INICIAR SESIÓNSisilia seketika memegang dadanya dan beberapa kali muntah darah segar. Namun, wanita itu masih mampu berdiri meskipun terhuyung. "Kau cukup kuat, Lupi!"Napas Sisilia tersengal, dia berhenti sesaat kemudian melakukan shifter yang kesekian. Bola matanya memancarkan cahaya merah menandakan bahwa emosinya sedang berada di puncak. Udara berhembus membawa angin dingin yang mampu membekukan tulang. Namun, entitas di depan tampak bergeming. Sisilia tidak merasakan adanya perubahan arah angin yang menandakan lawannya hanya diam. "Yang aku inginkan adalah kekuatan dan kekuasaan. Maka berilah berkahmu, Moon Goodnes!" ujar Sisilia lirih. Usai berkata, tubuh serigala perak melompat dan mengarahkan cakarnya pada tubuh diam lawan. Sesekali terdengar lirih erang kesakitan tetapi sesaat kemudian tawa lirih. Suara yang sering berubah membuat fokus Sisilia mulai goyah. "Tajamkan inderamu, Lupi!"Suara Moon Goodnes seakan mulai membimbingnya, membuat Sisilia bangkit dan kembali bersemangat mengh
Hari terus berlalu dan tahun pun telah berganti. Sisilia sudah mampu memanfaatkan seluruh inderanya secara maksimal. Kini dia sedang berada di hutan belantara menuju ke puncak bukit di mana Moon Goodnes berada. Langkahnya terlihat mantap bak seorang wanita yang memiliki penglihatan sempurna. Sejak empat purnama silam, Sisilia sudah mampu mengadaptasi seluruh inderanya menjadi mata buatnya hingga akhirnya Rebecca memberinya ijin keluar dari Kastil. "Aku harus berhasil." Tubuh Sisilia yang terlihat ringkih terus berjalan menyusuri jalan setapak hingga langkahnya terhenti karena aroma yang berbeda sedang ada di depannya. "Hai gadis buta, hendak kemana?"Suara yang terdengar tidak asing menyapa indera pendengarannya, Sisilia terdiam. "Apa kau lupa denganku?"Sisilia masih diam, otaknya berputar mencoba ingat suara tersebut. Terdengar langkah kaki mendekat, Sisilia mundur. Angin bergerak tidak biasa membuat Sisilia kembali mundur. "Berhenti di sana Rongue Bastian!" Bastian tertawa
Sisilia duduk diam, dia memandang jauh ke kedalaman hutan. Tatapannya kosong sambil tapak tangannya mengusap perutnya yang datar. Senyumnya masam bila ingat peristiwa persenggamaan brutal Harlan yang terakhir kali. "Makan dulu, Nona!" Aster sambil membawa nampan berisi sarapan. Sisilia menoleh lalu kembali menatap luar dari posisinya duduk saat ini. Dia masih enggan untuk memasukan makanan apapun dalam mulutnya. Namun, Ester masih setia berdiri di samping meja membuat Sisilia menoleh dan menatap penuh tanya. Ester segera meraih piring yang berisi spaghetti keju, makanan kesukaan Rebecca. Hal ini sengaja dimasak oleh Ester sekedar untuk mengetes sejauh mana tingkat kemiripan keduanya. "Apa itu, Ester?""Spaghetti keju."Saat mendengar jawaban Ester, perlahan tangannya terulur meminta. Senyum Ester mengembang lalu diambilnya piring tersebut dan diberikan pada nonanya. Sisilia menerima piring tersebut dan mulai menyuap perlahan. Saat lidahnya mengecap rasa yang familiar seketika ked
"Harlan, apa kamu lihat?" tanya Rhena. "Mahkluk langka, bukankah spesiesnya sudah punah sepuluh tahun silam?" Harlan berkata tanpa menjawab tanya Rhena. "Iya, bahkan ayahku ikut berperang melawan mereka. Pack nya pun hancur," ungkap Rhena. Sinar perak yang berwujud serigala raksasa berjanis betina melesat meraih tubuh Sisilia yang meringkuk siap menerima hunjaman batu permata biru. Harlan dan Rhena hanya melongo saat melihat dengan jelas sosok mahkluk tersebut. Cukup lama keduanya diam hanya menatap kepergiannya. "Harlan!" sentak Rhena saat otaknya kembali tersadar. "Shit, harusnya wanita itu, Mati! Sialan!"Rhena berjalan mendekati pasangannya, lalu dengan lembut diusapnya ujung hidung pada rahang kekar Harlan. "Sudah, lupakan perempuan sialan itu. Kita nikmati malam panjang menjelang purnama!"Harlan melanjutkan langkahnya. Dia mengikuti petunjuk dari peramal di packnya. Sementara sinar perak yang merebut tubuh Sisilia menambah kecepatan larinya. Dia tidak ingin ada yang t
"Hai, rupanya si buta sudah bisa shifting. Apa dengan begitu Harlan akan dapat kau raih, Jalang!" Sisilia terdiam, pendengarannya mulai berdenging. Suara nyaring itu mampu membuka kenangan masa silam, masa dimana dia harus menerima penghinaan dalam pack nya sendiri. "Rhena!" ucap Sisilia lirih. "Bagus jika kau masih ingat."Sisilia diam, tetapi indera penciumannya menghidu adanya aroma lain yang dia yakini milik Harlan. Kepala Sisilia menoleh dan seakan bola mata hijau itu menajam ke arah manik mata Harlan. Hal itu membuat Harlan termundur untuk beberapa langkah, "Sialan, meskipun buta mata itu mampu menembus jantung. Siapa sosok di baliknya?" gumam Harlan. Sisilia menggeram lirih, kedua tangannya mengepal. Kukunya yang hitam panjang menusuk tapak tangan. Kepala yang sudah berwujud serigala mendongak dengan mulut terbuka lebar. Dia melolong. Otot pada tulang kaki dan lengan terlihat menonjol membuat Rhene bergidik ngeri. "Shifying yang sempurna, siapa sebenarnya wanita ini?" ba
Sudah tiga hari tubuh wanita muda yang dibawa Rebecca mengalami pingsan. Selama itu pula Rebecca merawat dengan baik. Pagi ini cahaya merah pagi menerobos masuk lewat celah jendela dan jatuh tepat pada dahi wanita itu. "Haus, aku butuh air!" Suara lirih menyapa Rebecca membuat wanita itu segera bangkit dari kursi goyangnya. Sudah beberapa malam dia tidak tidur hanya ingin menunggu waktu bangunnya wanita muda nan cantik. Rebecca mengulurkan gelas berisi air putih, tetapi tidak ada respon dari wanita di depannya. "Ini gelasnya, sisi kanan dari lenganmu itu!" kata Rebecca memberi tahu posisi gelas, "Ada apa dengan penglihatanmu, apakah mereka juga merusaknya sama seperti milikmu?" "Sisilia, namaku Sisilia. Aku buta sejak usia 10 tahun. Saat itu ibuku omega 2 berkelahi untuk mempertahankan aku dari serangan Luna. Saat itu aku menyerah demi keselamatan ibu dan bapakku," papar Sisilia tanpa diminta. "Hem, lalu apa yang terjadi setelahnya?" tanya Rebecca. Sisilia terdiam, pandangannya







