Share

5. Hamil

Author: Shaveera
last update publish date: 2026-04-15 14:12:22

Beberapa hari yang lalu sebelum semua terjadi, Sisilia merasa bahwa tubuhnya sedang tidak baik. Maka dia pun meminta ijin pada Harlan untuk memanggil dokter untuknya. Dan semua terjadi. Saat itu seakan dunia dalam genggamannya, dia hamil anak Harlan.

Meskipun semua berawal dari kekerasan dan ketidakadilan yang menyiksa lahir batin, tetapi janin yang saat ini tumbuh dalam perutnya tidak bersalah. Maka, dengan tekat kuat semua akan diungkap oleh Sisilia di saat yang tepat.

Sudah cukup lama Sisilia menyembunyikan rahasia ini, maka saat ada kesempatan dia bertekad untuk ungkap. Saat ini adalah saat yang tepat untuk semua itu. Apalagi Harlan belum menandai satu pun pasangan, dalam pikiran Sisilia dia lah yang akan menjadi pasangan Harlan hingga calon janin itu bisa bernapas.

"Jawab tanyaku, Harlan!"

Bukannya sebuah jawaban yang didengar oleh Sisilia tetapi justru suara tawa mengejek dari Rhena, wanita yang membuat Sisilia hancur. Sesaat setelah tawa wanita itu mereda, terdengar langkah kaki mendekat dan berbisik di telinga Sisilia. "Akulah pasangan sejati Harlan, Buta!"

Setelah mendengar bisikan Rhena, tapak tangan Sisilia ditangkap oleh wanita itu lalu dibawanya pada leher. "Sentuh dan rasakan sendiri!"

Apa yang dilakukan oleh Rhena pada tapak tangan Sisilia membuat tubuh wanita itu bergetar dan menunduk lemas. Sangat terasa pada kulit luar tapak tangannya dua buah lubang yang masih mengeluarkan darah.

"Ini, apa artinya kau ...?" tanya Sisilia sambil mengarahkan kepalanya pada Harlan.

Lelaki itu tidak memedulikan suara Sisilia, dia justru menangkap tubuh Rhena dan membantingnya di atas meja makan. Dengan ganas dilahapnya bibir yang mulai lancang membuka rahasia yang belum saatnya diungkap.

Apa yang dilakukan oleh Harlan tidak membuat Rhena kesakitan tetapi justru menimbulkan desahan yang menyakitkan hati Sisilia. Wanita itu melempar vas bunga yang kebetulan ada di dekat tangannya kearah asal suara desahan.

Melihat apa yang dilakukan oleh wanitanya membuat Harlan naik pitam. Dia merasa bahwa Sisilia sedang mengganggu kesenangannya. Maka, pria itu meninggalkan Rhena begitu saja dalam keadaan pakaian sedikit tercabik. Harlan melangkah mendekat pada Sisilia dan menerkam tubuh wanita buta itu.

Tubuh Sisilia ditekan hingga menempel di dinding. Tidak hanya ditekan, leher wanita itu juga dicekik kuat oleh Harlan hingga membuat Sisilia susah bernapas.

"Tolong, lepaskan!" pinta Sisilia dengan nada memelas.

Sementara Rhena segera bangkit dari posisi rebahannya di meja, dia pun membenahi kancing bajunya yang terbuka beberapa. Setelah selesai dia berjalan mendekati Harlan.

Tangannya ikut memberi siksaan pada tubuh Sisilia. Rhena tidak rela kesenangannya terganggu. Dia pun menekan kedua benda kenyal milik Sislia hingga wanita itu menjerit kesakitan.

"Lepaskan tangan kotormu dari tubuhku, Rhe. Kau menyakitiku!" Hentak Sisilia.

"Kau sudah tidak berhak bersuara dirumah ini, Jalang! Tubuhmu sudah kotor bahkan menjadi konsumsi publik!" Gertak Rhena.

Harlan membiarkan tubuh Sisilia di siksa oleh Rhena. Pria itu sama sekali tidak memedulikan akan keselamatan wanita yang sudah menghangatkan ranjangnya beberapa bulan sebelumnya.

Sislia mencoba berontak, tetapi tenaganya kalah kuat dengan tenaga Rhena. Tubuh Sisilia pun jatuh terduduk di lantai, kedua tapaknya mengepal kuat menahan emosi yang membuncah.

"Aku hamil anak Harlan, Rhena. Jaga sikapmu!" kata Sisilia dengan nada rendah dan menekan.

Rhena yang samar mendengar kata hamil dan Harlan, tangannya terasa lemas. Lalu tatapannya menghitam pada Harlan. Dia meminta penjelasan atas dua kata tersebut.

Harlan menggelengkan kepala menolak apa yang dikatakan oleh Sisilia. Dia tidak mau mengakui apa yang terucap dari wanita jalang itu. Dengan susah payah Harlan merayu Rhena agar menurunkan emosinya.

"Jangan mencoba berbohong denganku, Harlan. Kau sudah melangkah jauh bersamaku, jika apa yang dikatakan oleh wanita jalang ini terbukti kau yang akan mati!" gertak Rhena.

Usai berkata dengan tegas, Rhena berjalan meninggalkan ruang makan. Wanita itu berjalan dengan emosi yang memuncak bahkan tas selempang miliknya tidak terbawa. Dengan cepat Harlan meraih tas tersebut dan mengejar kekasihnya.

Langkah Rhena begitu cepat hingga pria tersebut tidak mampu mengejar. Dengan terpaksa dia berbalik badan dan melangkah masuk kembali ke dalam langsung menuju ke tempat semula.

Dilihatnya Sisilia duduk menunduk sambil terisak. Wanita itu terlihat begitu mengenaskan dan rapuh. Tangannya mengusap perut berulang kali, lalu bibirnya berbisik, "Tetaplah bersama mama, Sayang. Kau sekarang semangatku!"

Tiba-tiba tubuh Sisilia terguling akibat tendangan keras Harlan. Wanita itu menjerit sambil memegangi perutnya. Sikap ini justru membuat Harlan makin emosi, dengan kasar tubuh itu di angkat dan dilempar ke sofa tunggal miliknya.

"Kau yang membuat acaraku hancur, maka inilah balasannya!" Harlan berkata sambil berjalan mendekat ke arah Sisilia.

Satu per satu pakaiannya dilepaskan menyisakan boxer tipis yang menutup aset terbaiknya. Harlan menyetubuhi Sisilia dengan ganas tanpa memerhatikan teriak kesakitan wanita tersebut. Setelah puas meluapkan hasratnya, Harlan mendorong kuat tubuh itu.

"Kau kejam, Harlan. Ini adalah hasil perbuatan yang keji, semua adalah ulahmu. Aku membenci kamu, Harlan!" Hentak Sisilia.

"Bagiku kau hanya budak, tidak lebih. Dan satu lagi jangan mimpi untuk jadi pasanganku!"

Sisilia merangkak memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Wanita itu kembali terluka untuk kesekian. Harlan masih belum puas menyiksa batinnya. Lelaki itu memberi perintah agar Sisilia memberesi semua hidangan yang belum tersentuh.

Dengan keadaan yang memilukan, wanita itu mulai membersihkan meja makan yang dipenuhi oleh hidangan. Air mata terus mengalir seakan tidak kering. Setelah semua selesai, Sisilia menghadap Harlan yang masih sibuk dengan ponsel.

"Harlan, ini adalah janinmu, apakah kau tidak ingin?" tanya Sisilia dengan nada rendah.

"Buang saja, tidak hanya aku yang sentuh tubuh kotormu itu. Jadi buang saja, tidak berguna bagiku!"

Kalimat panjang yang lolos dari Harlan mampu membuat jiwa Sisilia mati. Wanita itu pun melangkah meninggalkan ruang tersebut dan masuk kembali ke dalam kamar.

Usai berkata kasar pada Sisilia Harlan berjalan cepat menuju ke luar, sebelum lebih jauh tangannya meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja panjang menempel pada dinding.

Begitu pria itu sudah berada di dalam mobil, mesin segera dinyalakan dan mobil melaju kencang meninggalkan perkebunan miliknya. Mobil porche merah metalik meluncur deras membelah jalanan khusus hutan pinus.

Lolongan serigala dan anjing liar hutan tidak menyurutkan niatnya mengejar pasangannya yang lari tanpa kendaraan. Iya, pasangan Harlan meninggalkan mobil miliknya yang saat ini dikendarai pria itu menuju kastil.

Dari aroma yang masih tersisa di dalam mobil tersebut, Harlan bisa mengenali asal muasal sang pasangan. Bibir pria itu tersenyum membayangkan sosok wanitanya yang terlentang di atas pembaringan putih lembut. Jantung Harlan berdegup lebih kencang, apalagi dalam penglihatannya wanitanya sedang dalam emosi tinggi.

"Tunggu aku, Sayang!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Blind Mate   65. kekhawatiran Sisilia

    "Apa yang kau inginkan, Cery?"Tawa sumbang lolos dari mulut Cery membuat Rebecca segera menegakkan tubuhnya. Dia tidak ingin terjadi kekacauan untuk kedua kalinya. Saat ini posisi Sisilia sangat penting untuk kelangsungan keturunan darah Lycan dari kakeknya. Rebecca tidak ingin bila semua jatuh ke tangan orang yang tidak kompeten seperti Cery. Apalagi wanita ini terlahir tidak sempurna, kelas yang tidak diinginkan untuk sosok Luna di berbagai kelompok. "Segera katakan sebelum asistenku masuk!""Aku inginkan nyawamu juga kastil ini, Rebecca. Apalagi kau sudah tua dan putrimu seorang buta.""Jangan mimpi!"Rebecca bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekat menatap tajam. "Sampai mati pun semua ini tidak akan aku serahkan padamu, Jalang!"Cery menyeringai tajam, dia masih tidak mau menyerah. Menantang tatapan Rebecca. "Saat ini mungkin aku belum bisa mendapat apa yang aku inginkan, Rebecca. Tapi tunggu hingga waktu yang tepat.""Sebaiknya kita minum dulu, aku belum menyambutmu."Re

  • My Blind Mate   64. memulai rencana

    Malam semakin larut dan acara pertunangan Rhena dan Harlan telah batal. Ini dikarenakan oleh ketidak hadiran Alpha Harlan. Pria itu sengaja tidak datang karena masih menginginkan kembali pada Sisilia. Rhena begitu sedih, alasan yang diungkap oleh kekasihnya adalah wanita buta. Di dalam kamarnya Rhena mengamuk dengan membuang semua make up. Sang Luna yang jarang muncul di kalayak umum akhirnya muncul untuk meredam kemarahan Rhena. "Jangan buang energi seperti ini dong, Sayang. Nanti akan mama usahakan agar kamu bisa dapatkan Alpha Harlan.""Serius, Mom? Bagaimana caranya?"Luna Cery tersenyum, lalu dia merengkuh bahu putrinya. Memeluknya erat dan membisikkan deratan kata higga membuat senyum manis terbit dibibir Rhena. "Baik, Rhena mau, Mom.""Bersabarlah, semua sedang mommy usahakan!"Setelah berbincang cukup lama dengan putrinya, Luna Cery melangkah meninggalkan kamar menuju ke ruang gelap di bawah tangga. Ruang gelap yang hanya dia dan Alpha Baron tahu. Luna Cery membuka pintu r

  • My Blind Mate   63. wilayah Alpha Baron

    Wilayah Alpha Baron; 09.00 AMPenthahouse milik Alpha Baron terlihat begitu sibuk. Beberapa anggota pack bergerak cepat. Mereka sedang menyiapkan sesuatu yang sangat berarti untuk kelangsungan pack mereka. "Bagaimana semua persiapannya, Pah?""Hampir selesai, Rhe. Sabar saja, semua pasti berhasil.""Tapi saat ini wanita buta itu sudah bisa melihat meskipun masih buram. Apakah nanti tidak akan membawa dampak?"Baron menatap penuh keyakinan pada putrinya yang masih ragu dengan semua rencananya kali ini sejujurnya ada setitik ragu akan keberhasilan semua rencana itu. Namun, Baron tidak mau terlihat lemah di hadapan putrinya. Apalagi saat ini Rhena tampil cantik begitu juga luna. Baron begitu bahagia memiliki dua wanita cantik dalam hidupnya. Anak dan istrinya begitu nurut dengan perintahnya tanpa menolak sedikitpun. "Sayang, hari ini aku begitu bahagia melihat senyum putri kita," bisik Luna Cery -- ibunya Rhena. "Iya sayangku, kamu benar. Semoga saja mereka segera menghasilkan keturu

  • My Blind Mate   62. sebuah janji

    Edward merasa dunianya telah hancur dan kembali gelap. Dia sama sekali tidak terima dengan semua pengaturan moon gooddes pada takdirnya. Untuk seberapa bulan hidupnya menjadi berwarna setelah bertemu dan dekat Sisilia kini kembali terenggut. Wanita itu hilang. "Sisilia, dimana kamu, Sayang!" bisik Edward sambil sujud di lantai. Pria itu terlihat begitu terluka atas kesalahan yang tidak dibuatnya. Untuk sesaat Edward mengepalkan kedua telapak tangannya. Darah segar keluar dari telapak tangannya, tetapi sedikitpun tidak dirasakan secara maksimal. Edward pun mulai berjalan menyusuri setiap lorong yang ada di kastil itu hingga dia bertemu Esther tepat di pertigaan lorong. "Dimana Luna kalian, Esther?""Bukankah masih ada di kamar, Tuan?""Tidak."Esther menghela napas berat, dia juga tidak mengerti kemana lunanya pergi. Melihat wajah Esther, Edward menjadi ragu jika pelayan setia itu tahu kemana perginya sang Luna. Akhirnya hanya napas berat yang lolos dari mulutnya membuat senyum sa

  • My Blind Mate   61. penyerangan

    Belum sempat Edward keluar dari mobilnya, sekelebat bayangan hitam dengan benda berkilau melesat menerjang celah pintu yang mulai terbuka. Secara kilat pintu tertutup kali hingga kilatan itu lolos. "Jika kalian ada perlu denganku, maka tunjukkan wajah!" Suara Edward menggelegar tajam menantang penyerang. Cukup lama Edward berdiri dengan kedua lengan masuk ke saku celana lainnya yang berkelas. Dia memindai wilayah sekitar mobilnya berhenti sambil menghidu, lubang hidungnya terlihat kembang kemping perlahan diiringi lengkungan tipis bibir cerah. "Baik, jika masih setia dalam kegelapan maka jangan salahkan saya bila terjadi hal yang diluar kendali!" Gertakan Edward membawa hasil yang memuaskan. Dari balik kegelapan mulai bermunculan beberapa serigala hitam dengan taring tajam dan air liur sedikit menetes. "Siapa pemimpin kalian?" tanya Edward dalam bahasa binatang. Angin mulai berganti arah, dingin makin menyapa kulit ari Edward tetapi tidak membuat nyalinya menurun. Dia justru mak

  • My Blind Mate   60. kecembuan Edward

    Sinclair berhasil mendapat ijin Rebecca untuk masuk ke ruang perawatan putrinya. Pertama kali yang dilihat oleh Sinclair adalah tubuh penyelamat padanya yang begitu mengenaskan. "Bagaimana semua ini bisa terjadi padamu, Nona?" "Bukankah pria lycan itu selalu ada buat Anda?"Sinclair duduk dengan memegang telapak tangan Sisilia yang bebas tanpa jarum infus. Dia berbicara sendiri menyayangkan kejadian itu. Saat ini tubuh Sisilia sudah melewati masa kritis sehingga beberapa alat yang menempel pada tubuhnya sudah dilepas. Tatapan Sinclair masih terpusat pada wajah Sisilia, dia merasa bahwa kejadian ini tidak seharusnya terjadi jika pria lycan selalu ada. "Dengan kejadian ini, maka ijinkan aku selalu ada untukmu, Nona!" "Tidak perlu, dia sudah menjadi calon Luna kami!" Edward berbicara dengan nada rendah dan penuh tekanan pada ujung telinga Sinclair. Di ruang itu tidak hanya dua pria yang beda kekuasaan melainkan juga ada Rebecca dan Esther. Dua wanita tersebut menatap satu per satu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status