Share

Bab 3

last update Huling Na-update: 2025-11-05 20:48:57

Adrian terkekeh.

“Eh, siapa tau. Namanya juga sugesti. Kalau orang udah takut, semua bau bisa dikira horor.”

Raina menghela napas panjang, lalu turun dari motor. Tangannya masih gemetar saat menuntun kendaraan ke garasi kecil kosannya.

Adrian mengikutinya dengan tatapan separuh khawatir, separuh geli.

Begitu masuk ke kamar kos yang mungil tapi rapi, dindingnya dihiasi rak buku kecil, selimut motif bunga terlipat di ujung ranjang, Raina langsung duduk di tepi tempat tidur. Ia menunduk, wajahnya murung.

Adrian berdiri di ambang pintu.

“Udah, Rai. Jangan dipikirin. Kalau kamu takut, coba baca doa sebelum tidur. Selesai.”

“Yan…” suara Raina pelan, nyaris bergetar.

“Boleh… kamu tidur di sini aja malam ini?”

Adrian sontak membelalakkan mata.

“Hah? Apa-apaan, Rai? Ini kos campur kan? Nanti dikira orang kita… macam-macam. Bisa runyam.”

Raina buru-buru menggeleng.

“Aku nggak maksud gitu! Aku cuma… aku beneran takut. Malam ini beda. Aku masih merinding. Jantungku masih jedag-jedug nggak berhenti.”

Adrian menyandarkan bahu ke kusen pintu, menatapnya lama.

“Rai, kita kerja bareng, iya. Tapi jangan bikin gosip aneh-aneh. Kalau aku ketahuan nginep di kos cewek… besok bisa satu kantor heboh. Bisa-bisa dianggap pasangan mesum.”

Raina menggigit bibirnya lagi, lalu menunduk. Bahunya bergetar sedikit.

“Aku nggak peduli omongan orang. Aku cuma… aku nggak mau sendirian. Yan, sumpah, aku takut banget.”

Keheningan menggantung di kamar itu. Adrian menatap wajah Raina yang pucat pasi, tangannya yang saling menggenggam erat di atas paha. Ia bisa melihat tubuh itu masih sedikit gemetar.

Dalam hati Adrian mengumpat dirinya sendiri.

"Astaga, Yan… ini semua salahmu juga. Kamu yang bikin dia makin parno dengan iseng nggak jelas tadi."

Ia menarik napas panjang, lalu mendekat.

“Oke, gini aja. Aku nggak tidur di kamar kamu. Aku tiduran di kursi luar, di depan kamar. Biar kamu tenang.”

Raina langsung menoleh, matanya berbinar penuh harap.

“Beneran, Yan?”

Adrian mengangguk.

“Iya. Anggap aja aku satpam cadangan malam ini.”

Raina menatapnya lama, lalu tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip pelarian dari tangis.

“Makasih…”

Adrian duduk di kursi rotan di teras kecil depan kamar. Raina masuk ke kamar, tapi pintu dibiarkan terbuka setengah, supaya ia bisa melihat Adrian duduk di luar.

Waktu berlalu. Malam makin larut. Adrian menyandarkan kepala ke dinding, hampir tertidur. Namun tiba-tiba, suara lirih memanggil.

“Yan…”

Ia menoleh. Raina berdiri di pintu kamar dengan wajah pucat.

“Bau itu lagi. Aku… aku nyium lagi. Pandan. Kuat banget.”

Adrian menghela napas, mencoba tetap logis.

“Rai, sudah… itu cuma perasaanmu.”

“Tapi aku beneran mencium! Bukan halusinasi. Aku nggak bohong.”

Adrian hendak menjawab, tapi tiba-tiba ia sendiri mengerutkan kening. Ada sesuatu… samar… semerbak manis, menusuk.

Ia terdiam. Dadanya sedikit bergetar.

Raina melihat reaksinya, wajahnya semakin panik.

“Yan… kamu juga nyium kan?”

Adrian buru-buru menggeleng.

“Nggak! Aku nggak cium apa-apa. Sudahlah, jangan mikir aneh-aneh. Tidur aja. Biar aku di sini jagain.”

Saat Raina masuk lagi ke kamar, Adrian menelan ludah. Karena ia tahu betul, tadi memang ada. Hanya sebentar, tapi jelas, wangi pandan yang manis, menusuk, seperti janji halus dari sesuatu yang tak terlihat.

Ia merinding, tapi menahan diri.

Malam itu, Adrian akhirnya tetap duduk di kursi depan kamar Raina. Ia menolak keras untuk tidur di dalam, takut ada gosip.

Dalam hati, ia tahu, kalau Raina tidak salah. Ada sesuatu yang ikut bersama mereka malam itu.

Wangi itu… belum pergi.

Malam merambat perlahan, seperti bayangan yang tak kunjung berhenti memanjang.

Kos Raina sudah sepi. Dari kejauhan, hanya terdengar sesekali suara motor melintas di jalan utama, samar, lalu menghilang ditelan gelap.

Raina sudah lebih dulu terlelap di balik pintu kamarnya. Nafasnya teratur, nyenyak dalam pelukan selimut tipis motif bunga.

Namun berbeda dengan Adrian yang masih terjaga. Ia berbaring miring di sofa rotan kecil yang ia paksakan jadi tempat tidurnya malam itu.

Adrian menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Punggungnya terasa pegal. Sesekali ia bangkit, duduk, lalu rebahan lagi. Tidak nyaman.

Ia mengusap wajahnya kasar, berusaha memejamkan mata. Tapi tiap kali kelopak itu menutup, ada rasa aneh menyelinap.

Ya, bau itu lagi.

Semerbak manis, menyengat, menggelayut di udara seperti benang halus yang melingkari hidungnya.

Pandan. Wangi pandan yang persis seperti kata Raina tadi.

Adrian menarik napas dalam, lalu menghembuskannya kasar.

“Astagfirullah… apa sih ini. Masa iya aku mencium juga…” gumamnya lirih.

Ia mencoba menolak sugesti..

"Nggak mungkin. Pasti cuma karena tadi si Raina ngomong terus jadi kebawa. Otak gue yang nge-prank sendiri."

Logikanya menolak keras percaya pada hal-hal gaib. Ia selalu merasa ada penjelasan rasional untuk segala sesuatu.

Tapi mengapa kali ini wangi itu begitu jelas? Seolah ada bunga pandan segar yang ditabur di sekitarnya.

Ia menutup mata rapat, menenangkan diri.

“Udah Yan, tidur aja. Besok pagi juga hilang.”

Pelan-pelan, kantuk itu menyerangnya.

Tubuhnya yang lelah akhirnya pasrah, hingga tanpa sadar, ia terbuai ke dalam mimpi.

Dalam mimpinya, Adrian berdiri di sebuah taman yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Lampion-lampion merah tergantung di udara, melayang perlahan, memancarkan cahaya redup. Hawa hangat, tapi sekaligus dingin menusuk tulang.

Di sanalah ia melihat sosok itu.

Seorang gadis muda, cantik, dengan gaun sutra putih gading, rambut hitam panjang bergelombang terurai.

Kulitnya pucat bersih, matanya sipit menawan, ciri khas keturunan Tionghoa. Bibirnya merah merekah, dan ia tersenyum lembut.

“Ni hao, Adrian…” suara gadis itu lembut, tapi entah mengapa membuat bulu kuduknya meremang. Adrian spontan membalas senyum.

Naluri lamanya, pahlawan playboy yang sulit ia kendalikan dan tiba-tiba muncul.

“Halo, cantik. Kita kenal di mana ya? Aku yakin, aku pasti inget kalau pernah ketemu secantik kamu.”

Gadis itu tertawa kecil. Suara tawanya bagai lonceng mungil yang bergemerincing

Ia melangkah mendekat, wangi pandan menyertai tiap langkahnya. Semakin dekat, semakin menyesakkan dada.

“Aku sudah lama di dekatmu,” katanya lembut.

“Tapi baru malam ini kamu benar-benar bisa melihatku.”

Adrian tertegun, tapi matanya tak bisa lepas dari wajah itu.

Entah kenapa, ada daya tarik aneh yang membuatnya ingin terus mendekat, terus berbincang, terus menatap.

Mereka duduk berdua di bangku batu di tengah taman. Gadis itu bicara dengan tenang, menanyakan hal-hal sederhana.

"Apakah Adrian sering bekerja malam, apakah ia sering merasa sendiri, apakah ia juga merasa tidak ada yang mengerti dirinya."

Adrian, tanpa sadar, menjawab semuanya. Ia bahkan tertawa, merasa nyaman, seperti berbicara dengan seseorang yang sudah sangat lama ia kenal.

Gadis itu kemudian menyentuh tangannya. Sentuhan dingin, namun membuai. Adrian terdiam, ..tubuhnya merespons tanpa bisa dicegah.

Ia merasa seolah sedang jatuh dalam pusaran asmara.

Wajah mereka makin dekat. Nafas mereka hampir menyatu. Bibir itu begitu dekat, manis, mengundang.

Adrian menyerah.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sherly Monicamey
rasanya menakutkan bisa lihat sosok mereka
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 139

    Senja di Taman Pandan Senja turun perlahan di atas Taman Pandan. Cahaya jingga menembus sela-sela dedaunan, menari di permukaan danau yang tenang. Angin berhembus lembut, menggoyangkan daun pandan yang tinggi, seolah menyambut kedatangan seorang pengunjung yang berjalan perlahan di jalan setapak. Lina Mei melangkah di antara rerumputan hijau, tangannya sesekali menyentuh daun pandan yang basah oleh embun sore. Setiap langkah terasa berat dan ringan sekaligus berat karena kenangan panjang dari masa lalu, ringan karena ketenangan yang kini mengisi hatinya. Ia tahu, setiap inci taman ini menyimpan sejarah yang panjang: cermin yang menghubungkan dunia, jiwa yang tersesat, pengorbanan Adrian dan Raina, dan semua roh yang akhirnya menemukan rumahnya. Suara air yang menetes dari pancuran kecil di danau menambah ketenangan. Burung-burung pulang ke sarang, menyanyi lembut, dan bunga m

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 138

    Matahari pagi menyelimuti desa kecil itu dengan cahaya hangat, menembus sela-sela pepohonan yang rindang. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar rapi, dan aroma tanah basah bercampur wangi bunga melati yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Adrian duduk di teras rumahnya, menatap lembah yang jauh, tempat matahari perlahan menyingkap kabut tipis.Di tangannya terdapat selembar kertas yang belum diisi. Pena itu siap bergerak, namun pikirannya melayang pada semua perjalanan panjang yang telah mereka lalui.Cermin-cermin yang mengubah hidup, roh-roh yang tersesat dan menemukan jalan kembali, serta jiwa Mei Lin yang kini hidup kembali dalam diri Lina Mei. Dan di tengah semua itu, ada Raina, sosok yang tak pernah meninggalkan sisi Adrian, yang selalu menjaga cinta dan ketenangan di tengah keajaiban yang tak bisa dijelaskan. Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar pagi itu. Ia tahu surat ini bukan sekadar kat

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 137

    Beberapa tahun berlalu sejak malam ketika debu cermin terakhir menyatu di danau taman pandan. Kota kecil itu telah kembali hidup, taman pandan tetap menjadi tempat favorit penduduk untuk berjalan-jalan dan mengingat sejarahnya, meski kisah di baliknya tetap menjadi rahasia bagi kebanyakan orang.Lina Mei kini tumbuh menjadi wanita dewasa dengan keanggunan yang tenang, wajahnya sering tersenyum lembut, dan matanya memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan.Ia tidak hanya menjadi sosok yang dikenal oleh Adrian dan Raina sebagai anak yang mereka didik, tetapi juga mulai dikenal oleh publik karena karyanya yang tulus dan mendalam.Di rumah kayu sederhana dekat danau, Lina duduk di depan meja kerja, menatap tumpukan naskah yang belum selesai. Pena di tangannya bergerak perlahan, mencatat setiap peristiwa, setiap ingatan, dan setiap pelajaran yang ia dapatkan dari perjalanan panjangnya dari masa hidupnya sebagai Lina Mei, hingga masa ketik

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 136

    Pesawat mendarat dengan lembut di landasan Bandara Soekarno-Hatta. Udara tropis menyambut mereka dengan hembusan lembap yang membawa aroma hujan. Setelah berminggu-minggu di Beijing, melewati badai spiritual dan ritual penebusan, kini mereka kembali ke Indonesia ke tempat di mana semua kisah ini pertama kali ditulis oleh waktu.Adrian menatap keluar jendela mobil yang membawa mereka menuju kota kecil di pesisir, tempat taman pandan berada. Langit berwarna jingga keemasan, sama seperti sore pertama kali ia melihat cermin terkutuk itu bertahun-tahun lalu. Bedanya, kali ini ia tidak membawa beban.Di kursi belakang, Lina duduk diam, memeluk kain merah yang dulu menutupi cermin terakhir. Di dalamnya tersimpan debu kaca, sisa-sisa benda yang telah menjadi saksi ratusan tahun luka dan penebusan.Raina menoleh dari kursi depan. “Kau yakin ingin menaburkannya di taman pandan?” tanyanya lembut.Li

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 135

    Pagi itu, embun menetes lembut di ujung daun pandan. Sinar matahari pertama menembus kabut tipis yang masih menggantung di atas desa. Tidak ada lagi hawa berat, tidak ada lagi bisikan atau bayangan gelap yang mengintai di antara pepohonan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang damai keheningan yang tidak menakutkan, melainkan menenangkan.Burung-burung mulai berkicau, seolah menyambut dunia yang baru saja dilahirkan kembali. Dari kejauhan, terdengar suara ayam berkokok dan riuh tawa anak-anak kecil yang berlarian di jalan tanah merah, mengejar layang-layang kertas buatan mereka sendiri.Desa yang selama puluhan tahun terbelenggu kini bernafas lega.“Semalam... aku melihat langit bercahaya seperti fajar,” kata seorang kakek dengan mata berbinar, tangannya masih gemetar saat memegang cangkir teh. Ia duduk di depan rumahnya, dikelilingi beberapa tetangga yang masih membicarakan kejadian aneh malam tadi.

  • Misteri Wangi Pandan Di Tengah Malam   Bab 134

    Langit pagi itu tidak seperti biasanya. Setelah malam panjang yang penuh dengan doa dan badai, awan di atas desa tua tampak berlapis keemasan bukan dari matahari semata, tapi dari cahaya yang memancar perlahan dari tanah itu sendiri. Desa yang dulu diselimuti kutukan kini seperti sedang bernafas untuk pertama kalinya. Di tengah lapangan yang semalam menjadi tempat ritual, Lina berdiri diam. Ustaz Rahmad dan Adrian berdiri di belakangnya, menatap tanpa berani bersuara. Sekujur tubuh Lina tampak berpendar lembut, seperti sedang menyatu dengan cahaya di sekitarnya. Angin berhembus lembut, membawa aroma melati dan dupa. Suara gemericik air dari sungai kecil di dekat sana terdengar seperti irama alam yang mengiringi momen suci itu. Ustaz Rahmad berbisik pelan, “Ini... bukan cahaya biasa. Ini cahaya pemurnian.” Adrian mengangguk, matanya tak lepas dar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status