LOGINJalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangkah pun.
Pohon-pohon membentuk kanopi daun tebal yang nutupin matahari, bikin jalur gelap gulita. Cuma ada beberapa sinar yang nyusup lewat celah-celah, kayak lagi jalan di hutan purba. Hutan yang dulu jarang binatang sekarang jadi surga buat satwa liar. Dengung serangga, kicau burung, sesekali kelihatan burung kuau atau kelinci lompat-lompat. Entah dari mana asalnya hewan-hewan itu. Budi dorong cabang ke samping, tebas rotan dan duri di tanah biar rombongan bisa lewat. [Ding!! Setelah latihan yang cukup, kamu telah menguasai Keterampilan Pisau Dasar.] Budi langsung semangat. Skill pisau ternyata lebih gampang dikuasai dibanding skill mengemudi. Dia buka panel atribut, lihat skill pisau naik. Masih ada 4 poin skill tersisa. Setelah mikir bentar, dia alokasiin semuanya ke skill pisau. Sekarang jadi level 5. Biasanya dia nggak bakal boros gini skill pisau cuma berguna buat masak atau kerja tukang kebun. Skill Silat tangan kosong level 4 aja udah cukup buat jaga diri di kota. Tapi dunia lagi berubah gila-gilaan, nggak ada yang bisa prediksi besok. Di hutan kayak gini, skill pisau bakal jauh lebih berguna daripada tinju. Ini momen terbaik buat naikin level. Budi rasain ada semacam “ilusi” muncul di kepalanya, tapi nggak jelas. Beberapa detik kemudian, cara pegang parangnya berubah. Otot-ototnya langsung lebih tegang, posisi tubuh lebih pas. Dia coba atur postur: kaki agak melebar, badan condong sedikit ke depan. Tanpa sadar, dia mulai mainin parang lagi. Dalam sekejap, semua daun dan ranting di depannya hancur jadi serpihan kecil. Mbak Jeni yang lagi ngeliat langsung nutup mulut kaget. “Budi… kamu pernah latihan bela diri ya? Atau ilmu pedang gitu?” tanyanya pelan. “Iya, pernah,” jawab Budi sambil balik fokus. “Aku dulu latihan combat di Akpol, tapi nggak pernah belajar pake pisau. Katanya nggak berguna kalau ada pistol,” kata Mbak Jeni. “Dasar cowok, suka pamer di depan cewek,” cibir Mas Aji iri. “Itu beneran keren banget! Bisa gitu kok?” Mas Aji masih nggak percaya. Sebenarnya, dengan Ketangkasan 11, Budi bisa gerak 1,5 kali lebih cepat dari orang biasa. Dikombinasi skill pisau level 5, kemampuan bertarungnya langsung jadi gila. Dia bisa habisin musuh sebelum orang itu sempat berteriak. Kecepatan tebas jalannya makin ngebut. Postur lama yang salah bikin boros tenaga, tapi sekarang efisien banget. Dia tebas sekumpulan dahan tanpa liat, daun-daun berhamburan. Tapi pas parangnya kena cabang berikutnya, ada sesuatu yang aneh lembut banget, kayak karet. Dia liat: ular hijau gede! “ULAR!” Budi langsung mundur cepat. Kepala dan badannya langsung kesemutan. Ular itu hijau terang, kepala segitiga besar, badan ramping tapi panjangnya hampir dua meter. Budi tebas lagi keras hampir putus dua, cuma tinggal kulit tipis yang nyambungin. “Sssshhhssss!” Ular itu menggeliat kesakitan, taringnya keluar, suaranya mengerikan. “Ada apa?!” Kapten Andi langsung maju, tarik pistol. “Ada ular, kelihatannya beracun! Tapi udah aku bunuh,” jawab Budi setelah tenang beberapa detik. “Itu ular Viper! Semua hati-hati! Yang celananya longgar, rapetin sekarang!” Kapten Andi angkat ular pake ranting, lempar jauh. Diam-diam dia mikir, “Ular Viper biasanya cuma satu meter. Yang dua meter ini… kalau kena gigit, mati dulu sebelum sempat jerit.” Dia nengok ke Budi yang masih deg-degan. “Butuh gantian?” Budi liat Mas Aji sama Bang Zain yang mukanya pucet. “Nggak apa-apa, Pak. Kita cuma perlu lebih waspada. Seharusnya aman.” Dia tahu kalau polisi tim pada takut dan mundur, misi berakhir. Dia butuh mereka. Sendirian masuk hutan lebih bahaya lagi. Meski dia masih takut ular banget, sekarang dengan skill dan refleks cepat, dia bisa bunuh ular sebelum ular itu gerak. “Baiklah,” Kapten Andi senang denger jawaban itu. Awalnya dia sebel Budi ikut, tapi sekarang sadar cowok ini bisa bantu lebih dari anak buahnya. “Aku kasih topi aku deh, Budi. Hati-hati ya,” kata Mas Aji canggung. “Nggak usah, makasih. Katanya ular Viper suka lompat dari dahan. Aku di depan malah lebih aman. Kamu pake topi aja,” jawab Budi sambil senyum. Manusia emang suka hindarin bahaya. Budi sendiri nggak bakal masuk hutan kalau nggak ada tim penyelamat. Mbak Jeni langsung pucet denger penjelasan Budi. Dia nyesel banget. Takut tim pada mundur. Dia diem aja, langsung ikut jalan di belakang Budi. Mbak Jeni sengaja jalan tepat di belakang Budi. Dia liat Budi main parang tadi itu bukan level biasa. Dia nggak jelas liat, tapi rasanya Budi misterius banget. Lebih aman deket dia. Jalur sudah habis, cabang nutup total. Mereka cuma bisa andalkan Budi buat buka jalan. Tiba-tiba, binatang hitam muncul di semak, lalu hilang lagi. Dia berdiri di hutan sebelah, ngeliatin mereka. Ukuran segede anjing kampung, tapi bentuknya kayak kucing: badan ramping, bulu hitam mengkilap kayak sutra, mata kuning keemasan ganas, mulutnya masih netes darah segar. Budi langsung berhenti, angkat parang ke dada, siap serang. “Kelihatannya macan tutul,” kata Mbak Jeni gemetar sambil ngintip dari belakang Budi. Budi juga mikir gitu. Tapi macan tutul di bukit kecil kayak gini? Dor! Dor! Semua panik kecuali Kapten Andi sama Bang Zain yang langsung tarik pistol dan tembak. Binatang itu kaget, langsung kabur ke dalam hutan sambil meraung keras. “Itu pasti kucing hutan. Sayang nggak kena,” kata Kapten Andi cek sekitar, nggak ada darah. “Semua hati-hati. Kucing hutan pendendam. Bisa balik lagi.” Denger cuma kucing hutan, Mas Aji langsung pede. “Aku khawatir malah nggak balik. Belum pernah makan daging kucing hutan nih.” “Baru aja takut setengah mati, sekarang berani lagi. Nanti jangan sampe pipis di celana,” ejek Bang Zain. Mas Aji sadar tadi malu-maluin diri, langsung bales, “Apaan sih takut? Cuma kucing doang!” Kapten Andi diem aja, mukanya muram. Dia asli desa, tahu kucing hutan ganas. Tapi yang segede itu… harimau aja mungkin susah ngalahin. Untung bawa senjata, kalau nggak, mati semua. Budi lanjut tebas cabang biar maju. Semakin dalam, tanaman semakin lebat. Dia mutusin istirahat bentar. Dia masih kuat lanjut, tapi boros energi sekarang nggak bagus. Pas mau balik bilang ke tim, dia liat sesuatu berkedip di seberang jalur. Dia bisik pelan, “Awas! Itu balik lagi. Di belakang kalian.” Semua langsung angkat senjata, liat sana-sini. Nggak ada apa-apa. “Yakin di sini?” tanya Mas Aji sombong sambil goyang-goyang pistol. “AWAS!” Kapten Andi tarik Mas Aji ke belakang, langsung tembak ke arah belakangnya. Mas Aji pucet pasi. Peluru lewat deket telinga. Dia rasain maut deket banget. Kakinya lemas, ambruk ke semak berduri, mukanya luka berdarah. Nggak ada yang sempat nolongin. Roaarrr! Kucing hutan itu meraung ganas. Dalam sekejap, bayangan hitam melesat ke arah Kapten Andi tanpa aba-aba!Budi perlahan kehilangan kesadaran saat rasa lelahnya mendadak berkurang, dan dia mulai merasakan tenaganya perlahan kembali pulih. Kekuatannya pun terasa meningkat. Dengan susah payah, dia berusaha mengangkat kelopak matanya yang terasa berat banget, lalu bangkit berdiri. Tapi yang bikin Budi waspada adalah rasa aneh di tubuhnya yang sama sekali nggak hilang. Malah makin lama makin terasa mengganggu. Dia bisa merasakan ada api yang seakan membakar dari dalam dirinya. Rasanya kayak kalau nggak segera berhenti, tubuhnya bakal terbakar sendiri. "Mungkin ini racun ya?" Sambil memperhatikan kadal raksasa di depannya yang lahap memakan bangkai Cacing Gua Berkaki-Seribu itu, dia sadar kalau dugaan itu salah. Kalau cacing itu memang beracun, sekuat apa pun kadal raksasa itu, pasti bakal ada reaksi negatif setelah menelan daging dan darah sebanyak itu. Dia menepis rasa takutnya, lalu memeriksa kondisinya sendiri dengan teliti. Pung
Ia kembali mencari kesempatan untuk menyerang. Namun, setelah merasakan sendiri betapa mengerikannya serangan lawan, kadal itu tak lagi berani menggigit tubuh cacing secara langsung. Sebagai gantinya, ia memutuskan menggunakan jurus andalannya, yaitu sabetan ekor. Bahkan binatang mutan tingkat biru tua pun tak mampu menahan kekuatan ekornya yang luar biasa. Kadal raksasa itu tak menunggu sampai cacing berbalik. Sepasang matanya yang menyerupai kristal langsung mengunci sasaran di atas. Cacing Crypt Seribu Tentakel merasakan ancaman besar mendekat. Namun, saat ia berusaha memutar tubuh untuk menghadapi serangan tersebut, semuanya sudah terlambat. Kilatan bilah pedang tiba-tiba muncul. SRAK! Cacing itu langsung meraung kesakitan. Rasa sakit yang luar biasa memicu naluri bertahan hidupnya. Tubuhnya bergerak liar, berusaha menendang dan menghantam apa pun yang berada di dekatnya. Namun, serangan membabi buta itu hanya menghantam udara dan menghasilkan suara keras. Bagi Budi, s
Misi E+: Bunuh Cacing Crypt Seribu Tentakel. Batas waktu: 3 hari! Terima atau tolak? Notifikasi misi yang ditunggu akhirnya muncul. Budi sempat ragu sejenak sebelum menekan tombol Terima. Sampai saat ini, tidak ada alasan baginya untuk takut atau melarikan diri. Dia perlahan mencabut Parangnya dari sarungnya, menarik napas dalam-dalam, lalu melompat dari lantai empat. Sesuatu yang sulit dipercaya terjadi. Tubuhnya melayang turun dengan ringan, seolah-olah hukum fisika tak lagi berlaku baginya. Begitu kakinya menyentuh tanah, Budi langsung menjejakkan kaki dan melesat ke depan. Dalam sekejap, tubuhnya sudah berpindah sekitar lima meter dari titik pendaratan. Dia sedikit membungkukkan tubuh, lalu kembali melesat dengan kecepatan tinggi. Sementara itu, Cacing Crypt Seribu Tentakel terus merayap menuju kadal raksasa tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. Seolah-olah kadal mutan di
Tiba-tiba, Budi teringat pada cacing tanah mutasi yang pernah ditemuinya sebelumnya. Ingatan tentang makhluk itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar kencang. "Jangan-jangan ada di bawah tanah!" Begitu menyadari kemungkinan tersebut, Budi langsung melompat turun dari punggung kadal raksasanya. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, dia langsung merasakan getaran samar. Namun, getaran itu semakin lama semakin kuat. Dalam sekejap, tanah berguncang hebat, seolah-olah sedang dilanda gempa berkekuatan 7 hingga 8 skala Richter. Jalanan mulai retak satu demi satu, membentuk puluhan retakan besar yang menjalar ke berbagai arah. Jantung Budi berdegup kencang. Napasnya terasa sesak, sementara tubuhnya terpaku di tempat karena ketakutan. Bahkan setelah berusaha mundur sejauh empat atau lima meter, tubuhnya masih gemetar hebat. Tiba-tiba, suara dentuman k
Budi naik ke punggung kadal raksasanya. Setelah melirik sekilas kerumunan orang di bawah, dia langsung membalikkan badan tanpa menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Dia menepuk punggung hewan peliharaannya yang perkasa itu, lalu pergi meninggalkan distrik tersebut. Kadal raksasa itu bergerak sangat lincah, bahkan kecepatannya hampir seperti kilat. Meski tubuhnya besar, langkahnya tetap gesit dan ringan. Kurang dari satu menit, mereka sudah berhasil keluar dari distrik. Hanya dalam beberapa hari, semua luka di tubuh kadal raksasa itu sudah sembuh. Sisik-sisiknya yang sempat terkelupas juga mulai tumbuh kembali, berwarna hijau cerah dengan kilau yang mencolok. Penampilannya kini jauh berbeda dari saat pertama kali Budi bertemu dengannya. Tidak ada lagi bekas luka yang terlihat di tubuhnya. Namun, dibandingkan dengan ukuran awalnya, tubuh kadal raksasa itu justru tampak sedikit menyusut. Sekilas, dia bahkan terlihat lebih kurus dan lemah. Meski begitu, hanya Budi yang tahu betapa meng
Saat fajar mulai menyingsing, Doni terbangun dan mendapati Budi duduk di luar rumah ketika membuka pintu utama. Budi terlihat sangat tenang dengan mata terpejam. Pakaiannya lembap karena semalaman duduk di luar. Pedang yang ditancapkan ke tanah tampak gagah diterpa cahaya matahari pagi. “Ada apa?” tanya Sandi, teman sekamar Doni yang juga bangun pagi. “Budi sedang berlatih di luar. Sebaiknya jangan ganggu dia,” jawab Doni, meski dia sendiri merasa ada sesuatu yang tidak beres. Selama beberapa hari terakhir, binatang-binatang mutasi bertingkah seperti kehilangan kendali. Mereka terus mengaum dan membuat keributan sepanjang hari. Sepertinya, ada perubahan besar yang sedang terjadi pada binatang mutasi. Cara Budi bersikap belakangan ini seolah membenarkan dugaan tersebut. Awalnya, Sandi ingin keluar untuk menghirup udara segar. Namun, begitu tahu Budi sedang berada di luar, dia langsung mengurungkan niatnya. Dia takut kepada Budi dan sebisa mungkin memilih untuk tidak berurusan denga
Kebersihan warung makan di desa ini lumayan ala kadarnya, tapi menunya unik dan “liar”. Hampir semuanya hidangan eksotis: sup kelinci, sup ular campur rebung suwir, ayam iris tumis jamur hutan, dan katak rebus bumbu kuning. Semua bahan ditangkap warga desa sendiri. Dulu jarang banget, tapi belakang
Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebi
Kalimantan 2040“Tscht!”Pintu bus terbuka dengan suara berderit, Budi Santoso turun mengikuti arus penumpang yang berdesak-desakan. Kemeja putih kantornya sudah basah kuyup oleh keringat, ditambah noda debu membentuk pola acak di kainnya. Naik bus setiap hari dari kantor ke rumah kontrakan adalah
Dor! Dor!Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali.Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang







