تسجيل الدخولRuang rapat mendadak terasa lebih sunyi ketika Citra berdiri di depan layar presentasi. Tangannya menggenggam remote presentasi cukup erat. Di hadapannya ada beberapa kepala divisi dan para manajer yang sejak tadi memperhatikannya. Namun, yang paling membuat Citra gugup adalah pria yang duduk di ujung meja. Yusuf. Citra menarik napas pelan. "Baik, saya akan mempresentasikan perkembangan proyek yang saat ini saya pegang." Slide pertama muncul di layar. "Proyek ini sudah memasuki tahap kedua. Berdasarkan hasil evaluasi tim selama dua minggu terakhir, ada beberapa bagian yang perlu kami perbaiki sebelum masuk ke tahap berikutnya." Citra menunjuk grafik di layar. "Terutama pada bagian pemasaran. Kalau kita tetap menggunakan strategi sebelumnya, target yang ditentukan kemungkinan besar tidak akan tercapai." Salah satu kepala divisi mengangkat tangan. "Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu?" Citra sempat terdiam. Pertanyaan itu membuat beberapa orang di ruangan me
"Nona Naya terus mencari anda, Bos," kata Tama. "Nanti aku ke rumah sakit," kata Yusuf."Bos, Kakek mengatakan bahwa anda akan segera disahkan mewarisi Aditama grup," kata Tama lagi."Apa dia tidak protes?" tanya Yusuf dan tentunya Tama tau maksudnya."Tidak ada yang berani protes, Bos. Kakek sudah memutuskan artinya tidak ada yang bisa menolak," kata Tama lagi."Bagus," kata Yusuf dengan perasaan puas. Saat itu Citra pun keluar dari kamar dan melihat Yusuf bersama Tama di ruang keluarga. "Mas, mobil aku masih di kantor ya?" tanya Citra, sebab ia semalam pulang dengan Yusuf dan mobilnya masih di kantor.Dan Citra berencana meminta ongkos taksi sejumlah lima juta, itu sudah terhitung beberapa pajak yang konyol jika disebutkan satu-persatu. "Sudah dibawa Tama pulang," jawab Yusuf. "O," Citra pun mengangguk, kemudian ia pun mulai mengingat sesuatu, "kamu sama Ara ada hubungan apa?" tanya Citra penuh salidik. "Tidak ada, Bu Citra," jawab Tama. "Ck, nggak usah ngeles...tadi m
"Mas, apa mereka punya hubungan?" tanya Citra penasaran. "Biarkan saja, kalau pun punya hubungan salahnya apa?" tanya Yusuf. "Iyasih, tapi Ara kok nggak cerita apa-apa sama aku?" kesal Citra, "awas aja besok kalau nggak kasih penjelasan!" Citra benar-benar penasaran akan hubungan Ara dan Tama, sepanjang perjalanan pulang ia benar-benar tidak bisa menahan rasa penasarannya. "Katanya buru-buru pulang takut papanya marah, eh taunya sama Tama," gumam Citra tak ada habisnya. Yusuf mengelus rambut Citra setelah memarkirkan mobil, "Kamu mau makan apa?" tanya Yusuf. Citra pun menoleh, "Mau nasi goreng," kata Citra yang sadar dirinya memang lapar karena belum makan malam. "Ayo Mas yang masak," kata Yusuf lalu ia turun dari mobil. Citra bingung, tapi kemudian ia juga turun lalu keduanya masuk. Yusuf meletakkan jasnya pada sofa kemudian menggulung lengan kemejanya hingga siku, ia berjalan ke dapur dan membuka kulkas. Citra awalnya bingung, tapi kemudian ia melihat Yusuf yang
Ara langsung menghubungi Tama untuk datang ke coffee shop favoritnya. Ia duduk sambil melihat sekitarnya, dan ketika melihat Tama masuk ia mengangkat tangannya. Tama pun melangkah maju, tapi sebelum Tama mendekat yang datang justru Aldo. "Apa kabar?" tanya Aldo. Ara pun menoleh, ia juga tak menyangka jika Aldo ada disana. Ia menatapnya dengan sinis. "Hey, kamu ngapain disini? Nungguin mantan pacar kamu ini?" tanya seorang perempuan di samping Aldo. "Apasih? Kalian nggak jelas banget, minggir sana, muak banget," balas Ara sinis. Lalu Tama pun akhirnya berdiri di hadapan Ara. "Hay, kamu datang juga?" tanya Ara dengan senyuman. "Kamu?" tanya Mita. Tama hanya diam sambil menatap Mita dan Aldo disampingnya. Tapi Ara tak mau kalah ia pun segera memeluk lengan Tama, "Kenalin pacar baru aku!" katanya penuh percaya diri. Tama terlihat bingung tapi ia diam saja melihat Ara memeluk lengannya dan memperkenalkannya sebagai pacar. "Apa?" tanya Mita bingung. "Kenapa? Pacar aku sek
Citra menatap secangkir kopi di tangannya, ia tersenyum lalu lalu mengetuk pintu ruangan Yusuf dan masuk. Ia melihat Yusuf sedang duduk di kursinya, tetapan pria itu terlihat begitu hangat dan Citra merasa Yusuf sangat tampan. 'Astaga,' batinnya lalu ia pun melangkah masuk. Kemudian ia meletakkan cangkir di tangannya pada meja. "Aku permisi," pamitnya. Tapi tiba-tiba Yusuf memegang lenganya membuat Citra pun tak bisa pergi, ia pun kembali menoleh. "Kenapa buru-buru?" tanya Yusuf. "Memangnya ada yang harus aku kerjakan disini?" tanya Citra. "Tentu saja ada," jawab Yusuf. "Apa?" tanya Citra. "Temani aku," Yusuf langsung menariknya duduk di pangkuannya. Deg. Jantung Citra pun tiba-tiba berdegup kencang, ia tiba-tiba merasa tegang. "Bagaimana dengan proyeknya?" tanya Yusuf. "Sedang aku kerjakan," jawab Citra. Yusuf pun mengangguk, "Apa tidak ada ucapan terimakasih?" tanya Yusuf. Citra pun menoleh pada Yusuf, kemudian ia menatap wajah tampan itu dan jantungn
Citra tersenyum bahagia karena berhasil membuat Ara bekerja di tempat yang sama dengan dirinya. Meskipun tidak mudah untuk itu. "Citra, akhirnya aku dapat kerjaan," ucap Ara lalu memeluknya. "Selamat ya," kata Citra yang tak kalah bahagia. "Hay," sapa Ara pada Maya. "Hay, juga," balas Maya. "Kamu, Sahara?" tanya Bu Vina. "Ya, Bu. Panggil Ara aja, Bu," jawab Ara. "Ara, tolong foto copy semua berkas ini...lalu antar ke ruangan saya," perintah Bu Vina. "Baik, Bu," jawab Ara. Bu Vina menggangguk lalu pergi. "Citra, Maya tempat foro copy dimana ya?" tanya Ara. "Disana, lulur aja belok kanan," kata Citra. "Oke..." Maya langsung menuju arahan Citra, ia benar-benar sangat bersemangat di hari pertamanya bekerja ini. Ia juga benar-benar menyesal atas kejadian malam itu, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak ke club lagi. "Ini dia," katanya, kemudian meletakkan berkasnya pada meja. Dan matanya menatap mesin foto copy, "astaga, aku nggak tau caranya. Ih go







