Mag-log inSebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebih sederhana dan sepi dibandingkan kantor polisi yang cuma berjarak sekitar sepuluh meter di sebelahnya.
Budi Santoso masuk ke lobi gedung pos kehutanan. Hanya ada beberapa petugas di meja resepsionis, kebanyakan lagi main kartu domino atau ngobrol santai. Dia langsung naik ke lantai dua. Kepala Pos nggak ada, jadi Budi cuma bisa ketuk pintu kantor Wakil Kepala Pos. “Masuk!” Dia buka pintu. Di dalam ada seorang bapak-bapak paruh baya agak gemuk. Kantung mata tebal, kelihatan kurang tidur. Dia cuma melirik sekilas ke Budi lalu balik fokus ke dokumen di meja. “Ada apa?” tanyanya datar. Budi agak sebal diabaikan, tapi dia paksa senyum. “Selamat siang, Pak. Saya adik ipar Mas Joko Santoso. Dia kemarin ke sini bareng Kepala Seksi buat cek kondisi hutan, tapi sampai sekarang belum pulang. Adik ipar saya nyuruh saya ke sini buat ngecek. Bapak tahu mereka ke mana?” Bapak itu akhirnya angkat kepala, ekspresinya berubah kaget. “Kepala Seksi Hadi sama Joko belum balik? Tunggu bentar, saya telepon dulu.” Dia berdiri, ambil HP, dan mulai nelpon sana-sini. Keringat mulai muncul di dahinya semakin banyak. Beberapa menit kemudian, dia ambruk kembali ke kursi dengan wajah pucat. “Kemarin mereka ke mana, Pak?” tanya Budi penasaran. “Kemarin siang Kepala Seksi Hadi, Pak Camat setempat, Kepala Pos, sama Joko naik ke bukit buat inspeksi setelah makan siang. Seharusnya kemarin sore sudah balik. Kamu udah telepon Joko? Mungkin dia ke tempat lain?” tanyanya gelisah. Budi langsung merasa nggak enak. Ini pertanda buruk. Dia jawab cepat, “Adik ipar saya udah nelpon berkali-kali, saya juga tadi pagi ke Dinas Kehutanan di Palangkaraya. Atasannya bilang mereka belum balik, mungkin masih di atas bukit. Yang paling penting sekarang minta bantuan polisi!” “Iya, iya betul!” Bapak itu mengangguk panik. Kalau sampai atasan-atasan ini kenapa-kenapa, dia bisa kena sanksi berat, bahkan dipecat. Dia buru-buru berdiri dan nelpon lagi. “Halo! Pak Kapolsek? Ini Eko dari pos kehutanan... Iya, iya... Saya ke sana sekarang... Susah jelasin lewat telepon... Saya datang langsung!” Dia tutup telepon dan bilang ke Budi, “Ayo, ikut saya ke kantor polisi!” Budi dan Wakil Kepala Pos langsung bergegas ke kantor polisi terdekat. Sepuluh menit kemudian, mereka sudah di ruang Kapolsek. Wakil Kepala Pos jelasin ulang semuanya. Kapolsek langsung kaget dan berdiri. “Kok baru sekarang lapor? Ini hampir 24 jam!” Melihat muka Eko yang muram, Kapolsek melambai tangan. “Sudah, saya telepon PA dulu.” Dia keluar ruangan sambil nelpon. Pas balik, mukanya serius banget. “Kalian berdua balik dulu ke pos, tunggu di sana. Saya suruh tim naik ke bukit sekarang. Pasti ketemu.” “Terima kasih banyak, Pak Kapolsek!” Eko mengangguk hormat dan siap pulang. Budi sadar ini bukan urusannya, tapi kalau dia nggak ikut langsung, misi nggak bakal selesai. Dia buru-buru bilang, “Pak Kapolsek, saya juga mau ikut naik!” “Itu bahaya di atas bukit, kami nggak bisa jamin keselamatan kamu. Tunggu aja di sini ya,” tolak Kapolsek sambil cemberut. “Saya tahu bahaya, Pak. Tapi itu kakak ipar saya. Gimana saya bisa diem aja nunggu di sini? Saya pernah ikut latihan silat dan olahraga rutin. Saya janji nggak bakal jadi beban,” kata Budi sambil berusaha kelihatan cemas. Kapolsek memandang Budi dari atas ke bawah. Badannya tinggi, berotot, kelihatan rajin olahraga. Mungkin bisa bantu di lapangan. “Oke. Tapi harus nurut perintah!” “Janji, Pak!” Budi langsung setuju. Kapolsek nelpon lagi. “Kapten Andi, minta tiga orang langsung lapor ke ruang saya sekarang!” Tak lama, seorang pria paruh baya berkulit sawo matang masuk. “Pak Kapolsek panggil?” “Iya, tunda dulu tugas lain. Ada masalah lebih urgent. Beberapa pejabat kota sama Camat hilang di atas bukit. Tim kamu langsung cari sekarang!” Muka pria itu langsung serius. “Siap, Pak. Ada lagi?” “Ini Budi Santoso, keluarga salah satu korban. Dia mau ikut, ajak dia.” Kapten Andi melirik Budi sekilas. “Siap, Pak. Kami berangkat sekarang.” Dia lalu menoleh ke Budi dengan nada dingin, “Ikut saya!” Mereka keluar ruangan. Di koridor sudah ada tiga orang menunggu: dua cowok dan satu cewek, semuanya kelihatan di bawah umur 30. Mata Budi otomatis tertuju ke cewek itu. Dia pakai seragam polisi lengan pendek, pinggang ramping, dada penuh, kaki panjang dibalut stoking tipis di bawah rok seragam. Benar-benar memikat, seperti buah matang yang siap dipetik. “Fetish seragam nih kayanya,” pikir Budi sambil buru-buru alihkan pandangan ke dua cowok. Satu cowok umur sekitar 30, tinggi, muka penuh bekas jerawat, potongan cepak. Kalau nggak pakai seragam, bisa disangka preman. Yang satu lagi muka polos, kelihatan baru lulus. “Kapten, hari ini ada apa sih sampe urgent gini?” tanya si cepak dengan nada santai, nggak terlalu hormat. “Nanti di jalan cerita. Semua ganti seragam lengan panjang, siapin senjata. Kita naik bukit. Si Aji, ambilin seragam buat Budi juga, dia ikut,” perintah Kapten Andi ke polisi muda. “Siap, Kapten!” Aji langsung jawab, lalu ke Budi, “Ikut saya. Kayaknya ukuran kita mirip. Nggak keberatan pakai seragam saya kan?” “Nggak masalah. Makasih!” Budi senyum. “Kamu baru lulus tes CPNS tahun ini ya, Mas Aji?” Aji ketawa. “Bukan, Mas. Saya lulusan Akpol. Masuk sini pake jalur koneksi buat tim Sabhara. Tapi kalau performa bagus, bisa pindah unit. Pokoknya kerja dulu lah!” “Lumayan tuh, setidaknya tunjangannya oke.” “Cukup buat hidup aja sih,” jawab Aji sambil ambil dua set seragam lengan panjang dan sepatu bot dari loker. Cuaca akhir-akhir ini lembab, seragamnya agak bau apek, tapi masih bersih. Pas Budi selesai ganti, si cepak masuk dan nepuk kepala Budi. “Bisa jadi polisi juga nih. Dari mana asalnya, Nak? Kok ikut-ikutan naik bukit?” Budi agak kesal, tapi diam-diam geser kepala sambil senyum. “Kakak ipar saya hilang di atas bukit. Saya ikut cari. Nama saya Budi. Panggil aja Mas Budi. Kamu siapa?” “Panggil Bang Zain aja,” katanya sambil nyengir. “Jangan kesel ya, kebiasaan lama. Jadi kakak iparmu siapa?” “Kerja di kehutanan,” jawab Budi singkat, lalu alihkan ke Aji. “Mas Aji, bisa kasih senjata buat bela diri nggak? Katanya di hutan bahaya banget.” Aji geleng kepala. “Pistol nggak bisa, melanggar aturan!” Budi cepat tanya lagi, “Pisau aja gimana? Nggak mungkin saya masuk hutan tanpa apa-apa kan?” Aji keluar sebentar nanya Kapten, lalu balik. “Pistol nggak bisa, tapi pisau boleh. Kami banyak sitaan. Ikut ke gudang.” Mereka ke gudang di ujung koridor. Aji buka kotak besar. Isinya macam-macam: golok, parang, pisau dapur, belati, pisau lipat, sampai golok besar. “Pilih aja!” kata Aji murah hati. Budi mikir. Ada ular, rotan, ranting tebal di bukit. Pisau kecil pasti nggak guna. Golok terlalu berat buat dia. Akhirnya dia ambil parang panjang yang biasa buat motong rumput dan kayu. Dia mengayun-ayunkan parang itu beberapa kali. Rasanya pas di tangan. Diam-diam dia berbisik, “Identifikasi.” [Parang Tajam] [Bahan: Baja Karbon] [Kelangkaan: Putih] [Berat: 2,3 kg] [Ketajaman: 12–16] [Kebutuhan: Kekuatan 9] [Keterangan] Senjata pertanian modern. Cocok untuk menebas rumput, memotong kayu, dan membunuh jika perlu. Kualitas standar, tetapi bilahnya kuat. Ideal untuk tebasan dan potongan cepat. “Nggak buruk. Lebih tajam dari golok dapur di kontrakan,” pikir Budi. “Yang ini aja.” “Ayo, Kapten nunggu!” kata Aji. Mereka keluar ke parkiran. Semua sudah di dalam mobil patroli. Budi masuk cepat. Mobil langsung jalan menuju pinggiran kota. Setelah beberapa saat, mereka keluar jalan raya, belok ke jalan kecil. Kanan-kiri sawah dan ladang yang sekarang ditumbuhi rumput liar setinggi dada orang dewasa. Angin bertiup, kelihatan seperti lautan hijau bergoyang. “Ini ladang kan?” tanya Budi ragu. Polwan yang duduk di depan ikut kaget. “Iya, tapi sepuluh hari lalu pas saya lewat, rumputnya nggak segila ini. Kalau dibiarkan, bentar lagi jalan ditutup rumput.” “Kalau ladang aja udah begini, di hutan pasti lebih parah. Kapten yakin mau naik? Nanti kita ikut hilang malah,” canda Bang Zain. “Iya, katanya sekarang bahaya banget di bukit,” tambah polwan. “Kalau berani, lapor langsung ke Kapolsek. Kenapa bilang ke saya? Saya cuma jalankan perintah,” jawab Kapten Andi muram. Dia tahu betul kasus orang hilang di sekitar Bukit Muara meningkat drastis. Sudah lima orang hilang, kebanyakan warga desa dekat bukit. Tapi perintah tetaplah perintah. “Saya rasa nggak bakal separah itu, kan? Kita bawa senjata semua. Kalau ketemu babi hutan aja masih bisa handle,” kata Budi mencoba redakan suasana. Kalau terus bahas bahaya, bisa-bisa tim balik lagi ke kantor. Apalagi sekarang mereka tahu ada keluarga korban ikut. “Sudah, stop bahas ini. Kita polisi. Kalau setiap ada kesulitan langsung mundur, nanti diketawain orang. Kita naik bukit, kalau terlalu bahaya ya balik. Minimal kita udah usaha. Gimana, Budi?” tanya Kapten. “Setuju, Pak. Kalau saya yang hilang, saya yakin kakak ipar saya juga bakal cari saya,” jawab Budi pelan. Ini satu-satunya pilihan sekarang. Kalau misi terlalu bahaya, ya terpaksa gagal. Meski EXP-nya ilang banyak, tapi nyawa lebih penting. Setengah jam kemudian, mobil masuk desa terpencil dan berhenti. Budi turun, pandang ke depan. Bukit di hadapan hamparan hijau tua pekat, tingginya nggak sampai 200 meter, tapi cukup bikin deg-degan. “Sekarang hampir jam 11. Makan siang dulu di warung pinggir jalan, satu jam lagi kita berangkat naik bukit!” Kapten Andi lihat jam tangan, lalu berjalan ke warung sederhana di pinggir desa.Budi perlahan kehilangan kesadaran saat rasa lelahnya mendadak berkurang, dan dia mulai merasakan tenaganya perlahan kembali pulih. Kekuatannya pun terasa meningkat. Dengan susah payah, dia berusaha mengangkat kelopak matanya yang terasa berat banget, lalu bangkit berdiri. Tapi yang bikin Budi waspada adalah rasa aneh di tubuhnya yang sama sekali nggak hilang. Malah makin lama makin terasa mengganggu. Dia bisa merasakan ada api yang seakan membakar dari dalam dirinya. Rasanya kayak kalau nggak segera berhenti, tubuhnya bakal terbakar sendiri. "Mungkin ini racun ya?" Sambil memperhatikan kadal raksasa di depannya yang lahap memakan bangkai Cacing Gua Berkaki-Seribu itu, dia sadar kalau dugaan itu salah. Kalau cacing itu memang beracun, sekuat apa pun kadal raksasa itu, pasti bakal ada reaksi negatif setelah menelan daging dan darah sebanyak itu. Dia menepis rasa takutnya, lalu memeriksa kondisinya sendiri dengan teliti. Pung
Ia kembali mencari kesempatan untuk menyerang. Namun, setelah merasakan sendiri betapa mengerikannya serangan lawan, kadal itu tak lagi berani menggigit tubuh cacing secara langsung. Sebagai gantinya, ia memutuskan menggunakan jurus andalannya, yaitu sabetan ekor. Bahkan binatang mutan tingkat biru tua pun tak mampu menahan kekuatan ekornya yang luar biasa. Kadal raksasa itu tak menunggu sampai cacing berbalik. Sepasang matanya yang menyerupai kristal langsung mengunci sasaran di atas. Cacing Crypt Seribu Tentakel merasakan ancaman besar mendekat. Namun, saat ia berusaha memutar tubuh untuk menghadapi serangan tersebut, semuanya sudah terlambat. Kilatan bilah pedang tiba-tiba muncul. SRAK! Cacing itu langsung meraung kesakitan. Rasa sakit yang luar biasa memicu naluri bertahan hidupnya. Tubuhnya bergerak liar, berusaha menendang dan menghantam apa pun yang berada di dekatnya. Namun, serangan membabi buta itu hanya menghantam udara dan menghasilkan suara keras. Bagi Budi, s
Misi E+: Bunuh Cacing Crypt Seribu Tentakel. Batas waktu: 3 hari! Terima atau tolak? Notifikasi misi yang ditunggu akhirnya muncul. Budi sempat ragu sejenak sebelum menekan tombol Terima. Sampai saat ini, tidak ada alasan baginya untuk takut atau melarikan diri. Dia perlahan mencabut Parangnya dari sarungnya, menarik napas dalam-dalam, lalu melompat dari lantai empat. Sesuatu yang sulit dipercaya terjadi. Tubuhnya melayang turun dengan ringan, seolah-olah hukum fisika tak lagi berlaku baginya. Begitu kakinya menyentuh tanah, Budi langsung menjejakkan kaki dan melesat ke depan. Dalam sekejap, tubuhnya sudah berpindah sekitar lima meter dari titik pendaratan. Dia sedikit membungkukkan tubuh, lalu kembali melesat dengan kecepatan tinggi. Sementara itu, Cacing Crypt Seribu Tentakel terus merayap menuju kadal raksasa tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. Seolah-olah kadal mutan di
Tiba-tiba, Budi teringat pada cacing tanah mutasi yang pernah ditemuinya sebelumnya. Ingatan tentang makhluk itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar kencang. "Jangan-jangan ada di bawah tanah!" Begitu menyadari kemungkinan tersebut, Budi langsung melompat turun dari punggung kadal raksasanya. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, dia langsung merasakan getaran samar. Namun, getaran itu semakin lama semakin kuat. Dalam sekejap, tanah berguncang hebat, seolah-olah sedang dilanda gempa berkekuatan 7 hingga 8 skala Richter. Jalanan mulai retak satu demi satu, membentuk puluhan retakan besar yang menjalar ke berbagai arah. Jantung Budi berdegup kencang. Napasnya terasa sesak, sementara tubuhnya terpaku di tempat karena ketakutan. Bahkan setelah berusaha mundur sejauh empat atau lima meter, tubuhnya masih gemetar hebat. Tiba-tiba, suara dentuman k
Budi naik ke punggung kadal raksasanya. Setelah melirik sekilas kerumunan orang di bawah, dia langsung membalikkan badan tanpa menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Dia menepuk punggung hewan peliharaannya yang perkasa itu, lalu pergi meninggalkan distrik tersebut. Kadal raksasa itu bergerak sangat lincah, bahkan kecepatannya hampir seperti kilat. Meski tubuhnya besar, langkahnya tetap gesit dan ringan. Kurang dari satu menit, mereka sudah berhasil keluar dari distrik. Hanya dalam beberapa hari, semua luka di tubuh kadal raksasa itu sudah sembuh. Sisik-sisiknya yang sempat terkelupas juga mulai tumbuh kembali, berwarna hijau cerah dengan kilau yang mencolok. Penampilannya kini jauh berbeda dari saat pertama kali Budi bertemu dengannya. Tidak ada lagi bekas luka yang terlihat di tubuhnya. Namun, dibandingkan dengan ukuran awalnya, tubuh kadal raksasa itu justru tampak sedikit menyusut. Sekilas, dia bahkan terlihat lebih kurus dan lemah. Meski begitu, hanya Budi yang tahu betapa meng
Saat fajar mulai menyingsing, Doni terbangun dan mendapati Budi duduk di luar rumah ketika membuka pintu utama. Budi terlihat sangat tenang dengan mata terpejam. Pakaiannya lembap karena semalaman duduk di luar. Pedang yang ditancapkan ke tanah tampak gagah diterpa cahaya matahari pagi. “Ada apa?” tanya Sandi, teman sekamar Doni yang juga bangun pagi. “Budi sedang berlatih di luar. Sebaiknya jangan ganggu dia,” jawab Doni, meski dia sendiri merasa ada sesuatu yang tidak beres. Selama beberapa hari terakhir, binatang-binatang mutasi bertingkah seperti kehilangan kendali. Mereka terus mengaum dan membuat keributan sepanjang hari. Sepertinya, ada perubahan besar yang sedang terjadi pada binatang mutasi. Cara Budi bersikap belakangan ini seolah membenarkan dugaan tersebut. Awalnya, Sandi ingin keluar untuk menghirup udara segar. Namun, begitu tahu Budi sedang berada di luar, dia langsung mengurungkan niatnya. Dia takut kepada Budi dan sebisa mungkin memilih untuk tidak berurusan denga
Dor! Dor!Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali.Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang
Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangka
Kebersihan warung makan di desa ini lumayan ala kadarnya, tapi menunya unik dan “liar”. Hampir semuanya hidangan eksotis: sup kelinci, sup ular campur rebung suwir, ayam iris tumis jamur hutan, dan katak rebus bumbu kuning. Semua bahan ditangkap warga desa sendiri. Dulu jarang banget, tapi belakang
Kalimantan 2040“Tscht!”Pintu bus terbuka dengan suara berderit, Budi Santoso turun mengikuti arus penumpang yang berdesak-desakan. Kemeja putih kantornya sudah basah kuyup oleh keringat, ditambah noda debu membentuk pola acak di kainnya. Naik bus setiap hari dari kantor ke rumah kontrakan adalah







