Share

Mutasi Alam Liar
Mutasi Alam Liar
Penulis: Zhar

Bab 1

Penulis: Zhar
last update Tanggal publikasi: 2026-03-17 14:23:18

Kalimantan 2040

“Tscht!”

Pintu bus terbuka dengan suara berderit, Budi Santoso turun mengikuti arus penumpang yang berdesak-desakan. Kemeja putih kantornya sudah basah kuyup oleh keringat, ditambah noda debu membentuk pola acak di kainnya. Naik bus setiap hari dari kantor ke rumah kontrakan adalah mimpi buruk bagi Budi, rutinitas yang selalu menguji kesabarannya.

“Panas banget akhir-akhir ini,” gumam Budi sambil menarik kerah bajunya yang lengket. Cuaca panas menyengat ditambah klien rewel hari ini bikin dia tambah jengkel. Dia selipkan tas selempang kerjanya di bawah ketiak lalu berjalan cepat menuju Perumahan Bukit Rimba di pinggiran Kota Palangkaraya.

Perumahan Bukit Rimba terletak di pinggiran Palangkaraya, lebih dari 10 km dari pusat kota. Harga sewanya lumayan mahal untuk ukuran kota sedang, tapi Budi berbagi rumah kontrakan dua kamar dengan sepasang kekasih muda. Dia cuma bayar Rp800 ribu dari total sewa Rp2,5 juta per bulan cukup murah untuk dapat rumah berperabot lengkap. Meski lokasinya agak jauh dan sering macet, teman serumahnya asyik dan ramah.

Dia menghirup bau rumput baru dipotong saat melewati taman kompleks. Beberapa pekerja lagi motong rumput dengan mesin dorong. “Lho, bukannya baru dipotong dua minggu lalu?” Budi bingung. Dia lihat rumput di halaman sudah setinggi lutut, bahkan pohon-pohon kelapa dan durian di sekitar kompleks terlihat lebih tinggi dan rimbun dari biasanya.

Baru sadar, cuaca aneh banget. Sudah mendekati Desember, tapi masih panas seperti kemarau panjang. Pohon-pohon biasanya daunnya rontok atau kurang subur di musim ini, tapi tahun ini malah lebih hijau dan lebat. Berita di TV dan medsos ramai bahas ini: ada yang bilang efek perubahan iklim, ada yang tuding aktivitas gunung berapi di Jawa, bahkan ada teori konspirasi soal sinar matahari abnormal atau ledakan bintang jauh. Semua teori kelihatan masuk akal, tapi bikin pusing kepala.

“Lebih baik serahkan ke para ahli. Urusan warga biasa mah gitu-gitu aja,” Budi geleng-geleng kepala.

Beberapa menit kemudian, aroma masakan rumah menyambutnya begitu membuka pagar besi. Begitu ganti sandal jepit, Rina keluar dari dapur. Dia kaget sebentar karena mengira suaminya yang pulang.

“Oh, Mas Budi. Masuk, makan malam bareng yuk. Aku masak lebih banyak hari ini!” Rina tersenyum sambil kembali ke dapur, masih pakai celemek.

Rina masih muda, 27 tahun, cuma empat tahun lebih tua dari Budi. Kulitnya cerah, badan langsing, senyumnya manis dengan wajah oval khas cewek Kalimantan yang lembut.

“Boleh dong, hemat duit,” Budi langsung setuju sambil nyengir. “Mas Joko mana? Biasanya dia pulang duluan. Aku mau main Mobile Legends bareng dia sambil nunggu makan.”

Kekasih Rina, Joko Santoso, kerja di Dinas Kehutanan Provinsi. Kerjanya biasa ringan, masuk jam 8 pagi, pulang jam 4 sore. Jarang ikut nongkrong. Aneh kalau jam segini belum pulang.

“Main game mulu!” Rina menegur sambil pura-pura kesal. “Kemarin kalian main sampe jam 1 malam pas aku udah tidur. Kenapa sih nggak berhenti?”

Budi cuma nyengir. “Iya deh, besok aku usahain berhenti. Tapi Mas Joko kan pecandu berat.”

“Dia nggak bisa maksa kalau kamu nggak mau!” balas Rina.

Rina tahu betul sifat pacarnya. Mas Joko orang rumahan, nggak punya temen banyak. Pulang kantor langsung ke rumah, main game sampe larut. Rina sering nyuruh berhenti, tapi gagal mulu.

“Oke, besok kita tidur sebelum jam 11 malam.”

Budi sadar akhir-akhir ini mereka sering begadang, makanya siang hari suka ngantuk di kantor.

Dia masuk kamar ambil baju ganti, lalu mandi. Habis itu, langsung buka Mobile Legends. Baru satu ronde, langit sudah gelap. Rina masuk kamarnya pas Budi mau mulai ronde kedua.

“Mas Budi, makan yuk. Kita nggak usah nunggu Mas Joko lagi,” katanya pelan, wajahnya khawatir.

“Udah telepon?” tanya Budi.

“Udah, nggak diangkat!” Rina mengacak rambutnya frustrasi. “Pagi tadi dia bilang mau ke pos kehutanan di daerah Muara Teweh bareng atasannya buat cek kondisi hutan. Mungkin masih sibuk. Udah, makan dulu aja.”

Budi nggak nanya lagi. Mereka duduk di meja makan. Rina jago masak. Ada lima lauk plus sayur sop, semuanya wangi dan kelihatan enak.

“Wah, Sop Ikan Patin ini favorit aku! Dari jaman kuliah aku suka banget. Boleh nyicip dulu ya!” Budi langsung ambil potongan ikan.

“Gimana? Keasinan nggak?” Rina tanya gugup.

“Bercanda apa! Bisa buka warung nasi Padang nih keterampilannya. Sayang cuma masak buat Mas Joko,” puji Budi.

Rina ketawa sambil nyindir, “Gombal mulu! Makan yang banyak kalau enak.”

Suasana yang tadinya tegang jadi cair, mereka ngobrol sambil makan.

Pas makan selesai, Rina mulai khawatir lagi. Dia ambil HP, nelpon lagi. Wajahnya makin muram.

“Ada apa?” tanya Budi.

“HP-nya mati,” jawab Rina pelan.

“Mungkin kehabisan baterai. Atau lagi traktir temen kantor abis rapat. Dengan toleransi minumnya yang jelek, pasti udah mabuk berat,” hibur Budi sambil nyengir.

“Iya sih, satu botol bir aja langsung tumbang,” Rina agak lega.

[Ding!!]

Tiba-tiba Budi dengar bunyi beep di kepalanya. Ekspresinya berubah. Dia panggil sistem dalam hati. Layar hologram hijau muncul di udara.

[Karakter: Budi Santoso]

[Pekerjaan: Sales Marketing Ekspor, PT Borneo Jaya Trading]

[Level: 3]

[Pengalaman: 900/1200]

[Atribut]

[Energi: 10 (10)]

[Ketangkasan: 11 (10)]

[Fisik: 11 (10)]

[Kecerdasan: 13 (10)]

[Sensitivitas: 10 (10)]

[Penentuan: 11 (10)]

[Keterampilan]

[Sains: 16]

[Matematika: 14]

[Bahasa Indonesia: 19]

[Bahasa Inggris: 16]

[Keuangan: 17]

[Pemrograman: 9]

[Tari: 1]

[Melukis: 3]

[Game: 6]

[Negosiasi: 9]

[Sosialisasi: 7]

[Memasak: 3]

[Mengemudi: 1]

[Silat: 4]

[Keterampilan Khusus: Identifikasi]

[Poin Atribut Tertunda: 0]

[Poin Keterampilan Tertunda: 4]

[Misi Tertunda]

Level F – Jadi Asisten Manajer Regional Ekspor di PT Borneo Jaya Trading dalam 12 bulan (Dibatalkan)

[Misi Opsional]

Level F+ – Selidiki penyebab hilangnya Joko Santoso dalam 5 hari

(Terima / Tolak)

Budi terpaku. Hilang? Joko hilang?

Dia punya sistem ini sejak kuliah, setelah orang tuanya kecelakaan dan mantan pacarnya mutusin dia. Dulu dia anak kuliah biasa yang suka bolos. Tapi setelah “benda aneh” jatuh ke kepalanya, dia berubah drastis: rajin belajar, ambil beasiswa, ikut tes TOEFL, sertifikasi ekspor-impor, dll. Sistem ini ubah hidupnya.

Tapi misi Asisten Manajer dibatalkan? Apa perusahaan bangkrut? PT Borneo Jaya Trading omzetnya miliaran, kok bisa tutup mendadak?

Yang lebih bikin kaget: misi F+ pertama! Biasanya misi pendek seperti selamatin anak tenggelam atau lari estafet cuma Level F. Level F+ berarti susah dan berbahaya!

Budi lihat Rina yang cemas di sebelahnya. “Harus aku selamatkan dia!”

Rina ketuk meja. “Ngapain melamun? Aku bikin bosan ya?”

Budi buru-buru jawab, “Enggak kok. Hari ini klien nyebelin banget, abis energi.”

“Mungkin perlu pacar deh. Jangan mikirin kerja mulu. Ada yang disuka? Mau aku carikan?” Rina prihatin.

“Aku baik-baik aja,” jawab Budi sambil mikir misi.

Mereka ngobrol bentar lagi. Rina bangun buat cuci piring.

“Biarkan aku aja. Kamu udah masak, masa cuci juga.”

“Nanti pecah piringnya. Main game aja sana,” Rina ketawa sambil cuci cepat.

Budi balik ke kamar, rebahan sambil mikir. “Besok Jumat, kalau cuti sehari, aku punya tiga hari buat selesaikan misi.”

Dia udah nggak semangat kerja sejak tahu perusahaan mungkin tutup.

**

Keesokan paginya, Budi habis jogging pagi pas Rina keluar kamar mandi. Dia kelihatan sibuk, senyum dipaksain. Budi tahu Rina masih khawatir Mas Joko nggak pulang semalam.

Dia langsung ajukan cuti ke manajer via WA, lalu berangkat ke kantor Dinas Kehutanan provinsi yang cuma beberapa km dari perumahan. Dia jogging ke sana, karena sejak punya sistem, dia suka olahraga buat naikin atribut.

Sepuluh menit kemudian, Budi sampai di Dinas Kehutanan. Daftar di pos jaga, lalu tanya ke petugas muda.

“Joko Santoso? Kayaknya pernah dengar, tapi bukan di bagian kami. Coba tanya yang lain.”

Budi tanya sana-sini, nggak ada yang tahu pasti. Akhirnya seorang bapak-bapak perut buncit berhenti.

“Cari Joko Santoso? Penting ya?”

Budi jawab, “Iya, Pak. Adik ipar saya nyuruh ngecek, dia nggak pulang semalam, HP mati.”

“Oh, dia kemarin ke pos kehutanan di Muara Teweh bareng Kepala Seksi Hadi. Seharusnya hari ini balik. Pulang aja, nanti juga muncul.”

Bapak itu langsung pergi.

“Kalau misi F+ segampang ini, ngapain repot,” pikir Budi lega.

Tapi dia nggak puas. Dia panggil taksi online ke Muara Teweh.

Sopir taksinya cerewet. Mulai ngomong sendiri pas Budi masuk.

“Awalnya Budi jawab seadanya, akhirnya diem aja. Macet parah di kota, baru lancar pas keluar pinggiran.

Di pinggir jalan, pohon-pohon tinggi menjulang, membentuk kanopi hijau. Indah kalau nggak ada bangkai hewan berserakan: ular tanah, kadal, tikus besar, bahkan babi hutan kecil. Setiap beberapa kilometer ada saja.

“Banyak ular ya sekarang?” Budi meringis. Dia sejak kecil takut ular.

“Ini baru-baru ini. Di desa lebih parah. Warga bisa dapat Rp500-600 ribu sehari cuma tangkap ular sama katak. Ada yang tangkap babi hutan 200 kilo! Entah dari mana. Hutan di sini tumbuh cepat banget!” Sopir mulai nyanyi lagi.

Daerah sekitar Palangkaraya dulunya datar, bukit-bukit rendah. Tapi sekarang hutan menjalar cepat, hewan besar muncul tiba-tiba. Budi baru sadar perubahan besar beberapa bulan terakhir.

“Kalau gitu desa bahaya dong?”

“Bahaya apa? Malah jadi lauk enak! Yang bahaya naik bukit. Banyak yang hilang, mayat nggak ketemu. Makanya orang jarang naik sekarang. Katanya pemerintah mau tebang semua pohon di bukit.”

Budi langsung ingat misi F+. “Mungkin Mas Joko hilang pas naik bukit.”

Dia nggak mau ngobrol lagi. Misi F+ pasti nggak gampang. Dia khawatir kalau harus masuk hutan tanpa persiapan, apalagi tanpa senjata.

Tapi yang terbaik ya ke pos kehutanan dulu, tanya informasi, baru rencanakan selanjutnya.

Sepuluh menit kemudian, taksi berhenti di depan gedung dua lantai sederhana.

“Ini pos kehutanan Muara Teweh. Total Rp85 ribu. Mau ditunggu, Bang?”

“Enggak, terima kasih!” Budi bayar, turun, dan berjalan ke pintu masuk...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mutasi Alam Liar   Bab 158

    Bukannya merasa bahagia, hal pertama yang muncul justru ketakutan.Semuanya terasa terlalu mendadak.Melihat reaksi Budi, Jeni menghela napas pelan.Dia tahu hubungan mereka awalnya hanya didasari kebutuhan satu sama lain, bukan cinta.Jeni sudah pernah menikah dan memiliki anak. Meskipun dirinya dianggap cantik, hal itu tetap tidak menjamin apa pun.Budi bahkan bisa mendapatkan perempuan tercantik sekalipun jika dia menginginkannya.Bahkan, kalau Budi mau, dia bisa masuk ke kamar perempuan mana pun tanpa harus khawatir ditolak.Selama mereka masih bersama, Jeni sebenarnya sudah merasa cukup.Namun, tetap saja ada sedikit kesedihan yang tak bisa dia tahan.Dia memaksakan senyum.“Lihat, kamu sampai ketakutan begitu. Aku cuma bilang soal anak-anak kita di masa depan.”Budi baru menyadari bahwa dirinya sudah bereaksi berlebihan.Dia buru-buru menjelaskan dengan nada meminta maaf

  • Mutasi Alam Liar   Bab 157

    Darah dan sisa daging yang berserakan di seluruh lantai dua hari lalu memang sudah dibersihkan. Namun, Budi masih bisa mencium bau amis samar yang tertinggal di udara. Makan malam sudah disiapkan di atas meja. Budi meletakkan Parang miliknya, lalu duduk. Semangkuk nasi langsung disodorkan kepadanya. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Tanpa banyak basa-basi, dia mengambil sendok, menyendok organ dalam binatang mutan, lalu melahapnya dengan lahap. Belakangan ini, nafsu makannya meningkat drastis akibat latihan yang semakin intens. Kekuatan yang sebelumnya terasa mandek kini perlahan mulai bertambah. Secara keseluruhan, 13 poin Energi sudah menjadi batas kemampuan manusia. Bahkan dengan latihan sekeras apa pun, seseorang tetap sulit mencapai tingkat kekuatan tersebut. Hal ini bukan soal bakat atau metode latihan yang berbeda. Semuanya berkaitan dengan ukuran tubuh. Bayangkan seorang pria denga

  • Mutasi Alam Liar   Bab 156

    Haryo sedang berlari mati-matian menyelamatkan nyawanya. Ketakutan membuatnya hampir kehilangan akal sehat. Dia bisa merasakan bahaya yang terus mendekat dari orang yang mengejarnya. Yang paling membuatnya panik adalah kecepatan lawannya, bahkan jauh lebih cepat daripada dirinya. Rasanya benar-benar putus asa ketika harus berhadapan dengan musuh yang jauh lebih kuat. Dia berlari menyusuri koridor menuju pintu keluar tanpa berani menoleh ke belakang. Rasa takut yang memenuhi pikirannya membuat dia sama sekali tidak menyadari keberadaan Shinta yang sedang muntah di dekatnya. Bahkan kalaupun dia sempat melihatnya, belum tentu dia bisa bereaksi tepat waktu. Tidak semua orang yang mengalami evolusi memiliki kemampuan seperti Budi, yang bisa mengembangkan seluruh atributnya secara seimbang. Kebanyakan orang yang berevolusi memang memiliki kekuatan luar biasa, tetapi tetap mempunyai kelemahan tertentu. Kecepatan mereka mungkin bisa menyamai Budi

  • Mutasi Alam Liar   Bab 155

    Sarip sampai terkencing-kencing karena ketakutan. Pistol yang mengarah tepat ke kepalanya membuat seluruh tubuhnya gemetar."Kalian memang sudah membunuh salah satu dari mereka. Tapi masih ada seorang wanita muda yang memakai kemeja kuning. Saya nggak tahu pasti apa kemampuannya, tapi dia bisa terbang ketika diserang."Dia menelan ludah sebelum melanjutkan."Yang paling kuat adalah seorang gadis muda. Kemampuannya mirip telekinesis seperti yang ada di film-film. Dia bisa menggerakkan benda dari jarak jauh, dan senjatanya berbentuk anak panah pendek yang tajam. Saya pernah melihatnya membunuh binatang mutasi tingkat dua!"Orang-orang lainnya langsung terdiam.Sekarang mereka benar-benar menyesal karena tidak membunuh semua orang itu sejak awal.Kalau saja mereka tahu masih ada beberapa orang berevolusi di kelompok tersebut, mereka pasti sudah mengambil tindakan berbeda."Jadi, ada dua wanita di luar sana?" tiba-tiba

  • Mutasi Alam Liar   Bab 154

    Anehnya, sosok yang ditemukan tewas di dekat pintu ternyata seorang wanita. Wajahnya tertutup debu tebal sehingga Budi kesulitan mengenali ciri-cirinya. Dia hanya bisa memastikan jenis kelaminnya dari bentuk tubuhnya. Wanita itu tergeletak telentang dengan mata melotot, seolah meninggal dalam keadaan sangat ketakutan.Budi melangkahi mayat tersebut begitu saja. Namun, Shinta tidak punya keberanian yang sama. Dia memilih berjalan memutar, seolah-olah mayat itu bisa tiba-tiba bangkit dan menerkamnya. Tangannya menggenggam erat senjata berbentuk anak panah pendek yang tajam, sementara kekuatan telekinesisnya terus disiapkan.Budi memasuki ruang tengah. Dengan kemampuan indranya yang semakin tajam, tak ada satu pun orang yang bisa lolos dari pengamatannya, apalagi bersembunyi darinya.Dia memberi isyarat kepada Shinta agar tetap berjaga di ruang tengah.Shinta mengangguk gugup, lalu bergegas menuju sudut ruangan. Dari sana, dia bisa melancarkan serang

  • Mutasi Alam Liar   Bab 153

    Dia melangkah menuju Dayang. Beberapa orang yang melihatnya langsung memalingkan wajah. Mereka bahkan tidak berani menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jeni sempat ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya dia memilih diam. Dayang memang sudah bertindak keterlaluan. Dalam waktu singkat, penampilan perempuan itu terlihat jauh lebih tua daripada sebelumnya. Tubuhnya dipenuhi noda dan memar. Penampilannya berantakan, seolah-olah dia sudah berhari-hari tidak mandi. Gaun yang dikenakannya juga penuh lubang hingga nyaris tidak mampu menutupi tubuhnya. Saat melihat Budi berjalan mendekat, Dayang langsung gemetar seperti burung kecil yang ketakutan. Dia sepertinya teringat kembali pada pemandangan mengerikan ketika Budi membantai sejumlah musuh sebelumnya. "Apa yang ingin kamu katakan untuk membela diri?" tanya Budi.

  • Mutasi Alam Liar   Bab 5

    Dor! Dor!Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali.Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang

  • Mutasi Alam Liar   Bab 4

    Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangka

  • Mutasi Alam Liar   Bab 3

    Kebersihan warung makan di desa ini lumayan ala kadarnya, tapi menunya unik dan “liar”. Hampir semuanya hidangan eksotis: sup kelinci, sup ular campur rebung suwir, ayam iris tumis jamur hutan, dan katak rebus bumbu kuning. Semua bahan ditangkap warga desa sendiri. Dulu jarang banget, tapi belakang

  • Mutasi Alam Liar   Bab 2

    Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status