FAZER LOGIN"Gila itu orang, tubuh mulus seperti ini di hancur lebur kan hingga tanpa sisa!" umpat Piter.
Meskipun pria tampan itu mengomel dia tetap melakukan apa yang diperintahkan atasannya. Ada rasa nyeri yang menjalar di dalam tubuh Piter kala dilihatnya darah segar mengalir dari pangkal paha Sisilia. "Tuan, darah mengalir dari pangkal pahanya. Bagaimana ini?" tanya Piter dengan nada rendah. Harlan menatap dingin dan datar pada asistennya sambil melambaikan tapak tangannya menyuruh pria itu agar segera beranjak meninggalkan kamarnya. Mau tidak mau akhirnya Harlan mengangkat tubuh Sisilia yang dibalut dengan selimut putih tipis. Sepanjang jalan otak pria itu berkelana mencari tempat yang pas untuk pembuangan tubuh berdarah Sisilia. Meskipun dia pesuruh tetapi hatinya masih memiliki empati dalam jumlah sedikit. Beberapa kali Piter bertemu dengan serigala pemburu, mereka menghidu aroma anyir darah segar di sekitar tubuh Piter. "Aku inginkan itu, Piter. Berikan!" Suara bariton menghentikan langkah Piter. "Ini bukan wilayahmu, Galiath. Pergi!" Tolak Piter. Tawa tergelak keluar dari mulut besar Galiath, pria itu tidak mau mundur dengan niatnya. Dia pun siap menerjang Piter dengan cakaran perannya. Dengan tangkas Piter melompat menghindar dari setiap serangan Galiath. Pria itu sama sekali tidak takut akan ancaman yang dilontarkan Piter pada dirinya, bahkan saat ini Galiath sudah berhasil memanggil dua teman lainnya. "Aroma segar nan memikat, Gall, aku suka," desis pemburu lainnya. Kalimat yang terucap membuat Piter makin waspada, dia tidak ingin menyiksa tubuh Sisilia yang memang sudah terkoyak. Hati nurani pria itu sedikit berjiwa manusiawi daripada hewani. Entah dari keturunan apa hingga hati Piter begitu lembut untuk Sisilia. Kedua mata Piter menyala, dia tidak rela menyerahkan tubuh tersebut pada para pemburu yang haus akan kenikmatan daging dan darah sesamanya. Berbeda dengan Galiath, dia makin bergairah dan bernafsu kala selimut penutup tubuh bawah sedikit tersingkap hingga memperlihatkan mulusnya paha Sisilia. "Segera serahkan wanita itu, Piter! Atau ... Mati!" Piter bergeming, dia sama sekali tidak merespon apa yang dikatakan oleh Galiath hingga membuat pemuda itu naik darah. Dengan ganas, Galiath menerjang Piter secara brutal. Maka terjadilah perkelahian antar kedua kubu. Saat ini Galiath adalah pemimpin serigala pemburu kawasan hutan gelap. Dia begitu berminat akan barang yang sedang berada dalam pelukan Piter. Sementara dua temannya yang lain juga ikut menyerang membuat Piter sedikit lebih ekstra dalam menentukan cakarannya. Mendapat serangan yang bertubi dari segala sisi membuat genggaman tangan Piter pada pinggang Sisilia terlepas membuat tubuh wanita itu terguling di tanah lapang. Dengan cepat dua teman Galiath menyerang Piter agar lelaki itu tidak sempat menolong Sisilia. "Sial!" Bug! Saat lengah tubuh Piter terhantar pukulan maut dari Galiath membuat pria itu mundur beberapa depa sambil menyemburkan darah segar. Berbagai umpatan keluar begitu saja dari mulut besar Piter hingga emosinya memuncak dan dengan kekuatan yang ada pria itu menyerang kawanan serigala pemburu hingga napasnya sedikit terdengar kasar. Melihat emosi Piter yang tidak terkontrol membuat Galiath beralih pada tubuh Sisilia yang tampak mulai menggeliat. Suara lirih nan merdu membuat Piter untuk sesaat menoleh pada asal suara. "Jika tenagamu masih tersisa larilah, Nona! Pergi dari sini biar aku yang bereskan mereka," ujar Piter lantang dengan menatap tajam pada Sisilia. Sisilia terdiam, netranya meredup menatap pada Piter dan tiga serigala lainnya. Otaknya mulai mencerna apa yang dikatakan oleh Piter. Perlahan tungkainya bergerak, dia berusaha berdiri dan membenarkan lilitan selimut putih. Dengan sekuat hati perlahan tungkainya mulai digerakkan meski sedikit nyeri pada pangkal pahanya. Selangkah demi selangkah kaki Sisilia bergerak meninggalkan perkelahian keempat serigala. Dia bahkan kesulitan untuk menggerakkan tungkainya, kini dia terjatuh membuat lututnya lecet. "Argh!" jerit kesakitan lolos dari bibir tipisnya. Suara kesakitan yang merdu membuat Galiath memalingkan wajahnya pada sosok Sisilia yang terlihat merangkak menjauh. Sekali lompat tubuhnya sudah berada di depan wajah Sisilia membuat wanita itu bergerak mundur. "Ternyata kau cantik sekali dengan bening hijau di matamu," kata Galiath. "Ikutlah denganku, akan kuberikan dunia baru," kata Galiath penuh janji manis. "Pergilah, aku ingin sendiri. Dunia sudah gelap jangan kau tambah lagi dengan kegelapan yang menakutkan!" kata Sisilia lirih. Apa yang dikatakan oleh Sisilia membuat kedua mata Galiath membuka lebih lebar. Dia pun mulai memindai seluruh wajah cantik di depannya. Tapak tangan pria itu melambai untuk memastikan binar mata indah tersebut. "Kau buta, Nona? Haha, sial sekali nasibku hari ini," desis Galiath. Kemudian pria itu bangkit dan berjalan mengitari tubuh Sisilia hingga berhenti di belakang tubuh yang masih terbalut selimut. Pria itu yakin bahwa saat ini tubuh tersebut tidak dilapisi kain selembar pun. Maka, sekali hentak terbukalah selimut penutup tubuh Sisilia. "Sial, indah dan mulus sekali kulitmu, Nona!" Ujung telunjuk Galiath terus bergerak dari tengkuk Sisilia hingga ke duburnya yang begitu memerah akibat darah kering. Tanpa jijik lidah pria itu menjulur menjilati sisa darah kering milik Sisilia. Hawa hewani menyerang dan menguasai jiwa Galiath membuat pria itu meraung dan mengeram tajam. Suaranya yang lantang seakan sedang mengabarkan pada kawanan bahwa ini mendapat mangsa yang nikmat. Untuk beberapa saat suasana hening, karena Piter sendiri sedang merawat lukanya yang cukup parah. Lalu, terdengar derap langkah yang berjumlah banyak mendekati lokasi tersebut membuat Piter mempertajam indera pendengarannya. "Nona, cepat gunakan kekuatanmu yang tersisa sebelum mereka datang. Pergi ke hulu sungai, selamatkan dirimu!" teriak Piter sambil berlari menerjang Galiath dan melilitkan kembali selimut tersebut pada tubuh Sisilia Selanjutnya diketuknya punggung Sisilia hingga terdengar bunyi seperti pintu terbuka. Saat itu juga tubuh Sisilia melesat terbang melengkung jauh. Piter mengulum senyum tipis dengan bibir bergumam lirih, "Maafkan aku, Nona, telah lancang menyentak tubuhmu!" Usai melakukan hal yang tidak biasa, Piter berbalik badan dan menatap nyalang pada Galiath beserta kawanannya yang berjumlah sepuluh. Kedua mata Piter menyala merah, kukunya mulai memanjang dengan taring yang menjulur panjang dan tajam. Wujud Piter sudah berubah menjadi serigala pemangsa yang siap menerjang dan menerkam lawannya. Kali ini dia tidak akan pergi sebelum berhasil mengoyak tubuh lawannya. Sekali lompat tangannya maju mencakar dan menerkam punggung lawannya. Satu per satu serigala pemburu melengking dan meraung kencang akibat goresan cakar Piter. Tidak hanya cakarnya yang berbahaya, taringnya pun juga ikut merobek leher lawannya. Darah segar mengalir di leher beberapa serigala pemburu membuat Galiath mengeram dan melolong panjang. Dia tidak terima kawanannya binasa. "Bangsat, sialan Kau, Piter!" desis Galiath sambil menerkam tubuh serigala Piter.Sisilia seketika memegang dadanya dan beberapa kali muntah darah segar. Namun, wanita itu masih mampu berdiri meskipun terhuyung. "Kau cukup kuat, Lupi!"Napas Sisilia tersengal, dia berhenti sesaat kemudian melakukan shifter yang kesekian. Bola matanya memancarkan cahaya merah menandakan bahwa emosinya sedang berada di puncak. Udara berhembus membawa angin dingin yang mampu membekukan tulang. Namun, entitas di depan tampak bergeming. Sisilia tidak merasakan adanya perubahan arah angin yang menandakan lawannya hanya diam. "Yang aku inginkan adalah kekuatan dan kekuasaan. Maka berilah berkahmu, Moon Goodnes!" ujar Sisilia lirih. Usai berkata, tubuh serigala perak melompat dan mengarahkan cakarnya pada tubuh diam lawan. Sesekali terdengar lirih erang kesakitan tetapi sesaat kemudian tawa lirih. Suara yang sering berubah membuat fokus Sisilia mulai goyah. "Tajamkan inderamu, Lupi!"Suara Moon Goodnes seakan mulai membimbingnya, membuat Sisilia bangkit dan kembali bersemangat mengh
Hari terus berlalu dan tahun pun telah berganti. Sisilia sudah mampu memanfaatkan seluruh inderanya secara maksimal. Kini dia sedang berada di hutan belantara menuju ke puncak bukit di mana Moon Goodnes berada. Langkahnya terlihat mantap bak seorang wanita yang memiliki penglihatan sempurna. Sejak empat purnama silam, Sisilia sudah mampu mengadaptasi seluruh inderanya menjadi mata buatnya hingga akhirnya Rebecca memberinya ijin keluar dari Kastil. "Aku harus berhasil." Tubuh Sisilia yang terlihat ringkih terus berjalan menyusuri jalan setapak hingga langkahnya terhenti karena aroma yang berbeda sedang ada di depannya. "Hai gadis buta, hendak kemana?"Suara yang terdengar tidak asing menyapa indera pendengarannya, Sisilia terdiam. "Apa kau lupa denganku?"Sisilia masih diam, otaknya berputar mencoba ingat suara tersebut. Terdengar langkah kaki mendekat, Sisilia mundur. Angin bergerak tidak biasa membuat Sisilia kembali mundur. "Berhenti di sana Rongue Bastian!" Bastian tertawa
Sisilia duduk diam, dia memandang jauh ke kedalaman hutan. Tatapannya kosong sambil tapak tangannya mengusap perutnya yang datar. Senyumnya masam bila ingat peristiwa persenggamaan brutal Harlan yang terakhir kali. "Makan dulu, Nona!" Aster sambil membawa nampan berisi sarapan. Sisilia menoleh lalu kembali menatap luar dari posisinya duduk saat ini. Dia masih enggan untuk memasukan makanan apapun dalam mulutnya. Namun, Ester masih setia berdiri di samping meja membuat Sisilia menoleh dan menatap penuh tanya. Ester segera meraih piring yang berisi spaghetti keju, makanan kesukaan Rebecca. Hal ini sengaja dimasak oleh Ester sekedar untuk mengetes sejauh mana tingkat kemiripan keduanya. "Apa itu, Ester?""Spaghetti keju."Saat mendengar jawaban Ester, perlahan tangannya terulur meminta. Senyum Ester mengembang lalu diambilnya piring tersebut dan diberikan pada nonanya. Sisilia menerima piring tersebut dan mulai menyuap perlahan. Saat lidahnya mengecap rasa yang familiar seketika ked
"Harlan, apa kamu lihat?" tanya Rhena. "Mahkluk langka, bukankah spesiesnya sudah punah sepuluh tahun silam?" Harlan berkata tanpa menjawab tanya Rhena. "Iya, bahkan ayahku ikut berperang melawan mereka. Pack nya pun hancur," ungkap Rhena. Sinar perak yang berwujud serigala raksasa berjanis betina melesat meraih tubuh Sisilia yang meringkuk siap menerima hunjaman batu permata biru. Harlan dan Rhena hanya melongo saat melihat dengan jelas sosok mahkluk tersebut. Cukup lama keduanya diam hanya menatap kepergiannya. "Harlan!" sentak Rhena saat otaknya kembali tersadar. "Shit, harusnya wanita itu, Mati! Sialan!"Rhena berjalan mendekati pasangannya, lalu dengan lembut diusapnya ujung hidung pada rahang kekar Harlan. "Sudah, lupakan perempuan sialan itu. Kita nikmati malam panjang menjelang purnama!"Harlan melanjutkan langkahnya. Dia mengikuti petunjuk dari peramal di packnya. Sementara sinar perak yang merebut tubuh Sisilia menambah kecepatan larinya. Dia tidak ingin ada yang t
"Hai, rupanya si buta sudah bisa shifting. Apa dengan begitu Harlan akan dapat kau raih, Jalang!" Sisilia terdiam, pendengarannya mulai berdenging. Suara nyaring itu mampu membuka kenangan masa silam, masa dimana dia harus menerima penghinaan dalam pack nya sendiri. "Rhena!" ucap Sisilia lirih. "Bagus jika kau masih ingat."Sisilia diam, tetapi indera penciumannya menghidu adanya aroma lain yang dia yakini milik Harlan. Kepala Sisilia menoleh dan seakan bola mata hijau itu menajam ke arah manik mata Harlan. Hal itu membuat Harlan termundur untuk beberapa langkah, "Sialan, meskipun buta mata itu mampu menembus jantung. Siapa sosok di baliknya?" gumam Harlan. Sisilia menggeram lirih, kedua tangannya mengepal. Kukunya yang hitam panjang menusuk tapak tangan. Kepala yang sudah berwujud serigala mendongak dengan mulut terbuka lebar. Dia melolong. Otot pada tulang kaki dan lengan terlihat menonjol membuat Rhene bergidik ngeri. "Shifying yang sempurna, siapa sebenarnya wanita ini?" ba
Sudah tiga hari tubuh wanita muda yang dibawa Rebecca mengalami pingsan. Selama itu pula Rebecca merawat dengan baik. Pagi ini cahaya merah pagi menerobos masuk lewat celah jendela dan jatuh tepat pada dahi wanita itu. "Haus, aku butuh air!" Suara lirih menyapa Rebecca membuat wanita itu segera bangkit dari kursi goyangnya. Sudah beberapa malam dia tidak tidur hanya ingin menunggu waktu bangunnya wanita muda nan cantik. Rebecca mengulurkan gelas berisi air putih, tetapi tidak ada respon dari wanita di depannya. "Ini gelasnya, sisi kanan dari lenganmu itu!" kata Rebecca memberi tahu posisi gelas, "Ada apa dengan penglihatanmu, apakah mereka juga merusaknya sama seperti milikmu?" "Sisilia, namaku Sisilia. Aku buta sejak usia 10 tahun. Saat itu ibuku omega 2 berkelahi untuk mempertahankan aku dari serangan Luna. Saat itu aku menyerah demi keselamatan ibu dan bapakku," papar Sisilia tanpa diminta. "Hem, lalu apa yang terjadi setelahnya?" tanya Rebecca. Sisilia terdiam, pandangannya







