Share

Bab 3

Author: Zhar
last update publish date: 2026-03-17 14:24:37

Kebersihan warung makan di desa ini lumayan ala kadarnya, tapi menunya unik dan “liar”. Hampir semuanya hidangan eksotis: sup kelinci, sup ular campur rebung suwir, ayam iris tumis jamur hutan, dan katak rebus bumbu kuning. Semua bahan ditangkap warga desa sendiri. Dulu jarang banget, tapi belakangan ini sudah jadi makanan sehari-hari.

Meski menunya spesial, suasana makan siang agak tegang. Obrolan basa-basi cepat mati. Sekitar 15 menit kemudian, Kapten Andi letakkan sendok garpu dan nyalakan rokok kretek. Budi pinjam korek dari Kapten, ikutan nyalain satu batang. Bukan kebiasaan dia, tapi kadang kalau lagi stres atau mikir berat, dia suka ngerokok.

“Ayo berangkat!” kata Kapten Andi sambil berdiri setelah habisin rokoknya.

Semua ikut berdiri dan langsung menuju kaki bukit. Budi jalan paling belakang, main-main sama parangnya, ayun-ayun ke udara sambil latihan gerakan tebas. Bang Zain nengok ke belakang dan nyengir.

“Wah, semangat banget ya kamu, Nak? Nanti di bukit banyak rumput liar sama semak belukar. Puas deh tebas-tebasan!” goda Bang Zain.

Budi nggak tersinggung. “Saya biasa olahraga, jadi cukup fit. Kalian serahin aja buat buka jalan. Saya di depan, kalian tinggal jaga belakang.”

Sebenarnya Budi nggak terlalu semangat atau energik. Dia cuma mau latihan skill pake parang. Misi ini kelihatan lebih berbahaya dari dugaan, dan di hutan kayak gini, skill Silat level 4-nya nggak cukup kalau nggak dibantu senjata tajam. Tapi nambah skill baru nggak gampang. Nggak cukup cuma pegang parang dan tebas sana-sini. Harus kuasai gerakan dasar, butuh latihan berulang-ulang. Contohnya skill Mengemudi dia cuma level 1 meski sudah punya SIM. Bisa dibayangin betapa susahnya di hutan ini.

“Wah, mantap! Kayaknya kita harus andalkan kamu nih!” Bang Zain ketawa lebar.

Polwan muda yang tadi diem aja akhirnya nggak tahan. “Bang Zain, udah deh jangan ngejek terus!” Lalu dia nengok ke Budi, “Nggak apa-apa, Budi. Nanti kita gantian kok.”

“Aku oke kok, jangan khawatir,” jawab Budi sambil nyengir.

“Mbak Jeni, kenapa sih nyalahin aku? Dia sendiri yang sukarela,” protes Bang Zain, lalu gumam pelan, “Enak ya muda ganteng.”

Polwan yang ternyata namanya Jeni melotot ke Bang Zain tapi nggak bales lagi.

Mas Aji buru-buru nyamber, “Bang Zain, Mbak Jeni! Biar aku aja yang gantian sama Budi. Kan kita berdua yang paling muda di sini.” Dia masih baru di kerjaan, jadi ini kesempatan bagus buat buktiin diri.

“Ya udah, serahin ke Mas Aji sama Budi. Kalian semua tetap waspada, perhatiin sekitar,” tutup Kapten Andi.

Mereka lewatin desa, sampai ujung jalan cor. Jalur setapak selebar 2 meter yang biasa dipake warga sekarang sudah ditumbuhi rumput liar tinggi. Kalau bukan karena warga sering lewat, mungkin jalannya sudah nyatu sama ladang. Mereka injak rumput yang empuk, lumayan gampang dilalui.

Sesekali terdengar suara gesekan dan gerakan di semak-semak, bikin semua langsung siaga. Nggak ada yang tahu itu tikus, ular, atau apa lagi.

Bang Zain yang jalan paling belakang tiba-tiba tampar pipinya sendiri keras. Dia liat telapak tangan: seekor nyamuk gede remuk, darah segar netes.

“Anjir! Nyamuknya gede banget!” umpat Bang Zain sambil garuk-garuk pipi. Rasanya gatal luar biasa.

“Kita deket hutan, nyamuk di sini emang lebih ganas. Hati-hati ya,” ingatkan Kapten Andi.

Tiba-tiba, dari semak-semak beberapa meter di depan Budi, ada gerakan keras. Semak bergoyang hebat, lalu sesosok makhluk melompat keluar dan kabur secepat kilat. Gerakannya kayak anak panah, ninggalin jejak panjang di rerumputan. Daun-daun nutupin semuanya, jadi nggak kelihatan jelas. Gerakan mendadak itu bikin Mbak Jeni kaget, langsung teriak kecil sambil tepuk dada sendiri.

“Astaga! Itu apa tadi?!”

“Mungkin tikus kali,” jawab Mas Aji ragu-ragu. Dia juga kaget karena jalan di belakang Budi.

“Tikus? Mana ada tikus segede itu? Mungkin musang. Bikin jantungan aku,” kata Mbak Jeni, suaranya masih gemetar.

Budi yang di depan cuma sempat liat bayangan samar. Dia yakin bukan musang warnanya kehijauan. Tapi dia nggak mau tambah bikin orang takut, jadi diem aja.

Dia tarik napas dalam, pegang parang lebih erat, terus tebas semak di depan sambil fokus ke gerakan tangan. Makhluk tadi bikin dia mikir. “Kalau tanaman tumbuh secepat ini dalam beberapa bulan terakhir, gimana sama hewannya? Tumbuhan kan produsen di rantai makanan. Kalau mereka berubah, seluruh ekosistem juga ikut berubah drastis. Mungkin belum kelihatan luas, tapi pasti ada hewan-hewan tertentu yang sudah bermutasi.”

Tiba-tiba dia ingat misi yang dibatalkan. Keringat dingin keluar. Dia sempat nebak PT Borneo Jaya Trading bakal tutup dalam enam bulan, tapi nggak mikir lebih jauh. Bisa aja karena cash flow jelek, masalah keuangan, atau salah urus orang dalam. Tapi kalau digabung sama semua yang dia lihat beberapa hari ini, kesimpulannya menyeramkan: perdagangan internasional bisa terganggu total.

“Kalau darat aja udah gini, laut pasti juga berubah. Begitu kapal-kapal kargo mulai bermasalah, berapa banyak perusahaan dan orang yang kena dampaknya nggak kebayang.” Dunia kayak lagi alami perubahan besar. Budi tinggal di kota, dan meski media sering bahas, dia nggak terlalu ambil pusing. Baru sekarang, pas ke desa ini, dia sadar betapa seriusnya.

“Nggak heran harga beras naik gila-gilaan dan suku bunga bank naik terus. Habis misi ini, aku harus siap-siap,” pikir Budi dalam hati.

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di kaki bukit. Di situ ada jalur setapak lama yang sekarang ditutupi tanaman berduri dan semak lebat. Budi liat Bang Zain garuk-garuk pipi terus, dan sekarang ada benjolan sebesar kepalan bayi di situ.

“Apa-apaan tuh mukamu?” tanya Budi penasaran.

“Ini bekas sengatan nyamuk tadi. Gatalnya nggak ketulungan!” keluh Bang Zain sambil cek senjatanya dan garuk lagi.

Mbak Jeni mendekat liat, langsung kaget. “Ya ampun! Nyamuk di sini ganas banget ya? Mending aku cuti hari ini deh. Kalau mukaku jadi begini, malu ketemu orang.”

Mas Aji nahan tawa. “Mungkin Bang Zain kulitnya sensitif. Dulu temen sekelas aku gitu, tiap digigit langsung bengkak gede.”

“Ngaco kau! Kulit aku normal! Ada yang bawa minyak kayu putih atau salep nggak?” tanya Bang Zain manyun.

Budi awalnya mikir mungkin alergi kulit, tapi kalau Bang Zain bilang nggak, berarti lain. Dia kaget sendiri. “Hewan juga bermutasi ya? Nyamuk aja bisa seganas ini?”

“Ludahin aja dulu. Pakai apa yang ada,” kata Kapten Andi sambil senyum kecil. Dia sebenarnya senang liat Bang Zain kena getah. Orang itu emang suka rewel dan nggak kooperatif di kantor. Udah lama Kapten pengen kasih pelajaran kecil. “Nanti juga reda. Ayo, naik bukit sekarang. Budi, kamu duluan.”

Budi singkirkan pikiran-pikirannya, pegang parang erat, dan mulai masuk hutan dengan hati-hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mutasi Alam Liar   Bab 147

    Budi perlahan kehilangan kesadaran saat rasa lelahnya mendadak berkurang, dan dia mulai merasakan tenaganya perlahan kembali pulih. Kekuatannya pun terasa meningkat. Dengan susah payah, dia berusaha mengangkat kelopak matanya yang terasa berat banget, lalu bangkit berdiri. Tapi yang bikin Budi waspada adalah rasa aneh di tubuhnya yang sama sekali nggak hilang. Malah makin lama makin terasa mengganggu. Dia bisa merasakan ada api yang seakan membakar dari dalam dirinya. Rasanya kayak kalau nggak segera berhenti, tubuhnya bakal terbakar sendiri. "Mungkin ini racun ya?" Sambil memperhatikan kadal raksasa di depannya yang lahap memakan bangkai Cacing Gua Berkaki-Seribu itu, dia sadar kalau dugaan itu salah. Kalau cacing itu memang beracun, sekuat apa pun kadal raksasa itu, pasti bakal ada reaksi negatif setelah menelan daging dan darah sebanyak itu. Dia menepis rasa takutnya, lalu memeriksa kondisinya sendiri dengan teliti. Pung

  • Mutasi Alam Liar   Bab 146

    Ia kembali mencari kesempatan untuk menyerang. Namun, setelah merasakan sendiri betapa mengerikannya serangan lawan, kadal itu tak lagi berani menggigit tubuh cacing secara langsung. Sebagai gantinya, ia memutuskan menggunakan jurus andalannya, yaitu sabetan ekor. Bahkan binatang mutan tingkat biru tua pun tak mampu menahan kekuatan ekornya yang luar biasa. Kadal raksasa itu tak menunggu sampai cacing berbalik. Sepasang matanya yang menyerupai kristal langsung mengunci sasaran di atas. Cacing Crypt Seribu Tentakel merasakan ancaman besar mendekat. Namun, saat ia berusaha memutar tubuh untuk menghadapi serangan tersebut, semuanya sudah terlambat. Kilatan bilah pedang tiba-tiba muncul. SRAK! Cacing itu langsung meraung kesakitan. Rasa sakit yang luar biasa memicu naluri bertahan hidupnya. Tubuhnya bergerak liar, berusaha menendang dan menghantam apa pun yang berada di dekatnya. Namun, serangan membabi buta itu hanya menghantam udara dan menghasilkan suara keras. Bagi Budi, s

  • Mutasi Alam Liar   Bab 145

    Misi E+: Bunuh Cacing Crypt Seribu Tentakel. Batas waktu: 3 hari! Terima atau tolak? Notifikasi misi yang ditunggu akhirnya muncul. Budi sempat ragu sejenak sebelum menekan tombol Terima. Sampai saat ini, tidak ada alasan baginya untuk takut atau melarikan diri. Dia perlahan mencabut Parangnya dari sarungnya, menarik napas dalam-dalam, lalu melompat dari lantai empat. Sesuatu yang sulit dipercaya terjadi. Tubuhnya melayang turun dengan ringan, seolah-olah hukum fisika tak lagi berlaku baginya. Begitu kakinya menyentuh tanah, Budi langsung menjejakkan kaki dan melesat ke depan. Dalam sekejap, tubuhnya sudah berpindah sekitar lima meter dari titik pendaratan. Dia sedikit membungkukkan tubuh, lalu kembali melesat dengan kecepatan tinggi. Sementara itu, Cacing Crypt Seribu Tentakel terus merayap menuju kadal raksasa tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. Seolah-olah kadal mutan di

  • Mutasi Alam Liar   Bab 144

    Tiba-tiba, Budi teringat pada cacing tanah mutasi yang pernah ditemuinya sebelumnya. Ingatan tentang makhluk itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar kencang. "Jangan-jangan ada di bawah tanah!" Begitu menyadari kemungkinan tersebut, Budi langsung melompat turun dari punggung kadal raksasanya. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, dia langsung merasakan getaran samar. Namun, getaran itu semakin lama semakin kuat. Dalam sekejap, tanah berguncang hebat, seolah-olah sedang dilanda gempa berkekuatan 7 hingga 8 skala Richter. Jalanan mulai retak satu demi satu, membentuk puluhan retakan besar yang menjalar ke berbagai arah. Jantung Budi berdegup kencang. Napasnya terasa sesak, sementara tubuhnya terpaku di tempat karena ketakutan. Bahkan setelah berusaha mundur sejauh empat atau lima meter, tubuhnya masih gemetar hebat. Tiba-tiba, suara dentuman k

  • Mutasi Alam Liar   Bab 143

    Budi naik ke punggung kadal raksasanya. Setelah melirik sekilas kerumunan orang di bawah, dia langsung membalikkan badan tanpa menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Dia menepuk punggung hewan peliharaannya yang perkasa itu, lalu pergi meninggalkan distrik tersebut. Kadal raksasa itu bergerak sangat lincah, bahkan kecepatannya hampir seperti kilat. Meski tubuhnya besar, langkahnya tetap gesit dan ringan. Kurang dari satu menit, mereka sudah berhasil keluar dari distrik. Hanya dalam beberapa hari, semua luka di tubuh kadal raksasa itu sudah sembuh. Sisik-sisiknya yang sempat terkelupas juga mulai tumbuh kembali, berwarna hijau cerah dengan kilau yang mencolok. Penampilannya kini jauh berbeda dari saat pertama kali Budi bertemu dengannya. Tidak ada lagi bekas luka yang terlihat di tubuhnya. Namun, dibandingkan dengan ukuran awalnya, tubuh kadal raksasa itu justru tampak sedikit menyusut. Sekilas, dia bahkan terlihat lebih kurus dan lemah. Meski begitu, hanya Budi yang tahu betapa meng

  • Mutasi Alam Liar   Bab 142

    Saat fajar mulai menyingsing, Doni terbangun dan mendapati Budi duduk di luar rumah ketika membuka pintu utama. Budi terlihat sangat tenang dengan mata terpejam. Pakaiannya lembap karena semalaman duduk di luar. Pedang yang ditancapkan ke tanah tampak gagah diterpa cahaya matahari pagi. “Ada apa?” tanya Sandi, teman sekamar Doni yang juga bangun pagi. “Budi sedang berlatih di luar. Sebaiknya jangan ganggu dia,” jawab Doni, meski dia sendiri merasa ada sesuatu yang tidak beres. Selama beberapa hari terakhir, binatang-binatang mutasi bertingkah seperti kehilangan kendali. Mereka terus mengaum dan membuat keributan sepanjang hari. Sepertinya, ada perubahan besar yang sedang terjadi pada binatang mutasi. Cara Budi bersikap belakangan ini seolah membenarkan dugaan tersebut. Awalnya, Sandi ingin keluar untuk menghirup udara segar. Namun, begitu tahu Budi sedang berada di luar, dia langsung mengurungkan niatnya. Dia takut kepada Budi dan sebisa mungkin memilih untuk tidak berurusan denga

  • Mutasi Alam Liar   Bab 4

    Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangka

  • Mutasi Alam Liar   Bab 2

    Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebi

  • Mutasi Alam Liar   Bab 1

    Kalimantan 2040“Tscht!”Pintu bus terbuka dengan suara berderit, Budi Santoso turun mengikuti arus penumpang yang berdesak-desakan. Kemeja putih kantornya sudah basah kuyup oleh keringat, ditambah noda debu membentuk pola acak di kainnya. Naik bus setiap hari dari kantor ke rumah kontrakan adalah

  • Mutasi Alam Liar   Bab 5

    Dor! Dor!Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali.Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status