LOGINKebersihan warung makan di desa ini lumayan ala kadarnya, tapi menunya unik dan “liar”. Hampir semuanya hidangan eksotis: sup kelinci, sup ular campur rebung suwir, ayam iris tumis jamur hutan, dan katak rebus bumbu kuning. Semua bahan ditangkap warga desa sendiri. Dulu jarang banget, tapi belakangan ini sudah jadi makanan sehari-hari.
Meski menunya spesial, suasana makan siang agak tegang. Obrolan basa-basi cepat mati. Sekitar 15 menit kemudian, Kapten Andi letakkan sendok garpu dan nyalakan rokok kretek. Budi pinjam korek dari Kapten, ikutan nyalain satu batang. Bukan kebiasaan dia, tapi kadang kalau lagi stres atau mikir berat, dia suka ngerokok. “Ayo berangkat!” kata Kapten Andi sambil berdiri setelah habisin rokoknya. Semua ikut berdiri dan langsung menuju kaki bukit. Budi jalan paling belakang, main-main sama parangnya, ayun-ayun ke udara sambil latihan gerakan tebas. Bang Zain nengok ke belakang dan nyengir. “Wah, semangat banget ya kamu, Nak? Nanti di bukit banyak rumput liar sama semak belukar. Puas deh tebas-tebasan!” goda Bang Zain. Budi nggak tersinggung. “Saya biasa olahraga, jadi cukup fit. Kalian serahin aja buat buka jalan. Saya di depan, kalian tinggal jaga belakang.” Sebenarnya Budi nggak terlalu semangat atau energik. Dia cuma mau latihan skill pake parang. Misi ini kelihatan lebih berbahaya dari dugaan, dan di hutan kayak gini, skill Silat level 4-nya nggak cukup kalau nggak dibantu senjata tajam. Tapi nambah skill baru nggak gampang. Nggak cukup cuma pegang parang dan tebas sana-sini. Harus kuasai gerakan dasar, butuh latihan berulang-ulang. Contohnya skill Mengemudi dia cuma level 1 meski sudah punya SIM. Bisa dibayangin betapa susahnya di hutan ini. “Wah, mantap! Kayaknya kita harus andalkan kamu nih!” Bang Zain ketawa lebar. Polwan muda yang tadi diem aja akhirnya nggak tahan. “Bang Zain, udah deh jangan ngejek terus!” Lalu dia nengok ke Budi, “Nggak apa-apa, Budi. Nanti kita gantian kok.” “Aku oke kok, jangan khawatir,” jawab Budi sambil nyengir. “Mbak Jeni, kenapa sih nyalahin aku? Dia sendiri yang sukarela,” protes Bang Zain, lalu gumam pelan, “Enak ya muda ganteng.” Polwan yang ternyata namanya Jeni melotot ke Bang Zain tapi nggak bales lagi. Mas Aji buru-buru nyamber, “Bang Zain, Mbak Jeni! Biar aku aja yang gantian sama Budi. Kan kita berdua yang paling muda di sini.” Dia masih baru di kerjaan, jadi ini kesempatan bagus buat buktiin diri. “Ya udah, serahin ke Mas Aji sama Budi. Kalian semua tetap waspada, perhatiin sekitar,” tutup Kapten Andi. Mereka lewatin desa, sampai ujung jalan cor. Jalur setapak selebar 2 meter yang biasa dipake warga sekarang sudah ditumbuhi rumput liar tinggi. Kalau bukan karena warga sering lewat, mungkin jalannya sudah nyatu sama ladang. Mereka injak rumput yang empuk, lumayan gampang dilalui. Sesekali terdengar suara gesekan dan gerakan di semak-semak, bikin semua langsung siaga. Nggak ada yang tahu itu tikus, ular, atau apa lagi. Bang Zain yang jalan paling belakang tiba-tiba tampar pipinya sendiri keras. Dia liat telapak tangan: seekor nyamuk gede remuk, darah segar netes. “Anjir! Nyamuknya gede banget!” umpat Bang Zain sambil garuk-garuk pipi. Rasanya gatal luar biasa. “Kita deket hutan, nyamuk di sini emang lebih ganas. Hati-hati ya,” ingatkan Kapten Andi. Tiba-tiba, dari semak-semak beberapa meter di depan Budi, ada gerakan keras. Semak bergoyang hebat, lalu sesosok makhluk melompat keluar dan kabur secepat kilat. Gerakannya kayak anak panah, ninggalin jejak panjang di rerumputan. Daun-daun nutupin semuanya, jadi nggak kelihatan jelas. Gerakan mendadak itu bikin Mbak Jeni kaget, langsung teriak kecil sambil tepuk dada sendiri. “Astaga! Itu apa tadi?!” “Mungkin tikus kali,” jawab Mas Aji ragu-ragu. Dia juga kaget karena jalan di belakang Budi. “Tikus? Mana ada tikus segede itu? Mungkin musang. Bikin jantungan aku,” kata Mbak Jeni, suaranya masih gemetar. Budi yang di depan cuma sempat liat bayangan samar. Dia yakin bukan musang warnanya kehijauan. Tapi dia nggak mau tambah bikin orang takut, jadi diem aja. Dia tarik napas dalam, pegang parang lebih erat, terus tebas semak di depan sambil fokus ke gerakan tangan. Makhluk tadi bikin dia mikir. “Kalau tanaman tumbuh secepat ini dalam beberapa bulan terakhir, gimana sama hewannya? Tumbuhan kan produsen di rantai makanan. Kalau mereka berubah, seluruh ekosistem juga ikut berubah drastis. Mungkin belum kelihatan luas, tapi pasti ada hewan-hewan tertentu yang sudah bermutasi.” Tiba-tiba dia ingat misi yang dibatalkan. Keringat dingin keluar. Dia sempat nebak PT Borneo Jaya Trading bakal tutup dalam enam bulan, tapi nggak mikir lebih jauh. Bisa aja karena cash flow jelek, masalah keuangan, atau salah urus orang dalam. Tapi kalau digabung sama semua yang dia lihat beberapa hari ini, kesimpulannya menyeramkan: perdagangan internasional bisa terganggu total. “Kalau darat aja udah gini, laut pasti juga berubah. Begitu kapal-kapal kargo mulai bermasalah, berapa banyak perusahaan dan orang yang kena dampaknya nggak kebayang.” Dunia kayak lagi alami perubahan besar. Budi tinggal di kota, dan meski media sering bahas, dia nggak terlalu ambil pusing. Baru sekarang, pas ke desa ini, dia sadar betapa seriusnya. “Nggak heran harga beras naik gila-gilaan dan suku bunga bank naik terus. Habis misi ini, aku harus siap-siap,” pikir Budi dalam hati. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di kaki bukit. Di situ ada jalur setapak lama yang sekarang ditutupi tanaman berduri dan semak lebat. Budi liat Bang Zain garuk-garuk pipi terus, dan sekarang ada benjolan sebesar kepalan bayi di situ. “Apa-apaan tuh mukamu?” tanya Budi penasaran. “Ini bekas sengatan nyamuk tadi. Gatalnya nggak ketulungan!” keluh Bang Zain sambil cek senjatanya dan garuk lagi. Mbak Jeni mendekat liat, langsung kaget. “Ya ampun! Nyamuk di sini ganas banget ya? Mending aku cuti hari ini deh. Kalau mukaku jadi begini, malu ketemu orang.” Mas Aji nahan tawa. “Mungkin Bang Zain kulitnya sensitif. Dulu temen sekelas aku gitu, tiap digigit langsung bengkak gede.” “Ngaco kau! Kulit aku normal! Ada yang bawa minyak kayu putih atau salep nggak?” tanya Bang Zain manyun. Budi awalnya mikir mungkin alergi kulit, tapi kalau Bang Zain bilang nggak, berarti lain. Dia kaget sendiri. “Hewan juga bermutasi ya? Nyamuk aja bisa seganas ini?” “Ludahin aja dulu. Pakai apa yang ada,” kata Kapten Andi sambil senyum kecil. Dia sebenarnya senang liat Bang Zain kena getah. Orang itu emang suka rewel dan nggak kooperatif di kantor. Udah lama Kapten pengen kasih pelajaran kecil. “Nanti juga reda. Ayo, naik bukit sekarang. Budi, kamu duluan.” Budi singkirkan pikiran-pikirannya, pegang parang erat, dan mulai masuk hutan dengan hati-hati.Di tengah malam, jantung Budi tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan jelas.Matanya terbuka perlahan, namun tubuhnya tetap diam. Ia bingung degupan itu datang dan pergi sekejap, seolah hanya ilusi semata. Ia memusatkan pendengarannya ke luar. Hanya terdengar geraman samar binatang buas dari kejauhan, bukan hal yang bisa memicu peringatan mendadak seperti ini. Tak ada suara lain, tak ada gerakan mencurigakan.“Apakah hanya perasaanku saja?”Ia menatap Jeni dan Shinta yang tidur pulas damai di sampingnya. Perlahan rasa kantuk kembali menyergap, tapi genggamannya pada gagang parang justru makin erat.Sisa malam itu berlalu tenang tanpa gangguan.Keesokan paginya, mereka bangun satu per satu. Langit tampak kelabu pekat, seolah sebentar lagi akan turun hujan lebat.Setelah makan siang, Budi memutuskan memeriksa sekeliling kawasan. Lagipula mereka berniat menetap di sini cukup lama, jadi harus tahu bahaya apa yang mengintai.Tanaman tumbuh liar dengan luar biasa cepat hanya dalam lima hari
Jeni yang biasanya tampak kaku dan serius kini wajahnya mulai rileks, tersenyum bahagia. Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah besar itu dan memandangi sekeliling. Keadaannya jauh dari yang mereka bayangkan seolah pernah dihajar amukan binatang buas. Pilar di tengah ruangan runtuh, besi tulang beton terlihat menjulur kasar. panjang menghiasi dinding, dan bangunan ini tampak nyaris tak sanggup berdiri lagi. Budi memeriksa lantai dengan teliti, lalu mengerutkan kening. Ada banyak jejak kaki asing yang masih segar. sepertinya baru satu atau dua hari lalu. “Ada orang yang masuk ke sini,” batinnya. Jeni pun menyadarinya. Mereka saling bertatapan sejenak, lalu bergegas menuju ruang rahasia di lantai bawah. Setelah membuka pintu tersembunyi, Budi masuk duluan, diikuti Jeni yang membawa senter. “Sialan!” geram Budi. Rak-rak yang dulu penuh kini sebagian besar kosong. Beras berserakan di lantai. Hanya tersisa sedikit persediaan penting: satu setengah kotak air mineral, dua kotak minu
“Teman di sana! Tunggu dulu! Bisa bawa kami ikut?” Sebuah suara memecah kesunyian. Semua orang menoleh ke arah gedung di samping jendela terbuka dan sesosok orang menampakkan wajahnya. Mereka semua menatap Budi, menunggu keputusannya. “Ada berapa orang di sana?” tanyanya singkat. Kalau cuma sedikit, tak masalah. Kalau terlalu banyak, ia terpaksa menolak tempat dan persediaan di vila terbatas. “Dua orang! Cuma kami berdua! Di sini makin berbahaya, kami ingin ikut kalian. Lebih banyak orang lebih aman, kan?” jawab pria itu cepat. “Kalau begitu turunlah sekarang. Kita berangkat sebentar lagi.” “Baik, siap! Sekarang juga!” Pria itu tampak sangat lega dan segera menghilang dari jendela. Tak lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di bawah. Seorang pria dan istrinya, sekitar tiga puluh tahunan, membawa tas berisi barang-barang. Pakaian mereka berlapis-lapis agar terlindung, masing-masing menggantungkan panci di dada. Pria yang tadi berbicara bahkan memegang sebatang besi panjang si
Sebuah bangunan runtuh tepat di seberang jalan hingga menutup sepenuhnya jalur yang dilewati. Budi mengamati sekeliling dari persimpangan jalan, lalu menggertakkan gigi dan memutuskan mengambil rute lain.Hanya dalam beberapa hari, kota ini sudah berubah tak dikenali lagi. Reruntuhan bangunan berserakan di mana‑mana, debu tebal menutupi aspal, dan tumpukan tulang belulang manusia berjejer di pinggir jalan. Potongan kain pakaian yang ternoda darah kering berkibar pelan tertiup angin.Saat rombongannya berjalan melewati tumpukan tulang, ribuan kumbang hitam seukuran kuku jari merayap keluar dan lenyap seketika ke dalam sela‑sela puing.Beberapa hewan mutan tingkat rendah melintas di kejauhan, lalu berhenti serentak. Mata merah mereka menatap tajam ke arah rombongan manusia naluri berburu sudah terbangun.Bau busuk daging membusuk memenuhi udara, tak terlukiskan mengerikannya.Ini adalah gambaran kehancuran yang mutlak!Seandainya tidak ada lolongan binatang buas yang terdengar dari keja
Budi terus meninju udara dengan kecepatan tinggi, setiap hantaman menimbulkan suara letupan seperti kembang api!Shinta yang berdiri di mulut lorong menatap kagum pada gerakan Budi yang nyaris tak terlihat mata. Saat Budi akhirnya berhenti sambil terengah‑engah, ia segera menyodorkan handuk.“Ada apa di luar? Dari mana asal keributan tadi?” tanya Budi sambil mengelap keringat.Pemuda yang dulu sempat mengamuk hingga menghancurkan pintu itu kini tampak sangat mengagumi Budi. Ia memang berwatak keras dan kasar, tapi hatinya jujur. Sejak melihat kemampuan Budi, ia sungguh ingin menjalin persahabatan. Budi pun tak menolak ia justru menugaskannya untuk mengumpulkan informasi di sekitar tempat perlindungan.“Ada yang meninggal lagi. Orang yang kelaparan bisa jadi sangat kejam...kemarin ada bayi tertimpa saat mereka berebut makanan. Sungguh mengerikan,” ujar Shinta pelan. “Tapi tak ada yang berani mengganggu kita. Semua orang menjauh begitu melihat apa yang kau lakukan.”Baru lima hari berla
Budi terbangun kaget karena suara gaduh dari luar tenda. Secara naluriah tangannya mencengkeram gagang parang erat, lalu perlahan membuka mata. Ia berusaha bergerak pelan untuk melewati tubuh kedua gadis itu, namun gerakannya yang tak sehalus itu justru membuat mereka terbangun sekaligus. “Ada apa?” Jeni langsung bangkit dan mencengkeram pistol di pinggangnya dengan waspada. “Tidak apa‑apa, kembali tidur saja. Aku cuma mau cek ke luar sebentar,” jawabnya tenang, lalu membuka ritsleting tenda dan berjalan menuju sumber suara. Terdengar pertengkaran sengit meski mereka berusaha mengecilkan suara, kemarahan itu masih terdengar jelas. “Kalian berani kasih kami makan sampah begini?!” “Mana bisa kenyang? Buburnya bening sekali sampai bayangan sendiri kelihatan!” “Panggil pemimpin kalian ke sini sekarang! Jangan kira kami tak tahu kalian punya stok lebih! Mau bikin marah Mas Budi kami, hah?!”
Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangka
Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebi
Kalimantan 2040“Tscht!”Pintu bus terbuka dengan suara berderit, Budi Santoso turun mengikuti arus penumpang yang berdesak-desakan. Kemeja putih kantornya sudah basah kuyup oleh keringat, ditambah noda debu membentuk pola acak di kainnya. Naik bus setiap hari dari kantor ke rumah kontrakan adalah
Jantung Budi serasa mau copot dari tempatnya. Selama ini dia membayangkan kalau Cacing Tanah Korosif ini cuma versi mutasi dari cacing tanah biasa yang pernah dia temui sebulan yang lalu badannya memang besar, tapi nggak terlalu agresif, meski baunya busuk sampai bikin muntah. Tapi makhluk di dep







