Share

Bab 4

Penulis: Zhar
last update Tanggal publikasi: 2026-03-17 14:25:16

Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangkah pun.

Pohon-pohon membentuk kanopi daun tebal yang nutupin matahari, bikin jalur gelap gulita. Cuma ada beberapa sinar yang nyusup lewat celah-celah, kayak lagi jalan di hutan purba. Hutan yang dulu jarang binatang sekarang jadi surga buat satwa liar. Dengung serangga, kicau burung, sesekali kelihatan burung kuau atau kelinci lompat-lompat. Entah dari mana asalnya hewan-hewan itu. Budi dorong cabang ke samping, tebas rotan dan duri di tanah biar rombongan bisa lewat.

[Ding!! Setelah latihan yang cukup, kamu telah menguasai Keterampilan Pisau Dasar.]

Budi langsung semangat. Skill pisau ternyata lebih gampang dikuasai dibanding skill mengemudi. Dia buka panel atribut, lihat skill pisau naik. Masih ada 4 poin skill tersisa. Setelah mikir bentar, dia alokasiin semuanya ke skill pisau. Sekarang jadi level 5. Biasanya dia nggak bakal boros gini skill pisau cuma berguna buat masak atau kerja tukang kebun. Skill Silat tangan kosong level 4 aja udah cukup buat jaga diri di kota.

Tapi dunia lagi berubah gila-gilaan, nggak ada yang bisa prediksi besok. Di hutan kayak gini, skill pisau bakal jauh lebih berguna daripada tinju. Ini momen terbaik buat naikin level. Budi rasain ada semacam “ilusi” muncul di kepalanya, tapi nggak jelas. Beberapa detik kemudian, cara pegang parangnya berubah. Otot-ototnya langsung lebih tegang, posisi tubuh lebih pas.

Dia coba atur postur: kaki agak melebar, badan condong sedikit ke depan. Tanpa sadar, dia mulai mainin parang lagi. Dalam sekejap, semua daun dan ranting di depannya hancur jadi serpihan kecil. Mbak Jeni yang lagi ngeliat langsung nutup mulut kaget.

“Budi… kamu pernah latihan bela diri ya? Atau ilmu pedang gitu?” tanyanya pelan.

“Iya, pernah,” jawab Budi sambil balik fokus.

“Aku dulu latihan combat di Akpol, tapi nggak pernah belajar pake pisau. Katanya nggak berguna kalau ada pistol,” kata Mbak Jeni.

“Dasar cowok, suka pamer di depan cewek,” cibir Mas Aji iri.

“Itu beneran keren banget! Bisa gitu kok?” Mas Aji masih nggak percaya.

Sebenarnya, dengan Ketangkasan 11, Budi bisa gerak 1,5 kali lebih cepat dari orang biasa. Dikombinasi skill pisau level 5, kemampuan bertarungnya langsung jadi gila. Dia bisa habisin musuh sebelum orang itu sempat berteriak.

Kecepatan tebas jalannya makin ngebut. Postur lama yang salah bikin boros tenaga, tapi sekarang efisien banget. Dia tebas sekumpulan dahan tanpa liat, daun-daun berhamburan. Tapi pas parangnya kena cabang berikutnya, ada sesuatu yang aneh lembut banget, kayak karet.

Dia liat: ular hijau gede!

“ULAR!”

Budi langsung mundur cepat. Kepala dan badannya langsung kesemutan. Ular itu hijau terang, kepala segitiga besar, badan ramping tapi panjangnya hampir dua meter. Budi tebas lagi keras hampir putus dua, cuma tinggal kulit tipis yang nyambungin.

“Sssshhhssss!”

Ular itu menggeliat kesakitan, taringnya keluar, suaranya mengerikan.

“Ada apa?!” Kapten Andi langsung maju, tarik pistol.

“Ada ular, kelihatannya beracun! Tapi udah aku bunuh,” jawab Budi setelah tenang beberapa detik.

“Itu ular Viper! Semua hati-hati! Yang celananya longgar, rapetin sekarang!” Kapten Andi angkat ular pake ranting, lempar jauh. Diam-diam dia mikir, “Ular Viper biasanya cuma satu meter. Yang dua meter ini… kalau kena gigit, mati dulu sebelum sempat jerit.”

Dia nengok ke Budi yang masih deg-degan. “Butuh gantian?”

Budi liat Mas Aji sama Bang Zain yang mukanya pucet. “Nggak apa-apa, Pak. Kita cuma perlu lebih waspada. Seharusnya aman.”

Dia tahu kalau polisi tim pada takut dan mundur, misi berakhir. Dia butuh mereka. Sendirian masuk hutan lebih bahaya lagi. Meski dia masih takut ular banget, sekarang dengan skill dan refleks cepat, dia bisa bunuh ular sebelum ular itu gerak.

“Baiklah,” Kapten Andi senang denger jawaban itu. Awalnya dia sebel Budi ikut, tapi sekarang sadar cowok ini bisa bantu lebih dari anak buahnya.

“Aku kasih topi aku deh, Budi. Hati-hati ya,” kata Mas Aji canggung.

“Nggak usah, makasih. Katanya ular Viper suka lompat dari dahan. Aku di depan malah lebih aman. Kamu pake topi aja,” jawab Budi sambil senyum.

Manusia emang suka hindarin bahaya. Budi sendiri nggak bakal masuk hutan kalau nggak ada tim penyelamat. Mbak Jeni langsung pucet denger penjelasan Budi. Dia nyesel banget. Takut tim pada mundur. Dia diem aja, langsung ikut jalan di belakang Budi.

Mbak Jeni sengaja jalan tepat di belakang Budi. Dia liat Budi main parang tadi itu bukan level biasa. Dia nggak jelas liat, tapi rasanya Budi misterius banget. Lebih aman deket dia. Jalur sudah habis, cabang nutup total. Mereka cuma bisa andalkan Budi buat buka jalan.

Tiba-tiba, binatang hitam muncul di semak, lalu hilang lagi. Dia berdiri di hutan sebelah, ngeliatin mereka. Ukuran segede anjing kampung, tapi bentuknya kayak kucing: badan ramping, bulu hitam mengkilap kayak sutra, mata kuning keemasan ganas, mulutnya masih netes darah segar.

Budi langsung berhenti, angkat parang ke dada, siap serang.

“Kelihatannya macan tutul,” kata Mbak Jeni gemetar sambil ngintip dari belakang Budi.

Budi juga mikir gitu. Tapi macan tutul di bukit kecil kayak gini?

Dor! Dor!

Semua panik kecuali Kapten Andi sama Bang Zain yang langsung tarik pistol dan tembak. Binatang itu kaget, langsung kabur ke dalam hutan sambil meraung keras.

“Itu pasti kucing hutan. Sayang nggak kena,” kata Kapten Andi cek sekitar, nggak ada darah. “Semua hati-hati. Kucing hutan pendendam. Bisa balik lagi.”

Denger cuma kucing hutan, Mas Aji langsung pede. “Aku khawatir malah nggak balik. Belum pernah makan daging kucing hutan nih.”

“Baru aja takut setengah mati, sekarang berani lagi. Nanti jangan sampe pipis di celana,” ejek Bang Zain.

Mas Aji sadar tadi malu-maluin diri, langsung bales, “Apaan sih takut? Cuma kucing doang!”

Kapten Andi diem aja, mukanya muram. Dia asli desa, tahu kucing hutan ganas. Tapi yang segede itu… harimau aja mungkin susah ngalahin. Untung bawa senjata, kalau nggak, mati semua. Budi lanjut tebas cabang biar maju. Semakin dalam, tanaman semakin lebat. Dia mutusin istirahat bentar.

Dia masih kuat lanjut, tapi boros energi sekarang nggak bagus. Pas mau balik bilang ke tim, dia liat sesuatu berkedip di seberang jalur.

Dia bisik pelan, “Awas! Itu balik lagi. Di belakang kalian.”

Semua langsung angkat senjata, liat sana-sini. Nggak ada apa-apa.

“Yakin di sini?” tanya Mas Aji sombong sambil goyang-goyang pistol.

“AWAS!” Kapten Andi tarik Mas Aji ke belakang, langsung tembak ke arah belakangnya.

Mas Aji pucet pasi. Peluru lewat deket telinga. Dia rasain maut deket banget. Kakinya lemas, ambruk ke semak berduri, mukanya luka berdarah. Nggak ada yang sempat nolongin.

Roaarrr!

Kucing hutan itu meraung ganas. Dalam sekejap, bayangan hitam melesat ke arah Kapten Andi tanpa aba-aba!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mutasi Alam Liar   Bab 75

    Sampai di kamarnya sendiri, Budi baru merasa lega. Dia mengeluarkan bra dan celana dalam itu dari sakunya. Barang-barang kecil berwarna putih itu terlihat mungil sekali, dan masih tercium wangi sabun yang lembut dan segar. Perasaannya jadi agak aneh, seolah-olah dia orang yang tidak bermoral. Dia meletakkan barang-barang itu sejenak lalu berjalan ke arah lemari penyimpanan. Dia membuka salah satu laci yang isinya sudah tinggal separuh saja, berisi bulu-bulu burung hantu berwarna hitam. Karena sudah sering dipakai, persediaannya makin menipis. Sebagian besar bulu itu diambil dari bagian ekor burung hantu. Dia sedang memilih beberapa helai bulu yang ukurannya agak pendek, tapi tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu. Pintu kamarnya dibuka! Bagi pendengaran Budi yang sangat tajam, bunyi itu terdengar sekeras ledakan! Dia kaget bukan main, buru-buru berdiri tegak. Saat dia bergegas menuju tempat tidur, pintu kamar sudah terbuka lebar dan se

  • Mutasi Alam Liar   Bab 74

    “Seratus lima puluh... seratus lima puluh satu... seratus lima puluh dua...” Di ruang tamu, Budi sedang melakukan gerakan push-up dengan kecepatan luar biasa hampir lima kali dorongan dalam sedetik. Keringat mengalir deras membasahi punggungnya, kulitnya yang putih kini tampak berkilau karena keringat. Ia terus bergerak seperti mesin yang bekerja dengan presisi dan kecepatan tinggi. Otot di punggungnya tampak seperti sepasang sayap, mengembang dan mengerut mengikuti setiap gerakan, menarik otot-otot panjang dan ramping di sekitarnya hingga membentuk rangkaian otot yang padat dan kokoh. Shinta berdiri di sudut ruangan, diam-diam mengamati Budi. Sejak masih remaja, ia selalu merasa penasaran sekaligus malu-malu saat melihatnya. Ditambah lagi, suara-suara samar yang kadang terdengar dari kamar Budi membuat rasa ingin tahunya makin besar. Ia menarik napas panjang, memberanikan diri, lalu berjalan perlahan mendekati Budi sambil berusaha bersik

  • Mutasi Alam Liar   Bab 73

    Masakan sore itu sangat sederhana. Hanya ada sepiring kecil acar sayur dan dua butir telur asin. Makanan jenis ini sudah dibeli dan disimpan Budi jauh sebelum wabah Covid mewabah. Ia memang sengaja menimbun banyak barang yang awet dan tak mudah rusak, dan masih masih ada sisa simpanan yang cukup. Daging hewan bermutasi yang dibawanya pulang kemarin sudah direndam dan disiapkan, tapi mengingat masa-masa sulit seperti ini takkan berakhir dalam waktu dekat, ia memutuskan belum waktunya untuk memakan daging itu. Dulu, makanan mereka selalu lengkap dengan daging dan ikan bergizi. Tapi belakangan ini, nafsu makan semua orang jadi berkurang drastis. Bahkan Shinta berhenti makan setelah hanya menelan beberapa suap saja. Malam harinya, sebuah mobil jip melaju masuk ke kawasan perumahan mereka. Dua orang polisi lengkap dengan pakaian pelindung dari ujung kepala sampai ujung kaki turun dari kendaraan itu. Di punggung mereka terpasang alat penyembur

  • Mutasi Alam Liar   Bab 72

    Ketukan cepat terdengar dari pintu, “Buka pintunya! Tolong! Bantu istriku! Kumohon!” Budi saling bertatapan dengan Jeni sebelum beranjak berdiri untuk mengintip lewat lubang intip. Ternyata tetangga mereka yang tinggal tepat di seberang rumahnya yang sedang mengetuk pintu. Mereka tidak terlalu akrab, hanya sekadar saling kenal dan tahu keberadaan satu sama lain. Wajah pria itu penuh ketakutan, bercampur dengan rasa gelisah yang mendalam. Budi menduga istrinya mungkin telah digigit nyamuk bermutasi. Biasanya, siapa saja yang digigit makhluk itu takkan selamat, tapi karena mereka bertetangga, setidaknya ia harus pergi melihat keadaannya. Ia pun membuka pintu dengan ragu dan bertanya, “Ada apa?” Pria itu berkata dengan panik, “Cepat, ikutlah ke rumahku! Istriku sudah tak tahan lagi. Aku tak tahu apa yang terjadi, tadi dia sedang mengepel lantai dapur, tiba-tiba saja jatuh terkulai.” Budi menoleh ke arah Jeni, “Tutup pintu dulu

  • Mutasi Alam Liar   Bab 71

    Melompat ke kesimpulan itu memang sifat manusia. Begitu dengar ada penyakit menular, yang langsung kepikiran pasti soal karantina, wabah, sampai kematian. Kadang rasa takut malah lebih menyeramkan daripada ancaman aslinya. Dalam hitungan detik, semua orang langsung kabur. Tinggal Budi yang berdiri di sana dengan wajah kesal. Sebenarnya dia tidak takut tertular penyakit. Tapi dia sempat melihat nyamuk bermutasi beterbangan di dekat punggung pria yang tadi pingsan itu. Budi pun mendekat ke pria yang sudah sekarat tersebut, lalu membalikkan tubuhnya sambil menahan rasa jijik. Di leher pria itu muncul benjolan merah keunguan sebesar kepalan tangan. Dari titik merah di tengah benjolan, darah hitam perlahan menetes keluar. “Ini racun...” wajah Budi langsung muram. Nyamuk-nyamuk ini jelas berbeda dengan nyamuk bermutasi yang biasa muncul di IKN. Kemungkinan besar mereka datang dari hutan, makanya bisa muncul tiba-ti

  • Mutasi Alam Liar   Bab 70

    Begitu dia melihat koran, Budi menyadari bahwa ada artikel tentang orang-orang yang berevolusi di setiap halaman lainnya. Dilihat dari apa yang dia baca, segala sesuatunya tidak terlihat baik bagi mereka yang berevolusi. IKN telah menerapkan kebijakan tekanan tinggi sejak dunia mulai bermutasi, namun masih ada perampokan yang terjadi dari waktu ke waktu. Hal ini tampaknya semakin meningkat seiring dengan banyaknya orang yang berani dan terlibat dalam pembunuhan dan pemerkosaan, bahkan pembunuhan terhadap polisi dan anggota angkatan bersenjata. Ketika masalah jaminan sosial semakin besar, pemerintah kehilangan kesabaran dan memutuskan untuk memusnahkan orang-orang seperti ini sepenuhnya. Setidaknya itulah yang dia simpulkan dari membaca koran, dan sepertinya kenyataan tidak jauh berbeda. Budi meletakkan koran. Hatinya terasa sedikit lebih berat. Orang lain tidak akan pernah percaya bahwa dia bukan orang yang b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status