Teilen

Bab 4

Jesi
Aku pergi ruang kerja mencari plakat porselen kecil.

Aku membuat sebuah plakat porselen kecil sebagai kenang-kenangan untuk anak kami.

Diam-diam kupesan plakat itu dengan ukuran tak lebih besar dari telapak tangan. Di permukaannya terukir nama panggilan serta tanggal lahir anak kami.

Plakat itu kusimpan di dalam laci ruang kerja yang selalu kukunci. Hanya aku yang memegang kuncinya.

Namun ketika laci itu kubuka, isinya sudah kosong.

Aku menanyakan keberadaan plakat itu kepada pembantu di rumah, tetapi dia hanya menggeleng dan mengatakan tidak tahu.

Aku mencari ke seluruh penjuru rumah. Hingga akhirnya, plakat itu kutemukan di dalam kantong barang daur ulang di samping tempat sampah.

Porselen itu sudah pecah menjadi tiga bagian. Bahkan tulisan di atasnya pun hanya tersisa sebagian saja.

Saat aku berjongkok memunguti pecahannya, Sarah datang ke ruang kerja lalu berhenti di ambang pintu.

"Vanya ... soal plakat itu, aku benar-benar nggak sengaja."

"Waktu sedang membereskan ruang kerja, nggak sengaja aku menyenggol laci. Tanganku terpeleset, lalu plakatnya jatuh dan jadi begini."

Aku mengangkat kepala dan menatapnya dengan tenang.

"Laci itu terkunci."

Sarah terdiam sejenak.

"Mungkin pembantu lupa menguncinya setelah selesai bersih-bersih." Suaranya mulai bergetar. "Vanya, aku sungguh nggak sengaja. Begitu lihat nama anakmu terukir di sana, dadaku langsung sesak, lalu tanganku ...."

Matanya perlahan memerah.

Saat itu juga ibu mertua masuk ke ruang kerja dan langsung merangkul bahu Sarah.

"Sarah, sudah. Jangan nangis lagi. Ini hanya masalah sepele." Lalu dia menoleh kepadaku. "Vanya, kakak iparmu sedang dalam kondisi rapuh. Jangan simpan benda seperti itu di tempat yang mudah terlihat. Kalau dia lihat itu, mana mungkin dia nggak sedih?"

Aku masih berjongkok di lantai sambil menggenggam pecahan porselen itu.

Ujung porselen yang tajam menggores telapak tanganku, tetapi aku bahkan tidak merasakan sakit.

"Bu, laci itu 'kan terkunci."

Kening ibu mertua langsung berkerut.

"Apa maksudmu? Kamu mau nuduh kakak iparmu sengaja menghancurkannya?"

Sarah mundur selangkah.

"Vanya, kalau memang kamu nggak percaya sama aku ... ya sudah. Apa pun yang aku bilang, di matamu tetap aku yang salah."

Setelah menyeka air mata, dia berbalik dan berjalan keluar.

Suara ibu mertua terdengar makin dingin. "Vanya, hanya karena kamu sedang menderita bukan berarti kamu boleh melampiaskan amarah sama kakak iparmu. Dia kehilangan jauh lebih banyak daripada kamu."

Saat Justin pulang, ibu mertua sudah lebih dulu membawa Sarah kembali ke rumah keluarga.

Pandangannya jatuh pada pecahan porselen yang masih tergeletak di atas meja.

"Vanya ...."

"Aku tahu kamu terluka. Tapi kondisi mental Kak Sarah memang belum stabil. Mungkin dia benar-benar nggak sengaja."

Aku tetap menunduk tanpa menjawab.

Justin meraih tanganku.

"Biar aku buatin yang baru. Persis seperti yang lama, ya? Kita pesan lagi yang baru dengan tulisan yang kamu inginkan. Mulai sekarang, aku nggak akan biarin Kak Sarah nyentuh barang-barangmu lagi." Sekali lagi, dia mencoba menenangkanku seperti biasanya.

Dan seperti selama ini, akulah yang selalu memilih mengalah.

Tetapi kali ini tidak.

Aku menarik tanganku dari genggamannya, lalu berbalik masuk ke ruang kerja.

Di sana, kususun seluruh mutasi rekening bank selama tiga tahun terakhir berdasarkan urutan tanggal.

Mulai dari biaya pengelolaan apartemen di seberang sungai, biaya konseling psikologis Sarah, biaya pemeriksaan kesehatan, perawat pendamping, hingga pelunasan utang keluarga dari pihak ibunya.

Semuanya dibayarkan menggunakan rekening bersama atas nama aku dan Justin.

Setelah itu, kukeluarkan pula bukti pembayaran rumah sakit, draf undangan yang telah diubah, serta bukti penerimaan hasil lelang amal perlengkapan bayi.

Seluruh dokumen itu kususun rapi ke dalam beberapa map sesuai kategorinya.

Keesokan harinya, aku minta Tania mengatur pertemuan Keluarga Giovano.

Ibu mertua duduk di kursi utama, Justin di sampingnya.

Sarah datang dari rumah keluarga dengan mata yang masih sembap, lalu duduk tanpa bersuara.

Aku meletakkan semua map di atas meja dan membuka halaman pertama.

"Selama tiga tahun terakhir, total pengeluaran dari rekening bersama suami istri untuk kebutuhan pribadi Sarah hampir mencapai 4 miliar."

"Ini semua termasuk biaya apartemen, biaya perawatan, konseling psikologis, hingga pelunasan utang keluarganya."

Aku membuka halaman berikutnya.

"Ini bukti pembayaran rumah sakit pada malam kecelakaan. Seluruh biaya pemeriksaan dan kamar rawat Sarah sudah dilunasi bahkan sebelum operasiku dimulai. Sedangkan uang jaminan pendamping pascaoperasiku justru dibayarkan lebih dulu oleh Tania."

Halaman berikutnya.

"Seluruh perlengkapan bayi anakku dikirim ke lelang amal tanpa persetujuanku. Pada bukti penerimaannya tertulis nama yayasan amal milik Sarah."

Aku membuka halaman terakhir.

"Dan ini draf undangan yang mengubah acara syukuran satu bulan kelahiran anakku menjadi jamuan peringatan keluarga. Nama anakku dicoret, lalu diganti dengan tulisan peringatan tiga tahun meninggalnya Jerry."

Ruang tamu mendadak sunyi.

Bibir Sarah bergetar.

Wajah ibu mertua berubah pucat.

Sementara Justin hanya terpaku menatap dokumen-dokumen itu.

Akhirnya Sarah yang pertama memecah keheningan. Suaranya bergetar. "Vanya ... soal uang itu ... setelah Jerry meninggal, uang asuransinya belum cair. Waktu itu aku benar-benar nggak punya penghasilan dan nggak tahu harus bergantung sama siapa."

Aku menatapnya lurus.

"Sarah, kamulah penerima manfaat asuransi jiwa Jerry. Nilai pertanggungannya sebesar 7,6 miliar dan uang itu sudah masuk ke rekeningmu pada bulan ketiga setelah dia meninggal."

Seketika wajah Sarah memucat.

Aku melanjutkan tanpa mengalihkan pandangan.

"Bukannya kamu nggak punya uang atau tempat bergantung. Kamu hanya nggak mau memakai uangmu sendiri."

Jari-jari ibu mertua mencengkeram erat sandaran kursi.

Justin memejamkan mata sejenak tanpa berkata apa-apa.

Sarah menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu berlari keluar sambil terisak.

Setelah semua orang pergi, Justin masih tetap duduk seorang diri di ruang tamu.

Sementara itu, aku kembali ke kamar untuk membereskan rekam medis, buku nikah, mutasi rekening, dan dokumen kepemilikan rumah.

Dari sudut paling dalam laci, kutemukan hasil USG anak kami.

Kuselipkan lembar itu ke dalam map rekam medis.

Tak lama kemudian terdengar bunyi pintu elektronik terbuka.

Justin masuk sambil menopang Sarah.

Sarah mengenakan mantel Justin, sementara di tangannya tergenggam sebuah gelang perak.

Pada sisi dalam gelang itu terukir nama panggilan yang pernah kuberikan kepada anak kami.

Tatapanku langsung terpaku pada gelang itu.

Pada detik itulah, kesabaran yang selama tiga tahun kutahan akhirnya benar-benar habis.

Justin mengikuti arah pandanganku, dan seketika wajahnya berubah.

Sarah refleks menyembunyikan gelang itu ke balik lengan bajunya.

Justin segera melangkah menghampiriku.

"Vanya, dengarkan dulu penjelasanku ...."

Aku memotong ucapannya.

"Justin."

Aku meletakkan surat perjanjian perceraian di atas lemari kecil dekat pintu, lalu menyeret koper melewatinya.

Tepat di ambang pintu, aku berhenti sejenak.

"Kamu nggak perlu jelasin apa-apa lagi."

"Mulai hari ini, sebaiknya kita nggak usah bertemu lagi."

Setelah mengucapkan itu, aku menutup pintu dan berjalan menuju lift sambil menyeret koper.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 9

    Seminggu kemudian, Justin akhirnya menandatangani surat perceraian itu.Saat pengacaraku mengabarkan hal tersebut, aku sedang menyusun laporan rekonsiliasi pajak tahunan untuk salah satu klien."Pak Justin nggak mengajukan keberatan apa pun. Beliau menerima seluruh isi perjanjian, dan pembagian harta dilakukan sesuai rancangan yang Ibu ajukan. Ibu hanya mengambil bagian yang memang menjadi hak menurut hukum. Sebelum semuanya selesai, beliau meminta saya menanyakan sekali lagi ... apakah Ibu ingin mempertimbangkan untuk mengambil lebih banyak?""Nggak," jawabku singkat.Pengacara itu terdiam sejenak."Maaf kalau saya lancang, Bu Vanya. Dengan bukti yang Ibu punya sekarang, sebenarnya peluang Ibu untuk dapat bagian yang lebih besar sangat kuat."Aku tersenyum tipis."Aku tahu. Tapi aku nggak mau berutang budi padanya, dan aku juga nggak mau bikin dia berpikir bahwa semua ini bisa ditebus dengan uang.""Baik," jawabnya pelan.Pada hari pengurusan perceraian, kami bertemu di kantor catatan

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 8

    Pengacara bergerak sangat cepat.Hanya dalam tiga hari, seluruh alur transfer dana yang menggunakan rekening atas nama sepupu Sarah berhasil direkonstruksi dengan lengkap.Mulai dari akun yang mengunggah fitnah, riwayat panggilan kepada kerabat jauh Keluarga Giovano, hingga bukti pembayaran kepada akun-akun media independen, semuanya bermuara pada sumber yang sama.Saat Tania mengirimkan laporan hasil penyelidikan kepadaku, aku sedang menyelesaikan laporan pajak triwulanan milik seorang klien."Sudah dipastikan. Rekening yang dipakai memang atas nama sepupu Sarah, tapi semua instruksi dan otorisasinya berasal langsung dari Sarah."Mendengar itu, perasaanku tetap tenang.Bukan karena aku tidak peduli, melainkan karena sejak pertemuan kami di kedai kopi, saat dia mengucapkan kata-kata bernada ancaman itu, aku sudah menduga semua ini akan terjadi.Sore harinya, asisten Justin menelepon dan mengatakan bahwa Justin ingin menemuiku.Aku langsung menolaknya.Asisten itu sempat terdiam beberap

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 7

    Keesokan paginya, aku tiba di kantor tiga puluh menit lebih awal dari biasanya.Namun, di depan firma sudah berdiri lima atau enam orang.Tiga di antaranya adalah kerabat jauh Keluarga Giovano yang pernah kutemui saat jamuan keluarga.Dua orang lainnya sibuk mengangkat ponsel dan merekam.Orang yang memimpin mereka adalah paman sepupu yang meneleponku semalam.Di tangannya tergenggam hasil cetak tangkapan layar sebuah unggahan."Ini dia perempuan yang maksa kakak iparnya yang sudah menjanda mengembalikan uang! Gara-gara keguguran, dia melampiaskan kemarahannya sama kakak iparnya. Masih punya hati nurani apa nggak, sih?"Orang-orang di belakangnya langsung ikut bersorak menyahut.Aku tidak berhenti melangkah. Dengan tenang aku berjalan ke pintu firma, menempelkan kartu akses, lalu hendak membukanya.Namun, paman sepupu itu mengulurkan tangan dan menghalangi jalanku."Kalau hari ini kamu nggak bisa kasih penjelasan, jangan harap ada yang bisa masuk ke kantor ini."Aku mengangkat wajah da

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 6

    Pekerjaanku di kantor akuntan perlahan mulai stabil.Setiap hari aku berangkat pukul delapan pagi dan baru pulang sekitar pukul tujuh malam. Bahkan di akhir pekan pun aku tetap bekerja setengah hari.Sedikit demi sedikit, jumlah klien yang kutangani bertambah, dari tiga perusahaan menjadi belasan.Semuanya memang hanya perusahaan kecil dengan pembukuan yang sederhana, tetapi setiap transaksi tetap kuperiksa seteliti mungkin.Rekan-rekan kerjaku sering menggodaku karena dianggap terlalu perfeksionis. Menurut mereka, pembukuan perusahaan kecil tidak perlu diperiksa sedetail itu.Aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa itu sudah menjadi kebiasaanku.Padahal, bukan itu alasannya.Aku hanya ingin memenuhi pikiranku dengan deretan angka dan laporan keuangan.Sebab setiap kali pikiranku dibiarkan kosong, kenangan yang berusaha kulupakan selalu datang kembali.Sebulan kemudian, aku menunggu Tania di kedai kopi bawah gedung untuk makan siang bersama.Denting lonceng angin di pintu membuatku me

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 5

    Keesokan paginya, aku pindah ke rumah Tania.Setelah itu, ada tiga hal yang langsung kulakukan.Pertama, keluar dari seluruh grup keluarga besar Keluarga Giovano.Kedua, menghubungi bank untuk membekukan kewenangan persetujuan transaksi bernilai besar pada rekening bersama kami.Ketiga, mengambil kembali gelang perak milik anakku.Saat aku datang mengambilnya, Sarah sedang tidak ada di rumah.Seorang pelayan mengambil gelang itu dari laci meja di ruang tamu lalu menyerahkannya kepadaku. Di bagian dalamnya, tepat pada ukiran nama anakku, tampak sebuah goresan tipis.Jemariku mengusap perlahan bekas goresan itu sebelum kusimpan kembali ke dalam saku.Memasuki minggu pertama tinggal di rumah Tania, aku mengeluarkan sertifikat analis keuangan yang kudapat sebelum menikah dari dasar kotak penyimpanan.Sudut-sudutnya memang sudah mulai melengkung, tetapi masa berlakunya masih belum habis.Tania kemudian membantuku menghubungi sebuah kantor praktik akuntansi di kota ini yang kebetulan sedang

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 4

    Aku pergi ruang kerja mencari plakat porselen kecil.Aku membuat sebuah plakat porselen kecil sebagai kenang-kenangan untuk anak kami.Diam-diam kupesan plakat itu dengan ukuran tak lebih besar dari telapak tangan. Di permukaannya terukir nama panggilan serta tanggal lahir anak kami.Plakat itu kusimpan di dalam laci ruang kerja yang selalu kukunci. Hanya aku yang memegang kuncinya.Namun ketika laci itu kubuka, isinya sudah kosong.Aku menanyakan keberadaan plakat itu kepada pembantu di rumah, tetapi dia hanya menggeleng dan mengatakan tidak tahu.Aku mencari ke seluruh penjuru rumah. Hingga akhirnya, plakat itu kutemukan di dalam kantong barang daur ulang di samping tempat sampah.Porselen itu sudah pecah menjadi tiga bagian. Bahkan tulisan di atasnya pun hanya tersisa sebagian saja.Saat aku berjongkok memunguti pecahannya, Sarah datang ke ruang kerja lalu berhenti di ambang pintu."Vanya ... soal plakat itu, aku benar-benar nggak sengaja.""Waktu sedang membereskan ruang kerja, ngg

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status