Share

Bab 3

Author: Jesi
Pada hari pemeriksaan lanjutan, Justin mengaku harus mengurus pekerjaan di perusahaan sehingga hanya menyuruh sopir mengantarkanku ke rumah sakit.

Aku menjalani semuanya seorang diri, mulai dari mengurus pendaftaran, mengantre, menjalani USG, hingga menunggu hasil pemeriksaan.

Dokter mengernyit sambil memeriksa rekam medisku.

"Pemulihanmu setelah operasi belum terlalu baik. Masih ada sisa darah di dinding rahim yang belum bersih. Minum obatnya sesuai jadwal, jangan terlalu capek, dan usahakan jangan terlalu banyak pikiran."

"Mana keluargamu? Kenapa nggak ada yang menemani?"

"Mereka sedang sibuk," jawabku pelan.

Dokter hanya menatapku sekilas sebelum kembali menuliskan resep tanpa bertanya lagi.

Setibanya di rumah, Justin sudah menunggu di ruang tamu.

Begitu melihatku masuk, dia langsung berdiri dan mengambil kantong obat dari tanganku.

"Bagaimana hasil pemeriksaannya?"

"Pemulihannya masih dalam proses," jawabku.

Dia mengangguk pelan.

Namun, kalimat berikutnya membuat seluruh tubuhku seolah membeku.

"Vanya, untuk sementara jangan kasih tahu siapa pun tentang keguguranmu. Belakangan kondisi Kak Sarah sangat nggak stabil. Kalau dia dengar kabar seperti ini, aku khawatir traumanya akan kambuh lagi. Cobalah mengerti."

Aku masih berdiri di dekat pintu masuk, bahkan mantelku belum sempat kulepas.

"Kamu minta aku merahasiakannya?"

"Bukan merahasiakan." Dia menggeleng. "Hanya untuk sementara nggak usah diceritain ke orang-orang. Setelah kondisi Kak Sarah membaik, baru kita kasih tahu."

Aku menatapnya lama.

Wajahnya penuh ketulusan, juga tatapan memohon yang begitu kukenal.

Setiap kali dia ingin aku mengalah, dia selalu menatapku seperti itu.

Keesokan harinya, ibu mertuaku menelepon.

"Vanya, Justin sudah cerita sama Ibu. Maaf ya, kalau Ibu terdengar kejam. Kamu masih muda, nanti juga masih bisa punya anak lagi."

"Tapi kakak iparmu nggak bisa. Dia sudah kehilangan Jerry. Kalau sekarang sampai terguncang lagi, dia benar-benar nggak akan sanggup menanggungnya."

"Daftar tamu untuk syukuran bayi juga sudah Ibu ubah jadi jamuan keluarga untuk mengenang tiga tahun kepergian kakakmu. Semua kerabat sudah dikasih tahu. Kamu nggak keberatan, 'kan?"

Aku menggenggam ponsel sambil duduk diam di ruang kerja.

Jamuan syukuran itu sudah kami pesan sejak usia kandunganku empat bulan. Justin bahkan menemaniku memilih menu, menyusun daftar tamu, sampai mencetak kartu tempat duduk yang bertuliskan nama panggilan anak kami.

Kini, semuanya berubah menjadi jamuan peringatan bagi orang lain.

"Bu," kataku pelan, "anakku memang sudah tiada, tapi bukan berarti dia nggak pernah hadir. Aku mau buat sebuah plakat kenangan untuknya. Nggak perlu besar, cukup diletakkan di rumah."

Hening beberapa saat menyelimuti sambungan telepon.

"Vanya, kakak iparmu tinggal di rumah ini. Kalau kamu pasang benda seperti itu, gimana perasaannya kalau dia lihat itu?"

Setelah telepon terputus, aku tetap duduk tanpa bergerak.

Langit di luar perlahan berubah gelap, tetapi aku bahkan tidak berniat menyalakan lampu ruang kerja.

Aku teringat pernah berkata kepada Tania bahwa Justin hanya terikat oleh tanggung jawab keluarga. Bahwa, jauh di lubuk hatinya, masih ada tempat untukku.

Namun kini, bahkan nama anakku pun tidak diizinkan tinggal di rumah ini.

Hari jamuan keluarga itu akhirnya tiba.

Aku duduk di ujung meja makan yang panjang sementara semua orang mengenang Jerry.

Sarah duduk di samping kursi utama, dikelilingi perhatian para kerabat.

Ada yang menepuk lembut punggung tangannya, ada yang menyendokkan makanan ke piringnya, dan ada pula yang menghela napas iba melihatnya menjadi janda.

Tak seorang pun menyinggung anakku.

Seorang bibi dari keluarga besar berbisik kepada orang di sebelahnya, tetapi cukup keras hingga terdengar olehku. "Kenapa wajah istri Justin muram sekali? Masih muda, tapi setiap hari wajahnya masam. Kok seperti nggak tahu menjaga sikap demi keluarga."

Tanganku yang sedang menggenggam gelas seketika terdiam.

Tiba-tiba tubuh Sarah limbung. Dia buru-buru berpegangan pada tepi meja.

Seketika seluruh ruangan menjadi riuh.

Ibu mertua yang pertama berlari menghampirinya.

"Sarah! Ada apa? Pusing lagi?"

Justin pun segera mengitari meja, lalu berjongkok di hadapan Sarah.

Bibi tadi menoleh ke arahku sambil meninggikan suara.

"Apa ada yang bilang sesuatu di jamuan tadi? Sarah memang lagi nggak baik-baik saja akhir-akhir ini. Kalau sampai kena tekanan lagi, bagaimana dia bisa tahan?"

Aku tahu kalimat itu ditujukan kepadaku.

Namun, aku tetap duduk di tempat.

Karena saat itu akhirnya aku sadar, apa pun yang kulakukan, mereka tetap akan menganggap akulah penyebab semua ini.

Malamnya, aku pulang lebih dulu tanpa menunggu Justin.

Aku membuka aplikasi mobile banking dan memeriksa seluruh catatan pengeluaran keluarga selama tiga tahun terakhir.

Setelah itu, aku pergi ke rumah sakit untuk mencetak bukti pembayaran pada malam kecelakaan.

Dari lembar-lembar itu, aku baru tahu bahwa malam itu Justin lebih dulu mengurus seluruh biaya pemeriksaan dan kamar rawat inap VIP untuk Sarah.

Waktu pembayarannya tercatat empat puluh tujuh menit lebih awal daripada pembayaran biaya operasiku.

Sementara pada bukti pembayaran uang jaminan pendampingan pascaoperasiku, nama yang tercantum justru nama Tania.

Aku merapikan semua bukti itu, lalu memasukkannya ke dalam tas.

Tiba-tiba aku menyadari, selama ini aku sudah terlalu sering mencarikan alasan untuknya.

Dia hanya terlalu menjunjung kesetiaan.

Dia hanya serba salah dan terjebak di posisi yang sulit.

Keluarga Giovano-lah yang memaksanya berada di posisi itu.

Namun kini, ketika menatap lembar demi lembar bukti pembayaran di tanganku, tak ada lagi alasan yang bisa kupakai untuk membelanya.

Aku perlahan bangkit berdiri.

Perut bagian bawahku masih terasa nyeri.

Namun dibandingkan rasa sakit itu, ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan, hatiku seakan retak dan terbelah.

Dari celah retakan itu, angin dingin menerobos masuk, dan justru pada saat itulah aku benar-benar tersadar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 9

    Seminggu kemudian, Justin akhirnya menandatangani surat perceraian itu.Saat pengacaraku mengabarkan hal tersebut, aku sedang menyusun laporan rekonsiliasi pajak tahunan untuk salah satu klien."Pak Justin nggak mengajukan keberatan apa pun. Beliau menerima seluruh isi perjanjian, dan pembagian harta dilakukan sesuai rancangan yang Ibu ajukan. Ibu hanya mengambil bagian yang memang menjadi hak menurut hukum. Sebelum semuanya selesai, beliau meminta saya menanyakan sekali lagi ... apakah Ibu ingin mempertimbangkan untuk mengambil lebih banyak?""Nggak," jawabku singkat.Pengacara itu terdiam sejenak."Maaf kalau saya lancang, Bu Vanya. Dengan bukti yang Ibu punya sekarang, sebenarnya peluang Ibu untuk dapat bagian yang lebih besar sangat kuat."Aku tersenyum tipis."Aku tahu. Tapi aku nggak mau berutang budi padanya, dan aku juga nggak mau bikin dia berpikir bahwa semua ini bisa ditebus dengan uang.""Baik," jawabnya pelan.Pada hari pengurusan perceraian, kami bertemu di kantor catatan

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 8

    Pengacara bergerak sangat cepat.Hanya dalam tiga hari, seluruh alur transfer dana yang menggunakan rekening atas nama sepupu Sarah berhasil direkonstruksi dengan lengkap.Mulai dari akun yang mengunggah fitnah, riwayat panggilan kepada kerabat jauh Keluarga Giovano, hingga bukti pembayaran kepada akun-akun media independen, semuanya bermuara pada sumber yang sama.Saat Tania mengirimkan laporan hasil penyelidikan kepadaku, aku sedang menyelesaikan laporan pajak triwulanan milik seorang klien."Sudah dipastikan. Rekening yang dipakai memang atas nama sepupu Sarah, tapi semua instruksi dan otorisasinya berasal langsung dari Sarah."Mendengar itu, perasaanku tetap tenang.Bukan karena aku tidak peduli, melainkan karena sejak pertemuan kami di kedai kopi, saat dia mengucapkan kata-kata bernada ancaman itu, aku sudah menduga semua ini akan terjadi.Sore harinya, asisten Justin menelepon dan mengatakan bahwa Justin ingin menemuiku.Aku langsung menolaknya.Asisten itu sempat terdiam beberap

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 7

    Keesokan paginya, aku tiba di kantor tiga puluh menit lebih awal dari biasanya.Namun, di depan firma sudah berdiri lima atau enam orang.Tiga di antaranya adalah kerabat jauh Keluarga Giovano yang pernah kutemui saat jamuan keluarga.Dua orang lainnya sibuk mengangkat ponsel dan merekam.Orang yang memimpin mereka adalah paman sepupu yang meneleponku semalam.Di tangannya tergenggam hasil cetak tangkapan layar sebuah unggahan."Ini dia perempuan yang maksa kakak iparnya yang sudah menjanda mengembalikan uang! Gara-gara keguguran, dia melampiaskan kemarahannya sama kakak iparnya. Masih punya hati nurani apa nggak, sih?"Orang-orang di belakangnya langsung ikut bersorak menyahut.Aku tidak berhenti melangkah. Dengan tenang aku berjalan ke pintu firma, menempelkan kartu akses, lalu hendak membukanya.Namun, paman sepupu itu mengulurkan tangan dan menghalangi jalanku."Kalau hari ini kamu nggak bisa kasih penjelasan, jangan harap ada yang bisa masuk ke kantor ini."Aku mengangkat wajah da

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 6

    Pekerjaanku di kantor akuntan perlahan mulai stabil.Setiap hari aku berangkat pukul delapan pagi dan baru pulang sekitar pukul tujuh malam. Bahkan di akhir pekan pun aku tetap bekerja setengah hari.Sedikit demi sedikit, jumlah klien yang kutangani bertambah, dari tiga perusahaan menjadi belasan.Semuanya memang hanya perusahaan kecil dengan pembukuan yang sederhana, tetapi setiap transaksi tetap kuperiksa seteliti mungkin.Rekan-rekan kerjaku sering menggodaku karena dianggap terlalu perfeksionis. Menurut mereka, pembukuan perusahaan kecil tidak perlu diperiksa sedetail itu.Aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa itu sudah menjadi kebiasaanku.Padahal, bukan itu alasannya.Aku hanya ingin memenuhi pikiranku dengan deretan angka dan laporan keuangan.Sebab setiap kali pikiranku dibiarkan kosong, kenangan yang berusaha kulupakan selalu datang kembali.Sebulan kemudian, aku menunggu Tania di kedai kopi bawah gedung untuk makan siang bersama.Denting lonceng angin di pintu membuatku me

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 5

    Keesokan paginya, aku pindah ke rumah Tania.Setelah itu, ada tiga hal yang langsung kulakukan.Pertama, keluar dari seluruh grup keluarga besar Keluarga Giovano.Kedua, menghubungi bank untuk membekukan kewenangan persetujuan transaksi bernilai besar pada rekening bersama kami.Ketiga, mengambil kembali gelang perak milik anakku.Saat aku datang mengambilnya, Sarah sedang tidak ada di rumah.Seorang pelayan mengambil gelang itu dari laci meja di ruang tamu lalu menyerahkannya kepadaku. Di bagian dalamnya, tepat pada ukiran nama anakku, tampak sebuah goresan tipis.Jemariku mengusap perlahan bekas goresan itu sebelum kusimpan kembali ke dalam saku.Memasuki minggu pertama tinggal di rumah Tania, aku mengeluarkan sertifikat analis keuangan yang kudapat sebelum menikah dari dasar kotak penyimpanan.Sudut-sudutnya memang sudah mulai melengkung, tetapi masa berlakunya masih belum habis.Tania kemudian membantuku menghubungi sebuah kantor praktik akuntansi di kota ini yang kebetulan sedang

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 4

    Aku pergi ruang kerja mencari plakat porselen kecil.Aku membuat sebuah plakat porselen kecil sebagai kenang-kenangan untuk anak kami.Diam-diam kupesan plakat itu dengan ukuran tak lebih besar dari telapak tangan. Di permukaannya terukir nama panggilan serta tanggal lahir anak kami.Plakat itu kusimpan di dalam laci ruang kerja yang selalu kukunci. Hanya aku yang memegang kuncinya.Namun ketika laci itu kubuka, isinya sudah kosong.Aku menanyakan keberadaan plakat itu kepada pembantu di rumah, tetapi dia hanya menggeleng dan mengatakan tidak tahu.Aku mencari ke seluruh penjuru rumah. Hingga akhirnya, plakat itu kutemukan di dalam kantong barang daur ulang di samping tempat sampah.Porselen itu sudah pecah menjadi tiga bagian. Bahkan tulisan di atasnya pun hanya tersisa sebagian saja.Saat aku berjongkok memunguti pecahannya, Sarah datang ke ruang kerja lalu berhenti di ambang pintu."Vanya ... soal plakat itu, aku benar-benar nggak sengaja.""Waktu sedang membereskan ruang kerja, ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status