MasukMobil porche merah memasuki sebuah kastil tua yang terlihat begitu kokoh. Tanpa terhambat, mobil tersebut langsung masuk ke halaman kastil dan disambut dengan wajah sengit seorang pria paruh baya.
"Ada perlu apa hingga seorang Harlan Stuward datang langsung ke gubug reyot?" tanya Baron-ayah Rhena "Ijinkan saya bertemu dengan Rhena, Tuan Baron!" pinta Harlan Baron menatap nyalang pria yang sudah membuat putrinya berlari tanpa arah, tetapi Harlan justru berbalik menatap dingin dan datar. Sepertinya lelaki itu tidak takut akan kekuasaan Baron. "Kau bawa aku masuk atau usahamu hancur, Tuan Baron!" kata Harlan datar. Akhirnya Baron membawa Harlan masuk lebih dalam hingga sampai di ruang yang luas barulah langkah panjang kakinya berhenti dan berbalik menatap Harlan. "Silakan lanjut menuju lorong kanan, sampai ujung akan Anda jumpai pintu. Di situlah putriku berada!" "Baik." Usai berkata Harlan melanjutkan langkahnya sesuai informasi Baron. Harlan terus menyusuri lorong sambil membawa obor kecil sebagai penerang jalannya. Derap langkahnya yang dingin mampu terbaca oleh Rhena yang sedang duduk sendiri di pinggir jendela. Wanita muda tidak berniat pergi dari posisinya, dia masih ingin menatap pekatnya malam. Hingga suara pintu dibuka pun Rhena masih duduk di pinggir jendela. "Rhe, tidakkah kamu sudi menatapku?" "Buat apa, toh wanita buta itu masih ada di sana. Lanjutkan saja hubunganmu dengan si buta, aku tidak peduli," kata Rhena dingin. Harlan berjalan dengan kedua tangannya berada di saku celana, langkahnya terasa begitu dingin dan Rhena menyadari hal itu. Namun, wanita itu belum ingin berpaling pada Harlan. Langkah Harlan makin mengikis jarak hingga sejengkal. Tangannya yang panjang dan kekar terulur meraih dua bahu wanitanya, kemudian diputar agar bisa menghadap padanya. "Tatap aku!" Hentak Harlan. "Buat apa, kau sudah tidak peduli lagi!" kata Rhena lantang sambil menghempas kedua lengan Harlan. Sikap wanita muda membuat Harlan mengeram kasar, lalu dicengkeramnya dagu runcing wanita tersebut. Tatapan dingin menusuk jantung Rhena, tetapi wanita itu masih mampu melawan tatapan sang Alpha. "Apa yang kau inginkan agar aku bisa dapatkan hatimu lagi?" "Buang wanita buta di kastil milik kamu itu, jika perlu bunuh dia!" "Tidak mungkin, dia masih aku butuhkan. Apalagi saat ini tidak ada penghangat ranjangku," jawab Harlan masih mode datar. "Pergi!" Rhena mendorong tubuh lelakinya dengan keras bahkan lebih menghentak kasar. Tubuh Harlan bergeming, tidak tampak raut kecewa sedikit pun. Pria itu justru tertawa terbahak mendapati perlakuan penuh dengan penolakan. Sikap Rhena ini menunjukkan jika dia ada rasa pada Harlan. Jadi oleh Harlan makin dibuat cemburu agar wanitanya mencapai puncak gairah yang tentunya bisa dinikmati malam itu. "Aku akan lakukan apapun yang kau inginkan, Rhe. Ada syaratnya, temani aku minum malam ini, bagaimana?" "Buang dulu wanita buta itu, akan lebih baik jika bunuh saja!" Tanpa bicara apapun, Harlan merogoh saku celananya dan mulai menghubungi salah satu bawahannya agar menyiksa Sisilia. Dia sengaja berkata dengan nada tunggi agar Rhena bisa mendengar jelas perintahnya. "Sudah selesai, tinggal menunggu hasilnya. Bagaimana dengan tawaranku?" "Baik, aku bersiap dulu. Keluar dari kamarku!" "Biarkan aku di sini, toh semua tubuhmu sudah pernah aku lihat," kata Harlan. Rhena tidak menolak lagi. Dengan gerak lambat, wanita itu melepas satu per satu kain penutup tubuhnya. Terlihat jelas kulit nan putih bersih dengan dua gundukan berukuran sedang dan padat membuat hasrat Harlan mulai naik. Kedua mata Harlan menatap kelamin Rhena yang terlihat bersih tanpa ada rambut membuat Harlan menelan salivanya. "Seindah itu milikmu, Rhe." Harlan terpana dengan tampilan Rhena. "Malam ini, Aku milikmu, Harlan!" Tanpa berkara, Harlan segera menerjang tubuh bugil wanitanya. Langkah dinginnya mengikis jarak dengan melepas satu per satu pakaian yang dikenakan hingga sampai di depan Rhena tubuh Harlan sudah telanjang. "Harlan, lepaskan!" Hentak Rhena sambil meronta. Kekuatan Rhena tidak mampu menolak semua sentuhan Harlan. Dengan ganas diterkamnya tubuh mulus Rhena. Dia mengeram sambil melumat dan menyesap payudara milik wanitanya. Rhena tidak bisa menahan gejolak dalam jiwa. Akan tetapi, entah ada kekuatan darimana tiba-tuba tubuh Harlan terpental keluar dari kamar Rhena melalui jendela. "Pergi dan jangan tampakkan wajahmu sebelum wanita itu menyingkir!" "Sialan, kau berani menolak aku, Rhena. Akan kuhabisi dirimu suatu saat nanti!" umpat Harlan sambil melompat meninggalkan halaman samping rumah dalam wujud serigala. Usai kepergian Harlan segera Rhena membereskan kamarnya yang berantakan akibat ulahnya sendiri. Apa yang dilakukan oleh lelakinya sangat diluar kendali dan diluar batas. Sementara Harlan berlari sambil sesekali melompat dari pohon satu ke pohon lainnya. Dia terlihat begitu kekar dan gagah. Serigala setengah manusia itu akhirnya sampai di sebuah kamar gelap milik Sisilia. Tangannya yang kekar dan panjang bergerak cepat menggoyak semua yang ada di sekitarnya. Suara beberapa benda jatuh tidak membuat Sisilia bergerak. Wanita itu masih duduk tegak di pinggir ranjang dengan masih berbusana tipis. Harlan meraung, dengan ganas diterkamnya tubuh lemah wanitanya tanpa belas kasih. Tubuh harum Sisilia mampu membangkitkan hasrat yang tidak tersampaikan. Tubuh Sisilia terkunci oleh tenaga besar dan kuat milik Harlan membuat wanita itu tidak bisa bergerak dengan leluasa. "Tuan, lepaskan! Aku kesakitan," jerit Sisilia. Aap yang terucap dari bibir tipis merona tidak menghentikan gerakan brutal Harlan. Justru makin mendekat dan mencengkeram erat, melumat serta menghisap bibir tersebut hingga napas Sisilia tersendat. Tangan kekar Harlan juga mencengkeram leher jenjang nan mulus milik Sisilia hingga kepala wanita itu tengadah dengan mulut terbuka. "Tuan!" Suara Sisilia tertelan begitu saja dalam kuluman mulut besar Harlan. Jari telunjuknya terus bergerak kasar pada area vital membuat Sisilia mengerang antara nikmat dan sakit. Jiwa wanita itu makin terkoyak perih. Harlan makin bergerak liat menyaksikan wanitanya mengerang. "Dasar jalang, nikmati apa yang aku suguhkan padamu!" Harlan terus bergerak memajukan kejantanannya dalam goa sempit milik Sisilia, dia tidak memedulikan teriak kesakitan wanitanya. Cukup lama Harlan bermain di atas tubuh Sisilia hingga wanita itu memejamkan kedua mata menyembunyikan manik mata hijau miliknya. Kondisi Sisilia yang sudah terpejam tidak menyurutkan niat Harlan menyalurkan hasratnya. Entah sudah berapa kali lelaki itu menyemburkan benihnya dalam rahim Sisilia hingga kesekian kali Harlan mengerang panjang mencapai puncak kenikmatan yang begitu nikmat. "Hai, bangun!" ucap Harlan usai mengerang panjang dan mendapati tubuh Sisilia merosot ke bawah. "Sialan, pingsan rupanya!" Harlan segera menyambar boxernya dan memakainya sambil berjalan menuju pintu. "Piter!" Dengan lantang Harlan memanggil asistennya kemudian menyuruhnya untuk membuat tubuh tidak berguna Sisilia.Sisilia seketika memegang dadanya dan beberapa kali muntah darah segar. Namun, wanita itu masih mampu berdiri meskipun terhuyung. "Kau cukup kuat, Lupi!"Napas Sisilia tersengal, dia berhenti sesaat kemudian melakukan shifter yang kesekian. Bola matanya memancarkan cahaya merah menandakan bahwa emosinya sedang berada di puncak. Udara berhembus membawa angin dingin yang mampu membekukan tulang. Namun, entitas di depan tampak bergeming. Sisilia tidak merasakan adanya perubahan arah angin yang menandakan lawannya hanya diam. "Yang aku inginkan adalah kekuatan dan kekuasaan. Maka berilah berkahmu, Moon Goodnes!" ujar Sisilia lirih. Usai berkata, tubuh serigala perak melompat dan mengarahkan cakarnya pada tubuh diam lawan. Sesekali terdengar lirih erang kesakitan tetapi sesaat kemudian tawa lirih. Suara yang sering berubah membuat fokus Sisilia mulai goyah. "Tajamkan inderamu, Lupi!"Suara Moon Goodnes seakan mulai membimbingnya, membuat Sisilia bangkit dan kembali bersemangat mengh
Hari terus berlalu dan tahun pun telah berganti. Sisilia sudah mampu memanfaatkan seluruh inderanya secara maksimal. Kini dia sedang berada di hutan belantara menuju ke puncak bukit di mana Moon Goodnes berada. Langkahnya terlihat mantap bak seorang wanita yang memiliki penglihatan sempurna. Sejak empat purnama silam, Sisilia sudah mampu mengadaptasi seluruh inderanya menjadi mata buatnya hingga akhirnya Rebecca memberinya ijin keluar dari Kastil. "Aku harus berhasil." Tubuh Sisilia yang terlihat ringkih terus berjalan menyusuri jalan setapak hingga langkahnya terhenti karena aroma yang berbeda sedang ada di depannya. "Hai gadis buta, hendak kemana?"Suara yang terdengar tidak asing menyapa indera pendengarannya, Sisilia terdiam. "Apa kau lupa denganku?"Sisilia masih diam, otaknya berputar mencoba ingat suara tersebut. Terdengar langkah kaki mendekat, Sisilia mundur. Angin bergerak tidak biasa membuat Sisilia kembali mundur. "Berhenti di sana Rongue Bastian!" Bastian tertawa
Sisilia duduk diam, dia memandang jauh ke kedalaman hutan. Tatapannya kosong sambil tapak tangannya mengusap perutnya yang datar. Senyumnya masam bila ingat peristiwa persenggamaan brutal Harlan yang terakhir kali. "Makan dulu, Nona!" Aster sambil membawa nampan berisi sarapan. Sisilia menoleh lalu kembali menatap luar dari posisinya duduk saat ini. Dia masih enggan untuk memasukan makanan apapun dalam mulutnya. Namun, Ester masih setia berdiri di samping meja membuat Sisilia menoleh dan menatap penuh tanya. Ester segera meraih piring yang berisi spaghetti keju, makanan kesukaan Rebecca. Hal ini sengaja dimasak oleh Ester sekedar untuk mengetes sejauh mana tingkat kemiripan keduanya. "Apa itu, Ester?""Spaghetti keju."Saat mendengar jawaban Ester, perlahan tangannya terulur meminta. Senyum Ester mengembang lalu diambilnya piring tersebut dan diberikan pada nonanya. Sisilia menerima piring tersebut dan mulai menyuap perlahan. Saat lidahnya mengecap rasa yang familiar seketika ked
"Harlan, apa kamu lihat?" tanya Rhena. "Mahkluk langka, bukankah spesiesnya sudah punah sepuluh tahun silam?" Harlan berkata tanpa menjawab tanya Rhena. "Iya, bahkan ayahku ikut berperang melawan mereka. Pack nya pun hancur," ungkap Rhena. Sinar perak yang berwujud serigala raksasa berjanis betina melesat meraih tubuh Sisilia yang meringkuk siap menerima hunjaman batu permata biru. Harlan dan Rhena hanya melongo saat melihat dengan jelas sosok mahkluk tersebut. Cukup lama keduanya diam hanya menatap kepergiannya. "Harlan!" sentak Rhena saat otaknya kembali tersadar. "Shit, harusnya wanita itu, Mati! Sialan!"Rhena berjalan mendekati pasangannya, lalu dengan lembut diusapnya ujung hidung pada rahang kekar Harlan. "Sudah, lupakan perempuan sialan itu. Kita nikmati malam panjang menjelang purnama!"Harlan melanjutkan langkahnya. Dia mengikuti petunjuk dari peramal di packnya. Sementara sinar perak yang merebut tubuh Sisilia menambah kecepatan larinya. Dia tidak ingin ada yang t
"Hai, rupanya si buta sudah bisa shifting. Apa dengan begitu Harlan akan dapat kau raih, Jalang!" Sisilia terdiam, pendengarannya mulai berdenging. Suara nyaring itu mampu membuka kenangan masa silam, masa dimana dia harus menerima penghinaan dalam pack nya sendiri. "Rhena!" ucap Sisilia lirih. "Bagus jika kau masih ingat."Sisilia diam, tetapi indera penciumannya menghidu adanya aroma lain yang dia yakini milik Harlan. Kepala Sisilia menoleh dan seakan bola mata hijau itu menajam ke arah manik mata Harlan. Hal itu membuat Harlan termundur untuk beberapa langkah, "Sialan, meskipun buta mata itu mampu menembus jantung. Siapa sosok di baliknya?" gumam Harlan. Sisilia menggeram lirih, kedua tangannya mengepal. Kukunya yang hitam panjang menusuk tapak tangan. Kepala yang sudah berwujud serigala mendongak dengan mulut terbuka lebar. Dia melolong. Otot pada tulang kaki dan lengan terlihat menonjol membuat Rhene bergidik ngeri. "Shifying yang sempurna, siapa sebenarnya wanita ini?" ba
Sudah tiga hari tubuh wanita muda yang dibawa Rebecca mengalami pingsan. Selama itu pula Rebecca merawat dengan baik. Pagi ini cahaya merah pagi menerobos masuk lewat celah jendela dan jatuh tepat pada dahi wanita itu. "Haus, aku butuh air!" Suara lirih menyapa Rebecca membuat wanita itu segera bangkit dari kursi goyangnya. Sudah beberapa malam dia tidak tidur hanya ingin menunggu waktu bangunnya wanita muda nan cantik. Rebecca mengulurkan gelas berisi air putih, tetapi tidak ada respon dari wanita di depannya. "Ini gelasnya, sisi kanan dari lenganmu itu!" kata Rebecca memberi tahu posisi gelas, "Ada apa dengan penglihatanmu, apakah mereka juga merusaknya sama seperti milikmu?" "Sisilia, namaku Sisilia. Aku buta sejak usia 10 tahun. Saat itu ibuku omega 2 berkelahi untuk mempertahankan aku dari serangan Luna. Saat itu aku menyerah demi keselamatan ibu dan bapakku," papar Sisilia tanpa diminta. "Hem, lalu apa yang terjadi setelahnya?" tanya Rebecca. Sisilia terdiam, pandangannya







