MasukSenin pagi di Milford Hall selalu dimulai dengan kesibukan yang membosankan. Namun bagi Damian, Senin ini terasa aneh. Sejak turun dari mobilnya, matanya secara tidak sadar memindai kerumunan murid di gerbang depan, mencari sosok dengan rambut hitam legam yang selalu terlihat ingin berdebat dengannya.
Ia menemukannya di dekat loker gedung utama. Fraya sedang berdiri bersama Florence, tampak serius membicarakan sesuatu. Damian baru saja akan melangkah mendekat—entah untuk alasan apa—ketika ia melihat Axel dan gerombolannya berjalan dari arah berlawanan. Damian berhenti. Ia melihat Axel menyeringai ke arah Fraya, seringai predator yang sangat ia kenal. "Lihat siapa ini," suara Axel menggema di koridor, membuat beberapa murid menoleh. "Si jago tinju yang sombong. Bagaimana kabarmu hari ini, Alexandrea? Sudah siap untuk pelajaran hidup yang sebenarnya?" Fraya tidak bergeming. Ia hanya menatap Axel dengan pandangan datar, meski Damian bisa melihat jemari gadis itu meremas tali tasnya dengan kuat. "Jangan cari masalah denganku, Axel. Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu." Axel tertawa, tawa yang terdengar sangat merendahkan. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di depan Fraya. "Berani sekali kamu bicara begitu. Kamu pikir karena kamu dekat dengan Damian, kamu aman?" Florence tampak ketakutan dan menarik lengan Fraya, namun Fraya tetap berdiri kokoh. Tepat saat Axel hendak mengangkat tangannya untuk melakukan sesuatu—mungkin untuk menyentuh rambut Fraya atau sekadar mengintimidasi lebih jauh—Damian muncul di antara mereka. Ia tidak berlari, namun kehadirannya terasa begitu tiba-tiba dan mendominasi. "Axel," suara Damian terdengar rendah dan dingin, sangat berbeda dari nada bicaranya yang biasa. Axel menoleh, alisnya terangkat. "Oh, Damian! Panjang umur. Aku baru saja menyapa aset barumu." Damian menaruh tangannya di pundak Axel, namun tekanan jemarinya tidaklah ramah. "Dia sedang di bawah pengawasanku sekarang, ingat? Mrs. Crabtree memberi tanggung jawab besar padaku untuk nilai Bahasa Jermannya. Kalau kamu mengganggunya, itu artinya kamu mengganggu jadwal belajarku. Dan kalau aku gagal, Ayahku tidak akan senang." Damian menggunakan nama ayahnya—kartu as yang selalu ia benci, tapi kali ini ia gunakan demi melindungi Fraya. Axel menatap Damian lama, mencari-cari apakah sepupunya itu sedang bercanda. Namun ia hanya menemukan mata biru Damian yang sekeras es. Akhirnya, Axel mengangkat tangannya tanda menyerah. "Alright, bro. Loosen' up. Aku tidak akan merusak mainanmu," ujar Axel sambil berlalu, namun ia sempat membisikkan sesuatu pada Fraya yang membuat gadis itu menegang. Setelah gerombolan Axel menjauh, koridor kembali sedikit normal. Damian berbalik menghadap Fraya. Ia berharap melihat tatapan terima kasih, namun yang ia dapat justru kerutan di dahi Fraya. "Aku tidak butuh perlindunganmu, Harding," cetus Fraya, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan. "Aku tidak melindungimu. Aku hanya memastikan jadwalku tidak kacau," sahut Damian cepat, kembali ke topeng sombongnya. Namun matanya tetap tertuju pada wajah Fraya, memastikan gadis itu benar-benar tidak terluka. Fraya mendengus, lalu tanpa kata lagi ia menarik Florence pergi. Damian berdiri mematung di tengah koridor. Ia tahu tindakannya barusan akan memancing pertanyaan dari Axel nantinya, tapi ia tidak peduli. Pikirannya justru melayang pada bagaimana wajah Fraya yang tampak sangat pucat tadi. Ia merasa ada dorongan aneh untuk benar-benar memastikan gadis itu aman, bukan karena misi Axel, tapi karena ia memang... ingin melakukannya. Sore harinya, saat jam istirahat kedua, Damian melihat Fraya sedang duduk sendirian di perpustakaan, di pojok yang paling tersembunyi. Gadis itu tidak sedang belajar Bahasa Jerman, melainkan tampak melamun menatap keluar jendela. Damian mendekat perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Dari sudut ini, ia bisa melihat profil wajah Fraya dengan jelas. Ada guratan kelelahan di sana, dan entah kenapa, itu membuat dada Damian terasa nyeri. Dia benar-benar cantik kalau sedang diam begini, batin Damian. Ia mengeluarkan sebuah cokelat batangan kecil dari sakunya—jenis yang mahal dan sulit didapat di kafetaria sekolah—dan menaruhnya begitu saja di atas meja Fraya tanpa berkata apa-apa. Fraya tersentak dan menoleh. "Apa lagi ini?" "Glukosa bagus untuk otak yang lambat," ujar Damian sambil terus berjalan melewati mejanya, tidak mau menunggu jawaban. Fraya menatap cokelat itu, lalu menatap punggung Damian yang menjauh. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasakan keinginan untuk memaki cowok itu. Ia justru merasa bingung dengan debaran aneh yang mulai menyelinap di hatinya.Siang itu angin berembus begitu sejuk. Pada musim gugur yang seolah tengah bersiap menyambut dekapan musim dingin di penghujung November ini, hembusannya mulai terasa menyengat, meninggalkan sensasi gigil di permukaan kulit.Arnelia duduk—atau lebih tepatnya, setengah terbaring—di atas sofa empuk di halaman belakang rumahnya yang begitu luas. Mantel tebal yang dikenakannya membungkus tubuh dengan rapat, sebuah upaya untuk menghalau dingin yang sejak tadi mencoba menusuk hingga ke tulang.Ia merapatkan syalnya, hingga kain itu nyaris menutupi sebagian wajahnya yang tampak pucat.Harley, pelayan setia yang berdiri mematung di sampingnya, melirik sekilas. Mungkin dalam hatinya ia sedang bertanya-tanya.Kalau memang sudah tahu kedinginan, kenapa Nyonya tetap memaksakan diri duduk di luar begini? Namun, ia tetap setia menunggu sang nyonya besar yang terkenal memiliki hati selembut malaikat itu.Arnelia mengalihkan pandangannya sejenak dari kerumunan anak-anak yang asyik bermain, lalu
Ini sudah hari entah keberapa semenjak pertandingan Lacrosse kemarin yang menghebohkan sejagat raya Milford Hall. Lebih tepatnya, bukan pertandingannya yang terus dikunyah sebagai gosip panas, melainkan aksi gila bin nekat yang dilakukan sang diktator sekolah, Damian Harding.Sudah berapa hari ini pula, Fraya Alexandrea praktis menjelma menjadi pusat dari segala poros gosip yang berputar liar di koridor sekolah. Setiap kali ia baru turun dari mobil setelah Papa mengantarnya, Fraya pasti akan dilempari tatapan menghakimi yang menilai dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seolah-olah semua pasang mata di sana tengah mencoba mencari tahu mantra apa yang digunakan gadis Indonesia itu sampai bisa membuat seorang Harding kehilangan akal sehat di tengah lapangan. Kalau saja dirinya lagi di Indonesia, pasti Fraya dicurigai sudah main dukun. Dengan kata lain, mengguna-guna Damian Harding.Namun, di antara riuh tatapan sinis itu, terselip pula binar kekaguman dari beberapa siswi yang
Gemerlap lampu diskotek berpendaran dengan begitu liar, seolah-olah cahaya itu sedang berpesta pora di tengah kegelapan yang pekat. Lagu yang diracik sang DJ menyentakkan lantai dansa dengan dentuman bass yang mampu menggetarkan setiap inci fondasi gedung, menciptakan gelombang energi yang nyaris magis. Ruangan itu tampak begitu hidup, kombinasi antara denyut musik yang sanggup merontokkan dinding, kerumunan manusia yang berdansa dalam euforia tanpa batas, serta dentingan botol-botol minuman mahal yang diacungkan tinggi-tinggi ke udara—seolah-olah setiap orang di sana baru saja berhasil menggenggam dunia dalam telapak tangan mereka.Di tengah hiruk-pikuk yang memekakkan telinga itu, Damian Harding menengadah. Kepalanya tersandar lesu pada sandaran sofa kulit, membiarkan matanya bermandikan cahaya lampu yang berkerlap-kerlip dan berputar gila di langit-langit. Ia tertegun, seolah sedang menghitung bintang di tengah buaian alkohol yang entah sudah botol keberapa yang berhasil ia tanda
"Nick... Nicholas! Awas perhatikan bolanya!"Suara lantang yang menggelar bak membelah hamparan hijau lapangan itu menyabet udara sore yang mulai mendingin. Bocah laki-laki yang sedang sibuk menggiring bola denga kedua kakinya sejak tadi berpacu cepat seperti gulungan angin tornado tidak juga mau berhenti meskipun hanya untuk sejenak. Namun, Nicholas kecil telanjur kehilangan kendali atas kakinya sendiri. Di usia sembilan tahun, ambisinya sering kali lebih besar dari kekuatan fisiknya. Ia tersungkur hebat. Tubuh mungilnya terpelanting ke depan, mencium rumput sintetis dengan bunyi debum yang menyesakkan, hingga beberapa helai rumput tercabut paksa dari akarnya.Nicholas—bocah berambut emas dengan sepasang mata biru sedalam samudra—meringis. Rasa panas merayap di lutut dan sikunya, namun ada satu titik yang berdenyut jauh lebih menyakitkan: dagunya.Bocah itu tertegun saat melihat setetes warna merah pekat jatuh, mengotori hijaunya rumput. Disusul tetesan kedua, lalu ketiga. Bau
Hari yang dinanti-nantikan oleh seluruh penghuni sekolah pun akhirnya tiba. Hari pertama babak final pertandingan Lacrosse antara Milford Hall dan Easwood High. Pertandingan babak final ini rencananya akan diselenggarakan dua hari berturut-turut dengan Milford Hall sebagai tuan rumah.Atmosfer di Milford Hall mendadak berubah menjadi medan energi yang meluap-luap. Seluruh jajaran murid dan guru sepakat menghentikan aktivitas belajar-mengajar lebih awal, memberikan ruang bagi semangat yang membuncah untuk mengalir menuju lapangan hijau. Semua bergerak serentak, berbondong-bondong memenuhi setiap sudut tribun panjang dan besar yang telah disediakan. Teriakan membahana mulai memenuhi cakrawala lapangan Lacrosse, menciptakan keriuhan yang sanggup menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Antusiasme yang berada di titik didih ini membuat setiap jengkal kursi penonton mustahil untuk menyisakan ruang kosong.Warna-warna kebanggaan sekolah berkibar di mana-mana, menyambut partai final y
Pelajaran Bahasa Jerman bagi Fraya tak ubahnya sebuah labirin tanpa ujung yang dipenuhi kerikil tajam. Meskipun sesi tutor bersama Damian mulai menunjukkan progres meningkat, Fraya belum bisa sepenuhnya bernapas lega. Nilai sempurna yang ia incar-tiket emas menuju Oxford-masih terasa seperti cakrawala; tampak begitu indah namun seolah terus menjauh setiap kali ia mencoba melangkah mendekat.Jika sebelumnya Fraya sudah mulai menguasai tata bahasa Jerman yang rumitnya bikin sakit kepala, kali ini Fraya harus berhadapan dengan tembok besar bernama Hörverstehen atau metode mendengar dalam test Bahasa Jerman. Bagi Fraya, tahap ini yang masih sulit ia kuasai. Tahap ini merupakan momok paling sulit untuk Fraya. Setiap kali masuk ke sesi kuis dadakan berbasis audio, ia rasanya lebih ingin menghantamkan kepalanya saja ke tembok daripada harus menghadapi kegagalan lagi. Telinganya seolah kehilangan ketajaman. Kosakata yang ia tangkap lebih sering salah berakhir meleset jauh dari maksud asli y







