Share

4. TANTANGAN MENUJU GUNUNG MEILUING

Author: Mona Cim
last update Last Updated: 2025-11-15 05:58:36

Setelah melakukan latihan dasar kekuatan fisik untuk membangun pondasi awal, hari ini Zien Cheng akan diajarkan tahapan selanjutnya yakni pembelajaran tentang seseorang bagaimana merasakan, mengarahkan, dan menyimpan energi internal seseorang atau disebut juga dengan Qi.

Pagi-pagi sekali Zien Cheng pergi ke gunung Meiluing yang letaknya berkilo-kilo meter dari hutan terlarang yang ia tempati selama beberapa bulan ini. Zien Cheng sengaja memakai penutup kepala agar tak ada yang mengenalinya terutama anggota sekte yang telah membuangnya.

Saat di perjalanan menuju tempat yang dituju, ada saja rintangan yang muncul. Mulai dari munculnya dua ekor babi hutan yang ganas. Zien Cheng memang berhasil mengalahkan dua ekor babi hutan itu, tetapi tak lama kemudian muncul belasan ekor lagi dari arah belakang. Zien Cheng berteriak, mau tak mau ia berlari pontang-panting menghindari kejaran babi hutan itu.

"HH-haaahhh ... b-babi hutan s-sialan! Astaga kakiku--ini pegal sekali." Zien Cheng berjalan sambil menyeret kakinya ke sebuah aliran sungai untuk mengistirahatkan diri di sana.

Baru saja ia duduk dan membasuh wajahnya. Tiba-tiba telinganya seperti mendengar suara jejak kaki seseorang yang sontak membuatnya menoleh ke belakang dengan cepat.

Tiba-tiba sebuah anak panah melesat ke arahnya. Zien Cheng langsung menghindar. Anak pahah itu tertancap di tanah.

"Sial!" umpatnya seraya berlari menyeberani aliran sungai dengan cepat.

Zien Cheng berjalan dengan payah ketika sudah jauh dari tempatnya diserang tadi. Kini di hadapannya muncul empat orang pria dengan pakaian serba hitam. Bahkan wajah mereka tertutup kain hitam hingga menampilkan mata saja.

"Tolong jangan ganggu aku. Aku hanya seorang pengelana yang ingin lewat untuk menemui guruku," ucap Zien Cheng mencoba berbicara dengan ramah.

Empat pria dengan pakaian yang sama itu saling berpandangan satu sama lain dan mengangguk samar. Hingga akhirnya menyerang Zien Cheng secaar bersamaan. Mau tak mau Zien Cheng melawan mereka dengan pedangnya.

Kepanikan seorang Zien Cheng membuatnya sering terjatuh ke tanah. Beruntung ketangkasan tangannya lebih stabil. Hingga ia bisa menangkis serangan dari mereka dengan cepat.

"BERHENTI MENYERANGKU!"

Zien Cheng bangkit, lalu menatap mereka dengan saksama. Zien Cheng mencoba menenangkan dirinya sambil mengatur napasnya yang menggebu.

"Baiklah jika kalian ingin menyoba menguji kemampuanku. Akan aku buktikan bahwa aku selalu serius mempelajari apa yang aku lihat selama ini. HYAAAAAT!"

Sreng!

Sreng!

Suara pedang Zien Cheng terdengar begitu tajam ketika beradu dengan dua pedang sekaligus. Zien Cheng dengan kekuatan tangannya mengempaskan pedang mereka. Sontak saja, dua orang yang mengganggunya langsung pergi dari sana.

"Zien Cheng, ini saatnya kau menguji kemampuanmu. Selama ini kau tak diberikan kesempatan untuk bertarung dengan murid lain karena kau selalu dianggap remeh. Jadi sekarang waktunya kau menunjukkannya!" monolog Zien Cheng dengan semangat yang menggebu-gebu.

Suara pedang beradu terdengar lagi. Zien Cheng yang memang menguasai teknik dasar di dunia persilatan, tak sulit untuk mengeluarkan kemampuannya. Ditambah latihan selama tiga bulan dan latihan kekuatan fisik kemarin dengan Kakek Gong Lu. Kini Zien Cheng lebih percaya diri menyerang mereka bertiga.

SRENG!

Zien Cheng berhasil mengempaskan pedang terakhir dari pengganggu itu. Semuanya berlarian meninggalkan Zien Cheng, masuk lebih dalam hutan tersebut. Namun, tiba-tiba Zien Cheng dibuat tercengang dengan empat pedang tadi tiba-tiba memudar dan lenyap dari pandangan matanya.

"K-kemana perginya pedang-pedang itu?" Zien Cheng penasaran bukan main. Ia menelisik ke sekitar. Namun tak menemukan siapapun di sana. "Ini benar-benar sangat aneh," gumamnya.

Tak ingin larut dari pemikirannya tentang hal aneh tersebut, Zien Cheng pun melanjutkan perjalanannya menuju gunung Meiluing. Meski dengan langkah yang sedikit tertatih dan beberapa luka kecil di wajah dan tubuhnya.

Mendaki bukanlah hal yang mudah. Namun akhirnya dengan upaya yang sungguh-sungguh, Zien Cheng berhasil sampai di atas gunung tersebut. Di ujung gunung itu, terlihat Kakak Gong Lu sedang berbicara dengan empat pria berpakaian hitam yang menyerang Zien Cheng tadi. Bergegaslah Zien Cheng menghampiri mereka.

"Aku datang, Kakek Gong Lu."

Kakek Gong Lu menoleh ke arah Zien Cheng dengan senyuman lembut. "Kau memang gigih, Zien Cheng. Selamat untukmu karena berhasil sampai ke tempat ini dengan baik-baik saja."

"Apa maksud Kakek?" tanya Zien Cheng bingung. "Tapi tunggu dulu, mengapa orang-orang ini ada di sini?" tunjuk Zien Cheng pada mereka.

"Kau mengenal mereka?"

"Mereka adalah orang-oarng yang menyerangku, Kakek. Beruntungnya aku dapat mengalahkannya dengan kemampuanku berlatih selama tiga pulang di hutan terlarang itu."

Kakek Gong Lu tertawa kecil. "Inilah jawaban atas keluhanmu di depan pohonku waktu itu. Kau meremehkan kemampuanmu sendiri, padahal kau sudah mampu melakukan yang terbaik. Buktinya kau berhasil melewati semua rintangan yang aku berikan. Mulai dari babi hutan, pemanah, dan sekumpulan orang berpakaian hitam."

Barulah Zien Cheng paham. Jadi semua ini adalah ulah Kakek Gong Lu yang mencoba menguji kemampuannya.

"Jadi rintangan yang aku alami itu ..."

Kakek Gong Lu mengangguk. Tiba-tiba datang seorang pemanah dan satu ekor babi hutan. Zien Cheng langsung menghindarinya.

"Babi hutan ini adalah temanku, Zien Cheng. Dia telah mengajak teman-temannya untuk mengancam keselamatanmu. Lalu pemanah ini, dia bertindak atas dasar perintahku. Panahnya jika terkena kulitmu, tidak akan membuatmu terluka. Tapi kau dapat menghindar dengan baik. Lalu empat pria berpakaian hitam ini adalah aku," ungkap Kakek Gong Lu membuat Zien Cheng benar-benar tercengang.

"B-bagaimana, Kek?"

Tiba-tiba empat pria berpakaian hitam itu secara bersamaan membuka penutup wajahnya. Tampaklah wajah mereka yang sama persis seperti Kakek Gong Lu. Hanya saja rambut mereka masih hitam dan terlihat lebih muda. Secara mengejutkan lagi, mereka berempat berhimpun menjadi satu. Lalu masuk ke dalam tubuh Kakek Gong Lu. Rasanya, Zien Cheng hampir pingsan melihat kehebatan itu.

"J-jadi ... K-Kakek Gong Lu dapat membelah diri?"

Kakek Gong Lu kembali tertawa ringan. "Kau juga bisa melakukan hal ini jika sudah sampai pada levelmu. Untuk level pertama sudah kau lalui kemarin. Hari ini, aku akan mengajarimu level kedua. Yang mana jika kau berhasil dengan pembelajaran ini, kau dapat masuk ke dalam kumpulan orang terpilih. Lalu setelahnya, kau bisa mengikuti seleksi menuju ke perguruan yang lebih tinggi lagi yakni perguruan di Pulau Bunga Petir. Di sana kau akan mendapatkan petunjuk lebih besar lagi. Secara berangsur, letak kitab bela diri Pendekar Naga Hitam akan memanggilmu untuk mendapatkannya."

Zien Cheng melongo sambil sesekali berdecak kagum. "Berarti aku harus mendapatkan kitab Pendekar Naga Hitam itu?"

"Benar, Zien Cheng. Hanya dengan kitab Pendekar Naga Hitam itu kau mampu mengalahkan lulusan terbaik masing-masing sekte hingga kau berhasil menjadi pimpinan sekte terkuat dan terbesar di pulau Bunga Petir. Pada saat itulah kau pantas diberi gelar pendekar seperti Pendekar Naga Hitam. Ilmu yang akan kau warisi sekarang," tutur Kakek Gong Lu.

Zien Cheng mengangguk penuh semangat dan harapan baru. "Baiklah. Ajarkan aku semua ilmumu, Guru Gong Lu. Aku akan menerimanya meski harus berdarah-darah!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 39. KEMARAHAN MEI AN

    Suara erangan bersahutan di lapangan utama. Di mana para murid sedang menahan beban batu cukup besar di punggung mereka dengan menumpu tubuh mereka menggunakan kedua tangan kanan jari-jari kaki. Satu per satu murid menyerah. Hingga batu di punggung mereka terguling ke tanah.Zien Cheng yang dulunya menjadi yang terlemah, kini menjadi salah satu murid yang bertahan menahan beban di punggungnya.Senior Bo berjalan santai dengan kedua tangan di belakang tubuh sambil memperhatikan murid-murid yang kewalahan. Ia tertawa remeh melihat tangan bergetar Peng Hao."Jangan fokus pada rasa lelahmu. Jika kau menganggap batu di punggungmu berat, maka tubuhmu akan merespons hal yang sama. Kau akan lebih cepat lelah dan ingin menyerah," kata Senior Bo.Zien Cheng yang mendengar kata-kata Senior Bo, mengangguk paham. Apa yang dikatakan Senior Bo sama seperti yang dikatakan oleh Guru Gong padanya. Zien Cheng memejamkan matanya. Ia kembali mengalirkan energi Qi dengan sempurna, hingga mampu meringankan

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 38. SANDIWARA

    Zien Cheng baru saja kembali ke asrama ketika malam sudah larut setelah menghabiskan waktu latihan secara diam-diam di sungai yang sebelumnya ia datangi. Niatnya untuk ke kamar terhenti begitu melihat Tian Feng yang duduk menyendiri di luar kamarnya dengan raut wajah yang terlihat marah. Rasanya ingin Zien Cheng ingin menyapa, tetapi ia teringat bagaimana bencinya Tian Feng padanya. Hingga ia kembali ingin melewatinya saja."Kau tak melihat ada aku di sini?"Zien Cheng menoleh. "Ah, aku melihatmu. Tapi ... ada apa? Kau sendirian di luar kamar selarut ini?""Aku sedang bertengkar dengan dua makhluk keparat di dalam sana. Mereka benar-benar membuatku jengkel sehingga aku diusir oleh mereka. Aku keluar karena tak ingin harga diriku diinjak oleh mereka. Tapi ternyata udara malam dingin juga. Entah apakah aku bisa bertahan hingga esok atau tidak," tutur Tian Feng panjang lebar.Zien Cheng mengangguk paham. "Perlu aku berbicara dengan mereka? Sepertinya aku bisa membujuk mereka."Tian Feng

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 37. TEMAN BARU

    Zien Cheng sedang membersihkan dirinya di aliran air yang cukup deras. Tak jauh darinya ada Peng Hao yang mencoba ilmu menguatkan insting. Kemampuan Peng Hao memang di bawah Zien Cheng. Akan tetapi, kemampuan pemuda itu tak dapat diragukan. Meski ia hanya bisa menangkap sedikit demi sedikit ilmu yang sedang ia pelajari.Saat Zien Cheng memeras pakaiannya, ia menoleh ada suara-suara yang terdengar berdatangan ke arah mereka. Ternyata mereka adalah empat dari murid sekte Bunga Petir juga.Zien Cheng mencoba acuh. Ia tetap meneruskan kegiatannya menjemur pakaiannya di atas batu ketika panas sedang terik."Hei, Zien Cheng!" panggil seorang murid yang Zien Cheng tak tahu namanya. Perawakan pemuda itu berisi dan tanpa rambut kepala."Eng?" Zien Cheng menoleh adanya."Sejujurnya kami ini sudah lama penasaran denganmu. Kau seringkali dikatain murid buangan oleh tiga murid dari sekte Kongdang. Tetapi yang aku lihat, kemampuanmu bahkan kadang lebih unggul dari mereka. Apa kami boleh tahu kau be

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 36. KEMAMPUAN LUAR BIASA

    Semua murid sudah berkumpul di dekat tebing yang semalam mereka gunakan untuk berlatih. Kini saatnya mereka melakukan pengambilan nilai. Grandmaster dan Senior Bo menjadi penilai, sementara An Ran mengawasi para murid. Tak jauh dari mereka juga ada Mei An yang sedang duduk di samping kotak obatnya.Pengambilan nilai pun dimulai. Satu per satu murid menunjukkan kemampuannya. Tak sedikit yang jatuh hanya sekali pijakan ke tebing. Ada juga yang jatuh saat menginjak batu di tengah air, hingga yang mampu naik ke atas dengan susah payah. Murid yang cidera langsung dipapah menuju tempat yang sudah disediakan, di mana Mei An telah menunggu dengan obat-obatannya."Zien Cheng!"Namanya dipanggil. Zien Cheng melangkah menuju tempat awalan untuk pengambilan nilai. Seketika fokus semua murid tertuju padanya. Walau dicap murid buangan atau rendahan, tetapi secara tak langsung Zien Cheng menjadi murid yang paling diperhatikan kemampuannya. Ada yang mulai merasa khawatir akan kemampuannya yang semaki

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 35. TAK DIRESTUI

    Mei An meletakkan anak panah yang dibawa oleh Zien Cheng tadi malam di atas meja, tepat di hadapan ayahnya. Pimpinan Wang menatap anak panah itu dengan tatapan dingin, lalu melirik pada putrinya datar."Dari mana kau menemukan anak panah ini?""Aku mendapatkannya dari Zien Cheng yang terluka tadi malam.""Zien Cheng? Murid baru itu lagi-lagi mendapatkan serangan? Ke mana dia pergi?""Ayah, ke mana ia pergi itu bukan hal yang penting sekarang. Hal yang penting adalah mengapa penguntit itu hanya mengincar Zien Cheng? Padahal di sini banyak sekali murid baru. Bahkan aku yang seringkali menyelinap keluar untuk mengambil tanaman obat pun tak mendapati serangan seperti ini. Apa yang sebenarnya mereka incar dari Zien Cheng?"Pimpinan Wang tak langsung menjawab. Pria tua itu mengalihkan tatapannya ke arah jendela yang terbuka lebar. "Kau bertanya pada Ayah seakan-akan kau ingin menuntut sebuah pengakuan atau pertanggung jawaban, Mei An. Apakah pria itu sungguh sangat berarti bagimu?"Mei An l

  • Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam   BAB 34. PENGUNTIT DAN PEMANAH

    Guan Chen masuk ke kamar kamarnya. Ada Tian Feng dan Fang Xio yang sedang mengamati sketsa sebuah tebing yang di bawahnya terdapat aliran air. Persis seperti tempat latihan mereka sore tadi."Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Guan Chen seraya duduk di samping Fang Xio."Kami sedang membayangkan pengambilan nilai besok. Bagaimana pun juga, nilai keempat kita harus bagus. Aku sama sekali tak terima jikalau Zien Cheng mengalahkan kita bertiga. Oleh sebab itu, kita harus mengatur strategi," sahut Fang Xio.Guan Chen berdecih. "Kalian masih merasa takut dengan bocah itu?"Fang Xio sontak saja geram mendengarnya. "Kau terlalu meremehkan musuh, Guan Chen. Jangan tutup matamu. Kau masih ingat bukan bagaimana Zien Cheng berhasil mengambil pedang yang aku letakkan dengan susah payah pada pohon yang paling tinggi? Bagaimanapun juga, di Kongdang, hanya aku yang dapat memanjat setinggi itu. Zien Cheng tak akan dapat melakukannya. Tapi kau lihat sendiri bagaimana dia pulang membawa pedang itu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status