แชร์

AKU SUDAH MENAKUTINYA

ผู้เขียน: Lysta
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-18 12:59:48

Ferrari merah yang seharusnya sudah di tangan pemiliknya terparkir di depan Bastian dan Kris. Penyok di bumper-nya sudah diperbaiki.

"Maafkan aku karena sudah membuatmu mengalami kerugian," ucap Bastian sambil menggaruk alis kanannya yang tidak gatal. Bastian merasa tidak enak hati. Tapi, dia tidak memiliki uang sebesar biaya servisnya.

"Sudahlah, anggap saja resiko dari pekerjaan!" balas Kris.

"Aku akan menggantinya setelah mendapatkan pekerjaan layak," balas Bastian.

"Hais, apa kau ingin aku usir dari sini? aku tidak suka kau segan padaku," bantah Kris sambil menatapnya tajam.

Bastian tersenyum yang dipaksakan.

"Lagian mobilnya rusak karena menolong pemiliknya. Seharusnya gadis manja itu berterima kasih. Bukannya..." bantah Kris tapi ucapannya terhenti saat melihat mobil SUV hitam melaju ke arah mereka. Bastian merasa familiar dengan mobil itu.

Mobil pun berhenti tepat di depan mereka. Seorang wanita cantik turun. Wanita itu mengenakan kacamata hitam menatap ke arah Bastian yang langsung memutar tubuhnya.

Wanita itu Clara yang paling ingin dihindari Bastian.

"Aku akan membantu Herman," pamit Bastian sambil melangkah ke arah Herman yang sedang sibuk memperbaiki mobil pelanggan.

"Tunggu Bastian!" panggil Clara. Tapi, Bastian mengabaikannya, dia mengambil salah satu peralatan mekanik kemudian memberikannya pada Herman.

"Jika ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan. Beritahu aku saja! Bastian sedang..." cegah Kris saat Clara berniat menghampirinya. "Bastian baru bebas dua hari yang lalu. Dia sudah mendapatkan masalah karena menolongmu dan adik iparmu. Jika suamimu mengetahuimu menemuinya. Bastian akan mendapatkan masalah lagi. Apa kamu tidak kasihan padanya? kondisinya saat ini sangat memprihatinkan," ucap Kris setengah berbisik.

Clara menghembuskan napasnya, "aku hanya ingin menyampaikan pesan dari ayah mertuaku."

"Katakan saja padaku! aku yang akan menyampaikan pesannya," tawar Kris. "Sekali ini saja. Tolong, tidak menyulitkannya!"

Clara menatap Kris dibalik kacamata hitamnya. "Sayangnya, pesannya harus langsung sampai ke orangnya."

"Jangan keras kepala, Clara!"

"Daniel mengetahui Bastian menolong kami. Dia tidak akan mempermasalahkan pertemuan kami," bantahnya dengan sikap kukuh dalam pendiriannya, sifat Clara yang sangat diketahui Bastian.

Bastian pun menghembuskan napasnya kemudian menaruh alat yang dipegangnya. Kemudian menghampiri Kris dan Clara. Tapi, masih tidak menatapnya.

"Aku akan memberimu satu kesempatan. Tapi, ingat! hanya kali ini saja. Ke depannya, jangan membuat temanku kesulitan karena ulahmu!" ucap Bastian sambil menatap Kris.

Bastian pun berjalan ke ruang kantor pribadi Kris. Tanpa menjawabnya, Clara mengikutinya.

"Kau mengancamnya tapi menatapku. Sebenarnya siapa yang kau beri peringatan? aku apa dia? mereka selalu bersikap aneh," gerutunya sambil menatap punggung keduanya.

Selampainya di dalam ruangan, Bastian memunggunginya. Clara membuka kacamatanya, menatap punggung yang dirindukannya. Jika diperbolehkan, mungkin dari kemarin Clara sudah memeluknya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Clara dengan pelan sambil memandang punggungnya.

"Aku tidak memiliki waktu banyak. Katakan, apa yang ingin kau sampaikan!" jawab Bastian dengan nada dingin. Tapi, mengeratkan tangannya yang mendarat di pinggir meja kerja Kris.

Terdengar langkah sepatu, Clara berniat mendekatinya. "Menjauh dariku!" tolak Bastian masih memunggunginya.

"Maafkan aku! a-aku (hiks hiks hiks)," ucap Clara tanpa bisa melanjutkannya malah terisak. Perasaannya bercampur aduk. Rasa sedih karena sikap dingin Bastian tapi bahagia bisa melihatnya lagi.

"Shiit!" umpat Bastian sambil memutar tubuhnya kemudian berjalan melintasi Clara hendak meninggalkannya. Tapi, Clara dengan cepat memeluknya dari belakang.

Bastian menghentikan langkahnya, pelukan itu kerap Clara lakukan dulu. Clara merupakan cinta pertamanya. Bastian mulai menyukainya saat mereka belajar di SMA yang sama. Mereka dipertemukan lagi saat Clara menangani kasus kliennya yang berhubungan dengan narkotika dan Bastian bertugas di menangani kasus tersebut.

Clara satu-satunya gadis yang pernah menjadi kekasihnya. Selama menjalin hubungan, Bastian sangat mencintainya. Bahkan, selama di penjara hanya kenangan bersama Clara yang selalu dia ingat.

Bastian tidak marah Clara memutuskannya karena posisinya saat itu tidak baik. Namanya, reputasinya dan statusnya merupakan aib bagi siapa pun yang mengenalnya.

Bastian bertekad akan berjuang mengembalikan nama baiknya. Setelah bebas. Kemudian merajut lagi kisah mereka. Bastian mengira Clara menunggunya bebas. Tapi ternyata menikah dengan Daniel yang satu profesi dengannya.

Bastian mengenal Daniel. Mereka sering bertemu saat Daniel menjadi pengacara khususnya kasus narkotika. Bahkan Clara mengenalkannya karena berteman baik dengannya.

Tapi, ternyata mereka menusuknya dari belakang. Bastian tidak bodoh. Hanya dalam satu bulan pesta pernikahan mereka akan dilaksanakan. Dalam waktu itu pula Clara menikah dengan Daniel menggantikannya.

Clara dan Daniel pasti sudah menjalin hubungan dibelakangnya. Pengkhianatan itu membuat Bastian kecewa.

"Jangan bersikap dingin padaku, Bastian! aku mohon (hiks hiks hiks)," pintanya sambil terisak dan mengeratkan pelukannya dengan pipi menempelkan di punggung Bastian.

Tentu saja Bastian kesal. Dia melepaskan kedua tangan Clara yang melingkari perutnya. "Apa kau sudah gila?" ucapnya sambil menjauhkan diri dari Clara yang masih terisak dengan kedua pipi dibasahi air mata.

"Aku memang gila karena kau mengabaikanku. Bahkan, kau tidak sudi menatapku. Apa kau puas?!" teriaknya sambil menatap Bastian yang masih memalingkan wajahnya. "Bastian, aku mohon, tatap aku!" pintanya sambil mendekatinya.

"Berhenti mengusikku, Clara!" ucap Bastian sambil menatapnya penuh amarah. Tatapan penuh cinta yang selalu Clara lihat dari kedua netranya yang tajam lenyap begitu saja.

"Bastian," panggilnya sambil terisak. Clara bahkan hendak meraih wajahnya dengan tangan kanannya. Tapi, Bastian menolaknya dengan mundur menjauhinya.

"Aku bukan Bastian yang dulu kau kenal Clara. Aku Bastian mantan narapidana yang tidak layak untuk sekedar kau sapa," ucapnya. "Kau seharusnya bersikap sesuai posisimu, Nyonya Daniel!"

"Tapi, a-aku?" balas Clara.

"Tidak baik pengacara ternama dari istri pengacara yang sama-sama terkenal berbicara dengan orang sepertiku. Jika sudah tidak ada lagi yang akan kau sampaikan aku akan melanjutkan pekerjaanku," ucap Bastian. Kali ini dia menatap wajahnya.

"Aku mendapatkan pesan dari mertuaku agar memberikan imbalan atas pertolonganmu kemarin. Bahkan, aku sudah meminta asistenku mengembalikan biaya servis yang dikeluarkan Kris," terangnya sambil menaruh amplop tebal di atas meja.

"Bawa kembali uang itu! aku menolong putri dan menantunya atas kemanusiaan. Bukan karena menginginkan imbalan."

"Tapi, kau membutuhkannya," sanggah Clara.

Bastian berjalan ke arah Clara dengan tatapannya yang cukup mengerikan membuatnya mundur. Selama mengenalnya, Clara tidak pernah melihat wajah garangnya seperti itu.

Clara memekik pelan saat punggungnya menempel di dinding. Dia hanya fokus menatap wajah Bastian. Hawa dingin menusuk punggungnya.

Tangan Bastian mendarat di samping kedua bahunya. Bastian mengunci tubuhnya, rasa takut bercampur senang menggelayut dalam hatinya.

"deg deg deg!"

Untuk sepersekian detik mereka saling beradu pandang, hembusan napas keduanya saling menyapu wajah.

Clara melihat tatapannya meredup, penuh luka dan benci. Hatinya terasa tertusuk duri melihatnya. Bastian tentu saja membencinya, dia mengakui sudah menambah rasa sakitnya.

Di saat kesulitan Clara memutuskannya. Tepatnya, menikah dengan pria lain.

"Jangan membenciku! aku memiliki alasan menikah dengan Daniel," ucapnya dengan bibir bergetar. Air matanya tak berhenti mengalir di kedua pipinya. "Aku..."

"Menjauhlah! aku tidak ingin melihatmu," jawab Bastian.

"Aku tahu, kau membenciku. Aku tahu kau kecewa padaku. Tapi, percayalah! dihatiku hanya namamu," balas Clara sambil mengulurkan tangannya hendak meraih pipi Bastian.

Bastian mundur menjauhi Clara, kemudian memutar tubuhnya.

"Keluar!" usirnya dengan nada tinggi membuat Clara tersentak kaget.

Clara bukannya menurut, dia malah berdiri angkuh menghadap Bastian dengan wajah memerah karena marah.

"Maki aku! bila kau tidak puas. Tampar aku! sakiti aku, Bastian! jika itu bisa membuatmu bisa melepaskan perasaan kesalmu padaku," tantang Clara.

"Jangan keras kepala, Clara!" jawab Bastian sambil menatapnya tajam. Kedua rahangnya mengeras, bahkan dia mengepalkan kedua tangannya.

"Kau juga mengetahui sifatku, aku tidak akan pergi sampai kau..."

"Jangan membuatku kehilangan kesabaran, Clara!" bentak Bastian dengan tangan melayang hendak mendarat di pipi Clara. Tapi, tangan itu berhenti dengan bergetar.

Clara dibuat berdiri membeku tak percaya Bastian benar-benar hendak menyakitinya dengan menamparnya.

Tak terasa air matanya mengalir begitu saja.

"Bastian. Kau? (hiks hiks hiks)."

"Sudah aku bilang menjauh dariku. Aku bukan lagi Bastian yang kau kenal. Aku bisa menyakitimu," ucap Bastian masih dengan tangan di atas.

Clara pun memutar kemudian berlari sambil terisak. Bukan karena Bastian yang berubah jadi sosok lain. Tapi, penyesalannya yang sudah membantunya menjadikan Bastian yang arogan. Bastian seperti singa liar yang menakutkan.

"brugh!"

Terdengar suara pintu tertutup keras. Bastian merasakan kedua lututnya lemas. Kelemahannya saat ini hanya satu yakni melihat Clara.

Setelah dia dinyatakan terpidana dengan hukuman 5 tahun. Bastian menjadi pecandu akibat sering disuntik obat haram yang selama ini menjadi misinya.

Tapi, dia berjuang keras sembuh dengan mengingat Clara. Bastian tidak ingin Clara melihatnya sebagai pecandu narkotika. Clara yang membuatnya sembuh.

"bruk!"

Kedua lututnya mendarat di lantai dingin. Bastian menundukan kepalanya. Hati kecilnya menolak dengan sikapnya yang kasar tadi. Tapi, emosinya terpancing saat melintas bayangan Daniel menyentuh dan mencumbunya.

Sungguh, Bastian dibuat kesal. Dia memukulkan tangannya yang digunakan menakut-nakuti Clara ke lantai.

"Astaga, apa yang sedang kau lakukan Bastian?" teriak Kris yang berlari cepat ke arahnya. Kemudian menahan tangannya.

Bastian mengangkat wajahnya dengan kedua air mata yang mengalir di kedua pipinya.

"Aku sudah membuatnya takut. Aku sudah menjadi monster di depannya," ungkapnya.

"Kau sudah melakukannya dengan benar. Buang perasaanmu padanya itu jauh lebih baik untukmu!" balas Kris sambil menatapnya iba.

Bastian yang dikenalnya tidak pernah menitikkan air mata saat dirundung masalah sebesar apapun. Tapi, berhadapan dengan Clara yang dicintainya. Dia langsung rapuh.

Kris tahu, selama Bastian dalam kurungan. Clara yang membuatnya kuat. Tapi, Bastian harus melupakannya karena Clara sudah menjadi milik orang lain.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • My Hot Bodyguard   JANGAN MENGGODAKU

    Bianca mondar mandir di depan pintu kamarnya. Hari ini Bastian mulai menjadi bodyguard-nya, tapi Bianca tidak menyukainya. Bukan tidak menyukainya, pertemuan pertamanya yang tidak baik membuat Bianca tidak nyaman. Bianca mengakui kesalahannya yang tidak tahu terimakasih. Setelah Bastian menolongnya dari ketiga lelaki yang mengganggunya. Bianca malah memintanya memperbaiki bumper mobilnya yang penyok. Padahal dia tahu, penghasilan seorang pegawai bengkel tidak akan mampu membayar biaya perbaikannya. Harga dirinya yang tinggi membuat Bianca sampai saat ini tidak mengakui kesalahannya di depan Bastian. Jangankan mengaku, minta maafpun tidak malah menambah kesalahannya dengan bersikap sinis. "Aaargh! kenapa jadi begini? daddy memberiku bodyguard agar aku merasa nyaman. Tapi, malah sebaliknya," gerutunya sambil menghentakkan kakinya. "Apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengannya?" ucapnya tanpa berhenti mondar mandir dengan menengadahkan kepalanya ke langit-langit kamarnya. "

  • My Hot Bodyguard   SEBELUM DIBURU AKU YANG MEMBURU

    Bastian berdiri tegak menghadap Gabriel dan Bianca. Di sampingnya berdiri Thomas, sekretaris Gabriel. Bianca terlihat panik dan histeris. Tapi, Bastian terlihat tenang dengan tatapannya yang tegas. "Tidak! aku tidak mau dia menjadi bodyguardku," tolak Bianca sambil menggelengkan kepalanya."Apa dia yang terpilih menjadi bodyguardku?" tanya Bianca dengan wajah panik. "Benar Nona," jawab Thomas. "Apa tim interview melakukan tugasnya dengan benar? kenapa dia bisa lolos?" sanggah Bianca sambil menyipitkan kedua matanya menatap Bastian curiga. "K-kau pasti mengenal mereka. Jujur saja!" tuduh Bianca. "Maaf Nona, hasil penilaian tim interview sesuai dengan kriteria persyaratan yang diinginkan Pak Gabriel," jawab Thomas. "Tidak ada yang mengenal Bastian baik itu tim interview ataupun karyawan di perusahan ini." "Aku tidak bertanya padamu!" sanggah Bianca sambil mendengus kesal. "Sayang, daddy sudah melihat nilai semua hasil interview. Nilainya paling tinggi," ucap Gabriel mene

  • My Hot Bodyguard   ASTAGA DIA BODYGUARDKU

    Bastian berdiri di depan perusahan GRACIAS CORPORATION, perusahan tambang emas terbesar di negara ini yang dipimpin Gabriel Mozeto. Pagi ini dia akan melamar sebagai bodyguard putri kesayangan sang pimpinan. Berkat bantuan Shelomita, Bastian dengan mudah mendapatkan dokumen data diri yang sudah dimanipulasi. Tidak mungkin Bastian akan menyertakan riwayat yang sebenarnya. Apalagi sebagai mantan narapidana. Shelomita tidak diragukan dalam masalah itu. Bastian menerima bantuannya karena dia tidak mungkin mendapatkan dengan mudah semua dokumen penting untuk syarat-syarat melamar pekerjaan. Bastian mengenakan jas lengkap hitamnya. Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang bidang, tegak dan kekar. Serta kharismatik yang tajam dan dingin. Mampu mencuri perhatian semua gadis yang berada di lantai itu. Bastian menghampiri petugas resepsionis yang berdiri tegak menatapnya dengan mulut terbuka. Gadis itu salah satu dari beberapa gadis yang terkesima oleh pesonanya. Bastian hanya menatapn

  • My Hot Bodyguard   KENAPA MEMBANTU KU SETELAH HANCUR

    Satu minggu berlalu, Bastian disibukkan dengan pekerjaannya. Benar yang dikatakan Kris, setelah Bastian bekerja di bengkelnya. Banyak gadis-gadis cantik juga wanita dewasa dari kalangan elite mengantri servis mobilnya. Kris kadang kewalahan saat mereka berebutan ingin mobilnya diservis Bastian. Bahkan, sudah memesan terlebih dahulu agar Bastian yang menyervis mobilnya. Kris jongkok di depan mobil yang sedang diperbaiki Bastian. Creeper yang digunakan Bastian menggelinding ke luar. Bastian sudah selesai. Kemudian menaruh alat-alat mekanik yang sudah digunakannya ke dalam wadah kotak besar. "Apa kau melihatnya?" tanya Kris sambil melirik gadis-gadis cantik yang sedang menatap Bastian. "Sekali-kali beri mereka senyuman!" "Mereka akan lari jika mengetahuiku mantan narapidana," balas Bastian. "Jangan mengungkit-ungkit masa lalumu, Bastian! kau harus menatap ke depan. Kau masih layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik," bantah Kris dengan bibir cemberut. "Apa aku perlu me

  • My Hot Bodyguard   AKU SUDAH MENAKUTINYA

    Ferrari merah yang seharusnya sudah di tangan pemiliknya terparkir di depan Bastian dan Kris. Penyok di bumper-nya sudah diperbaiki. "Maafkan aku karena sudah membuatmu mengalami kerugian," ucap Bastian sambil menggaruk alis kanannya yang tidak gatal. Bastian merasa tidak enak hati. Tapi, dia tidak memiliki uang sebesar biaya servisnya. "Sudahlah, anggap saja resiko dari pekerjaan!" balas Kris. "Aku akan menggantinya setelah mendapatkan pekerjaan layak," balas Bastian. "Hais, apa kau ingin aku usir dari sini? aku tidak suka kau segan padaku," bantah Kris sambil menatapnya tajam. Bastian tersenyum yang dipaksakan. "Lagian mobilnya rusak karena menolong pemiliknya. Seharusnya gadis manja itu berterima kasih. Bukannya..." bantah Kris tapi ucapannya terhenti saat melihat mobil SUV hitam melaju ke arah mereka. Bastian merasa familiar dengan mobil itu. Mobil pun berhenti tepat di depan mereka. Seorang wanita cantik turun. Wanita itu mengenakan kacamata hitam menatap ke ar

  • My Hot Bodyguard   BUKAN SAATNYA MELEPAS RINDU

    Lelaki itu terlihat kesal karena Clara berbicara angkuh. Sedangkan gadis yang benar-benar diincarnya hanya menjerit dan berusaha melepaskan diri. Lelaki yang merupakan suruhan seseorang, hendak menampar pipinya agar Clara berhenti berteriak sambil menyebut nama pengacara kondang yang merupakan suaminya. Kibasan tangan itu hendak mendarat ke pipi Clara. Wanita itu memejamkan matanya dengan bibir meringis menyambut rasa sakit. Tapi, dia membuka matanya dengan perlahan dan melihat ke arah tangan lelaki itu. Clara membulatkan matanya saat melihat wajah pria yang selama ini dirindukannya. Tapi, saat ini bukan waktu yang tepat untuk melepas rindu. Bastian menggenggam tangan pria itu, raut wajahnya terlihat tenang berbeda dengan lelaki pengganggunya. "Jangan ikut campur urusanku, brengsek!" umpatnya sambil menarik tangannya. Lelaki itu bahkan menghadiahkan pukulan ke arah wajah Bastian. Lelaki itu salah jika menganggap Bastian hanya sekedar ikut campur tanpa memiliki kemampuan membela

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status