Share

Bab 2

Author: Charleet
Saat Virly tiba di rumah sakit, lampu ruang operasi masih menyala.

Niel berdiri di depan pintu. Jasnya kusut, dasinya miring ke satu sisi, dan wajahnya dipenuhi kecemasan.

Tiba-tiba, Virly teringat dulu saat dirinya dirawat di rumah sakit karena radang lambung akut. Waktu itu, Niel juga berjaga di sisi ranjangnya, sama paniknya hingga tak tahu harus berbuat apa.

Melihatnya meringis kesakitan, mata Niel juga ikut memerah.

Namun sekarang, kegelisahan itu tak pernah lagi ditujukan kepadanya.

Ketika melihat sosok Virly, Niel melangkah cepat menghampiri. Bahkan terdengar sedikit nada memohon dalam suaranya.

"Virly, Erica mengalami pendarahan hebat akibat kista korpus luteum yang pecah. Persediaan darah di rumah sakit sedang kosong. Golongan darah kalian cocok. Tolong bantu dia sekali ini saja ya?"

Mendengar itu, Virly hanya merasa ironis. "Niel, atas dasar apa kamu berpikir aku bersedia menolong wanita yang kamu cintai?"

Sambil berkata demikian, dia berbalik hendak pergi, tetapi Niel langsung mencengkeram lengannya.

"Virly, aku nggak punya waktu untuk berdebat denganmu. Erica masih di dalam. Kondisinya belum diketahui sudah stabil atau belum. Kamu harus mendonorkan darahmu. Kalau nggak ...."

Virly tahu ancaman yang tidak dia ucapkan. Dia juga tahu, di hadapan Erica, keinginannya tak pernah dianggap penting.

Dia menyunggingkan senyum tipis. "Oke, aku bisa mendonorkan darahku. Tapi aku punya syarat."

"Katakan."

"Kembalikan liontin giok yang dulu kuberikan padamu."

Niel tertegun sejenak. "Cuma itu?"

Dia segera mengambil ponselnya dan menelepon. "Bawa liontin giok yang ada di laci ruang kerjaku ke Rumah Sakit Trinadi sekarang."

Asistennya datang dengan cepat.

Niel menyerahkan liontin giok yang berada di dalam kantong kedap udara kepada Virly. "Sekarang kamu bisa mendonorkan darahmu?"

Virly tidak menjawab. Dia hanya diam-diam menerima kantong itu.

Liontin giok ini dibuatnya setelah mereka resmi menjalin hubungan. Dia membeli bahan gioknya sendiri, lalu meminta seseorang mengasah dan membentuknya. Dia bahkan secara khusus meminta perajin mengukir nama Niel di atasnya.

Pada hari ulang tahun Niel, dia sendiri yang memakaikan liontin itu kepada Niel.

"Selamat ulang tahun. Aku mengukir namamu di liontin ini. Kalau kamu memakainya, rasanya seperti aku selalu menemanimu."

Sejak hari itu, Niel selalu memamerkannya kepada siapa pun. "Lihat, ini hadiah dari pacarku. Bahannya dia pilih sendiri, bahkan namaku juga diukir di sini."

Waktu itu, kebahagiaan di matanya begitu jelas tanpa sedikit pun disembunyikan, seolah liontin yang tergantung di lehernya adalah harta paling berharga baginya.

Suatu kali, benangnya putus dan liontin itu terjatuh. Dia mencarinya sepanjang sore hingga bagian lengan jasnya penuh debu. Pada akhirnya, dia berhasil menemukan liontin itu di celah selokan.

Virly segera datang ke rumahnya, mengambil liontin itu, membersihkannya, mengganti benangnya dengan benang merah, lalu memakaikannya kembali pada Niel.

Dia masih ingat bagaimana Niel berjanji dengan penuh keyakinan hari itu.

"Aku pasti akan memakainya setiap hari. Aku nggak akan pernah menghilangkan liontin ini lagi."

Namun sekarang, ada lapisan tipis debu di atas kantong kedap udara itu. Virly menggenggam erat liontin giok itu. Sisa kehangatan di dalam hatinya pun benar-benar lenyap.

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan berbalik menuju pos perawat.

Darahnya mengalir melalui selang infus ke kantong darah, sementara wajahnya perlahan memucat.

Setelah selesai mendonorkan darah, ketika dia berdiri, pandangannya mendadak menghitam sesaat. Tubuhnya terhuyung. Dia harus berpegangan pada dinding agar dapat berdiri tegak.

Tanpa sadar, dia menoleh ke arah Niel. Pria itu sedang menatap ruang operasi lekat-lekat, bahkan tidak memberinya sedikit pun perhatian.

Virly mengalihkan pandangannya, berpegangan pada dinding, lalu berjalan pergi dengan langkah sempoyongan.

Setelah kembali ke kamar dan berbaring, seluruh tubuhnya terasa dingin. Dia mengangkat tangan dan menyentuh dahinya. Panas sekali.

Selama tiga hari dia terbaring dalam keadaan linglung. Selama itu pula, Niel tidak sekali pun pulang. Dia baru benar-benar sadar pada sore hari keempat.

Virly mengambil ponselnya. Begitu layar menyala, pesan-pesan langsung membanjiri layar. Semuanya adalah berita tentang Niel dan Erica.

Niel menyewa pesawat medis khusus untuk mendatangkan tim dokter spesialis kandungan terbaik di Kota Japora ke Rumah Sakit Trinadi.

Pada hari Erica mengalami komplikasi pascaoperasi dan membutuhkan operasi kedua, dia berjaga semalaman di depan ICU. Media memberitakan bahwa tangannya bahkan gemetar saat menandatangani administrasi rumah sakit.

Keesokan harinya, dia menggelontorkan miliaran dan mendirikan dana medis khusus untuk penanganan penyakit kritis dan darurat pada perempuan atas namanya sendiri.

Tatapan Virly menyapu berita-berita itu, tetapi hatinya sama sekali tidak terusik.

Tiba-tiba, terdengar suara benturan berat dari lantai bawah.

Virly berdiri dan keluar dari kamar, lalu melihat kepala pelayan sedang mengarahkan dua pekerja untuk memindahkan beberapa kotak. "Nyonya, apa kami membangunkan Nyonya?"

Nada kepala pelayan dipenuhi permintaan maaf yang hati-hati, tetapi tangannya tetap tak berhenti bekerja.

Virly menyapu pandangan ke deretan kotak yang tertata rapi itu. "Barang siapa?"

Kepala pelayan belum sempat menjawab ketika dari lantai bawah terdengar suara wanita yang lemah karena baru sembuh dari sakit, tetapi tetap terkesan angkuh.

"Kalian hati-hati. Isi kotak itu semuanya adalah perhiasan yang diberikan Niel padaku. Kalau sampai rusak, kalian nggak akan mampu menggantinya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 20

    Pada hari Virly menyerahkan draf final untuk seri terbaru desainnya yang berjudul "Kelahiran Kembali", salju pertama sejak awal musim dingin turun di Paris.Malam itu, Louie memesan sebuah restoran Prancis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Virly bisa bersantai dan minum cukup banyak anggur.Saat keluar dari restoran, langkahnya sedikit limbung, tubuhnya terhuyung. Louie pun mengulurkan tangan untuk merangkul pinggangnya. Nadanya terdengar pasrah sekaligus penuh perhatian. "Pelan-pelan, jangan sampai jatuh."Virly menatap Louie dengan tatapan kosong, lalu tiba-tiba bertanya, "Louie, kenapa kamu begitu baik padaku?"Louie tidak langsung menjawab. Dia melepas mantel yang dikenakannya, menyampirkannya ke bahu Virly, lalu membantu merapikan kerahnya."Pertama kali aku melihat portofoliomu, aku langsung berpikir, orang ini pasti menyimpan banyak hal yang nggak bisa diungkapkan.""Lalu ketika melihatmu di kantor, meski kamu tersenyum dan menyapaku, matamu justru dipenuhi jarak. Seja

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 19

    Pada minggu pertama setelah Niel kembali ke tanah air, dia mengurung diri di kantor dan menyelesaikan tumpukan dokumen yang telah tertunda selama hampir sebulan.Pada minggu kedua, dia mulai mengalami insomnia. Setiap malam dia berbaring di ranjang besar di kamar utama. Sisi di sebelahnya kosong. Dia terus membolak-balikkan badan karena tidak bisa tidur.Belakangan, dia bahkan tidak tidur sama sekali. Dia pergi ke ruang kerja, menyalakan komputer, lalu menelusuri berbagai proyek tanggung jawab sosial perusahaan.Dulu, dia menganggap semua itu hanya pencitraan. Cukup mengambil foto, masuk berita, lalu selesai. Namun sekarang, dia membacanya halaman demi halaman.Dia membaca laporan permohonan bantuan dari sekolah-sekolah di daerah pegunungan terpencil, membaca surat ucapan terima kasih yang ditulis para siswa dari keluarga miskin, serta melihat foto anak-anak yang mengenakan jaket katun lusuh sambil memegang papan bertuliskan "Terima kasih, Paman dan Bibi".Dia teringat ucapan Virly bah

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 18

    Saat menerima telepon dari rumah sakit, Virly sedang merapikan lembar-lembar desain di atas meja.Suara perawat di seberang telepon terdengar agak tak berdaya. "Bu Virly, Pak Niel sudah sadar. Beliau bersikeras ingin bertemu dengan Anda dan menolak menerima perawatan. Kalau terus begini, kondisinya bisa memburuk."Mungkin melihat keraguannya, Louie meletakkan dokumen di tangannya dan berkata dengan lembut, "Aku temani kamu ke sana. Anggap saja sebagai penutup semuanya."Meski enggan, Virly tetap tidak sanggup melihat Niel menolak perawatan. Dia pun pergi bersama Louie menuju rumah sakit.Dalam perjalanan ke rumah sakit, Virly bersandar di jendela mobil dan teringat bahwa saat mereka masih berpacaran, Niel juga pernah menggunakan cara seperti ini.Saat itu mereka bertengkar. Niel demam dan tidak mau minum obat, bahkan bersikeras bahwa dia baru mau menjalani pengobatan jika Virly datang menemuinya.Setelah Virly datang, dia menggenggam tangan Virly dan berkata, "Aku tahu kamu peduli pada

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 17

    Dalam perjalanan pulang, suara Virly dipenuhi rasa bersalah. "Terima kasih, Louie. Aku malah merepotkanmu lagi."Louie tersenyum lembut. "Kamu sadar nggak, kamu terus-terusan berterima kasih padaku?"Pipi Virly sedikit memerah, tatapannya menghindar. "Aku hanya merasa nggak enak terus merepotkanmu. Lagi pula, kita juga nggak bisa dibilang ....""Nggak bisa dibilang apa? Akrab?" Louie melanjutkan ucapannya dengan nada sedikit tak berdaya. "Aku nggak pernah merasa kalau kamu merepotkanku kok."Nada bicaranya serius. "Aku melakukan semuanya dengan sukarela."Dia terdiam sejenak sebelum menambahkan, "Virly, aku nggak ingin kamu bersikap sungkan seperti ini padaku. Aku juga nggak ingin hanya menjadi orang yang selalu kamu beri ucapan terima kasih."Mata Virly sedikit memerah. "Aku nggak sengaja bersikap seperti ini. Hanya saja, sebelumnya nggak pernah ada orang yang memperlakukanku seperti ini."Dia teringat saat berada di Keluarga Thajeb, ketika dia selalu berusaha menyenangkan semua orang

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 16

    Hari-hari berikutnya, Louie semakin perhatian kepada Virly.Saat Virly menemui hambatan dalam desain dan merasa kebingungan, Louie membimbingnya dengan sabar.Saat mereka pulang kerja bersama, Louie selalu berjalan di sisi yang menghadap jalan, terus melindungi keselamatannya.Ketika Virly sesekali menyebut toko mana yang menjual kue kastanye yang enak, keesokan harinya selalu ada sebuah kotak kecil di atas mejanya.Kehangatan ini datang perlahan tanpa tergesa-gesa, sedikit demi sedikit menghangatkan hati Virly yang telah lama membeku.Suatu hari, Gwen tiba-tiba menelepon. Awalnya dia menanyakan kabar Virly di Paris dengan penuh perhatian dan mengingatkannya agar menjaga diri baik-baik.Tak lama kemudian, topiknya berubah."Virly, kamu sudah lihat beritanya?""Foto-foto pribadi Erica terekspos, semua perbuatannya juga terbongkar. Kudengar Niel bahkan mengirimnya ke rumah sakit jiwa."Gwen terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Niel juga ... akhir-akhir ini dia benar-benar seperti orang gi

  • Musim Semi Setelah Pernikahan yang Menyakitkan   Bab 15

    Setelah selesai membaca surat dari Niel, pandangan Virly tertuju pada bros yang sudah diperbaiki di samping tangannya, lalu pikirannya melayang.Kenangan-kenangan yang selama ini telah memudar tiba-tiba kembali membanjiri pikirannya. Dia teringat sosok ibu angkatnya yang menggenggam tangannya menjelang ajal dan berpesan agar dia menjaga dirinya baik-baik.Teringat dirinya saat baru menikah dan masuk ke Keluarga Thajeb. Saat itu, dia penuh harapan. Dia mengurus rumah tangga dengan baik, selalu mengalah dan memaklumi.Juga malam-malam yang tak terhitung jumlahnya ketika dia menunggu Niel pulang, sementara makanan di meja berkali-kali dipanaskan. Hari-harinya sunyi dan sepi."Kalau memang masih belum bisa melepaskannya, kamu nggak perlu memaksakan diri." Louie meletakkan segelas air hangat di samping tangannya dengan lembut. "Kalau kamu masih ingin menjelaskan semuanya ke dia, aku bisa menemanimu."Virly tersadar dan menggeleng pelan. "Bukan belum bisa melepaskannya. Cuma waktu lihat bros

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status