ログインSetelah mandi dan sarapan, Sarah merasa sedikit lebih segar. Ponselnya kini berada di genggamannya, dan rasa cemasnya perlahan kembali muncul. Ia ingin segera pergi dari tempat asing ini.
Pria itu berdiri di dekat pintu utama, menatapnya lama.
“Kau bisa pergi sekarang,” katanya tenang, suara rendah tapi mantap. “Jangan membuat kesalahan di jalan. Supirku akan mengantarmu."
Sarah menelan ludah, hampir tidak percaya.
“Kau… benar-benar membiarkanku pulang?” tanyanya, setengah lega tapi masih waspada.
Pria itu hanya mengangguk singkat, tidak menambahkan apa pun. Mata gelapnya tetap menatapnya seakan menekankan satu hal, jangan sekali-kali meremehkan bahaya di luar sana.
Sarah segera meraih tasnya dan melangkah keluar. Jantungnya masih berdebar, tetapi perasaan lega mulai muncul. Segera ia akan bebas dari mansion misterius ini.
Begitu pintu tertutup di belakang Sarah, Bass menatap Zayn dengan mata penuh heran.
“Bos… kau benar-benar membiarkan dia pergi begitu saja? Setelah semalam… setelah aku menjaga situasi?”
Zayn menatap lurus ke depan, wajahnya tetap datar.
“Aku tahu batasnya. Tidak semua yang kita temui harus ditahan.”
Bass mengernyit.
“Tapi dia… siapa dia sebenarnya? Kita bahkan tidak tahu apa yang bisa terjadi kalau dia pergi sekarang!”
Zayn menghela napas, menundukkan wajah sebentar sebelum menatap Bass.
“Terkadang… ada hal-hal yang lebih berbahaya kalau kita terlalu menahan. Dia akan baik-baik saja. Aku sudah memastikan itu.”
Bass menatapnya lama, masih merasa tidak yakin, tapi tidak berkata apa-apa lagi.
Hanya satu hal yang jelas bagi Bass, bosnya ini selalu memiliki alasan sendiri alasan yang sulit dimengerti, tapi selalu tepat.
Mobil bergerak meninggalkan mansion. Sarah duduk di belakang, menatap jalanan yang basah setelah hujan semalam. Ponselnya berada di tangan, dan hatinya masih berdebar antara lega bisa pergi, tapi tetap waspada.
Ia menoleh ke supir di depan. “Bisa… menurunkan aku di jalan raya saja?” tanyanya dengan nada biasa, berusaha terdengar santai.
Supir itu menoleh sebentar, ragu. “Di jalan raya? Tapi… rumah anda masih jauh dari sini Nona."
Sarah menekan bibirnya, tersenyum tipis. “Aku hanya ingin naik taksi dari sini saja. Ada beberapa urusan mendadak yang harus aku selesaikan.” Ia berusaha terdengar meyakinkan, suaranya ringan tapi tegas.
Supir itu mengangguk perlahan, sedikit mengernyit. “Kalau begitu… oke, saya turunkan di titik aman di jalan utama.”
Sarah tersenyum kecil di dalam hati. Tepat seperti yang ia rencanakan. Ia tidak ingin supir Zayn tahu rumahnya yang sebenarnya tidak ada yang boleh tahu lokasi mansion keluarganya.
Begitu mobil berhenti di pinggir jalan raya, Sarah segera keluar, tasnya di tangan. Angin pagi menyambutnya, dan ia menarik napas dalam-dalam.
“Terima kasih,” katanya kepada supir, lalu melangkah ke tepi jalan, mencari taksi.
Setiap langkahnya dipenuhi rasa waspada. Dia tidak boleh membuat kesalahan identitasnya masih harus tetap tersembunyi, dan pulang ke rumah dengan selamat adalah prioritas utama.
Di kejauhan, mansion itu terlihat samar di balik pepohonan, angin dan hujan semalam meninggalkan jejak basah di jalan. Sarah menekankan satu hal dalam pikirannya, lebih baik hati-hati daripada menyesal nanti.
Sarah pun segera menunggu taksi. Begitu sebuah taksi kuning berhenti di depannya, Sarah langsung membuka pintu belakang dan masuk cepat-cepat.
“Ke arah kota, Pak. Saya akan kasih tahu beloknya nanti,” ucap Sarah sambil menarik napas panjang.
Supir mengangguk dan taksi mulai melaju. Sarah bersandar ke kursi, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berantakan. Ia merasa akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.
Namun ketenangannya hanya bertahan beberapa detik.
Ponselnya berdering.
Layar menunjukkan satu nama yang membuat darahnya seketika membeku.
"Papa."
Don Alessandro.
Sang kepala keluarga Valente.
Pria yang ditakuti setengah kota… termasuk dirinya sendiri.
Tangan Sarah bergetar saat mengangkatnya.
“Hallo, Pa…”
Suara di seberang langsung meledak, dingin dan penuh amarah yang ditahan.
“DI MANA KAU?”
Sarah mengejit, suara keras itu menusuk telinganya.
“A-aku… sedang dalam perjalanan pulang_”
“JANGAN BERBOHONG PADAKU!”
Suara ayahnya makin naik.
“Semalaman kau menghilang. BODYGUARD-MU KEHILANGAN JEJAK. KAU TAU BERAPA BANYAK ORANG MENCARIMU?!”
Sarah menutup mulutnya dengan tangan, menahan napas. Supir melirik lewat kaca spion, tapi tak berani bertanya.
“Aku hanya… Aku butuh waktu sendiri,” bisiknya, suara pecah.
Hening.
Tapi hening yang lebih menakutkan daripada teriakan.
Kemudian Don Alessandro berbicara dengan nada rendah terlalu rendah.
“Sarah… apakah kau sadar apa yang bisa terjadi jika musuh kita tahu pewaris keluarga ini berkeliaran sendirian?”
Sarah menatap jendela, air mata mengambang.
“Aku tahu… aku minta maaf.”
"Segera kembali ke rumah!"
"Baik, Pa."
Gerbang besi raksasa itu terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas mansion Valente.
Taksi masuk dengan ragu, melewati para penjaga yang langsung menatap waspada.
Sarah menelan ludah.
Semakin dekat ke rumah, semakin terasa beban di dadanya.
Begitu taksi berhenti, dua penjaga bergegas membuka pintu untuknya.
“Nona Sarah… Don Alessandro menunggu,” kata salah satu dengan nada yang terlalu formal untuk pagi secepat ini.
Sarah hanya mengangguk kecil.
Namun baru dua langkah ia melangkah masuk ke dalam mansion…
“SARAH!”
Suara itu meletup seperti tembakan.
Sarah terpaku.
Daniel Valente kakaknya, melangkah cepat dari ruang tamu, wajahnya gelap, rahangnya mengeras seperti baja. Mata cokelat tuanya terbakar amarah.
“D-Daniel…” Sarah mundur setengah langkah.
Daniel tidak memedulikannya. Ia meraih tablet yang tergeletak di meja, lalu melemparnya ke sofa dengan gerakan frustasi.
“Kau lihat ini?” tanyanya, suaranya bergetar menahan emosi.
Sarah menggeleng pelan.
Daniel meraih tablet itu lagi dan menyalakan layarnya lalu mendorongnya ke arah wajah Sarah.
Di layar, terpampang portal berita besar:
“HEBOH! Sarah Valente, Pewaris Keluarga Valente, Terlihat Mabuk Berat dengan Pria Misterius di Bar Mewah.”
Ada foto buram Sarah…
dan seorang pria bertubuh tinggi yang menuntunnya keluar dari bar.
Kepalanya terkulai di bahu pria itu.
Wajah pria itu tidak jelas.
Sarah membeku.
“Apa-apaan ini…?” bisiknya.
Daniel tertawa pendek, tawa yang penuh amarah.
“Jangan tanya aku! Seharian aku dapat telepon dari rekan bisnis Papa, dari polisi yang ingin memastikan keamananmu, dari wartawan yang mencoba masuk ke gerbang rumah!”
Ia mendekat, menatap adiknya dengan aura yang sangat mengintimidasi.
“Apa kau sadar siapa dirimu? Kau pikir kau bisa keluar malam, mabuk, dan dipotret dengan pria asing tanpa konsekuensi?!”
“Daniel… aku tidak mabuk. Aku_”
“Oh ya?” Daniel memotongnya. “Media bilang kau tidak bisa berjalan tanpa bantuan pria itu. Bodyguard-mu bilang kau kabur. Dan Papa_”
Ia menunjuk ke ruang kerja di ujung lorong.
“Sedang menahan amarahnya supaya tidak menghancurkan seluruh rumah.”
Sarah menunduk. Napasnya bergetar.
“Tapi itu tidak seperti yang mereka kira…” ulang Sarah, hampir memohon.
Daniel mengerutkan kening. “Lalu jelaskan. Siapa pria itu? Di mana kau semalaman? Kenapa dia membawamu pergi?”
Sarah membuka mulut… tapi tidak ada kata yang keluar.
Wajah Zayn kembali muncul dalam memorinya,
sorot matanya… auranya.
suaranya…
cara ia menyelamatkannya… dan yang paling membuat bulunya merinding adalah sentuhannya. Tapi Sarah tidak ingat dengan pasti apakah dia semalam benar-benar tidur bersama pria itu.
“Aku… tidak ingat semuanya,” ucap Sarah akhirnya.
Daniel mengernyit tajam. “Tidak ingat?”
“Tidak jelas,” sahut Sarah lirih. “Aku ingat suara… seseorang. Tapi… selebihnya kabur.”
Daniel menghela napas sangat keras, mencoba menenangkan diri.
Sebelum ia sempat bicara lagi.
“Sarah.”
Suara itu terdengar dari lorong.
Don Alessandro muncul perlahan dari pintu ruang kerjanya.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada saat ia marah.
Sarah langsung merasakan seluruh tubuhnya kaku.
Daniel menatap ayahnya, lalu langkahnya mengendur.
“Papa…”
Don Alessandro mengangkat tangan sedikit, menyuruh Daniel diam.
Kemudian matanya gelap, tajam, mengintai seperti predator beralih kepada Sarah.
"Lupakan tentang hal ini. Aku akan membungkam media agar berita ini hilang dalam 24 jam!"
Zayn melepaskan pelukan sesaat, cukup untuk menatap mata Sarah dengan serius. Ada kesan lembut di sana, sesuatu yang tidak sempat muncul semalam karena gelombang hasrat yang terlalu liar.“Sarah,” suaranya rendah, namun bukan lagi hanya bisikan menggoda. “Aku… ingin kau tahu sesuatu.”Sarah menatapnya, lelah tapi penasaran. “Apa?”Zayn menghela napas, memiringkan kepala, membiarkan cahaya pagi menyorot wajahnya yang tegas, tapi kini lebih terbuka, lebih manusiawi. “Aku tidak hanya ingin malam seperti ini. Aku… ingin pagi, siang, bahkan hari-hari biasa bersamamu. Bukan hanya saat kita… terseret badai.”Detik itu, hati Sarah berdebar berbeda. Gelombang yang meninju tubuhnya semalam terasa masih segar, tapi kata-kata Zayn menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh sentuhan atau ciuman.“Apa kau serius?” tanyanya, suaranya sedikit serak.Zayn mengangguk, tanpa tersenyum kali ini. Matanya tetap menatap, menembus hingga ke tempat Sarah biasanya menyembunyikan k
Malam itu tidak lagi mengenal jam.Hanya napas.Hanya kulit yang menemukan kulit.Hanya dua detak yang saling mengejar sampai tak jelas mana yang lebih dulu berlari.Zayn mencium Sarah seolah waktu adalah sesuatu yang bisa ia tekuk sesuka hati. Tidak terburu, tidak ragu. Setiap sentuhan adalah kalimat panjang yang ia tulis perlahan di tubuh perempuan itu di bahunya, di punggungnya, di lekuk-lekuk yang dulu ia hafal dan kini ia temukan kembali seperti rahasia lama yang dibuka ulang.Sarah tidak lagi menahan.Ia menjawab.Dengan tangan yang mencengkeram seprai.Dengan napas yang pecah.Dengan suara lirih yang hilang di antara desah dan bisikan nama Zayn yang berulang-ulang, seperti doa yang tak sempat selesai.Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram. Bayangan mereka bergerak di dinding kadang menyatu, kadang terpisah, lalu menyatu lagi. Ritmenya naik turun seperti gelombang yang tak pernah benar-benar surut.Zayn tidak tergesa.Ia menikmati setiap reaksi kecil Sarah gemetar halus di
Zayn tidak memberi jarak. Bukan dengan kasar. Bukan dengan kemarahan. Tapi dengan keteguhan yang membuat Sarah sulit bernapas. “Lihat aku,” bisiknya. Sarah menggeleng pelan, tapi jari-jari Zayn sudah lebih dulu menyusuri pergelangan tangannya mengangkatnya perlahan, menahannya di udara sejenak seolah menunggu penolakan yang tidak pernah benar-benar datang. “Kau masih mau menjauh?” tanyanya rendah. Sarah hendak berkata iya. Namun napasnya sudah tak teratur. Zayn mendekat lagi. Tangannya turun ke pinggang Sarah, menariknya perlahan hingga tubuh mereka kembali tanpa jarak. Sentuhannya datang bertubi-tubi di punggungnya, di lengannya, di rahangnya yang diangkat pelan agar tatapan mereka bertemu. Bukan kasar. Tapi tanpa memberi ruang bagi Sarah untuk bersembunyi dari perasaannya sendiri. “Zayn…” suaranya melemah, bukan karena takut melainkan karena terlalu sadar. Sadar bahwa setiap sentuhan itu membangunkan sesuatu yang sudah lama ia kubur. Zayn menelusuri garis lehernya deng
Zayn tidak membiarkan Sarah menarik diri. Dengan setiap langkah mendekat, rasa cemas Sarah semakin membesar, meskipun ia tahu bahwa ia tidak bisa lari. Ada daya tarik yang sangat kuat keinginan yang tak bisa ia lawan meski mulutnya masih berusaha untuk berkata tidak.“Kamu masih berpikir bisa menahan diri, bukan?” suara Zayn rendah, menggetarkan. Ia tidak mengangkat suaranya, namun kata-katanya datang begitu dalam, seolah memaksa Sarah untuk mendengarnya.Sarah menunduk, berusaha menghindari tatapan Zayn yang penuh makna. "Aku tidak ingin ini," jawabnya, suaranya bergetar, namun ia tahu bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa lemah. Apakah ia benar-benar tidak menginginkan ini? Atau apakah ia hanya takut menghadapinya?Zayn melangkah lebih dekat, mengangkat dagu Sarah perlahan agar wajah mereka bertemu. “Tapi kamu sudah di sini, Sarah. Kita sudah di titik ini. Kau dan aku tidak bisa melarikan diri lagi, bahkan jika itu yang kau inginkan.” Tatapannya penuh dengan keyakinan,
Mobil hitam itu meluncur membelah malam tanpa suara.Kevin tertidur di kursi belakang, kepalanya bersandar di bahu Sarah. Tangannya masih menggenggam ujung lengan ibunya, seolah takut terlepas.Di kursi depan, Zayn menatap lurus ke jalan.Wajahnya tenang.Terlalu tenang.Sarah menatap siluetnya dari kaca spion. Lima tahun tidak menghapus apa pun. Garis rahangnya masih tegas. Tatapannya masih sulit ditebak.Dan ia masih sama berbahayanya.“Ke mana kita pergi?” tanya Sarah akhirnya, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin.“Pulang,” jawab Zayn singkat.“Kita sudah tidak punya rumah bersama.”“Aku tidak pernah menjualnya.”Jawaban itu membuat jantung Sarah mencelos.Rumah itu.Rumah yang ia tinggalkan dengan air mata dan rahasia.Rumah yang menjadi awal sekaligus akhir segalanya.Gerbang besi tinggi terbuka perlahan ketika mobil mendekat.Mansion Velasco ResidenceLampu-lampu taman menyala otomatis, menerangi bangunan megah yang berdiri angkuh di tengah lahan luas.Sarah menahan napas
Pintu ruang kerja Zayn tertutup rapat ketika Bass masuk. Langkahnya terukur. Wajahnya tidak setenang biasanya. “Bos… semua data sudah saya kumpulkan.” Zayn tetap duduk, jarinya berhenti di atas dokumen yang sedang ia baca. “Tentang Rose?” “Iya.” Bass meletakkan map tebal di atas meja. Isinya bukan dokumen pernikahan atau catatan rumah sakit. Tidak ada itu. Semua bersih. Justru itu yang mencurigakan. “Aku mulai dari sistem internal,” jelas Bass. “Identitas Rose baru muncul lima tahun lalu. Tidak ada riwayat pekerjaan sebelumnya. Tidak ada referensi lama. Tidak ada keluarga yang bisa dihubungi.” Zayn mengangkat wajah perlahan. “Lanjut.” “Aku tarik data imigrasi lama. Lima tahun lalu, pada malam yang sama ketika… Nyonya menghilang…” Hening. “Seorang perempuan bernama Sarah Valente meninggalkan Indonesia. Tujuannya: luar negeri. Setelah itu, jejaknya kabur. Tidak ada aktivitas finansial di sini. Tidak ada transaksi. Seolah dia benar-benar memutus semua ikatan.”







