Home / Fantasi / My Blind Mate / 3. Malam Panjang

Share

3. Malam Panjang

Author: Shaveera
last update publish date: 2026-04-15 14:11:15

Harlan terpaku, dia tidak bisa membuka pembicaraan. Wajah Sisilia yang masih polos mampu menghipnotis jiwanya hingga hanya kedua bola matanya yang berputar. "Huft, sungguh auranya begitu memenjarakan jiwaku."

"Tuan, apa yang kau inginkan?" tanya Sisilia.

"Malam ini kau adalah milikku!"

Sisilia menggapai-gapai tangannya mencari sosok Harlan, tangannya melambai tetapi Harlan masih bungkam. Hanya langkah kaki yang didengar oleh indera wanita muda itu. Tubuh Sisilia mulai gemetaran, jarinya makin merapat meraba mencari pegangan.

Sisilia sangat paham dengan kalimat yang diucapkan oleh pria di depannya. Untuk itu perlahan dia bangkit dari posisinya lalu berusaha duduk. Namun, tangan kekar mencengkeram kedua bahu dan menekannya agar duduk.

"Tuan, aku mohon katakan padaku apa maksud semua ini?"

"Aku inginkan kamu, malam ini!"

Harlan pun segera menempelkan bibirnya pada bibir ranum dan mulai menyesapnya. Sisilia terdiam, dia masih terkejut dengan sentuhan mendadak yang dilakukan oleh Harlan. Meskipun buta, Sisilia masih bisa mencium aroma serigala pada tubuh pria di depannya. "Apa ini sudah mendekati purnama sempurna hingga pria ini begitu bernafsu?"

Sisilia tidak bisa bergerak, tubuhnya sudah ditindih dan perlahan Harlan mulai membuka kain penutup tubuhnya. Sisilia menjerit dan berontak berusaha untuk terbebas dari kungkungan Harlan.

Namun, tenaga Sisilia tidak ada artinya bagi serigala muda tersebut. Dengan ganas di robeknya baju wanita muda. Harlan menyapu leher jenjang nan putih dengan lidah panjangnya. Seiring berjalannya waktu, sinar bulan mulai menampakkan sinarnya.

"Kau adalah milikku, Gadis Buta!"

"Tidak, jangan!" Sisilia masih terus berontak dengan menggerakkan kepala ke kanan dan kiri.

Harlan masih terus bermain dengan tubuh Sisilia hingga sesuatu menjalar di seluruh tubuhnya. Harlan begitu menikmati tubuh mulus wanitanya, tanjakan demi tanjakan begitu membangkitkan birahinya.

Sinar bulan yang masuk melalui celah jatuh pada tubuh keduanya hingga akhirnya mereka berubah menjadi sepasang serigala. Dengan perubahan tersebut membuat ranjang mereka semakin ganas.

Sisilia yang merasa gelenyar aneh mulai menjalar ke seluruh sendi tubuhnya seketika melolong panjang. Begitu sebaliknya dengan Harlan. Lolongan panjang keduanya membuat serigala lainnya terdiam terpaku.

Suasana alam menjadi mencekam, aura hitam terasa begitu kental. Sementara darah serigala perawan mengalir membasahi bumi, saat itu dua berkas sinar melesat menembus dada kedua serigala.

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi pergumulan tersebut. Namun, sosok itu hanya diam seakan sedang menanti waktu. Setelah pergumulan yang cukup panjang, tubuh keduanya terkulai lemah tanpa daya.

Saat itu digunakan oleh sosok pengintip berlari melesat ke ranjang. Tubuh Sisilia disambar olehnya dalam keadaan telanjang tanpa selembar kain. Tubuh lemah Sisilia dilempar begitu saja di kandang babi, setelahnya ditinggal tanpa penutup tubuh.

Pagi mulai menyapa dengan sinar mentari yang hangat. Kamar Harlan sudah dalam keadaan rapi, terlihat pemuda itu keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuh yang basah.

"Bagaimana dengan gadis itu semalam, Paman? Sudah kamu laksanakan perintahku?"

"Jangan khawatir, semua sudah berjalan seperti rencana kita. Bagaimana dengan kekuatan yang dijanjikan oleh Azim padamu, Harlan?" tanya Piter.

Harlan mendengus lirih, ada nada kecewa dalam tarikan napas itu. Sikap majikannya membuat Piter merasa bersalah hingga muncul pertanyaan mungkinkah ramalannya salah?

Pria tua yang sudah terbiasa dengan kehidupan serigala Alpha menjadi ragu dengan keputusannya. Namun, rayuan Azim beberapa waktu silam telah membutakan jalan pikirnya. "Jika semua tidak sesuai ... ini adalah salahku, Tuan!'

" Sudah jangan kau pikirkan serius. Aku mau jumpai gadis buta itu!" usai berkata Harlan melangkah meninggalkan Piter yang berdiri termangu

"Jika tidak ada reaksi, mengapa aura yang menguar dari tubuhnya mulai berbeda? Mungkin masih butuh waktu untuk penyesuaian kedua kekuatan," kata Piter bermonolog.

Harlan terus melangkah menuju kandang babi yang terletak jauh dari rumah induk. Pandangannya langsung tertuju pada tubuh tanpa penutup yang meringkuk di antara lumpur dan jerami kering.

Tanpa belas kasih, Harlan menarik kasar pergelangan tangan Sisilia membuat wanita muda itu kaget dan berusaha menghindar. Namun, semua usahanya sia-sia. Kekuatan Harlan lebih besar dari tenaganya yang sudah terkuras semalam penuh.

"Tuan, mau kau bawa kemana lagi aku ini?" tanya Sisilia dengan nada sendu.

"Jangan banyak tanya, saat ini kau adalah budakku. Ingat itu!"

Harlan terus menyeret Sisilia hingga berhenti di sebuah pancuran terbuka tempat biasa karyawannya memandikan babi yang akan dipotong. Kebetulan saat itu semua karyawan diliburkan sehingga dengan leluasa Harlan memandikan Sisilia.

Tubuh penuh lumpur mulai bersih, kulit yang bersih tanpa noda bersinar terpapar cahaya matahari pagi, hal ini membuat gairah Harlan bergolak. Dalam keadaan sadar, lelaki itu kembali melesakkan birahinya di tempat terbuka.

Sisilia hanya diam tanpa bisa menolak, saat ini kekuatannya masih belum maksimal sehingga untuk memberontak pun dia belum sanggup. Pergumulan semalam yang hanya dilakukan untuk pencapaian kekuatan serigala, pagi ini adalah murni pelampiasan hasrat birahi.

Cukup lama Harlan mengeksplor tubuh polos Sisilia hingga wanita itu berteriak minta ampun. Namun, semua ucapan gadis dewasa itu tidak dipedulikan.

"Kau adalah budakku, maka patuhi semua inginku, Sisilia!" kata Harlan.

"Tapi, ini terlalu sakit, Tuan. Mengapa harus seperti ini, bukankah cukup hanya menandaiku saja?" cerca Sisilia di sela rasa sakit yang mendera.

Harlan mencampakkan tubuh polos Sisilia begitu saja setelah semua yang dia lakukan. Tidak lupa pria itu juga melempar pakaian sederhana untuk Sisilia.

"Pakai ini, bersihkan dirimu di sini. Selanjutnya berjalanlah lurus ke dapan. Dalam hitungan langkah ke 20, akan kau temui pintu dapur rumahku. Buatkan aku sarapan. Paham!"

"Paham, Tuan."

Setelah mendengar kalimat jawaban dari Sisilia, pria itu pun berjalan meninggalkan wanita yang sudah dianggap budak. Wajahnya terlihat makin bersinar, tetapi kekuatannya belum bisa dibangkitkan.

Harlan tidak peduli lagi akan janji Azim sang penguasa alam serigala. Pemuda itu hanya inginkan kenikmatan bersenggama yang baru pertama. Ledakan demi ledakan dalam tubuhnya saat melakukan hal itu membuat jiwanya mempunyai tenaga berlipat.

"Apa ini hasil darah serigala perawan? Apa aku harus menuntaskan semua hasrat ini? Aish," gumam Harlan sambil menyunggar rambutnya yang masih basah.

Di tempat semula terlihat Sisilia sedang membersihkan tubuhnya dari sisa pergumulan sepihak. Wanita muda itu terlihat begitu mengenaskan, banyak memar di tubuhnya. Jemari lentiknya mulai membersihkan tubuh itu dengan derai air mata.

"Apa salahku di masa lalu hingga hidupku begitu menyakitkan? Apakah aku tidak berhak untuk hidup bebas?"

Setelah merasa bersih, Sisilia melangkah sesuai arahan pria yang mengaku bernama Harlan. Langkahnya pun dihitung sampai pada 20 langkah. Lalu tangannya terulur untuk memastikan ada apa di depannya.

"Benar, ini pintu. Berarti pria itu tidak membodohiku lagi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Blind Mate   65. kekhawatiran Sisilia

    "Apa yang kau inginkan, Cery?"Tawa sumbang lolos dari mulut Cery membuat Rebecca segera menegakkan tubuhnya. Dia tidak ingin terjadi kekacauan untuk kedua kalinya. Saat ini posisi Sisilia sangat penting untuk kelangsungan keturunan darah Lycan dari kakeknya. Rebecca tidak ingin bila semua jatuh ke tangan orang yang tidak kompeten seperti Cery. Apalagi wanita ini terlahir tidak sempurna, kelas yang tidak diinginkan untuk sosok Luna di berbagai kelompok. "Segera katakan sebelum asistenku masuk!""Aku inginkan nyawamu juga kastil ini, Rebecca. Apalagi kau sudah tua dan putrimu seorang buta.""Jangan mimpi!"Rebecca bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekat menatap tajam. "Sampai mati pun semua ini tidak akan aku serahkan padamu, Jalang!"Cery menyeringai tajam, dia masih tidak mau menyerah. Menantang tatapan Rebecca. "Saat ini mungkin aku belum bisa mendapat apa yang aku inginkan, Rebecca. Tapi tunggu hingga waktu yang tepat.""Sebaiknya kita minum dulu, aku belum menyambutmu."Re

  • My Blind Mate   64. memulai rencana

    Malam semakin larut dan acara pertunangan Rhena dan Harlan telah batal. Ini dikarenakan oleh ketidak hadiran Alpha Harlan. Pria itu sengaja tidak datang karena masih menginginkan kembali pada Sisilia. Rhena begitu sedih, alasan yang diungkap oleh kekasihnya adalah wanita buta. Di dalam kamarnya Rhena mengamuk dengan membuang semua make up. Sang Luna yang jarang muncul di kalayak umum akhirnya muncul untuk meredam kemarahan Rhena. "Jangan buang energi seperti ini dong, Sayang. Nanti akan mama usahakan agar kamu bisa dapatkan Alpha Harlan.""Serius, Mom? Bagaimana caranya?"Luna Cery tersenyum, lalu dia merengkuh bahu putrinya. Memeluknya erat dan membisikkan deratan kata higga membuat senyum manis terbit dibibir Rhena. "Baik, Rhena mau, Mom.""Bersabarlah, semua sedang mommy usahakan!"Setelah berbincang cukup lama dengan putrinya, Luna Cery melangkah meninggalkan kamar menuju ke ruang gelap di bawah tangga. Ruang gelap yang hanya dia dan Alpha Baron tahu. Luna Cery membuka pintu r

  • My Blind Mate   63. wilayah Alpha Baron

    Wilayah Alpha Baron; 09.00 AMPenthahouse milik Alpha Baron terlihat begitu sibuk. Beberapa anggota pack bergerak cepat. Mereka sedang menyiapkan sesuatu yang sangat berarti untuk kelangsungan pack mereka. "Bagaimana semua persiapannya, Pah?""Hampir selesai, Rhe. Sabar saja, semua pasti berhasil.""Tapi saat ini wanita buta itu sudah bisa melihat meskipun masih buram. Apakah nanti tidak akan membawa dampak?"Baron menatap penuh keyakinan pada putrinya yang masih ragu dengan semua rencananya kali ini sejujurnya ada setitik ragu akan keberhasilan semua rencana itu. Namun, Baron tidak mau terlihat lemah di hadapan putrinya. Apalagi saat ini Rhena tampil cantik begitu juga luna. Baron begitu bahagia memiliki dua wanita cantik dalam hidupnya. Anak dan istrinya begitu nurut dengan perintahnya tanpa menolak sedikitpun. "Sayang, hari ini aku begitu bahagia melihat senyum putri kita," bisik Luna Cery -- ibunya Rhena. "Iya sayangku, kamu benar. Semoga saja mereka segera menghasilkan keturu

  • My Blind Mate   62. sebuah janji

    Edward merasa dunianya telah hancur dan kembali gelap. Dia sama sekali tidak terima dengan semua pengaturan moon gooddes pada takdirnya. Untuk seberapa bulan hidupnya menjadi berwarna setelah bertemu dan dekat Sisilia kini kembali terenggut. Wanita itu hilang. "Sisilia, dimana kamu, Sayang!" bisik Edward sambil sujud di lantai. Pria itu terlihat begitu terluka atas kesalahan yang tidak dibuatnya. Untuk sesaat Edward mengepalkan kedua telapak tangannya. Darah segar keluar dari telapak tangannya, tetapi sedikitpun tidak dirasakan secara maksimal. Edward pun mulai berjalan menyusuri setiap lorong yang ada di kastil itu hingga dia bertemu Esther tepat di pertigaan lorong. "Dimana Luna kalian, Esther?""Bukankah masih ada di kamar, Tuan?""Tidak."Esther menghela napas berat, dia juga tidak mengerti kemana lunanya pergi. Melihat wajah Esther, Edward menjadi ragu jika pelayan setia itu tahu kemana perginya sang Luna. Akhirnya hanya napas berat yang lolos dari mulutnya membuat senyum sa

  • My Blind Mate   61. penyerangan

    Belum sempat Edward keluar dari mobilnya, sekelebat bayangan hitam dengan benda berkilau melesat menerjang celah pintu yang mulai terbuka. Secara kilat pintu tertutup kali hingga kilatan itu lolos. "Jika kalian ada perlu denganku, maka tunjukkan wajah!" Suara Edward menggelegar tajam menantang penyerang. Cukup lama Edward berdiri dengan kedua lengan masuk ke saku celana lainnya yang berkelas. Dia memindai wilayah sekitar mobilnya berhenti sambil menghidu, lubang hidungnya terlihat kembang kemping perlahan diiringi lengkungan tipis bibir cerah. "Baik, jika masih setia dalam kegelapan maka jangan salahkan saya bila terjadi hal yang diluar kendali!" Gertakan Edward membawa hasil yang memuaskan. Dari balik kegelapan mulai bermunculan beberapa serigala hitam dengan taring tajam dan air liur sedikit menetes. "Siapa pemimpin kalian?" tanya Edward dalam bahasa binatang. Angin mulai berganti arah, dingin makin menyapa kulit ari Edward tetapi tidak membuat nyalinya menurun. Dia justru mak

  • My Blind Mate   60. kecembuan Edward

    Sinclair berhasil mendapat ijin Rebecca untuk masuk ke ruang perawatan putrinya. Pertama kali yang dilihat oleh Sinclair adalah tubuh penyelamat padanya yang begitu mengenaskan. "Bagaimana semua ini bisa terjadi padamu, Nona?" "Bukankah pria lycan itu selalu ada buat Anda?"Sinclair duduk dengan memegang telapak tangan Sisilia yang bebas tanpa jarum infus. Dia berbicara sendiri menyayangkan kejadian itu. Saat ini tubuh Sisilia sudah melewati masa kritis sehingga beberapa alat yang menempel pada tubuhnya sudah dilepas. Tatapan Sinclair masih terpusat pada wajah Sisilia, dia merasa bahwa kejadian ini tidak seharusnya terjadi jika pria lycan selalu ada. "Dengan kejadian ini, maka ijinkan aku selalu ada untukmu, Nona!" "Tidak perlu, dia sudah menjadi calon Luna kami!" Edward berbicara dengan nada rendah dan penuh tekanan pada ujung telinga Sinclair. Di ruang itu tidak hanya dua pria yang beda kekuasaan melainkan juga ada Rebecca dan Esther. Dua wanita tersebut menatap satu per satu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status