LOGINSudah satu bulan penuh Sisilia berada di mansion milik Harlan. Selama itu pula dia tidak bisa bebas berkeliaran bahkan untuk mengenakan pakaian layak pun tidak pernah. Apa yang dilemparkan Harlan hanya dua kain tipis dan mungil yang mampu untuk menutupi dua aset vitalnya.
Akan tetapi meskipun diperlakukan bagai budak, wanita muda itu sama sekali tidak mengeluh. Dia hanya memendamnya dan berniat suatu saat nanti akan membalas semua perbuatan Harlan padanya. Seperti pagi ini saat Sisilia berada di dapur, sebuah tangan mencengkeram lehernya dan menarik lalu dihempas pada sofa. "Apa yang kau lakukan dengan pakaianku ini, Hah!" hentak Harlan sambil melempar kemeja satin terbarunya. Sisilia segera meraih benda yang jatuh menimpa wajahnya dan kini sudah berada di tangan. Dengan pelan jari jemarinya meraba benda tersebut, lembut menyapa kulit jarinya yang terdapat beberapa kancing. Dia pun mengerti benda apa yang sedang dipegangnya. Seketika wanita cantik dan buta itu menelan salivanya saat tangannya menyentuh satu tempat yang kainnya terasa sedikit kasar dan terkoyak. Tidak hanya sulit menelan air liurnya sendiri, Sisilia pun juga mundur beberapa langkah menjauh dari jangkauan Harlan. Akan tetapi belum sempat menjauh tangan Harlan yang panjang sudah berhasil mencengkeram lengannya. "Jangan mencoba menghindar kau! Aku tidak mau tahu, malam ini aku ada tamu. Buat jamuan semewah mungkin, ini adalah awal hidupku!" Sisilia terdiam, lalu berkata lirih, "Bagaimana caraku untuk semua jika penglihatan saja aku tidak punya, Tuan?" "Aku tidak mau tahu, pasanganku malam ini akan datang. Jadi siapkan semua dan kau jangan keluar saat jamuan itu dimulai. Ingat!" Sisilia pun mengangguk, hening setelah Harlan berucap membuat wanita itu berpikir bahwa lelaki tersebut sudah pergi. Maka, perlahan Sisilia berjalan meninggalkan ruangan. "Sepertinya aku harus lebih waspada dan melatih semua inderaku jika ingin segera keluar dari neraka ini." Sisilia berkata dan memantapkan niatnya. Samar telinga Sisilia mendengar langkah kaki mendekat. Ritmenya berbeda dengan Harlan, aroma tubuhnya pun tidak sama. Hal ini membuat wanita buta itu sedikit bernapas lega. Namun, dia tidak juga menurunkan kewaspadaannya. Langkah itu makin dekat, lalu terdengar benda jatuh di dekat tapak tangannya. Tidak hanya itu, napas halus nan lembut menyapa kulit ujung cupingnya. Sisilia menghela napas panjang dengan sedikit ditahannya. "Jangan takut padaku, Nona. Aku hanya seorang omega di sini. Mari saya bantu membuat hidangan nanti malam!" Suara perempuan yang menyapa cuping Sisilia seakan meruntuhkan jiwa waspadanya. "Baik, saya Sisilia. Panggil saja Sisil tanpa embel-embel nona. Siapa namamu, Omega?" "Raquel. Tidak bisa, saya tahu jenis serigala apa yang ada dalam tubuhmu itu, Nona. Bertahanlah sedikit waktu lagi!" Apa yang dikatakan Raquel membuat Sisilia terhentak dan mundur dua langkah. Dia tidak mengerti mengapa wanita di depannya bisa melihat semua dalam dirinya. Akan tetapi, wanita bernama Raquel itu tidak mau berkata lebih panjang. Dia hanya segera bertindak memberitahukan apa saja makanan yang diminati oleh Alpha yang diikutinya. Sisilia bergidik ngeri kala mendengar daging mentah yang segar. Wanita itu sedikit berjingkat kala jarinya menyentuh benda yang basah dan sedikit berbau anyir darah segar. Kepalanya menoleh pada sisi yang dirasa ada Raquel di sana. Sorot mata Sisilia seakan mengutarakan sebuah tanya. "Iya, itu yang Anda pegang adalah daging segar seekor rusa dari hasil berburu Scoter." Mendengar kata Scoter membuat tubuh Sisilia menegang. Dia sangat hafal akan nama serigala rogue tersebut. Pernah dulu dia hampir saja diterkam oleh pria itu. Namun, entah apa yang terjadi hingga pria itu membebaskannya tanpa syarat. "Apakah pria itu masih hidup hingga kini, Raquel?" "Masih, yang aku dengar dia sedang memburu wanita muda yang buta tetapi memiliki kelebihan yang hakiki, Nona." Deg! Akhirnya Sisilia pun berusaha menekan rasa takut dan kekhawatirannya. Dia mulai memasak untuk persiapan makan malam Harlan. Seperti yang diinfokan oleh Raquel bahwa malam ini akan ada pasangan majikannya itu bersama keluarga yang kabarnya sebuah keluarga Alpha Selatan. Sisilia seketika membekap mulutnya. Sekali lagi otaknya berpikir untuk menolak. Namun, saat hari menjelang malam penciumannya sudah menangkap hal yang sangat familiar. Deru suara mesin beroda banyak telah diterima oleh telinga Sisilia. "Rupanya mereka segera sampai." Sisilia berdiri di dekat jendel kamarnya yang menghadap jalan. Terdengar pintu diketuk membuat Sisilia berbalik badan menghadap pintu. Lalu bibirnya terbuka dan memberikan perintah agar pengetuk pintu bisa langsung masuk. "Maaf, Nona. Anda sebaiknya segera berhias sebentar lagi mereka datang!" perintah Raquel. "Tetapi aku tidak diijinkan oleh Harlan, Raquel. Aku tidak bisa!" tolak Sisilia halus. Setelah menyiapkan segalanya untuk Sisilia, Raquel pun beranjak pergi dari kamar tersebut. Dia meninggalkan nona nya agar leluasa berpakaian dan menunggu di depan pintu. Setelah mendengar panggilan barulah wanita tua itu kembali masuk untuk membantu merias wajah. "Sempurna, aku yakin wanita gadungan itu kalah cantik dengan Nona. Mari saya antar ke bawah. Mereka sudah tiba," ajak Raquel. Sisilia pun menuruti apa kata Raquel. Entah apa yang ada dalam pikiran Sisilia hingga dia patuh tanpa syarat terhadap wanita omega itu. Sedangkan senyum licik terukir di wajah Raquel. Wanita itu seakan merasa menang. "Tinggal satu langkah lagi," batin Raquel. Sisilia pun akhirnya sampai di ruang makan tempat jamuan keluarga. Hidungnya seketika menghidu cukup lama. Dan seperti dugaannya, ternyata benar adanya tamu yang ditunggu oleh Harlan adalah keluarganya terdahulu sebelum dia dibuang. "Kau! Mengapa ada di sini dan sejak kapan, Hah?" Hentak Rhena sambil mendorong kasar tubuh Sisilia. "Apa kau kenal gadis buta ini, Rhe?" tanya Harlan. Rhena menyeringai licik, dia berjalan mendekat dan memeluk tubuh Harlan dari samping. Tampak kedua tubuh itu saling menempel hingga terasa dua benda kenyal menghimpit lengan Harlan. Pria itu tercekat. "Kau pasti menyesal terlahir sebagai wanita buta. Meskipun kecantikanmu tidak kalah dengan lainnya, tetapi kebutaan merupakan hal yang memalukan. Bagai anjing tanpa taring." Rhena menghina sedemikian dalamnya sambil tapak tangannya membelai dada Harlan. Harlan menunduk lalu mengecup lembut bibir Rhena yang sejak tadi sudah menggodanya. Awalnya hanya biasa, tetapi semakin lama makin membuat keduanya tidak kuasa. Saling melumat hingga suaranya mampu membuat tubuh Sisilia menegang. "Apa yang Kalian lakukan di sana? Hentikan, kau harusnya jaga kehormatanmu, Rhena!" geram Sisilia. "Cuih, aku tidak peduli dengan kehormatan bila bersama pasanganku, Wanita Buta. Apa kamu iri karena aku sudah di tandai oleh pasanganku, Hah!" Bagai disambar petir, jiwa Sisilia seakan lepas dari raganya. Tubuh wanita itu mulai gemetaran dan mundur beberapa langkah ke belakang sambil menutup mulutnya yang terbuka. "Tidak, ini semua pasti bohong. Benarkah semua ini, Harlan?"Waktu terus berlalu, akhirnya mau tidak mau Luna Sniders harus rela mengikuti keputusan pasangannya. Kali ini dia ingin merasakan bagaimana rasanya dimanjakan dan dikasih sepenuh hati. Benar saja, sejak keikhlasan itu hadir Edward selalu memanjakan istrinya. "Dengan begini aku lebih leluasa merawatmu di kehamilan ini, Sisilia. Biarkan aku memanjakan istri sendiri, boleh?"Mendengar kalimat manis pasangan membuat Luna Sniders tersipu malu. "Apakah ini artinya kau menjadi pasangan alpha female kastil perak, Edward. Posisimu menjadi dibawahku.""Aku tidak peduli akan kedudukan, jiwaku lebih tenang saat bersamamu, Sisilia." Edward berkata dengan tatapan lembut, lengannya terulur menyentuh pipi Luna. Dengan manja tubuh Alpha Female Sniders merapat dan memeluk tubuh berotot Edward. Dengan lembut, pria itu membelai rambut Sisilia. Bibirnya selalu mengulas senyum manis membuat Sisilia makin merapatkan pelukannya. "Jangan lagi tampilkan senyummu itu pada serigala betina di luar sana, Edwa
Raja Lycan tidak memedulikan kalimat istrinya, dia masih terus membawa tubuh Luna masuk ke dalam kamar mandi. Sampai di dalam, tubuh itu di dudukkan pada wastafel. "Duduk sini dulu biar aku siapkan semua lebih dulu!"Usai berkata, Raja Lycan menyiakan air hangat dalam bak mandi. Tidak lupa dia juga menyalakan lilin berbentuk dan aroma khusus membuat hidung Luna kembang kemping. "Aroma ini begitu menenangkan, Edward. Aku suka," kata Luna sambil melompat ke lantai lalu berjalan menuju ke bak mandi. "Hai hati-hati dong!" Teriak Raja Lycan Edward Slovasky tergesa menangkap tubuh pasangannya yang hampir saja terjatuh. Senyum Luna terukir, wanita itu begitu pandai mempermainkan jiwa Raja Lycan hingga pria itu bergerak liat. "Tidak bisakah setiap bergerak memerhatikan tempat, Sayang!"Kembali senyum manis terukir di bibir luna, hal ini untuk melunakkan emosi pasangannya dan usahanya berhasil. "Baik-baik, lain kali tidak akan ada lagi!" Edward mendengus, "ayo mandi, biar kugosok punggu
Setelah kepergian suaminya membuat pikiran Luna Sniders berkelana. Ada rasa curiga yang membuatnya tidak nyaman untuk memejamkan mata. Luna mendengus lirih, bibirnya bergerak menimbulkan suara, "apakah aku harus menguntitnya?"Cukup lama Luna Sniders berpikir ulang, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti langkah penguasa Kastil Hitam. Langkahnya mengendap-endap dan sedikit berjarak jauh dari langkah pasangannya. Meskipun begitu, aroma yang ditinggalkan masih bisa diciumnya. Langkah Luna Sniders terhenti manakala aroma raja lycan pun menghilang tepat di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka. "Apakah semua ini harus dilakukan, Tuan? Pantaskah pria busuk itu menjadi seorang alpha?"Suara Beta Ramon begitu jelas di pendengaran sang Luna membuat wanita itu mengerutkan dahi, "pria busuk? Siapa pria ini hingga mampu mengubah pikiran pasanganku?"Meskipun sudah mendengar beberapa kalimat dan tujuan dari suaminya tidak membuat Luna Sniders pergi dari sana. Dia terus mencuri dengar selur
"Jadi aku harus bagaimana, Edward?" tanya Luna Sniders sambil mengeser tubuhnya lebih merapat pada sang raja Lycan. Raja Lycan Edward Slovasky tersenyum, diraihnya tubuh mungil Luna Sniders lalu dipeluknya. Mendapatkan pelukan hangat, jantung Luna berdebar. Wajahnya memerah bak sebuah tomat yang merah. "Kau cantik sekali jika tersipu, Luna. Aku mencintaimu," bisik Raja Lycan. Kepala Luna Sniders terangkat, kedua pasang mata saling bertemu dan mengunci. Perlahan tubuh Luna terangkat dan diletakkan pada pangkuan sang raja. Secara naluri, kedua lengan Luna melingkar pada leher pasangannya. "Aku ingin seperti ini selamanya, Edward. Jangan pernah tinggalkan aku!""Tidak, hanya kau wanitaku, Luna. Bahkan jika dunia serigala punah pun, kau tetap yang terbaik.""Benarkah ini semua, Edward." Untuk sesaat bibir Luna Sniders terbuka, napasnya begitu lembut dan teratur, "aku juga mencintaimu."Mendengar ungkapan kalimat yang jujur lolos dari bibir pasangannya membuat raja Lycan melolong panj
Raja Lycan Edward Slovasky masih melangkah meninggalkan arena pertempuran itu. Sedangkan Alpha Female Sniders mengikuti langkahnya dengan sedikit berlari. Suaranya yang terus memanggil nama pasangannya itu seakan hilang dibawa angin malam. Merasa jika suaranya tidak diterima oleh kekasihnya membuat emosi Alpha female Sniders memuncak. "Edward!" Panggilnya dengan nada tinggi bahkan disertai dengan angin kencang. Merasakan aliran udara yang berubah seketika langkah Raja Lycan Edward Slovasky pun berhenti, dia berbalik badan. Bibirnya tersenyum kaku. "Maaf!"Alpha famale Sniders berjalan dengan langkah panjang seakan dia berlari di udara. Begitu kakinya menginjak tanah, saat itu juga terlihat wajah cemberut. "Mengapa bisa kau tinggalkan aku dengan tubuhmu penuh luka?" Geram sang alpha female, "apakah aku tidak ada arti?"Raja Lycan Edward Slovasky hanya tersenyum simpul, lengannya bergerak meraih jemari pasangannya. Tanpa bersuara ditautkannya jemari itu dan mulai melangkah bersama.
Setelah kepergian Raja Lycan Edward Slovasky, Edwin berdiri tegak menatap tajam pada sosok Esther yang masih bungkam. Untuk beberapa detik mereka saling diam dalam pemikirannya masing-masing. Setelah suasana mulai membaik, suara Esmeralda keluar dengan volume sangat rendah. "Apakah tidak bisa kalian berbagi tempat dengan kami para penyihir, Madam Esther?"Merasa namanya disebut, Esther mengangkat kepala menatap pada sosok adik tiri Raja Lycan Edward Slovasky--Edwin. "Apakah kau masih inginkan Kastil ini, Tuan Edwin?"Edwin mengeram kasar, dia menatap tajam pada Esther, "hak apa kamu mempertanyakan hal itu padaku. Yang pasti akulah yang berhak atas Kastil ini selain Edward sialan itu.""Jika kau mendapatkan jatah wilayah, mana yang kau inginkan, Nona Esmeralda?" tanya Esther dengan nada dingin. Esmeralda terdiam, dahinya berkerut mencari sebuah kata yang tepat untuk menentukan wilayah yang cocok buat para penyihir. Kedua kelopak matanya mengerjakan ringan disertai senyum penuh arti
Tubuh Sisilia bersinar keemasan. Tubuhnya menyatu dengan serigala kesayangan. Sinar mata yang biasanya kosong kini mulai mengeluarkan sinar. "Berhati-hatilah, Alpha Sisilia. Kami masih butuh Anda!" Ester berkata sambil menepuk punggung kokoh serigala perak tersebut. Sang serigala melolong panjang
"Gila itu orang, tubuh mulus seperti ini di hancur lebur kan hingga tanpa sisa!" umpat Piter. Meskipun pria tampan itu mengomel dia tetap melakukan apa yang diperintahkan atasannya. Ada rasa nyeri yang menjalar di dalam tubuh Piter kala dilihatnya darah segar mengalir dari pangkal paha Sisilia. "
Mobil porche merah memasuki sebuah kastil tua yang terlihat begitu kokoh. Tanpa terhambat, mobil tersebut langsung masuk ke halaman kastil dan disambut dengan wajah sengit seorang pria paruh baya. "Ada perlu apa hingga seorang Harlan Stuward datang langsung ke gubug reyot?" tanya Baron-ayah Rhena
Beberapa hari yang lalu sebelum semua terjadi, Sisilia merasa bahwa tubuhnya sedang tidak baik. Maka dia pun meminta ijin pada Harlan untuk memanggil dokter untuknya. Dan semua terjadi. Saat itu seakan dunia dalam genggamannya, dia hamil anak Harlan. Meskipun semua berawal dari kekerasan dan ketid







