เข้าสู่ระบบKabut tipis masih menggelayut malas di atas pucuk-pucuk pohon jati ketika Ayu membuka jendela kayu kamar si Mbah. Suara deritnya memecah keheningan pagi, disusul oleh aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur tetangga. Udara dingin segera merangsek masuk, membelai kulitnya yang masih hangat akibat selimut tebal. Di sampingnya, Reya masih bergulung layaknya kepompong raksasa, hanya menyisakan ujung rambutnya yang berantakan mencuat keluar.
"Rey, bangun. Katanya mau cari sarapan?" Ayu mengguncang bahu sepupunya itu.
Reya hanya bergumam tidak jelas, menarik selimutnya lebih tinggi. "Lima menit lagi, Yu... semalam kita ghibah sampai jam dua pagi, ingat?"
Ayu terkekeh. Semalam, setelah pulang dari Pesta Rakyat dengan perasaan dongkol akibat ulah Raka, mereka memang menghabiskan waktu berjam-jam di bawah temaram lampu kamar Mbah. Mereka menertawakan banyak hal, mulai dari kenangan masa kecil hingga mengumpat habis-habisan tentang betapa menyebalkannya wajah Raka yang sok tampan itu.
"Bangun, atau aku berangkat sendiri dan semua lupisnya aku habisin," ancam Ayu.
Mendengar kata 'lupis', Reya langsung terduduk tegak seolah ada pegas di punggungnya. Matanya masih setengah terpejam, tapi semangat makannya sudah menyala seratus persen. "Jangan! Oke, oke, aku bangun!"
Sepuluh menit kemudian, dua gadis itu sudah melangkah keluar dari rumah limasan milik Mbah. Mereka mengenakan jaket rajut dan kerudung seadanya untuk menghalau angin pagi yang menusuk tulang. Di kejauhan, siluet biru keunguan dari Pegunungan Kapur Utara tampak megah, seperti pelindung yang menjaga kedamaian desa ini sejak ratusan tahun lalu.
"Duh, paru-paru aku rasanya seperti habis dicuci bersih, Yu," ucap Reya sambil merentangkan tangan lebar-lebar, menghirup udara pagi dalam-dalam. "Beda banget sama udara Jakarta yang isinya cuma knalpot dan emosi."
Ayu tersenyum setuju. "Itulah kenapa aku selalu rindu pulang. Di sini, waktu seperti berjalan lebih lambat."
Mereka menyusuri jalanan aspal yang tak terlalu lebar. Di sisi kanan dan kiri, sawah-sawah hijau membentang luas, dengan butir-butir embun yang berkilauan di ujung padi. Tak jauh di depan, tampak seorang pria tua sedang menuntun sepedanya yang penuh dengan tumpukan rumput segar.
"Ealah, niki Mbak Ayu kalih Mbak Reya, nggih? Putunipun Mbah Darmi?" (Ini Mbak Ayu dan Mbak Reya ya? Cucunya Mbah Darmi?) tanya Pak Slamet, salah satu tetangga yang sudah mereka kenal sejak kecil.
Ayu berhenti dan menyapa dengan sopan. "Inggih, Pak Slamet. Nembe ngarit, Pak?" (Iya, Pak Slamet. Habis cari rumput, Pak?)
"Inggih, Mbak. Wangsul saking pundi niki? Badhe pados sarapan?" Pak Slamet membetulkan letak capingnya sambil tersenyum ramah, memperlihatkan gurat-gurat kerutan di wajahnya yang bersahaja.
"Mau cari jajan pasar, Pak. Kangen masakan sini," sahut Reya dengan bahasa Jawa yang sedikit tercampur logat kota, membuat Pak Slamet tertawa kecil.
"Niku, teng pojok jalan wonten Mbok Sum. Lupisipun taksih anget. Mangga-mangga, kersane mampir," (Itu, di pojok jalan ada Mbok Sum. Lupisnya masih hangat. Silakan, mampir saja,) saran Pak Slamet sebelum berpamitan melanjutkan perjalanannya.
Mereka pun melanjutkan langkah. Belum sampai ke warung Mbok Sum, langkah mereka terhenti oleh bunyi lonceng sepeda motor yang sangat akrab. Ting! Ting! Ting!
Itu Mas Bejo, penjual roti dan jajanan keliling. Reya langsung melambai heboh. Mas Bejo pun menepikan motornya.
"Wah, artis kota pulang kampung!" canda Mas Bejo sambil membuka kotak besar di belakang motornya yang mengepulkan aroma ragi dan margarin. "Mau apa? Roti semir? Atau ada tahu petis ini, baru matang."
Reya menatap tumpukan tahu petis itu dengan mata berbinar. "Mas, kasih saya tahu petisnya lima, sama roti semirnya dua. Oh, donat gula itu satu juga deh!"
Ayu hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat porsi sarapan sepupunya. "Rey, kita kan mau ke Mbok Sum juga."
"Perut aku punya banyak sekat, Yu. Tenang saja," jawab Reya santai sambil mulai mengunyah tahu petisnya yang masih panas. Rasanya yang pedas-manis langsung meledak di mulut, membuat Reya memejamkan mata dalam kepuasan.
Sepanjang perjalanan menuju warung Mbok Sum, mereka tak henti-hentinya disapa warga. Ada Bu RT yang sedang menyapu halaman, menanyakan kapan mereka akan kembali ke kota; ada juga sekumpulan bapak-bapak yang sedang ngopi di gardu ronda, yang tak jarang melontarkan candaan tentang kapan mereka akan membawa "calon" ke desa.
"Yu, lihat itu!" Reya menyikut lengan Ayu saat mereka sampai di persimpangan.
Di sana, di bawah pohon talok yang rindang, Mbok Sum sedang sibuk melayani pembeli. Di atas meja kayunya, tertata rapi berbagai macam warna-warni jajanan pasar: lupis yang dibungkus daun pisang berbentuk segitiga, cenil merah muda yang kenyal, gethuk lindri, hingga ketan bubuk kedelai.
"Mbok, lupisnya dua porsi ya. Kelapanya yang banyak, gulanya jangan pelit-pelit," pinta Ayu sambil tersenyum.
Sembari menunggu Mbok Sum membungkus pesanan, Ayu mengedarkan pandangannya. Suasana pagi ini benar-benar menghangatkan hatinya. Orang-orang saling menyapa, tidak ada yang terburu-buru oleh deadline, tidak ada suara klakson yang memekakkan telinga. Namun, seketika pandangannya membeku pada sebuah motor trail yang terparkir di depan toko kelontong di seberang jalan.
Seorang laki-laki turun dari motor itu. Ia mengenakan jaket hoodie abu-abu dan celana pendek, tampak sedang membeli beberapa botol air mineral. Jantung Ayu berdegup tak menentu, antara kesal dan kaget.
"Rey... itu bukan Raka, kan?" bisik Ayu, mencoba bersembunyi di balik bahu Reya.
Reya menyipitkan mata, lalu menyeringai nakal. "Oh, iya! Musuh bebuyutanmu itu. Wah, sepertinya radar dia kuat banget ya kalau ada kamu."
"Nggak lucu, Rey. Ayo kita lewat jalan belakang saja," ajak Ayu cemas.
"Telat, Yu. Dia sudah menoleh," gumam Reya.
Benar saja, Raka melihat mereka. Dari kejauhan, laki-laki itu mengangkat tangannya, lalu dengan gaya yang sangat santai berjalan menyeberangi jalan menuju arah mereka. Wajahnya yang tampak segar sehabis bangun tidur justru membuatnya terlihat makin menyebalkan di mata Ayu.
"Pagi, pengungsi kota," sapa Raka dengan nada meremehkan yang khas. Ia berdiri tepat di samping Ayu, bau sabun mandinya tercium samar, bercampur dengan udara pagi.
Ayu memutar bola matanya. "Pagi, pengganggu ketenangan. Kenapa kamu ada di mana-mana sih? Nggak ada tempat lain buat dikunjungi?"
Raka terkekeh, lalu menoleh ke arah Mbok Sum. "Mbok, lupis satu porsi, dibayarin Mbak Ayu ya. Katanya dia lagi syukuran atas panen melimpah."
"Heh! Enak saja!" protes Ayu cepat.
"Lho, bukannya kemarin kamu bilang mau berbagi kebahagiaan? Masa beli lupis satu saja pelit," goda Raka sambil mengedipkan satu mata ke arah Mbok Sum yang hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka berdua.
Ayu mendengus, namun ia tak kuasa menahan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya—meskipun ia berusaha keras menyembunyikannya. Di tengah sejuknya udara pagi dan harumnya jajan pasar, pertemuan yang tidak diinginkan ini entah mengapa tidak terasa seburuk semalam.
"Sini, porsimu aku yang bayar. Tapi dengan satu syarat," kata Ayu ketus.
Raka menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
"Setelah ini, jangan muncul lagi di depan mataku selama dua puluh empat jam ke depan."
Raka tertawa lepas, suara tawanya menyatu dengan kicauan burung di pohon talok. "Deal. Tapi aku nggak janji kalau takdir berkata lain."
Reya yang menonton dari samping hanya bisa geleng-geleng kepala sambil terus mengunyah lupisnya. "Aura kalian berdua ini memang beda ya. Seperti kucing dan tikus, tapi tikusnya gemas, kucingnya baperan."
Ayu menyikut Reya keras-keras, membuat sepupunya itu tersedak. Pagi di kampung yang tadinya tenang, kini mendadak terasa jauh lebih berwarna. Udara pagi yang dingin seolah menjadi saksi bahwa di antara rasa benci yang Ayu dengungkan, ada sepercik narasi baru yang mulai tertulis tanpa ia sadari.
Matahari tepat berada di puncak kepala, memancarkan sinar yang begitu terik hingga seolah-olah udara di atas hamparan sawah itu menari-nari karena panas. Namun, bagi masyarakat Desa Karangjati -desa tempat Ayu-, siang hari bukan berarti berhenti. Justru di saat seperti inilah, kehidupan di sawah mencapai puncaknya.Setelah pagi tadi berburu kuliner didesa bersama sang sepupu, kali ini Ayu melangkah hati-hati di atas pematang sawah yang sempit. Sepatunya yang biasa ia gunakan untuk berjalan di aspal ibu kota kini harus berkompromi dengan tanah kering yang sesekali pecah. Di depannya, Pak Surya—ayah Ayu—berjalan dengan langkah mantap. Lelaki paruh baya itu mengenakan kemeja flanel kusam yang lengannya digulung hingga siku, sebuah caping lebar melindungi wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis usia namun tetap memancarkan wibawa."Hati-hati, Yu. Pematang yang ini agak miring karena kemarin habis diguyur hujan deras," ucap Pak Surya tanpa menoleh, namun tangan kanannya terulur ke belakang
Kabut tipis masih menggelayut malas di atas pucuk-pucuk pohon jati ketika Ayu membuka jendela kayu kamar si Mbah. Suara deritnya memecah keheningan pagi, disusul oleh aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur tetangga. Udara dingin segera merangsek masuk, membelai kulitnya yang masih hangat akibat selimut tebal. Di sampingnya, Reya masih bergulung layaknya kepompong raksasa, hanya menyisakan ujung rambutnya yang berantakan mencuat keluar."Rey, bangun. Katanya mau cari sarapan?" Ayu mengguncang bahu sepupunya itu.Reya hanya bergumam tidak jelas, menarik selimutnya lebih tinggi. "Lima menit lagi, Yu... semalam kita ghibah sampai jam dua pagi, ingat?"Ayu terkekeh. Semalam, setelah pulang dari Pesta Rakyat dengan perasaan dongkol akibat ulah Raka, mereka memang menghabiskan waktu berjam-jam di bawah temaram lampu kamar Mbah. Mereka menertawakan banyak hal, mulai dari kenangan masa kecil hingga mengumpat habis-habisan tentang betapa menyebalkannya wajah Raka yang sok tampan
Lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat berpijar di sepanjang jalan utama desa, berayun pelan ditiup angin malam yang membawa aroma tanah basah dan sate yang tengah dibakar. Malam Minggu kali ini bukan malam Minggu biasa. Bagi warga Desa tempat Ayu lahir, ini adalah malam "Pesta Rakyat"—sebuah ritual syukur tahunan atas panen padi yang melimpah ruah. Suara gamelan bertalu-talu dari arah balai desa, menyatu dengan tawa anak-anak yang berlarian membawa kembang api kecil.Ayu menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya penuh dengan aroma khas kampung halamannya. Ia mengenakan gamis sederhana namun anggun, sementara rambutnya yang biasanya diikat, malam ini ia biarkan tergerai rapi."Ayu! Jangan melamun terus, ayo ke stand sebelah sana! Katanya ada kerak telor dan dawet ayu yang paling enak se-kecamatan!" teriak Reya, sepupunya yang punya energi layaknya baterai yang tidak pernah habis.Ayu tertawa kecil, melangkah menyusul Reya yang sudah lebih dulu berdiri di depan sebuah gero
Selama lima tahun itu, komunikasi dengan orang tua hanya bisa dilakukan melalui panggilan telepon setiap akhir pekan. Sedangkan ayahnya, yang biasanya hanya berbicara sebentar, selalu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata yang sama: “Jangan khawatir tentang kami, nak. Fokuslah pada kuliahmu. Kampung ini akan selalu ada untukmu.” Namun, tiga bulan yang lalu, panggilan telepon dari ibunya datang tidak pada hari biasa, dan suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, bahkan sedikit bergetar ketika memberitahu bahwa ayahnya telah mengalami sakit kepala yang cukup parah dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.Sejak saat itu, setiap panggilan telepon selalu diakhiri dengan permintaan yang sama dari ayahnya: “Pulanglah, Ayu. Kampung ini membutuhkanmu. Sawah, kebun, dan pabrik kita membutuhkan orang yang bisa mengelolanya dengan baik. Ayah sudah tua dan ingin segera beristirahat.” Ayu tidak bisa menolak permintaan itu; hati nya merasa tertekan. Setelah menyelesaikan semua a
Telepon genggam itu bergetar di meja kerja Ayu, memecah kesunyian malam yang hanya diisi oleh suara pendingin ruangan dan ketukan jari pada papan ketik. Nama "Ibu" terpampang di layar, disertai emoji hati berwarna merah muda yang sudah lama tidak digantinya. Ayu menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Sudah hampir jam sepuluh malam, dan ia tahu betul apa isi dari panggilan ini. Ini bukan panggilan basa-basi biasa. Ini adalah panggilan misi. "Halo, Bu," jawab Ayu, berusaha terdengar ceria, meskipun ia baru saja menyelesaikan revisi dokumen yang memakan waktu tiga jam non-stop. "Halo, Nduk. Baru selesai kerja, Nak?" Suara Ibu, lembut dan hangat, segera menyelimuti Ayu, sebuah kontras yang menenangkan dari kebisingan kota yang ia tinggali. "Iya, Bu. Baru banget ini. Ibu sama Bapak gimana kabarnya?" "Alhamdulillah, kami baik, Nak. Bapakmu barusan aja selesai minum jamu kunyit asam buat pegal-pegalnya. Dia lagi nonton TV di depan." Jeda sejenak,. "Kamu sendiri gimana? Mak







