Share

Bab 3

Author: Charleet
Virly menoleh mengikuti suara itu dan melihat Erica berdiri di ujung tangga. Di sampingnya, Niel merangkul bahunya dan menjelaskan dengan santai, "Ini barang-barang Erica."

"Dia baru selesai operasi dan tubuhnya masih lemah. Aku nggak tenang membiarkannya tinggal sendirian, jadi aku bawa dia ke sini."

Virly terdiam, lalu berbalik kembali ke kamar. Dia mengambil ponselnya dan menelepon Gwen.

Setelah telepon tersambung, Virly memberitahunya bahwa Erica sudah pindah ke rumah mereka.

Mendengar hal itu, Gwen begitu marah hingga memaki melalui telepon selama sepuluh menit penuh.

Setelah Gwen berhenti untuk menarik napas, Virly baru berkata, "Gwen, aku akan cerai."

"Aku sudah lolos wawancara di Qisara. Enam belas hari lagi, setelah mendapatkan akta cerai, aku akan pergi ke Paris."

Gwen bertanya dengan hati-hati, "Niel tahu?"

"Nggak." Virly tersenyum. "Dia juga nggak perlu tahu."

Di seberang telepon, Gwen mengembuskan napas panjang. "Virly, apa pun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu."

Dia mendengus pelan. "Dulu kamu begitu hebat. Koleksi perhiasan yang kamu desain bahkan pernah dilirik oleh perusahaan Prancis. Tapi demi Niel, kamu memilih untuk tetap tinggal. Aku nggak menghentikanmu karena waktu itu kukira dia memang layak untukmu. Sekarang, kalau kamu mau bercerai atau memulai kembali hidupmu, aku akan selalu berada di pihakmu."

Jari-jari Virly yang menggenggam ponsel sedikit mengerat. Dia tidak melupakannya. Dulu, karya desainnya pernah dilirik sebuah merek perhiasan Prancis dan mereka bahkan mengirimkan tawaran pekerjaan kepadanya.

Namun, ketika dia memberi tahu Niel tentang hal itu, Niel justru berkata, "Virly, Prancis terlalu jauh. Aku nggak rela berpisah denganmu."

"Aku punya karier yang mapan. Setelah kita menikah, aku akan menafkahimu. Kamu bisa tinggal di rumah dan membuat desain yang kamu sukai."

Virly ragu sangat lama, tetapi pada akhirnya hatinya luluh. Dia menghapus email balasan itu, lalu berkata sambil tersenyum, "Oke, aku nggak akan pergi. Aku akan menemanimu."

Namun, semua pengorbanan yang dia lakukan dengan tulus itu hanya berujung pada sebuah kebohongan.

Sejak saat itu, Virly mencurahkan seluruh energinya pada desain. Setiap hari, dia duduk di depan meja gambar, menyempurnakan karya, dan memperhalus setiap rancangan.

Setelah kondisi Erica pulih, Niel mengumumkan bahwa dia akan mengadakan pesta perayaan untuknya.

Pada pesta makan malam itu, vila Keluarga Thajeb dipenuhi cahaya dan para tamu berdatangan. Sepanjang acara, Niel terus berada di sisi Erica. Dia merapikan rambut-rambut halus di pelipis Erica dan menggantikannya bersulang. Rasa sayang yang terpancar dari matanya sama sekali tidak disembunyikan.

Tatapan para tamu berulang kali berpindah antara Virly dan Erica. Semuanya dipenuhi rasa ingin tahu.

Namun, Virly selalu mempertahankan senyum yang pantas, seolah semua yang terjadi di depan mata tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Sampai ketika dia melihat bros yang dikenakan Erica, senyum di wajahnya seketika membeku. Itu adalah bros pemberian ibu angkatnya.

Dia masih ingat ketika dulu berhasil masuk ke SMA terbaik di daerahnya. Ibu angkatnya menunjukkan bros itu dan berkata.

"Virly, ini diberikan nenekmu ke Ibu saat Ibu menikah dulu. Pakailah. Anggap saja Ibu menemanimu bersekolah."

Setelah ibu angkatnya meninggal, bros itu menjadi salah satu dari sedikit kenangan yang masih dimilikinya.

Saat mereka masih berpacaran, dia pernah memperlihatkannya kepada Niel. Niel mengamatinya dengan hati-hati cukup lama, lalu berkata, "Ini adalah kenangan paling berharga antara kamu dan ibumu. Nanti aku akan membantu menyimpankannya."

"Saat kita menikah nanti, pakailah bros ini. Dengan begitu, ibumu akan tahu kamu sudah menikah dengan seseorang yang bisa menjagamu dengan baik."

Setelah menikah, Virly menyimpannya di laci paling dalam meja rias kamar utama. Jadi, bagaimana mungkin bros itu bisa berada di tubuh Erica sekarang?

Virly melihat Erica berdiri dan berjalan menuju kamar kecil, lalu mengikutinya.

Setelah mendorong pintu kamar kecil, Virly langsung bertanya, "Dari mana kamu dapat bros itu?"

Erica sedang memoleskan lipstik. Mendengar pertanyaan itu, sudut bibirnya melengkung. "Oh, yang ini? Niel yang kasih."

"Awalnya dia menganggap bros ini terlalu tua dan nggak pantas aku pakai. Tapi karena dia melihat aku benar-benar menyukainya, dia menyuruh orang memolesnya kembali."

Erica mengangkat tangan dan mengusap bros itu. "Kamu nggak keberatan, 'kan? Lagian, kamu punya begitu banyak perhiasan. Aku hanya ingin yang satu ini saja kok."

Virly mengulurkan tangan hendak merebutnya, tetapi sebelum sempat menyentuh bros itu, Erica sudah berbalik menghindar.

"Berikan padaku!"

Erica melepas bros itu, lalu tersenyum penuh provokasi. "Boleh. Tapi kamu harus berlutut dan bersujud dulu padaku, lalu bersumpah nggak akan merebut Niel dariku lagi. Setelah itu, akan kukembalikan ke kamu."

Amarah Virly hampir menembus batas kewarasannya. Dia hendak merebutnya lagi, tetapi Erica tiba-tiba menghapus senyum dari wajahnya dan melonggarkan jarinya.

Bros itu meluncur dari telapak tangannya dan jatuh menghantam lantai marmer. Mutiara di atasnya retak, sementara dudukan peraknya penyok akibat benturan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 20

    Pada hari Virly menyerahkan draf final untuk seri terbaru desainnya yang berjudul "Kelahiran Kembali", salju pertama sejak awal musim dingin turun di Paris.Malam itu, Louie memesan sebuah restoran Prancis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Virly bisa bersantai dan minum cukup banyak anggur.Saat keluar dari restoran, langkahnya sedikit limbung, tubuhnya terhuyung. Louie pun mengulurkan tangan untuk merangkul pinggangnya. Nadanya terdengar pasrah sekaligus penuh perhatian. "Pelan-pelan, jangan sampai jatuh."Virly menatap Louie dengan tatapan kosong, lalu tiba-tiba bertanya, "Louie, kenapa kamu begitu baik padaku?"Louie tidak langsung menjawab. Dia melepas mantel yang dikenakannya, menyampirkannya ke bahu Virly, lalu membantu merapikan kerahnya."Pertama kali aku melihat portofoliomu, aku langsung berpikir, orang ini pasti menyimpan banyak hal yang nggak bisa diungkapkan.""Lalu ketika melihatmu di kantor, meski kamu tersenyum dan menyapaku, matamu justru dipenuhi jarak. Seja

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 19

    Pada minggu pertama setelah Niel kembali ke tanah air, dia mengurung diri di kantor dan menyelesaikan tumpukan dokumen yang telah tertunda selama hampir sebulan.Pada minggu kedua, dia mulai mengalami insomnia. Setiap malam dia berbaring di ranjang besar di kamar utama. Sisi di sebelahnya kosong. Dia terus membolak-balikkan badan karena tidak bisa tidur.Belakangan, dia bahkan tidak tidur sama sekali. Dia pergi ke ruang kerja, menyalakan komputer, lalu menelusuri berbagai proyek tanggung jawab sosial perusahaan.Dulu, dia menganggap semua itu hanya pencitraan. Cukup mengambil foto, masuk berita, lalu selesai. Namun sekarang, dia membacanya halaman demi halaman.Dia membaca laporan permohonan bantuan dari sekolah-sekolah di daerah pegunungan terpencil, membaca surat ucapan terima kasih yang ditulis para siswa dari keluarga miskin, serta melihat foto anak-anak yang mengenakan jaket katun lusuh sambil memegang papan bertuliskan "Terima kasih, Paman dan Bibi".Dia teringat ucapan Virly bah

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 18

    Saat menerima telepon dari rumah sakit, Virly sedang merapikan lembar-lembar desain di atas meja.Suara perawat di seberang telepon terdengar agak tak berdaya. "Bu Virly, Pak Niel sudah sadar. Beliau bersikeras ingin bertemu dengan Anda dan menolak menerima perawatan. Kalau terus begini, kondisinya bisa memburuk."Mungkin melihat keraguannya, Louie meletakkan dokumen di tangannya dan berkata dengan lembut, "Aku temani kamu ke sana. Anggap saja sebagai penutup semuanya."Meski enggan, Virly tetap tidak sanggup melihat Niel menolak perawatan. Dia pun pergi bersama Louie menuju rumah sakit.Dalam perjalanan ke rumah sakit, Virly bersandar di jendela mobil dan teringat bahwa saat mereka masih berpacaran, Niel juga pernah menggunakan cara seperti ini.Saat itu mereka bertengkar. Niel demam dan tidak mau minum obat, bahkan bersikeras bahwa dia baru mau menjalani pengobatan jika Virly datang menemuinya.Setelah Virly datang, dia menggenggam tangan Virly dan berkata, "Aku tahu kamu peduli pada

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 17

    Dalam perjalanan pulang, suara Virly dipenuhi rasa bersalah. "Terima kasih, Louie. Aku malah merepotkanmu lagi."Louie tersenyum lembut. "Kamu sadar nggak, kamu terus-terusan berterima kasih padaku?"Pipi Virly sedikit memerah, tatapannya menghindar. "Aku hanya merasa nggak enak terus merepotkanmu. Lagi pula, kita juga nggak bisa dibilang ....""Nggak bisa dibilang apa? Akrab?" Louie melanjutkan ucapannya dengan nada sedikit tak berdaya. "Aku nggak pernah merasa kalau kamu merepotkanku kok."Nada bicaranya serius. "Aku melakukan semuanya dengan sukarela."Dia terdiam sejenak sebelum menambahkan, "Virly, aku nggak ingin kamu bersikap sungkan seperti ini padaku. Aku juga nggak ingin hanya menjadi orang yang selalu kamu beri ucapan terima kasih."Mata Virly sedikit memerah. "Aku nggak sengaja bersikap seperti ini. Hanya saja, sebelumnya nggak pernah ada orang yang memperlakukanku seperti ini."Dia teringat saat berada di Keluarga Thajeb, ketika dia selalu berusaha menyenangkan semua orang

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 16

    Hari-hari berikutnya, Louie semakin perhatian kepada Virly.Saat Virly menemui hambatan dalam desain dan merasa kebingungan, Louie membimbingnya dengan sabar.Saat mereka pulang kerja bersama, Louie selalu berjalan di sisi yang menghadap jalan, terus melindungi keselamatannya.Ketika Virly sesekali menyebut toko mana yang menjual kue kastanye yang enak, keesokan harinya selalu ada sebuah kotak kecil di atas mejanya.Kehangatan ini datang perlahan tanpa tergesa-gesa, sedikit demi sedikit menghangatkan hati Virly yang telah lama membeku.Suatu hari, Gwen tiba-tiba menelepon. Awalnya dia menanyakan kabar Virly di Paris dengan penuh perhatian dan mengingatkannya agar menjaga diri baik-baik.Tak lama kemudian, topiknya berubah."Virly, kamu sudah lihat beritanya?""Foto-foto pribadi Erica terekspos, semua perbuatannya juga terbongkar. Kudengar Niel bahkan mengirimnya ke rumah sakit jiwa."Gwen terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Niel juga ... akhir-akhir ini dia benar-benar seperti orang gi

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 15

    Setelah selesai membaca surat dari Niel, pandangan Virly tertuju pada bros yang sudah diperbaiki di samping tangannya, lalu pikirannya melayang.Kenangan-kenangan yang selama ini telah memudar tiba-tiba kembali membanjiri pikirannya. Dia teringat sosok ibu angkatnya yang menggenggam tangannya menjelang ajal dan berpesan agar dia menjaga dirinya baik-baik.Teringat dirinya saat baru menikah dan masuk ke Keluarga Thajeb. Saat itu, dia penuh harapan. Dia mengurus rumah tangga dengan baik, selalu mengalah dan memaklumi.Juga malam-malam yang tak terhitung jumlahnya ketika dia menunggu Niel pulang, sementara makanan di meja berkali-kali dipanaskan. Hari-harinya sunyi dan sepi."Kalau memang masih belum bisa melepaskannya, kamu nggak perlu memaksakan diri." Louie meletakkan segelas air hangat di samping tangannya dengan lembut. "Kalau kamu masih ingin menjelaskan semuanya ke dia, aku bisa menemanimu."Virly tersadar dan menggeleng pelan. "Bukan belum bisa melepaskannya. Cuma waktu lihat bros

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status