登入"Apa yang kau inginkan, Cery?"Tawa sumbang lolos dari mulut Cery membuat Rebecca segera menegakkan tubuhnya. Dia tidak ingin terjadi kekacauan untuk kedua kalinya. Saat ini posisi Sisilia sangat penting untuk kelangsungan keturunan darah Lycan dari kakeknya. Rebecca tidak ingin bila semua jatuh ke tangan orang yang tidak kompeten seperti Cery. Apalagi wanita ini terlahir tidak sempurna, kelas yang tidak diinginkan untuk sosok Luna di berbagai kelompok. "Segera katakan sebelum asistenku masuk!""Aku inginkan nyawamu juga kastil ini, Rebecca. Apalagi kau sudah tua dan putrimu seorang buta.""Jangan mimpi!"Rebecca bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekat menatap tajam. "Sampai mati pun semua ini tidak akan aku serahkan padamu, Jalang!"Cery menyeringai tajam, dia masih tidak mau menyerah. Menantang tatapan Rebecca. "Saat ini mungkin aku belum bisa mendapat apa yang aku inginkan, Rebecca. Tapi tunggu hingga waktu yang tepat.""Sebaiknya kita minum dulu, aku belum menyambutmu."Re
Malam semakin larut dan acara pertunangan Rhena dan Harlan telah batal. Ini dikarenakan oleh ketidak hadiran Alpha Harlan. Pria itu sengaja tidak datang karena masih menginginkan kembali pada Sisilia. Rhena begitu sedih, alasan yang diungkap oleh kekasihnya adalah wanita buta. Di dalam kamarnya Rhena mengamuk dengan membuang semua make up. Sang Luna yang jarang muncul di kalayak umum akhirnya muncul untuk meredam kemarahan Rhena. "Jangan buang energi seperti ini dong, Sayang. Nanti akan mama usahakan agar kamu bisa dapatkan Alpha Harlan.""Serius, Mom? Bagaimana caranya?"Luna Cery tersenyum, lalu dia merengkuh bahu putrinya. Memeluknya erat dan membisikkan deratan kata higga membuat senyum manis terbit dibibir Rhena. "Baik, Rhena mau, Mom.""Bersabarlah, semua sedang mommy usahakan!"Setelah berbincang cukup lama dengan putrinya, Luna Cery melangkah meninggalkan kamar menuju ke ruang gelap di bawah tangga. Ruang gelap yang hanya dia dan Alpha Baron tahu. Luna Cery membuka pintu r
Wilayah Alpha Baron; 09.00 AMPenthahouse milik Alpha Baron terlihat begitu sibuk. Beberapa anggota pack bergerak cepat. Mereka sedang menyiapkan sesuatu yang sangat berarti untuk kelangsungan pack mereka. "Bagaimana semua persiapannya, Pah?""Hampir selesai, Rhe. Sabar saja, semua pasti berhasil.""Tapi saat ini wanita buta itu sudah bisa melihat meskipun masih buram. Apakah nanti tidak akan membawa dampak?"Baron menatap penuh keyakinan pada putrinya yang masih ragu dengan semua rencananya kali ini sejujurnya ada setitik ragu akan keberhasilan semua rencana itu. Namun, Baron tidak mau terlihat lemah di hadapan putrinya. Apalagi saat ini Rhena tampil cantik begitu juga luna. Baron begitu bahagia memiliki dua wanita cantik dalam hidupnya. Anak dan istrinya begitu nurut dengan perintahnya tanpa menolak sedikitpun. "Sayang, hari ini aku begitu bahagia melihat senyum putri kita," bisik Luna Cery -- ibunya Rhena. "Iya sayangku, kamu benar. Semoga saja mereka segera menghasilkan keturu
Edward merasa dunianya telah hancur dan kembali gelap. Dia sama sekali tidak terima dengan semua pengaturan moon gooddes pada takdirnya. Untuk seberapa bulan hidupnya menjadi berwarna setelah bertemu dan dekat Sisilia kini kembali terenggut. Wanita itu hilang. "Sisilia, dimana kamu, Sayang!" bisik Edward sambil sujud di lantai. Pria itu terlihat begitu terluka atas kesalahan yang tidak dibuatnya. Untuk sesaat Edward mengepalkan kedua telapak tangannya. Darah segar keluar dari telapak tangannya, tetapi sedikitpun tidak dirasakan secara maksimal. Edward pun mulai berjalan menyusuri setiap lorong yang ada di kastil itu hingga dia bertemu Esther tepat di pertigaan lorong. "Dimana Luna kalian, Esther?""Bukankah masih ada di kamar, Tuan?""Tidak."Esther menghela napas berat, dia juga tidak mengerti kemana lunanya pergi. Melihat wajah Esther, Edward menjadi ragu jika pelayan setia itu tahu kemana perginya sang Luna. Akhirnya hanya napas berat yang lolos dari mulutnya membuat senyum sa
Belum sempat Edward keluar dari mobilnya, sekelebat bayangan hitam dengan benda berkilau melesat menerjang celah pintu yang mulai terbuka. Secara kilat pintu tertutup kali hingga kilatan itu lolos. "Jika kalian ada perlu denganku, maka tunjukkan wajah!" Suara Edward menggelegar tajam menantang penyerang. Cukup lama Edward berdiri dengan kedua lengan masuk ke saku celana lainnya yang berkelas. Dia memindai wilayah sekitar mobilnya berhenti sambil menghidu, lubang hidungnya terlihat kembang kemping perlahan diiringi lengkungan tipis bibir cerah. "Baik, jika masih setia dalam kegelapan maka jangan salahkan saya bila terjadi hal yang diluar kendali!" Gertakan Edward membawa hasil yang memuaskan. Dari balik kegelapan mulai bermunculan beberapa serigala hitam dengan taring tajam dan air liur sedikit menetes. "Siapa pemimpin kalian?" tanya Edward dalam bahasa binatang. Angin mulai berganti arah, dingin makin menyapa kulit ari Edward tetapi tidak membuat nyalinya menurun. Dia justru mak
Sinclair berhasil mendapat ijin Rebecca untuk masuk ke ruang perawatan putrinya. Pertama kali yang dilihat oleh Sinclair adalah tubuh penyelamat padanya yang begitu mengenaskan. "Bagaimana semua ini bisa terjadi padamu, Nona?" "Bukankah pria lycan itu selalu ada buat Anda?"Sinclair duduk dengan memegang telapak tangan Sisilia yang bebas tanpa jarum infus. Dia berbicara sendiri menyayangkan kejadian itu. Saat ini tubuh Sisilia sudah melewati masa kritis sehingga beberapa alat yang menempel pada tubuhnya sudah dilepas. Tatapan Sinclair masih terpusat pada wajah Sisilia, dia merasa bahwa kejadian ini tidak seharusnya terjadi jika pria lycan selalu ada. "Dengan kejadian ini, maka ijinkan aku selalu ada untukmu, Nona!" "Tidak perlu, dia sudah menjadi calon Luna kami!" Edward berbicara dengan nada rendah dan penuh tekanan pada ujung telinga Sinclair. Di ruang itu tidak hanya dua pria yang beda kekuasaan melainkan juga ada Rebecca dan Esther. Dua wanita tersebut menatap satu per satu







