Share

Bab 3

Author: Wel
Meskipun tidak mengerti ilmu pengobatan, Eila tahu bahwa setelah tubuh mengalami kerusakan parah, seseorang tidak boleh langsung mengonsumsi tonik yang terlalu kuat. Tubuh yang masih lemah tidak akan mampu menerimanya, malah bisa memperparah kondisinya.

Baru saja hendak berbicara, Arga sudah lebih dulu melanjutkan ucapannya.

"Dua hari lagi Festival Bunga akan tiba. Menurut tradisi di sini, gadis yang telah mencapai usia dewasa harus naik ke gunung sebelum festival untuk bersembahyang, membakar dupa, dan memanjatkan doa. Di kuil hanya perempuan yang boleh masuk, laki-laki tidak boleh mendampingi."

Arga berhenti sejenak, lalu menatap Eila.

"Tahun ini Keira sudah mencapai usia dewasa, jadi dia harus menjalani tradisi itu. Aku tidak bisa menemaninya. Eila, kamu adalah kakak iparnya. Dua hari lagi, bisakah kamu menemaninya ke sana?"

Eila terdiam.

Dia menunduk menatap semangkuk sup obat di atas meja yang masih mengepulkan uap.

Jadi begitu.

Bukan karena Arga mengkhawatirkan tubuhnya yang lemah, melainkan takut tubuhnya yang sudah rapuh tidak sanggup mendaki gunung dan akhirnya mengganggu upacara sembahyang serta doa adik kesayangannya.

Eila memejamkan mata. Ada sesak yang sulit dijelaskan memenuhi dadanya.

"Baik."

"Aku mengerti. Besok aku akan menemaninya."

Arga mengembuskan napas lega. Senyum pun muncul di wajahnya.

"Malam di gunung dingin. Akan kusuruh orang menyiapkan pakaian yang lebih tebal untukmu."

Setelah memberi beberapa pesan lagi, Arga pun berbalik dan pergi.

Eila memandangi semangkuk sup obat itu cukup lama, lalu mengulurkan tangan dan mendorongnya ke sudut meja.

Pagi-pagi sekali pada hari upacara sembahyang, kereta kuda sudah menunggu di depan gerbang.

Keira berdiri di depan kereta, sementara Arga sedang mengikatkan tali jubah hangatnya.

"Angin di gunung kencang. Jangan sampai kedinginan."

Setelah memastikan talinya terikat, Arga mengeluarkan sebuah penghangat tangan dari balik lengan bajunya dan menyelipkannya ke tangan Keira. "Bawa ini. Biar tanganmu tetap hangat di perjalanan."

Keira tersenyum tipis. "Kakak terlalu berlebihan."

"Aku cuma punya satu adik perempuan. Mana mungkin aku tidak berhati-hati."

Arga menepuk pelan bahunya, lalu menoleh ke arah Eila yang baru datang dan mengangguk.

"Hati-hati di jalan."

Eila tidak menjawab. Dia langsung membungkuk dan naik ke dalam kereta.

Melihatnya naik, Keira hanya mendengus dingin tanpa berkata apa-apa.

Dulu, Eila selalu mengira Arga terlalu memanjakannya hingga mengabaikan adik perempuannya. Karena itulah Keira tidak menyukainya.

Jadi, setiap kali bertemu, Eila selalu berusaha mencari bahan pembicaraan demi menyenangkan hati adik iparnya itu.

Sekarang, dia mengerti.

Keira membencinya hanya karena Raka pernah menyukainya.

Eila bersandar pada dinding kereta dan memejamkan mata.

Dia tidak lagi menghampiri Keira untuk mengajaknya mengobrol seperti dulu, juga tidak berusaha mencairkan suasana.

Dia sudah tidak ingin bersusah payah lagi.

Matahari hampir terbenam saat mereka akhirnya tiba di puncak gunung.

Keira langsung turun dari kereta dan bergegas masuk ke kuil. Eila mengikutinya, tetapi baru beberapa langkah berjalan, kedua kakinya sudah terasa berat.

Tubuhnya memang belum pulih, ditambah seharian terguncang di dalam kereta. Kini, seluruh badannya terasa pegal dan nyeri.

Eila benar-benar tidak ingin masuk dan menghirup aroma dupa, jadi dia memilih berhenti di luar kuil.

Di hadapannya berdiri sebatang pohon besar yang rimbun.

Dahan-dahannya dipenuhi pita merah berisi doa yang bergoyang pelan tertiup angin.

Itu adalah pohon jodoh yang paling dipercaya masyarakat setempat.

Awalnya, Eila hanya melirik sekilas, tetapi tatapannya tiba-tiba terpaku.

Seluruh pohon dipenuhi doa-doa cinta dari para pasangan, tetapi di dahan paling tinggi tergantung selembar pita yang berbeda dari yang lain.

Bukan pita merah biasa, melainkan kain sutra merah bersulam benang emas.

Dulu, Arga pernah membimbingnya belajar menulis dengan sabar. Setiap goresan demi goresan masih diingatnya dengan jelas.

Karena itu, Eila langsung mengenali bahwa tulisan pada pita doa itu adalah tulisan tangan Arga.

Di sana tidak tertulis nama siapa pun, hanya sebaris bait puisi.

[Semoga aku laksana bintang dan engkau laksana rembulan, bercahaya untuk Keira di setiap malam yang terang.]

Di antara ribuan pita doa para pasangan, hanya satu yang dia ikatkan untuk adiknya.

Eila menatap tulisan itu lama, lalu memejamkan mata.

Baru saja dia hendak mengalihkan pandangan, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari belakang.

"Kebakaran!"

"Kuil terbakar!"

Eila sontak menoleh.

Asap hitam mengepul dari dalam kuil, sementara kobaran api menjulang tinggi.

Eila segera berbalik dan berlari menuruni gunung, berniat meminta bantuan penduduk desa di lereng gunung.

Namun, baru beberapa langkah berlari, terdengar jeritan melengking dari belakang. Dia menghentikan langkahnya dan menoleh.

Kemudian, dia melihat Keira.

Awalnya, Keira sudah hampir mencapai pintu kuil, tetapi entah tersandung apa, tubuhnya terjatuh keras ke tanah.

Pada saat yang sama, sebuah tiang penyangga roboh dan menimpa betisnya.

"Kakak ipar! Kakak ipar, tolong aku!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 20

    Pemandangan di wilayah barat laut benar-benar berbeda dengan wilayah barat daya.Musim dingin di sini datang lebih awal. Memasuki bulan Oktober, salju sudah mulai turun.Di luar tenda, suara angin menderu lirih. Arga duduk di depan meja, memegang sepucuk surat resmi. Dia telah membacanya cukup lama, tetapi tidak satu kata pun yang benar-benar masuk ke pikirannya.Dia meletakkan surat itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya.Itu tusuk rambut perak.Bunga kacapiring di kepala tusuk rambut itu sudah sedikit aus. Kilau di bagian tepinya telah menjadi kusam karena berulang kali disentuh.Setiap hari, Arga akan mengeluarkannya dan memandanginya sekali, lalu menyimpannya kembali di dekat dadanya.Seorang pengawal pribadi masuk untuk menambahkan arang. Ketika melihat tusuk rambut di tangan Arga, dia tidak berani bertanya banyak. Pengawal itu menundukkan kepala dan segera keluar.Semua orang di kemah militer tahu bahwa sang jenderal menyimpan seseorang di dalam hatinya. Orang itu t

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 19

    Dia tidak membawa payung. Seluruh tubuhnya basah kuyup, pakaian hitamnya melekat di tubuh, membuatnya tampak seperti patung batu yang diguyur hujan.Dia adalah Arga.Tampaknya, dia terlalu banyak minum arak. Di balik tirai hujan, tatapannya terkunci pada Eila, matanya memerah.Arga melangkah maju dan berhenti, seolah takut jika dia mendekat, Eila akan terbang menjauh seperti burung yang terkejut."Eila." Suaranya serak. "Bisakah kamu ... menoleh dan melihatku sekali saja?"Eila berdiri di dalam ambang pintu, memandangnya dari balik tirai hujan.Eila mengambil sebuah payung dan berjalan ke tengah hujan, lalu menyerahkan gagang payung itu ke tangannya."Arga, aku tidak membencimu lagi. Tapi aku juga tidak akan mencintaimu lagi. Pulanglah."Arga menggenggam payung itu hingga buku-buku jarinya memutih. Air hujan terus menetes dari rahangnya.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengatakan apa-apa. Setelah sekian lama, barulah Arga berhasil mengucapkan sebuah kalimat."Aku tahu Yang Mulia

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 18

    Arga menyeringai tipis, lalu duduk di hadapannya. Dia menuang secangkir arak untuk dirinya sendiri, tetapi tidak meminumnya. Arga hanya memutarnya di tangan."Yang Mulia Pangeran Ketiga belakangan ini sibuk dengan berbagai urusan, tetapi masih sempat mengadakan jamuan di sini. Justru Andalah yang benar-benar punya waktu luang."Dia berhenti sejenak, lalu pandangannya samar-samar menyapu ke arah Eila."Terlebih lagi, belakangan ini Yang Mulia cukup dekat dengan istri saya. Saya ingin tahu, apa maksud Yang Mulia?""Istrimu?"Dimas meletakkan cangkir araknya. Nada suaranya tenang dan tidak tergesa, tetapi setiap katanya terdengar jelas."Jenderal Arga tampaknya salah ingat. Nona Eila belum menikah. Dari mana muncul sebutan istrimu?"Wajah Arga sedikit berubah.Saat dia hendak membuka mulut, Raka yang berada di sampingnya tiba-tiba berkata dengan tenang."Pernikahan Eila dan Arga memang belum pernah disahkan. Yang Mulia tidak perlu marah."Kata-kata itu terdengar seperti hendak mendamaikan

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 17

    Suaranya sangat serak, seolah setiap kata dipaksakan keluar dari tenggorokannya."Eila, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu."Eila tidak menjawab."Bukan karena ingin memanfaatkanmu, bukan pula untuk memperdayamu."Arga mengangkat pandangannya, sudut matanya memerah."Sungguh."Arga mulai bercerita. Dia mengatakan bahwa pada awalnya dirinya mendekati Eila memang karena Keira.Kemudian, tanpa sadar, dia mulai menaruh hati, tetapi tidak berani mengakuinya.Arga takut di dalam hati Eila masih ada Raka, sehingga dia menyetujui keputusan untuk mengurung Eila di aula leluhur.Arga mengatakan dirinya tidak dapat menemukan Eila, sementara Raka tidak bersedia meramalkan keberadaan Eila untuknya. Dia pun mengutus orang untuk mengawasi Raka. Dari situlah dia mengetahui bahwa Eila telah pergi ke ibu kota, sehingga dirinya mengajukan permohonan ke istana untuk diperbolehkan kembali lebih awal.Menjelang akhir, suaranya mulai bergetar. "Aku tahu sekarang sudah terlambat untuk mengatakan semua ini.

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 16

    Raka berdiri di tempatnya, memandangi wajah tenang Eila, dan merasa tenggorokannya tercekat.Dia membuka mulut, suaranya terdengar kering."Aku tidak pergi mengambil lenteramu hari itu." Raka menundukkan pandangannya, suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar. "Aku menyesal. Selama lebih dari setahun ini, setiap hari aku menyesal.""Aku tahu kamu baik-baik saja. Seharusnya aku tidak datang mengganggumu lagi. Tapi, makin lama waktu berlalu, makin kusadari bahwa aku tidak bisa melupakanmu. Aku tahu kamu datang ke ibu kota. Aku berpikir ... aku hanya ingin melihatmu sekali."Raka mengangkat pandangannya. Matanya memerah. "Eila, bisakah kamu memaafkanku?"Eila menatapnya sejenak."Raka, aku tidak pernah menyalahkanmu karena kamu jatuh cinta pada Keira dan tidak datang mengambil lenteraku.""Urusan perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku mengerti."Secercah cahaya melintas di mata Raka."Tapi, kalau yang kamu maksud dengan memaafkan adalah ketika demi Keira, kamu memberiku cap sebagai

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 15

    Eila membuka mulut, tetapi untuk sesaat tidak tahu harus berkata apa.Dia terdiam cukup lama sebelum berbalik dan menatap Dimas.Pria itu berdiri di sisi meja toko. Dia tidak mendesak, hanya menunggu dengan tenang.Matanya memancarkan senyum yang tulus dan terbuka, jernih tanpa sedikit pun kesan menggoda atau menyimpan maksud tersembunyi.Eila menundukkan pandangannya, lalu mengangkatnya kembali."Baik."Mereka berdua pergi ke utara bersama, dan Dimas juga menepati janjinya.Dia memperkenalkan Eila ke beberapa pengurus bagian pengadaan dari kediaman para bangsawan, lalu menjadi penghubung agar Eila bisa berbicara dengan kasim yang bertugas di Biro Urusan Dalam Istana.Toko rempah Eila yang awalnya hanya sebuah toko kecil, kini telah berkembang menjadi toko ternama yang dikenal di tiga kawasan.Salah satu campuran dupa yang dia kembangkan dipilih menjadi salah satu barang upeti untuk istana karena aromanya lembut dan tahan lama.Eila tidak lagi menjadi perempuan yang harus bergantung pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status