Share

Bab 4

Author: Aurtal
Aku mengerutkan kening, lalu menyahut dengan suara tenang.

“Apa aku juga tidak boleh membuang benda kotor seperti ini?”

Dada kakak ketiga terlihat naik-turun dengan hebat, sorot matanya dipenuhi rasa sakit dan amarah.

Dia tiba-tiba menginjak jimat pelindung itu, lalu menghancurkannya tanpa ampun dengan sepatunya. Setelah itu dia tertawa dingin dan mencibir dengan wajah sinis.

“Tomi, kau memang anak manja tidak punya hati! Kau itu cuma bajingan tak tahu terima kasih!”

“Pantas saja kalau Winda lebih memilih Jery daripada kau, kau itu .…”

“Hani!”

Kakak sulung langsung menyela, suaranya terdengar berat.

Mata kakak ketiga tampak memerah, dia menatapku dengan tajam.

Dia sedang berusaha mencari sedikit jejak rasa sedih atau penyesalan di wajahku.

Tetapi, yang dilihatnya hanyalah wajah datar dan tanpa ekspresi sama sekali.

Kakak Ketiga gemetar karena amarah, terdengar suara geraman tertahan yang keluar dari tenggorokannya.

"Tomi! Jimat pelindung ini milik Jery, dia hanya meminjamkannya padamu, berani sekali kau membuangnya!"

Anehnya, hatiku merasa sangat tenang, lalu menjawab datar.

"Aku akan menggantinya nanti."

Ketenanganku benar-benar membuat kakak ketiga marah. Dia menunjukku dan meraung penuh emosi.

"Masih saja berpura-pura! Kalau begitu, pergi dan ambilkan jimat baru sekarang juga! Naik seribu anak tangga, tidak boleh kurang satu langkah pun!"

Kakak sulung mencoba menghentikan langkahku, tetapi kakak ketiga membungkamnya dengan satu tatapan tajam.

Jelas sekali, dia juga melihat hal ini sebagai kesempatan bagus untuk mendidik sifat keras kepalaku.

Luka tusukan pisauku memang tidak terlalu serius, membuat mereka yakin kalau itu hanya sandiwara belaka untuk menarik perhatian.

Ketika kami sampai di kuil gunung di luar kota, tiba-tiba saja hujan.

Seribu anak tangga itu menjadi licin dan dingin karena hujan, namun aku langsung berlutut tanpa ragu.

Bekas luka itu basah kuyup oleh hujan, dan rasa perih yang menusuk menyebar ke seluruh tubuhku.

Aku seolah tak lagi merasakan sakit itu, dan berulang kali terus berkata pada diri sendiri.

Bahwa ini adalah yang terakhir kalinya, anggap saja ini sebagai balas budi kepada kakak ketiga.

Entah sudah berapa lama aku berlutut dan merangkak naik, hingga akhirnya menerima jimat pelindung baru itu.

Tubuhku basah kuyup oleh air hujan dan keringat, dan kepalaku mulai terasa berputar dan panas karena demam.

Aku mendorong pintu rumah hingga terbuka, dan langsung disuguhi oleh pemandangan pesta perayaan yang tampak meriah.

Jery sedang dikelilingi oleh orang-orang, dia sedang memegang piala penghargaan fisika dengan wajah berseri-seri penuh kebanggaan.

Namun, kedatanganku seketika langsung menghancurkan suasana hangat dan harmonis itu.

Kakak sulung adalah orang pertama yang terlihat mengerutkan kening dan membentakku.

"Tomi, lihat dirimu sekarang! Kau sama sekali tidak tampak seperti tuan muda Keluarga Luarta!"

Semua mata serentak menoleh dan tertuju padaku, ada yang menatap muak, beberapa tampak tidak sabar, tetapi tidak ada satu pun yang menunjukkan rasa peduli.

Aku mengabaikan semua tatapan di sekitarku, lalu berjalan langsung menuju Jery, dan meletakkan jimat pelindung itu ke genggaman tangannya.

Jery merasa tersanjung, lalu mencoba menarik tangannya dengan canggung seolah ingin menolak, namun ada kilatan rasa puas di sorot matanya.

"Kak, jangan begitu. Aku tidak pernah menyalahkanmu ...."

Aku sudah tidak peduli dengan kepura-puraannya dan langsung berbalik untuk pergi.

Di belakangku terdengar suara omelan kakak sulung dan kakak ketiga.

Aku mengabaikan mereka, langsung pergi ke kamarku, dan mengunci pintu.

Aku mengeluarkan pisau cukur yang telah kusiapkan sebelumnya dari laci, kemudian tanpa ragu sedikit pun mengiris pergelangan tanganku sendiri.

Saat darah menyembur keluar, aku justru merasakan sebuah kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Kakak kedua mengetuk pintu kamarku.

"Tomi, buka pintunya. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Aku hampir tak sadarkan diri, bahkan sudah tak punya kekuatan untuk sekadar membuka mulut.

Suara kakak ketiga yang tidak sabar terdengar menyela.

"Sudah, abaikan saja dia! Dia mungkin hanya sedang merajuk dan bertingkah menyedihkan lagi. Kalau dimanja, nanti malah semakin tidak tahu diri."

Kakak kedua akhirnya menyerah dan tak mengetuk lagi, suara langkah kakinya perlahan semakin menghilang di kejauhan.

Aku akhirnya memejamkan mata, dan jiwaku perlahan melayang ringan di udara.

Tepat saat jiwaku melayang, pintu kamar tiba-tiba didobrak paksa hingga terbuka lebar.

Kakak sulung menerobos masuk dengan marah, wajahnya terlihat pucat pasi, dan diikuti oleh kakak kedua dan ketiga.

"Tomi, apa lagi yang ...."

Suaranya mendadak terhenti saat melihat lantai kamarku dipenuhi genangan darah merah di depan mata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 9

    “Tidak! Bukan seperti itu!”Winda berteriak putus asa.“Sekarang, kau sudah kembali, kan? Laboratoriumku sudah berhasil meneliti dan mengekstrak paksa Sistem dari tubuh Jery .…”Aku mencibir, dan menyela perkataannya.“Penelitian yang kau sebut itu tidak lebih dari menyiksa orang lain dengan cara yang lebih kejam, dan juga menyakiti diri sendiri untuk membuat kalian mati rasa dari rasa bersalah.”Tiba-tiba sesosok bayangan muncul dari balik pintu, sambil mengacungkan pisau, dan menerjang ke arahku.“Tomi, aku jadi cacat begini, itu semua salahmu!”Aku terkejut melihat sosok yang familiar namun asing di hadapanku itu. Dia adalah Jery.Wajahnya dipenuhi bekas luka yang sangat mengerikan.Satu matanya telah buta, meninggalkan rongga kosong yang bisa membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa ngeri.Winda bereaksi paling cepat, dia menendang Jery dengan keras tepat di dada saat menerjang ke arahku.Jery berteriak kesakitan, dia terlempar ke belakang dan terbanting keras ke lantai.Dia t

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 8

    Sebelum aku selesai berbicara, sensasi tarikan yang sangat familiar langsung menyelimuti seluruh tubuhku.Pandanganku seketika terasa kabur, berubah menjadi warna putih bersih yang dingin.Aku langsung dipindahkan ke luar ruang perawatan intensif rumah sakit.Koridor itu dipenuhi dengan aroma disinfektan yang menyengat, membuat perutku terasa mual.Di balik pintu kaca ruangan terbaring sesosok tubuh yang terasa familiar bagiku namun juga asing.Itu adalah tubuh Tomi, wajahnya tampak sepucat kertas.Tubuhnya dipenuhi berbagai selang yang terhubung ke mesin penunjang kehidupan di sampingnya.Kurva yang terus berfluktuasi di layar monitor adalah satu-satunya bukti bahwa dia masih hidup.Dan di samping ranjang itu, ada sosok bertubuh sangat kurus hingga tulangnya menonjol.Itu adalah kakak ketigaku, Hani.Dulu dia selalu mengenakan jas putihnya dengan sangat rapi, lalu menceritakan kepadaku tentang hal-hal menarik yang terjadi dalam eksperimen di laboratorium dengan suara lembut.Tetapi se

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 7

    Aku kembali ke panti asuhan tempat aku dibesarkan.Sejak Kepala Panti, Mama Yuan, meninggal dunia, panti itu terpaksa ditutup karena kekurangan dana.Bangunan yang bobrok itu tidak lagi semeriah dulu, lumut menutupi permukaan dinding, dan gerbang besinya pun sudah berkarat.Aku berdiri di luar gerbang, mataku mulai berkaca-kaca.Ketika masih sangat kecil, aku ditinggalkan di gerbang panti asuhan ini.Mama Yuan membawaku masuk dan membesarkanku.Dia pernah menjadi satu-satunya kehangatan dalam hidupku, tetapi dia sudah meninggal karena sakit ketika aku kuliah.Aku bahkan belum sempat membalas budinya, namun sudah kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang kupunya di dunia ini.Beliau selalu berkata."Tomi, jadilah orang yang memiliki cahaya di dalam hatimu."Aku selalu mengingat nasihatnya itu selama bertahun-tahun.Sekarang aku sudah memiliki kemampuan finansial, tentu saja aku ingin meneruskan kehangatan itu demi beliau.Aku menghabiskan waktu selama tiga bulan untuk merenovasi kem

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 6

    Dokter kembali mendampingiku untuk melakukan berbagai tes, setelah memastikan bahwa aku baik-baik saja, mereka baru mengizinkanku pergi meninggalkan rumah sakit.Hal pertama yang kulakukan adalah pergi ke bank.Melihat deretan angka di rekeningku, aku perlahan menghela napas lega.Suara Sistem pun kembali terdengar.[Tuan, saya akan pergi sekarang. Apakah Anda masih ingin mengetahui beberapa kebenaran?]Aku mengusap kartu bank di tangan, tak menjawab apa pun.Meskipun Sistem yang tidak dapat diandalkan ini telah melemparku ke dunia lain dan mengabaikanku selama lima belas tahun.Namun pada akhirnya, Sistem ini pula yang telah memberiku kehidupan kedua.Setelah berpikir sejenak, aku akhirnya perlahan mengangguk.[Tokoh utama pria yang memiliki nama yang sama dengan Anda, Tomi Luarta, meninggal secara mendadak dalam sebuah kecelakaan. Hal ini menyebabkan inti dari seluruh dunia tersebut runtuh.][Dalam keadaan terdesak, kami hanya dapat memilih orang yang cocok dari dunia paralel untuk d

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 5

    Jiwaku terasa melayang di udara, aku bisa dengan jelas melihat semua orang yang berdiri di ambang pintu terdiam membeku seketika.Kakak kedua terhuyung-huyung mendekatiku, tangannya bergetar hebat menekan luka di pergelangan tanganku sekuat tenaga.Wajahnya tampak pucat pasi, dan suaranya hampir tak terdengar."Tomi ... jangan menakut-nakuti kakakmu ini ... Panggil dokter, cepat panggil dokter!"Luka di kakinya sendiri kembali terbuka akibat gerakannya yang terlalu keras, tetapi dia tampak tidak memedulikannya.Dia menatap putus asa ke arah kakak sulungku yang masih terdiam di pintu.Kakak sulung akhirnya bereaksi, dia berteriak histeris kepada para pelayan."Cepat panggil dokter keluarga ke sini untuk menghentikan pendarahan Tomi!"Dokter itu masuk dengan tergesa-gesa dan panik, dia langsung membalut pergelangan tanganku dengan kain kasa tebal.Tetapi, darah merah segar masih terus merembes keluar.Dokter itu basah kuyup oleh keringat, dia mengulurkan tangan dan memeriksa denyut nadi

  • Misi Selesai: Teleportasi Dimulai!   Bab 4

    Aku mengerutkan kening, lalu menyahut dengan suara tenang.“Apa aku juga tidak boleh membuang benda kotor seperti ini?”Dada kakak ketiga terlihat naik-turun dengan hebat, sorot matanya dipenuhi rasa sakit dan amarah.Dia tiba-tiba menginjak jimat pelindung itu, lalu menghancurkannya tanpa ampun dengan sepatunya. Setelah itu dia tertawa dingin dan mencibir dengan wajah sinis.“Tomi, kau memang anak manja tidak punya hati! Kau itu cuma bajingan tak tahu terima kasih!”“Pantas saja kalau Winda lebih memilih Jery daripada kau, kau itu .…”“Hani!”Kakak sulung langsung menyela, suaranya terdengar berat.Mata kakak ketiga tampak memerah, dia menatapku dengan tajam.Dia sedang berusaha mencari sedikit jejak rasa sedih atau penyesalan di wajahku.Tetapi, yang dilihatnya hanyalah wajah datar dan tanpa ekspresi sama sekali.Kakak Ketiga gemetar karena amarah, terdengar suara geraman tertahan yang keluar dari tenggorokannya."Tomi! Jimat pelindung ini milik Jery, dia hanya meminjamkannya padamu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status