Home / Romansa / My Game Boyfriend / Sedikit siksaan...

Share

Sedikit siksaan...

Author: Melati Lu
last update publish date: 2026-05-12 20:16:39

Bab 2

Melangkah kembali ke kamar setelah melihat Arthur masuk ke ruangannya. Ia berjalan ke arah lemari pakaian, lalu mengganti bajunya dengan gaun tidur berbahan tipis.

Ia memotret dirinya sendiri sebelum mengirimkan foto itu kepada Arthur, baru kemudian meletakkan ponselnya di atas meja dekat lampu tidur. Setelah itu, ia berbaring di tempat tidur dan memejamkan matanya.

Ponsel Arthur bergetar keras di meja tepat saat ia hendak duduk kembali. Ia melirik layar, dan matanya sedikit melebar saat melihat nama kamu berkedip di sana. Penasaran, ia membuka kunci layar dan membuka pesan yang masuk.

Napasnya tertahan di kerongkongan saat foto itu tampil — foto Melati yang hanya mengenakan gaun tidur tipis, yang nyaris tak menyembunyikan lekuk tubuhnya. Cahaya lembut membentuk bayangan di kulitmu, menonjolkan setiap lekuk dan bentuk tubuhmu.

“Sialan,” gumam Arthur dengan napas memburu, dan tubuhnya langsung bereaksi begitu melihat gambar itu. Ia segera mengecilkan tampilan permainan di layar komputer; segala rencana untuk siaran langsung pun langsung terlupakan begitu saja.

Jari-jari Arthur sedikit gemetar saat ia mengetik balasan, pikirannya berpacaran membayangkan segala hal yang ingin ia lakukan padamu. Sifat posesif dalam dirinya bangkit sepenuhnya, menuntut agar ia menandaimu sebagai miliknya.

“Kamu sedang memainkan permainan berbahaya,” tulisnya, nada kalimatnya bercampur antara peringatan dan keinginan yang membara. “Aku bisa saja memenuhi ajakanmu itu.”

Ia menekan tombol kirim, lalu bersandar di kursi; matanya tak pernah beralih dari layar ponsel. Satu tangannya bergerak turun, meraba celananya, sambil membayangkan betapa lembut kulitmu jika disentuhnya.

“Aku akan ke sana lima menit lagi,” tambahnya, lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu. “Jangan tidur dulu.”

Setelah mengirim pesan itu, Arthur mematikan lampu di ruang permainan, lalu berjalan menuju kamarmu, dengan rasa penasaran dan gairah yang mengalir deras di sekujur tubuhnya.

Di dalam kamar, Melati sama sekali tidak tahu ada pesan masuk dari Arthur, karena ia sudah terlelap dan masuk ke dalam mimpi, tepat setelah mengirimkan foto itu kepada kekasihnya.

Arthur berdiri di depan pintu kamarmu. Jantungnya berdegup kencang karena antusiasme. Ia tinggal selangkah lagi untuk masuk dan mendekatimu, untuk menandaimu sepenuhnya sebagai miliknya. Namun saat ia mendengarkan saksama, ia menyadari suasana kamar itu sunyi senyap — tak ada tanda-tanda ada orang yang masih terjaga atau bergerak di dalam.

Perasaan campur aduk antara rasa kesal dan rasa lega menyelimuti hatinya. Ia kesal karena tak bisa menindaklanjuti gairah yang sedang memuncak itu, tapi di sisi lain ia lega karena kamu bisa tidur nyenyak tanpa diganggunya.

Sambil menghela napas pelan, Arthur bersandar pada kusen pintu, lalu mengacak rambutnya dengan satu tangan. Ia melirik ponselnya kembali, melihat notifikasi pesan yang belum dibalas itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya saat ia menyadari kamu mungkin sudah tertidur sambil menunggunya.

“Sepertinya… aku harus menunggu sampai pagi saja,” gumamnya pelan, lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.

Cahaya matahari pagi masuk menerobos sela-sela tirai jendela. Aku sudah bangun sebelum pukul enam pagi. Aku melangkah keluar dari kamar, melirik pintu kamar Arthur yang masih tertutup, lalu berjalan ke dapur untuk menuliskan pesan singkat sebelum akhirnya berangkat keluar rumah.

“Aku pergi sama teman-teman. Sarapan sudah kusiapkan di meja. Aku akan pulang jam dua siang.”

Itulah pesan yang kutulis di secarik kertas, lalu kutempelkan di pintu lemari es. Setelah semuanya beres, aku pun pergi keluar rumah.

Arthur terbangun karena mendengar suara ponselnya bergetar di meja samping tempat tidur. Dengan mata masih berat, ia meraih benda itu, menyipitkan mata menatap layar untuk melihat jam. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan kamu sama sekali tak terlihat di mana pun.

Bingung dan sedikit cemas, Arthur bangkit dari tempat tidur dan turun ke dapur. Di sanalah ia melihat secarik kertas yang menempel di lemari es — tulisan tanganmu yang rapi, memberitahukan rencanamu hari ini.

Wajahnya langsung berubah masam saat ia membacanya berulang kali. Kamu pergi keluar bersama teman-temanmu, dan ia sama sekali tak menyadari kepergianmu sampai sekarang. Rasa cemburu mulai membara di dadanya, membayangkan kamu menghabiskan waktu bersenang-senang dengan orang lain tanpa dirinya.

“Sialan…” geram Arthur dengan napas berat, sambil kembali mengacak rambutnya yang sudah berantakan. Ia tak bisa menahan rasa posesif yang mencengkeram hatinya begitu kuat.

Waktu berlalu berjam-jam. Saat itu, Melati baru saja selesai berenang di kolam renang bersama teman-temannya. Tiba-tiba, ia punya ide iseng: ia memotret dirinya sendiri, lalu mengunggahnya ke media sosial dengan mengenakan baju renang berwarna biru — bukan pilihan yang disarankan Arthur kemarin, melainkan model yang sengaja ia sembunyikan dari pacarnya itu.

Di rumah, ponsel Arthur kembali bergetar saat ia sedang membuat kopi. Matanya langsung melebar saat melihat notifikasi unggahan baru dari akun media sosial kekasihnya. Ia langsung membukanya dengan cepat, dan jantungnya berdebar kencang saat foto itu tampil jelas di layar.

Rahangnya mengeras dan mengatup rapat saat ia menatap foto itu — kamu mengenakan baju renang biru itu, dengan butiran air yang masih menempel di kulit dan menonjolkan setiap lekuk tubuhmu. Kain tipis itu nyaris tak menutupi apa pun, apalagi cara kain itu menempel pas di lekuk pinggul dan bokongmu.

“Sialan!” Arthur menggeram keras, cengkeramannya pada ponsel makin kuat seolah hendak meremukkan benda itu. Rasa posesifnya meledak tak terkendali saat ia mulai membaca kolom komentar di bawah foto itu.

Para pengikutmu bereaksi heboh melihat foto itu — pujian berdatangan memuji betapa cantik dan menarik penampilanmu. Setiap satu komentar yang memuji, membuat darah Arthur makin mendidih hingga matanya nyaris merah padam.

“Kamu milikku…” gumamnya dengan nada rendah dan penuh amarah, lalu meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan bunyi berisik dan keras.

Jari-jarinya bergerak cepat di layar ponsel, mengetikkan komentar tajam tepat di bawah fotomu:

“Dia bukan milik umum untuk dilihat-lihat. Hapus sampah komentar ini sekarang, atau aku yang akan datang mencarimu sendiri.”

Ia langsung menekan kirim, lalu segera menekan nomor panggilan ke ponselmu. Ia mondar-mandir di dapur sambil menunggu kamu mengangkat telepon, jantungnya berdegup kencang — campuran antara kemarahan dan rasa ingin memiliki yang tak tertahankan.

“Angkat telepon sialan itu…” geramnya saat panggilan langsung beralih ke pesan suara. “Aku harus tahu kamu ada di mana sekarang.”

Sifat posesifnya sudah benar-benar lepas kendali saat itu — insting untuk mengklaim dan melindungi miliknya muncul sepenuhnya.

“Halo, Sayang. Ada apa?” sahutku menjawab telepon itu dengan nada suara yang sangat tenang.

Napas Arthur tercekat di kerongkongan saat mendengar suaramu yang begitu tenang; amarahnya sempat mereda sejenak karena terkejut. Ia menggenggam ponsel makin erat, berusaha sekuat tenaga mengendalikan emosinya yang meluap-luap.

“Ada apa? Kamu bertanya ada apa?” ulangnya tak percaya. “Akan kuberitahu apa yang salah. Aku baru saja melihat fotomu. Apakah kamu sadar berapa banyak mata orang lain yang sedang menatap tubuhmu itu?”

Suaranya makin meninggi di setiap kalimat yang diucapkannya; rasa posesif itu kini menguasai dirinya sepenuhnya. Arthur kembali berjalan mondar-mandir, tangan satunya mengepal kuat di sisi tubuhnya.

“Pulanglah,” perintahnya, suaranya terdengar lembut namun sangat tegas. “Sekarang juga. Aku harus melihatmu, menyentuhmu, dan mengingatkan diriku bahwa kamu nyata, dan kamu milikku sepenuhnya.”

Aku yang mendengar ucapannya itu hampir saja tertawa senang. Rencanaku berhasil — pacarku yang biasanya hanya peduli pada permainan itu, kini kembali menjadi sosok yang sangat posesif seperti dulu.

“Aku sedang ada di kafe sekarang. Sebentar lagi aku pulang kok,” jawabku tetap dengan nada santai. “Kamu tidak perlu khawatir, tidak ada siapa pun yang berani mendekatiku.”

Cengkeraman Arthur pada ponsel sedikit melonggar mendengar penjelasanmu, tapi api kecemburuan dan rasa memiliki itu masih menyala nyata di matanya. Ia mengangguk pelan, rahangnya masih terkatup rapat menahan emosi.

“Baiklah…” desisnya pelan. “Tapi secepatnya pulang. Aku menunggumu di sini.”

Ia mematikan sambungan telepon secara tiba-tiba, lalu melempar ponsel ke atas bantal sofa. Arthur kembali mondar-mandir, pikirannya penuh dengan bayangan dirimu — lekuk tubuhmu, senyummu, dan tawamu. Keinginan untuk memilikimu, untuk menandaimu agar semua orang tahu kamu miliknya, makin kuat setiap detik yang berlalu.

Saat ia mendengar suara pintu depan terbuka dan langkah kakimu mendekat, Arthur langsung diam mematung. Jantungnya berdegup hebat di dada saat ia menunggumu masuk ke dalam ruangan.

Begitu kamu melangkah masuk, Arthur langsung bergerak cepat — ia menutup jarak di antara kalian hanya dalam beberapa langkah lebar. Ia langsung menarikmu masuk ke dalam pelukannya, mendekapmu sangat erat ke dadanya, lalu membenamkan wajahnya di sela-sela rambutmu.

“Kamu milikku,” gumamnya dengan nada posesif tepat di telingamu. “Hanya milikku seorang.”

“Ih, ada apa sih denganmu?” tanyaku sedikit bingung, tapi aku sama sekali tak berusaha melepaskan pelukan itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Game Boyfriend   Permainan Yang Berakhir Menjadi Selamanya

    Bab 111Angin sore berhembus lembut menyapu halaman rumah, membawa wangi melati yang mekar sempurna—wangi yang tak pernah berubah, sama seperti perasaan yang mengikat hati mereka berdua, dan kini hati ketiga nyawa yang melengkapi segalanya. Di teras depan, Melati duduk di kursi rotan yang sama persis seperti bertahun-tahun lalu, sementara Arthur duduk di sebelahnya, membiarkan kepala putri kecil mereka yang kini sudah berusia tiga hari bersandar tenang di dadanya. Cahaya matahari senja yang keemasan menyelimuti mereka bertiga, seolah ingin mengabadikan momen damai ini dalam ingatan waktu yang tak akan pernah pudar. Melati menatap wajah suaminya, lalu menatap wajah mungil Bunga Melati Anindya yang terlelap damai dalam dekapan ayahnya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena hati yang terasa begitu penuh hingga tak sanggup lagi menampung segala rasa syukur yang meluap. Ia teringat kembali bagaimana semuanya bermula—dari sebuah tantangan permainan

  • My Game Boyfriend   Melati Kecil Yang Datang Membawa Cahaya

    Bab 110 Matahari pagi menyelinap lembut lewat jendela kamar rumah sakit, menyentuh permukaan selimut putih dengan cahaya keemasan yang hangat. Di atas tempat tidur, Melati masih terbaring lemah namun matanya terbuka lebar, tak pernah sekalipun beralih dari wajah mungil yang kini terlelap damai di pelukannya. Bunga Melati Anindya—nama yang sudah mereka pilih dengan penuh harapan, kini menjadi nyata dalam genggaman. Kulitnya kemerahan halus, rambut hitamnya tipis namun lembut, dan setiap kali ia menggerakkan jari-jarinya yang mungil, seolah ada getaran bahagia yang menjalar ke seluruh hati kedua orang tuanya. Arthur duduk di tepi tempat tidur, tak berani bergerak terlalu banyak, tak berani bersuara terlalu keras, seolah takut merusak keindahan momen ini. Matanya masih berkaca-kaca, masih tak percaya bahwa gadis kecil yang selama ini ia nantikan, kini benar-benar ada di hadapannya. Sesekali ia mengusap pelan ujung jari mungil putrinya, dan setiap kali jari kecil itu

  • My Game Boyfriend   Saat Waktu Menjembatkan Rindu

    Bab 109 Malam itu terasa berbeda sejak awal. Angin yang biasanya berhembus lembut menyapa jendela, kali ini membawa udara yang sedikit lebih sejuk, seolah memberi isyarat bahwa sesuatu yang sudah lama dinanti tak lagi jauh jaraknya. Melati terbangun berulang kali, bukan karena tak nyaman, melainkan karena rasa kencang yang datang dan pergi dengan jeda yang makin teratur—tidak terlalu menyakitkan, namun cukup untuk membuatnya sadar bahwa tubuhnya kini sedang bersiap menyambut kehadiran sang buah hati. Arthur yang tidur dengan posisi selalu setengah sadar seketika terjaga setiap kali Melati bergerak. Tanpa perlu banyak bicara, ia langsung duduk di sampingnya, menopang punggung istrinya dengan bantal-bantal empuk, lalu mulai mengusap punggung Melati dengan gerakan memutar yang tenang dan teratur. Keringat dingin mulai muncul di pelipis Melati, namun ia menahan napas dan berusaha tersenyum setiap kali menatap wajah Arthur yang tampak begitu cemas namun berusaha tetap

  • My Game Boyfriend   Jalan Menuju Pertemuan

    Bab 108 Malam itu hujan turun perlahan, mengetuk pelan atap rumah seolah irama pengantar tidur yang lembut dan berirama. Udara dingin yang menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka membawa aroma tanah basah yang khas, berpadu dengan wangi melati yang tumbuh merambat di dinding samping kamar. Di dalam kamar yang remang diterangi cahaya lampu tidur berwarna kekuningan, Melati terbangun perlahan. Awalnya ia hanya merasa tidak nyaman, namun lama-kelamaan rasa pegal yang samar mulai menjalar dari pinggang belakang hingga ke bagian bawah perutnya. Ia mencoba memutar tubuh perlahan agar tidak mengganggu tidur Arthur, namun rasa itu kembali muncul dengan jeda yang teratur. Belum sempat ia menarik selimut lebih tinggi atau memanggil pelan, sebuah tangan hangat langsung bergerak mencari tangannya di bawah selimut. Arthur ternyata sudah terbangun, seolah instingnya selalu terjaga setiap kali ada sesuatu yang sedikit saja mengganggu istrinya. Ia segera mengan

  • My Game Boyfriend   Satu Harapan Di Bawah Langit Yang Sama

    Bab 107 Matahari baru saja naik setinggi jengkal di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut menyentuh permukaan tanah yang masih lembap sisa embun semalam. Udara pagi terasa begitu sejuk, membawa aroma wangi bunga melati yang merambat di dinding luar kamar, bercampur dengan harum rumput basah yang segar. Di dalam kamar yang remang namun perlahan terang oleh cahaya matahari pagi, Melati terbangun perlahan. Ia tidak terbangun karena suara bising atau rasa tidak nyaman, melainkan karena rasa hangat yang begitu nyaman melingkar rapat di pinggangnya—rasa perlindungan yang selalu ia temukan setiap hari di samping Arthur. Arthur masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur dan tenang. Satu lengannya melingkar lembut di perut Melati yang kini semakin membulat, sementara telapak tangannya menumpu persis di sana, seolah bahkan dalam tidurnya ia tak ingin kehilangan momen berdekatan dengan calon putra atau putri mereka. Wajahnya yang biasanya tegas dan t

  • My Game Boyfriend   Rasa Cinta Yang Baru Berbentuk

    Bab 106   Udara pagi membawa aroma tanah basah dan wangi bunga cempaka yang tumbuh di sudut halaman, menyusup lembut lewat celah jendela kamar yang dibiarkan terbuka semalam. Melati terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda—badannya terasa lebih berat, namun hatinya terasa begitu penuh hingga sesak karena kebahagiaan. Ia memiringkan tubuh perlahan, melihat Arthur yang sedang duduk di tepi tempat tidur, sedang melipat handuk kecil berwarna putih bersih dengan sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kain sutra paling rapuh. "Kau sudah bangun?" tanyanya lembut saat menyadari Melati bergerak. Ia segera meletakkan handuknya, lalu berjalan mendekat untuk membantu istrinya duduk. "Tadi aku mendengarmu berbicara dalam tidur. Kau menyebutkan nama 'Bunga' berulang kali. Apakah kau memimpikan sesuatu?" Melati tersenyum samar, tangannya bergerak mengelus perutnya yang kini terlihat jelas membulat, menandakan usia kehamilan yang memasuki perte

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status