Home / Romansa / My Hot Bodyguard / ASTAGA DIA BODYGUARDKU

Share

ASTAGA DIA BODYGUARDKU

Author: Lysta
last update publish date: 2026-07-25 20:59:22

Bastian berdiri di depan perusahan GRACIAS CORPORATION, perusahan tambang emas terbesar di negara ini yang dipimpin Gabriel Mozeto. Pagi ini dia akan melamar sebagai bodyguard putri kesayangan sang pimpinan.

Berkat bantuan Shelomita, Bastian dengan mudah mendapatkan dokumen data diri yang sudah dimanipulasi. Tidak mungkin Bastian akan menyertakan riwayat yang sebenarnya. Apalagi sebagai mantan narapidana.

Shelomita tidak diragukan dalam masalah itu. Bastian menerima bantuannya karena dia tidak mungkin mendapatkan dengan mudah semua dokumen penting untuk syarat-syarat melamar pekerjaan.

Bastian mengenakan jas lengkap hitamnya. Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang bidang, tegak dan kekar. Serta kharismatik yang tajam dan dingin. Mampu mencuri perhatian semua gadis yang berada di lantai itu.

Bastian menghampiri petugas resepsionis yang berdiri tegak menatapnya dengan mulut terbuka. Gadis itu salah satu dari beberapa gadis yang terkesima oleh pesonanya.

Bastian hanya menatapnya menunggu gadis itu sadar dari imajinasi yang hanya para gadis tahu ketika melihat lelaki perfeksionis dan tampan.

Bastian sudah tidak aneh dengan situasi seperti itu. Dulu kerap terjadi saat Bastian bertugas sebagai pimpinan divisi pemberantas Narkotika.

"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Bastian sambil menatapnya dalam. Tidak ada sedikitpun senyuman terlukis di bibirnya.

"Ah, ma-maafkan saya! a-ada yang bisa saya bantu?" jawabnya dengan wajah memerah.

"Di mana ruang interview lamaran sebagai bodyguard?"

"Di lantai 5. Sebaiknya anda segera ke sana sebentar lagi akan dimulai!" jawabnya dengan wajah masih memerah.

"Terima kasih," balas Bastian masih dengan sikap dinginnya tanpa senyuman. Tapi, sikapnya itu justru membuat gadis resepsionis itu semakin jatuh hati.

Bastian pun menuju lift, hanya dia seorang yang hendak naik.

"tring!"

Pintu lift pun terbuka. Bastian pun masuk kemudian memijit tombol lantai 5. Pintu lift hendak tutup.

"Tunggu!" teriak seorang gadis dengan tangan menahan pintu lift. Bastian menatapnya, "k-kau?" ucapnya sambil menunjuk Bastian dengan wajah histeris.

Gadis itu ternyata Bianca calon gadis yang akan menjadi majikannya. Bastian tidak boleh membuat keributan. Dia bisa gagal mendapatkan posisinya menjadi bodyguard.

"Apa Nona hendak menggunakan lift?" tanya Bastian dengan nada dingin.

Aura dingin berhembus menusuk pori-pori kulitnya di sekujur tubuhnya. Saat Bianca menatap matanya yang tajam, dingin dan menusuk.

Entahlah? tatapannya melebihi horornya saat melihat hantu. Bianca bahkan merasakan hembusan angin. dingin, sedingin salju di Kutub Utara.

"Maaf, Nona. Jika tidak berniat naik. Silahkan mundur!" ucap Bastian sambil menekan tombol lantai 5.

"Siapa lagi yang mau satu lift denganmu," jawab Bianca sambil mundur. Seiring pintu lift tertutup, Bianca melihat Bastian berdiri tegak sambil menatap lurus. Sialnya, Bianca berdiri tepat di depannya.

Tatapannya seperti elang yang hendak mencabik-cabik tubuhnya dengan paruh tajamnya.

Pintu lift pun tertutup rapat.

"Astaga! apa yang barusan aku lihat? lelaki mengerikan. Aku berharap dijauhkan dari lelaki sepertinya," gerutunya sambil bertolak pinggang dan wajah terangkat ke atas.

Bianca membayangkan jika memilih satu lift bersamanya. Bisa-bisa lelaki itu melakukan sesuatu yang mengerikan padanya. Mengingat di pertemuan pertamanya yang kurang baik.

"Bikin merinding saja," gumamnya sambil begidig.

Tanpa Bastian sadari Clara yang hendak menemui mertuanya melihat Bastian sedang berbicara dengan Bianca. Clara bukan saja menantunya tapi juga sebagai corporate lawyer perusahaan itu.

Gabriel lebih memilih memperkerjakan yang merupakan bagian keluarganya. Sebenarnya Gabriel menaruh harapan putranya mau terjun ke bisnis. Tapi, Daniel lebih menyukai berkecimpung dengan hukum. Entah alasan apa yang membuat Daniel menyukainya?

Gabriel menaruh harapan pada putrinya. Tapi, Bianca tidak menyukai bisnis juga. Dia menyukai dunai model. Gabriel yang sangat menyayanginya tidak melarang apapun yang disukainya.

Kita kembali ke Clara yang melangkah ke arah pintu menuju tangga darurat. Dia menghubungi seseorang.

"Apa kau sudah memulai interview penerimaan bodyguard untuk Nona Bianca?" tanya Clara pada pimpinan tim bagian divisi itu.

"10 menit lagi Nyonya," jawabnya.

"Aku ingin kau meloloskan pelamar bernama Bastian Leonardo!" pintanya.

"Ta-tapi, Nyonya?"

"Putrimu ingin sekali pergi ke Australia. Dia sangat menyukai hewan berkantung menggemaskan itu. Aku akan memberimu waktu selama satu minggu bersama keluargamu termasuk putrimu berwisata di negeri kanguru itu," ucap Clara. "Tenang saja, Bastian memiliki alasan kuat terpilih menjadi bodyguard Nona Bianca. Dia orang yang menolong kami dari pengganggu hari itu. Ayah mertuaku malah senang, jika dia jadi bodyguardnya."

"Ba-baik Nyonya, saya akan memberitahu tim yang ditugaskan interview," jawabnya.

Clara pun keluar dari area tangga darurat. Dia menatap Bianca yang masih berdiri menghadap lift. Bibirnya tersenyum, Clara senang akhirnya dia memiliki kesempatan bertemu dengan Bastian setiap hari.

Clara pun menghampiri Bianca yang bersemangat menceritakan pertemuannya dengan Bastian.

"Aku harus menjauhi pria sepertinya," ucapnya sambil masuk ke dalam lift.

"Bagaimana jika pria itu ternyata harus bersamamu setiap hari?"

"Jangan mendoakanku seburuk itu, Kak? kakak tidak lihat tatapannya yang dingin juga sikapnya. Amit-amit deh harus bersama lelaki sepertinya," balasnya sambil begidig.

"Kamu mau ke mana?"

"Aku mau melihat proses interview bodiguard..."

"Gawat kalau Bianca melihat Bastian. Dia pasti menolaknya. Aku harus membuat Bianca sibuk sampai interview selesai," ucap batin Clara.

"Ah!" Clara mengaduh sambil memegang perutnya.

"Kakak kenapa?" tanya Bianca dengan panik sambil memegang tangan Clara.

"Perutku, sakit sekali," keluhnya sambil meringis. "Bisakah kamu mengantarku ke ruanganku!" pintanya. Kebetulan ruangannya di lantai paling atas satu lantai dengan ruang pimpinan perusahan.

"Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit?" tanya Bianca sambil menatapnya cemas .

"Tidak perlu, akhir-akhir ini aku sering sakit perut. Aku memiliki stok obatnya di ruanganku," ucapnya dengan bibir meringis, punggung membungkuk dan tangan memegang perutnya.

"Aku harus membuatmu menjadi bodyguard Bianca karena itu satu-satunya agar bisa bertemu denganmu lagi. Aku berharap setelah Bastian mengetahui alasan sebenarnya, hubungan kami membaik," bisik batinnya.

Satu jam kemudian,

Bianca membuka pintu ruangan ayahnya yang sedang duduk termenung di kursi kebesarannya, memunggungi pintu.

Bianca berjalan dengan menjijit agar sepatu high heels yang dipakainya tidak mengeluarkan suara.

Bianca langsung memeluk ayahnya dari belakang. "Apa yang membuat daddy termenung sendirian di sini? apa daddy sedang bertengkar dengan mami?" ucapnya dengan manja.

"(hahahaha) mana mungkin kami bertengkar. Daddy ngeri saat mamimu tantrum," jawabnya. "Bukannya hari ini pemilihan bodyguard pribadimu?" tanya Gabriel sambil memutar kursinya. Bianca duduk di sandaran kursi bagian kiri.

Bianca sangat dekat dengan Gabriel. Bahkan, bisa dibilang Bianca seperti berliannya. Gabriel sangat memanjakannya, dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitinya.

"Tadi aku tidak sempat melihat interviewnya karena Kak Clara sakit," ungkapnya.

"Tenang saja, bodyguard yang terpilih sudah dipastikan berkompeten," jawab Gabriel.

"Apa perlu aku ditemani bodyguard?"

"Setelah peristiwa kemarin, daddy sangat cemas. Demi keamananmu kali ini menurutlah!"

"Apa bodyguardnya mengawasiku 24 jam? maksudku, menginap?"

"Daddy membayarnya untuk menjaga keamananmu 24 jam. Jika setengah-setengah percuma saja," balas Gabriel.

Bianca menghembuskan napasnya. "Baiklah, asal daddy senang. Aku akan menjadi putri penurut," balasnya sambil menyandarkan kepala di pundak ayahnya.

Terdengar ketukan pintu, sekretarisnya masuk.

"Saya bersama bodyguard terpilih hendak menemui Nona Bianca," ucapnya.

"Suruh dia masuk!" perintah Gabriel.

"Baik Pak," ucapnya. Kemudian menoleh ke arah seseorang di balik pintu.

"Apa bodyguard terpilih berwajah ganteng? aku sempat membaca kriteria pelamarnya paling tua 35 tahun. Usia lelaki dewasa. Tidak buruk juga memiliki bodyguard apalagi bertubuh bagus dan seksi. Teman-temanku pasti iri saat aku membawanya," bisik batinnya sambil senyum-senyum.

Kedua manik matanya yang cantik menatap ke pintu di penuhi rasa penasaran. Seorang lelaki melangkah masuk membuat senyuman Bianca memudar. Bianca langsung berdiri.

"Ya Tuhan! apa dia yang akan menjadi bodyguard ku, daddy?" tanya Bianca dengan histeris karena lelaki itu Bastian Leonardo.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Hot Bodyguard   SEJAK KAPAN

    “bugh bugh brak!” Bastian menendang keras pintu yang terkunci, tidak butuh lama pintupun terbuka lebar. Kegaduhan akibat tendangan Bastian semakin menambah kecemasan semua orang di area pemotretan itu. Mereka melihat Kimberly yang berprofesi sama dengan Bianca memeluk Bianca di belakangnya. Terlihat ujung pisau berjarak beberapa sentimeter ke kulit leher mulus Bianca. Wajah Bianca memucat, “Ayo, kita bicara baik-baik Kimberly!” bujuk Bianca dengan tangan bergetar. Kimberly tertawa lepas, “Percuma saja. Sudah tidak ada gunanya. Gara-gara pemutusan kontrak sepihak, aku kehilangan penghasilanku. Ibuku meninggal karena aku telat membayar biaya pengobatannya,” tolaknya sambil menarik tangannya membuat beberapa kru wanita menjerit. Mereka takut ujung pisau itu menggores leher Bianca, fatalnya menusuk. “Kenapa kamu menyalahkanku? seharusnya kamu tuntut Mr. Johan sebagai pimpinan agensi,” tepis Bianca. “Jangan pura-pura tidak tahu, Bianca!” bentaknya membuat gadis itu tersen

  • My Hot Bodyguard   JANGAN BERULAH

    Bastian berdiri tak jauh dari ruang kelas di mana Bianca sedang mengikuti salah satu mata kuliahnya. Bastian menyandarkan punggungnya di pohon besar sambil menghisap batang nikotin yang dijepit kedua jemarinya. Tatapan tajamnya tak lepas mengarah ke ruang kelas. Bastian melirik ke arah dua lelaki mengenakan seragam tak asing, bahkan Bastian mengenal keduanya. Mereka ajudan ayahnya. Bastian mengalihkan tatapannya ke arah pintu kelas, tepatnya mengabaikannya seolah tidak mengenal mereka meskipun tahu tujuan keduanya hendak menghampirinya. “Selamat siang tuan muda,” sapa keduanya dengan rasa hormat. Tapi, Bastian mengabaikannya. “Tuan…” ucap salah satunya lagi. Bastian menatapnya, kolonel Erik yang memanggilnya dengan sebutan dulu sebelum namanya dipecat sebagai penerus Leonardo. “Kau memanggilku?” tanya Bastian dengan memiringkan kepalanya sambil menunjuk dirinya. Kolonel Erik dan Hamdan menatapnya ragu, meskipun mereka tahu dengan benar. Adanya konflik diantara atasannya dengan

  • My Hot Bodyguard   KEKANAK-KANAKAN

    Setelah Clara keluar dari kamarnya, Bastian duduk terdiam dengan punggung merapat di pintu. Meskipun sudah merelakannya, tepatnya mengusir semua rasa cintanya pada Clara. Bastian tetap manusia biasa, di lubuk hatinya yang paling dalam masih tersisa secerca rasa yang tidak bisa dihapus begitu saja, sekalipun menyakitinya. Apalagi Clara tak berhenti mengusik-nya. Bastian mendengar ketukan pintu, Bastian berdiri tegak dengan ekspresi tegas. Kemudian membukanya. Dua lelaki berpakaian serba hitam berdiri di balik pintu. Bastian yang baru sehari di kediaman Gabriel belum mengenalnya. mereka tak jauh darinya sebagai pegawai Gabriel. “Tuan Gabriel meminta kami mengantarmu menemuinya,” ucap salah satunya. Bastian tahu Gabriel pasti memanggilnya. Dia menyadari kesalahannya, kesalahan yang berhubungan dengan Bianca. Dia tidak mengelak, Bastian memiliki bukti sebagai pembelaan jika Gabriel menyalahkannya. Bastian pun mengikuti mereka. Salah satu lelaki yang berjalan di belakangnya memukul

  • My Hot Bodyguard   GAIRAH YANG TERPENDAM

    “Sentuh aku, tiduri aku! buat aku hamil!” Ucapan itu membuat Bastian tergerak, Bastian menggenggam tangan Clara yang berlabuh erat di depan perutnya. Kemudian memutar hingga menghadapnya. Manik matanya yang terlihat redup. Tapi, mampu membuat jantungnya berdebar kencang. Bohong, jika Bastian sudah menghapus rasa cintanya. Sampai kapanpun nama Clara, gadis satu-satunya yang masih terukir dalam lubuk hatinya. Bastian mengapit kedua pipi tirus nan halus dengan telapak tangannya. “Apa kau serius?” Clara mengangguk pelan, wajahnya merona karena malu. Sudah begitu lama situasi seintena ini tidak mereka lakukan. “Ulangi lagi permintaanmu tadi!” ucap Bastian sambil mengangkat dagunya. Jangan tanya bagaimana tatapan Bastian. Tak hanya secerca, tapi banyak. Tatapan yang dulu sering Clara lihat, penuh godaan yang membuat Clara tak sanggup menolak. Ya, menolak Bastian mencumbunya. Clara menggigit bibir bawahnya dengan rona wajah yang masih memerah. “Jangan menggodaku! seger

  • My Hot Bodyguard   SENTUH AKU

    Bastian menutup pintu. Kemudian berdiri tegak menghadap gadis yang selalu mengusiknya. Bukan tanpa alasan Bastian menganggapnya begitu. Sejak pertemuan pertama Bianca tak berhenti berulah dan terakhir kalinya dia meracuni dirinya sendiri dengan meminum jus stowberi hanya ingin membuat Bastian di pecat.Bianca tidak pernah sekalipun merasa bersalah. Jangan berharap Bianca meminta maaf. Bianca malah menambah kesalahannya dengan ulah-ulahnya yang kekanak-kanakan. Tapi, yang terakhir bagi Bastian cukup berani. Jika saja Bastian telat membawanya ke rumah sakit. Dipastikan Bianca akan tewas.Bianca salah jika Bastian tidak mengetahui rencananya. Di atas ketidaktahuannya pekerjaan Bastian sebelumnya. Bianca berdiri angkuh masih memangku kedua tangannya di depan perutnya. Bianca mengangkat dagunya sambil menatap Bastian seperti majikan sedang menginterogasi bawahannya. “Kau kemana saja? bisa-bisanya menghilang kek hantu. Padahal sudah melakukan kelalaian dalam bertugas.”Bianca melihat jela

  • My Hot Bodyguard   DIA MENUNGGUKU

    Bastian menghampiri Shelomitha yang tertidur lemah di ranjang. Bastian menatap bahu kanannya terbalut perban. Bastian bertanya dengan nada berat, “Bagaimana keadaanmu?” Shelomita tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan. “Kau melupakan profesiku dulu sebagai salah satu anggota…” “Berhenti ikut campur!” Potong Bastian dengan nada dingin membuat Shelomita mengatupkan mulutnya. Shelomitha memahami ucapan Bastian. Beberapa lelaki yang menyerangnya bukan berarti tidak memiliki alasan. Shelomita meretas komputer perusahaan Daniel. Tapi, ketahuan. “Segera kembali ke Paris, hiduplah dengan tenang di sana!” “Aku tidak bisa melakukannya, Tomi tidak akan meninggal dengan tenang, aku sudah berjanji padanya untuk membantumu sampai…” sanggahnya. Bastian memotong ucapannya sambil menatap tajam. “Apa kau tidak memikirkan putrimu. Gadis itu membutuhkanmu setelah kehilangan ayahnya. Tomi jauh tidak tenang jika kau mengabaikannya.” “Claudia gadis kecil yang sangat pengertian,” tepisnya. “Jan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status