuka mata, dia langsung berdiri. Namun, seolah takut membuatku terkejut, dia perlahan duduk kembali."Dokter bilang kamu anemia dan kecapekan. Kamu perlu dirawat di rumah sakit untuk menjalani observasi."Aku menggerakkan jari, berusaha menarik tanganku dari genggamannya. Namun, ge

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 8

    Keenan tidak mendengarkan perkataanku.Keesokan harinya, dia datang lagi. Kali ini, dia tidak muncul di gedung perkuliahan, melainkan di bawah apartemen tempat tinggalku.Dia membawa dua kantong besar berisi barang dan berdiri di depan pintu masuk gedung. Aku melihat ke bawah dari jendela. Setelah ragu selama satu menit, aku tidak turun.Dia berdiri di sana selama tiga jam. Pada akhirnya, dia meletakkan barang-barang itu di pos satpam lalu pergi.Saat aku turun untuk mengambilnya, satpam berkata, "Suamimu yang datang? Penampilannya lumayan rapi. Dia berdiri di sana lama sekali lho."Aku tidak menjelaskan apa-apa dan membawa kantong-kantong itu ke atas. Isinya susu bubuk untuk ibu hamil, asam folat, tablet kalsium, dan celana hamil berbahan katun yang tebal.Label ukurannya masih terpasang. Ukurannya pas. Dia masih ingat ukuranku. Selama dua tahun menikah, dia tidak pernah membelikanku pakaian.Aku memasukkan semua barang itu ke lemari tanpa menggunakannya.Hari ketiga, dia datang lagi.

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 7

    Malam setelah menutup telepon itu, aku tidak bisa tidur.Pukul 3 dini hari, bayi di dalam perut menendangku sekali. Aku mengusap perut, lalu terjaga sepenuhnya.Siapa pun ayah Negan, apa yang telah dilakukan Keenan tidak akan berubah. Dia menyuruhku menggugurkan kandungan. Dia memberiku selembar surat keterangan aborsi sebagai bentuk pertanggungjawaban.Dari awal sampai akhir, dia bahkan tidak pernah bertanya kepadaku, apakah aku bersedia. Semua fakta itu tidak akan menghilang hanya karena satu panggilan telepon.Keesokan harinya, aku tetap pergi kuliah seperti biasa. Saat jam istirahat, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.[ Halo, Shania. Aku Martha. ]Aku menatap layar selama sepuluh detik tanpa membalas. Dia kembali mengirim pesan.[ Bisa bertemu? Aku ingin menjelaskan soal Negan kepadamu. ]Aku sempat mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya. Pada akhirnya, aku hanya membalas dua kata.[ Nggak perlu. ]Dia tidak mengirim pesan lagi.Sore harinya di perpustakaan, dosen pembim

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 6

    Hari pertama tiba di Kota Bershka, langit turun hujan.Siska membantuku menyewa sebuah apartemen satu kamar di dekat kampus. Biaya sewanya 12 juta per bulan.Gedungnya sudah tua dan tidak memiliki lift. Aku membawa semua barang bawaanku sendirian sampai lantai lima. Di tengah jalan, aku berhenti untuk istirahat sebanyak empat kali.Setelah selesai memindahkan semuanya, aku duduk di lantai ruang tamu yang kosong. Seluruh tubuhku dipenuhi keringat.Ponselku berbunyi. Ada pesan dari Keenan.[ Sudah sampai? ]Aku tidak membalas.Dia kembali mengirim pesan.[ Suhu di Kota Bershka turun. Pakai pakaian yang lebih tebal. ]Aku membalik ponselku, meletakkannya di lantai dengan layar menghadap ke bawah.Hari kedua, aku pergi ke kampus untuk melakukan daftar ulang. Dosen pembimbingku usianya sudah lebih dari 50 tahun. Rambutnya telah memutih, cara bicaranya sangat lambat.Dia membolak-balik berkas dataku, lalu mengangkat kepala. "Kamu lulus S1 tahun berapa?""Tujuh tahun lalu.""Selama itu kamu m

  • Meski Cinta Ini Palsu, Air Mata Tampak Sungguhan   Bab 5

    Aku berdiri di dekat pintu masuk tanpa bergerak. Tatapan Keenan beralih dari hasil USG ke surat penerimaan universitas, lalu kembali ke wajahku. Dia perlahan berdiri dan berjalan ke arahku.Setiap langkahnya terasa berat."Empat bulan." Dia menggenggam hasil USG yang paling awal dan berkata dengan suara bergetar, "Kamu menyembunyikannya dariku selama empat bulan."Aku mundur selangkah hingga punggungku membentur kusen pintu."Kamu nggak menggugurkan anak ini. Selama ini kamu membohongiku." Dia kembali maju selangkah dan mengangkat hasil USG itu di depan wajahku. "Dan ini, Fakultas Hukum Universitas Rosewood. Kapan kamu mengikuti ujian masuknya? Berapa banyak hal yang kamu sembunyikan dariku?"Aku tidak menjawab.Tiba-tiba, dia menghantam kusen pintu dengan tinjunya, kurang dari sepuluh sentimeter dari wajahku. Aku tidak menghindar ataupun berkedip."Shania, sebenarnya kamu anggap aku apaan?"Aku menatap matanya dan menjawab dengan tenang, "Keenan, kamu menyuruhku menggugurkan anakku se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status