LOGINLelaki itu terlihat kesal karena Clara berbicara angkuh. Sedangkan gadis yang benar-benar diincarnya hanya menjerit dan berusaha melepaskan diri.
Lelaki yang merupakan suruhan seseorang, hendak menampar pipinya agar Clara berhenti berteriak sambil menyebut nama pengacara kondang yang merupakan suaminya. Kibasan tangan itu hendak mendarat ke pipi Clara. Wanita itu memejamkan matanya dengan bibir meringis menyambut rasa sakit. Tapi, dia membuka matanya dengan perlahan dan melihat ke arah tangan lelaki itu. Clara membulatkan matanya saat melihat wajah pria yang selama ini dirindukannya. Tapi, saat ini bukan waktu yang tepat untuk melepas rindu. Bastian menggenggam tangan pria itu, raut wajahnya terlihat tenang berbeda dengan lelaki pengganggunya. "Jangan ikut campur urusanku, brengsek!" umpatnya sambil menarik tangannya. Lelaki itu bahkan menghadiahkan pukulan ke arah wajah Bastian. Lelaki itu salah jika menganggap Bastian hanya sekedar ikut campur tanpa memiliki kemampuan membela diri. Bastian dengan cepat menghindar, tanpa menunggu jeda pukulan keras menghantam bagian bawah dagunya. Lelaki itu terkejut sempat memekik dengan tubuh terhuyung ke belakang "brugh!" Dalam satu pukulan saja lelaki tersebut jatuh pingsan. Clara berdiri tegak menatap Bastian, dia tidak percaya bisa melihat Bastian lagi. Clara tidak mengetahuinya sudah bebas. Bastian menatap ke arah gadis satunya lagi yang masih meronta-ronta bahkan menatapnya meminta bantuannya, mengabaikan Clara yang hendak mendekatinya. "Tolong aku!" teriaknya dengan bibir bergetar. "Lepaskan!" teriaknya lagi sambil berusaha melepaskan diri dari lelaki yang memeluknya dari belakang. Lelaki satunya yang memegang tongkat besi digunakan memecahkan kaca jendela. Berjalan cepat ke arah Bastian dengan tatapan garangnya. "Basti--an?" panggil Clara saat Bastian melintasinya. Bastian mengabaikannya dan Clara hanya bisa menatapnya. Clara menatap punggungnya, 5 tahun lalu sering menjadi sandaran pipinya yang tirus saat Clara memeluknya dari belakang. Lelaki itu meliukkan tongkat besi ke arah Bastian, dengan cekatan Bastian menghindarinya. Tapi, tangannya secepat kilat memegang tongkat besi tersebut membuat lelaki itu membulatkan matanya. Bastian tidak menyia-nyiakan waktu, dia menarik kuat tongkat tersebut. Lelaki itu ikut tertarik. Tendangan kuat dari kaki Bastian tepat ke perutnya. Lelaki itu terhuyung ke belakang dengan tangan melepaskan tongkat besinya. Bastian memutar-mutar tongkat besi seperti baling-baling, menunjukan kekuatan otot tangannya. Lawannya tahu benar, tongkat besi itu cukup berat. Bastian mendekati lelaki itu tanpa berhenti memutar tongkat besinya membuat nyalinya menciut. Begitu juga lelaki satunya lagi yang menyandera gadis cantik. Mereka mundur dengan wajah panik. Bastian berdiri tepat di depan mereka dengan ujung tongkat besi mendarat di atas jalan beraspal. "Aku akan memberi kalian satu penawaran," ucap Bastian bernegosiasi sambil menatap kedua lelaki itu bergiliran. "Aku akan membiarkan kalian pergi. Jika melepaskannya (sambil menatap gadis dalam sandraan lelaki satunya lagi). Tapi, jika kalian bersikeras. Aku akan..." ucap Bastian sambil mengangkat tongkat besi itu. Kemudian menghentakkannya. "K-kau akan menyesal karena sudah ikut campur urusan kami!" bentak lelaki yang sempat mendapatkan tendangan di perutnya. "Ah, jadi kalian memilih?" ucap Bastian dengan kedua rahang mengeras sambil melangkah ke depan dengan tongkat besi terangkat. "Ba-baiklah, kali ini kau menang. Tapi, ingat! aku akan membuat perhitungan denganmu lain waktu," ucapnya diakhiri ancaman. Lelaki itu dengan tatapan waspada melirik temannya memberinya isyarat. Pria yang memeluk gadis itu mendorongnya ke arah Bastian. Gadis itu menjerit karena kaget, dia tidak siap. Hingga kedua tangannya mendarat tepat di dada berototnya. Bastian pun dibuat kaget, dia juga tidak sempat menghindar. Napas keduanya saling menyapu wajah. Untuk sepersekian detik, netra mereka saling beradu pandang. "Astaga, dadanya tak hanya lebar. Tapi, berotot. Bisa dibayangkan bagaimana bentuknya saat tidak mengenakan baju. Aku bisa menebak otot-otot perutnya yang sixpack. Tunggu! kau sedang memikirkan apa Bianca?" Bianca mengedipkan beberapa kali kelopak matanya, ketika Bastian menatap tangannya malah asik meraba-raba dada-nya. Bianca malah nyengir bukannya menjauhkan kedua tangan jahilnya. Kedua lelaki pengganggu berlari cepat ke mobilnya. Mobil mereka pun melaju dengan cepat. "brak!" Sesuatu terjadi membuyarkan perhatian Bastian yang sedang menatap gadis mesum di depannya. "Hehehe" Bianca menjauhkan kedua kedua tangannya dari dada Bastian sambil mundur dan terkekeh. "Shiit!" umpat Bastian sambil berlari cepat ke arah mobil Ferarri yang dibawanya. "Sial! hais!" umpatnya lagi sambil menyugar kasar rambutnya. Bumper sisi kanan mobil Ferrari-nya penyok karena tertabrak mobil yang digunakan kedua lelaki tadi. Bastian memeriksa tingkat penyoknya. "Hais!" umpatnya lagi. Bastian sudah bisa menebak besarnya biaya perbaikan mobil mewah itu. Dia tidak memiliki uang untuk membayar perbaikannya. Bastian tidak mungkin meminta Kris membantunya membayar biayanya. Dia sudah membebani Kris dengan menumpang di rumahnya. "Tunggu! sepertinya mobil ini milikku?" ucap Bianca sambil berlari ke mobil ferari. Bastian menatapnya. "Ya Tuhan, mobil kesayanganku rusak," keluhnya sambil mengusap bumpernya yang penyok. "Siapa namamu?" tanya Bastian. Dia tidak langsung mempercayainya begitu saja. Bianca menghadap Bastian dengan memasang wajah kesal. "Kau sudah membuat mobilku rusak." Bastian dengan cepat mengambil kertas yang diberikan karyawan Kris tercantum nama pemilik dan alamat mobil. "Siapa namamu?" "Bianca Mozeto," jawabnya dengan wajah terangkat. "Alamat?" "Kawasan mansion Sagar, X1," jawabnya. "Apa perlu aku mengatakan nomor ponselku? 065xxx." "Ternyata gadis ini pemiliknya," ucap batinnya sambil menatapnya. Bianca Mozeto, gadis berusia 23 tahun. Dia putri dari seorang pengusaha kaya bernama Gabriel Mozeto. Tepatnya, putri pimpinan klan mafia yang menutupi kedoknya sebagai pengusaha. Bianca memiliki saudara bernama Daniel Mozeto yang berprofesi sebagai pengacara ternama. Daniel, lelaki yang menikah dengan Clara mantan kekasih Bastian. "Aku ingin kau memberiku penjelasan mengenai kerusakan ini?" ucapnya sambil menunjuk bumper mobilnya yang penyok. "Bukannya mobilmu jadi seperti itu karena perbuatan ketiga pria tadi?" sanggah Bastian. "Mobilku lain ceritanya, kau tidak menjaganya dengan baik. Seharusnya kau berhati-hati..." bantah Bianca. "Maksudmu? ah, seharusnya tadi aku membiarkan mereka menculikmu?" potong Bastian. "Tidak tahu terima kasih," cibirnya. "K-kau?" balas Bianca dengan nada songong. "Cukup Bianca!" ucap Clara sambil berdiri di sampingnya. Clara tak melepaskan pandangannya pada Bastian yang berusaha keras tidak menatap balik padanya. "Tapi, Ferrari cantikku mobil kesayanganku," keluhnya sambil mengusap bumpernya. "Aku yang akan membiayai perbaikannya," balas Clara. "Tidak perlu!" tolak Bastian dengan dingin tanpa menatap Clara. Bastian malah menatap sebal Bianca. "Aku akan mengirim mobilmu setelah diperbaiki," ucapnya lagi. Kemudian masuk ke dalam mobil Ferrari. "Aaaa!" Jerit Bianca saat Bastian membunyikan klaksonnya beberapa kali dengan kencang karena Bianca menghalangi laju mobilnya. "K-kau?" ucap Bianca sambil menunjuk Bastian yang memasang wajah dinginnya. Bianca pun menjauhi mobilnya begitu juga Clara. Dia tidak sedikitpun memalingkan wajahnya. Mobil pun melaju kencang meninggalkan keduanya. Clara menatap mobil Bianca yang perlahan lenyap dari pandangannya. "Aku tahu kau membenciku, tapi syukurlah. Akhirnya kamu sudah bebas," ucap batinnya. "Kenapa kakak bersedia membayar biaya perbaikannya? apa kakak mengenalnya?" tanya Bianca.“bugh bugh brak!” Bastian menendang keras pintu yang terkunci, tidak butuh lama pintupun terbuka lebar. Kegaduhan akibat tendangan Bastian semakin menambah kecemasan semua orang di area pemotretan itu. Mereka melihat Kimberly yang berprofesi sama dengan Bianca memeluk Bianca di belakangnya. Terlihat ujung pisau berjarak beberapa sentimeter ke kulit leher mulus Bianca. Wajah Bianca memucat, “Ayo, kita bicara baik-baik Kimberly!” bujuk Bianca dengan tangan bergetar. Kimberly tertawa lepas, “Percuma saja. Sudah tidak ada gunanya. Gara-gara pemutusan kontrak sepihak, aku kehilangan penghasilanku. Ibuku meninggal karena aku telat membayar biaya pengobatannya,” tolaknya sambil menarik tangannya membuat beberapa kru wanita menjerit. Mereka takut ujung pisau itu menggores leher Bianca, fatalnya menusuk. “Kenapa kamu menyalahkanku? seharusnya kamu tuntut Mr. Johan sebagai pimpinan agensi,” tepis Bianca. “Jangan pura-pura tidak tahu, Bianca!” bentaknya membuat gadis itu tersen
Bastian berdiri tak jauh dari ruang kelas di mana Bianca sedang mengikuti salah satu mata kuliahnya. Bastian menyandarkan punggungnya di pohon besar sambil menghisap batang nikotin yang dijepit kedua jemarinya. Tatapan tajamnya tak lepas mengarah ke ruang kelas. Bastian melirik ke arah dua lelaki mengenakan seragam tak asing, bahkan Bastian mengenal keduanya. Mereka ajudan ayahnya. Bastian mengalihkan tatapannya ke arah pintu kelas, tepatnya mengabaikannya seolah tidak mengenal mereka meskipun tahu tujuan keduanya hendak menghampirinya. “Selamat siang tuan muda,” sapa keduanya dengan rasa hormat. Tapi, Bastian mengabaikannya. “Tuan…” ucap salah satunya lagi. Bastian menatapnya, kolonel Erik yang memanggilnya dengan sebutan dulu sebelum namanya dipecat sebagai penerus Leonardo. “Kau memanggilku?” tanya Bastian dengan memiringkan kepalanya sambil menunjuk dirinya. Kolonel Erik dan Hamdan menatapnya ragu, meskipun mereka tahu dengan benar. Adanya konflik diantara atasannya dengan
Setelah Clara keluar dari kamarnya, Bastian duduk terdiam dengan punggung merapat di pintu. Meskipun sudah merelakannya, tepatnya mengusir semua rasa cintanya pada Clara. Bastian tetap manusia biasa, di lubuk hatinya yang paling dalam masih tersisa secerca rasa yang tidak bisa dihapus begitu saja, sekalipun menyakitinya. Apalagi Clara tak berhenti mengusik-nya. Bastian mendengar ketukan pintu, Bastian berdiri tegak dengan ekspresi tegas. Kemudian membukanya. Dua lelaki berpakaian serba hitam berdiri di balik pintu. Bastian yang baru sehari di kediaman Gabriel belum mengenalnya. mereka tak jauh darinya sebagai pegawai Gabriel. “Tuan Gabriel meminta kami mengantarmu menemuinya,” ucap salah satunya. Bastian tahu Gabriel pasti memanggilnya. Dia menyadari kesalahannya, kesalahan yang berhubungan dengan Bianca. Dia tidak mengelak, Bastian memiliki bukti sebagai pembelaan jika Gabriel menyalahkannya. Bastian pun mengikuti mereka. Salah satu lelaki yang berjalan di belakangnya memukul
“Sentuh aku, tiduri aku! buat aku hamil!” Ucapan itu membuat Bastian tergerak, Bastian menggenggam tangan Clara yang berlabuh erat di depan perutnya. Kemudian memutar hingga menghadapnya. Manik matanya yang terlihat redup. Tapi, mampu membuat jantungnya berdebar kencang. Bohong, jika Bastian sudah menghapus rasa cintanya. Sampai kapanpun nama Clara, gadis satu-satunya yang masih terukir dalam lubuk hatinya. Bastian mengapit kedua pipi tirus nan halus dengan telapak tangannya. “Apa kau serius?” Clara mengangguk pelan, wajahnya merona karena malu. Sudah begitu lama situasi seintena ini tidak mereka lakukan. “Ulangi lagi permintaanmu tadi!” ucap Bastian sambil mengangkat dagunya. Jangan tanya bagaimana tatapan Bastian. Tak hanya secerca, tapi banyak. Tatapan yang dulu sering Clara lihat, penuh godaan yang membuat Clara tak sanggup menolak. Ya, menolak Bastian mencumbunya. Clara menggigit bibir bawahnya dengan rona wajah yang masih memerah. “Jangan menggodaku! seger
Bastian menutup pintu. Kemudian berdiri tegak menghadap gadis yang selalu mengusiknya. Bukan tanpa alasan Bastian menganggapnya begitu. Sejak pertemuan pertama Bianca tak berhenti berulah dan terakhir kalinya dia meracuni dirinya sendiri dengan meminum jus stowberi hanya ingin membuat Bastian di pecat.Bianca tidak pernah sekalipun merasa bersalah. Jangan berharap Bianca meminta maaf. Bianca malah menambah kesalahannya dengan ulah-ulahnya yang kekanak-kanakan. Tapi, yang terakhir bagi Bastian cukup berani. Jika saja Bastian telat membawanya ke rumah sakit. Dipastikan Bianca akan tewas.Bianca salah jika Bastian tidak mengetahui rencananya. Di atas ketidaktahuannya pekerjaan Bastian sebelumnya. Bianca berdiri angkuh masih memangku kedua tangannya di depan perutnya. Bianca mengangkat dagunya sambil menatap Bastian seperti majikan sedang menginterogasi bawahannya. “Kau kemana saja? bisa-bisanya menghilang kek hantu. Padahal sudah melakukan kelalaian dalam bertugas.”Bianca melihat jela
Bastian menghampiri Shelomitha yang tertidur lemah di ranjang. Bastian menatap bahu kanannya terbalut perban. Bastian bertanya dengan nada berat, “Bagaimana keadaanmu?” Shelomita tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan. “Kau melupakan profesiku dulu sebagai salah satu anggota…” “Berhenti ikut campur!” Potong Bastian dengan nada dingin membuat Shelomita mengatupkan mulutnya. Shelomitha memahami ucapan Bastian. Beberapa lelaki yang menyerangnya bukan berarti tidak memiliki alasan. Shelomita meretas komputer perusahaan Daniel. Tapi, ketahuan. “Segera kembali ke Paris, hiduplah dengan tenang di sana!” “Aku tidak bisa melakukannya, Tomi tidak akan meninggal dengan tenang, aku sudah berjanji padanya untuk membantumu sampai…” sanggahnya. Bastian memotong ucapannya sambil menatap tajam. “Apa kau tidak memikirkan putrimu. Gadis itu membutuhkanmu setelah kehilangan ayahnya. Tomi jauh tidak tenang jika kau mengabaikannya.” “Claudia gadis kecil yang sangat pengertian,” tepisnya. “Jan







