공유

Bab 2 — Pertemuan

작가: Chessecake
last update 게시일: 2026-09-08 09:43:29

Hari Minggu akhirnya tiba. Karena sejak awal tidak berminat dengan perjodohan ini, Bella hanya mengenakan kaos putih oversize, jeans, dan heels kesayangannya. Rambutnya dikuncir seadanya, sementara wajahnya dibiarkan tanpa riasan. Sintia sempat memelototinya dari depan kamar, tetapi Bella pura-pura tidak melihat.

Setibanya di kafe, Bella langsung mencari meja dekat jendela, sesuai petunjuk yang diberikan Evan. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang laki-laki berkemeja hitam tengah sibuk dengan laptopnya.

Laki-laki itu tampan, dengan rahang tegas, hidung mancung, dan alis tebal. Tubuhnya tegap, sementara lengan kemejanya yang pendek memperlihatkan otot lengannya yang terbentuk jelas. Rambutnya pun tebal dan tertata rapi.

Bukan, pasti bukan dia. Evan kan botak!

Bella kembali memeriksa pesan di ponselnya. Namun, sebelum sempat memastikan, laki-laki itu sudah lebih dulu mendongak.

“Bella?” panggilnya sambil menatap perempuan yang berdiri tak jauh dari mejanya.

Bella tertegun. Suara berat itu terasa tidak asing. “Mas yang waktu itu ... yang dorong motor saya, kan?”

Evan mengamatinya sesaat, lalu mengangguk kecil. “Oh, yang motornya mogok.”

“Iya!” Bella tersenyum canggung sambil mendekat. “Waktu itu saya belum sempat bilang makasih. Mas langsung pergi.”

“Saya buru-buru,” jawab Evan singkat. Ia menutup laptopnya, lalu menunjuk kursi di hadapannya. “Duduk.”

Bella menurut, meski masih sulit percaya bahwa laki-laki di hadapannya adalah Evan. Apalagi, sepanjang perjalanan tadi ia sudah menyiapkan berbagai alasan untuk menolak perjodohan ini.

Evan sempat memperhatikan penampilan Bella sebelum sudut bibirnya terangkat tipis. “Kaos oblong, tapi pakai heels?”

Bella spontan melirik pakaiannya sendiri. “Kenapa? Ada dress code-nya kah?”

“Nggak.” Evan menggeleng sambil menahan senyum. “Cuma menarik aja.”

Bella mendengus pelan. Ia tidak tahu apakah itu pujian atau sindiran.

“Saya cuma punya tiga puluh menit,” lanjut Evan setelah melirik jam tangannya. “Ada pekerjaan yang harus saya kirim siang ini.”

Tiga puluh menit?

Bella mengerjap. Ia sudah membayangkan akan menghadapi laki-laki genit yang sibuk merayunya, bukan seseorang yang bahkan membatasi waktu pertemuan mereka.

“Terus, Mas mau ngomong apa?” tanya Bella sambil menyandarkan punggung ke kursi.

“Saya langsung saja, ya.” Evan meletakkan kedua tangannya di atas meja. “Saya ke sini cuma supaya ibu saya berhenti bertanya. Kamu juga begitu, kan?”

Bella terdiam sesaat. Kalimat itu seharusnya melegakan karena alasan mereka memang sama. Namun, entah kenapa, ia justru merasa sedikit tersinggung.

“Iya, sama,” jawab gadis itu cepat sambil mengangkat dagu.

“Bagus, berarti kita sepemikiran.” Evan mengangguk puas, seolah persoalan mereka sudah selesai.

Bella mengerucutkan bibir. Untuk mengalihkan rasa kesalnya, ia memanggil pelayan dan memesan es matcha latte.

“Katanya, Mas kepala bidang, ya?” tanya Bella setelah pelayan pergi. “Bidang apa?”

“Perencanaan,” jawab Evan sambil meraih cangkir kopinya. “Kamu teller, kan?”

“Iya.” Bella mengangguk, lalu menunggu laki-laki itu melanjutkan pertanyaannya.

Namun, Evan hanya membalas dengan anggukan kecil sebelum kembali menikmati kopinya.

Bella mengembuskan napas pelan. Dari meja sebelah terdengar tawa pasangan yang sedang asyik mengobrol, berbanding terbalik dengan suasana meja mereka.

Sesekali, Evan memeriksa ponselnya, sementara Bella sibuk mencari topik pembicaraan. Sayangnya, setiap kali ia hendak membuka mulut, perhatian justru teralihkan pada laki-laki di hadapannya itu. Mulai dari jam tangan Seiko vintage yang dikenakannya hingga urat tangan yang terlihat ketika Evan menggenggam cangkir.

‘Gila, kenapa malah merhatiin begituan?’ Bella buru-buru menyesap minumannya.

Sedotannya mengeluarkan bunyi cukup keras hingga Evan menoleh. Laki-laki itu tersenyum samar, membuat Bella semakin salah tingkah.

Tanpa terasa, tiga puluh menit berlalu. Tepat ketika Bella mulai menemukan bahan pembicaraan lain, Evan sudah lebih dulu bangkit dari kursinya.

“Saya duluan, ya.” Evan memasukkan ponselnya ke saku celana. “Bilang ke mama kamu kalau kita sudah ketemu.”

Bella mendongak, sedikit tidak percaya. “Itu aja?”

Evan mengangguk sambil meraih kunci motornya. “Iya itu aja.”

Bella mengatupkan bibir, menahan komentar yang hampir keluar. Namun, sebelum pergi, Evan kembali menoleh kepadanya.

“Oh, iya. Motor kamu yang mogok waktu itu kemungkinan bermasalah di busi. Coba diservis sebelum mogok lagi,” sarannya.

Bella mengerjap. “Itu ... saran?”

“Anggap saja begitu.” Evan tersenyum tipis. “Hati-hati di jalan, Bella.”

Laki-laki itu kemudian berjalan menuju kasir sebelum meninggalkan kafe.

Bella memperhatikannya dari balik jendela hingga motor sportster hitam itu menghilang dari pandangan. Ia lantas mengambil ponselnya dan membuka kontak bernama Evan Anak Tante Diana.

Sepertinya, seratus ribu rupiah yang ia pertaruhkan sendiri resmi hangus. Evan ternyata tidak jelek, tidak gendut, apalagi botak.

“Mbak, minta bonnya, ya,” panggil Bella kepada pelayan yang melintas.

“Sudah dibayar, Mbak.” Pelayan itu tersenyum ramah. “Tadi Masnya sudah bayar di kasir, sekalian sama minuman Mbak.”

Bella terdiam. Ia kembali menatap pintu kafe yang tadi dilewati Evan, lalu tanpa sadar tersenyum kecil.

Laki-laki itu datang hanya untuk memenuhi permintaan ibunya, lalu pergi seolah pertemuan mereka tidak berarti apa-apa.

Sayangnya, Bella justru mulai penasaran dengannya.

**

Sintia sudah menunggu di ruang tamu begitu Bella pulang. Ia duduk tegak di sofa, lengkap dengan dua gelas teh dan sepiring pisang goreng yang tampaknya sengaja disiapkan untuk membujuk putrinya bercerita.

“Gimana?” tanyanya begitu Bella muncul.

“Apanya?” Bella melepas heels-nya, lalu menaruhnya di rak sepatu.

“Bella, jangan pura-pura lupa!” Sintia menepuk sofa di sebelahnya. “Gimana pertemuan kamu sama Evan?”

“Biasa aja, Ma.” Bella menjatuhkan diri ke sofa dan meraih pisang goreng. “Ngobrol sebentar, minum, selesai. Tiga puluh menit pas.”

“Tiga puluh menit?” Sintia mengernyit. “Kata Diana, Evan jarang mau ketemu orang lebih dari lima belas menit.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng   Bab 10 — Saya di sini

    Bukan memapah, bukan sekadar membantunya berjalan. Benar-benar menggendongnya!Refleks, Bella melingkarkan tangan ke leher laki-laki itu. Matanya membulat, sementara jantungnya yang sejak tadi sibuk melawan rasa sakit mendadak punya kesibukan lain.‘Ya ampun. Evan menggendongku!’Kalau saja perutnya tidak sedang terasa seperti dipelintir, mungkin Bella sudah menjerit kegirangan.“Kamar kamu di mana?” tanya Evan, sama sekali tidak menyadari kekacauan di kepala Bella.“Lurus ... terus belok kiri,” jawab Bella terbata-bata.Evan berjalan mengikuti arahannya dengan langkah mantap, sementara Bella berusaha mengabaikan jarak wajah mereka yang terasa terlalu dekat. Aroma parfum Evan tercium samar. Lengannya menopang tubuh Bella dengan hati-hati, dan entah kenapa itu membuat Bella sedikit lebih tenang.Di tengah rasa sakit yang menyiksa, ada bagian kecil dari dirinya yang ingin waktu berhenti sebentar. Bukan karena sakitnya, tentu saja, melainkan karena ia sedang berada dalam gendongan Evan.

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng   Bab 9 — Kabar Bahagia

    Malamnya Aca mengundang Bella dan teman-teman bank lainnya makan malam di rumahnya. Katanya, ada kabar bahagia. Suami Aca sampai sengaja menyingkir ke rumah mertua supaya para perempuan itu bebas berisik. Bella datang paling akhir sambil menenteng puding cokelat. Alasannya macet. Padahal macetnya cuma lima menit, sisanya habis di ruang kerja seorang laki-laki berkacamata. Di ruang tamu, Raisa, Vina, Gladys, dan Sindi sudah lesehan mengelilingi meja yang penuh makanan. Raisa dari Customer Service, Vina teman satu meja Bella di teller, Gladys dari marketing, dan Sindi teller junior yang paling ceria. Ada ayam bakar, capcay, spaghetti, pizza, salad, dan camilan segudang. Satu kotak martabak sudah tinggal bungkusnya saja. “Telat banget, Bel,” kata Vina. “Martabaknya sudah dibantai Sindi.” “Aku cuma bantu ngabisin, Mbak!” bela Sindi dengan pipi menggembung. “Wih, Ca.” Raisa menatap meja. “Ini mau makan malam atau kondangan?” “Namanya juga kabar bahagia.” Aca keluar dari dapur sa

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng   Bab 8 — Ruang Kerja Evan

    Sepulang kerja, Bella memutuskan mampir ke rumah Diana. Alasannya sederhana: mengembalikan sandal jepit milik Evan yang masih ada padanya. Padahal, Evan sudah bilang sandal itu boleh disimpan saja. Menurut laki-laki itu, sandal jepit bukan barang yang perlu dipikirkan terlalu serius. Namun, bagi Bella, mengembalikan sandal adalah alasan paling masuk akal untuk bertemu pemiliknya lagi. Dengan begitu, ia tidak perlu mengakui bahwa dirinya sedang mencari-cari kesempatan. Setelah memarkir motor, Bella berjalan menuju pintu rumah besar itu sambil menenteng tote bag berisi sandal hitam dengan tulisan EVAN di bagian belakangnya. Belum sempat ia mengetuk, pintu sudah terbuka dari dalam. “Eh, ada Bella sayang!” sapa Diana. “Sore, Tante,” balas Bella dengan senyum ramah. “Tumben main ke sini. Ada perlu apa?” Bella mengangkat tote bag-nya. “Ini, Tante. Bella mau balikin sandal Evan.” “Oh, sandal itu.” Diana melirik tas di tangan Bella, lalu tersenyum penuh arti. “Mau ketemu Evan,

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng   Bab 7 — Sandal Jepit Hitam

    Gerakan Evan terhenti. Ia akhirnya menegakkan badan dan menatap Bella beberapa detik. Untuk pertama kalinya, Bella melihat sesuatu yang mirip rasa bersalah di wajahnya. “Saya lupa.” “Lupa?” Bella mengerutkan kening, memastikan dirinya tidak salah dengar. “Chat kamu tenggelam. Saya juga banyak kerjaan.” Evan melepas sarung tangan mekaniknya. “Sorry.” Bella melongo. Jawaban itu begitu jujur sampai terasa menyebalkan. Ia sudah menyiapkan berbagai alasan yang mungkin dipakai Evan, mulai dari sibuk sampai pesannya memang tidak penting. Namun, ia tidak menyangka pria itu akan mengaku lupa dengan wajah sedatar itu. “Jangan bilang Mas juga lupa soal janji Mas?” “Janji apa?” tanya Evan tanpa ekspresi. Hati Bella terasa tercubit. Ternyata hanya dirinya yang menantikan janji tersebut. Tanpa menjawab, ia berbalik dan melangkah pergi dengan kesal. Namun, baru beberapa langkah, heels setinggi tujuh sentimeter yang dikenakannya menginjak genangan oli di dekat pintu garasi. Kaki kirinya terge

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng    Bab 6 — Kalo Jodoh Nggak kemana

    “Siapa bilang aku naksir? Aku cuma bosan di rumah.” Bella segera berdiri dan berlari ke kamarnya sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh.“Tunggu ya, Ma! Sepuluh menit!” serunya dari lorong.Sintia menggeleng sambil tersenyum geli. “Jangan sepuluh menit, kamu itu kalau dandan satu jam!”Delapan menit kemudian, Bella sudah berdiri di depan lemari dalam keadaan setengah basah, memegang dua baju sekaligus dengan wajah panik.Blouse putih atau dress biru? Rok plisket atau celana kulot? Apa yang pantas dipakai perempuan yang pura-pura tidak peduli, tetapi ingin terlihat cantik di depan ibu laki-laki yang bahkan tidak membalas pesannya?“Bel, sudah belum?” teriak Sintia dari luar kamar.“Belum, Ma! Dua menit!”Bella buru-buru memilih maxi dress biru navy tanpa lengan dengan potongan leher bulat yang sederhana. Ia menata rambut hazelnya dengan cepat, membiarkan gelombang alaminya jatuh di bahu. Sedikit foundation, blush on, dan lipstik peach melengkapi penampilannya. Ia juga mengenakan sep

  • Misi Mencuri Hati PNS Ganteng    Bab 5 — Gengsi Tingkat Tinggi

    Beberapa hari berlalu tanpa kabar apa pun dari Evan.Selama bekerja, Bella memang tidak punya banyak waktu untuk memikirkan laki-laki itu. Kesibukan di bank cukup ampuh mengalihkan perhatiannya, setidaknya sampai jam kerja berakhir dan ia kembali punya terlalu banyak waktu untuk dirinya sendiri. Perasaan aneh itu muncul lagi, seperti remaja yang baru punya gebetan ganteng.Dan di Sabtu yang cerah ini, perasaan itu justru terasa menyebalkan.Bella sudah mencoba mengisi paginya dengan bereksperimen di dapur, merapikan kamar, bahkan menonton drama yang sempat tertunda. Sayangnya, pikirannya selalu kembali pada satu orang yang berhari-hari tidak memberinya kabar.Dua kali ia membuka kolom chat Evan, mengetik pesan, lalu menghapusnya lagi. Pesan terakhirnya masih menggantung tanpa balasan. Padahal, ia hanya ingin tahu apakah pria itu sudah kembali dari dinas atau belum. Tidak ada salahnya, kan, bertanya begitu?Bella mendengus, kemudian melempar ponselnya ke sofa. Namun, tak sampai semenit

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status