공유

Bab 2

작가: Zhar
last update 게시일: 2026-03-17 14:24:00

Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebih sederhana dan sepi dibandingkan kantor polisi yang cuma berjarak sekitar sepuluh meter di sebelahnya.

Budi Santoso masuk ke lobi gedung pos kehutanan. Hanya ada beberapa petugas di meja resepsionis, kebanyakan lagi main kartu domino atau ngobrol santai. Dia langsung naik ke lantai dua.

Kepala Pos nggak ada, jadi Budi cuma bisa ketuk pintu kantor Wakil Kepala Pos.

“Masuk!”

Dia buka pintu. Di dalam ada seorang bapak-bapak paruh baya agak gemuk. Kantung mata tebal, kelihatan kurang tidur. Dia cuma melirik sekilas ke Budi lalu balik fokus ke dokumen di meja.

“Ada apa?” tanyanya datar.

Budi agak sebal diabaikan, tapi dia paksa senyum. “Selamat siang, Pak. Saya adik ipar Mas Joko Santoso. Dia kemarin ke sini bareng Kepala Seksi buat cek kondisi hutan, tapi sampai sekarang belum pulang. Adik ipar saya nyuruh saya ke sini buat ngecek. Bapak tahu mereka ke mana?”

Bapak itu akhirnya angkat kepala, ekspresinya berubah kaget. “Kepala Seksi Hadi sama Joko belum balik? Tunggu bentar, saya telepon dulu.”

Dia berdiri, ambil HP, dan mulai nelpon sana-sini. Keringat mulai muncul di dahinya semakin banyak. Beberapa menit kemudian, dia ambruk kembali ke kursi dengan wajah pucat.

“Kemarin mereka ke mana, Pak?” tanya Budi penasaran.

“Kemarin siang Kepala Seksi Hadi, Pak Camat setempat, Kepala Pos, sama Joko naik ke bukit buat inspeksi setelah makan siang. Seharusnya kemarin sore sudah balik. Kamu udah telepon Joko? Mungkin dia ke tempat lain?” tanyanya gelisah.

Budi langsung merasa nggak enak. Ini pertanda buruk. Dia jawab cepat, “Adik ipar saya udah nelpon berkali-kali, saya juga tadi pagi ke Dinas Kehutanan di Palangkaraya. Atasannya bilang mereka belum balik, mungkin masih di atas bukit. Yang paling penting sekarang minta bantuan polisi!”

“Iya, iya betul!” Bapak itu mengangguk panik. Kalau sampai atasan-atasan ini kenapa-kenapa, dia bisa kena sanksi berat, bahkan dipecat. Dia buru-buru berdiri dan nelpon lagi.

“Halo! Pak Kapolsek? Ini Eko dari pos kehutanan... Iya, iya... Saya ke sana sekarang... Susah jelasin lewat telepon... Saya datang langsung!” Dia tutup telepon dan bilang ke Budi, “Ayo, ikut saya ke kantor polisi!”

Budi dan Wakil Kepala Pos langsung bergegas ke kantor polisi terdekat.

Sepuluh menit kemudian, mereka sudah di ruang Kapolsek. Wakil Kepala Pos jelasin ulang semuanya. Kapolsek langsung kaget dan berdiri.

“Kok baru sekarang lapor? Ini hampir 24 jam!”

Melihat muka Eko yang muram, Kapolsek melambai tangan. “Sudah, saya telepon PA dulu.”

Dia keluar ruangan sambil nelpon. Pas balik, mukanya serius banget.

“Kalian berdua balik dulu ke pos, tunggu di sana. Saya suruh tim naik ke bukit sekarang. Pasti ketemu.”

“Terima kasih banyak, Pak Kapolsek!” Eko mengangguk hormat dan siap pulang.

Budi sadar ini bukan urusannya, tapi kalau dia nggak ikut langsung, misi nggak bakal selesai. Dia buru-buru bilang, “Pak Kapolsek, saya juga mau ikut naik!”

“Itu bahaya di atas bukit, kami nggak bisa jamin keselamatan kamu. Tunggu aja di sini ya,” tolak Kapolsek sambil cemberut.

“Saya tahu bahaya, Pak. Tapi itu kakak ipar saya. Gimana saya bisa diem aja nunggu di sini? Saya pernah ikut latihan silat dan olahraga rutin. Saya janji nggak bakal jadi beban,” kata Budi sambil berusaha kelihatan cemas.

Kapolsek memandang Budi dari atas ke bawah. Badannya tinggi, berotot, kelihatan rajin olahraga. Mungkin bisa bantu di lapangan.

“Oke. Tapi harus nurut perintah!”

“Janji, Pak!” Budi langsung setuju.

Kapolsek nelpon lagi. “Kapten Andi, minta tiga orang langsung lapor ke ruang saya sekarang!”

Tak lama, seorang pria paruh baya berkulit sawo matang masuk. “Pak Kapolsek panggil?”

“Iya, tunda dulu tugas lain. Ada masalah lebih urgent. Beberapa pejabat kota sama Camat hilang di atas bukit. Tim kamu langsung cari sekarang!”

Muka pria itu langsung serius. “Siap, Pak. Ada lagi?”

“Ini Budi Santoso, keluarga salah satu korban. Dia mau ikut, ajak dia.”

Kapten Andi melirik Budi sekilas. “Siap, Pak. Kami berangkat sekarang.”

Dia lalu menoleh ke Budi dengan nada dingin, “Ikut saya!”

Mereka keluar ruangan. Di koridor sudah ada tiga orang menunggu: dua cowok dan satu cewek, semuanya kelihatan di bawah umur 30.

Mata Budi otomatis tertuju ke cewek itu. Dia pakai seragam polisi lengan pendek, pinggang ramping, dada penuh, kaki panjang dibalut stoking tipis di bawah rok seragam. Benar-benar memikat, seperti buah matang yang siap dipetik.

“Fetish seragam nih kayanya,” pikir Budi sambil buru-buru alihkan pandangan ke dua cowok. Satu cowok umur sekitar 30, tinggi, muka penuh bekas jerawat, potongan cepak. Kalau nggak pakai seragam, bisa disangka preman. Yang satu lagi muka polos, kelihatan baru lulus.

“Kapten, hari ini ada apa sih sampe urgent gini?” tanya si cepak dengan nada santai, nggak terlalu hormat.

“Nanti di jalan cerita. Semua ganti seragam lengan panjang, siapin senjata. Kita naik bukit. Si Aji, ambilin seragam buat Budi juga, dia ikut,” perintah Kapten Andi ke polisi muda.

“Siap, Kapten!” Aji langsung jawab, lalu ke Budi, “Ikut saya. Kayaknya ukuran kita mirip. Nggak keberatan pakai seragam saya kan?”

“Nggak masalah. Makasih!” Budi senyum. “Kamu baru lulus tes CPNS tahun ini ya, Mas Aji?”

Aji ketawa. “Bukan, Mas. Saya lulusan Akpol. Masuk sini pake jalur koneksi buat tim Sabhara. Tapi kalau performa bagus, bisa pindah unit. Pokoknya kerja dulu lah!”

“Lumayan tuh, setidaknya tunjangannya oke.”

“Cukup buat hidup aja sih,” jawab Aji sambil ambil dua set seragam lengan panjang dan sepatu bot dari loker. Cuaca akhir-akhir ini lembab, seragamnya agak bau apek, tapi masih bersih.

Pas Budi selesai ganti, si cepak masuk dan nepuk kepala Budi. “Bisa jadi polisi juga nih. Dari mana asalnya, Nak? Kok ikut-ikutan naik bukit?”

Budi agak kesal, tapi diam-diam geser kepala sambil senyum. “Kakak ipar saya hilang di atas bukit. Saya ikut cari. Nama saya Budi. Panggil aja Mas Budi. Kamu siapa?”

“Panggil Bang Zain aja,” katanya sambil nyengir. “Jangan kesel ya, kebiasaan lama. Jadi kakak iparmu siapa?”

“Kerja di kehutanan,” jawab Budi singkat, lalu alihkan ke Aji. “Mas Aji, bisa kasih senjata buat bela diri nggak? Katanya di hutan bahaya banget.”

Aji geleng kepala. “Pistol nggak bisa, melanggar aturan!”

Budi cepat tanya lagi, “Pisau aja gimana? Nggak mungkin saya masuk hutan tanpa apa-apa kan?”

Aji keluar sebentar nanya Kapten, lalu balik. “Pistol nggak bisa, tapi pisau boleh. Kami banyak sitaan. Ikut ke gudang.”

Mereka ke gudang di ujung koridor. Aji buka kotak besar. Isinya macam-macam: golok, parang, pisau dapur, belati, pisau lipat, sampai golok besar.

“Pilih aja!” kata Aji murah hati.

Budi mikir. Ada ular, rotan, ranting tebal di bukit. Pisau kecil pasti nggak guna. Golok terlalu berat buat dia. Akhirnya dia ambil parang panjang yang biasa buat motong rumput dan kayu.

Dia mengayun-ayunkan parang itu beberapa kali. Rasanya pas di tangan.

Diam-diam dia berbisik, “Identifikasi.”

[Parang Tajam]

[Bahan: Baja Karbon]

[Kelangkaan: Putih]

[Berat: 2,3 kg]

[Ketajaman: 12–16]

[Kebutuhan: Kekuatan 9]

[Keterangan]

Senjata pertanian modern. Cocok untuk menebas rumput, memotong kayu, dan membunuh jika perlu.

Kualitas standar, tetapi bilahnya kuat. Ideal untuk tebasan dan potongan cepat.

“Nggak buruk. Lebih tajam dari golok dapur di kontrakan,” pikir Budi. “Yang ini aja.”

“Ayo, Kapten nunggu!” kata Aji.

Mereka keluar ke parkiran. Semua sudah di dalam mobil patroli. Budi masuk cepat. Mobil langsung jalan menuju pinggiran kota.

Setelah beberapa saat, mereka keluar jalan raya, belok ke jalan kecil. Kanan-kiri sawah dan ladang yang sekarang ditumbuhi rumput liar setinggi dada orang dewasa. Angin bertiup, kelihatan seperti lautan hijau bergoyang.

“Ini ladang kan?” tanya Budi ragu.

Polwan yang duduk di depan ikut kaget. “Iya, tapi sepuluh hari lalu pas saya lewat, rumputnya nggak segila ini. Kalau dibiarkan, bentar lagi jalan ditutup rumput.”

“Kalau ladang aja udah begini, di hutan pasti lebih parah. Kapten yakin mau naik? Nanti kita ikut hilang malah,” canda Bang Zain.

“Iya, katanya sekarang bahaya banget di bukit,” tambah polwan.

“Kalau berani, lapor langsung ke Kapolsek. Kenapa bilang ke saya? Saya cuma jalankan perintah,” jawab Kapten Andi muram.

Dia tahu betul kasus orang hilang di sekitar Bukit Muara meningkat drastis. Sudah lima orang hilang, kebanyakan warga desa dekat bukit. Tapi perintah tetaplah perintah.

“Saya rasa nggak bakal separah itu, kan? Kita bawa senjata semua. Kalau ketemu babi hutan aja masih bisa handle,” kata Budi mencoba redakan suasana.

Kalau terus bahas bahaya, bisa-bisa tim balik lagi ke kantor. Apalagi sekarang mereka tahu ada keluarga korban ikut.

“Sudah, stop bahas ini. Kita polisi. Kalau setiap ada kesulitan langsung mundur, nanti diketawain orang. Kita naik bukit, kalau terlalu bahaya ya balik. Minimal kita udah usaha. Gimana, Budi?” tanya Kapten.

“Setuju, Pak. Kalau saya yang hilang, saya yakin kakak ipar saya juga bakal cari saya,” jawab Budi pelan. Ini satu-satunya pilihan sekarang. Kalau misi terlalu bahaya, ya terpaksa gagal. Meski EXP-nya ilang banyak, tapi nyawa lebih penting.

Setengah jam kemudian, mobil masuk desa terpencil dan berhenti. Budi turun, pandang ke depan. Bukit di hadapan hamparan hijau tua pekat, tingginya nggak sampai 200 meter, tapi cukup bikin deg-degan.

“Sekarang hampir jam 11. Makan siang dulu di warung pinggir jalan, satu jam lagi kita berangkat naik bukit!”

Kapten Andi lihat jam tangan, lalu berjalan ke warung sederhana di pinggir desa.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Mutasi Alam Liar   Bab 7

    “Jeni!” “Budi!” Seseorang berteriak memanggil mereka. Budi dan Mbak Jeni langsung kaget. Mereka buru-buru menjauh satu sama lain dan berdiri tegak sebelum keluar dari balik pohon. “Itu dia. Kalian berdua lagi ngapain di situ?” Bang Zain menyeringai dengan ekspresi penuh arti. Di wajahnya masih ada bekas darah. Mbak Jeni langsung merah padam. Budi lebih cuek. Dengan ekspresi tetap tenang, dia langsung mengganti topik. “Kaki aku masih lemes. Ularnya gimana?” “Udah mati. Mana mungkin nggak mati setelah ditembak berkali-kali? Tapi gila sih. Kalau dia nggak lagi kekenyangan, mungkin kita yang mati duluan,” Bang Zain menyeringai lebar. Tiba-tiba Budi teringat sesuatu. Diam-diam dia membuka panel atribut. Misinya ternyata belum selesai. Dia bingung. Apa Mas Joko bukan dibunuh ular ini, atau masih hidup? Lalu dia sadar panel atributnya berubah sedikit. Begit

  • Mutasi Alam Liar   Bab 6

    “Ularnya gede banget… gede parah…” gumam Bang Zain. Mukanya campur aduk antara takut dan excited.“Jelasin lebih detail!” bentak Kapten Andi memotong.Bang Zain tarik napas dalam-dalam buat tenangin diri. “Badannya setebal pinggang saya, perutnya bengkak parah sampe kayak nggak bisa gerak. Dia lagi tidur miring di lereng bukit, keliatan kayak batang pohon gede.”“Oh iya!” Bang Zain tiba-tiba inget lagi. “Itu mirip ular tikus raja!”Semua muka langsung muram.“Yakin nggak salah liat?” tanya Kapten Andi ragu.“Yakin banget! saya pernah nangkep yang gini dulu,” jawab Bang Zain kesel.Budi tahu betul ular tikus raja. Waktu kecil di kampung sama orang tua, sering liat. Panjangnya biasa 2–3 meter, tebalnya segede lengan orang dewasa. Mustahil bisa segede yang digambarin Bang Zain.Tapi Budi agak lega. Lawan hewan nggak beracun lebih gampang daripada yang beracun.“Kita cuma punya satu kesempatan. Ular yang kekenyangan nggak bakal nyerang. Selama kita nggak provokasi, kita bisa lewat aman. T

  • Mutasi Alam Liar   Bab 5

    Dor! Dor!Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali.Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang itu terbang ke udara, jatuh berguling-guling di tanah. Kucing itu geleng-geleng kepala, masih pusing. Budi nggak kasih kesempatan langsung tebas keras ke badannya.Krek!Tulang punggungnya patah, badannya terbelah dua. Kucing itu meraung kesakitan, kaki-kakinya masih meronta-ronta kayak mau merangkak pergi. Organ dalamnya berceceran di tanah, bau amis dar4h nyebar ke mana-mana.Dor! Dor!Bang Zain langsung tambah dua tembakan ke kepala biar pasti mati.“Mampua kau!” umpatnya sambil pastiin nggak gerak lagi.Mbak Jeni nggak kuat liat adegan berdrah plus bau amisnya. Dia langsung minggir ke semak, muntah sejadi-jadinya.Budi juga nggak enak badan. Semuanya kejadian terlalu cepat dia cuma refle

  • Mutasi Alam Liar   Bab 4

    Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangkah pun.Pohon-pohon membentuk kanopi daun tebal yang nutupin matahari, bikin jalur gelap gulita. Cuma ada beberapa sinar yang nyusup lewat celah-celah, kayak lagi jalan di hutan purba. Hutan yang dulu jarang binatang sekarang jadi surga buat satwa liar. Dengung serangga, kicau burung, sesekali kelihatan burung kuau atau kelinci lompat-lompat. Entah dari mana asalnya hewan-hewan itu. Budi dorong cabang ke samping, tebas rotan dan duri di tanah biar rombongan bisa lewat.[Ding!! Setelah latihan yang cukup, kamu telah menguasai Keterampilan Pisau Dasar.]Budi langsung semangat. Skill pisau ternyata lebih gampang dikuasai dibanding skill mengemudi. Dia buka panel atribut, lihat skill pisau naik.

  • Mutasi Alam Liar   Bab 3

    Kebersihan warung makan di desa ini lumayan ala kadarnya, tapi menunya unik dan “liar”. Hampir semuanya hidangan eksotis: sup kelinci, sup ular campur rebung suwir, ayam iris tumis jamur hutan, dan katak rebus bumbu kuning. Semua bahan ditangkap warga desa sendiri. Dulu jarang banget, tapi belakangan ini sudah jadi makanan sehari-hari.Meski menunya spesial, suasana makan siang agak tegang. Obrolan basa-basi cepat mati. Sekitar 15 menit kemudian, Kapten Andi letakkan sendok garpu dan nyalakan rokok kretek. Budi pinjam korek dari Kapten, ikutan nyalain satu batang. Bukan kebiasaan dia, tapi kadang kalau lagi stres atau mikir berat, dia suka ngerokok.“Ayo berangkat!” kata Kapten Andi sambil berdiri setelah habisin rokoknya.Semua ikut berdiri dan langsung menuju kaki bukit. Budi jalan paling belakang, main-main sama parangnya, ayun-ayun ke udara sambil latihan gerakan tebas. Bang Zain nengok ke belakang dan nyengir.“Wah, semangat banget ya kamu, Nak? Nanti di bukit banyak rumput liar

  • Mutasi Alam Liar   Bab 2

    Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebih sederhana dan sepi dibandingkan kantor polisi yang cuma berjarak sekitar sepuluh meter di sebelahnya.Budi Santoso masuk ke lobi gedung pos kehutanan. Hanya ada beberapa petugas di meja resepsionis, kebanyakan lagi main kartu domino atau ngobrol santai. Dia langsung naik ke lantai dua.Kepala Pos nggak ada, jadi Budi cuma bisa ketuk pintu kantor Wakil Kepala Pos.“Masuk!”Dia buka pintu. Di dalam ada seorang bapak-bapak paruh baya agak gemuk. Kantung mata tebal, kelihatan kurang tidur. Dia cuma melirik sekilas ke Budi lalu balik fokus ke dokumen di meja.“Ada apa?” tanyanya datar.Budi agak sebal diabaikan, tapi dia paksa senyum. “Selamat siang, Pak. Saya adik ipar Mas Joko Santoso. Dia ke

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status