Home / Romansa / My Hottest Daddy / Part 3 Ronan Voss

Share

Part 3 Ronan Voss

last update publish date: 2026-09-11 14:11:31

Eve jelas tidak terbiasa minum minuman beralkohol. Ia berharap cairan merah pekat yang baru saja diteguknya langsung dari botolnya tersebut sedikit meredakan sakit harinya. Namun rasa panas yang membakar tenggorokan, tidak sesuai dengan yang lidahnya sukai. Meskipun cukup untuk  membuat hatinya yang mendidih perlahan terasa kebas.

Saat jatuh cinta pada Andrew dan setelah semua kesenangan yang mereka dapatkan untuk lima tahun ini, Eve tak pernah memperkirakan di umurnya yang menginjak 23 akan menjadi menyedihkan seperti ini. Sekalipun ia tahu kedatangan ibu dan saudari tirinya yang memporak-porandakan keluarganya tujuh tahun yang lalu, tidak akan pernah berhenti.

Pintu lift bergeser terbuka, Eve melangkah keluar dengan kepala yang sedikit pusing. Langkahnya terhuyung, beberapa kali kehilangan keseimbangan. “Di mana pintunya?” Mata Eve berkedip beberapa kali. Menghitung pintu yang ada di seberang lobi hotel. “Kenapa pintunya ada dua. Tiga?”

“S-satu, dua, empat?” Eve terkekeh. Tubuhnya terhuyung ke belakang, kali ini pantatnya hampir terjungkal ke lantai jika tidak ditahan lengan yang menangkap pinggangnya.

“Aku tidak mabuk,” kikik Eve sambil menoleh ke belakang. Senyum terlalu lebarnya seketika membeku, menyentakkan lengan pria itu dari pinggangnya dan tangannya terayun menghantam wajah si pria. “Aku tidak butuh bantuanmu, Voss sialan!”

--- 

Eve menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras mengingat kejadian setelah tamparannya yang salah sasaran. Ia dalam keadaan mabuk. Darah Voss yang terlalu kental dalam diri Andrew, membuatnya tidak bisa membedakan kalau pria yang menolongnya adalah ayah Andrew. Ronan Voss.

Tak hanya menampar wajah pria matang tersebut, tetapi ia juga … 

Ponsel di meja berdering nyaring. Eve tidak ingin mengangkatnya, tahu apa yang akan dibicarakan oleh Edith. Tapi hanya dia satu-satunya yang bisa membantunya keluar dari situasi ini.

‘Daun muda itu, kau yang mereka bicarakan, kan?’ sembur Edith begitu panggilannya tersambung.

Mata Eve terpejam, menghela napas panjang untuk tetap membuat dirinya tenang.

‘Tak hanya menampar calon mertuamu, kau bahkan berselingkuh dengan pria tua itu.’

“Tampaknya kau tidak butuh penjelasan apa pun dariku, ya?” Eve memutar kedua bola matanya.

‘Kau tahu aku hanya mengatakan yang mereka bicarakan. Aku dan Rain lebih percaya padamu dan kami di café biasa.’

“Aku tidak bisa keluar rumah. Ibu tiriku …” Suara klik yang kemudian terdengar dari arah pintu membuat kepala Eve menoleh sejenak. “Mengunciku di kamar.”

‘Bukan masalah. Kau hanya perlu melompat dari balkon dan kami akan menunggu di jalan keluar yang biasa kau gunakan.’

“Sekarang?”

‘Sekarang aku dan Rain akan menjemputmu.’

Eve beranjak dari sofa dan membuka pintu balkon. “Aku tunggu di bawah pohon,” ucapnya mengakhiri panggilan. Memasukkan ponsel ke dalam tas sebelum memanjat turun dari pagar. Berpijakan pada ornamen di dinding, melompat ke hiasan batu yang disusun tak beraturan sebagai latar belakang air mancur di halaman samping rumah. Memudahkannya untuk turun dan menginjak tanah berumput.

Sambil mengendap-endap di samping jendela kamar utama. Kepalanya terjulur, mengintip ke balik jendela kaca dan gerakan dari dalam ruang tidur tersebut membuatnya harus bersembunyi ke balik semak-semak.

“Apa maksud mama kalau Andrew bukan anak kandung tuan Voss?”

“Ibunya Andrew hamil saat ayah kandungnya meninggal. Tetapi kakeknya tidak ingin Andrew dicap sebagai anak diluar pernikahan. Jadi dia menikahkan Lysandra dengan Ronan.”

“Kenapa mama baru mengatakannya sekarang? Bukankah artinya Andrew tidak sepenuhnya bisa menjadi penerus ayahnya?”

“Tentu saja tidak benar. Kita akan memastikan hal itu tidak terjadi. Itulah kenapa Ronan Voss akan menjadi urusan mama. Hanya dengan itu posisi kita akan aman.” 

Eve membeku, sedikit menjulurkan kepalanya untuk mendengar lebih dekat tetapi ujung kakinya malah menginjak daun kering yang tepat berada di depan kakinya. ‘Sial, apa Gerry tidak menyapu dengan benar,’ gerutunya dalam hati sambil mengedarkan pandangan ke sekitar bawah pohon. Banyak daun kering yang masih berserakan.

“Ssttt …”

Eve menyembunyikan tubuhnya di balik batang pohon tepat saat Sintia menyingkirkan gorden kamarnya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Merasa tidak ada yang janggal, wanita itu kembali menutup gordennya.

“Ma, ada panggilan dari Fifi. Sepertinya ingin membicarakan tentang ayahnya.”

*** 

“Kau yakin itu yang kau dengar?”

Eve mengangguk. Mulutnya sibuk mengunyah potongan terakhir kuenya lalu meneguk habis  jusnya yang tersisa sedikit. 

“Dan karena itu ibu tirimu ingin menikahi Ronan Voss. Voss adalah tangkapan yang sempurna, dan bukankah itu juga artinya …” Mata Edith mendadak berbinar. “Kau bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat? Ibu tirimu tidak mungkin membuat anak tiri dan calon suaminya terlibat skandal perselingkuhan, kan?”

“Menurutmu dia akan melakukannya?” Eve memutar kedua bola matanya dengan jengah. “Lebih baik aku lompat dari jembatan di sungai besar daripada harus meminta pertolongannya. Lagipula … tidak ada yang mengenaliku di foto-foto yang tersebar itu, kan?”

“Tidak ada, kecuali Ronan Voss sendiri,”koreksi Edith. “Kau ingat penguntit gila yang berhasil masuk ke apartemen Ronan Voss?”

Eve jelas tak ingat. 

“Ronan Voss memasukkannya ke penjara. Pengacaranya berhasil membuat wanita gila itu mendapatkan tuntutan terberatnya.”

Eve terdiam, menelan ludahnya. “B-benarkah?”

“Menurutmu apa yang akan dilakukannya padamu?” Rain meletakkan ponselnya di meja. Untuk pertama kalinya bicara sejak mereka datang lima belas menit yang lalu. “Kau membuat saham perusahaannya menurun karena reputasinya yang kau hancurkan. Jangan lupakan bukti kau memukul kepalanya.”

Eve menatap Edith dan Rain bergantian. Menyadari keseriusan kedua sahabatnya. “Seserius itu?”

“Pencemaran nama baik, fitnah, tuntutan kerugian immateriil. Oh, satu lagi, kekerasan atau yang terburuk. Percobaan pembunuhan.”

Ludah Eve terasa lebih pekat. “P-percobaan pembunuhan?” Gadis itu berusaha tertawa meskipun terdengar hambar. “A-aku hanya …”

“Menampar wajahnya dan memukul kepalanya dengan tasmu,” lanjut Edith.

“Dan menggigit lengannya,” tambah Rain.

“H-hanya …” Ketakutan mulai merebak di dada Eve. Tawanya lebih keras, hanya untuk menyembunyikan getaran dalam suaranya. “Sedikit menyentuh kepalanya?”

Rain dan Edith mengangkat kedua tangan di udara. Menatapnya penuh rasa iba. 

“Jadi apa yang harus kulakukan?”

“Permintaan maaf dan menjelaskan kesalah pahaman tersebut tentu saja,” jawab Rain.

Edith mendecakkan lidahnya. “Itu hanya akan membuatnya semakin terkenal, Rain. Kau ingin membuatnya berada dalam masalah yang lebih besar setelah putus dari Andrew?”

“Lalu apa pendapatmu?”

“Biarkan saja. Ibu tirinya akan segera menikah dengan Ronan Voss, kan? Gosipnya akan memudar sendiri dan orang-orang akan berpikir, ini hanya keributan calon ayah dan putri sambung dari suami sebelumnya. Selesai.”

“Menurutmu semudah itu?” Rain mendengkus keras.

Edith mengangguk dengan tanpa keraguan sedikit pun. Menyesap habis air sodanya. “Paling tidak, ibu tirinya akan menyelesaikan masalah ini. Mau tak mau.”

Eve diam, mencoba mempertimbangkan kata-kata Edith. Mungkin Edith benar, Sintia tidak pernah melakukan apa pun secara cuma-cuma. Wanita itu pasti terpaksa membereskan skandal yang beredar demi tujuan besarnya untuk menguasai Voss Group.

“Benar, kan?” Edith memandang Eve dan Rain yang kini juga tampak mempertimbangkan kepentingan tersebut. “Ibu tirinya orang yang licik. Kau tidak perlu berterima kasih, itu bayaran untuk semua kejahatannya padamu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Hottest Daddy   Part 50 Menghindariku?

    “Aku hanya melewatkan makan malamku dan perutku mual.”“Tetap di tempatmu,” bentak Ronan saat kaki Eve bergerak turun, hendak menyentuh lantai. Tepat di atas pecahan gelas, yang beberapa pecahan sudah mengenai ujung jari kakinya. Eve membeku, menyadari kemarahan yang menguar dari tubuh Ronan. Menggigit bibir bagian dalamnya dan membiarkan Ronan mengangkat kakinya kembali ke atas tempat tidur.Ia hanya membeku di sana, hingga Ronan selesai membersihkan pecahan tersebut sendirian dan pelayan datang membawakan air madu hangat. Juga nampan makan paginya.Eve merasa lebih baik. Menghabiskan sarapannya hingga tak ada apa pun yang tersisa di piring dan gelasnya.“Sepertinya kau sangat kelaparan?”Eve mendongak, memandang Ronan yang berjalan keluar dari ruang ganti dan sudah rapi dengan setelan jas abu gelapnya. “A-aku tidak makan malam,” jawabnya sambil menghindari tatapan menelisik Ronan. “Dan tidak? Apa yang begit

  • My Hottest Daddy   Part 49 Tolong Mamaku

    “Kau bertemu kakakku?” Zoe menghadang Eve yang baru saja turun dari mobil. Senyum semringah membuat ekspresi wanita itu terlihat menggelikan.“Kenapa? Kau belum bertemu kakakmu? Atau kau tidak tahu dia sudah kembali?” Eve sengaja menabrakkan pundaknya hingga Zoe nyaris terjungkal.“Eve!” jerit wanita itu. “Apa tidak cukup kau membuatku kehilangan anakku, hah?”Langkah Eve terhenti. Rasa bersalah terhadap anak dalam kandungan Zoe yang tidak bersalah, seketika raib. Kepalanya masih pusing dan perutnya masih terasa mual. Tiba-tiba tenaganya habis dengan tanpa alasan.Garis dua yang menjadi hasil tes kehamilannya masih terbayang jelas di benaknya. Membuatnya semakin pusing dan emosi yang berusaha ditenangkannya sepanjang perjalanan pulang, kini melonjak dengan tiba-tiba. “Kau bilang apa?”Zoe berhenti di depan Eve. “Tidak cukup kau membunuh anakku?”Tangan Eve melayang, mendaratkan tamparan di pipi Zoe. “Jangan menggunakan

  • My Hottest Daddy   Part 48 Kesetiaan

               Eve tersentak bangun oleh dering ponsel milik Ronan. Bukan miliknya mendengar dari nada deringnya. Matanya membuka perlahan dan kedua lengan yang melilit tubuhnya di balik selimut membuatnya kesulitan bernapas. Tentu saja, nyaris setengah berat badan Ronan menimpanya.Tangannya perlahan mengangkat lengan Ronan dari pinggangnya di balik selimut. Hanya sedetik lengan Ronan terangkat, detik berikutnya lengan tersebut menarik tubuhnya lebih lekat dengan pria itu.“K-kau sudah bangun?”“Hmm.” Wajah Ronan tenggelam di cekungan leher Eve. “Sepertinya kau juga sudah bangun.”Eve menggeliatkan tubuhnya. Ronan sempat melonggarkan lilitannya, hanya untuk membalik tubuh Eve dan merangkak naik ke atas tubuhnya. “R-ronan?”Satu gerakan mengangkat kedua tangan Eve terpaku di atas kepala. Wajah Ronan membayang di atas wajahnya. Sementara tubuh pria itu menggantikan selimut tebal mereka. “Sepertinya kita sudah cukup beristir

  • My Hottest Daddy   Part 47 Berubah

    “Apa kau masih mencintaiku?”Eve terkesiap. Otaknya belum sempat mencerna pertanyaan tersebut saat tiba-tiba Airez menarik lengannya. Menutup jarak di antara bibir mereka. Eve merasakan bibir lembut Airez yang menyapu bibirnya, tepat sebelum pikiran warasnya mengingatkannya di mana mereka saat ini.Eve mendorong dada Airez dan membekap mulutnya. Lalu mengedarkan pandangan ke luar mobil. Beruntung posisi Arez memarkirkan mobil sedikit terhalang oleh pohin, sehingga petugas keamanan yang berjaga di pos tidak melihatnya.“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Airez bukan tak memahami kepanikan Eve. Senyum lembut masih terpasang di kedua sudut bibirnya sekalipun hatinya dibuat kesal oleh reaksi Eve. Wanita itu bukannya tersipu malu dengan ciumannya, malah panik seolah takut tertangkap basah oleh seseorang. Ck, seseorang, Ronan Voss tentu saja. Pria tua yang saat ini berstatus sebagai suami Eve.“Kau masih mencintaiku?” Airez tak menyerah untuk m

  • My Hottest Daddy   Part 46 Berselingkuh Di Depan Mata

    ‘Aku tunggu di bawah.’“Dari Airez?” Edith menarik kepalanya dan tubuhnya kembali tegak di sofa. Tertawa kecil saat Eve langsung menyembunyikan ponsel ke dalam tas.“Mobilku … di rumah.” Eve berpaling. Kenapa dia tidak berani menatap mata Edith? gerutunya dalam hati. “Akhirnya kesalah pahaman di antara kalian terluruskan?” Rain mengambil tempat di seberang meja. Mengangkat gelas sampanyenya. “Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi cinta sejati kalian.”Pandangan Eve langsung tertuju pada Rain, yang mengulurkan gelas sampanye lainnya pada Edith dan dirinya. “Apa yang sedang kita rayakan?”Edith yang sudah mengangkat gelas di udara, menatap Rain. Mempertanyakan hal yang sama.“Setiap hari adalah perayaan bagi kita, kan?”Eve memutar kedua bola matanya. “Kau tahu tentangku sama seperti aku mengetahui semua hal tentang kau dan Edith, Rain.”“Ehm, mungkin untuk … hubunganmu dan Airez yang mulai membaik.”

  • My Hottest Daddy   Part 45 Tujuan Kembali

    “Anak angkat sekaligus anak tiri Adrian Virelle.”“Tampaknya bukan sekadar kakak angkat, apalagi kakak tiri.” Ronan melirik tangannya yang terkepal. Pada buku-buku jarinya yang tampak memutih, begitu kuat menghancurkan lembaran foto yang tak perlu dilihatnya lebih dari sedetik. Ia tahu dengan pasti itu adalah gambar Airez dan Eve yang saling berpelukan. Di lobi rumah sakit dan salah satu café yang ada di sekitar gedung apartemen Bellina, seperti yang dikatakan oleh ALaric. Lebih intim dibandingkan pelukan Eve dengan Rain.Ia pikir Airez dan Dimitri hanyalah segelintir pria yang berada di sekitar Eve karena keserakahan Sintia dan kebodohan seorang Andrian Virelle. Semakin ia menggali tentang Dimitri, semakin banyak fakta-fakta yang membuat terganggu.“Cari tahu hubungan Airez dan istriku. Lebih detail lagi.”Alaric mengangguk, berpapasan dengan Andrew yang baru saja melangkah masuk. Dengan berkas biru tua di tangannya.“Kukira kau men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status