Share

8. Daerah Barat

      Di meja makan, sudah berkumpul semua penghuni mansion tapi tidak ada Eren, Zavier dan Leon. Kiana terlihat lelah. Ia mengedipkan matanya, memberikan kode pada Renza.

“Kiana, apa semalam kau tidak tidur?” tanya Delice.

“Uhuk... Uhuk... Uhuk...” Kiana tersedak mendengar pertanyaan Delice.

“Ini, minum dulu.” Ken memberikan segelas air putih.

“Terima kasih, Daddy!” ucap Kiana.

       Naura melirik Delice. Aura wajahnya yang sedang cemburu pada Ken terlihat jelas. Kiana lebih dekat dengan Ken dibandingkan Ayahnya, Delice.

“Kiana, Ayahmu sedang bertanya padamu,” kata Naura.

“Ah, iya... Ayah, semalam aku belajar. Aku tertinggal pelajaran lumayan jauh,” ujar Kiana, berbohong.

“Cih! Membual!” gumam Renza.

       Delice tidak menjawab ucapan Kiana. Kiana sudah mendelik, mengancam Renza. “Ayahmu marah,” bisik Ken.

“Iya, aku tahu!” jawab Kiana.

       Kiana tidak menghabiskan makanan yang sudah ia ambil. Kiana memasukkan bekal ke dalam tas. Ia menenteng tasnya dan mengecup pipi Naura. “Ibu, aku berangkat dulu,” kata Kiana.

“Iya, sayang!”

      Kiana menghampiri Delice yang tidak menghiraukannya. Kecupan lembut dipipi, Kiana berikan untuk meluluhkan Delice yang sedang merajuk.

“Ayah, aku mencintaimu!” bisik Kiana.

      Delice tidak bisa mendengar kata-kata manis dari Kiana, putri satu-satunya yang mewarisi segalanya dari dirinya.

“Kiana!” panggil Delice.

“Iya, Ayah!” jawab Kiana sembari menghentikan langkahnya.

“Kau tidak membawa mobil?” tanya Delice.

“Aku lebih suka naik kendaraan umum,” jawab Kiana. “Daaa!”

       Renza juga menyusul Kiana. “Aku juga berangkat,” kata Renza. “Jangan khawatir, Ayah. Aku naik motor,” imbuhnya.

“Apa aku bertanya? Aku bahkan tidak peduli,” kata Delice sembari mengangkat kedua bahunya.

“Ayah, awas saja kalau Ayah mau meminjam uangku karena Ibu tidak memberikanmu uang,” ancam Renza.

“Pft...” Ken dan Naura menahan tawanya.

“Apa menyenangkan menertawakanku?” tanya Delice.

“Ah, iya. Loid, Sam dan Grace menunggu kita di dalam ruang keluardga,” kata Ken.

“Pasti ada hal penting. Ayo kita ke sana.”

***

      Pagi itu udara masih berembun. Eren, Leon dan Zavier berjalan kaki menikmati udara yang masih segar. Semua itu rencana Eren karena mereka harus mulai menjelajah dari tempat sekitar.

Pletak!

“Akh!” pekik Eren.

      Sebuah batu dilempar mengenai kepala Eren. Orang yang paling khawatir dan juga marah karena Eren terluka adalah Zavier.

“Hai!”

      Leon geram. Tindakan yang tiba-tiba seperti itu hanya dilakukan oleh seseorang yang pengecut. Bisa-bisanya setelah melukai orang yang tidak dikenal, orang asing itu tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya.

“Siapa kau?” tanya Leon.

“Apa itu penting?” balasnya.

       Zavier mencegah Leon yang hampir saja terpancing olehnya. “Kita masih memakai seragam. Jangan menunjukkan kelebihan apapun,” kata Zavier.

“Hah!” Leon menghela nafasnya. “Aku ubah pertanyaanku. Apa yang kau inginkan?” tanya Leon.

“Tuan muda Leon!” Leon langsung mendelik.

“Jangan bertele-tele!” teriak Eren. Padahal kepalanya berdarah hingga mengotori rambut dan seragamnya.

“Kami dari dua Crew. Selagi kami bicara baik-baik, serahkan daerah barat pada kami!”

        Orang yang ada di depan mereka tidak bicara. Lalu suara itu datang dari mana? Eren mendongak. Ada tiga orang yang duduk santai di atas pohon.

“Kenapa ada banyak monyet di sini?” celetuk Eren.

“Heuh!” Zavier tersenyum. “Bisakah kau jangan buat candaan dalam situasi seperti ini, Eren?” kata Zavier.

        Leon maju. Ia membiarkan Eren dan Zavier berada dibelakangnya. Leon tidak suka banyak bicara, apalagi hal-hal serius yang digunakan sebagai candaan.

“Kalian menginginkan daerah kekuasaan?” tanya Leon.

“Benar. Bagaimana?”

“Mudah saja syaratnya. Kalian sebutkan, siapa diri kalian?”

“Dua Crew HG!”

“Baik. Ambillah!” kata Leon dengan mudahnya.

“Kak!” pekik Eren.

“Jangan khawatir,” pinta Leon.

“Semudah itu kau membiarkan daerah barat untuk kami?”

“Ambillah kalau kau mampu!”

“Apa maskudmu?” Tanya perwakilan dari dua Crew HG.

      Leon merangkul Eren dan Zavier berjalan menjauh meninggalkan dua Crew HG. “Ah, iya!” Leon menoleh. “Sampai bertemu lagi di daerah barat,” imbuhnya.

“Kau mengundangku untuk bertamu?” tanya Renal.

“Hahahaha...” Leon tertawa. “Terlalu terhormat untuk membuatmu menjadi tamuku karena kau lebih pantas bekerja sebagai penjilat sepatuku!” pungkasnya.

“Sialan!”

“Aku bukan pengangguran seperti kalian, jadi aku harus pergi. Bye—“

      Daerah barat merupakan daerah kekuasaan Leon. Daerah timur merupakan milik seseorang yang masih menyembunyikan dirinya. Sedangkan daerah utara dan selatan adalah tempat kekuasaan dari dua Crew dari HG yaitu Crew Doghmo dan Crew Cranch. Renal sudah dibuat geram oleh Leon dipertemuan pertama mereka.

      Mereka tampak kesal diperlakukan seperti itu oleh Leon. Meski mereka sudah mengetahui identitas Leon, tapi mereka hanya mengetahui dasarnya. Mata mereka berempat hanya terpaku menatap Leon yang pergi tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

“Victor, bagaimana dengan bisnismu?” tanya Renal. Renal ketua dari Crew Cranch dan Victor ketua dari Crew Doghmo. “Jangan gegabah dalam bertindak karena hari masih pagi,” imbuhnya.

“Sedikit sepi. Setoran untuk Tuan berkurang bulan ini. Kau sendiri bagaimana?” tanya Victor.

“Sepertimu. Aku akan mencari lagi para gadis yang kabur dari rumah,” kata Renal.

“Kita harus melebarkan sayap lebih luas lagi,” seru Azo yang merupakan rekan Renal.

“Lebih baik kita temui Tuan untuk membicarakan hal ini,” kata Sofia.

“Dibandingkan itu, aku ingin menghancurkan wajah Leon yang sombong itu!” kata Renal.

“Lebih baik kita membagi tugas,” kata Sofia.

“Aku akan menemui Tuan, Renal akan pergi ke barat dan kau, Sofia... Carilah lagi orang yang ingin bekerja,” jelas Victor.

“Cukup adil,” kata Sofia.

“Sampai bertemu setelah tugas selanjutnya!”

Komen (1)
goodnovel comment avatar
S Rohmah
Delice,semiskin itu kah kau,sampai2 uang saja kau pinjam pada anakmu.. ............
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status