Share

Misi Menggoda Hati
Misi Menggoda Hati
Author: Fin Nabh

Prolog

Author: Fin Nabh
last update Last Updated: 2023-07-15 07:33:32

“Tanda tangan!!”

Seruan yang terdengar tegas dan dingin itu terdengar bersamaan dengan sebuah kertas yang melayang di depan Aveline Seraphina Rinaldi, membuat perempuan berambut coklat gelap yang dicepol rapi itu sedikit mengernyit. Sedetik kemudian, wajahnya berubah pias saat membaca tulisan tebal di bagian atas kertas itu.

“Kontrak... pernikahan?”

Suara Aveline tercekat. Berbanding terbalik dengan isi kepalanya yang riuh, memikirkan berbagai pikiran buruk.

Seorang pria yang belum dua hari menjadi suaminya, menyandarkan punggung ke sofa. Tatapan matanya lurus pada Aveline yang terpaku.

Pria itu berdecak, setelahnya meletakkan kertas itu ke atas meja dihadapan mereka. "Kontrak pernikahan selama satu tahun. Setelah itu, kita CERAI," kata suami Aveline, Cassian Ardentio Wijaya dengan suara yang tenang, seolah-olah apa yang dikatakannya adalah hal yang biasa.

“Hah?”

Tunggu..

Aveline tiba-tiba saja seperti orang linglung. Kata-kata cerai entah mengapa menyedot semua kemampuannya dalam berpikir. Apalagi ini untuk satu tahun pernikahan? Mereka saja baru hari ini beristirahat setelah lelahnya rangkaian persiapan dan acara pernikahan, tapi berniat untuk berpisah?

“Tapi, Kak…”

Suara Aveline melemah, nyaris tak terdengar. Kata-kata berikutnya seolah lenyap ditelan kecemasan yang mulai menyelubungi pikirannya. Ia bahkan tak yakin harus bicara apa.

Cassian menatapnya, tetap dengan ekspresi datar yang membuat Aveline makin sulit menebak isi kepalanya.

“Seperti yang kita berdua tahu, kita nggak saling cinta,” ucapnya pelan namun mantap. “Aku nikahin kamu karena papa kamu yang minta.”

Crash..

Aveline seakan mendengar suara remasan di jantungnya, ia nyaris berhenti bernapas. Ucapan itu menghantam tepat ke ulu hati.

Ia tahu… Ia sangat tahu alasannya. Tapi mendengar Cassian mengatakannya dengan begitu gamblang… tanpa ragu dan tanpa beban… itu lain cerita.

Vincent Rinaldi

Papanya langsung memenuhi pikirannya. Pria yang begitu ia hormati, begitu keras kepala, dan begitu mengagumi Cassian. Papa melihatnya sebagai sosok sempurna—cerdas, ambisius, dan tangguh. Bahkan lebih layak memimpin perusahaan keluarga dibanding dirinya atau Aurora, adik bungsunya.

Dan sekarang, saat Papa sedang sakit dan perusahaan di ambang krisis, pernikahan ini adalah satu-satunya jalan yang Papa yakini.

“Terus… gimana sama Papa?” tanya Aveline, suaranya terdengar rapuh. Wajah Papa yang terbaring lemah di rumah sakit terlintas begitu jelas di kepalanya.

Cassian menatapnya sekilas. “Tenang aja. Selama setahun ini, aku bakal cari cara buat bujuk Papa kamu dan selesain masalah perusahaan. Setelah itu, kita cerai.” suaranya tetap tenang

Sederhana dan sesantai itu ia bicara tentang perceraian.

Sementara Aveline...

Kepalanya kacau. Jantungnya tak karuan. Pikirannya menolak, tapi mulutnya bungkam.

Apa dia benar-benar tidak bermaksud untuk bertahan?

Padahal...

Cassian bukan orang asing. Mereka tumbuh di lingkungan yang sama. Rumah bersebelahan. Tapi kedekatan itu… ilusi. Aveline mengingatnya seperti mengingat cuaca pagi yang kabur, dingin, tapi tak bisa dilupakan.

Remaja laki-laki dengan seragam kusut, langkah terburu-buru, dan sorot mata yang membuat dunia terlihat seperti beban. Dia terlalu cepat dewasa. Terlalu banyak luka yang Aveline tak tahu namanya. Cassian hidup bertiga dengan ibunya dan adik perempuannya, sebelum sang ayah datang dan perlahan mengubah hidup mereka.

Sekarang, keduanya duduk dalam satu ruang yang sama. Suami-istri, katanya. Tapi rasanya... asing.

Aveline menunduk, menatap kontrak pernikahan yang tergeletak di meja. Lembar kertas itu seolah menertawakannya.

Ia tahu keputusan ini tak mudah. Tapi lebih dari itu, ia tahu dirinya tak punya pilihan.

Tatapan Cassian yang tajam, ucapan Papa yang mengikat, bahkan perasaannya untuk Cassian… semuanya menjeratnya.

Dengan napas berat, ia mengambil pulpen. Tangannya sempat ragu, tapi akhirnya tanda tangan itu tergores di atas kertas.

Cassian mengambil dokumen itu. Tak ada sepatah kata pun. Hanya langkahnya yang terdengar perlahan, menjauh dari ruang tamu menuju ruang kerja yang berada tepat di sebelah kamar utama mereka.

Rumah besar itu sunyi. Hadiah pernikahan dari papanya. Kamar utama di lantai dua, berdampingan dengan tiga ruangan lain. Satu sudah diubah menjadi ruang kerja. Dua sisanya kosong. Aveline tahu ruangan-ruangan itu disiapkan Papa untuk cucu-cucunya kelak.

Tapi sekarang?

Bahkan membayangkan ada masa depan saja terasa menyakitkan.

Aveline duduk terpaku. Napasnya berat. Matanya mulai panas, tapi ia menahan semuanya.

Kenapa gue setuju?

Pertanyaan itu mengambang di kepalanya, menggantung bersama segala rasa yang tak bisa ia kenali—bingung, kecewa, dan kosong.

Dengan napas berat dan kepala yang masih penuh dengan sisa konflik tadi, Aveline menginjak pedal gas mobilnya dengan perlahan.

Langit sore berwarna kelabu. Dan sejujurnya, suasana itu cocok dengan suasana hatinya.

Ia mengendarai mobilnya sendiri, seperti biasa. Mandiri bukan lagi pilihannya, tapi tuntutan untuknya.

Koridor rumah sakit dipenuhi bau disinfektan dan terasa sunyi, sampai sebuah suara menyentaknya dari lamunan.

“Ave? Kamu ke sini? Suami kamu mana?”

Natalia Rinaldi, Mamanya, muncul dari ujung lorong, menenteng paper bag kosong yang diduga Aveline adalah sisa makan siang orang tuanya. Senyum di wajah mamanya tampak lembut, hingga tanpa sadar Aveline ikut tersenyum.

Eh.. tapi.. suami?

Aveline meringis. Ia betul-betul lupa dengan kewajiban istri yang harus terus laporan setiap akan keluar rumah. Ingatkan Aveline jika lain kali hal ini terulang.

“Aku mau jenguk Papa, tapi... lupa ngabarin Kak Ian,” ucapnya pelan.

Natalia hanya mengangguk pelan. Maklum pasutri baru, masih berusaha beradaptasi.

“Papa di dalam sendiri, Ma?”

“Iya, Papa lagi sendirian. Temenin sebentar, ya.”

Aveline mengangguk, setelahnya membawa tubuhnya memasuki kamar rawat sang Papa. Tidak ada yang perlu dicemaskan kata dokter. Papa Vincent hanya tidak boleh terlalu lelah dengan aktivitas yang berat. Tubuhnya tidak lagi sebugar dulu.

“Cassian mana, Ave?” suara Papa Vincent menyambutnya.

See?

Bukannya menyambut putrinya, beliau justru menanyakan Cassian. Gak usah ragukan kasih sayang Vincent Rinaldi pada Cassian, deh. Tapi buah tak jatuh dari pohonnya, kan? Aveline juga sama tergila-gilanya pada suaminya.

Dengan sedikit mendengus, Aveline duduk di kursi samping ranjang.

“Kak Ian di rumah, Pa. Aku lupa ngabarin…”

Alis sang papa langsung mengerut.

“Jadi kamu ke sini tanpa minta izin suami kamu?”

Aveline meringis. Bukan karena merasa bersalah. Di depan tadi, ia sudah menyadari kesalahannya dan akan memperbaikinya, kan? Aveline meringis karena tiba-tiba saja, jari Papa Vincent mendarat di kepalanya.

Refleks, Aveline mengusap bagian yang sakit sambil meringis.

“Aww… sakit, Pa.”

“Kamu itu udah istri orang, Ave. Apa pun sekarang harus dibicarakan bareng suami. Paham?”

Aveline mengangguk, nyaris tak bersuara.

“Nggak jalan-jalan atau honeymoon sama Cassian?” Nada suara Vincent berubah. Penuh harap, seperti seorang ayah biasa yang ingin tahu cerita manis dari awal pernikahan anaknya.

Aveline hanya menggeleng.

“Nggak ada rencana, Pa…”

Tarikan napas Vincent terdengar berat.

“Papa tahu hubungan kalian gak seperti pasangan suami lainnya. Tapi… cinta bisa tumbuh, kan?”

Suara itu nyaris seperti doa. Dan Aveline ingin menangis karenanya.

“Setelah semua yang Papa korbankan, masa kalian nggak bisa berusaha sedikit aja?”

Aveline menunduk. “Aku ragu, Pa…” Ia ingin bicara lebih. Tentang Cassian yang begitu jauh. Tentang rasa yang tumbuh sendirian.

Tapi kemudian—

“Papa gak mau tahu.” Suara itu dingin. Datar. “Kamu harus bisa bikin Cassian jatuh cinta sama kamu.”

Dan di detik itu juga, Aveline merasa seperti remaja tujuh belas tahun yang dikalahkan lagi oleh ambisi orang tua.

“Ini kontribusi kamu ke perusahaan, Ave. Karena dulu kamu gagal penuhi harapan Papa.”

Rasanya lebih menghantam daripada kontrak pernikahan pagi itu.

Dulu…

Saat Aveline memilih Arsitektur dan bukannya Manajemen, impian sang papa hancur. Dan sejak itu, hubungan mereka tak pernah sembuh benar. Vincent Renaldi adalah pria ambisius. Dalam kamusnya, keluarga dan perusahaan adalah satu tubuh. Dan Aveline... adalah bagian yang dianggap lemah.

Pernikahan dengan Cassian bukanlah sakral. Itu strategi. Itu jalan keluar yang Papa Vincent paksa masuk ke dalam hidupnya.

Dan sekarang, luka lama itu disayat lagi. Pelan, tapi pasti.

Suara Mama Natalia muncul, mencoba mencairkan suasana. Tapi Aveline sudah terlalu penuh.

Ia pamit. Keluar dari kamar rawat dengan dada sesak dan langkah berat.

Ia ingin mencari udara segar dan ketenangan.

Taman kecil di depan rumah sakit jadi pelarian sementara. Ia duduk di bangku kosong. Angin sore menggerakkan dedaunan, tapi tak sanggup menggeser sedikit pun kekacauan di dalam dirinya.

Beberapa menit berlalu. Hening. Tapi pikirannya tak berhenti.

Mungkin Papa benar…

Ia menggigit bibir bawahnya.

Gue harus liat dari sisi Papa. Siapa yang bakal nerusin perusahaan kalau bukan gue atau Aurora? Perusahaan itu yang ngasih makan keluarga gue.

Senyum muncul di wajahnya. Tipis. Bukan senyum bahagia, tapi pasrah.

Ia menarik napas panjang. Menutup matanya sejenak.

Kalau ini jalannya… gue coba jalanin aja.

Bukan buat Papa.

Bukan buat reputasi perusahaan.

Tapi buat dirinya. Buat kesempatan kecil yang masih tersisa untuk menarik Cassian. Untuk… balik mencintainya.

Satu tahun... waktu yang Kak Ian kasih. Dan satu tahun cukup buat nembus tembok setebal apa pun, kan?

Satu tahun itu.. Waktu yang cukup… untuk bikin Cassian jatuh cinta.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Misi Menggoda Hati   Second Chance

    "Hai, Lia. Ini mantan istri saya, Karen. Karen, ini Adelia, mahasiswi saya," ujar Ryan.Adelia tersenyum canggung. Dia tidak mengerti mengapa Ryan memperkenalkannya pada mantan istrinya itu.Karen menatap Adelia dengan tatapan menilai, membuat Adelia tidak nyaman dengan itu.“Oh jadi ini selingkuhan kamu itu?” Ucap Karen dengan sinis.Adelia terdiam, terkejut dengan tuduhan itu. Dia baru saja datang, bahkan belum dipersilahkan duduk, namun ditodong dengan tuduhan yang tak menyenangkan.“Karen..” Tegur Ryan dengan tegas.“Why? Aku cuma mau tau dia tepat gak buat kamu dan Bryan.” Ucap Karen membela dirinya.“Tapi kamu gak perlu kayak gitu. Dia gak nyaman jadinya.” Ujar Ryan.Adelia menatap mereka pikiran berkecamuk. Lama-lama dia juga muak berada di tengah-tengah pertengkaran mantan pasangan suami istri ini. Trus apa coba maksudnya mengatakan Adelia pantas dan tak pantas buat Ryan dan Bryan? Bryan itu siapa lagi?“Maaf menyela. Saya kesini Cuma mau minta tandatangan anda, Pak Ryan. Buka

  • Misi Menggoda Hati   Calon Mantan Istri

    Rumah Keluarga Rinaldi“Leopard, boss?”“…”“Siap laksanakan, Boss Tiger.”Hans menutup panggilan telefonnya dengan Max. bossnya yang satu itu menginformasikan kalau aka nada bodyguard baru yang akan membantunya mengawal Aurora.“Leopard?” gumam Hans.Ia tau nama itu karena seringkali mendengar rumor dari camp pelatihan fortress. Namun ia belum pernah bertemu dengannya.Hans sendiri memang tidak lama mengikuti training di fortress karena ia memiliki basic beladiri bahkan sebelum bekerja dengan Nicholas. Makanya ia langsung diberi misi begitu bergabung dengan Fortress.“Ayo berangkat, Hans.”Suara Aurora dari belakang Hans terdengar, membuat pria itu menoleh ke arah pintu masuk rumah.“Kita langsung ke kantor pengacara,” ucapnya lagi pada Hans.Hans mengangguk. “Baik. Boss Tiger minta saya

  • Misi Menggoda Hati   Rumor dan Orang Misterius

    Siang Hari – Kantin Fakultas“Eh.. eh.. itu kan cewek yang selalu ada di ruangannya pak Ryan, kan?”“Ih iya bener. Istrinya kah?”“Kayaknya bukan deh. Istrinya pak Ryan, dokter. Cantik lagi.”“Trus.. trus itu siapa dong?”“Selingkuhannya pak Ryan?”“Ih bisa jadi. Denger-denger, Pak Ryan cere kan?”“Berarti dia PELAKOR dong?”Adelia merasa tidak nyaman. SANGAT AMAT TIDAK NYAMAN. Sejak awal dia duduk di kantin fakultas, suara bisikan dan gosip tentangnya menjadi bahan perbincangan di antara mahasiswa dan dosen-dosen. Bukan hanya hari ini, tetapi sudah berlangsung sejak dia mulai menjadi salah satu penghuni ruangan Ryan Davis dua minggu ini.Dirinya selalu dikaitkan dengan penyebab perceraian Ryan dengan mantan istrinya. Meskipun Adelia hanya menyelesaikan kewajibannya sebagai mahasiswa pascasarjana, namanya terus digunakan sebagai bahan spekulasi. Dia merasa tidak adil karena tidak pernah berniat merusak hubungan rumah tangga orang lain.Meskipun dia juga memiliki perasaan untuk Ryan, A

  • Misi Menggoda Hati   Soal Perceraian

    “Mulai besok, kamu dateng lagi kesini. Kerjain revisi kamu disini. Saya gak mau dinilai gak kompeten sama dosen-dosen lain kalau tau tesis kamu lolos.”Ucapan Ryan kemarin masih terngiang-ngiang di kepala Adelia. Terdengar berlebihan memang. Tapi Adelia tidak punya pilihan lain selain mengiyakan, karena dari awal Adelia yang salah. Wajar kalau Ryan bersikap begitu.Adelia duduk di kursi tunggu di depan ruangan Ryan setelah mengecek kalau si empunya belum datang. Dia memainkan ponselnya sembari menunggu.Beberapa saat kemudian, Ryan datang dan membuka pintu ruangannya. Adelia bergegas berdiri dan menunggu Ryan selesai.Sekilas, Adelia sempat melihat sebuah seutas senyum dari Ryan. Senyum itu muncul begitu cepat sehingga Adelia tidak terlalu yakin apakah dia benar-benar melihatnya. Sepertinya Ryan menyembunyikan senyumannya dengan sengaja, seolah tidak ingin Adelia mengetahui apa yang ada di balik senyumnya yang singkat itu.“Masuk!” Perintah Ryan. Adelia mengangguk dan ikut masuk ke ru

  • Misi Menggoda Hati   Ternyata

    Selamat siang, pak. Saya Adelia selaku mahasiswi bimbingan bapak. Saya mau bimbingan tesis, apa bapak ada waktu hari ini? –AdeliaSENDPesan itu dikirim Adelia dengan perasaan yang sangat gugup. Meskipun tanpa menuliskan namanya, dia yakin Ryan akan tahu bahwa pesan itu berasal darinya. Mereka masih saling menyimpan nomor kontak sampai saat ini.Dua bulan telah berlalu sejak Adelia mengetahui bahwa Ryan adalah dosen pembimbing tesisnya. Selama periode tersebut, dia hanya berkomunikasi dengan pembimbing pertamanya, mengulang strategi yang pernah dia lakukan saat bimbingan skripsinya. Ini bukan hanya untuk efisiensi waktu, tetapi juga sebagai upaya untuk menunda pertemuan langsung dengan Ryan.Adelia menyadari bahwa dia perlu menenangkan hatinya sebelum bertatap muka dengan Ryan. Meskipun dia tahu bahwa Ryan sudah memiliki istri dan anak, rasa gugup dan harapan tetap menyelip di dalam hatinya. Maka dari itu, Adelia ingin memastikan bahwa saat interaksi mereka nanti, dia dapat mengendali

  • Misi Menggoda Hati   Liora atau Rora?

    “Misi, Tuan… di depan ada Nyonya Aurora,” ucap salah seorang ART sambil menunduk sopan di ambang pintu ruang keluarga.Papi Bayu yang sibuk bermain balok susun dengan Baby Liora, menoleh sebentar.“Oh, Rora?” serunya, lalu bangkit sambil tetap menggendong batita itu.Ia berjalan santai ke ruang tamu. Disana, Aurora sang menantu sedang duduk menunggu di sofa.“Kok gak langsung masuk aja, Ra?”Aurora menoleh dan tersenyum kecil saat melihat Papi Bayu datang menggendong Liora. “Tadi takut ganggu. Kayaknya lagi quality time banget sama Lio,” ucapnya ringan.Papi Bayu tertawa pelan. “Ya namanya juga cucu kesayangan. Nih, liat aja tuh ekspresinya waktu denger suara kamu.”Baby Lio yang berada di pelukan Papi Bayu langsung menggeliat riang, tangannya menggapai-gapai ke arah Aurora. “Mamama!” celotehnya sambil tertawa.Aurora merentangkan tangan dan langsung menyambut Liora ke dalam pelukannya. “Iya, sayang… Mama datang. Kangen ya?”Papi Bayu duduk di sofa seberang, mengamati interaksi keduan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status