LOGINAroma pandan itu datang lagi.
Lebih tajam dari sebelumnya. Seakan memenuhi seluruh udara di parkiran. Jantung Raina berdegup keras lagi. Jedag! Jedug! Jedag! Ia merinding, seluruh tubuhnya seperti di terpasung. buku kuduk dan tengkuknya berdiri. “Bukan… bukan… ini perasaan aku aja… ini cuma sugesti,” gumamnya gemetar. Tapi wangi itu makin mendekat, menusuk hingga ke kerongkongan. Dadanya naik turun, napasnya semakin cepat. Tangan yang memegang kunci motor ikut bergetar sampai kuncinya hampir jatuh. Kakinya tak bisa digerakkan. Pandangannya liar, mencari sumber aroma. Kosong. Hanya deretan motor pegawai yang ditinggal di parkiran, dan terlihat ada bayangan hitam dari pohon di sudut, dan lampu neon yang berkedip aneh. Deg… deg… deg… Raina merasa merinding total, seperti diselimuti hawa asing. Merinding disco, panas dingin, kulitnya kian meremang tak terkatakan. “Ya Allah… jangan bilang… hantu itu masih ngikut aku sampai sini…” suaranya tercekat, hampir berbisik. Udara tiba-tiba begitu sunyi. Tak ada jangkrik, tak ada angin. Hanya jantungnya sendiri yang berdentam memekakkan telinga. Dari kaca spion motor, Raina melihat bayangan hitam semakin mendekar dan berdiri tepat di belakangnya. Raina masih berdiri kaku di parkiran. Bau pandan itu menyesakkan dada, pekat sekali, seperti ada tangan tak kasatmata yang sengaja menutup hidungnya dengan sehelai kain wangi. Nafasnya berat, tersengal, dadanya bergemuruh hebat. Jedag! Jedug! Jedag! Seperti genderang perang di dalam tubuhnya. Ia menatap spion motornya. Bayangan hitam berdiri di belakang. Tegak, diam, tak bergerak. “Ya Tuhan…” bisiknya. Tangannya gemetar hebat ketika mencoba memasukkan kunci motor. Beberapa kali meleset, logam kunci beradu dengan tepi lubang kunci, menimbulkan suara krek krek yang malah membuat jantungnya makin ingin copot. “Please… jangan ganggu aku, Tuan Hantu…” suaranya parau, hampir menangis. “Aku nggak ganggu siapa-siapa kok… Aku cuma kerja… Aku mau cari makan, dan cuma mau pulang ke rumah. Tolonglah…” Raina berusaha keras menyalakan motor. Tubuhnya gemetar, tangannya basah oleh keringat dingin. “Bismillah… Bismillah…” lirihnya. Ia terus merapal doa, kalut, tak peduli doa apa yang keluar termasuklah doa makan. “A’udzubillahiminasyaitonirrojim…” “Bismillahirrahmanirrahim…” “Allahumma bariklana… wa fima razaqtana…” Jantungnya berdegup semakin cepat. Kunci motor akhirnya masuk, tapi tangannya begitu gemetar sampai-sampai hampir tak bisa memutarnya. Udara semakin dingin, bulu kuduknya berdiri. Ia merasa ada sesuatu mendekat, semakin dekat. “Ya Allah, jangan sekarang… aku masih pengen hidup, masih pengen nikah, masih pengen punya anak… jangan sekarang…” suaranya lirih, nyaris terisak. Mulutnya masih komat-kamit tak karuan. Doa berbuka puasa pun keluar di tengah kepanikan. “Allahumma laka shumtu… wa bika aamantu… bi syoumi ghadin…” Dan tepat ketika ia membaca doa berbuka puasa, sebuah suara meledak di belakangnya. “Hahhhahahahahaha!” Tawa keras itu membuat Raina menjerit kencang. "Akhhhhhh ....." Tubuhnya berbalik cepat. Jantungnya hampir meloncat keluar. Sosok itu berdiri di belakangnya, Adrian. Dengan wajah puas, ia menahan perut sambil ngakak tak terkendali. “Rai… astaga… aku kira kamu udah berani dikit kalau shift malam. Tapi ternyata… sampe doa berbuka puasa pun keluar! Hantunya puasa ya, Rai? HAHAHAHA!” Raina melongo, wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca. Tubuhnya begitu lemas hingga ia terhuyung ke depan, lalu jatuh memeluk Adrian. “Eh… Rai?” Adrian terkejut, tubuhnya kaku saat Raina benar-benar menempel erat padanya. Gadis itu gemetar parah, seperti daun kering tertiup angin. Seluruh tubuhnya dingin, basah oleh keringat. “Ya ampun, kamu kenapa segitunya? Aku cuma… cuma bercanda.” Suara Adrian melembut, rasa bersalah tiba-tiba mengisi dadanya. Raina masih memeluknya erat, wajahnya menempel di dadanya, napasnya sesak. “Aku kira… aku kira beneran hantu… aku beneran hampir mati ketakutan…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. Adrian menahan napas. Ia merasakan tubuh gadis itu gemetar hebat, seperti habis lari jauh tapi tanpa tenaga. Tawa yang tadi masih tersisa langsung hilang. Ia menepuk pelan punggung Raina. “Hei… hei… udah, udah… nggak apa-apa. Maaf ya, aku kebablasan isengnya. Sumpah, aku nggak nyangka kamu sampe segini takutnya…” Raina mengangkat wajahnya. Wajahnya pucat, matanya merah berair. “Aku kira… aku mati berdiri barusan…” Adrian tercekat. Rasa bersalahnya makin menebal. “Rai, aku… aku beneran minta maaf. Aku tadi cuma pengen nakut-nakutin sebentar. Aku pikir kamu bakal teriak sekali, terus marah, udah. Nggak nyangka kamu sampai gemeteran begini.” Raina menggigit bibirnya, masih menahan tangis. Tangannya mencengkeram lengan Adrian erat, seolah kalau dilepas, sosok bayangan tadi akan muncul lagi. Adrian menatapnya lama, bingung antara ingin ketawa lagi karena tingkah Raina yang polos, atau ingin marah pada dirinya sendiri. Akhirnya ia berdecak. “Ya Tuhan… dasar kamu penakut banget. Tapi sumpah, aku yang salah. Maaf ya, Rai.” Raina menunduk, masih menempel pada Adrian. Tubuhnya benar-benar lemas, lututnya seperti hilang tulang. Adrian menarik napas panjang. "Gawat… dia sampai segini takutnya gara-gara aku. Jangan-jangan besok dia mogok kerja karena trauma." Ia menepuk bahu Raina lagi. “Udah, sekarang naik motor. Aku temenin sampai pulang ke kost. Biar aman.” Raina hanya bisa mengangguk kecil, tanpa suara. Adrian membantu menstabilkan tubuhnya sampai bisa duduk di motor. Tangannya masih gemetar ketika memegang stang. Adrian berdiri di samping, wajahnya penuh rasa bersalah. Sementara itu, dalam hati kecilnya, Raina berteriak-teriak. "Astaga, kenapa harus dia yang ngerjain aku? Malu banget sumpah! Tadi aku sampe baca doa berbuka puasa! Mati aku kalo dia cerita ke orang lain…" Di balik rasa malu itu, masih ada satu hal yang lebih kuat, rasa takutnya belum benar-benar pergi. Meski Adrian sudah mengaku itu semua hanya iseng… bau pandan itu, samar-samar, masih tercium di antara hembusan angin malam. Motor Raina berhenti di depan kos sederhana bercat putih gading. Lampu teras menyala kuning redup, dikerubungi belasan laron yang beterbangan liar. Malam sudah larut, pukul dua belas lewat tiga puluh menit, dan jalan kecil di depan kos sepi tanpa suara. Adrian turun dari motor yang ia boncengi sejak tadi, menepuk celana jinsnya. “Nah, udah nyampe. Aman kan?” katanya enteng, mencoba memecah keheningan. Raina masih duduk di atas motor, kunci di tangannya gemetar. Ia menoleh ke Adrian dengan wajah pucat. “Yan… singgah dulu sebentar, ya?” suaranya lirih, seperti takut pada bayangan sendiri. Adrian mengerutkan kening. “Lho, buat apa? Kamu udah di kos kok. Tinggal naik ke kamar, terus kunci pintu. Besok pagi juga lupa semua ini.” Raina menggigit bibir, lalu menunduk. “Aku… aku takut. Beneran. Dari tadi itu… baunya nggak ilang, Yan. Bau pandan itu. Aku udah nyium beberapa kali. Bukan cuma malam ini. Udah beberapa kali, tiap pulang dinas malam.” Adrian mendesah, mengusap tengkuknya. “Rai… denger, itu halusinasi kamu aja. Orang ketakutan tuh biasanya jadi lebih peka. Bau yang sebenernya biasa aja bisa jadi aneh di kepalamu. Mana ada hantu bau pandan? Kalau ada hantu, baunya kan… paling banter anyir, atau angit. Bukan pandan.” Raina mengangkat wajahnya, matanya bergetar. “Tapi ini jelas banget, Yan. Manis, menusuk, sampai bikin aku mual. Kamu nggak pernah nyium?” Adrian nyengir, mencoba terlihat santai. “Aku udah puluhan tahun kerja di kantor itu. Dari masih magang, sampai jadi announcer tetap. Tinggal di studio, makan di pantry, kadang tidur di sofa ruang siaran. Belum pernah tuh kecium bau pandan.” Ia menyilangkan tangan di dada, wajahnya penuh kepastian. “Jadi, udahlah. Nggak usah dibesar-besarin. Itu paling musang pandan lewat. Kamu lupa ya, belakang kantor itu hutan? Banyak binatang keluar malam cari makan. Nokturnal gitu. Kayak kelelawar, musang, kucing liar. Nah, musang pandan kan namanya juga pandan. Mungkin kamu kecium baunya.” Raina melotot. “Yan! Masa kamu pikir aku salah bedain bau pandan sama bau binatang?” ***Senja di Taman Pandan Senja turun perlahan di atas Taman Pandan. Cahaya jingga menembus sela-sela dedaunan, menari di permukaan danau yang tenang. Angin berhembus lembut, menggoyangkan daun pandan yang tinggi, seolah menyambut kedatangan seorang pengunjung yang berjalan perlahan di jalan setapak. Lina Mei melangkah di antara rerumputan hijau, tangannya sesekali menyentuh daun pandan yang basah oleh embun sore. Setiap langkah terasa berat dan ringan sekaligus berat karena kenangan panjang dari masa lalu, ringan karena ketenangan yang kini mengisi hatinya. Ia tahu, setiap inci taman ini menyimpan sejarah yang panjang: cermin yang menghubungkan dunia, jiwa yang tersesat, pengorbanan Adrian dan Raina, dan semua roh yang akhirnya menemukan rumahnya. Suara air yang menetes dari pancuran kecil di danau menambah ketenangan. Burung-burung pulang ke sarang, menyanyi lembut, dan bunga m
Matahari pagi menyelimuti desa kecil itu dengan cahaya hangat, menembus sela-sela pepohonan yang rindang. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar rapi, dan aroma tanah basah bercampur wangi bunga melati yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Adrian duduk di teras rumahnya, menatap lembah yang jauh, tempat matahari perlahan menyingkap kabut tipis.Di tangannya terdapat selembar kertas yang belum diisi. Pena itu siap bergerak, namun pikirannya melayang pada semua perjalanan panjang yang telah mereka lalui.Cermin-cermin yang mengubah hidup, roh-roh yang tersesat dan menemukan jalan kembali, serta jiwa Mei Lin yang kini hidup kembali dalam diri Lina Mei. Dan di tengah semua itu, ada Raina, sosok yang tak pernah meninggalkan sisi Adrian, yang selalu menjaga cinta dan ketenangan di tengah keajaiban yang tak bisa dijelaskan. Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar pagi itu. Ia tahu surat ini bukan sekadar kat
Beberapa tahun berlalu sejak malam ketika debu cermin terakhir menyatu di danau taman pandan. Kota kecil itu telah kembali hidup, taman pandan tetap menjadi tempat favorit penduduk untuk berjalan-jalan dan mengingat sejarahnya, meski kisah di baliknya tetap menjadi rahasia bagi kebanyakan orang.Lina Mei kini tumbuh menjadi wanita dewasa dengan keanggunan yang tenang, wajahnya sering tersenyum lembut, dan matanya memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan.Ia tidak hanya menjadi sosok yang dikenal oleh Adrian dan Raina sebagai anak yang mereka didik, tetapi juga mulai dikenal oleh publik karena karyanya yang tulus dan mendalam.Di rumah kayu sederhana dekat danau, Lina duduk di depan meja kerja, menatap tumpukan naskah yang belum selesai. Pena di tangannya bergerak perlahan, mencatat setiap peristiwa, setiap ingatan, dan setiap pelajaran yang ia dapatkan dari perjalanan panjangnya dari masa hidupnya sebagai Lina Mei, hingga masa ketik
Pesawat mendarat dengan lembut di landasan Bandara Soekarno-Hatta. Udara tropis menyambut mereka dengan hembusan lembap yang membawa aroma hujan. Setelah berminggu-minggu di Beijing, melewati badai spiritual dan ritual penebusan, kini mereka kembali ke Indonesia ke tempat di mana semua kisah ini pertama kali ditulis oleh waktu.Adrian menatap keluar jendela mobil yang membawa mereka menuju kota kecil di pesisir, tempat taman pandan berada. Langit berwarna jingga keemasan, sama seperti sore pertama kali ia melihat cermin terkutuk itu bertahun-tahun lalu. Bedanya, kali ini ia tidak membawa beban.Di kursi belakang, Lina duduk diam, memeluk kain merah yang dulu menutupi cermin terakhir. Di dalamnya tersimpan debu kaca, sisa-sisa benda yang telah menjadi saksi ratusan tahun luka dan penebusan.Raina menoleh dari kursi depan. “Kau yakin ingin menaburkannya di taman pandan?” tanyanya lembut.Li
Pagi itu, embun menetes lembut di ujung daun pandan. Sinar matahari pertama menembus kabut tipis yang masih menggantung di atas desa. Tidak ada lagi hawa berat, tidak ada lagi bisikan atau bayangan gelap yang mengintai di antara pepohonan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang damai keheningan yang tidak menakutkan, melainkan menenangkan.Burung-burung mulai berkicau, seolah menyambut dunia yang baru saja dilahirkan kembali. Dari kejauhan, terdengar suara ayam berkokok dan riuh tawa anak-anak kecil yang berlarian di jalan tanah merah, mengejar layang-layang kertas buatan mereka sendiri.Desa yang selama puluhan tahun terbelenggu kini bernafas lega.“Semalam... aku melihat langit bercahaya seperti fajar,” kata seorang kakek dengan mata berbinar, tangannya masih gemetar saat memegang cangkir teh. Ia duduk di depan rumahnya, dikelilingi beberapa tetangga yang masih membicarakan kejadian aneh malam tadi.
Langit pagi itu tidak seperti biasanya. Setelah malam panjang yang penuh dengan doa dan badai, awan di atas desa tua tampak berlapis keemasan bukan dari matahari semata, tapi dari cahaya yang memancar perlahan dari tanah itu sendiri. Desa yang dulu diselimuti kutukan kini seperti sedang bernafas untuk pertama kalinya. Di tengah lapangan yang semalam menjadi tempat ritual, Lina berdiri diam. Ustaz Rahmad dan Adrian berdiri di belakangnya, menatap tanpa berani bersuara. Sekujur tubuh Lina tampak berpendar lembut, seperti sedang menyatu dengan cahaya di sekitarnya. Angin berhembus lembut, membawa aroma melati dan dupa. Suara gemericik air dari sungai kecil di dekat sana terdengar seperti irama alam yang mengiringi momen suci itu. Ustaz Rahmad berbisik pelan, “Ini... bukan cahaya biasa. Ini cahaya pemurnian.” Adrian mengangguk, matanya tak lepas dar







