Home / Romansa / Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati) / Bab 5: Di Bawah Terik Matahari

Share

Bab 5: Di Bawah Terik Matahari

Author: Kusuma
last update Last Updated: 2026-02-13 19:57:57

Matahari tepat berada di puncak kepala, memancarkan sinar yang begitu terik hingga seolah-olah udara di atas hamparan sawah itu menari-nari karena panas. Namun, bagi masyarakat Desa Karangjati -desa tempat Ayu-, siang hari bukan berarti berhenti. Justru di saat seperti inilah, kehidupan di sawah mencapai puncaknya.

Setelah pagi tadi berburu kuliner didesa bersama sang sepupu, kali ini Ayu melangkah hati-hati di atas pematang sawah yang sempit. Sepatunya yang biasa ia gunakan untuk berjalan di aspal ibu kota kini harus berkompromi dengan tanah kering yang sesekali pecah. Di depannya, Pak Surya—ayah Ayu—berjalan dengan langkah mantap. Lelaki paruh baya itu mengenakan kemeja flanel kusam yang lengannya digulung hingga siku, sebuah caping lebar melindungi wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis usia namun tetap memancarkan wibawa.

"Hati-hati, Yu. Pematang yang ini agak miring karena kemarin habis diguyur hujan deras," ucap Pak Surya tanpa menoleh, namun tangan kanannya terulur ke belakang, bersiap jika putri sulungnya itu kehilangan keseimbangan.

Ayu menyambut uluran tangan ayahnya sejenak, lalu kembali tegak. "Aman, Pa. Ayu masih ingat caranya jalan di sini. Cuma ya... ternyata lebih menantang daripada jalan pakai high heels di mal."

Pak Surya tertawa kecil, suara tawanya menyatu dengan gemericik air irigasi yang mengalir di parit kecil di sisi mereka. "Di kota kamu mengawasi kain dan benang. Di sini, kamu mengawasi nyawa orang banyak melalui padi-padi ini. Tanggung jawabnya beda, tapi hatinya harus sama: harus teliti."

Hari ini, Pak Surya memberikan tugas khusus kepada Ayu. Sebagai calon pewaris sebagian lahan keluarga, Ayu tidak boleh hanya tahu beres. Ia harus turun ke lapangan, memahami anatomi tanah, mengenal hama, dan yang terpenting, mengerti bagaimana cara memimpin para pekerja yang sudah membantu keluarga mereka selama puluhan tahun.

Mereka sampai di sebuah petakan sawah yang luas di mana sekitar sepuluh orang pekerja sedang sibuk melakukan proses matun—mencabuti rumput liar di sela-sela tanaman padi yang mulai menghijau.

"Lihat mereka, Yu," bisik Pak Surya, menghentikan langkahnya di pojok petakan. "Mengawasi pekerja itu bukan soal berdiri di pinggir sawah sambil bawa pecut. Itu cara lama dan salah. Mengawasi itu artinya memastikan mereka bekerja dengan benar sambil memastikan mereka merasa dihargai."

Ayu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan pena dari saku jaketnya. Ia mencatat poin-poin penting yang diucapkan ayahnya. Meski ia sudah menjadi desainer sukses di kota, di depan Pak Surya dan hamparan sawah ini, Ayu merasa kembali menjadi murid sekolah dasar yang sedang belajar mengeja kehidupan.

"Ayo, kita sapa mereka," ajak Pak Surya.

Ayu mengikuti ayahnya mendekat ke arah para pekerja. Saat para pekerja menyadari kehadiran sang pemilik lahan, beberapa dari mereka berhenti sejenak dan menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan.

"Sugeng siang, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu," sapa Ayu dengan senyum lebar dan suara yang ramah. Ia tidak menjaga jarak; ia berdiri tepat di batas sawah, bahkan sedikit membungkuk untuk menunjukkan rasa hormat.

"Ealah, Mbak Ayu! Panas-panas begini kok mau ke sawah, Mbak? Nanti kulitnya hitam lho," goda Mbok Darmi, salah satu pekerja tertua yang sudah ikut Pak Surya sejak Ayu masih bayi.

Ayu tertawa renyah. "Ah, Mbok Darmi bisa saja. Hitam sedikit tidak apa-apa, Mbok, yang penting hatinya tetap terang. Bagaimana, Mbok? Padinya sehat-sehat saja?"

Interaksi itu berlangsung cair. Ayu bertanya tentang kendala air, apakah ada tanda-tanda serangan wereng, hingga menanyakan kabar keluarga para pekerja. Ia mendengarkan setiap keluhan dan cerita mereka dengan saksama. Pak Surya memperhatikan dari belakang, sebuah senyum bangga tersungging di wajahnya. Ia melihat putrinya tidak menggunakan otoritas sebagai "anak bos", melainkan menggunakan empati sebagai sesama manusia.

"Yu, coba sini," panggil Pak Surya setelah sesi sapaan selesai.

Pak Surya mengajak Ayu turun sedikit ke arah lumpur yang agak becek. Ia menunjuk ke arah tanaman padi yang sedikit menguning di bagian bawahnya. "Coba kamu periksa. Ini bukan karena kurang air. Ini indikasi awal ada nutrisi tanah yang tidak merata. Kalau kamu jadi pengawas, kamu harus bisa membedakan mana yang haus dan mana yang kurang 'makan'."

Ayu berjongkok, mengabaikan debu yang menempel di celananya. Ia menyentuh batang padi itu dengan lembut, memeriksanya seperti ia memeriksa kualitas serat kain di kantornya. Ia mencatat pola warna daun dan posisi tanaman yang terdampak.

"Berarti takaran pupuknya perlu disesuaikan di bagian pojok sini ya, Pa?" tanya Ayu cerdas.

"Pinter. Besok, sampaikan ke Pak Jono yang pegang gudang pupuk. Jelaskan detailnya seperti yang kamu lihat sekarang. Jangan cuma bilang 'pupuknya kurang', tapi jelaskan bagian mana yang butuh perhatian lebih. Itulah tugas pengawas," jelas Pak Surya.

Selama hampir dua jam, Ayu berkeliling. Ia memeriksa pintu air, memastikan aliran dari sungai tidak tersumbat sampah plastik. Ia juga mengecek gubuk tempat para pekerja beristirahat, memastikan ada cukup air minum bersih untuk mereka. Ketekunannya luar biasa; ia tidak tampak lelah meskipun peluh mulai membasahi pelipis dan punggungnya.

Saat waktu istirahat tiba, Ayu membantu membagikan bungkusan nasi dan es teh yang tadi dibawa dengan motor oleh pekerja lain. Ia duduk di pinggiran gubuk bersama para pekerja, tidak segan berbagi tempat dengan mereka.

"Bapak sangat senang melihatmu hari ini, Yu," ujar Pak Surya saat mereka duduk berdua di bawah pohon sawo yang rindang setelah para pekerja kembali ke sawah. "Banyak anak muda sekarang yang malu mengakui kalau orang tuanya petani. Mereka lebih suka pamer gedung tinggi, tapi lupa kalau yang membuat mereka bisa makan dan tumbuh adalah tanah ini."

Ayu menatap hamparan hijau di depannya. "Ayu tidak pernah malu, Pa. Justru di sini Ayu belajar tentang kesabaran. Padi tidak bisa dipaksa tumbuh dalam semalam, sama seperti karier Ayu di kota. Semuanya butuh proses, butuh disiram, dan butuh dijaga."

Pak Surya menepuk bahu Ayu dengan bangga. "Tugas pengawas itu bukan hanya soal hasil panen yang melimpah, tapi soal menjaga keharmonisan antara tanah, tanaman, dan orang-orang yang mengerjakannya. Kalau ketiganya selaras, berkahnya akan mengalir sendiri."

Ayu mengangguk mantap. Pelajaran praktis dari ayahnya hari ini jauh lebih berharga daripada seminar manajemen manapun yang pernah ia ikuti di hotel bintang lima. Di sini, di antara bau lumpur dan sengatan matahari, Ayu belajar bahwa kepemimpinan yang sejati adalah kepemimpinan yang mau mengotori tangan dan membuka hati.

Siang itu, di bawah langit biru yang tak berawan, Ayu bukan lagi sekadar desainer kota yang sedang pulang kampung. Ia adalah seorang putri yang sedang memulangkan jiwanya pada akar, bersiap untuk menjaga warisan yang telah menghidupinya selama ini.

"Sudah cukup untuk hari ini?" tanya Pak Surya sambil berdiri dan membersihkan celananya dari sisa tanah kering.

Ayu menutup buku catatannya dengan bunyi klik pena yang mantap. "Cukup, Pa. Tapi besok Ayu mau ke sini lagi. Ayu mau lihat pintu air di blok sebelah selatan."

Pak Surya tertawa bangga. "Bagus! Itu baru anak bapak."

Mereka berdua berjalan pulang meninggalkan sawah, bayang-bayang mereka memanjang di atas pematang, seiring dengan angin semilir yang membawa aroma padi muda yang menenangkan hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 5: Di Bawah Terik Matahari

    Matahari tepat berada di puncak kepala, memancarkan sinar yang begitu terik hingga seolah-olah udara di atas hamparan sawah itu menari-nari karena panas. Namun, bagi masyarakat Desa Karangjati -desa tempat Ayu-, siang hari bukan berarti berhenti. Justru di saat seperti inilah, kehidupan di sawah mencapai puncaknya.Setelah pagi tadi berburu kuliner didesa bersama sang sepupu, kali ini Ayu melangkah hati-hati di atas pematang sawah yang sempit. Sepatunya yang biasa ia gunakan untuk berjalan di aspal ibu kota kini harus berkompromi dengan tanah kering yang sesekali pecah. Di depannya, Pak Surya—ayah Ayu—berjalan dengan langkah mantap. Lelaki paruh baya itu mengenakan kemeja flanel kusam yang lengannya digulung hingga siku, sebuah caping lebar melindungi wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis usia namun tetap memancarkan wibawa."Hati-hati, Yu. Pematang yang ini agak miring karena kemarin habis diguyur hujan deras," ucap Pak Surya tanpa menoleh, namun tangan kanannya terulur ke belakang

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 4: Udara Pagi

    Kabut tipis masih menggelayut malas di atas pucuk-pucuk pohon jati ketika Ayu membuka jendela kayu kamar si Mbah. Suara deritnya memecah keheningan pagi, disusul oleh aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur tetangga. Udara dingin segera merangsek masuk, membelai kulitnya yang masih hangat akibat selimut tebal. Di sampingnya, Reya masih bergulung layaknya kepompong raksasa, hanya menyisakan ujung rambutnya yang berantakan mencuat keluar."Rey, bangun. Katanya mau cari sarapan?" Ayu mengguncang bahu sepupunya itu.Reya hanya bergumam tidak jelas, menarik selimutnya lebih tinggi. "Lima menit lagi, Yu... semalam kita ghibah sampai jam dua pagi, ingat?"Ayu terkekeh. Semalam, setelah pulang dari Pesta Rakyat dengan perasaan dongkol akibat ulah Raka, mereka memang menghabiskan waktu berjam-jam di bawah temaram lampu kamar Mbah. Mereka menertawakan banyak hal, mulai dari kenangan masa kecil hingga mengumpat habis-habisan tentang betapa menyebalkannya wajah Raka yang sok tampan

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 3: pesta rakyat

    Lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat berpijar di sepanjang jalan utama desa, berayun pelan ditiup angin malam yang membawa aroma tanah basah dan sate yang tengah dibakar. Malam Minggu kali ini bukan malam Minggu biasa. Bagi warga Desa tempat Ayu lahir, ini adalah malam "Pesta Rakyat"—sebuah ritual syukur tahunan atas panen padi yang melimpah ruah. Suara gamelan bertalu-talu dari arah balai desa, menyatu dengan tawa anak-anak yang berlarian membawa kembang api kecil.Ayu menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-parunya penuh dengan aroma khas kampung halamannya. Ia mengenakan gamis sederhana namun anggun, sementara rambutnya yang biasanya diikat, malam ini ia biarkan tergerai rapi."Ayu! Jangan melamun terus, ayo ke stand sebelah sana! Katanya ada kerak telor dan dawet ayu yang paling enak se-kecamatan!" teriak Reya, sepupunya yang punya energi layaknya baterai yang tidak pernah habis.Ayu tertawa kecil, melangkah menyusul Reya yang sudah lebih dulu berdiri di depan sebuah gero

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 2: Kembalinya Ayu

    Selama lima tahun itu, komunikasi dengan orang tua hanya bisa dilakukan melalui panggilan telepon setiap akhir pekan. Sedangkan ayahnya, yang biasanya hanya berbicara sebentar, selalu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata yang sama: “Jangan khawatir tentang kami, nak. Fokuslah pada kuliahmu. Kampung ini akan selalu ada untukmu.” Namun, tiga bulan yang lalu, panggilan telepon dari ibunya datang tidak pada hari biasa, dan suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, bahkan sedikit bergetar ketika memberitahu bahwa ayahnya telah mengalami sakit kepala yang cukup parah dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.Sejak saat itu, setiap panggilan telepon selalu diakhiri dengan permintaan yang sama dari ayahnya: “Pulanglah, Ayu. Kampung ini membutuhkanmu. Sawah, kebun, dan pabrik kita membutuhkan orang yang bisa mengelolanya dengan baik. Ayah sudah tua dan ingin segera beristirahat.” Ayu tidak bisa menolak permintaan itu; hati nya merasa tertekan. Setelah menyelesaikan semua a

  • Musuh masa kecil: kembali mengusik (hati)   Bab 1: Bujuk Rayu

    Telepon genggam itu bergetar di meja kerja Ayu, memecah kesunyian malam yang hanya diisi oleh suara pendingin ruangan dan ketukan jari pada papan ketik. Nama "Ibu" terpampang di layar, disertai emoji hati berwarna merah muda yang sudah lama tidak digantinya. Ayu menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Sudah hampir jam sepuluh malam, dan ia tahu betul apa isi dari panggilan ini. Ini bukan panggilan basa-basi biasa. Ini adalah panggilan misi. "Halo, Bu," jawab Ayu, berusaha terdengar ceria, meskipun ia baru saja menyelesaikan revisi dokumen yang memakan waktu tiga jam non-stop. "Halo, Nduk. Baru selesai kerja, Nak?" Suara Ibu, lembut dan hangat, segera menyelimuti Ayu, sebuah kontras yang menenangkan dari kebisingan kota yang ia tinggali. "Iya, Bu. Baru banget ini. Ibu sama Bapak gimana kabarnya?" "Alhamdulillah, kami baik, Nak. Bapakmu barusan aja selesai minum jamu kunyit asam buat pegal-pegalnya. Dia lagi nonton TV di depan." Jeda sejenak,. "Kamu sendiri gimana? Mak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status