Share

The Hidden Protector

Author: Juno Bug
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-16 15:22:55

Senin pagi di Milford Hall selalu dimulai dengan kesibukan yang membosankan. Namun bagi Damian, Senin ini terasa aneh. Sejak turun dari mobilnya, matanya secara tidak sadar memindai kerumunan murid di gerbang depan, mencari sosok dengan rambut hitam legam yang selalu terlihat ingin berdebat dengannya.

​Ia menemukannya di dekat loker gedung utama. Fraya sedang berdiri bersama Florence, tampak serius membicarakan sesuatu. Damian baru saja akan melangkah mendekat—entah untuk alasan apa—ketika ia melihat Axel dan gerombolannya berjalan dari arah berlawanan.

​Damian berhenti. Ia melihat Axel menyeringai ke arah Fraya, seringai predator yang sangat ia kenal.

​"Lihat siapa ini," suara Axel menggema di koridor, membuat beberapa murid menoleh. "Si jago tinju yang sombong. Bagaimana kabarmu hari ini, Alexandrea? Sudah siap untuk pelajaran hidup yang sebenarnya?"

​Fraya tidak bergeming. Ia hanya menatap Axel dengan pandangan datar, meski Damian bisa melihat jemari gadis itu meremas tali tasnya dengan kuat.

"Jangan cari masalah denganku, Axel. Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu."

​Axel tertawa, tawa yang terdengar sangat merendahkan. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di depan Fraya. "Berani sekali kamu bicara begitu. Kamu pikir karena kamu dekat dengan Damian, kamu aman?"

​Florence tampak ketakutan dan menarik lengan Fraya, namun Fraya tetap berdiri kokoh.

​Tepat saat Axel hendak mengangkat tangannya untuk melakukan sesuatu—mungkin untuk menyentuh rambut Fraya atau sekadar mengintimidasi lebih jauh—Damian muncul di antara mereka. Ia tidak berlari, namun kehadirannya terasa begitu tiba-tiba dan mendominasi.

​"Axel," suara Damian terdengar rendah dan dingin, sangat berbeda dari nada bicaranya yang biasa.

​Axel menoleh, alisnya terangkat. "Oh, Damian! Panjang umur. Aku baru saja menyapa aset barumu."

​Damian menaruh tangannya di pundak Axel, namun tekanan jemarinya tidaklah ramah. "Dia sedang di bawah pengawasanku sekarang, ingat? Mrs. Crabtree memberi tanggung jawab besar padaku untuk nilai Bahasa Jermannya. Kalau kamu mengganggunya, itu artinya kamu mengganggu jadwal belajarku. Dan kalau aku gagal, Ayahku tidak akan senang."

​Damian menggunakan nama ayahnya—kartu as yang selalu ia benci, tapi kali ini ia gunakan demi melindungi Fraya.

​Axel menatap Damian lama, mencari-cari apakah sepupunya itu sedang bercanda. Namun ia hanya menemukan mata biru Damian yang sekeras es. Akhirnya, Axel mengangkat tangannya tanda menyerah.

​"Alright, bro. Loosen' up. Aku tidak akan merusak mainanmu," ujar Axel sambil berlalu, namun ia sempat membisikkan sesuatu pada Fraya yang membuat gadis itu menegang.

​Setelah gerombolan Axel menjauh, koridor kembali sedikit normal. Damian berbalik menghadap Fraya. Ia berharap melihat tatapan terima kasih, namun yang ia dapat justru kerutan di dahi Fraya.

​"Aku tidak butuh perlindunganmu, Harding," cetus Fraya, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan.

​"Aku tidak melindungimu. Aku hanya memastikan jadwalku tidak kacau," sahut Damian cepat, kembali ke topeng sombongnya. Namun matanya tetap tertuju pada wajah Fraya, memastikan gadis itu benar-benar tidak terluka.

​Fraya mendengus, lalu tanpa kata lagi ia menarik Florence pergi. Damian berdiri mematung di tengah koridor. Ia tahu tindakannya barusan akan memancing pertanyaan dari Axel nantinya, tapi ia tidak peduli.

​Pikirannya justru melayang pada bagaimana wajah Fraya yang tampak sangat pucat tadi. Ia merasa ada dorongan aneh untuk benar-benar memastikan gadis itu aman, bukan karena misi Axel, tapi karena ia memang... ingin melakukannya.

​Sore harinya, saat jam istirahat kedua, Damian melihat Fraya sedang duduk sendirian di perpustakaan, di pojok yang paling tersembunyi. Gadis itu tidak sedang belajar Bahasa Jerman, melainkan tampak melamun menatap keluar jendela.

​Damian mendekat perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Dari sudut ini, ia bisa melihat profil wajah Fraya dengan jelas. Ada guratan kelelahan di sana, dan entah kenapa, itu membuat dada Damian terasa nyeri.

​Dia benar-benar cantik kalau sedang diam begini, batin Damian.

​Ia mengeluarkan sebuah cokelat batangan kecil dari sakunya—jenis yang mahal dan sulit didapat di kafetaria sekolah—dan menaruhnya begitu saja di atas meja Fraya tanpa berkata apa-apa.

​Fraya tersentak dan menoleh. "Apa lagi ini?"

​"Glukosa bagus untuk otak yang lambat," ujar Damian sambil terus berjalan melewati mejanya, tidak mau menunggu jawaban.

​Fraya menatap cokelat itu, lalu menatap punggung Damian yang menjauh. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasakan keinginan untuk memaki cowok itu. Ia justru merasa bingung dengan debaran aneh yang mulai menyelinap di hatinya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Sweet of Secrecy

    Fraya sempat meyakini satu hal, bahwa menjalin hubungan asmara dengan sosok paling berpengaruh di Milford Hall akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan. Ia begitu percaya diri bahwa dirinya dan Damian akan sanggup mengontrol setiap gerak-gerik mereka di sekolah, menjaga setiap jarak, dan memoles semua interaksi agar tetap terlihat sangat biasa saja di hadapan publik. Dalam benak Fraya, selama mereka dapat mengontrol diri, sebesar apapun hasrat mereka muncul dalam setiap pertemuan di muka umum, tidak akan ada satu pun orang yang bisa mencium rahasia yang Fraya dan Damian simpan rapat-rapat.Namun, ternyata keyakinan naif Fraya ini salah total.Ia lupa satu hal yang paling tidak bisa diatur di dunia ini, yaitu perasaan dan tingkah laku Damian Harding.Walaupun Damian sudah menyanggupi akan menjaga hubungan mereka tersimpan dengan rapat hanya untuk mereka berdua saja, namun sifat posesifnya memang sudah mendarah daging. Dan tampaknya Damian sendiri jadi kesulitan untuk menahan k

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Sealed With a Promise

    ​"Apa-apaan sih ini!"​Suara lengkingan Alana memecah kesunyian balkon. Ia nyaris membanting ponsel mahal dalam genggamannya saat panggilan satu arah yang sudah dilakukannya selama belasan kali dalam lima menit terakhir ini tidak kunjung mendapat respon. Kekesalannya sudah mendidih, meluap hingga ke ubun-ubun. Kukunya yang dipulas cat merah menyala tampak berkilat tajam, seolah ingin sekali mencakar layar ponsel itu, menganggap benda tak berdosa tersebut harus bertanggung jawab penuh atas hancurnya mood Alana sore hari ini. Bagi Alana, diabaikan adalah penghinaan terbesar yang pernah ia terima.​Matanya yang tajam dan sarat akan kilatan emosi terangkat saat sosok Axel muncul di balkon teras Mansion Alana yang megah, berdiri kokoh dan angkuh bak sebuah istana di tengah pusat London. Suasana hatinya bukannya membaik sedikit pun, kehadiran Axel malah membuat Alana berdesis kesal, sebuah suara yang keluar dari celah giginya yang terkatup rapat. Ia memukul dada Axel dengan ponselnya—se

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Abyss of Fear

    Seharusnya ketika sepasang kaki terus bergerak dengan kecepatan di atas batas manusiawi, seseorang akan merasakan keletihan luar biasa yang membuat mereka berhenti sejenak untuk sekadar menarik napas dalam yang menyakitkan.Namun, sudah sejak tadi, yang dilakukan Fraya hanyalah berlari menembus kegelapan di depan matanya yang terasa seakan tak berkesudahan.​Fraya memacu kedua kakinya, mengabaikan rasa sakit yang muncul akibat telapak kakinya yang polos menusuk ranting-ranting kecil sepanjang ia berlari membelah sunyi.Kepekatan deretan pepohonan yang seakan menghalangi jalannya berubah menjadi labirin hitam yang menyesakkan.Jika ditanya apa yang Fraya lakukan sekarang ini, jawabannya sederhana: Fraya sendiri tidak tahu.​Yang jelas, seluruh raganya seakan sedang dikepung ketakutan. Seolah sesuatu yang purba tengah mengejarnya dari belakang, berusaha meraih Fraya ke dalam hampa. Namun jika dilihat secara kasat mata, tidak ada siapapun di belakang gadis itu. Pun di depan matanya.Fray

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Shower's Dirty Secret

    Louis Partridge berlari secepat yang kaki panjangnya mengizinkan, menembus koridor Milford Hall dengan paru-paru yang terasa terbakar.Dunianya seolah menyempit hanya pada satu misi, yaitu menemukan Fraya Alexandrea.Tujuan utamanya saat ini langsung ke kelas Kimia, tempat di mana mata-mata suruhan Damian tadi menginformasikan keberadaan Fraya atas insiden memuakkan yang terjadi di bawah pengawasan Mr. Humblot.Pikirannya bising oleh skenario buruk yang mungkin menimpa gadis itu.​Namun, saat Louis mencapai pintu berkusen kayu ek yang kokoh itu dan menerjang kenop pintunya dengan kasar hingga pintu membelalak terbuka lebar, yang didapatnya justru hantaman sunyi yang menyesakkan.Seluruh atensi kelas yang tadinya sedang serius memerhatikan penjelasan Mr. Humblot menoleh bersamaan ke ambang pintu, menatap Louis yang berdiri mematung sambil terengah-engah dengan peluh yang membasahi pelipisnya.​"Bloody Hell, Mr. Partridge. What on earth got into you, storming into my class like a madman

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Steam and Sin

    Di dalam ruang tunggu yang didominasi warna putih pucat itu, keheningan terasa begitu pekat hingga seolah memekakkan telinga. Fraya duduk dengan punggung tegak, namun kedua kakinya tak bisa berhenti bergerak gelisah—sebuah ritme mekanis yang ia lakukan untuk menahan rasa sesak yang kian membuncah di dadanya. Perasaan dalam hatinya bercampur aduk antara cemas, takut, dan rasa tidak enak yang terus bergumul menjadi satu.​Di sebelahnya, Papa mengulurkan tangan, menyentuh ujung lutut Fraya dengan lembut. Sebuah isyarat bisu yang sangat Fraya pahami untuk menghentikan kegugupannya. Papa tahu benar, anak gadisnya ini punya kebiasaan tidak bisa diam jika sudah merasa gelisah setengah mati.​Mata Fraya akhirnya beralih. Dari yang tadinya menatap kosong lantai linoleum di depannya, kini beralih pada manik kelam Papa. Pria itu mencoba menyunggingkan senyum tipis—tipe senyum yang berusaha menenangkan, meski Fraya tahu, situasi ini pun sama sekali tidak mudah bagi Papanya.​"Mr. Moore, silakan

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   London, Lights and Lies

    Keheningan di lantai teratas gedung Harding Global biasanya terasa seperti prestise yang menenangkan.Namun sore itu, suasana didalam sebuah ruangan terasa cukup dingin dan mencekam.Richard Harding masih terpaku di balik meja kerja mahoni nya yang luas. Matanya yang tajam, yang biasanya mampu mendeteksi pergerakan pasar saham sekecil apa pun, kini sedang menyisir grafik kurva perkembangan laba perusahaan di layar monitor. Angka-angka itu merangkak naik, hijau dan gemilang, menunjukkan dominasi dinasti Harding yang tak tergoyahkan.​Tiba-tiba, suara ketukan pintu ruang kerjanya memecah konsentrasinya.​"Permisi Tuan. Dokter Ashford ada di line dua."​Pandangan Richard terangkat perlahan. Di ambang pintu, Karen berdiri dengan sikap sempurna-asisten yang sudah bertahun-tahun mengabdi dan tahu persis kapan harus bicara dan kapan harus menghilang.Richard tidak langsung menjawab. Ia membiarkan jeda beberapa detik berlalu, membiarkan nama "Ashford" bergema di kepalanya sebagai pengingat ak

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Gift

    ​"Damian, nama keluarga kamu itu... sebenarnya membuat saya merasa sedikit segan."​Papa Fraya baru saja menyesap kopi hitamnya setelah sesi makan malam penuh kehangatsn sekaligus candaan dengan menu bakso buatan Mama-sebuah kekontrasan yang hampir terasa aneh bagi seseorang dengan nama belakang se

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   The Art of Breaking Barriers (And A Little Bit of Chili)

    ​"Kalau kamu tanya sama aku, apa hal yang Fraya sukai—sesuatu yang kira-kira bisa bikin dia tidak langsung mengusirmu di menit pertama kamu muncul di depan pintu rumahnya—kamu salah besar kalau sampai membawakan dia bunga."​Florence mengucapkannya dengan nada final, seolah itu adalah hukum alam ya

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   An Arrival I Never Prayed For

    "Fraya, sudahlah. Jangan dilihatin terus. Papa takut kamu jadi beneran stres."​Suara Papa yang masih terbata-bata saat mengucapkan deret kalimat berbahasa Indonesia tadi langsung memecah mendung yang sejak tadi menggantung di mata Fraya.Angka 60 di lembar kertas ujiannya masih jadi perhatian khus

  • Milford Hall: His Sweet Obsession   Pink Tape

    ​Siang itu angin berembus begitu sejuk. Pada musim gugur yang seolah tengah bersiap menyambut dekapan musim dingin di penghujung November ini, hembusannya mulai terasa menyengat, meninggalkan sensasi gigil di permukaan kulit.​Arnelia duduk—atau lebih tepatnya, setengah terbaring—di atas sofa empuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status