LOGINBeberapa hari yang lalu sebelum semua terjadi, Sisilia merasa bahwa tubuhnya sedang tidak baik. Maka dia pun meminta ijin pada Harlan untuk memanggil dokter untuknya. Dan semua terjadi. Saat itu seakan dunia dalam genggamannya, dia hamil anak Harlan.
Meskipun semua berawal dari kekerasan dan ketidakadilan yang menyiksa lahir batin, tetapi janin yang saat ini tumbuh dalam perutnya tidak bersalah. Maka, dengan tekat kuat semua akan diungkap oleh Sisilia di saat yang tepat. Sudah cukup lama Sisilia menyembunyikan rahasia ini, maka saat ada kesempatan dia bertekad untuk ungkap. Saat ini adalah saat yang tepat untuk semua itu. Apalagi Harlan belum menandai satu pun pasangan, dalam pikiran Sisilia dia lah yang akan menjadi pasangan Harlan hingga calon janin itu bisa bernapas. "Jawab tanyaku, Harlan!" Bukannya sebuah jawaban yang didengar oleh Sisilia tetapi justru suara tawa mengejek dari Rhena, wanita yang membuat Sisilia hancur. Sesaat setelah tawa wanita itu mereda, terdengar langkah kaki mendekat dan berbisik di telinga Sisilia. "Akulah pasangan sejati Harlan, Buta!" Setelah mendengar bisikan Rhena, tapak tangan Sisilia ditangkap oleh wanita itu lalu dibawanya pada leher. "Sentuh dan rasakan sendiri!" Apa yang dilakukan oleh Rhena pada tapak tangan Sisilia membuat tubuh wanita itu bergetar dan menunduk lemas. Sangat terasa pada kulit luar tapak tangannya dua buah lubang yang masih mengeluarkan darah. "Ini, apa artinya kau ...?" tanya Sisilia sambil mengarahkan kepalanya pada Harlan. Lelaki itu tidak memedulikan suara Sisilia, dia justru menangkap tubuh Rhena dan membantingnya di atas meja makan. Dengan ganas dilahapnya bibir yang mulai lancang membuka rahasia yang belum saatnya diungkap. Apa yang dilakukan oleh Harlan tidak membuat Rhena kesakitan tetapi justru menimbulkan desahan yang menyakitkan hati Sisilia. Wanita itu melempar vas bunga yang kebetulan ada di dekat tangannya kearah asal suara desahan. Melihat apa yang dilakukan oleh wanitanya membuat Harlan naik pitam. Dia merasa bahwa Sisilia sedang mengganggu kesenangannya. Maka, pria itu meninggalkan Rhena begitu saja dalam keadaan pakaian sedikit tercabik. Harlan melangkah mendekat pada Sisilia dan menerkam tubuh wanita buta itu. Tubuh Sisilia ditekan hingga menempel di dinding. Tidak hanya ditekan, leher wanita itu juga dicekik kuat oleh Harlan hingga membuat Sisilia susah bernapas. "Tolong, lepaskan!" pinta Sisilia dengan nada memelas. Sementara Rhena segera bangkit dari posisi rebahannya di meja, dia pun membenahi kancing bajunya yang terbuka beberapa. Setelah selesai dia berjalan mendekati Harlan. Tangannya ikut memberi siksaan pada tubuh Sisilia. Rhena tidak rela kesenangannya terganggu. Dia pun menekan kedua benda kenyal milik Sislia hingga wanita itu menjerit kesakitan. "Lepaskan tangan kotormu dari tubuhku, Rhe. Kau menyakitiku!" Hentak Sisilia. "Kau sudah tidak berhak bersuara dirumah ini, Jalang! Tubuhmu sudah kotor bahkan menjadi konsumsi publik!" Gertak Rhena. Harlan membiarkan tubuh Sisilia di siksa oleh Rhena. Pria itu sama sekali tidak memedulikan akan keselamatan wanita yang sudah menghangatkan ranjangnya beberapa bulan sebelumnya. Sislia mencoba berontak, tetapi tenaganya kalah kuat dengan tenaga Rhena. Tubuh Sisilia pun jatuh terduduk di lantai, kedua tapaknya mengepal kuat menahan emosi yang membuncah. "Aku hamil anak Harlan, Rhena. Jaga sikapmu!" kata Sisilia dengan nada rendah dan menekan. Rhena yang samar mendengar kata hamil dan Harlan, tangannya terasa lemas. Lalu tatapannya menghitam pada Harlan. Dia meminta penjelasan atas dua kata tersebut. Harlan menggelengkan kepala menolak apa yang dikatakan oleh Sisilia. Dia tidak mau mengakui apa yang terucap dari wanita jalang itu. Dengan susah payah Harlan merayu Rhena agar menurunkan emosinya. "Jangan mencoba berbohong denganku, Harlan. Kau sudah melangkah jauh bersamaku, jika apa yang dikatakan oleh wanita jalang ini terbukti kau yang akan mati!" gertak Rhena. Usai berkata dengan tegas, Rhena berjalan meninggalkan ruang makan. Wanita itu berjalan dengan emosi yang memuncak bahkan tas selempang miliknya tidak terbawa. Dengan cepat Harlan meraih tas tersebut dan mengejar kekasihnya. Langkah Rhena begitu cepat hingga pria tersebut tidak mampu mengejar. Dengan terpaksa dia berbalik badan dan melangkah masuk kembali ke dalam langsung menuju ke tempat semula. Dilihatnya Sisilia duduk menunduk sambil terisak. Wanita itu terlihat begitu mengenaskan dan rapuh. Tangannya mengusap perut berulang kali, lalu bibirnya berbisik, "Tetaplah bersama mama, Sayang. Kau sekarang semangatku!" Tiba-tiba tubuh Sisilia terguling akibat tendangan keras Harlan. Wanita itu menjerit sambil memegangi perutnya. Sikap ini justru membuat Harlan makin emosi, dengan kasar tubuh itu di angkat dan dilempar ke sofa tunggal miliknya. "Kau yang membuat acaraku hancur, maka inilah balasannya!" Harlan berkata sambil berjalan mendekat ke arah Sisilia. Satu per satu pakaiannya dilepaskan menyisakan boxer tipis yang menutup aset terbaiknya. Harlan menyetubuhi Sisilia dengan ganas tanpa memerhatikan teriak kesakitan wanita tersebut. Setelah puas meluapkan hasratnya, Harlan mendorong kuat tubuh itu. "Kau kejam, Harlan. Ini adalah hasil perbuatan yang keji, semua adalah ulahmu. Aku membenci kamu, Harlan!" Hentak Sisilia. "Bagiku kau hanya budak, tidak lebih. Dan satu lagi jangan mimpi untuk jadi pasanganku!" Sisilia merangkak memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Wanita itu kembali terluka untuk kesekian. Harlan masih belum puas menyiksa batinnya. Lelaki itu memberi perintah agar Sisilia memberesi semua hidangan yang belum tersentuh. Dengan keadaan yang memilukan, wanita itu mulai membersihkan meja makan yang dipenuhi oleh hidangan. Air mata terus mengalir seakan tidak kering. Setelah semua selesai, Sisilia menghadap Harlan yang masih sibuk dengan ponsel. "Harlan, ini adalah janinmu, apakah kau tidak ingin?" tanya Sisilia dengan nada rendah. "Buang saja, tidak hanya aku yang sentuh tubuh kotormu itu. Jadi buang saja, tidak berguna bagiku!" Kalimat panjang yang lolos dari Harlan mampu membuat jiwa Sisilia mati. Wanita itu pun melangkah meninggalkan ruang tersebut dan masuk kembali ke dalam kamar. Usai berkata kasar pada Sisilia Harlan berjalan cepat menuju ke luar, sebelum lebih jauh tangannya meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja panjang menempel pada dinding. Begitu pria itu sudah berada di dalam mobil, mesin segera dinyalakan dan mobil melaju kencang meninggalkan perkebunan miliknya. Mobil porche merah metalik meluncur deras membelah jalanan khusus hutan pinus. Lolongan serigala dan anjing liar hutan tidak menyurutkan niatnya mengejar pasangannya yang lari tanpa kendaraan. Iya, pasangan Harlan meninggalkan mobil miliknya yang saat ini dikendarai pria itu menuju kastil. Dari aroma yang masih tersisa di dalam mobil tersebut, Harlan bisa mengenali asal muasal sang pasangan. Bibir pria itu tersenyum membayangkan sosok wanitanya yang terlentang di atas pembaringan putih lembut. Jantung Harlan berdegup lebih kencang, apalagi dalam penglihatannya wanitanya sedang dalam emosi tinggi. "Tunggu aku, Sayang!"Setelah kepergian suaminya membuat pikiran Luna Sniders berkelana. Ada rasa curiga yang membuatnya tidak nyaman untuk memejamkan mata. Luna mendengus lirih, bibirnya bergerak menimbulkan suara, "apakah aku harus menguntitnya?"Cukup lama Luna Sniders berpikir ulang, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti langkah penguasa Kastil Hitam. Langkahnya mengendap-endap dan sedikit berjarak jauh dari langkah pasangannya. Meskipun begitu, aroma yang ditinggalkan masih bisa diciumnya. Langkah Luna Sniders terhenti manakala aroma raja lycan pun menghilang tepat di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka. "Apakah semua ini harus dilakukan, Tuan? Pantaskah pria busuk itu menjadi seorang alpha?"Suara Beta Ramon begitu jelas di pendengaran sang Luna membuat wanita itu mengerutkan dahi, "pria busuk? Siapa pria ini hingga mampu mengubah pikiran pasanganku?"Meskipun sudah mendengar beberapa kalimat dan tujuan dari suaminya tidak membuat Luna Sniders pergi dari sana. Dia terus mencuri dengar selur
"Jadi aku harus bagaimana, Edward?" tanya Luna Sniders sambil mengeser tubuhnya lebih merapat pada sang raja Lycan. Raja Lycan Edward Slovasky tersenyum, diraihnya tubuh mungil Luna Sniders lalu dipeluknya. Mendapatkan pelukan hangat, jantung Luna berdebar. Wajahnya memerah bak sebuah tomat yang merah. "Kau cantik sekali jika tersipu, Luna. Aku mencintaimu," bisik Raja Lycan. Kepala Luna Sniders terangkat, kedua pasang mata saling bertemu dan mengunci. Perlahan tubuh Luna terangkat dan diletakkan pada pangkuan sang raja. Secara naluri, kedua lengan Luna melingkar pada leher pasangannya. "Aku ingin seperti ini selamanya, Edward. Jangan pernah tinggalkan aku!""Tidak, hanya kau wanitaku, Luna. Bahkan jika dunia serigala punah pun, kau tetap yang terbaik.""Benarkah ini semua, Edward." Untuk sesaat bibir Luna Sniders terbuka, napasnya begitu lembut dan teratur, "aku juga mencintaimu."Mendengar ungkapan kalimat yang jujur lolos dari bibir pasangannya membuat raja Lycan melolong panj
Raja Lycan Edward Slovasky masih melangkah meninggalkan arena pertempuran itu. Sedangkan Alpha Female Sniders mengikuti langkahnya dengan sedikit berlari. Suaranya yang terus memanggil nama pasangannya itu seakan hilang dibawa angin malam. Merasa jika suaranya tidak diterima oleh kekasihnya membuat emosi Alpha female Sniders memuncak. "Edward!" Panggilnya dengan nada tinggi bahkan disertai dengan angin kencang. Merasakan aliran udara yang berubah seketika langkah Raja Lycan Edward Slovasky pun berhenti, dia berbalik badan. Bibirnya tersenyum kaku. "Maaf!"Alpha famale Sniders berjalan dengan langkah panjang seakan dia berlari di udara. Begitu kakinya menginjak tanah, saat itu juga terlihat wajah cemberut. "Mengapa bisa kau tinggalkan aku dengan tubuhmu penuh luka?" Geram sang alpha female, "apakah aku tidak ada arti?"Raja Lycan Edward Slovasky hanya tersenyum simpul, lengannya bergerak meraih jemari pasangannya. Tanpa bersuara ditautkannya jemari itu dan mulai melangkah bersama.
Setelah kepergian Raja Lycan Edward Slovasky, Edwin berdiri tegak menatap tajam pada sosok Esther yang masih bungkam. Untuk beberapa detik mereka saling diam dalam pemikirannya masing-masing. Setelah suasana mulai membaik, suara Esmeralda keluar dengan volume sangat rendah. "Apakah tidak bisa kalian berbagi tempat dengan kami para penyihir, Madam Esther?"Merasa namanya disebut, Esther mengangkat kepala menatap pada sosok adik tiri Raja Lycan Edward Slovasky--Edwin. "Apakah kau masih inginkan Kastil ini, Tuan Edwin?"Edwin mengeram kasar, dia menatap tajam pada Esther, "hak apa kamu mempertanyakan hal itu padaku. Yang pasti akulah yang berhak atas Kastil ini selain Edward sialan itu.""Jika kau mendapatkan jatah wilayah, mana yang kau inginkan, Nona Esmeralda?" tanya Esther dengan nada dingin. Esmeralda terdiam, dahinya berkerut mencari sebuah kata yang tepat untuk menentukan wilayah yang cocok buat para penyihir. Kedua kelopak matanya mengerjakan ringan disertai senyum penuh arti
Alpha female Sniders menatap sendu pasangannya, lalu berganti menatap Esther dan Esmeralda bergantian. Dia mendengus panjang. "Apakah saat ini Kastil Perak juga dalam penyerangan, Esther, Harlan?" tanya Alpha female Sniders, lalu pandangannya berganti pada penyihir wanita, "apakah ini sudah menjadi rencana kamu, Nona?"Esmeralda hanya diam dengan tatapan tidak bisa diartikan. Sementara Esther memberanikan diri menatap mata alpha. "Esther!" "Iya, Alpha female. Tetapi Alpha Harlan Stuward tidak ikut turun tangan meskipun dia hadir di sana.""Berikan kertas itu padaku, Edward!" Alpha female Sniders meminta dengan kata lembut dan mengulurkan telapak tangan. Untuk sesaat sang raja hanya diam menatap pasangannya itu. Otaknya masih berputar mencari sesuatu yang selama ini masih misteri. Berbagai pertanyaan muncul di otak kecil sang raja, tetapi dia belum ingin ungkap semua secara gamblang. Hanya kedua matanya menatap heran pada Esther. "Darimana kau dapatkan ini semua, Esther?" Suara R
Disaat yang begitu krusial, seberkas sinar Perak melesat memisahkan dua entitas kuat hingga ketiga tubuh terpental dan membentur dinding. "Edward!" Suara Sisilia berteriak keras saat melihat tubuh kekasihnya melayang ke udara dan jatuh membentur dinding Kastil. Di saat bersamaan tubuh Esther terbang di depan Alpha female Sniders dan dia langsung membungkuk memberi hormat. "Maafkan bawahan jika berbuat salah, Alpha." Esther berkata dengan nada rendah dan menunduk. Wanita paruh baya itu tidak berani mendongak melihat wajah atasannya. Aura Alpha female Sniders begitu terasa dingin, tanpa berkata wanita itu melesat menuju ke tubuh pasangannya yang terjatuh bercampur kubangan darah. Diraihnya kepala raja Lycan lalu dibawa ke pangkuannya. Jemari putih nan lentik membelai wajah raja Lycan penuh hangat. "Sayang, jangan tinggalkan aku!" bisik Alpha Female Sniders. Melihat sikap alpha yang tidak peduli dengan kedatangannya membuat hati Esther perih. Lalu dia memilih berjalan menuju ke lo
"Haha, buang saja si buta itu dari klan kita. Bikin malu saja!" teriak salaah satu anggota klan bulan."Ampuni aku, Ketua. Kesalahan ini tidak akan saya ulangi lagi, aku mohon!" pinta seekor serigala perempuan yang buta."Apa jaminan untuk sikapmu yang tidak akan terulang, sedangkan kau buta seumur
"Suasana makin tegang, pertempuran mungkin akan sulit dihindari, Alpha Stuward.""Kau tahu semua ini berawal dari serigala buta yang direkomendasikan oleh Azim.""Semua sudah terlanjur dan itu sesuai dengan petunjuk Moon Gooddes. Sulit akan terhindar, lagipula kejadian itu sudah bertahun lamanya te
Tubuh Sisilia bersinar keemasan. Tubuhnya menyatu dengan serigala kesayangan. Sinar mata yang biasanya kosong kini mulai mengeluarkan sinar. "Berhati-hatilah, Alpha Sisilia. Kami masih butuh Anda!" Ester berkata sambil menepuk punggung kokoh serigala perak tersebut. Sang serigala melolong panjang
"Gila itu orang, tubuh mulus seperti ini di hancur lebur kan hingga tanpa sisa!" umpat Piter. Meskipun pria tampan itu mengomel dia tetap melakukan apa yang diperintahkan atasannya. Ada rasa nyeri yang menjalar di dalam tubuh Piter kala dilihatnya darah segar mengalir dari pangkal paha Sisilia. "







