LOGIN"Dalam tubuhmu telah mengalir darah Pendekar Naga Hitam, sehingga kau telah memiliki kekuatan yang sangat menunjang pelatihan dasar. Mungkin murid biasa bisa mempelajarinya dalam waktu sebulan, tetapi kau dapat melakukannya hanya dengan waktu sehari saja. Inilah keistimewaanmu, Zien Cheng. Lakukanlah apa yang aku katakan dan fokus pada dirimu sendiri dengan memejamkan mata dan duduk dengan napas yang teratur," titah Kakek Gong Lu.
Di atas sebuah gunung yang tinggi, Zien Cheng duduk bersila sambil memejamkan matanya dan bernapas dengan teratur. Setiap perkataan Kakek Gong Lu ia praktikkan. Untuk mendapatkan energi Qi, ada beberapa tahapan yang harus ia lakukan. Zien Cheng dituntut untuk melakukan berbagai tahapan itu. Mulai dari tahapan awal permurnian Qi, pendirian dasar, hingga formasi inti.
Zien Cheng memfokuskan pikirannya ke dalam dantian. Merasakan halusnya energi Qi yang mulai bergerak lambat dan semakin melaju melalui saluran meridiannya. Pada momen inilah Zien Cheng dapat merasakan energi langit dan bumi sedang disaring dari kotoran hingga mencapai kemurnian Qi yang ia miliki. Semakin lama, energi Qi itu menjadi lebih berpondasi dan stabil dalam tubuhnya. Zien Cheng tersenyum penuh kelegaan.
'Apa yang aku rasakan ini? Aku pertama kalinya merasakan hawa yang sangat nyaman in. Seolah-olah tubuhku menjadi lebih ringan dan lapang sekali. Rasanya ada sesuatu yang mengalir dalam tubuhku, entah apa itu.' batin Zien Cheng.
Tahapan awal pemurnian Qi selesai, kini Zien Cheng beralih ke tahapan selanjutnya. Di mana ia diajarkan cara mengendalikan energi Qi dengan maksud untuk memadatkan energi Qi dalam tubuhnya. Tak Zien Cheng sangka, proses itu ternyata menyakitkan daripada proses pemurnian.
"Ugghh ... k-kakek ...." Zien Cheng terus berusaha untuk menguatkan diri. Meski proses itu menyakitkan, tetapi inilah proses terpenting. Zien Cheng mengigat dengan jelas bagaimana Kakek Gong Lu berkata sebelumnya. 'Pada proses ini, kau akan merasakan sakit. Tetapi proses ini harus kau lewati demi memadatkan energi Qi dalam tubuhmu.'
Berjam-jam Zien Cheng bertahan dalam kesakitan, akhirnya proses itu selesai. Dirinya berhasil membuat energi Qi dalam tubuhnya lebih padat, stabil, dan mampu dikendalikan oleh Zien Cheng sendiri.
Kakek Gong Lu yang duduk di atas sebuah batu pun tersenyum miring melihat Zien Cheng yang kegirangan belajar mengendalikan energi itu. Sepertinya bagian yang paling Zien Cheng sukai adalah ketika energi Qi itu mengalir dari dantiannya menuju meridian.
"Jangan senang dulu. Kau masih perlu belajar satu tahapan lagi, Zien Cheng. Jika kau telah berhasil, maka aku akan mengajakmu berlatih beberapa teknik beladiri yang aku kuasai. Lalu kau akan aku antar ke sebuah sekte yang mampu membawamu ke pulau Bunga Petir itu," ujar Kakek Gong Lu.
Zien Cheng mengangguk semangat. "Kalau begitu, ayo kita lakukan tahap selanjutnya, Kek!"
Sejak berkobarnya semangat belajar itu di hati Zien Cheng, ia berlatih tanpa kenal lelah. Mulai dari belajar pembentukan energi inti hingga beberapa jurus ilmu bela diri yang dikuasai oleh Kakek Gong Lu. Sesuai apa kata sang guru, Zien Cheng sangat cepat mempelajarinya. Satu bulan penuh di atas Gunung Meiluing, Zien Cheng telah menunjukkan bakat bela diri yang mumpuni.
"Hyaaaaa!" Zien Cheng berteriak sambil menebaskan pedangnya ke udara. Disaksikan oleh langit senja dan Kakek Gong Lu, Zien Cheng mengeluarkan semua jurus yang ia miliki dengan sangat lihai. Tak ada lagi keraguan dalam setiap pergerakannya. Semuanya terlihat nyaris sempurna.
Hingga saat Zien Cheng menyudahi pertunjukkan bela dirinya, Kakek Gong Lu pun menyuarakan keputusannya. "Besok kita akan berangkat menuju sekte Tapak Naga Merah."
***
Ada sekitar sembilan sekte yang dapat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi di Pulau Bunga Petir. Dari masing-masing sekte, dipilih tiga perwakilan yang akan di kirim ke pulau tersebut. Hingga total keseluruhan yang akan berangkat ke Pulau Bunga Petir berjumlah 27 orang. Namun, tiba-tiba Sekte Tapak Naga Merah kedatangan tamu istimewa sehingga pimpinan sekte mengumumkannya pada 27 orang tersebut.
"Jumlah orang yang dikirim ke Pulau Bunga Petir memang ada dua puluh tujuh orang. Tetapi ada satu murid tambahan lagi yang dibawa langsung oleh guru dari Pendekar terdahulu yang sangat kuat," ucap pimpinan Sekte Tapak Naga Merah.
Seketika semua murid langsung berbisik satu sama lain. Mereka sangat penasaran tentang siapa murid spesial itu. Hingga akhirnya, gerbang pun terbuka. Zien Cheng melangkah masuk ke area perkumpulan bersama dengan Guru Gong Lu yang memakai penutup wajah dan tudung kepala hingga tak ada yang bisa melihatnya.
Pimpinan sekte Tapak Naga Merah langsung memberikan hormat yang dalam pada Guru Gong Lu. Sontak petinggi sekte juga ikut tunduk. Entah apa yang dibisikan oleh Guru Gong Lu pada ketua sekte Tapak Naga Merah. Guru Gong Lu melangkah pergi setelah menyudahi pembicaraannya. Meninggalkan Zien Cheng di sana yang mendadak cemas dengan keadaan sekitarnya.
"Perkenalkan aku Zien Cheng. Murid dari Guru Gong Lu dari sekte Naga Hitam. Senang bertemu dengan kalian. Aku harap kita bisa saling mengenal satu sama lain nantinya," ucap Zien Cheng memperkenalkan diri.
Dari dua puluh tujuh murid yang ada di sana, ada tiga murid yang menyita perhatian Zien Cheng. Tiga murid yang menatapnya dengan tatapan tak percaya. Merekalah yang dua membuang Zien Cheng ke jurang.
'Kalian tega membuangku ke jurang setelah memberikan penyiksaan yang pedih padaku. Aku bersumpah akan membuat kalian bertiga tunduk padaku. Tak ada tempat bagi kalian di sekte Pulau Bunga Petir. Akan aku pastikan posisi kalian jauh di bawahku,' batin Zien Cheng.
Akhirnya mereka semua digiring ke sebuah dermaga. Mereka menaiki sebuah kapal besar untuk menyeberang menuju Pulau Bunga Petir yang amat mereka dambakan. Sepanjang perjalanan Zien Cheng habiskan untuk meditasi sederhana di ujung kapal. Namun, ketenangannya terusik ketika suara beberapa orang di belakangnya teramat mengganggu.
"Seseorang merasa sangat sombong setelah menjadi anggota spesial untuk ikut berangkat ke Pulau Bunga Perak. Padahal tak ada yang perlu disombongkan dengan posisi itu."
"Kau benar. Tapi menurutku dia tak pantas disebut anggota spesial. Dia lebih pantas disebut anggota cadangan saja. Hanya belajar beberapa bulan saja, tidak akan membuat seseorang dapat melampaui kemampuan kita."
"Murid buangan sepertinya mana bisa menjadi seorang pendekar. Jangankan menjadi seorang pendekar, dia bahkan tak pantas menyebut dirinya bagian dari sebuah sekte."
Zien Cheng yang awalnya menutup matanya sambil mendengarkan ujaran mereka, kini perlahan membuka matanya. Ia tatap mereka bertiga dengan tatapan yang datar, lalu terkekeh sinis.
"Berpendapatlah sepuas kalian, selagi itu mampu kalian lakukan. Tapi aku pastikan, kalian bertiga tak akan mampu melampauiku suatu saat nanti. Kesakitan, ketidakadilan, dan segala keburukan yang kalian lakukan padaku di masa lalu akan menjadi kutukan bagi kalian suatu saat nanti. Aku akan pastikan kalian tunduk di bawah kakiku!" tegas Zien Cheng
Suara erangan bersahutan di lapangan utama. Di mana para murid sedang menahan beban batu cukup besar di punggung mereka dengan menumpu tubuh mereka menggunakan kedua tangan kanan jari-jari kaki. Satu per satu murid menyerah. Hingga batu di punggung mereka terguling ke tanah.Zien Cheng yang dulunya menjadi yang terlemah, kini menjadi salah satu murid yang bertahan menahan beban di punggungnya.Senior Bo berjalan santai dengan kedua tangan di belakang tubuh sambil memperhatikan murid-murid yang kewalahan. Ia tertawa remeh melihat tangan bergetar Peng Hao."Jangan fokus pada rasa lelahmu. Jika kau menganggap batu di punggungmu berat, maka tubuhmu akan merespons hal yang sama. Kau akan lebih cepat lelah dan ingin menyerah," kata Senior Bo.Zien Cheng yang mendengar kata-kata Senior Bo, mengangguk paham. Apa yang dikatakan Senior Bo sama seperti yang dikatakan oleh Guru Gong padanya. Zien Cheng memejamkan matanya. Ia kembali mengalirkan energi Qi dengan sempurna, hingga mampu meringankan
Zien Cheng baru saja kembali ke asrama ketika malam sudah larut setelah menghabiskan waktu latihan secara diam-diam di sungai yang sebelumnya ia datangi. Niatnya untuk ke kamar terhenti begitu melihat Tian Feng yang duduk menyendiri di luar kamarnya dengan raut wajah yang terlihat marah. Rasanya ingin Zien Cheng ingin menyapa, tetapi ia teringat bagaimana bencinya Tian Feng padanya. Hingga ia kembali ingin melewatinya saja."Kau tak melihat ada aku di sini?"Zien Cheng menoleh. "Ah, aku melihatmu. Tapi ... ada apa? Kau sendirian di luar kamar selarut ini?""Aku sedang bertengkar dengan dua makhluk keparat di dalam sana. Mereka benar-benar membuatku jengkel sehingga aku diusir oleh mereka. Aku keluar karena tak ingin harga diriku diinjak oleh mereka. Tapi ternyata udara malam dingin juga. Entah apakah aku bisa bertahan hingga esok atau tidak," tutur Tian Feng panjang lebar.Zien Cheng mengangguk paham. "Perlu aku berbicara dengan mereka? Sepertinya aku bisa membujuk mereka."Tian Feng
Zien Cheng sedang membersihkan dirinya di aliran air yang cukup deras. Tak jauh darinya ada Peng Hao yang mencoba ilmu menguatkan insting. Kemampuan Peng Hao memang di bawah Zien Cheng. Akan tetapi, kemampuan pemuda itu tak dapat diragukan. Meski ia hanya bisa menangkap sedikit demi sedikit ilmu yang sedang ia pelajari.Saat Zien Cheng memeras pakaiannya, ia menoleh ada suara-suara yang terdengar berdatangan ke arah mereka. Ternyata mereka adalah empat dari murid sekte Bunga Petir juga.Zien Cheng mencoba acuh. Ia tetap meneruskan kegiatannya menjemur pakaiannya di atas batu ketika panas sedang terik."Hei, Zien Cheng!" panggil seorang murid yang Zien Cheng tak tahu namanya. Perawakan pemuda itu berisi dan tanpa rambut kepala."Eng?" Zien Cheng menoleh adanya."Sejujurnya kami ini sudah lama penasaran denganmu. Kau seringkali dikatain murid buangan oleh tiga murid dari sekte Kongdang. Tetapi yang aku lihat, kemampuanmu bahkan kadang lebih unggul dari mereka. Apa kami boleh tahu kau be
Semua murid sudah berkumpul di dekat tebing yang semalam mereka gunakan untuk berlatih. Kini saatnya mereka melakukan pengambilan nilai. Grandmaster dan Senior Bo menjadi penilai, sementara An Ran mengawasi para murid. Tak jauh dari mereka juga ada Mei An yang sedang duduk di samping kotak obatnya.Pengambilan nilai pun dimulai. Satu per satu murid menunjukkan kemampuannya. Tak sedikit yang jatuh hanya sekali pijakan ke tebing. Ada juga yang jatuh saat menginjak batu di tengah air, hingga yang mampu naik ke atas dengan susah payah. Murid yang cidera langsung dipapah menuju tempat yang sudah disediakan, di mana Mei An telah menunggu dengan obat-obatannya."Zien Cheng!"Namanya dipanggil. Zien Cheng melangkah menuju tempat awalan untuk pengambilan nilai. Seketika fokus semua murid tertuju padanya. Walau dicap murid buangan atau rendahan, tetapi secara tak langsung Zien Cheng menjadi murid yang paling diperhatikan kemampuannya. Ada yang mulai merasa khawatir akan kemampuannya yang semaki
Mei An meletakkan anak panah yang dibawa oleh Zien Cheng tadi malam di atas meja, tepat di hadapan ayahnya. Pimpinan Wang menatap anak panah itu dengan tatapan dingin, lalu melirik pada putrinya datar."Dari mana kau menemukan anak panah ini?""Aku mendapatkannya dari Zien Cheng yang terluka tadi malam.""Zien Cheng? Murid baru itu lagi-lagi mendapatkan serangan? Ke mana dia pergi?""Ayah, ke mana ia pergi itu bukan hal yang penting sekarang. Hal yang penting adalah mengapa penguntit itu hanya mengincar Zien Cheng? Padahal di sini banyak sekali murid baru. Bahkan aku yang seringkali menyelinap keluar untuk mengambil tanaman obat pun tak mendapati serangan seperti ini. Apa yang sebenarnya mereka incar dari Zien Cheng?"Pimpinan Wang tak langsung menjawab. Pria tua itu mengalihkan tatapannya ke arah jendela yang terbuka lebar. "Kau bertanya pada Ayah seakan-akan kau ingin menuntut sebuah pengakuan atau pertanggung jawaban, Mei An. Apakah pria itu sungguh sangat berarti bagimu?"Mei An l
Guan Chen masuk ke kamar kamarnya. Ada Tian Feng dan Fang Xio yang sedang mengamati sketsa sebuah tebing yang di bawahnya terdapat aliran air. Persis seperti tempat latihan mereka sore tadi."Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Guan Chen seraya duduk di samping Fang Xio."Kami sedang membayangkan pengambilan nilai besok. Bagaimana pun juga, nilai keempat kita harus bagus. Aku sama sekali tak terima jikalau Zien Cheng mengalahkan kita bertiga. Oleh sebab itu, kita harus mengatur strategi," sahut Fang Xio.Guan Chen berdecih. "Kalian masih merasa takut dengan bocah itu?"Fang Xio sontak saja geram mendengarnya. "Kau terlalu meremehkan musuh, Guan Chen. Jangan tutup matamu. Kau masih ingat bukan bagaimana Zien Cheng berhasil mengambil pedang yang aku letakkan dengan susah payah pada pohon yang paling tinggi? Bagaimanapun juga, di Kongdang, hanya aku yang dapat memanjat setinggi itu. Zien Cheng tak akan dapat melakukannya. Tapi kau lihat sendiri bagaimana dia pulang membawa pedang itu.







