Inicio / Mafia / Musuhku Canduku / Bab 5 - Papa Marah Besar

Compartir

Bab 5 - Papa Marah Besar

Autor: Nona Xiao
last update Última actualización: 2026-01-12 11:49:32

Setelah mandi dan sarapan, Sarah merasa sedikit lebih segar. Ponselnya kini berada di genggamannya, dan rasa cemasnya perlahan kembali muncul. Ia ingin segera pergi dari tempat asing ini.

Pria itu berdiri di dekat pintu utama, menatapnya lama.

“Kau bisa pergi sekarang,” katanya tenang, suara rendah tapi mantap. “Jangan membuat kesalahan di jalan. Supirku akan mengantarmu."

Sarah menelan ludah, hampir tidak percaya.

“Kau… benar-benar membiarkanku pulang?” tanyanya, setengah lega tapi masih waspada.

Pria itu hanya mengangguk singkat, tidak menambahkan apa pun. Mata gelapnya tetap menatapnya seakan menekankan satu hal, jangan sekali-kali meremehkan bahaya di luar sana.

Sarah segera meraih tasnya dan melangkah keluar. Jantungnya masih berdebar, tetapi perasaan lega mulai muncul. Segera ia akan bebas dari mansion misterius ini.

Begitu pintu tertutup di belakang Sarah, Bass menatap Zayn dengan mata penuh heran.

“Bos… kau benar-benar membiarkan dia pergi begitu saja? Setelah semalam… setelah aku menjaga situasi?”

Zayn menatap lurus ke depan, wajahnya tetap datar.

“Aku tahu batasnya. Tidak semua yang kita temui harus ditahan.”

Bass mengernyit.

“Tapi dia… siapa dia sebenarnya? Kita bahkan tidak tahu apa yang bisa terjadi kalau dia pergi sekarang!”

Zayn menghela napas, menundukkan wajah sebentar sebelum menatap Bass.

“Terkadang… ada hal-hal yang lebih berbahaya kalau kita terlalu menahan. Dia akan baik-baik saja. Aku sudah memastikan itu.”

Bass menatapnya lama, masih merasa tidak yakin, tapi tidak berkata apa-apa lagi.

Hanya satu hal yang jelas bagi Bass, bosnya ini selalu memiliki alasan sendiri alasan yang sulit dimengerti, tapi selalu tepat.

Mobil bergerak meninggalkan mansion. Sarah duduk di belakang, menatap jalanan yang basah setelah hujan semalam. Ponselnya berada di tangan, dan hatinya masih berdebar antara lega bisa pergi, tapi tetap waspada.

Ia menoleh ke supir di depan. “Bisa… menurunkan aku di jalan raya saja?” tanyanya dengan nada biasa, berusaha terdengar santai.

Supir itu menoleh sebentar, ragu. “Di jalan raya? Tapi… rumah anda masih jauh dari sini Nona."

Sarah menekan bibirnya, tersenyum tipis. “Aku hanya ingin naik taksi dari sini saja. Ada beberapa urusan mendadak yang harus aku selesaikan.” Ia berusaha terdengar meyakinkan, suaranya ringan tapi tegas.

Supir itu mengangguk perlahan, sedikit mengernyit. “Kalau begitu… oke, saya turunkan di titik aman di jalan utama.”

Sarah tersenyum kecil di dalam hati. Tepat seperti yang ia rencanakan. Ia tidak ingin supir Zayn tahu rumahnya yang sebenarnya tidak ada yang boleh tahu lokasi mansion keluarganya.

Begitu mobil berhenti di pinggir jalan raya, Sarah segera keluar, tasnya di tangan. Angin pagi menyambutnya, dan ia menarik napas dalam-dalam.

“Terima kasih,” katanya kepada supir, lalu melangkah ke tepi jalan, mencari taksi.

Setiap langkahnya dipenuhi rasa waspada. Dia tidak boleh membuat kesalahan identitasnya masih harus tetap tersembunyi, dan pulang ke rumah dengan selamat adalah prioritas utama.

Di kejauhan, mansion itu terlihat samar di balik pepohonan, angin dan hujan semalam meninggalkan jejak basah di jalan. Sarah menekankan satu hal dalam pikirannya, lebih baik hati-hati daripada menyesal nanti.

Sarah pun segera menunggu taksi. Begitu sebuah taksi kuning berhenti di depannya, Sarah langsung membuka pintu belakang dan masuk cepat-cepat.

“Ke arah kota, Pak. Saya akan kasih tahu beloknya nanti,” ucap Sarah sambil menarik napas panjang.

Supir mengangguk dan taksi mulai melaju. Sarah bersandar ke kursi, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berantakan. Ia merasa akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.

Namun ketenangannya hanya bertahan beberapa detik.

Ponselnya berdering.

Layar menunjukkan satu nama yang membuat darahnya seketika membeku.

"Papa."

Don Alessandro.

Sang kepala keluarga Valente.

Pria yang ditakuti setengah kota… termasuk dirinya sendiri.

Tangan Sarah bergetar saat mengangkatnya.

“Hallo, Pa…”

Suara di seberang langsung meledak, dingin dan penuh amarah yang ditahan.

“DI MANA KAU?”

Sarah mengejit, suara keras itu menusuk telinganya.

“A-aku… sedang dalam perjalanan pulang_”

“JANGAN BERBOHONG PADAKU!”

Suara ayahnya makin naik.

“Semalaman kau menghilang. BODYGUARD-MU KEHILANGAN JEJAK. KAU TAU BERAPA BANYAK ORANG MENCARIMU?!”

Sarah menutup mulutnya dengan tangan, menahan napas. Supir melirik lewat kaca spion, tapi tak berani bertanya.

“Aku hanya… Aku butuh waktu sendiri,” bisiknya, suara pecah.

Hening.

Tapi hening yang lebih menakutkan daripada teriakan.

Kemudian Don Alessandro berbicara dengan nada rendah terlalu rendah.

“Sarah… apakah kau sadar apa yang bisa terjadi jika musuh kita tahu pewaris keluarga ini berkeliaran sendirian?”

Sarah menatap jendela, air mata mengambang.

“Aku tahu… aku minta maaf.”

"Segera kembali ke rumah!"

"Baik, Pa."

Gerbang besi raksasa itu terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas mansion Valente.

Taksi masuk dengan ragu, melewati para penjaga yang langsung menatap waspada.

Sarah menelan ludah.

Semakin dekat ke rumah, semakin terasa beban di dadanya.

Begitu taksi berhenti, dua penjaga bergegas membuka pintu untuknya.

“Nona Sarah… Don Alessandro menunggu,” kata salah satu dengan nada yang terlalu formal untuk pagi secepat ini.

Sarah hanya mengangguk kecil.

Namun baru dua langkah ia melangkah masuk ke dalam mansion…

“SARAH!”

Suara itu meletup seperti tembakan.

Sarah terpaku.

Daniel Valente kakaknya, melangkah cepat dari ruang tamu, wajahnya gelap, rahangnya mengeras seperti baja. Mata cokelat tuanya terbakar amarah.

“D-Daniel…” Sarah mundur setengah langkah.

Daniel tidak memedulikannya. Ia meraih tablet yang tergeletak di meja, lalu melemparnya ke sofa dengan gerakan frustasi.

“Kau lihat ini?” tanyanya, suaranya bergetar menahan emosi.

Sarah menggeleng pelan.

Daniel meraih tablet itu lagi dan menyalakan layarnya lalu mendorongnya ke arah wajah Sarah.

Di layar, terpampang portal berita besar:

“HEBOH! Sarah Valente, Pewaris Keluarga Valente, Terlihat Mabuk Berat dengan Pria Misterius di Bar Mewah.”

Ada foto buram Sarah…

dan seorang pria bertubuh tinggi yang menuntunnya keluar dari bar.

Kepalanya terkulai di bahu pria itu.

Wajah pria itu tidak jelas.

Sarah membeku.

“Apa-apaan ini…?” bisiknya.

Daniel tertawa pendek, tawa yang penuh amarah.

“Jangan tanya aku! Seharian aku dapat telepon dari rekan bisnis Papa, dari polisi yang ingin memastikan keamananmu, dari wartawan yang mencoba masuk ke gerbang rumah!”

Ia mendekat, menatap adiknya dengan aura yang sangat mengintimidasi.

“Apa kau sadar siapa dirimu? Kau pikir kau bisa keluar malam, mabuk, dan dipotret dengan pria asing tanpa konsekuensi?!”

“Daniel… aku tidak mabuk. Aku_”

“Oh ya?” Daniel memotongnya. “Media bilang kau tidak bisa berjalan tanpa bantuan pria itu. Bodyguard-mu bilang kau kabur. Dan Papa_”

Ia menunjuk ke ruang kerja di ujung lorong.

“Sedang menahan amarahnya supaya tidak menghancurkan seluruh rumah.”

Sarah menunduk. Napasnya bergetar.

“Tapi itu tidak seperti yang mereka kira…” ulang Sarah, hampir memohon.

Daniel mengerutkan kening. “Lalu jelaskan. Siapa pria itu? Di mana kau semalaman? Kenapa dia membawamu pergi?”

Sarah membuka mulut… tapi tidak ada kata yang keluar.

Wajah Zayn kembali muncul dalam memorinya,

sorot matanya… auranya.

suaranya…

cara ia menyelamatkannya… dan yang paling membuat bulunya merinding adalah sentuhannya. Tapi Sarah tidak ingat dengan pasti apakah dia semalam benar-benar tidur bersama pria itu.

“Aku… tidak ingat semuanya,” ucap Sarah akhirnya.

Daniel mengernyit tajam. “Tidak ingat?”

“Tidak jelas,” sahut Sarah lirih. “Aku ingat suara… seseorang. Tapi… selebihnya kabur.”

Daniel menghela napas sangat keras, mencoba menenangkan diri.

Sebelum ia sempat bicara lagi.

“Sarah.”

Suara itu terdengar dari lorong.

Don Alessandro muncul perlahan dari pintu ruang kerjanya.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Dan itu jauh lebih berbahaya daripada saat ia marah.

Sarah langsung merasakan seluruh tubuhnya kaku.

Daniel menatap ayahnya, lalu langkahnya mengendur.

“Papa…”

Don Alessandro mengangkat tangan sedikit, menyuruh Daniel diam.

Kemudian matanya gelap, tajam, mengintai seperti predator beralih kepada Sarah.

"Lupakan tentang hal ini. Aku akan membungkam media agar berita ini hilang dalam 24 jam!"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Musuhku Canduku    Bab 5 - Papa Marah Besar

    Setelah mandi dan sarapan, Sarah merasa sedikit lebih segar. Ponselnya kini berada di genggamannya, dan rasa cemasnya perlahan kembali muncul. Ia ingin segera pergi dari tempat asing ini.Pria itu berdiri di dekat pintu utama, menatapnya lama.“Kau bisa pergi sekarang,” katanya tenang, suara rendah tapi mantap. “Jangan membuat kesalahan di jalan. Supirku akan mengantarmu."Sarah menelan ludah, hampir tidak percaya.“Kau… benar-benar membiarkanku pulang?” tanyanya, setengah lega tapi masih waspada.Pria itu hanya mengangguk singkat, tidak menambahkan apa pun. Mata gelapnya tetap menatapnya seakan menekankan satu hal, jangan sekali-kali meremehkan bahaya di luar sana.Sarah segera meraih tasnya dan melangkah keluar. Jantungnya masih berdebar, tetapi perasaan lega mulai muncul. Segera ia akan bebas dari mansion misterius ini.Begitu pintu tertutup di belakang Sarah, Bass menatap Zayn dengan mata penuh heran.“Bos… kau benar-benar membiarkan dia pergi begitu saja? Setelah semalam… setelah

  • Musuhku Canduku    Bab 4 - Tersadar

    Cahaya pagi menyentuh wajah Sarah, membuatnya terbangun perlahan. Kepala Sarah terasa berat, seperti baru bangun dari mimpi yang tidak jelas. Ia mengedip, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam namun semuanya kabur.Yang ia ingat hanya suara laki-laki… hangat, tenang… seolah menuntunnya keluar dari kegelapan. Wajahnya samar, hampir tidak bisa ia rekam.Begitu sadar sepenuhnya, Sarah tersentak.Ranjang tempat ia tidur bukan miliknya. Ruangan ini… bukan tempat yang ia kenal. Saat dia membuka selimut tidak ada sehelai benangpun yang ia kenakan.“Astaga! Apa... apa yang sudah ku lakukan semalam? Di mana aku…?” bisiknya, panik mulai naik ke dadaa.Ia bangun dengan cepat, hampir tergelincir karena tubuhnya masih lemah. Pandangannya menyapu ruangan mewah itu tirai tebal, perabotan gelap, suasana yang terlalu megah untuk rumah siapa pun yang ia kenal.Dan yang paling membuat napasnya tercekat,Tidak ada seorang pun di sampingnya.Tidak ada pria yang ia dengar semalam.“Siapa di

  • Musuhku Canduku    Bab 3 - Malam Yang Tak Terlupakan

    Bass menurunkan mobil di depan pintu baja ganda fasilitas. Lampu redup memantul di kaca mobil basah hujan.Zayn menahan pinggang Sarah agar ia tidak jatuh ketika keluar dari mobil. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal, dan pandangannya kabur.“Ayo… duduk dulu,” suara Zayn tegas tapi lembut. Sarah menatapnya sebentar, mencoba mengenali wajahnya, tapi hatinya masih penuh kebingungan.Tubuhnya masih terasa panas dan bergetar. “Kalian… siapa? Kenapa… menolongku?” Suaranya pecah dan lemah.Zayn menunduk, matanya serius. “Tenang… tidak ada yang akan menyakitimu di sini. Duduk dulu dan tarik napas pelan.”Bass menutup pintu mobil dan menyandarkannya ke tembok, menatap Zayn. “Setidaknya kita aman di sini. Tidak ada yang bisa masuk.”Sarah menatap keduanya, panik tapi bingung. “Kalian… siapa? Aku harus tahu…”Zayn menatapnya sebentar, wajahnya tetap serius, tanpa ekspresi lebih. “Nama… bukan hal yang penting sekarang. Yang penting kau tetap hidup.”Sarah menelan ludah, tubuhnya lemah. “T

  • Musuhku Canduku    Bab 2 - Ditolong Pria Asing

    Zayn akhirnya tiba di mobil hitamnya. Bass membuka pintu belakang, namun Sarah tiba-tiba terhuyung, lututnya nyaris menyerah. Zayn refleks meraih tubuhnya sebelum ia jatuh.“Hey, hey… jangan paksakan diri,” kata Zayn, menahan tubuh Sarah agar tetap tegak.Sarah menatap Zayn dengan mata setengah terbuka, suaranya pecah.“Aku takut…”Untuk pertama kalinya, ekspresi Zayn berubah. Keras dan dingin itu luntur, berganti sesuatu yang lebih dalam. Lebih… protektif.“Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini.”Suaranya rendah, penuh janji yang bahkan Sarah tak yakin mengerti.“Sekarang… masuk ke dalam mobil. Aku akan membawamu ke tempat yang aman. Tempat di mana tidak ada yang bisa menyentuhmu.”Bass menatap Zayn heran. “Bos… kita tidak bisa bawa dia ke safehouse. Itu area paling sensitif.”“Justru karena itu,” potong Zayn tajam. “Tidak ada yang akan menduga aku membawa seorang wanita asing ke sana. Dan dia tidak bisa tetap di luar. Lihat kondisinya.”Bass terdiam. Karena Zayn benar.Sara

  • Musuhku Canduku    Bab 1 - Jebakan Malam

    Lampu neon club memantul di lantai kaca, musik berdentum sampai rasanya menembus tulang. Sarah Valente berdiri di dekat bar, memegangi gelasnya sambil tersenyum tipis. Malam ini seharusnya pesta biasa, tapi firasat buruk menghantui. Bianca Moretti selalu punya rencana.Di sudut lain, Bianca menatap Sarah dengan senyum tipis, matanya berkilat licik. Di tangannya, minuman Sarah diam-diam telah dicampur dengan obat perangsang satu langkah kecil, tapi cukup untuk membuat malam ini berubah total.“Ini baru permulaan,” gumam Bianca pelan, menahan tawa. “Sarah akan hancur… dan Victor… Victor akan menjadi milikku.”Beberapa menit kemudian, Sarah menyesap minuman itu. Kepalanya terasa berat, pandangannya kabur, dan kakinya tak lagi menahan tubuhnya. Panik merayap saat ia menyadari tubuhnya mulai goyah.“Tunggu! Pegang aku, jangan jatuh!” suara tegas terdengar di sampingnya.Sarah menoleh setengah sadar. Di depannya berdiri Zayn Velasco, tinggi, tegap, dan sepenuhnya asing. Tubuhnya masih lemah

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status