LOGIN
Kalimantan 2040
“Tscht!” Pintu bus terbuka dengan suara berderit, Budi Santoso turun mengikuti arus penumpang yang berdesak-desakan. Kemeja putih kantornya sudah basah kuyup oleh keringat, ditambah noda debu membentuk pola acak di kainnya. Naik bus setiap hari dari kantor ke rumah kontrakan adalah mimpi buruk bagi Budi, rutinitas yang selalu menguji kesabarannya. “Panas banget akhir-akhir ini,” gumam Budi sambil menarik kerah bajunya yang lengket. Cuaca panas menyengat ditambah klien rewel hari ini bikin dia tambah jengkel. Dia selipkan tas selempang kerjanya di bawah ketiak lalu berjalan cepat menuju Perumahan Bukit Rimba di pinggiran Kota Palangkaraya. Perumahan Bukit Rimba terletak di pinggiran Palangkaraya, lebih dari 10 km dari pusat kota. Harga sewanya lumayan mahal untuk ukuran kota sedang, tapi Budi berbagi rumah kontrakan dua kamar dengan sepasang kekasih muda. Dia cuma bayar Rp800 ribu dari total sewa Rp2,5 juta per bulan cukup murah untuk dapat rumah berperabot lengkap. Meski lokasinya agak jauh dan sering macet, teman serumahnya asyik dan ramah. Dia menghirup bau rumput baru dipotong saat melewati taman kompleks. Beberapa pekerja lagi motong rumput dengan mesin dorong. “Lho, bukannya baru dipotong dua minggu lalu?” Budi bingung. Dia lihat rumput di halaman sudah setinggi lutut, bahkan pohon-pohon kelapa dan durian di sekitar kompleks terlihat lebih tinggi dan rimbun dari biasanya. Baru sadar, cuaca aneh banget. Sudah mendekati Desember, tapi masih panas seperti kemarau panjang. Pohon-pohon biasanya daunnya rontok atau kurang subur di musim ini, tapi tahun ini malah lebih hijau dan lebat. Berita di TV dan medsos ramai bahas ini: ada yang bilang efek perubahan iklim, ada yang tuding aktivitas gunung berapi di Jawa, bahkan ada teori konspirasi soal sinar matahari abnormal atau ledakan bintang jauh. Semua teori kelihatan masuk akal, tapi bikin pusing kepala. “Lebih baik serahkan ke para ahli. Urusan warga biasa mah gitu-gitu aja,” Budi geleng-geleng kepala. Beberapa menit kemudian, aroma masakan rumah menyambutnya begitu membuka pagar besi. Begitu ganti sandal jepit, Rina keluar dari dapur. Dia kaget sebentar karena mengira suaminya yang pulang. “Oh, Mas Budi. Masuk, makan malam bareng yuk. Aku masak lebih banyak hari ini!” Rina tersenyum sambil kembali ke dapur, masih pakai celemek. Rina masih muda, 27 tahun, cuma empat tahun lebih tua dari Budi. Kulitnya cerah, badan langsing, senyumnya manis dengan wajah oval khas cewek Kalimantan yang lembut. “Boleh dong, hemat duit,” Budi langsung setuju sambil nyengir. “Mas Joko mana? Biasanya dia pulang duluan. Aku mau main Mobile Legends bareng dia sambil nunggu makan.” Kekasih Rina, Joko Santoso, kerja di Dinas Kehutanan Provinsi. Kerjanya biasa ringan, masuk jam 8 pagi, pulang jam 4 sore. Jarang ikut nongkrong. Aneh kalau jam segini belum pulang. “Main game mulu!” Rina menegur sambil pura-pura kesal. “Kemarin kalian main sampe jam 1 malam pas aku udah tidur. Kenapa sih nggak berhenti?” Budi cuma nyengir. “Iya deh, besok aku usahain berhenti. Tapi Mas Joko kan pecandu berat.” “Dia nggak bisa maksa kalau kamu nggak mau!” balas Rina. Rina tahu betul sifat pacarnya. Mas Joko orang rumahan, nggak punya temen banyak. Pulang kantor langsung ke rumah, main game sampe larut. Rina sering nyuruh berhenti, tapi gagal mulu. “Oke, besok kita tidur sebelum jam 11 malam.” Budi sadar akhir-akhir ini mereka sering begadang, makanya siang hari suka ngantuk di kantor. Dia masuk kamar ambil baju ganti, lalu mandi. Habis itu, langsung buka Mobile Legends. Baru satu ronde, langit sudah gelap. Rina masuk kamarnya pas Budi mau mulai ronde kedua. “Mas Budi, makan yuk. Kita nggak usah nunggu Mas Joko lagi,” katanya pelan, wajahnya khawatir. “Udah telepon?” tanya Budi. “Udah, nggak diangkat!” Rina mengacak rambutnya frustrasi. “Pagi tadi dia bilang mau ke pos kehutanan di daerah Muara Teweh bareng atasannya buat cek kondisi hutan. Mungkin masih sibuk. Udah, makan dulu aja.” Budi nggak nanya lagi. Mereka duduk di meja makan. Rina jago masak. Ada lima lauk plus sayur sop, semuanya wangi dan kelihatan enak. “Wah, Sop Ikan Patin ini favorit aku! Dari jaman kuliah aku suka banget. Boleh nyicip dulu ya!” Budi langsung ambil potongan ikan. “Gimana? Keasinan nggak?” Rina tanya gugup. “Bercanda apa! Bisa buka warung nasi Padang nih keterampilannya. Sayang cuma masak buat Mas Joko,” puji Budi. Rina ketawa sambil nyindir, “Gombal mulu! Makan yang banyak kalau enak.” Suasana yang tadinya tegang jadi cair, mereka ngobrol sambil makan. Pas makan selesai, Rina mulai khawatir lagi. Dia ambil HP, nelpon lagi. Wajahnya makin muram. “Ada apa?” tanya Budi. “HP-nya mati,” jawab Rina pelan. “Mungkin kehabisan baterai. Atau lagi traktir temen kantor abis rapat. Dengan toleransi minumnya yang jelek, pasti udah mabuk berat,” hibur Budi sambil nyengir. “Iya sih, satu botol bir aja langsung tumbang,” Rina agak lega. [Ding!!] Tiba-tiba Budi dengar bunyi beep di kepalanya. Ekspresinya berubah. Dia panggil sistem dalam hati. Layar hologram hijau muncul di udara. [Karakter: Budi Santoso] [Pekerjaan: Sales Marketing Ekspor, PT Borneo Jaya Trading] [Level: 3] [Pengalaman: 900/1200] [Atribut] [Energi: 10 (10)] [Ketangkasan: 11 (10)] [Fisik: 11 (10)] [Kecerdasan: 13 (10)] [Sensitivitas: 10 (10)] [Penentuan: 11 (10)] [Keterampilan] [Sains: 16] [Matematika: 14] [Bahasa Indonesia: 19] [Bahasa Inggris: 16] [Keuangan: 17] [Pemrograman: 9] [Tari: 1] [Melukis: 3] [Game: 6] [Negosiasi: 9] [Sosialisasi: 7] [Memasak: 3] [Mengemudi: 1] [Silat: 4] [Keterampilan Khusus: Identifikasi] [Poin Atribut Tertunda: 0] [Poin Keterampilan Tertunda: 4] [Misi Tertunda] Level F – Jadi Asisten Manajer Regional Ekspor di PT Borneo Jaya Trading dalam 12 bulan (Dibatalkan) [Misi Opsional] Level F+ – Selidiki penyebab hilangnya Joko Santoso dalam 5 hari (Terima / Tolak) Budi terpaku. Hilang? Joko hilang? Dia punya sistem ini sejak kuliah, setelah orang tuanya kecelakaan dan mantan pacarnya mutusin dia. Dulu dia anak kuliah biasa yang suka bolos. Tapi setelah “benda aneh” jatuh ke kepalanya, dia berubah drastis: rajin belajar, ambil beasiswa, ikut tes TOEFL, sertifikasi ekspor-impor, dll. Sistem ini ubah hidupnya. Tapi misi Asisten Manajer dibatalkan? Apa perusahaan bangkrut? PT Borneo Jaya Trading omzetnya miliaran, kok bisa tutup mendadak? Yang lebih bikin kaget: misi F+ pertama! Biasanya misi pendek seperti selamatin anak tenggelam atau lari estafet cuma Level F. Level F+ berarti susah dan berbahaya! Budi lihat Rina yang cemas di sebelahnya. “Harus aku selamatkan dia!” Rina ketuk meja. “Ngapain melamun? Aku bikin bosan ya?” Budi buru-buru jawab, “Enggak kok. Hari ini klien nyebelin banget, abis energi.” “Mungkin perlu pacar deh. Jangan mikirin kerja mulu. Ada yang disuka? Mau aku carikan?” Rina prihatin. “Aku baik-baik aja,” jawab Budi sambil mikir misi. Mereka ngobrol bentar lagi. Rina bangun buat cuci piring. “Biarkan aku aja. Kamu udah masak, masa cuci juga.” “Nanti pecah piringnya. Main game aja sana,” Rina ketawa sambil cuci cepat. Budi balik ke kamar, rebahan sambil mikir. “Besok Jumat, kalau cuti sehari, aku punya tiga hari buat selesaikan misi.” Dia udah nggak semangat kerja sejak tahu perusahaan mungkin tutup. ** Keesokan paginya, Budi habis jogging pagi pas Rina keluar kamar mandi. Dia kelihatan sibuk, senyum dipaksain. Budi tahu Rina masih khawatir Mas Joko nggak pulang semalam. Dia langsung ajukan cuti ke manajer via WA, lalu berangkat ke kantor Dinas Kehutanan provinsi yang cuma beberapa km dari perumahan. Dia jogging ke sana, karena sejak punya sistem, dia suka olahraga buat naikin atribut. Sepuluh menit kemudian, Budi sampai di Dinas Kehutanan. Daftar di pos jaga, lalu tanya ke petugas muda. “Joko Santoso? Kayaknya pernah dengar, tapi bukan di bagian kami. Coba tanya yang lain.” Budi tanya sana-sini, nggak ada yang tahu pasti. Akhirnya seorang bapak-bapak perut buncit berhenti. “Cari Joko Santoso? Penting ya?” Budi jawab, “Iya, Pak. Adik ipar saya nyuruh ngecek, dia nggak pulang semalam, HP mati.” “Oh, dia kemarin ke pos kehutanan di Muara Teweh bareng Kepala Seksi Hadi. Seharusnya hari ini balik. Pulang aja, nanti juga muncul.” Bapak itu langsung pergi. “Kalau misi F+ segampang ini, ngapain repot,” pikir Budi lega. Tapi dia nggak puas. Dia panggil taksi online ke Muara Teweh. Sopir taksinya cerewet. Mulai ngomong sendiri pas Budi masuk. “Awalnya Budi jawab seadanya, akhirnya diem aja. Macet parah di kota, baru lancar pas keluar pinggiran. Di pinggir jalan, pohon-pohon tinggi menjulang, membentuk kanopi hijau. Indah kalau nggak ada bangkai hewan berserakan: ular tanah, kadal, tikus besar, bahkan babi hutan kecil. Setiap beberapa kilometer ada saja. “Banyak ular ya sekarang?” Budi meringis. Dia sejak kecil takut ular. “Ini baru-baru ini. Di desa lebih parah. Warga bisa dapat Rp500-600 ribu sehari cuma tangkap ular sama katak. Ada yang tangkap babi hutan 200 kilo! Entah dari mana. Hutan di sini tumbuh cepat banget!” Sopir mulai nyanyi lagi. Daerah sekitar Palangkaraya dulunya datar, bukit-bukit rendah. Tapi sekarang hutan menjalar cepat, hewan besar muncul tiba-tiba. Budi baru sadar perubahan besar beberapa bulan terakhir. “Kalau gitu desa bahaya dong?” “Bahaya apa? Malah jadi lauk enak! Yang bahaya naik bukit. Banyak yang hilang, mayat nggak ketemu. Makanya orang jarang naik sekarang. Katanya pemerintah mau tebang semua pohon di bukit.” Budi langsung ingat misi F+. “Mungkin Mas Joko hilang pas naik bukit.” Dia nggak mau ngobrol lagi. Misi F+ pasti nggak gampang. Dia khawatir kalau harus masuk hutan tanpa persiapan, apalagi tanpa senjata. Tapi yang terbaik ya ke pos kehutanan dulu, tanya informasi, baru rencanakan selanjutnya. Sepuluh menit kemudian, taksi berhenti di depan gedung dua lantai sederhana. “Ini pos kehutanan Muara Teweh. Total Rp85 ribu. Mau ditunggu, Bang?” “Enggak, terima kasih!” Budi bayar, turun, dan berjalan ke pintu masuk...Di zaman kiamat seperti ini, nilai barang berubah drastis. Bagi mereka yang memiliki kekuasaan, uang dan harta benda adalah segalanya karena tak perlu khawatir soal makan dan tempat tinggal. Namun bagi rakyat biasa, makanan menjadi prioritas utama, karena itulah yang menentukan hidup dan mati. Budi memang bukan orang kaya atau berpengaruh, tapi ia memiliki kekuatan luar biasa dan sudah berevolusi. Ia bisa dengan mudah mendapatkan daging hewan mutan atau persediaan makan sendiri. Bahkan di bawah pengawasan ketat militer di pangkalan itu, orang sepertinya tetap dibutuhkan dan tak akan kekurangan apa pun. Maka membiarkan Lestari membawa kotak makanan... apakah ini pertanda ia dianggap tidak penting lagi? Sangat disayangkan ia baru saja bergabung dalam waktu singkat. Meskipun sudah berusaha memberikan yang terbaik, ternyata kesan buruk di awal masih belum hilang dari pikiran Budi. Sekarang saatnya ia mengambil keputusan. Mengumpulkan seluruh keberaniannya,
Setelah menghabiskan minumannya, Budi bersandar pada dinding dan menatap langit-langit ruangan tanpa tujuan. Ia tak bergerak sedikit pun. Masa depannya terasa sama suramnya dengan ruang bawah tanah yang gelap ini. Tak ada seberkas cahaya pun yang terlihat. Saat matahari mulai terbenam, langit pun makin lama makin gelap gulita. Mereka menyantap makan malam yang terbilang cukup layak, lalu bersiap-siap untuk berangkat menuju pangkalan bawah tanah. Budi keluar sebentar untuk mengambil kendaraan, namun beberapa menit kemudian ia kembali dengan tangan kosong. Wajahnya tampak kesal dan murung. “Kenapa tidak dibawa saja mobilnya sampai ke depan pintu?” tanya Jeni sambil terus memasukkan barang-barang ke dalam tas. “Mobil 4WD terjepit reruntuhan tembok, dan mobil tua yang lain sudah dicuri orang,” jawab Budi singkat. “Sepertinya kita harus berjalan kaki ke sana.” “Pencuri tak tahu diri i
“Peringatan terakhir! Jika terus maju, kami akan menembak!” bentak prajurit itu lagi. Suasana langsung menegang. Prajurit yang lain semakin mencengkeram gagang senjata mereka dengan erat. Budi berhenti sejenak, membuat mereka mengira ia akan mundur, tapi tiba-tiba ia melesat kembali dengan kecepatan yang luar biasa. Yang terlihat hanyalah bayangan tubuhnya yang bergerak cepat. “Sial! Dia sudah berevolusi! Tembak saja!” perintah seorang Letnan Dua saat melihat kecepatan yang tidak wajar itu. Jika ini masih masa damai, mungkin para prajurit akan ragu-ragu. Namun mereka baru saja kembali dari garis depan pertempuran. Serentetan peluru langsung melesat menghujani arah Budi. Peluru-peluru itu menghantam tanah dan memercikkan pasir serta batu, tapi tidak ada satu pun yang menyentuh tubuhnya. Bukan karena mereka kurang pandai membidik. Sebagai tentara yang sudah banyak terlibat pertempuran, kemampuan
Dia menyentuh permukaannya halus, namun terasa jauh lebih padat dan tahan banting. Untuk membuktikan dugaannya, dia mengambil sepotong batu tajam dan menggoreskan dengan cukup kuat ke punggung tangannya. Dulu, tekanan seberat itu pasti akan menimbulkan luka dalam dan berdarah. Kali ini, hanya lapisan kulit luar yang sedikit tergores. Saat batu disingkirkan, tak setetes pun darah yang keluar. Dia terkejut, sekaligus penasaran. Mengapa saat berlatih biasa dia tak pernah mendapatkan efek sehebat ini? Selama ini, tingkat fisik yang dimilikinya murni hasil latihan fisik biasa. Peningkatannya hanya sebatas daya tahan tubuh dan tenaga, tak pernah ada hal luar biasa seperti ini. Pikirannya merunut satu kesimpulan: kekuatan hasil latihan biasa sifatnya sementara persis seperti pelari jarak jauh. Jika berhenti berlatih, kekuatan itu perlahan menurun dan dalam waktu tiga tahun akan kembali rata-rata seperti orang biasa. Secara fisik, perbedaan antar
Kalau aku bisa menghindari peluru, aku juga bisa menghindari ini. Dia tak lebih cepat dari peluru. Tanpa sadar tubuhnya miring ke samping, dan di saat yang sama kapaknya terayun. Kilatan dingin melesat seperti kilat, dan bilah tajam itu menebas tepat ke persendian cakar yang keras hingga terputus bersih dari tubuh burung itu. Sebelum Elang Emas sempat merasakan sakit dan bereaksi, Budi sudah bergerak maju. Dengan tumpuan kaki yang cukup kuat hingga memecahkan permukaan aspal, bahunya menabrak keras bagian perut makhluk itu. Kekuatan fisik adalah hal yang bisa dilatih dan dimanfaatkan, berbeda dengan kecerdasan atau kelincahan yang batasnya lebih kaku. Meski masih jauh di bawah petarung profesional, kekuatannya yang setara dua kali lipat manusia rata-rata bukanlah hal yang bisa diremehkan. Tampak besar dan raksasa itu utamanya karena sayapnya; tanpa sayap, tubuhnya hanya setinggi tiga meter. Akibat hantaman keras itu, burung
Bayangan itu mendarat ringan di atas tanah, lalu melompat menghilang ke arah lain. Baru saat itulah makhluk itu menyadari apa yang terjadi. Ia berhenti berjalan, menoleh dengan gerakan marah untuk mencari manusia yang berani menyerangnya. Namun kepalanya perlahan terlepas dari lehernya dan jatuh ke tanah, sementara darah menyembur deras seperti air mancur karena tekanan pembuluh darahnya. Tidak jauh dari situ, Budi bersandar di sudut pertemuan dua dinding, napasnya terasa sedikit memburu. “Ini sudah makhluk tingkat Biru yang kesepuluh, dan ini misi tingkat E yang ketiga! Sudah cukup lama rasanya menahan ini! Seharusnya setelah menyelesaikan satu misi lagi, aku bisa naik level!” Senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya segera menghilang. Mungkin karena makhluk itu sudah terluka parah sebelumnya, tapi sebaik apa pun caranya bertarung, penilaian misinya tetap hanya mendapat predikat “Cukup Baik”. Meski begitu, dia tetap mend
Taman Palangkaraya adalah spot hits di kota tempat kencan favorit, piknik, jogging, sampe foto-foto. Tiap musim indah: musim hujan daun hijau lebat, musim kemarau bunga-bunga mekar. Danau di tengahnya kayak permata biru, bunga teratai lagi rame berbunga. Karena cuaca aneh belakangan, air danau ma
Budi duduk di pinggir tempat tidur, ngeliatin Rina yang udah tertidur lelap setelah nangis sampe capek. Matanya masih bengkak, pipinya basah bekas air mata. Budi angkat tubuhnya pelan ringan banget, kayak nggak ada tenaga lagi bawa ke kamarnya, taruh di kasur dengan hati-hati. Pas
Budi mundur pelan sambil menutup hidungnya. Bau amis darah dan asam lambung membuat perutnya mual. Bang Zain dan Kapten Andi pakai tongkat kayu buat geledah perut ular yang masih menggelembung. Mereka harus konfirmasi identitas korban. Polisi biasa lihat mayat, tapi kali ini beda ini mayat teman, s
“Jeni!” “Budi!” Seseorang berteriak memanggil mereka. Budi dan Mbak Jeni langsung kaget. Mereka buru-buru menjauh satu sama lain dan berdiri tegak sebelum keluar dari balik pohon. “Itu dia. Kalian berdua lagi ngapain di situ?” Bang Zain menyeringai den







