Share

Bab 4

Author: Charleet
Saat ini, semua rasa tertekan dan amarah yang telah lama dipendam Virly akhirnya meledak sepenuhnya.

Dia membungkuk mengambil bros yang sudah penyok akibat terjatuh itu, lalu tanpa ragu mengangkat tangan dan menampar Erica sekuat tenaga.

Kepala Erica terhantam hingga menoleh ke samping. Dia menatap Virly selama dua detik, lalu tiba-tiba tertawa.

Dia mundur setengah langkah, mencengkeram kedua sisi gaun pestanya, lalu menariknya sekuat tenaga. Bagian rok di sisi pahanya pun robek panjang.

Sesaat kemudian, Erica mengeluarkan jeritan melengking. Dari ujung koridor terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa.

Niel menerobos kerumunan dan berjalan cepat menghampiri. Begitu melihat rok Erica yang robek, ekspresinya langsung berubah. "Ada apa?"

"Niel!" Mata Erica memerah. Dia berlari ke pelukan Niel. "Bu Virly ingin merebut bros yang kamu berikan padaku. Saat kami bertengkar, bros itu nggak sengaja jatuh dan rusak. Dia lalu marah dan menamparku, bahkan merobek gaunku ...."

Wajah Niel seketika menjadi muram. Dia menatap Virly dan membentaknya dengan keras, "Virly, kamu sudah gila?! Cepat minta maaf ke Erica!"

Virly menatapnya dan tiba-tiba teringat saat mereka masih berpacaran. Waktu itu, dia pernah dituduh mencuri perhiasan teman kuliahnya. Gosip dan tuduhan menyebar ke mana-mana, bahkan para guru pun mulai percaya.

Niel-lah yang mengambil rekaman kamera pengawas di lorong asrama. Di hadapan seluruh kelas, dia menunjukkan bukti itu dan membersihkan semua tuduhan terhadap Virly.

Saat itu, dia percaya dan melindunginya. Dengan begitu teguh, dia bahkan mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan Virly mengalami sedikit pun ketidakadilan.

Namun sekarang, dia bahkan tidak memeriksa apa pun. Dia juga tidak mau bertanya satu kalimat pun kepadanya seperti "apa benar kamu yang melakukannya?". Dia langsung menganggap Virly bersalah.

Virly menatap pria yang berdiri di hadapannya dengan penuh amarah itu dan tiba-tiba merasa semuanya begitu tidak berarti.

Dia melangkah maju. Sebelum siapa pun sempat bereaksi, dia mengulurkan tangan, mencengkeram tepi robekan pada rok Erica, lalu menariknya dengan keras.

"Lihat baik-baik."

Tatapan Virly menyapu orang-orang yang tertegun, lalu akhirnya berhenti pada wajah Niel yang membiru karena marah.

"Kali ini, memang aku yang merobeknya."

Erica menjerit. Secara refleks, dia mencengkeram sisa gaunnya dan menekannya ke tubuh, tetapi kain yang tersisa sama sekali tidak cukup untuk menutupi tubuhnya.

Niel segera melepas jasnya dan menyelimutkannya pada Erica. Rahangnya menegang. Setiap kata seolah keluar dari sela-sela giginya. "Virly, kamu sudah keterlaluan! Kamu harus menanggung semua penghinaan yang Erica terima!"

Dia berbalik dan memerintahkan para pengawal, "Bawa dia ke kamar. Tanpa seizinku, dia nggak boleh keluar!"

Dua pengawal segera maju. Mereka mencengkeram kedua lengan Virly dari kiri dan kanan, membawanya kembali ke kamar utama, lalu menyita seluruh alat komunikasinya.

Dia dikurung selama lima hari. Selama lima hari itu, Niel tidak pernah muncul sekali pun.

Namun, kamar utama memang tidak dibuat kedap suara. Bisikan para pelayan di koridor selalu terdengar samar-samar.

"Kalian dengar? Nona Erica bilang dia suka kamar yang menghadap sungai, jadi Tuan memberikan vila dengan pemandangan sungai di sebelah timur kota padanya."

"Itu belum seberapa. Kemarin di pelelangan, Nona Erica cuma bilang kalung rubi itu cantik, Tuan Niel langsung membayar mahal untuk mendapatkannya."

"Hais, memang nasib orang berbeda-beda. Sudah tujuh tahun menikah, Tuan bahkan belum pernah membelikan Nyonya satu pun perhiasan yang layak."

Virly mendengarkan semuanya dalam diam. Hatinya tak lagi bergejolak sedikit pun.

Setiap hari, dia hanya duduk di depan meja kerja dan berkonsentrasi menyempurnakan rancangan desainnya.

Pada hari keenam, akhirnya larangan keluar kamarnya dicabut. Setelah keluar dari kamar utama, Virly segera menyadari bahwa suasana di dalam vila terasa sangat aneh.

Para pelayan berkumpul di sudut-sudut koridor. Saat melihat dia, mereka langsung terdiam dan menunduk. Tatapan mereka menghindar.

Bahkan ketika kepala pelayan menyerahkan ponselnya, dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya memalingkan wajah.

Hati Virly makin tidak tenang. Dia menyalakan ponselnya. Ketika layar menyala, pesan-pesan langsung membanjirinya seperti air pasang.

Sebelum sempat membalas satu pun pesan, sebuah notifikasi berita muncul di layar.

[ Foto pribadi istri CEO Grup Thajeb, Virly, bocor! Sejumlah foto vulgar beredar di internet! ]

Jari Virly mendadak berhenti. Dengan tangan gemetar, dia membuka notifikasi itu. Foto-foto yang muncul di layar membuat matanya terasa perih.

Semua foto itu diambil di kamar utama Keluarga Thajeb. Gambarnya memang buram, tetapi orang yang ada di dalam foto tetap bisa dikenali sebagai dirinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 20

    Pada hari Virly menyerahkan draf final untuk seri terbaru desainnya yang berjudul "Kelahiran Kembali", salju pertama sejak awal musim dingin turun di Paris.Malam itu, Louie memesan sebuah restoran Prancis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Virly bisa bersantai dan minum cukup banyak anggur.Saat keluar dari restoran, langkahnya sedikit limbung, tubuhnya terhuyung. Louie pun mengulurkan tangan untuk merangkul pinggangnya. Nadanya terdengar pasrah sekaligus penuh perhatian. "Pelan-pelan, jangan sampai jatuh."Virly menatap Louie dengan tatapan kosong, lalu tiba-tiba bertanya, "Louie, kenapa kamu begitu baik padaku?"Louie tidak langsung menjawab. Dia melepas mantel yang dikenakannya, menyampirkannya ke bahu Virly, lalu membantu merapikan kerahnya."Pertama kali aku melihat portofoliomu, aku langsung berpikir, orang ini pasti menyimpan banyak hal yang nggak bisa diungkapkan.""Lalu ketika melihatmu di kantor, meski kamu tersenyum dan menyapaku, matamu justru dipenuhi jarak. Seja

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 19

    Pada minggu pertama setelah Niel kembali ke tanah air, dia mengurung diri di kantor dan menyelesaikan tumpukan dokumen yang telah tertunda selama hampir sebulan.Pada minggu kedua, dia mulai mengalami insomnia. Setiap malam dia berbaring di ranjang besar di kamar utama. Sisi di sebelahnya kosong. Dia terus membolak-balikkan badan karena tidak bisa tidur.Belakangan, dia bahkan tidak tidur sama sekali. Dia pergi ke ruang kerja, menyalakan komputer, lalu menelusuri berbagai proyek tanggung jawab sosial perusahaan.Dulu, dia menganggap semua itu hanya pencitraan. Cukup mengambil foto, masuk berita, lalu selesai. Namun sekarang, dia membacanya halaman demi halaman.Dia membaca laporan permohonan bantuan dari sekolah-sekolah di daerah pegunungan terpencil, membaca surat ucapan terima kasih yang ditulis para siswa dari keluarga miskin, serta melihat foto anak-anak yang mengenakan jaket katun lusuh sambil memegang papan bertuliskan "Terima kasih, Paman dan Bibi".Dia teringat ucapan Virly bah

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 18

    Saat menerima telepon dari rumah sakit, Virly sedang merapikan lembar-lembar desain di atas meja.Suara perawat di seberang telepon terdengar agak tak berdaya. "Bu Virly, Pak Niel sudah sadar. Beliau bersikeras ingin bertemu dengan Anda dan menolak menerima perawatan. Kalau terus begini, kondisinya bisa memburuk."Mungkin melihat keraguannya, Louie meletakkan dokumen di tangannya dan berkata dengan lembut, "Aku temani kamu ke sana. Anggap saja sebagai penutup semuanya."Meski enggan, Virly tetap tidak sanggup melihat Niel menolak perawatan. Dia pun pergi bersama Louie menuju rumah sakit.Dalam perjalanan ke rumah sakit, Virly bersandar di jendela mobil dan teringat bahwa saat mereka masih berpacaran, Niel juga pernah menggunakan cara seperti ini.Saat itu mereka bertengkar. Niel demam dan tidak mau minum obat, bahkan bersikeras bahwa dia baru mau menjalani pengobatan jika Virly datang menemuinya.Setelah Virly datang, dia menggenggam tangan Virly dan berkata, "Aku tahu kamu peduli pada

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 17

    Dalam perjalanan pulang, suara Virly dipenuhi rasa bersalah. "Terima kasih, Louie. Aku malah merepotkanmu lagi."Louie tersenyum lembut. "Kamu sadar nggak, kamu terus-terusan berterima kasih padaku?"Pipi Virly sedikit memerah, tatapannya menghindar. "Aku hanya merasa nggak enak terus merepotkanmu. Lagi pula, kita juga nggak bisa dibilang ....""Nggak bisa dibilang apa? Akrab?" Louie melanjutkan ucapannya dengan nada sedikit tak berdaya. "Aku nggak pernah merasa kalau kamu merepotkanku kok."Nada bicaranya serius. "Aku melakukan semuanya dengan sukarela."Dia terdiam sejenak sebelum menambahkan, "Virly, aku nggak ingin kamu bersikap sungkan seperti ini padaku. Aku juga nggak ingin hanya menjadi orang yang selalu kamu beri ucapan terima kasih."Mata Virly sedikit memerah. "Aku nggak sengaja bersikap seperti ini. Hanya saja, sebelumnya nggak pernah ada orang yang memperlakukanku seperti ini."Dia teringat saat berada di Keluarga Thajeb, ketika dia selalu berusaha menyenangkan semua orang

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 16

    Hari-hari berikutnya, Louie semakin perhatian kepada Virly.Saat Virly menemui hambatan dalam desain dan merasa kebingungan, Louie membimbingnya dengan sabar.Saat mereka pulang kerja bersama, Louie selalu berjalan di sisi yang menghadap jalan, terus melindungi keselamatannya.Ketika Virly sesekali menyebut toko mana yang menjual kue kastanye yang enak, keesokan harinya selalu ada sebuah kotak kecil di atas mejanya.Kehangatan ini datang perlahan tanpa tergesa-gesa, sedikit demi sedikit menghangatkan hati Virly yang telah lama membeku.Suatu hari, Gwen tiba-tiba menelepon. Awalnya dia menanyakan kabar Virly di Paris dengan penuh perhatian dan mengingatkannya agar menjaga diri baik-baik.Tak lama kemudian, topiknya berubah."Virly, kamu sudah lihat beritanya?""Foto-foto pribadi Erica terekspos, semua perbuatannya juga terbongkar. Kudengar Niel bahkan mengirimnya ke rumah sakit jiwa."Gwen terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Niel juga ... akhir-akhir ini dia benar-benar seperti orang gi

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 15

    Setelah selesai membaca surat dari Niel, pandangan Virly tertuju pada bros yang sudah diperbaiki di samping tangannya, lalu pikirannya melayang.Kenangan-kenangan yang selama ini telah memudar tiba-tiba kembali membanjiri pikirannya. Dia teringat sosok ibu angkatnya yang menggenggam tangannya menjelang ajal dan berpesan agar dia menjaga dirinya baik-baik.Teringat dirinya saat baru menikah dan masuk ke Keluarga Thajeb. Saat itu, dia penuh harapan. Dia mengurus rumah tangga dengan baik, selalu mengalah dan memaklumi.Juga malam-malam yang tak terhitung jumlahnya ketika dia menunggu Niel pulang, sementara makanan di meja berkali-kali dipanaskan. Hari-harinya sunyi dan sepi."Kalau memang masih belum bisa melepaskannya, kamu nggak perlu memaksakan diri." Louie meletakkan segelas air hangat di samping tangannya dengan lembut. "Kalau kamu masih ingin menjelaskan semuanya ke dia, aku bisa menemanimu."Virly tersadar dan menggeleng pelan. "Bukan belum bisa melepaskannya. Cuma waktu lihat bros

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status