Home / Fantasi / My Blind Mate / 7. Dibuang Lagi

Share

7. Dibuang Lagi

Author: Shaveera
last update publish date: 2026-05-02 18:10:03

"Gila itu orang, tubuh mulus seperti ini di hancur lebur kan hingga tanpa sisa!" umpat Piter.

Meskipun pria tampan itu mengomel dia tetap melakukan apa yang diperintahkan atasannya. Ada rasa nyeri yang menjalar di dalam tubuh Piter kala dilihatnya darah segar mengalir dari pangkal paha Sisilia.

"Tuan, darah mengalir dari pangkal pahanya. Bagaimana ini?" tanya Piter dengan nada rendah.

Harlan menatap dingin dan datar pada asistennya sambil melambaikan tapak tangannya menyuruh pria itu agar segera beranjak meninggalkan kamarnya. Mau tidak mau akhirnya Harlan mengangkat tubuh Sisilia yang dibalut dengan selimut putih tipis.

Sepanjang jalan otak pria itu berkelana mencari tempat yang pas untuk pembuangan tubuh berdarah Sisilia. Meskipun dia pesuruh tetapi hatinya masih memiliki empati dalam jumlah sedikit. Beberapa kali Piter bertemu dengan serigala pemburu, mereka menghidu aroma anyir darah segar di sekitar tubuh Piter.

"Aku inginkan itu, Piter. Berikan!" Suara bariton menghentikan langkah Piter.

"Ini bukan wilayahmu, Galiath. Pergi!" Tolak Piter.

Tawa tergelak keluar dari mulut besar Galiath, pria itu tidak mau mundur dengan niatnya. Dia pun siap menerjang Piter dengan cakaran perannya. Dengan tangkas Piter melompat menghindar dari setiap serangan Galiath.

Pria itu sama sekali tidak takut akan ancaman yang dilontarkan Piter pada dirinya, bahkan saat ini Galiath sudah berhasil memanggil dua teman lainnya.

"Aroma segar nan memikat, Gall, aku suka," desis pemburu lainnya.

Kalimat yang terucap membuat Piter makin waspada, dia tidak ingin menyiksa tubuh Sisilia yang memang sudah terkoyak. Hati nurani pria itu sedikit berjiwa manusiawi daripada hewani. Entah dari keturunan apa hingga hati Piter begitu lembut untuk Sisilia.

Kedua mata Piter menyala, dia tidak rela menyerahkan tubuh tersebut pada para pemburu yang haus akan kenikmatan daging dan darah sesamanya. Berbeda dengan Galiath, dia makin bergairah dan bernafsu kala selimut penutup tubuh bawah sedikit tersingkap hingga memperlihatkan mulusnya paha Sisilia.

"Segera serahkan wanita itu, Piter! Atau ... Mati!"

Piter bergeming, dia sama sekali tidak merespon apa yang dikatakan oleh Galiath hingga membuat pemuda itu naik darah. Dengan ganas, Galiath menerjang Piter secara brutal. Maka terjadilah perkelahian antar kedua kubu.

Saat ini Galiath adalah pemimpin serigala pemburu kawasan hutan gelap. Dia begitu berminat akan barang yang sedang berada dalam pelukan Piter. Sementara dua temannya yang lain juga ikut menyerang membuat Piter sedikit lebih ekstra dalam menentukan cakarannya.

Mendapat serangan yang bertubi dari segala sisi membuat genggaman tangan Piter pada pinggang Sisilia terlepas membuat tubuh wanita itu terguling di tanah lapang. Dengan cepat dua teman Galiath menyerang Piter agar lelaki itu tidak sempat menolong Sisilia.

"Sial!"

Bug!

Saat lengah tubuh Piter terhantar pukulan maut dari Galiath membuat pria itu mundur beberapa depa sambil menyemburkan darah segar. Berbagai umpatan keluar begitu saja dari mulut besar Piter hingga emosinya memuncak dan dengan kekuatan yang ada pria itu menyerang kawanan serigala pemburu hingga napasnya sedikit terdengar kasar.

Melihat emosi Piter yang tidak terkontrol membuat Galiath beralih pada tubuh Sisilia yang tampak mulai menggeliat. Suara lirih nan merdu membuat Piter untuk sesaat menoleh pada asal suara.

"Jika tenagamu masih tersisa larilah, Nona! Pergi dari sini biar aku yang bereskan mereka," ujar Piter lantang dengan menatap tajam pada Sisilia.

Sisilia terdiam, netranya meredup menatap pada Piter dan tiga serigala lainnya. Otaknya mulai mencerna apa yang dikatakan oleh Piter. Perlahan tungkainya bergerak, dia berusaha berdiri dan membenarkan lilitan selimut putih.

Dengan sekuat hati perlahan tungkainya mulai digerakkan meski sedikit nyeri pada pangkal pahanya. Selangkah demi selangkah kaki Sisilia bergerak meninggalkan perkelahian keempat serigala. Dia bahkan kesulitan untuk menggerakkan tungkainya, kini dia terjatuh membuat lututnya lecet.

"Argh!" jerit kesakitan lolos dari bibir tipisnya.

Suara kesakitan yang merdu membuat Galiath memalingkan wajahnya pada sosok Sisilia yang terlihat merangkak menjauh. Sekali lompat tubuhnya sudah berada di depan wajah Sisilia membuat wanita itu bergerak mundur.

"Ternyata kau cantik sekali dengan bening hijau di matamu," kata Galiath. "Ikutlah denganku, akan kuberikan dunia baru," kata Galiath penuh janji manis.

"Pergilah, aku ingin sendiri. Dunia sudah gelap jangan kau tambah lagi dengan kegelapan yang menakutkan!" kata Sisilia lirih.

Apa yang dikatakan oleh Sisilia membuat kedua mata Galiath membuka lebih lebar. Dia pun mulai memindai seluruh wajah cantik di depannya. Tapak tangan pria itu melambai untuk memastikan binar mata indah tersebut.

"Kau buta, Nona? Haha, sial sekali nasibku hari ini," desis Galiath.

Kemudian pria itu bangkit dan berjalan mengitari tubuh Sisilia hingga berhenti di belakang tubuh yang masih terbalut selimut. Pria itu yakin bahwa saat ini tubuh tersebut tidak dilapisi kain selembar pun. Maka, sekali hentak terbukalah selimut penutup tubuh Sisilia.

"Sial, indah dan mulus sekali kulitmu, Nona!" Ujung telunjuk Galiath terus bergerak dari tengkuk Sisilia hingga ke duburnya yang begitu memerah akibat darah kering.

Tanpa jijik lidah pria itu menjulur menjilati sisa darah kering milik Sisilia. Hawa hewani menyerang dan menguasai jiwa Galiath membuat pria itu meraung dan mengeram tajam. Suaranya yang lantang seakan sedang mengabarkan pada kawanan bahwa ini mendapat mangsa yang nikmat.

Untuk beberapa saat suasana hening, karena Piter sendiri sedang merawat lukanya yang cukup parah. Lalu, terdengar derap langkah yang berjumlah banyak mendekati lokasi tersebut membuat Piter mempertajam indera pendengarannya.

"Nona, cepat gunakan kekuatanmu yang tersisa sebelum mereka datang. Pergi ke hulu sungai, selamatkan dirimu!" teriak Piter sambil berlari menerjang Galiath dan melilitkan kembali selimut tersebut pada tubuh Sisilia

Selanjutnya diketuknya punggung Sisilia hingga terdengar bunyi seperti pintu terbuka. Saat itu juga tubuh Sisilia melesat terbang melengkung jauh. Piter mengulum senyum tipis dengan bibir bergumam lirih, "Maafkan aku, Nona, telah lancang menyentak tubuhmu!"

Usai melakukan hal yang tidak biasa, Piter berbalik badan dan menatap nyalang pada Galiath beserta kawanannya yang berjumlah sepuluh. Kedua mata Piter menyala merah, kukunya mulai memanjang dengan taring yang menjulur panjang dan tajam.

Wujud Piter sudah berubah menjadi serigala pemangsa yang siap menerjang dan menerkam lawannya. Kali ini dia tidak akan pergi sebelum berhasil mengoyak tubuh lawannya. Sekali lompat tangannya maju mencakar dan menerkam punggung lawannya.

Satu per satu serigala pemburu melengking dan meraung kencang akibat goresan cakar Piter. Tidak hanya cakarnya yang berbahaya, taringnya pun juga ikut merobek leher lawannya. Darah segar mengalir di leher beberapa serigala pemburu membuat Galiath mengeram dan melolong panjang. Dia tidak terima kawanannya binasa.

"Bangsat, sialan Kau, Piter!" desis Galiath sambil menerkam tubuh serigala Piter.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Blind Mate   81. kabar sampai juga ke Edward

    Suasana malam yang sedikit panas seperti hati Alpha pemilik kastil hitam--King Lycan Edward Slovasky. Kedua tangannya mengepal saat kedua matanya membaca deretan kalimat yang menyatakan bahwa pasangannya sedang menjalin kerja sama dengan Orion Pack. "Mengapa harus pada pria itu kamu meminta bantuan, Sweety? Jika untuk membalaskan dendammu saja aku sanggup." Gurat emosi menjalar di setiap kulit lengannya. Alpha berdiri menjulang menatap pada arah timur, bangunan bercorak perak memancar jelas nan jauh. Pandangannya masih mampu melihat semua yang dilakukan oleh pasangannya--Alpha Female Sisilia Sniders. "Bahkan untuk memberiku kabar saja seakan kami sulit. Apakah aku harus menekanku, Sayang? Rinduku sudah memuncak.""Datangi saja, Edward!" bisikan lembut dari serigalanya membuat tubuh Edward mulai bergetar. "Tapi--," jawab Edward ragu. Terdengar tawa sumbang di ujung telinga Edward. Tawa yang begitu membuatnya jengah, tetapi aap yang dikabarkan Beta Ramon begitu menyakitkan hatinya.

  • My Blind Mate   80. kabar tersebar

    "Gila, secepat itu pergerakan mereka!" Suara Alpha Baron menggelegar di ruang kerjanya. Bahkan tapak tangannya sampai menggebrak meja begitu kabar kerjasamanya Alpha Sniders berjalan lancar dengan Orion Pack. Tatapan Alpha Baron menajam pada Luna Cery. Dia merasa kinerjanya Luna tidak maksimal. "Bukan seperti itu, Alpha. Saat itu tujuanku lolos, maka aku pun segera menjauh.""Lalu? Apa harus mundur, tidak! Kita harus segera dapatkan kekuasaan Kastil Perak."Luna Cery diam, dia tidak berani menatap langsung pada alpha. Meskipun lelaki itu adalah pasangannya, tetapi saat dikuasai oleh emosi dia merasa tidak sanggup untuk menghentikan. Yang ada justru tubuhnya yang akan terasa remuk. Hancur. Alpha Baron kembali fokus pada file yang dibawa bawahannya. Dia mencoba berpikir ulang untuk menanggulangi masalah kerjasama kedua pack tersebut. "Bagaimana jika Rhena yang ajukan kerjasama pada Alpha Harlan Stuward?" Usul Alpha Baron, "bukankah dia juga miliki usaha perkebunan anggur?"Dahi Luna

  • My Blind Mate   79. mencoba menjalin hubungan

    "Lihat, aku tidak apa-apa. Lalu insting yang mana?"Esther tersenyum hambar, lalu dia turun dari atas pohon. Kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut. Namun, baru saja beberapa langkah sebuah anak panah meluncur menuju ke arahnya. Tubuh Esther bergerak ke samping kanan lebih cepat dari laju anak panah tersebut. Melihat apa yang terjadi dengan Esther membuat Alpha merasa bersalah. Dia segera turun untuk memastikan kondisinya. "Bagaimana?""Masih jauh dari nyawa, Nona. Jangan khawatir!""Jaga keselamatanmu, Esther. Kau sangat berarti bagi hidupku untuk selamanya. Ingat itu!"Esther hanya tersenyum tipis, dengan santai dia melangkah meninggalkan Alpha Sisilia Sniders sendiri. Hal ini membuat alpha mendengus kasar. "Dasar seenaknya sendiri saja. Datang dan pergi sesuka hatinya!" Dengus Alpha Sniders. Alpha Sniders pun melanjutkan perjalanannya menuju ke packhouse milik Alpha Sinclair's. Langkahnya terus menerobos pertahanan para warior milik Orion Pack. Mereka hanya berdiri terd

  • My Blind Mate   78. perkebunan anggur

    Melihat kilatan peristiwa yang telah dilakukan oleh serigalanya membuat Alpha Ortega menghela napas panjang. Dia terharu akan usaha serigalanya memperjuangkan perasaannya pada wanita penolongnya itu. Luka yang diderita oleh serigalanya secara otomatis menyatu dengan kulitnya. Alpha itu tersenyum masam, dia yang inginkan itu tetapi bukan dia yang memulai. Meskipun begitu luka yang diakibatkan Dia melangkah masuk ke dalam packhouse dan terus melangkah tanpa memedulikan panggilan Beta Ajay. Alpha terus melangkah menuju ke ruang pribadinya, lalu dia duduk di belakang meja kerja yang tersedia di sana. Pikirannya masih terbayang akan perjuangan serigalanya menemui ratu Lycan pujaan hatinya. Perlahan bulir bening keluar dari sudut matanya, dia bersedih. "Terima kasih, Jay. Kau telah berjuang untukku, kini biarkan aku berjuang untukmu!" Setelah berkata kedua mata Alpha terpejam, dia mencoba menyembuhkan luka yang diderita serigalanya hingga tidak menyadari pintu ruangan dibuka oleh omega

  • My Blind Mate   77. Mulai bergerak

    Alpha Sisilia Sniders berdiri di atas menara. Tubuhnya yang telah bertransformasi menjadi serigala melolong kuat. Suaranya seakan mengabarkan pada dunia werewolf dialah penguasa alam saat ini. Lolongan yang kuat dan panjang mendapat balasan dari berbagai ruang dan waktu. Suara itu terdengar hingga seantero hutan Jungkla yang telah kuasai oleh beberapa pack. Di sisi hutan utara ada Orion Pack, pimpinan pack yang mampu mendengar suara Queen Lycan tersenyum. Dia mengenali suara itu adalah milik serigala wanita buta yang dulu telah menolong pack nya dari serangan pack lainnya. "My Queen, rupanya kamu sudah bangkit. Aku akan berusaha semampuku untuk dapatkan hatimu." Alpha Sinclair Ortega berkata sesaat setelah dia membalas lolongan Queen Lycan. "Jangan mimpi, dia bukan pasanganmu. Aku tidak merasakan auranya!" kata Jay serigala alpha. "Aku inginkan dia jadi mateku, bukanlah aku punya hak untuk itu?""Iya, tapi ingat derajatmu dalam kawanan pusat. Dia terlahir untuk menjadi seorang ra

  • My Blind Mate   76. laporan omega

    Sekelompok serigala berlari, mereka tampak dari golongan Delta dan hunter. Gemuruh suara derap membuat pikiran Alpha menjadi bimbang. Dia memiliki insting yang kuat. Jarak masih cukup jauh, tetapi penciumannya sebagai lycan terkuat tidak diragukan lagi. Edward melangkah panjang ke gerbang utama untuk menyatakan apa yang didengar dan diciumnya. Derap hewan berkaki empat makin dekat jaraknya. Kedua mata alpha menyipit memastikan penglihatannya bersama Beta Ramon. "Seperti mereka lebih cepat dari kabar yang tersiar, Beta.""Sepertinya, Alpha. Apakah yang akan Anda lakukan?""Kita tunggu kabar sesungguhnya!"Asap makin tebal akibat derap langkah kaki para binatang berkaki empat. Hingga jarak makin tipis perlahan kawanan itu melakukan perubahan secara spontan dan bersamaan. Setelah semua sudah dalam wajib manusia, langkahnya pun berbeda. Meraka tidak berani menatap langsung pada wajah alpha. Kepalanya menunduk. "Bagaimana kabar kalian?"Hening, hanya suara deru angin yang bertiup sedi

  • My Blind Mate   67. mayat Rebecca

    "Menyerahlah, Rebecca Smith!" ucap Cery sambil menodongkan pintolnya ke arah jantung Rebecca Smith. Rebecca Smith hanya diam, dia masih berdiri tegak menatap ke arah adik tirinya. Dalam otaknya berpikir mungkin inilah takdirnya harus mati ditangan anak haram ayahnya. Semua sudah terjadi, Rebecca

  • My Blind Mate   66. dijemput Luna Cery

    Sisilia merasa kecewa dengan Esther, dia tidak mengerti dengan cara berpikir wanita itu. Mengapa juga identitas ibunya dirahasiakan, apa pula untungnya. Berbagai pertanyaan muncul di otaknya. "Apakah karena fisikku yang tidak sempurna hingga kau melupakan hakku, Esther?"Sisilia berteriak sekuat t

  • My Blind Mate   64. memulai rencana

    Malam semakin larut dan acara pertunangan Rhena dan Harlan telah batal. Ini dikarenakan oleh ketidak hadiran Alpha Harlan. Pria itu sengaja tidak datang karena masih menginginkan kembali pada Sisilia. Rhena begitu sedih, alasan yang diungkap oleh kekasihnya adalah wanita buta. Di dalam kamarnya Rh

  • My Blind Mate   60. kecembuan Edward

    Sinclair berhasil mendapat ijin Rebecca untuk masuk ke ruang perawatan putrinya. Pertama kali yang dilihat oleh Sinclair adalah tubuh penyelamat padanya yang begitu mengenaskan. "Bagaimana semua ini bisa terjadi padamu, Nona?" "Bukankah pria lycan itu selalu ada buat Anda?"Sinclair duduk dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status