LOGINHarlan terpaku, dia tidak bisa membuka pembicaraan. Wajah Sisilia yang masih polos mampu menghipnotis jiwanya hingga hanya kedua bola matanya yang berputar. "Huft, sungguh auranya begitu memenjarakan jiwaku."
"Tuan, apa yang kau inginkan?" tanya Sisilia. "Malam ini kau adalah milikku!" Sisilia menggapai-gapai tangannya mencari sosok Harlan, tangannya melambai tetapi Harlan masih bungkam. Hanya langkah kaki yang didengar oleh indera wanita muda itu. Tubuh Sisilia mulai gemetaran, jarinya makin merapat meraba mencari pegangan. Sisilia sangat paham dengan kalimat yang diucapkan oleh pria di depannya. Untuk itu perlahan dia bangkit dari posisinya lalu berusaha duduk. Namun, tangan kekar mencengkeram kedua bahu dan menekannya agar duduk. "Tuan, aku mohon katakan padaku apa maksud semua ini?" "Aku inginkan kamu, malam ini!" Harlan pun segera menempelkan bibirnya pada bibir ranum dan mulai menyesapnya. Sisilia terdiam, dia masih terkejut dengan sentuhan mendadak yang dilakukan oleh Harlan. Meskipun buta, Sisilia masih bisa mencium aroma serigala pada tubuh pria di depannya. "Apa ini sudah mendekati purnama sempurna hingga pria ini begitu bernafsu?" Sisilia tidak bisa bergerak, tubuhnya sudah ditindih dan perlahan Harlan mulai membuka kain penutup tubuhnya. Sisilia menjerit dan berontak berusaha untuk terbebas dari kungkungan Harlan. Namun, tenaga Sisilia tidak ada artinya bagi serigala muda tersebut. Dengan ganas di robeknya baju wanita muda. Harlan menyapu leher jenjang nan putih dengan lidah panjangnya. Seiring berjalannya waktu, sinar bulan mulai menampakkan sinarnya. "Kau adalah milikku, Gadis Buta!" "Tidak, jangan!" Sisilia masih terus berontak dengan menggerakkan kepala ke kanan dan kiri. Harlan masih terus bermain dengan tubuh Sisilia hingga sesuatu menjalar di seluruh tubuhnya. Harlan begitu menikmati tubuh mulus wanitanya, tanjakan demi tanjakan begitu membangkitkan birahinya. Sinar bulan yang masuk melalui celah jatuh pada tubuh keduanya hingga akhirnya mereka berubah menjadi sepasang serigala. Dengan perubahan tersebut membuat ranjang mereka semakin ganas. Sisilia yang merasa gelenyar aneh mulai menjalar ke seluruh sendi tubuhnya seketika melolong panjang. Begitu sebaliknya dengan Harlan. Lolongan panjang keduanya membuat serigala lainnya terdiam terpaku. Suasana alam menjadi mencekam, aura hitam terasa begitu kental. Sementara darah serigala perawan mengalir membasahi bumi, saat itu dua berkas sinar melesat menembus dada kedua serigala. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi pergumulan tersebut. Namun, sosok itu hanya diam seakan sedang menanti waktu. Setelah pergumulan yang cukup panjang, tubuh keduanya terkulai lemah tanpa daya. Saat itu digunakan oleh sosok pengintip berlari melesat ke ranjang. Tubuh Sisilia disambar olehnya dalam keadaan telanjang tanpa selembar kain. Tubuh lemah Sisilia dilempar begitu saja di kandang babi, setelahnya ditinggal tanpa penutup tubuh. Pagi mulai menyapa dengan sinar mentari yang hangat. Kamar Harlan sudah dalam keadaan rapi, terlihat pemuda itu keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuh yang basah. "Bagaimana dengan gadis itu semalam, Paman? Sudah kamu laksanakan perintahku?" "Jangan khawatir, semua sudah berjalan seperti rencana kita. Bagaimana dengan kekuatan yang dijanjikan oleh Azim padamu, Harlan?" tanya Piter. Harlan mendengus lirih, ada nada kecewa dalam tarikan napas itu. Sikap majikannya membuat Piter merasa bersalah hingga muncul pertanyaan mungkinkah ramalannya salah? Pria tua yang sudah terbiasa dengan kehidupan serigala Alpha menjadi ragu dengan keputusannya. Namun, rayuan Azim beberapa waktu silam telah membutakan jalan pikirnya. "Jika semua tidak sesuai ... ini adalah salahku, Tuan!' " Sudah jangan kau pikirkan serius. Aku mau jumpai gadis buta itu!" usai berkata Harlan melangkah meninggalkan Piter yang berdiri termangu "Jika tidak ada reaksi, mengapa aura yang menguar dari tubuhnya mulai berbeda? Mungkin masih butuh waktu untuk penyesuaian kedua kekuatan," kata Piter bermonolog. Harlan terus melangkah menuju kandang babi yang terletak jauh dari rumah induk. Pandangannya langsung tertuju pada tubuh tanpa penutup yang meringkuk di antara lumpur dan jerami kering. Tanpa belas kasih, Harlan menarik kasar pergelangan tangan Sisilia membuat wanita muda itu kaget dan berusaha menghindar. Namun, semua usahanya sia-sia. Kekuatan Harlan lebih besar dari tenaganya yang sudah terkuras semalam penuh. "Tuan, mau kau bawa kemana lagi aku ini?" tanya Sisilia dengan nada sendu. "Jangan banyak tanya, saat ini kau adalah budakku. Ingat itu!" Harlan terus menyeret Sisilia hingga berhenti di sebuah pancuran terbuka tempat biasa karyawannya memandikan babi yang akan dipotong. Kebetulan saat itu semua karyawan diliburkan sehingga dengan leluasa Harlan memandikan Sisilia. Tubuh penuh lumpur mulai bersih, kulit yang bersih tanpa noda bersinar terpapar cahaya matahari pagi, hal ini membuat gairah Harlan bergolak. Dalam keadaan sadar, lelaki itu kembali melesakkan birahinya di tempat terbuka. Sisilia hanya diam tanpa bisa menolak, saat ini kekuatannya masih belum maksimal sehingga untuk memberontak pun dia belum sanggup. Pergumulan semalam yang hanya dilakukan untuk pencapaian kekuatan serigala, pagi ini adalah murni pelampiasan hasrat birahi. Cukup lama Harlan mengeksplor tubuh polos Sisilia hingga wanita itu berteriak minta ampun. Namun, semua ucapan gadis dewasa itu tidak dipedulikan. "Kau adalah budakku, maka patuhi semua inginku, Sisilia!" kata Harlan. "Tapi, ini terlalu sakit, Tuan. Mengapa harus seperti ini, bukankah cukup hanya menandaiku saja?" cerca Sisilia di sela rasa sakit yang mendera. Harlan mencampakkan tubuh polos Sisilia begitu saja setelah semua yang dia lakukan. Tidak lupa pria itu juga melempar pakaian sederhana untuk Sisilia. "Pakai ini, bersihkan dirimu di sini. Selanjutnya berjalanlah lurus ke dapan. Dalam hitungan langkah ke 20, akan kau temui pintu dapur rumahku. Buatkan aku sarapan. Paham!" "Paham, Tuan." Setelah mendengar kalimat jawaban dari Sisilia, pria itu pun berjalan meninggalkan wanita yang sudah dianggap budak. Wajahnya terlihat makin bersinar, tetapi kekuatannya belum bisa dibangkitkan. Harlan tidak peduli lagi akan janji Azim sang penguasa alam serigala. Pemuda itu hanya inginkan kenikmatan bersenggama yang baru pertama. Ledakan demi ledakan dalam tubuhnya saat melakukan hal itu membuat jiwanya mempunyai tenaga berlipat. "Apa ini hasil darah serigala perawan? Apa aku harus menuntaskan semua hasrat ini? Aish," gumam Harlan sambil menyunggar rambutnya yang masih basah. Di tempat semula terlihat Sisilia sedang membersihkan tubuhnya dari sisa pergumulan sepihak. Wanita muda itu terlihat begitu mengenaskan, banyak memar di tubuhnya. Jemari lentiknya mulai membersihkan tubuh itu dengan derai air mata. "Apa salahku di masa lalu hingga hidupku begitu menyakitkan? Apakah aku tidak berhak untuk hidup bebas?" Setelah merasa bersih, Sisilia melangkah sesuai arahan pria yang mengaku bernama Harlan. Langkahnya pun dihitung sampai pada 20 langkah. Lalu tangannya terulur untuk memastikan ada apa di depannya. "Benar, ini pintu. Berarti pria itu tidak membodohiku lagi."Setelah kepergian suaminya membuat pikiran Luna Sniders berkelana. Ada rasa curiga yang membuatnya tidak nyaman untuk memejamkan mata. Luna mendengus lirih, bibirnya bergerak menimbulkan suara, "apakah aku harus menguntitnya?"Cukup lama Luna Sniders berpikir ulang, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti langkah penguasa Kastil Hitam. Langkahnya mengendap-endap dan sedikit berjarak jauh dari langkah pasangannya. Meskipun begitu, aroma yang ditinggalkan masih bisa diciumnya. Langkah Luna Sniders terhenti manakala aroma raja lycan pun menghilang tepat di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka. "Apakah semua ini harus dilakukan, Tuan? Pantaskah pria busuk itu menjadi seorang alpha?"Suara Beta Ramon begitu jelas di pendengaran sang Luna membuat wanita itu mengerutkan dahi, "pria busuk? Siapa pria ini hingga mampu mengubah pikiran pasanganku?"Meskipun sudah mendengar beberapa kalimat dan tujuan dari suaminya tidak membuat Luna Sniders pergi dari sana. Dia terus mencuri dengar selur
"Jadi aku harus bagaimana, Edward?" tanya Luna Sniders sambil mengeser tubuhnya lebih merapat pada sang raja Lycan. Raja Lycan Edward Slovasky tersenyum, diraihnya tubuh mungil Luna Sniders lalu dipeluknya. Mendapatkan pelukan hangat, jantung Luna berdebar. Wajahnya memerah bak sebuah tomat yang merah. "Kau cantik sekali jika tersipu, Luna. Aku mencintaimu," bisik Raja Lycan. Kepala Luna Sniders terangkat, kedua pasang mata saling bertemu dan mengunci. Perlahan tubuh Luna terangkat dan diletakkan pada pangkuan sang raja. Secara naluri, kedua lengan Luna melingkar pada leher pasangannya. "Aku ingin seperti ini selamanya, Edward. Jangan pernah tinggalkan aku!""Tidak, hanya kau wanitaku, Luna. Bahkan jika dunia serigala punah pun, kau tetap yang terbaik.""Benarkah ini semua, Edward." Untuk sesaat bibir Luna Sniders terbuka, napasnya begitu lembut dan teratur, "aku juga mencintaimu."Mendengar ungkapan kalimat yang jujur lolos dari bibir pasangannya membuat raja Lycan melolong panj
Raja Lycan Edward Slovasky masih melangkah meninggalkan arena pertempuran itu. Sedangkan Alpha Female Sniders mengikuti langkahnya dengan sedikit berlari. Suaranya yang terus memanggil nama pasangannya itu seakan hilang dibawa angin malam. Merasa jika suaranya tidak diterima oleh kekasihnya membuat emosi Alpha female Sniders memuncak. "Edward!" Panggilnya dengan nada tinggi bahkan disertai dengan angin kencang. Merasakan aliran udara yang berubah seketika langkah Raja Lycan Edward Slovasky pun berhenti, dia berbalik badan. Bibirnya tersenyum kaku. "Maaf!"Alpha famale Sniders berjalan dengan langkah panjang seakan dia berlari di udara. Begitu kakinya menginjak tanah, saat itu juga terlihat wajah cemberut. "Mengapa bisa kau tinggalkan aku dengan tubuhmu penuh luka?" Geram sang alpha female, "apakah aku tidak ada arti?"Raja Lycan Edward Slovasky hanya tersenyum simpul, lengannya bergerak meraih jemari pasangannya. Tanpa bersuara ditautkannya jemari itu dan mulai melangkah bersama.
Setelah kepergian Raja Lycan Edward Slovasky, Edwin berdiri tegak menatap tajam pada sosok Esther yang masih bungkam. Untuk beberapa detik mereka saling diam dalam pemikirannya masing-masing. Setelah suasana mulai membaik, suara Esmeralda keluar dengan volume sangat rendah. "Apakah tidak bisa kalian berbagi tempat dengan kami para penyihir, Madam Esther?"Merasa namanya disebut, Esther mengangkat kepala menatap pada sosok adik tiri Raja Lycan Edward Slovasky--Edwin. "Apakah kau masih inginkan Kastil ini, Tuan Edwin?"Edwin mengeram kasar, dia menatap tajam pada Esther, "hak apa kamu mempertanyakan hal itu padaku. Yang pasti akulah yang berhak atas Kastil ini selain Edward sialan itu.""Jika kau mendapatkan jatah wilayah, mana yang kau inginkan, Nona Esmeralda?" tanya Esther dengan nada dingin. Esmeralda terdiam, dahinya berkerut mencari sebuah kata yang tepat untuk menentukan wilayah yang cocok buat para penyihir. Kedua kelopak matanya mengerjakan ringan disertai senyum penuh arti
Alpha female Sniders menatap sendu pasangannya, lalu berganti menatap Esther dan Esmeralda bergantian. Dia mendengus panjang. "Apakah saat ini Kastil Perak juga dalam penyerangan, Esther, Harlan?" tanya Alpha female Sniders, lalu pandangannya berganti pada penyihir wanita, "apakah ini sudah menjadi rencana kamu, Nona?"Esmeralda hanya diam dengan tatapan tidak bisa diartikan. Sementara Esther memberanikan diri menatap mata alpha. "Esther!" "Iya, Alpha female. Tetapi Alpha Harlan Stuward tidak ikut turun tangan meskipun dia hadir di sana.""Berikan kertas itu padaku, Edward!" Alpha female Sniders meminta dengan kata lembut dan mengulurkan telapak tangan. Untuk sesaat sang raja hanya diam menatap pasangannya itu. Otaknya masih berputar mencari sesuatu yang selama ini masih misteri. Berbagai pertanyaan muncul di otak kecil sang raja, tetapi dia belum ingin ungkap semua secara gamblang. Hanya kedua matanya menatap heran pada Esther. "Darimana kau dapatkan ini semua, Esther?" Suara R
Disaat yang begitu krusial, seberkas sinar Perak melesat memisahkan dua entitas kuat hingga ketiga tubuh terpental dan membentur dinding. "Edward!" Suara Sisilia berteriak keras saat melihat tubuh kekasihnya melayang ke udara dan jatuh membentur dinding Kastil. Di saat bersamaan tubuh Esther terbang di depan Alpha female Sniders dan dia langsung membungkuk memberi hormat. "Maafkan bawahan jika berbuat salah, Alpha." Esther berkata dengan nada rendah dan menunduk. Wanita paruh baya itu tidak berani mendongak melihat wajah atasannya. Aura Alpha female Sniders begitu terasa dingin, tanpa berkata wanita itu melesat menuju ke tubuh pasangannya yang terjatuh bercampur kubangan darah. Diraihnya kepala raja Lycan lalu dibawa ke pangkuannya. Jemari putih nan lentik membelai wajah raja Lycan penuh hangat. "Sayang, jangan tinggalkan aku!" bisik Alpha Female Sniders. Melihat sikap alpha yang tidak peduli dengan kedatangannya membuat hati Esther perih. Lalu dia memilih berjalan menuju ke lo
Tubuh Sisilia bersinar keemasan. Tubuhnya menyatu dengan serigala kesayangan. Sinar mata yang biasanya kosong kini mulai mengeluarkan sinar. "Berhati-hatilah, Alpha Sisilia. Kami masih butuh Anda!" Ester berkata sambil menepuk punggung kokoh serigala perak tersebut. Sang serigala melolong panjang
"Gila itu orang, tubuh mulus seperti ini di hancur lebur kan hingga tanpa sisa!" umpat Piter. Meskipun pria tampan itu mengomel dia tetap melakukan apa yang diperintahkan atasannya. Ada rasa nyeri yang menjalar di dalam tubuh Piter kala dilihatnya darah segar mengalir dari pangkal paha Sisilia. "
Mobil porche merah memasuki sebuah kastil tua yang terlihat begitu kokoh. Tanpa terhambat, mobil tersebut langsung masuk ke halaman kastil dan disambut dengan wajah sengit seorang pria paruh baya. "Ada perlu apa hingga seorang Harlan Stuward datang langsung ke gubug reyot?" tanya Baron-ayah Rhena
Beberapa hari yang lalu sebelum semua terjadi, Sisilia merasa bahwa tubuhnya sedang tidak baik. Maka dia pun meminta ijin pada Harlan untuk memanggil dokter untuknya. Dan semua terjadi. Saat itu seakan dunia dalam genggamannya, dia hamil anak Harlan. Meskipun semua berawal dari kekerasan dan ketid







