Share

Bab 5

Author: Zhar
last update publish date: 2026-03-17 14:25:59

Dor! Dor!

Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali.

Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang itu terbang ke udara, jatuh berguling-guling di tanah. Kucing itu geleng-geleng kepala, masih pusing. Budi nggak kasih kesempatan langsung tebas keras ke badannya.

Krek!

Tulang punggungnya patah, badannya terbelah dua. Kucing itu meraung kesakitan, kaki-kakinya masih meronta-ronta kayak mau merangkak pergi. Organ dalamnya berceceran di tanah, bau amis dar4h nyebar ke mana-mana.

Dor! Dor!

Bang Zain langsung tambah dua tembakan ke kepala biar pasti mati.

“Mampua kau!” umpatnya sambil pastiin nggak gerak lagi.

Mbak Jeni nggak kuat liat adegan berdrah plus bau amisnya. Dia langsung minggir ke semak, muntah sejadi-jadinya.

Budi juga nggak enak badan. Semuanya kejadian terlalu cepat dia cuma refleks maju dan tebas. Tangan masih gemetar, badan dingin keringetan. Sejak kapan dia berani banget kayak gini? Dia sendiri nggak tahu.

Mas Aji nutup muka sambil merangkak keluar dari semak berduri. Mukanya penuh luka gores. “Kapten… ini udah terlalu bahaya. Kita nggak punya cukup orang buat ngadepin gini. Kucing hutan aja bisa hampir bunuh kita, apalagi kalau lebih dalam lagi. Udah cukup lah. Kita nggak bakal nemuin mereka!”

Semua langsung kelihatan capek dan putus asa setelah denger kata-kata Mas Aji. Yang terburuk udah kejadian.

Budi yang lagi kesel langsung bales, “Saya nggak bakal percaya kakak ipar saya mati sebelum liat mayatnya sendiri! Minimal kita cek dulu!”

“Kamu nggak punya hak ngomong! Mau mati ya maju sendiri, jangan seret kita!” Mas Aji meledak, langsung teriak ke Budi.

Budi nengok ke Mas Aji, bingung kenapa tiba-tiba ngamuk gitu. Tadi nggak nyenggol dia kok. “Kalau takut ya pulang aja. Lagian kamu juga nggak berguna.”

Kata itu bikin Mas Aji tambah panas. Dia langsung tarik pistol, arahin ke Budi. “Anjir lo! Ulang lagi kata lo tadi!”

“Jangan!” Mbak Jeni teriak kaget. Dia nggak nyangka Mas Aji bakal gini. Biasanya pendiam, sekarang kayak orang kesurupan.

“Aji! Turunin senjata sekarang!” bentak Kapten Andi, mukanya serius banget.

Mas Aji langsung ragu, tapi egonya tinggi. “Kapten… saya nggak nggak patuh, tapi dia harus minta maaf dulu!”

Budi lagi mikir banyak hal. Jujur, dia takut banget. Jantung berdegup kenceng pas liat moncong pistol, otak blank, rasanya maut udah di depan mata. Hampir aja lututnya lemes dan minta ampun. Tapi dia nggak mau. Nggak bakal sujud ke orang yang megang pistol. Itu penghinaan!

Semua pikiran itu lewat cepat. Dia pelan-pelan tenang. Dia nggak percaya Mas Aji bakal nembak di depan semua orang kalau masih punya akal sehat. Lagian jaraknya cuma dua meter. Kalau cepet, Budi bisa patahkan tangannya atau bahkan bunuh sebelum ditembak. Tapi itu bakal bikin tambah runyam.

“Turunin senjata kalau mau aku minta maaf,” kata Budi dingin. “Kamu pasti udah mati kalau Kapten nggak cepet selametin kamu tadi! Takut sekarang nggak apa-apa. Aku ikut Kapten aja. Kalau dia bilang balik, aku diem.”

Kata-katanya halus tapi nyindir. Dia hindarin langsung Mas Aji, tapi juga ingetin usaha selametin Kapten biar tim polisi nggak kompak lawan dia. Kapten Andi langsung serius. Dia inget Budi yang tadi nyelamatin nyawanya dari kucing hutan. Kalau nggak ada Budi, dia udah mati sekarang.

“Aji, turunin pistol sekarang! Dengar nggak?!” bentak Kapten.

“Kapten… Kapten…” Mas Aji coba bela diri, tapi suaranya gemetar.

“Hei, turunin aja!” Bang Zain ikut nyuruh. Dia juga sebel sama Mas Aji.

Mas Aji nengok Budi, tapi akhirnya turunin pistol.

Budi nggak liat dia lagi. Langsung jalan ke Kapten Andi dan bilang tulus, “Maaf ya, Pak. Tadi saya kelepasan ngomong kasar. Mohon maaf.”

Kapten Andi tenang lagi. “Nggak apa-apa. Aku ngerti perasaan kamu. Situasi gini emang susah buat siapa pun. Tapi di sini bahaya banget. Kalau sampe puncak belum ketemu, kita balik ya. Gimana?”

Mereka harus nemuin korban. Kalau nggak, nggak bakal sama.

“Deal,” jawab Budi, lalu tambah, “Saya tahu peluangnya kecil, tapi masih ada harapan. Kalau kita nyerah sekarang, mereka bakal putus asa total.”

Nggak ada yang peduli lagi soal minta maaf ke Mas Aji.

Mbak Jeni mendekat, coba hibur Budi. “Kamu baik-baik aja? Mas Aji masih baru, harusnya lebih sabar. Jangan diambil hati.”

“Aku oke kok,” jawab Budi.

“Gimana rasanya diancam pistol?” tanya Bang Zain sambil nyengir, kasih jempol.

“Kaki aku masih lemes,” jawab Budi sambil senyum kaku.

Bang Zain kasih acungan jempol lagi respect. Dia pernah liat banyak orang bereaksi pas ditodong pistol: langsung sujud minta ampun, ada yang pipis di celana. Ini pertama kalinya liat orang kayak Budi tetep tenang meski takut. Nggak ada yang peduli sama Mas Aji yang berdiri sendirian, cemburu dan kesel.

Mereka nggak lama di situ, tapi suara-suara aneh udah banyak. Seekor tikus gede keluar dari semak, liat mereka, liat mayat, ragu-ragu.

Kapten Andi langsung waspada. “Ayo pergi. Darah ini bakal narik hewan lain.”

“Pak, gimana kalau kita teriak nama korban aja? Kita udah setengah jalan. Kalau mereka denger, pasti jawab,” usul Mbak Jeni.

“Oke, tapi kita pindah dulu dari sini. Teriak bisa ganggu hewan di sekitar,” jawab Kapten.

Meski capek, Budi agak baikan setelah istirahat. Dia lanjut tebas tanaman dan cabang. Sepanjang jalan ketemu banyak hewan semua tertarik bau darah, tapi nggak ada yang berani serang.

Sepuluh meter kemudian, mereka mulai teriak nama-nama korban. Nggak ada jawaban. Budi makin khawatir dia mulai curiga Mas Joko udah nggak ada.

“Lihat! Itu kemeja nggak?” Mbak Jeni teriak sambil nunjuk ke depan.

Budi langsung semangat lagi, buru-buru maju.

“Kayaknya iya. Ada jejak! Mungkin mereka lewat sini naik. Pak, boleh kita cek?” usul Budi.

“Ayo!” jawab Kapten.

Sepuluh menit kemudian, mereka sampai.

Jejaknya sempit, tanaman di sekitar patah-patah, bengkok. Di dahan ada lengan baju berlumur darah.

“Darahnya masih segar. Mungkin kurang dari dua hari. Bisa jadi punya Pak Camat atau yang lain!” kata Kapten sambil jongkok cek sekitar.

“Ada darah di tanah. Mereka pasti diserang binatang buas, lalu kabur turun bukit. Ayo cari!”

Budi langsung setuju, maju cepat. Semua ikut buru-buru, tapi noda darah berhenti setelah 10 meter. Mereka nemu jejak aneh: meliuk-liuk, lebar cuma satu jengkal, setiap kelokan mirip banget, kayak diukur presisi.

Budi mikir dalam, pelajari jejak itu.

Tiba-tiba dia teriak, “Anjir! Ini jejak ular?!”

Bang Zain langsung angkat pistol, siaga. “Kalau jejaknya segede ini… bayangin ularnya seberapa gede!”

Budi liat Mas Aji mundur pelan, sembunyi di belakang semua orang. Pasti bakal kabur kalau nggak takut kena marah.

“Ini keputusan kamu, Budi. Mau lanjut cek atau balik?” tanya Kapten Andi.

Mbak Jeni cepet-cepet bilang, “Balik aja. Saya nggak yakin kakak ipar kamu masih hidup.”

Budi diem bentar. Lalu bilang, “Pak Kapten, saya bisa balik sekarang dan anggap kakak ipar saya udah mati.” Dia ragu sebentar, lalu lanjut, “Tapi saya bisa pergi, kalian nggak bisa. Ular itu udah gede banget, dan bakal tambah gede kalau cuaca terus begini. Kalau nafsu makannya nggak cukup dari hewan hutan lagi, dia bakal turun ke desa, lalu ke kota cari makan. Kalian polisi. Akhirnya kalian yang harus lawan. Nggak bisa kabur selamanya!”

“Menurut kalian, lebih gampang bunuh ular yang baru kekenyangan dan berat bergerak, atau ular raksasa yang lagi laper?” tanya Budi.

“Gimana kamu tahu dia nggak bisa gerak?” tantang Mas Aji.

Budi nengok dia kayak liat orang bodoh. “Nggak peduli seberapa gede, ular butuh minimal beberapa hari buat cerna kalau baru telan orang. Selama itu dia nggak bakal gerak banyak badannya berat. Jadi agak lebih aman buat serang sekarang.”

Budi nengok Kapten Andi, nunggu keputusan. Dia nggak bisa apa-apa lagi. Kalau Kapten nyerah, misi gagal. Dia nggak siap lawan ular sendirian apalagi takut ularnya parah.

Setelah mikir lama, Kapten Andi nengok Budi. “Semoga yang kamu bilang bener. Kita lakuin ini buat desa!”

Dia masih punya rasa keadilan. Dia tahu ini momen terbaik bunuh ular sebelum tambah parah. Bahkan Mas Aji diem aja.

Jalan di jejak ular terasa menyesakkan. Mereka bisa bayangin kekuatan dan ukuran ular dari pohon-pohon yang bengkok dan patah. Ekornya aja cukup buat lumpuhin kalau kena senggol.

Budi khawatir banget. Telapak tangan basah keringat, gagang parang licin. Dia nggak mau bayangin kalau orang tahu dia takut setengah mati. Semua siaga, jalan pelan-pelan, keringetan deras.

Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai ujung jejak. Di depan ada tanah tandus, sepi, penuh ranting kering bengkok-bengkok. Tempatnya nggak masuk akal kayak habitat ular raksasa.

“Mas Aji, kamu cek dulu. Jangan ganggu apa-apa!” perintah Kapten pelan.

Dia pengen Budi yang pergi, tapi Budi udah banyak bantu sepanjang jalan, sementara anak buahnya sendiri minim kontribusi. Malu kalau suruh Budi lagi ambil risiko.

Mas Aji langsung pucet. Dia liat rekan-rekannya, liat Budi. Budi balas tatap sambil senyum sinis tantangan.

Mas Aji kesel. “Baik! Aku pergi!”

Dia langsung nyesel bilang gitu. Tapi nggak bisa mundur. Dia tarik pistol pelan, maju kayak orang mau dieksekusi. Baru jalan 10 meter, kakinya lemes, ambruk ke tanah. Takutnya kelewatan.

Muka Kapten Andi langsung berubah. “Kamu maluin seluruh polisi!”

Bang Zain ketawa kecil. “Aku aja deh.”

Budi ketawa dalam hati. Nggak nyangka orang yang tadi berani todong pistol gara-gara harga diri, sekarang nggak sanggup hadapin ketakutan sendiri meski bersenjata.

Kapten Andi angguk setuju.

Bang Zain dulu tentara, langsung turun ke tanah, merangkak maju cepat. Beberapa menit kemudian, dia sampai di tempat Mas Aji ambruk. Dia ambil pistol Mas Aji, masukin ke sakunya sendiri. Lanjut maju, nggak peduliin Mas Aji.

Beberapa saat kemudian, Bang Zain balik. Tapi sikap sombongnya hilang total. Mukanya putih pucat kayak kain kafan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mutasi Alam Liar   Bab 7

    “Jeni!” “Budi!” Seseorang berteriak memanggil mereka. Budi dan Mbak Jeni langsung kaget. Mereka buru-buru menjauh satu sama lain dan berdiri tegak sebelum keluar dari balik pohon. “Itu dia. Kalian berdua lagi ngapain di situ?” Bang Zain menyeringai dengan ekspresi penuh arti. Di wajahnya masih ada bekas darah. Mbak Jeni langsung merah padam. Budi lebih cuek. Dengan ekspresi tetap tenang, dia langsung mengganti topik. “Kaki aku masih lemes. Ularnya gimana?” “Udah mati. Mana mungkin nggak mati setelah ditembak berkali-kali? Tapi gila sih. Kalau dia nggak lagi kekenyangan, mungkin kita yang mati duluan,” Bang Zain menyeringai lebar. Tiba-tiba Budi teringat sesuatu. Diam-diam dia membuka panel atribut. Misinya ternyata belum selesai. Dia bingung. Apa Mas Joko bukan dibunuh ular ini, atau masih hidup? Lalu dia sadar panel atributnya berubah sedikit. Begit

  • Mutasi Alam Liar   Bab 6

    “Ularnya gede banget… gede parah…” gumam Bang Zain. Mukanya campur aduk antara takut dan excited.“Jelasin lebih detail!” bentak Kapten Andi memotong.Bang Zain tarik napas dalam-dalam buat tenangin diri. “Badannya setebal pinggang saya, perutnya bengkak parah sampe kayak nggak bisa gerak. Dia lagi tidur miring di lereng bukit, keliatan kayak batang pohon gede.”“Oh iya!” Bang Zain tiba-tiba inget lagi. “Itu mirip ular tikus raja!”Semua muka langsung muram.“Yakin nggak salah liat?” tanya Kapten Andi ragu.“Yakin banget! saya pernah nangkep yang gini dulu,” jawab Bang Zain kesel.Budi tahu betul ular tikus raja. Waktu kecil di kampung sama orang tua, sering liat. Panjangnya biasa 2–3 meter, tebalnya segede lengan orang dewasa. Mustahil bisa segede yang digambarin Bang Zain.Tapi Budi agak lega. Lawan hewan nggak beracun lebih gampang daripada yang beracun.“Kita cuma punya satu kesempatan. Ular yang kekenyangan nggak bakal nyerang. Selama kita nggak provokasi, kita bisa lewat aman. T

  • Mutasi Alam Liar   Bab 5

    Dor! Dor!Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali.Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang itu terbang ke udara, jatuh berguling-guling di tanah. Kucing itu geleng-geleng kepala, masih pusing. Budi nggak kasih kesempatan langsung tebas keras ke badannya.Krek!Tulang punggungnya patah, badannya terbelah dua. Kucing itu meraung kesakitan, kaki-kakinya masih meronta-ronta kayak mau merangkak pergi. Organ dalamnya berceceran di tanah, bau amis dar4h nyebar ke mana-mana.Dor! Dor!Bang Zain langsung tambah dua tembakan ke kepala biar pasti mati.“Mampua kau!” umpatnya sambil pastiin nggak gerak lagi.Mbak Jeni nggak kuat liat adegan berdrah plus bau amisnya. Dia langsung minggir ke semak, muntah sejadi-jadinya.Budi juga nggak enak badan. Semuanya kejadian terlalu cepat dia cuma refle

  • Mutasi Alam Liar   Bab 4

    Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangkah pun.Pohon-pohon membentuk kanopi daun tebal yang nutupin matahari, bikin jalur gelap gulita. Cuma ada beberapa sinar yang nyusup lewat celah-celah, kayak lagi jalan di hutan purba. Hutan yang dulu jarang binatang sekarang jadi surga buat satwa liar. Dengung serangga, kicau burung, sesekali kelihatan burung kuau atau kelinci lompat-lompat. Entah dari mana asalnya hewan-hewan itu. Budi dorong cabang ke samping, tebas rotan dan duri di tanah biar rombongan bisa lewat.[Ding!! Setelah latihan yang cukup, kamu telah menguasai Keterampilan Pisau Dasar.]Budi langsung semangat. Skill pisau ternyata lebih gampang dikuasai dibanding skill mengemudi. Dia buka panel atribut, lihat skill pisau naik.

  • Mutasi Alam Liar   Bab 3

    Kebersihan warung makan di desa ini lumayan ala kadarnya, tapi menunya unik dan “liar”. Hampir semuanya hidangan eksotis: sup kelinci, sup ular campur rebung suwir, ayam iris tumis jamur hutan, dan katak rebus bumbu kuning. Semua bahan ditangkap warga desa sendiri. Dulu jarang banget, tapi belakangan ini sudah jadi makanan sehari-hari.Meski menunya spesial, suasana makan siang agak tegang. Obrolan basa-basi cepat mati. Sekitar 15 menit kemudian, Kapten Andi letakkan sendok garpu dan nyalakan rokok kretek. Budi pinjam korek dari Kapten, ikutan nyalain satu batang. Bukan kebiasaan dia, tapi kadang kalau lagi stres atau mikir berat, dia suka ngerokok.“Ayo berangkat!” kata Kapten Andi sambil berdiri setelah habisin rokoknya.Semua ikut berdiri dan langsung menuju kaki bukit. Budi jalan paling belakang, main-main sama parangnya, ayun-ayun ke udara sambil latihan gerakan tebas. Bang Zain nengok ke belakang dan nyengir.“Wah, semangat banget ya kamu, Nak? Nanti di bukit banyak rumput liar

  • Mutasi Alam Liar   Bab 2

    Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebih sederhana dan sepi dibandingkan kantor polisi yang cuma berjarak sekitar sepuluh meter di sebelahnya.Budi Santoso masuk ke lobi gedung pos kehutanan. Hanya ada beberapa petugas di meja resepsionis, kebanyakan lagi main kartu domino atau ngobrol santai. Dia langsung naik ke lantai dua.Kepala Pos nggak ada, jadi Budi cuma bisa ketuk pintu kantor Wakil Kepala Pos.“Masuk!”Dia buka pintu. Di dalam ada seorang bapak-bapak paruh baya agak gemuk. Kantung mata tebal, kelihatan kurang tidur. Dia cuma melirik sekilas ke Budi lalu balik fokus ke dokumen di meja.“Ada apa?” tanyanya datar.Budi agak sebal diabaikan, tapi dia paksa senyum. “Selamat siang, Pak. Saya adik ipar Mas Joko Santoso. Dia ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status