เข้าสู่ระบบBella hampir tersedak. Jadi, tiga puluh menit tadi termasuk rekor bagi Evan? Ia tidak tahu harus merasa bangga atau malah tersinggung.
“Terus, dia ganteng, kan?” desak Sintia, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. “Lumayan,” jawab Bella santai sambil menggigit pisang gorengnya. “Lumayan?!” Sintia menatapnya tak percaya, lalu terkekeh. “Tapi, rambutnya masih ada, kan?” “Ada, Ma. Lengkap.” Bella memutar bola mata, kemudian buru-buru bangkit sebelum ibunya melancarkan pertanyaan berikutnya. “Aku masuk kamar dulu, ya!” Begitu pintu kamar tertutup, Bella menjatuhkan diri ke kasur dan menatap langit-langit. Ini tidak masuk akal. Evan bicara seperti sedang membaca laporan keuangan, terang-terangan mengaku datang hanya untuk memenuhi permintaan ibunya, lalu pergi tanpa menoleh. Namun, yang terus terbayang di kepala Bella justru jam tangan Seiko di pergelangannya, urat di punggung tangannya, dan senyum tipis yang sempat muncul. “Aku cuma penasaran,” gumamnya, menutupi wajah dengan bantal. “Penasaran kenapa ada manusia secuek itu, tapi gantengnya keterlaluan.” Bella menurunkan bantalnya, lalu menghela napas. Ada satu hal lagi yang mengganggunya: ia belum mengucapkan terima kasih dengan benar atas bantuan Evan waktu itu. Alasan yang cukup masuk akal, pikirnya. Bella tidak suka punya utang budi, apalagi kepada laki-laki yang bahkan pergi tanpa menoleh. ** Senin pagi, sebelum bank buka, Bella sudah mengetik dan menghapus pesan untuk Evan sebanyak tiga kali. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, ia akhirnya mengirim pesan singkat. [Selamat pagi, Mas Evan. Sebagai ucapan terima kasih soal motor waktu itu, boleh saya traktir makan siang? Kapan Mas ada waktu?] Pesan itu terkirim, berganti centang dua, tetapi tak kunjung mendapat balasan. Sampai pukul sebelas, Bella masih sesekali memeriksa ponselnya di sela pekerjaan, bahkan sampai memastikan ponselnya tidak bermasalah. Barulah saat jam istirahatnya tiba, sebuah notifikasi muncul. [Tidak perlu.] Bella menatap layar sambil memegang sendok bekalnya. Hampir lima jam menunggu, hanya untuk dua kata tanpa basa-basi. “Oke,” gumamnya dengan senyum tipis yang sama sekali tidak ramah. Pukul empat sore, Bella sudah berdiri di lobi gedung Bappeda dengan seragam bank yang sedikit kusut dan kantong plastik berisi dua kotak nasi dari warung langganannya. Ia sendiri tidak yakin kenapa sampai nekat datang. Namun, rasanya menyebalkan sekali ketika niat baik ditolak begitu saja oleh laki-laki yang bahkan belum sempat ia ucapkan terima kasih dengan benar. Seorang satpam menatapnya dari balik meja. “Cari siapa, Mbak?” “Pak Evan, Kepala Bidang Perencanaan,” jawab Bella sambil merapikan pegangan kantong plastiknya. “Sudah janji?” “Belum.” Bella tersenyum lebar, berusaha tampak meyakinkan. “Saya keponakannya.” Satpam itu mengernyit. Bella buru-buru menambahkan, “Keponakan jauh. Saya disuruh nganter titipan Tante Diana, ibunya Pak Evan.” Bohongnya terdengar buruk bahkan di telinganya sendiri. Untungnya, bunyi lift yang terbuka menyelamatkannya dari pertanyaan lanjutan. Beberapa pegawai keluar bersama seorang laki-laki berseragam PNS yang tengah berbicara sambil membuka map. Tubuh tinggi, rahang tegas, dan wajah yang sejak kemarin terus muncul di kepala Bella membuatnya langsung mengenali siapa laki-laki itu. Evan berjalan di tengah rombongan, diiringi seorang perempuan berbadan sintal yang sesekali mencuri pandang ke arahnya. Ia baru berhenti bicara ketika melihat Bella berdiri di dekat meja satpam. Langkah pria itu terhenti, bahkan alisnya terangkat sedikit. “Bella?” Beberapa pegawai spontan menoleh. Bella ingin sekali menghilang dari tempat itu, tetapi ia telanjur mengangkat kantong plastiknya. “Hai, Mas.” Bella berusaha tersenyum santai. “Saya bawa ... utang budi.” Evan menyerahkan mapnya kepada salah satu staf, lalu menghampiri Bella. Tatapannya beralih dari wajah Bella ke dua kotak nasi di tangannya. “Saya sudah bilang tidak perlu,” ujar Evan pelan, cukup untuk didengar Bella saja. “Saya nggak suka punya utang,” balas Bella sambil mengangkat dagu. “Itu masalah kamu.” Evan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Bella mengatupkan bibir sesaat, menahan kesal. “Kalau gitu, Mas Evan yang nolak niat baik orang. Itu masalah Mas.” Evan terdiam. Sebelum ia sempat menjawab, perempuan yang tadi berjalan di sampingnya ikut mendekat sambil memeluk map di dada. Senyumnya manis, tetapi sorot matanya mengamati Bella dari ujung rambut hingga ujung sepatu. “Keponakannya Pak Evan?” tanya perempuan itu sambil menyunggingkan senyum tipis. “Perempuan setua kamu mengaku keponakan Pak Evan?” Bella menahan napas. Di belakang meja, satpam mendadak terlihat sangat sibuk dengan buku tamunya. ‘Umurku baru dua puluh tujuh. Nggak setua itu!’ protes Bella dalam hati. Meski begitu, Bella harus mengakui bahwa alasannya memang tidak masuk akal. Mana ada keponakan yang hanya terpaut tujuh tahun dari pamannya? Evan sama sekali tidak menanggapi sindiran perempuan itu. Ia justru menatap Bella beberapa saat, lalu sudut bibirnya bergerak tipis, seolah sedang menahan senyum. “Besok,” kata Evan kemudian. “Jam dua belas. Saya cuma punya tiga puluh menit.” Bella bahkan belum sempat menjawab ketika Evan sudah berbalik dan berjalan pergi. Perempuan tadi segera menyusulnya, sempat melayangkan tatapan tidak ramah kepada Bella sebelum menghilang bersama rombongan pegawai. Bella masih berdiri mematung dengan kantong plastik di tangan ketika satpam di sebelahnya berdeham. “Mbak,” bisik satpam itu, “keponakan atau bukan, Pak Evan tadi hampir senyum, lho.” Wajah Bella langsung terasa panas. Ia buru-buru membenahi rambutnya, pura-pura tidak mendengar. Besok. Pukul dua belas. Tiga puluh menit. Sepertinya Bella baru saja memenangkan satu ronde, meskipun belum tahu persis siapa yang sebenarnya sedang kalah.Bukan memapah, bukan sekadar membantunya berjalan. Benar-benar menggendongnya!Refleks, Bella melingkarkan tangan ke leher laki-laki itu. Matanya membulat, sementara jantungnya yang sejak tadi sibuk melawan rasa sakit mendadak punya kesibukan lain.‘Ya ampun. Evan menggendongku!’Kalau saja perutnya tidak sedang terasa seperti dipelintir, mungkin Bella sudah menjerit kegirangan.“Kamar kamu di mana?” tanya Evan, sama sekali tidak menyadari kekacauan di kepala Bella.“Lurus ... terus belok kiri,” jawab Bella terbata-bata.Evan berjalan mengikuti arahannya dengan langkah mantap, sementara Bella berusaha mengabaikan jarak wajah mereka yang terasa terlalu dekat. Aroma parfum Evan tercium samar. Lengannya menopang tubuh Bella dengan hati-hati, dan entah kenapa itu membuat Bella sedikit lebih tenang.Di tengah rasa sakit yang menyiksa, ada bagian kecil dari dirinya yang ingin waktu berhenti sebentar. Bukan karena sakitnya, tentu saja, melainkan karena ia sedang berada dalam gendongan Evan.
Malamnya Aca mengundang Bella dan teman-teman bank lainnya makan malam di rumahnya. Katanya, ada kabar bahagia. Suami Aca sampai sengaja menyingkir ke rumah mertua supaya para perempuan itu bebas berisik. Bella datang paling akhir sambil menenteng puding cokelat. Alasannya macet. Padahal macetnya cuma lima menit, sisanya habis di ruang kerja seorang laki-laki berkacamata. Di ruang tamu, Raisa, Vina, Gladys, dan Sindi sudah lesehan mengelilingi meja yang penuh makanan. Raisa dari Customer Service, Vina teman satu meja Bella di teller, Gladys dari marketing, dan Sindi teller junior yang paling ceria. Ada ayam bakar, capcay, spaghetti, pizza, salad, dan camilan segudang. Satu kotak martabak sudah tinggal bungkusnya saja. “Telat banget, Bel,” kata Vina. “Martabaknya sudah dibantai Sindi.” “Aku cuma bantu ngabisin, Mbak!” bela Sindi dengan pipi menggembung. “Wih, Ca.” Raisa menatap meja. “Ini mau makan malam atau kondangan?” “Namanya juga kabar bahagia.” Aca keluar dari dapur sa
Sepulang kerja, Bella memutuskan mampir ke rumah Diana. Alasannya sederhana: mengembalikan sandal jepit milik Evan yang masih ada padanya. Padahal, Evan sudah bilang sandal itu boleh disimpan saja. Menurut laki-laki itu, sandal jepit bukan barang yang perlu dipikirkan terlalu serius. Namun, bagi Bella, mengembalikan sandal adalah alasan paling masuk akal untuk bertemu pemiliknya lagi. Dengan begitu, ia tidak perlu mengakui bahwa dirinya sedang mencari-cari kesempatan. Setelah memarkir motor, Bella berjalan menuju pintu rumah besar itu sambil menenteng tote bag berisi sandal hitam dengan tulisan EVAN di bagian belakangnya. Belum sempat ia mengetuk, pintu sudah terbuka dari dalam. “Eh, ada Bella sayang!” sapa Diana. “Sore, Tante,” balas Bella dengan senyum ramah. “Tumben main ke sini. Ada perlu apa?” Bella mengangkat tote bag-nya. “Ini, Tante. Bella mau balikin sandal Evan.” “Oh, sandal itu.” Diana melirik tas di tangan Bella, lalu tersenyum penuh arti. “Mau ketemu Evan,
Gerakan Evan terhenti. Ia akhirnya menegakkan badan dan menatap Bella beberapa detik. Untuk pertama kalinya, Bella melihat sesuatu yang mirip rasa bersalah di wajahnya. “Saya lupa.” “Lupa?” Bella mengerutkan kening, memastikan dirinya tidak salah dengar. “Chat kamu tenggelam. Saya juga banyak kerjaan.” Evan melepas sarung tangan mekaniknya. “Sorry.” Bella melongo. Jawaban itu begitu jujur sampai terasa menyebalkan. Ia sudah menyiapkan berbagai alasan yang mungkin dipakai Evan, mulai dari sibuk sampai pesannya memang tidak penting. Namun, ia tidak menyangka pria itu akan mengaku lupa dengan wajah sedatar itu. “Jangan bilang Mas juga lupa soal janji Mas?” “Janji apa?” tanya Evan tanpa ekspresi. Hati Bella terasa tercubit. Ternyata hanya dirinya yang menantikan janji tersebut. Tanpa menjawab, ia berbalik dan melangkah pergi dengan kesal. Namun, baru beberapa langkah, heels setinggi tujuh sentimeter yang dikenakannya menginjak genangan oli di dekat pintu garasi. Kaki kirinya terge
“Siapa bilang aku naksir? Aku cuma bosan di rumah.” Bella segera berdiri dan berlari ke kamarnya sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh.“Tunggu ya, Ma! Sepuluh menit!” serunya dari lorong.Sintia menggeleng sambil tersenyum geli. “Jangan sepuluh menit, kamu itu kalau dandan satu jam!”Delapan menit kemudian, Bella sudah berdiri di depan lemari dalam keadaan setengah basah, memegang dua baju sekaligus dengan wajah panik.Blouse putih atau dress biru? Rok plisket atau celana kulot? Apa yang pantas dipakai perempuan yang pura-pura tidak peduli, tetapi ingin terlihat cantik di depan ibu laki-laki yang bahkan tidak membalas pesannya?“Bel, sudah belum?” teriak Sintia dari luar kamar.“Belum, Ma! Dua menit!”Bella buru-buru memilih maxi dress biru navy tanpa lengan dengan potongan leher bulat yang sederhana. Ia menata rambut hazelnya dengan cepat, membiarkan gelombang alaminya jatuh di bahu. Sedikit foundation, blush on, dan lipstik peach melengkapi penampilannya. Ia juga mengenakan sep
Beberapa hari berlalu tanpa kabar apa pun dari Evan.Selama bekerja, Bella memang tidak punya banyak waktu untuk memikirkan laki-laki itu. Kesibukan di bank cukup ampuh mengalihkan perhatiannya, setidaknya sampai jam kerja berakhir dan ia kembali punya terlalu banyak waktu untuk dirinya sendiri. Perasaan aneh itu muncul lagi, seperti remaja yang baru punya gebetan ganteng.Dan di Sabtu yang cerah ini, perasaan itu justru terasa menyebalkan.Bella sudah mencoba mengisi paginya dengan bereksperimen di dapur, merapikan kamar, bahkan menonton drama yang sempat tertunda. Sayangnya, pikirannya selalu kembali pada satu orang yang berhari-hari tidak memberinya kabar.Dua kali ia membuka kolom chat Evan, mengetik pesan, lalu menghapusnya lagi. Pesan terakhirnya masih menggantung tanpa balasan. Padahal, ia hanya ingin tahu apakah pria itu sudah kembali dari dinas atau belum. Tidak ada salahnya, kan, bertanya begitu?Bella mendengus, kemudian melempar ponselnya ke sofa. Namun, tak sampai semenit







