แชร์

Bab 6 - Di Jodohkan

ผู้เขียน: Nona Xiao
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-20 09:27:19

Ruang tamu besar itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.

Lampu kristal di langit-langit berkilau, tetapi tidak mampu menghangatkan suasana yang membeku.

Sarah berdiri di hadapan ayahnya, sementara Daniel berdiri sedikit di samping, kedua tangannya terlipat, rahangnya mengeras karena kesal.

Don Alessandro duduk di kursi utama, punggungnya tegak, sangat berwibawa.

Tatapannya tidak berkedip ke arah putrinya.

“Duduk,” katanya singkat.

Sarah menelan ludah dan duduk perlahan di sofa, tangan mengepal di pangkuannya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Suasana begitu tegang sampai Sarah hampir tidak bisa bernapas.

Akhirnya, Don Alessandro berbicara.

“Sarah,” katanya pelan… terlalu pelan.

“Kau sudah mempermalukan keluarga ini semalam.”

Sarah langsung ingin membela diri, namun Daniel menatapnya tajam, seolah mengatakan: jangan bicara dulu.

Ayahnya melanjutkan.

“Foto-foto itu sudah menyebar. Portal berita, media sosial, para investor… semua menanyakan hal yang sama.”

Ia mencondongkan tubuh, sorot matanya mengunci Sarah.

“Di mana pewaris keluarga Valente menghabiskan malamnya dan dengan pria asing.”

Sarah meremas jemarinya. “Pa… bukan seperti itu. Aku tidak mabuk dengan pria_"

“Cukup.”

Satu kata itu memotong seperti pisau dingin.

Sarah langsung terdiam.

Don Alessandro menghembuskan napas pendek, menahan amarah.

“Mulai hari ini,” katanya tegas, “kau tidak boleh lagi keluar dari mansion tanpa izinku.”

Sarah mengangkat kepala cepat.

“Apa?! Papa, itu_”

“Daniel akan memperketat keamananmu,” lanjut Don Alessandro tanpa mendengarkan protesnya.

“Kau akan dijaga 24 jam. Tidak ada bar. Tidak ada pesta. Tidak ada ‘udara’ di luar.”

Daniel mengangguk, wajahnya keras. “Aku sudah memanggil orang-orang tambahan. Mulai sekarang kau tidak akan bisa pergi tanpa pengawalan.”

Sarah menatap kakaknya dengan mata melebar, merasa dikhianati.

“Daniel… kau mendukung ini?”

“Melindungi keluarga,” jawab Daniel dingin, “bukan pilihan. Kewajiban.”

Sarah mencoba berdiri, namun ayahnya menatapnya dan Sarah kembali kaku di tempat.

“Dan satu hal lagi,” kata Don Alessandro pelan.

Napas Sarah berhenti.

“Pa…” suaranya melemah.

Don Alessandro menautkan jari-jarinya, lalu menatap Sarah seolah menilai ketahanannya.

“Kau tidak bisa terus berlarian seperti gadis biasa,” katanya.

“Kau seorang Valente. Dan seorang Valente harus memiliki ikatan yang memperkuat keluarga.”

Sarah merinding.

Ia sudah membayangkan ke arah mana pembicaraan ini pergi.

“Pa… jangan bilang_”

“Kau akan segera dijodohkan Sarah, kau tahu itu.”

Dunia Sarah runtuh seketika.

Daniel menghela napas berat, tetapi tidak membantah. Matanya gelap ia tahu ini akan terjadi, tapi mungkin tak ingin mengatakannya.

“Tidak…” bisik Sarah, suaranya nyaris patah. “Pa, tolong… tidak. Jangan lakukan ini.”

Don Alessandro tetap tak tersentuh.

“Ini sudah diputuskan,” katanya dingin.

Sarah menggeleng, air mata mulai mengambang.

Don Alessandro menambahkan.

"Victor adalah pilihan yang tepat, Sarah."

Sarah terpaku.

Darahnya terasa berhenti mengalir.

Victor Romano.

Putra keluarga Romano, keluarga mafia sekutu, kejam, ambisius… dan terkenal tidak memiliki belas kasihan dan suka mempermainkan wanita.

“Pa…” Sarah bangkit, suara gemetarnya penuh ketakutan. “Victor itu, dia bukan orang baik! Semua orang tahu siapa dia! Papa tidak bisa_”

“Aku bisa,” potong Don Alessandro dingin. “Dan aku akan melakukannya.”

Sarah menggeleng cepat. “Tidak! Aku tidak mau menikah dengan dia! Papa bahkan tidak tahu apa yang_”

“Aku tahu segalanya,” jawab ayahnya tegas. “Termasuk bahwa Victor adalah pilihan yang paling aman untuk menjaga stabilitas keluarga kita.”

Aman?

Sarah hampir tertawa kalau saja dadanya tidak begitu sakit.

Ayahnya melanjutkan.

“Kau akan bertunangan dalam beberapa minggu. Pernikahan menyusul setelah persiapan selesai. Tidak ada pembahasan lagi.”

Sarah terengah, tidak percaya.

Beberapa air mata akhirnya jatuh.

Daniel melangkah maju, mencoba menyentuh pundaknya tetapi Sarah menepisnya dengan kasar.

“Jangan sentuh aku!” katanya dengan suara pecah.

“Kalian tidak mengerti! Aku... aku bahkan tidak mencintai Victor! Aku bahkan tidak mengenalnya!”

“Kau tidak perlu cinta,” balas Don Alessandro dingin. “Kau hanya perlu menikah.”

Suara itu begitu final.

Begitu mutlak.

Sarah berdiri, tubuhnya gemetar hebat.

“Kalau begitu… kalau begitu aku akan keluar dari rumah ini,” katanya dengan suara bergetar.

Namun Don Alessandro hanya tersenyum miring senyum yang tidak pernah membuat siapa pun merasa aman.

“Silakan coba,” katanya.

“Tapi selama aku masih hidup… tidak ada seorang pun bisa melarikan diri dari nama Valente.”

Sarah terdiam.

Nafasnya semakin tidak teratur.

Ayahnya mengangkat dagu sedikit, menandakan percakapan selesai.

“Ke kamarmu,” katanya tenang.

“Kau butuh waktu untuk menerima takdirmu.”

Sarah tidak punya suara tersisa untuk melawan.

Ia berbalik berlari menaiki tangga sementara Daniel menatap punggungnya dengan rahang keras, tampak menyesal

tapi tidak cukup untuk menghentikan keputusan ayah mereka.

Dan akhirnya, begitu Sarah menghilang di lantai atas…

Daniel berbisik ke ayahnya,

“Papa… kau yakin ini jalan terbaik?”

Don Alessandro menatap gelas anggurnya dan berkata pelan,

“Victor Romano punya kekuatan yang kita butuhkan.”

Lalu ia menatap arah tangga.

“Dan gadis itu… harus belajar bahwa dunia ini tidak akan menunggunya tumbuh dewasa.”

***

Begitu pintu kamarnya tertutup, Sarah tidak lagi mencoba terlihat kuat.

Dia membanting tubuhnya ke tempat tidur, menekan wajahnya ke bantal dan akhirnya, semua yang ia tahan sejak tadi pecah begitu saja.

Air mata mengalir deras, membasahi seprai ivory yang lembut.

Isaknya terputus-putus. Bahunya bergetar.

“Kenapa… semuanya selalu seperti ini…?” bisiknya lirih.

Pusing.

Sesak.

Seakan semua yang terjadi pagi ini belum cukup berat, seluruh ingatannya memutar balik ke semalam.

Ke dirinya yang berdiri di tengah club malam lampu neon kelabu, musik menghentak, dan satu wajah yang seharusnya membuatnya merasa aman…

Bianca.

Sahabat yang sudah bertahun-tahun bersamanya.

Satu-satunya orang yang selalu membuatnya merasa normal.

Satu-satunya yang tahu betapa Sarah muak dikurung di rumah seperti boneka emas.

Namun malam itu…

Sesuatu berbeda.

Sarah menutup mata, memaksa ingatannya keluar.

“Tenang, Sarah,” kata Bianca sambil menempelkan gelas ke bibir Sarah.

“Cuma sedikit minum. Kita cuma mau bersenang-senang. Kau butuh rileks.”

Sarah ingat dirinya menolak.

Ia ingat gelas itu ia dorong pelan.

“Bianca, aku tidak boleh… Papa akan marah kalau tahu aku ke sini.”

Bianca tersenyum lebar terlalu lebar.

“Tolonglah. Kau hidup sekali. Lagipula, siapa yang akan bilang ke Papamu? Aku? Ck. Aku sahabatmu, Sar. Aku tidak akan mengkhianatimu.”

Sarah merinding mengingat kata-kata itu.

Sahabat tidak akan mengkhianatimu…

Namun Bianca memaksa gelas itu kembali ke tangan Sarah.

Bianca tertawa saat Sarah mulai merasa pusing.

Bianca menghilang entah ke mana saat Sarah mulai limbung.

Yang tersisa hanyalah suara samar…

lengan seorang pria yang menahan tubuhnya…

dan dunia yang memudar.

Ia memeluk dirinya sendiri, tubuhnya kembali bergetar.

“Aku bodoh… kenapa aku percaya padamu, Bianca…?” suaranya parau.

Bantal di tangannya sudah basah.

Ia menggigit bibirnya sampai terasa asin, mencoba menghentikan tangis tapi gagal.

Sarah menatap langit-langit, pandangan kabur.

Bianca tahu, bahwa Sarah belum pernah keluar malam sebelumnya.

Bianca tahu betapa polosnya Sarah soal alkohol.

Bianca tahu Sarah sedang stres soal perjodohan dengan Victor dan Bianca ingin mendapatkan Victor.

Bianca tahu…

bahwa pengkhianatan seorang sahabat selalu lebih menyakitkan daripada ancaman seorang musuh.

“Kenapa… kenapa kau lakukan itu padaku…?” suara Sarah pecah.

Ia tidak tahu apakah Bianca menjebaknya karena iri…

karena tekanan dari luar…

atau ada alasan lain.

Yang ia tahu hanyalah satu:

Bianca bukan lagi sahabatnya.

Dan malam itu, Sarah bukan hanya disesatkan.

Ia ditinggalkan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Musuhku Canduku    Bab 56 - Bangun Pagi

    Zayn melepaskan pelukan sesaat, cukup untuk menatap mata Sarah dengan serius. Ada kesan lembut di sana, sesuatu yang tidak sempat muncul semalam karena gelombang hasrat yang terlalu liar.“Sarah,” suaranya rendah, namun bukan lagi hanya bisikan menggoda. “Aku… ingin kau tahu sesuatu.”Sarah menatapnya, lelah tapi penasaran. “Apa?”Zayn menghela napas, memiringkan kepala, membiarkan cahaya pagi menyorot wajahnya yang tegas, tapi kini lebih terbuka, lebih manusiawi. “Aku tidak hanya ingin malam seperti ini. Aku… ingin pagi, siang, bahkan hari-hari biasa bersamamu. Bukan hanya saat kita… terseret badai.”Detik itu, hati Sarah berdebar berbeda. Gelombang yang meninju tubuhnya semalam terasa masih segar, tapi kata-kata Zayn menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh sentuhan atau ciuman.“Apa kau serius?” tanyanya, suaranya sedikit serak.Zayn mengangguk, tanpa tersenyum kali ini. Matanya tetap menatap, menembus hingga ke tempat Sarah biasanya menyembunyikan k

  • Musuhku Canduku    Bab 55 - Kelelahan

    Malam itu tidak lagi mengenal jam.Hanya napas.Hanya kulit yang menemukan kulit.Hanya dua detak yang saling mengejar sampai tak jelas mana yang lebih dulu berlari.Zayn mencium Sarah seolah waktu adalah sesuatu yang bisa ia tekuk sesuka hati. Tidak terburu, tidak ragu. Setiap sentuhan adalah kalimat panjang yang ia tulis perlahan di tubuh perempuan itu di bahunya, di punggungnya, di lekuk-lekuk yang dulu ia hafal dan kini ia temukan kembali seperti rahasia lama yang dibuka ulang.Sarah tidak lagi menahan.Ia menjawab.Dengan tangan yang mencengkeram seprai.Dengan napas yang pecah.Dengan suara lirih yang hilang di antara desah dan bisikan nama Zayn yang berulang-ulang, seperti doa yang tak sempat selesai.Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram. Bayangan mereka bergerak di dinding kadang menyatu, kadang terpisah, lalu menyatu lagi. Ritmenya naik turun seperti gelombang yang tak pernah benar-benar surut.Zayn tidak tergesa.Ia menikmati setiap reaksi kecil Sarah gemetar halus di

  • Musuhku Canduku    Bab 54 - Gairah Asmara

    Zayn tidak memberi jarak. Bukan dengan kasar. Bukan dengan kemarahan. Tapi dengan keteguhan yang membuat Sarah sulit bernapas. “Lihat aku,” bisiknya. Sarah menggeleng pelan, tapi jari-jari Zayn sudah lebih dulu menyusuri pergelangan tangannya mengangkatnya perlahan, menahannya di udara sejenak seolah menunggu penolakan yang tidak pernah benar-benar datang. “Kau masih mau menjauh?” tanyanya rendah. Sarah hendak berkata iya. Namun napasnya sudah tak teratur. Zayn mendekat lagi. Tangannya turun ke pinggang Sarah, menariknya perlahan hingga tubuh mereka kembali tanpa jarak. Sentuhannya datang bertubi-tubi di punggungnya, di lengannya, di rahangnya yang diangkat pelan agar tatapan mereka bertemu. Bukan kasar. Tapi tanpa memberi ruang bagi Sarah untuk bersembunyi dari perasaannya sendiri. “Zayn…” suaranya melemah, bukan karena takut melainkan karena terlalu sadar. Sadar bahwa setiap sentuhan itu membangunkan sesuatu yang sudah lama ia kubur. Zayn menelusuri garis lehernya deng

  • Musuhku Canduku    Bab 53 - Mengklaim Dirimu Kembali

    Zayn tidak membiarkan Sarah menarik diri. Dengan setiap langkah mendekat, rasa cemas Sarah semakin membesar, meskipun ia tahu bahwa ia tidak bisa lari. Ada daya tarik yang sangat kuat keinginan yang tak bisa ia lawan meski mulutnya masih berusaha untuk berkata tidak.“Kamu masih berpikir bisa menahan diri, bukan?” suara Zayn rendah, menggetarkan. Ia tidak mengangkat suaranya, namun kata-katanya datang begitu dalam, seolah memaksa Sarah untuk mendengarnya.Sarah menunduk, berusaha menghindari tatapan Zayn yang penuh makna. "Aku tidak ingin ini," jawabnya, suaranya bergetar, namun ia tahu bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa lemah. Apakah ia benar-benar tidak menginginkan ini? Atau apakah ia hanya takut menghadapinya?Zayn melangkah lebih dekat, mengangkat dagu Sarah perlahan agar wajah mereka bertemu. “Tapi kamu sudah di sini, Sarah. Kita sudah di titik ini. Kau dan aku tidak bisa melarikan diri lagi, bahkan jika itu yang kau inginkan.” Tatapannya penuh dengan keyakinan,

  • Musuhku Canduku    Bab 52 - Hukuman Nikmat

    Mobil hitam itu meluncur membelah malam tanpa suara.Kevin tertidur di kursi belakang, kepalanya bersandar di bahu Sarah. Tangannya masih menggenggam ujung lengan ibunya, seolah takut terlepas.Di kursi depan, Zayn menatap lurus ke jalan.Wajahnya tenang.Terlalu tenang.Sarah menatap siluetnya dari kaca spion. Lima tahun tidak menghapus apa pun. Garis rahangnya masih tegas. Tatapannya masih sulit ditebak.Dan ia masih sama berbahayanya.“Ke mana kita pergi?” tanya Sarah akhirnya, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin.“Pulang,” jawab Zayn singkat.“Kita sudah tidak punya rumah bersama.”“Aku tidak pernah menjualnya.”Jawaban itu membuat jantung Sarah mencelos.Rumah itu.Rumah yang ia tinggalkan dengan air mata dan rahasia.Rumah yang menjadi awal sekaligus akhir segalanya.Gerbang besi tinggi terbuka perlahan ketika mobil mendekat.Mansion Velasco ResidenceLampu-lampu taman menyala otomatis, menerangi bangunan megah yang berdiri angkuh di tengah lahan luas.Sarah menahan napas

  • Musuhku Canduku    Bab 51 - Kau Milikku

    Pintu ruang kerja Zayn tertutup rapat ketika Bass masuk. Langkahnya terukur. Wajahnya tidak setenang biasanya. “Bos… semua data sudah saya kumpulkan.” Zayn tetap duduk, jarinya berhenti di atas dokumen yang sedang ia baca. “Tentang Rose?” “Iya.” Bass meletakkan map tebal di atas meja. Isinya bukan dokumen pernikahan atau catatan rumah sakit. Tidak ada itu. Semua bersih. Justru itu yang mencurigakan. “Aku mulai dari sistem internal,” jelas Bass. “Identitas Rose baru muncul lima tahun lalu. Tidak ada riwayat pekerjaan sebelumnya. Tidak ada referensi lama. Tidak ada keluarga yang bisa dihubungi.” Zayn mengangkat wajah perlahan. “Lanjut.” “Aku tarik data imigrasi lama. Lima tahun lalu, pada malam yang sama ketika… Nyonya menghilang…” Hening. “Seorang perempuan bernama Sarah Valente meninggalkan Indonesia. Tujuannya: luar negeri. Setelah itu, jejaknya kabur. Tidak ada aktivitas finansial di sini. Tidak ada transaksi. Seolah dia benar-benar memutus semua ikatan.”

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status