共有

PDKI - 8

作者: Piki Chan
last update 公開日: 2024-11-01 13:05:36

"Nil, Rob... Makasih ya sudah jagain Amar." Om Pras duduk di sofa seraya meletakkan cangkir berisi kopi hitam. "Mbak Salma kapan pulang?" Robi menggeleng seperti malas untuk membalasnya.

"Tahu tuh Om, anaknya baru aja meninggal tapi ditinggal kelayapan terus." gerutu Robi dengan suara lirih tapi masih bisa ku dengar.

"Tapi kalian jadikan pindah ke sini? Kasihan lho sama ibumu kalau tinggal sendirian."

"Iya, aku langsung ngajuin surat resign tinggal ngurus barang-barang yang ada di rumah sana." Memang aku dan Robi belum sempat mengurus semua barang di rumah perantauan karena kabar meninggalnya Bobi sangat mendadak.

Tante Wanda yang makan di sebelahku itu menyenggol lenganku dan mendekatkan kepalanya.

"Ibumu punya pacar baru ya?" Pertanyaannya membuatku tersedak. Sungguh adik ibu mertuaku ini memang cukup ceplas-ceplos dalam berbicara. Aku menggeleng saja karena memang masih mengunyah makanan yang baru saja kulahap. "Udah tua juga banyak tingkahnya." Kini aku menahan tawa karenanya.

"Tapi Rob, mending kamu segera pasang CCTV. Itu orang semalam mencurigakan sekali." Lalu Om Pras menceritakan tentang dua orang yang dicurigainya semalam.

Katanya sama-sama berjaket kulit dan menggunakan masker hitam. Mereka mengendarai sebuah motor bebek yang nomor platnya tak terlihat oleh Om Pras.

"Udah nelepon tukang CCTV Om. Tapi nanti Robi sama Nilna ke rumah Pak RT buat memastikan keamanan gang di sini." Om Pras mengangguk, senyumnya mengembang pertanda lega.

"Terus sekarang Papa pengen nanya gimana bisa kamu jatuh dari motor? Jangan bilang kalau kamu ngebut?" Amar mengerucutkan bibirnya. Dia lalu menunjukkan layar ponselnya pada papanya tersebut.

"Nih, aku diseruduk dari belakang sama orang ini." Rupanya Amar tengah menunjukkan foto lelaki dingin tersebut. Baru saja akan menurunkan ponselnya, Om Pras sudah lebih dulu meraihnya dan lebih dekat mengamati foto tersebut.

"Lah, ini Ricard." Om Pras lalu menunjukkannya pada Tante Wanda dari kejauhan. Tante Wanda pun menyipit dan berjalan mendekat ke sofa tempat di mana Om Pras duduk. "Yang nabrak kamu Ricard?" Amar menaikkan kedua bahunya bersamaan.

"Mana ku tahu namanya Pa." Begitu jawabnya dengan santai.

"Memangnya Om kenal?" Kini giliran aku yang bertanya. Om Pras nampak mengangguk dan kemudian diikuti oleh Tante Wanda. Lalu aku menoleh pada Robi yang ternyata juga tengah melihat padaku.

"Dia ini anaknya pemilik perusahaan tempat Om. Kalau enggak salah sih baru lulus Magister dari luar negeri." Kami semua mengangguk bersamaan. Kalau dilihat dari gaya dan juga tampilannya memang sudah terlihat seperti orang kaya. Pantas saja dia sangat sombong.

"Tapi dia ganti rugi kan?"

"Motor Bobi masih dibawa ke bengkel sih. Kalau pengobatan Amar juga ditanggung sama dia." Lalu Amar menunjuk pada beberapa makanan ringan di atas meja dekat televisi.

"Itu semua dari dia. Belum buah dan juga roti." Om Pras nampak mengembangkan senyum. Mungkin dia merasa sungkan jika harus memperpanjang masalah karena berurusan dengan anak pemilik perusahaan.

Sejak Amar pulang, suasana rumah kembali menjadi sepi. Walaupun di perantauan sudah menjadi hal biasa tapi rasanya sangat berbeda sekali.

Aku tengah mengamati Robi yang mengawasi petugas CCTV bekerja. Memang sejak tadi siang mereka sudah datang dan segera membereskannya.

"Ibu belum ada kabar juga Rob?" Robi menggeleng, dia melihat pada jam di tangan kirinya. "Alasan ke mana lagi sih?" Entah kenapa dengan mertuaku tersebut, padahal saat itu hanya izin untuk semalam tapi ini lebih dari tiga hari dan belum juga ada tanda-tanda untuk pulang.

(meresahkan sekali, ya)

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   TAMAT

    Langit di atas pemakaman sore itu tampak muram, seolah semesta pun enggan berhenti berduka. Bau tanah basah yang bercampur dengan aroma bunga kamboja terasa menyesakkan dada. Aku berdiri di samping Robi yang bahunya masih bergetar hebat. Di bawah gundukan tanah yang masih merah itu, terkubur sesosok wanita luar biasa yang baru kami sadari keberaniannya setelah ia tiada. Ibu Salma."Nil, aku ini anak macam apa?" bisik Robi lirih. Suaranya pecah, tersapu angin sore. "Aku menghakimi Ibu, menganggapnya kejam karena kematian Bobi, sementara Ibu justru menyerahkan nyawanya untuk menghancurkan orang yang merusak adikku."Aku hanya bisa mengeratkan pelukanku pada lengan suamiku. Tidak ada kata-kata yang bisa menyembuhkan luka ini. Kehilangan dua orang tercinta dalam waktu kurang dari dua bulan adalah ujian yang nyaris membuat kami kehilangan kewarasan.Setelah para pelayat pulang, Tante Wanda mendekati kami dengan wajah sembap. Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat yang

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 61

    [Tante, Haryono sudah sepakat. Hari ini jangan ke mana-mana, ya. Di rumah saja.]Pesan dari Krisna pagi ini masih terpampang di layar ponsel. Namun, membacanya justru semakin menguatakan tekadku untuk melakukan apa yang sudah kupikirkan sejak semalam.Aku sudah bersiap, membawa mukena dan buku Yasin. Tanpa berpamitan pada Nilna maupun Robi, aku mengambil kunci motor Bobi. Motor itu sebenarnya masih baru dan jarang ia gunakan, tapi hari ini aku membutuhkannya.Saat baru saja keluar dari halaman rumah, suara seseorang menghentikanku.“Bu Salma, udah dandan cantik aja?”Cindy sedang menyapu halaman rumahnya. Aku menghentikan motor dan tersenyum padanya.“Gak masuk kerja, Cin?” tanyaku.Dia menggeleng lemas. “Sebentar lagi mau praktik magang, Bu. Makanya aku resign.”Aku mengangguk paham, lalu menyerahkan kantong plastik berisi beberapa gamis dan jilbab yang masih bagus.“Ka

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 60

    "Nilna sama Robi marah, Kris." Aku meletakkan secangkir teh hangat yang kupesan barusan setelah menyeduhnya.Bukannya terlihat simpati, dia justru tertawa dengan lirih. Lalu meletakkan ponselnya tepat di hadapanku."Haryono sepertinya tertarik. Tapi Aditama juga baru saja memberikan tanggapan." Aku justru mengerucutkan bibirku seolah kesal dengan keterlambatan Aditama."Terus, apakah Tante harus memberikan ini pada Aditama saja?""Tante tahu Wilona?" Aku mengangguk dengan ragu. Seingatku, Wilona adalah putri dari Aditama yang akan menikah dengan Ricard. "Dia baru saja bertemu dengan Nilna. Bagaimana kalau Tante juga ikut serta menyerangnya?""Tapi, Kris ....""Biarkan saja, setidaknya dia tak masuk kubangan oleh suami dan ayahnya sendiri." Sesaat jawaban dari Krisna membuatku terdiam.Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini, pasti sangat melelahkan. Terpaksa menumbuhkan rasa benci dari putra sulungku untuk tak membenci adiknya. Tap

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 59

    Aku hanya bisa diam saja saat Nilna mengajakku untuk pergi ke panti asuhan. Aku tahu maksud mereka ke sini. Tapi bagaimana dengan hatiku yang masih terus terbayang dengan Bobi?"Bu Salma, bukankah lebih baik mengatakan pada Mbak Nilna dan juga Mas Robi bahwa Ibu donatur pembangunan gedung yang tengah direnovasi?"Aku menggeleng pada wanita seusiaku yang sekarang menatap padaku. Lantas dengan cepat menggeleng padanya."Jangan ya, Bu. Biarkan saja mereka tak pernah tahu." Wanita ini semakin lekat menatapku dan kemudian membelai lembut pundakku. Tampak wajahnya menunjukkan raut kesedihan.Aku tahu, Nilna baru saja memeras Ricard untuk harga video yang sengaja kubiarkan tak terhapus di flashdisk kecil peninggalan Bobi.[Tan, bukannya ini alamat rumah Tante?]Krisna mengirimiku pesan saat aku baru saja tiba dan masuk ke dalam kamar. Keningku berkerut untuk memastikan bahwa alamat tersebut memang benar di sini."Ada apa, Kris?"

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 58

    "Akhirnya saya bisa juga ketemu sama Nilna." Krisna mengulas senyum saat aku mengunjunginya di klinik kecantikan."Benarkah?" Dia mengangguk. Kami berdua memang sempat bingung memikirkan cara agar Krisna bisa bertemu dengan Nilna dan Robi tanpa terlihat disengaja."Saya beli pembalut untuk Alex." Dia tertawa lagi. Aku hanya membalasnya dengan senyum getir. Entah kenapa setiap membahas pembalut, hatiku seolah tersayat karena mengingat Bobi."Alex positif herpes genital, sekarang sedang diusahakan untuk berobat ke luar negeri." Aku hanya bisa mengembuskan napas dengan keras.Padahal sudah banyak kasus tentang penyakit menular seperti ini, tapi kenapa juga masih banyak orang yang terjerumus dan seolah mengacuhkannya.Krisna lalu menyerahkan sebuah voucher diskon dari kliniknya untuk bisa digunakan oleh Nilna. Aku paham maksudnya sekarang."Tan, akhir pekan ada acara grand launching apartemen milik Haryono Corporation." Aku mas

  • Misteri Pembalut Di Kamar Iparku   PDKI - 57

    "Ibu, jangan tidur dulu. Kita bahas masalah yang tertunda." Robi mencoba mengingatkanku yang baru saja meletakkan bekas piringnya ke wastafel. Membuatku menghela napas panjang."Sekarang aja, Rob, Ibu juga sudah capek ini." Akhirnya aku pergi ke kamar untuk mengambil hasil pemeriksaan Bobi saat itu. Sesuai saran Krisna, aku sudah menyalinnya sebelum menyerahkannya kepada Robi kali ini."Rob, sekitar sebulan sebelum Bobi meninggal, Ibu mengantarnya periksa." Aku meletakkan map itu di atas meja dan langsung dibuka oleh Nilna."Granuloma Inguinale?" Robi membacanya dengan terbata-bata. "Apa ini, Bu?""Coba kamu cari di internet saja, Rob, Ibu kesusahan jika harus menjelaskannya." Aku masih memperhatikan dengan seksama saat mereka nampak terkejut dengan tatapan lurus ke ponselnya.Mataku membulat dan terperangah seolah tak percaya dengan apa yang kubaca di laman tersebut."Apa, Nil?" Robi nampak bertanya pada istrinya, Nilna."Pe

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status