Share

Bab 73

Author: Zhar
last update publish date: 2026-06-05 08:11:30

Masakan sore itu sangat sederhana. Hanya ada sepiring kecil acar sayur dan dua butir telur asin. Makanan jenis ini sudah dibeli dan disimpan Budi jauh sebelum wabah Covid mewabah. Ia memang sengaja menimbun banyak barang yang awet dan tak mudah rusak, dan masih masih ada sisa simpanan yang cukup.

Daging hewan bermutasi yang dibawanya pulang kemarin sudah direndam dan disiapkan, tapi mengingat masa-masa sulit seperti ini takkan berakhir dalam waktu dekat, ia memutuskan belum wak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mutasi Alam Liar   Bab 75

    Sampai di kamarnya sendiri, Budi baru merasa lega. Dia mengeluarkan bra dan celana dalam itu dari sakunya. Barang-barang kecil berwarna putih itu terlihat mungil sekali, dan masih tercium wangi sabun yang lembut dan segar. Perasaannya jadi agak aneh, seolah-olah dia orang yang tidak bermoral. Dia meletakkan barang-barang itu sejenak lalu berjalan ke arah lemari penyimpanan. Dia membuka salah satu laci yang isinya sudah tinggal separuh saja, berisi bulu-bulu burung hantu berwarna hitam. Karena sudah sering dipakai, persediaannya makin menipis. Sebagian besar bulu itu diambil dari bagian ekor burung hantu. Dia sedang memilih beberapa helai bulu yang ukurannya agak pendek, tapi tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu. Pintu kamarnya dibuka! Bagi pendengaran Budi yang sangat tajam, bunyi itu terdengar sekeras ledakan! Dia kaget bukan main, buru-buru berdiri tegak. Saat dia bergegas menuju tempat tidur, pintu kamar sudah terbuka lebar dan se

  • Mutasi Alam Liar   Bab 74

    “Seratus lima puluh... seratus lima puluh satu... seratus lima puluh dua...” Di ruang tamu, Budi sedang melakukan gerakan push-up dengan kecepatan luar biasa hampir lima kali dorongan dalam sedetik. Keringat mengalir deras membasahi punggungnya, kulitnya yang putih kini tampak berkilau karena keringat. Ia terus bergerak seperti mesin yang bekerja dengan presisi dan kecepatan tinggi. Otot di punggungnya tampak seperti sepasang sayap, mengembang dan mengerut mengikuti setiap gerakan, menarik otot-otot panjang dan ramping di sekitarnya hingga membentuk rangkaian otot yang padat dan kokoh. Shinta berdiri di sudut ruangan, diam-diam mengamati Budi. Sejak masih remaja, ia selalu merasa penasaran sekaligus malu-malu saat melihatnya. Ditambah lagi, suara-suara samar yang kadang terdengar dari kamar Budi membuat rasa ingin tahunya makin besar. Ia menarik napas panjang, memberanikan diri, lalu berjalan perlahan mendekati Budi sambil berusaha bersik

  • Mutasi Alam Liar   Bab 73

    Masakan sore itu sangat sederhana. Hanya ada sepiring kecil acar sayur dan dua butir telur asin. Makanan jenis ini sudah dibeli dan disimpan Budi jauh sebelum wabah Covid mewabah. Ia memang sengaja menimbun banyak barang yang awet dan tak mudah rusak, dan masih masih ada sisa simpanan yang cukup. Daging hewan bermutasi yang dibawanya pulang kemarin sudah direndam dan disiapkan, tapi mengingat masa-masa sulit seperti ini takkan berakhir dalam waktu dekat, ia memutuskan belum waktunya untuk memakan daging itu. Dulu, makanan mereka selalu lengkap dengan daging dan ikan bergizi. Tapi belakangan ini, nafsu makan semua orang jadi berkurang drastis. Bahkan Shinta berhenti makan setelah hanya menelan beberapa suap saja. Malam harinya, sebuah mobil jip melaju masuk ke kawasan perumahan mereka. Dua orang polisi lengkap dengan pakaian pelindung dari ujung kepala sampai ujung kaki turun dari kendaraan itu. Di punggung mereka terpasang alat penyembur

  • Mutasi Alam Liar   Bab 72

    Ketukan cepat terdengar dari pintu, “Buka pintunya! Tolong! Bantu istriku! Kumohon!” Budi saling bertatapan dengan Jeni sebelum beranjak berdiri untuk mengintip lewat lubang intip. Ternyata tetangga mereka yang tinggal tepat di seberang rumahnya yang sedang mengetuk pintu. Mereka tidak terlalu akrab, hanya sekadar saling kenal dan tahu keberadaan satu sama lain. Wajah pria itu penuh ketakutan, bercampur dengan rasa gelisah yang mendalam. Budi menduga istrinya mungkin telah digigit nyamuk bermutasi. Biasanya, siapa saja yang digigit makhluk itu takkan selamat, tapi karena mereka bertetangga, setidaknya ia harus pergi melihat keadaannya. Ia pun membuka pintu dengan ragu dan bertanya, “Ada apa?” Pria itu berkata dengan panik, “Cepat, ikutlah ke rumahku! Istriku sudah tak tahan lagi. Aku tak tahu apa yang terjadi, tadi dia sedang mengepel lantai dapur, tiba-tiba saja jatuh terkulai.” Budi menoleh ke arah Jeni, “Tutup pintu dulu

  • Mutasi Alam Liar   Bab 71

    Melompat ke kesimpulan itu memang sifat manusia. Begitu dengar ada penyakit menular, yang langsung kepikiran pasti soal karantina, wabah, sampai kematian. Kadang rasa takut malah lebih menyeramkan daripada ancaman aslinya. Dalam hitungan detik, semua orang langsung kabur. Tinggal Budi yang berdiri di sana dengan wajah kesal. Sebenarnya dia tidak takut tertular penyakit. Tapi dia sempat melihat nyamuk bermutasi beterbangan di dekat punggung pria yang tadi pingsan itu. Budi pun mendekat ke pria yang sudah sekarat tersebut, lalu membalikkan tubuhnya sambil menahan rasa jijik. Di leher pria itu muncul benjolan merah keunguan sebesar kepalan tangan. Dari titik merah di tengah benjolan, darah hitam perlahan menetes keluar. “Ini racun...” wajah Budi langsung muram. Nyamuk-nyamuk ini jelas berbeda dengan nyamuk bermutasi yang biasa muncul di IKN. Kemungkinan besar mereka datang dari hutan, makanya bisa muncul tiba-ti

  • Mutasi Alam Liar   Bab 70

    Begitu dia melihat koran, Budi menyadari bahwa ada artikel tentang orang-orang yang berevolusi di setiap halaman lainnya. Dilihat dari apa yang dia baca, segala sesuatunya tidak terlihat baik bagi mereka yang berevolusi. IKN telah menerapkan kebijakan tekanan tinggi sejak dunia mulai bermutasi, namun masih ada perampokan yang terjadi dari waktu ke waktu. Hal ini tampaknya semakin meningkat seiring dengan banyaknya orang yang berani dan terlibat dalam pembunuhan dan pemerkosaan, bahkan pembunuhan terhadap polisi dan anggota angkatan bersenjata. Ketika masalah jaminan sosial semakin besar, pemerintah kehilangan kesabaran dan memutuskan untuk memusnahkan orang-orang seperti ini sepenuhnya. Setidaknya itulah yang dia simpulkan dari membaca koran, dan sepertinya kenyataan tidak jauh berbeda. Budi meletakkan koran. Hatinya terasa sedikit lebih berat. Orang lain tidak akan pernah percaya bahwa dia bukan orang yang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status