Home / Romansa / My Hottest Daddy / Part 8 Balas Dendam?

Share

Part 8 Balas Dendam?

last update publish date: 2026-09-11 14:21:16

Mata Eve perlahan terbuka, bersama ingatan yang samar-samar mulai jelas di kepalanya. Berita, ibu tirinya yang ingin mengusirnya keluar negeri seperti lima tahun yang lalu. Mulutnya yang dibekap dan …

Eve terlonjak hingga duduk dan napasnya dengan keras. Kepalanya bergerak ke samping dan menemukan dirinya tengah berbaring di sofa panjang. “D-di mana aku?” tanyanya pada satu-satunya pria yang berdiri di samping dinding kaca dengan posisi memunggunginya.

Kedua kakinya melompat turun, mencari satu-satunya pintu yang ada di ruangan luas tersebut. Apakah ia sudah sampai di negara mana pun yang dipilih Sintia secara acak untuk membuangnya?

“Buka pintunya!” teriak Eve menemukan pintu yang dikunci. Tubuhnya berputar mengarah pada pria berjas hitam. Yang kini berputar menghadap gadis itu. Raut Eve seketika membeku. “K-kau?”

Ronan menurunkan ponsel dari telinganya. “Kau sudah siuman?”

“Di mana ini?”

“Masih di bandara. Salah satu VIP Room.”

Eve kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka. Tatapannya berhenti di dinding kaca yang ada di belakang Ronan. Yang kebetulan menghadap langsung landasa pacu. Sebuah pesawat baru saja lepas landas.

“A-aku … bagaimana paman bisa ada di sini?”

“Paman?” Kepala Ronan miring ke samping.

Eve menjilat bibirnya yang mendadak kering. Gugup sekaligus berterima kasih. Entah apa yang terjadi selama dirinya dibuat tak sadarkan diri oleh Sintia, ia tahu Ronan menyelamatkannya dari rencana licik sang ibu tiri. “R-ronan,” ucapnya kemudian dengan kaku.

“Kupikir kau akan melarikan diri dan mengkhianati kesepakatan kita.”

Eve menelan ludahnya. Sekarang Eve memikirkan kedua hal tersebut, dan langsung raib melihat tajamnya tatapan Ronan. “Bagaimana paman … ehm, maksudku. Kau menemukanku?”

“Kau menolak panggilanku dan nomormu tidak bisa dihubungi. Satu-satunya hal yang kupikirkan hanya itu. Jadi aku …” Pandangan Ronan turun ke gelang yang masih melingkari pergelangan Eve.

Eve menunduk. Menatap gelang biru dengan bandul R yang diberikan Ronan di mobil. 

“Kau tidak melepaskannya.”

Kening Eve berkerut. Lalu matanya melebar menyadari alasan Ronan melarangnya untuk melepaskan gelang tersebut. “Kau memasang pelacak di gelang ini?” tanyanya sambil melepaskan gelang tersebut.

“Sangat membantu, bukan?”

“Aku bukan tawananmu.”

Ronan hanya tersenyum tipis ketika Eve melempar gelang tersebut dan mendarat tepat di kakinya. “Oke. Kecuali kau juga ikut andil dalam rencana ibu tirimu?”

“Tidak.”

“Bagus.” 

“A-aku …” Eve menjilat bibirnya yang mendadak kering. Kepalanya berputar ke dinding kaca. Menatap pesawat yang terbang menjauh dan menjadi sebuah titik yang kemudian menghilang. Seperti kepercayaan dirinya saat ini. “K-kenapa kau menghubungiku?” tanyanya dengan suara yang masih kaku. Berharap kesadarannya hilang seperti pertama kali mereka bertemu. 

“Membicarakan rencana pernikahan tentu saja. Apalagi?”

“K-kau serius akan menikah denganku?”

“Kecuali kau memilih tuan Murray?”

Kepala Eve seketika menggeleng dengan cepat. “Aku masih cukup waras.”

Kedua ujung bibir Ronan terangkat, melangkah ke depan Eve yang masih berdiri di depan pintu. “Kau sudah mengemas semua barang-barangmu?”

“Barang-barang?” Eve baru teringat barang-barangnya yang dikemas pelayan dalam koper yang besar.

“Baru saja selesai diurus. Butuh waktu sedikit lama untuk mengambilnya kembali karena sudah masuk bagasi pesawat.”

“Benarkah?” Napas Eve mendadak tertahan dengan jarak yang tak lebih dari setengah meter di antara mereka.

“Atau masih ada yang tertinggal di rumahmu?”

Eve membeku. Matanya berkedip pelan. Dua kali. “M-maksudnya?”

Senyum Ronan tertarik lebih tinggi, menyentuh pundak Eve hingga tubuh gadis itu berbalik ke arah pintu. Membuka dengan kunci yang baru dikeluarkan dari saku celana.

“Kau ingin kembali ke rumah itu?”

Eve kebingungan menjawab pertanyaan tersebut. Sintia dan Zoe semakin nekat melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dengan semua pelayan dan penjaga keamanan yang lebih menuruti semua perintah Sintia dan Zoe dibandingkan dirinya.

“Tentu saja aku harus bertanggung jawab dengan keselamatan istriku. Ah, masih calon istriku.”    

Eve kembali dibuat menahan napas. Kedua kakinya melangkah mengikuti tarikan Ronan di tangannya. Jemari pria itu mengisi sela jemarinya. Kuat dan lembut di saat yang bersamaan.

Beberapa pria berjas hitam bergerak cepat mengarahkan para penumpang ke jalur lain. Kepala Eve sudah setengah berputar untuk mengedarkan pandangannya saat tiba-tiba Ronan memasangkan kaca mata hitam di matanya.

“Kita tidak ingin gosip lainnya, kan?” Ronan memasang kacamata hitamnya sendiri.

Ujung mata Eve sedikit melirik ke ekspresi wajah Ronan yang sulit diartikannya. Kacamata hitam ini tidak cukup menyembunyikan wajah mereka, tetapi melihat Ronan berhasil mengendalikan gosip di luar sana tentang mereka berdua, ia hanya perlu mempercayakan semuanya pada Ronan.

Jeep hitam mengkilap menunggu di tepi jalur penjemputan, yang seharusnya dipenuhi orang-orang berlalu lalang. Ia masih melihat dua anak buah Ronan yang memasukkan tiga koper besar miliknya ke bagasi mobil saat memanjat naik, disusul Ronan di sisi kirinya.

“Bolehkah aku bertanya?” Eve memberanikan diri memecah kesunyian yang menyelimuti keduanya sejak meninggalkan area bandara lima belas menit yang lalu.

“Katakan,” balas Ronan tanpa mengalihkan pandangan ke layar tablet di tangan.

“Kenapa kita harus menikah?”

Ronan berhenti membaca email yang baru dibukanya. Kepalanya menoleh ke samping. “Tiba-tiba ragu, eh?”

Eve ingin mengangguk, tetapi tatapan tajam Ronan membuatnya membeku. “A-aku … hanya ingin tahu. Kenapa aku?”

“Jawabannya sudah jelas. Kita berdua tahu kenapa.”

Eve merapatkan mulutnya. Sejenak keduanya saling pandang dam Eve kembali mengemukakan keraguannya. “T-tapi … tidakkah pernikahan adalah hal yang sangat besar dan sangat serius untuk mememperbaiki situasi saat ini.”

“Kita punya cara lain untuk menyelesaikannya.”

Eve menggigit bibir bagian dalamnya. Mengungkapkan kebenaran hanya akan menguntungkan sisi Ronan. Sama sekali tak menguntungkan dirinya.

“Biasanya aku tidak memberi siapa pun kesempatan untuk memilih. Aku selalu menggunakan caraku. Dan bermain-main dengan orang yang cukup tolol untuk membuat masalah denganku.”

Eve mengaduh karena gigitannya yang terlalu keras. Bau anyir memenuhi mulutnya.

Senyum tersamar di ujung bibir Ronan, menarik ujung dagu Eve hingga terdongak dan mengusapkan sapu tangan biru muda. “Takut?”

Mata Eve berkedip cepat. Menarik wajahnya dari sentuhan Ronan yang sempat membuat gelenyar aneh merayap di seluruh permukaan wajahnya. 

“Atau hanya gugup?” Ada kekehan yang terselip dalam suara Ronan saat memasukkan kembali sapu tangan dengan noda darah Eve ke balik saku jasnya.

Eve memalingkan mukanya. Napasnya masih tertahan di dadanya saat membatin, keduanya.

*** 

Selama lima tahu berkencan dengan Andrew, tak sekalipun Eve tahu di mana kediaman utama keluarga Voss. Ia hanya tahu Andrew tinggal di salah satu apartemen mewah di kawasan elit, setelah tahu kalau Andrew adalah pewaris sah Voss dari Zoe.

Gedung apartemen tersebut menjulang tinggi di langit dengan bentuk dua menara yang berdiri berdampingan. Pandangan Eve menoleh ke gedung sebelah kiri, unit Andrew ada di lantai paling atas. Dan sekarang mobil yang dinaikinya berhenti di halaman depan gedung yang sebelah kanan.

“Untuk sementara, kau akan tinggal di sini?”

“D-di sini?”

“Aku tak mungkin membiarkanmu tinggal satu gedung dengan Andrew sementara aku akan berada 20 km dari tempat ini, kan?”

Kening Eve mengernyit.

Ronan sedikit menelengkan kepalanya ke samping. “Ehm, maksudku, melihat hubungan kalian yang berakhir dengan cara yang tidak baik, ada baiknya kalian menjaga jarak.”

Kernyitan di kening Eve hilang dan mengangguk. 

“Bawa ini, sepertinya ponselmu entah ada di mana.” Ronan mengulurkan ponselnya dan sebuah kartu berwarna navy dan mengkilat. “Lantai paling atas, unit 1. Kau bisa menemukannya dengan mudah menggunakan lift khusus. Dan jangan lupa, besok pagi aku akan menjemputmu.”

“Menjemputku?”

Ronan tak membalas tanda tanya besar di wajah Eve. Mendorong gadis itu melewati pintu putar. “Aku harus pergi.”

Kepala Eve menoleh ke belakang dan melihat Ronan yang berjalan keluar. Alaric menghampiri dan keduanya naik ke dalam mobil.

“Mari, Nona.” Dua pria berjas hitam mendorong masing-masing dua koper besar miliknya. Yang kemudian mengarahkan gadis itu menuju lift khusus.

Eve menggunakan kartu yang diberikan Ronan, pintu lift berwarna emas mengkilat di depannya bergeser membuka saat tiba-tiba tubuhnya ditangkap dari samping dan mendorongnya masuk ke dalam lift.

“Tuan Andrew, Anda tidak …”

“Minggir,” sergah Andrew. Mendorong kaki salah satu anak buah Ronan yang menahan di tengah pintu. “Ada yang ingin kubicarakannya dengannya.”

“Tuan Ronan …”

“Urusanku bukan dengan ayahku, tapi dengannya.” Tatapan tajam Andrew membuat kedua pria berjas hitam tersebut mundur satu langkah dan membiarkan pintu lift tertutup.

“Lepaskan, Andrew.” Eve menyentakkan pengan Andrew di lengannya. “Aku tak ingat masih punya utusan denganmu.”

Kedua rahan Andrew mengeras, menggeram rendah dan mendorong pundak Eve hingga pundaknya membentur dinding kaca dengan keras. “Ini caramu balas dendam padaku?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Hottest Daddy   Part 50 Menghindariku?

    “Aku hanya melewatkan makan malamku dan perutku mual.”“Tetap di tempatmu,” bentak Ronan saat kaki Eve bergerak turun, hendak menyentuh lantai. Tepat di atas pecahan gelas, yang beberapa pecahan sudah mengenai ujung jari kakinya. Eve membeku, menyadari kemarahan yang menguar dari tubuh Ronan. Menggigit bibir bagian dalamnya dan membiarkan Ronan mengangkat kakinya kembali ke atas tempat tidur.Ia hanya membeku di sana, hingga Ronan selesai membersihkan pecahan tersebut sendirian dan pelayan datang membawakan air madu hangat. Juga nampan makan paginya.Eve merasa lebih baik. Menghabiskan sarapannya hingga tak ada apa pun yang tersisa di piring dan gelasnya.“Sepertinya kau sangat kelaparan?”Eve mendongak, memandang Ronan yang berjalan keluar dari ruang ganti dan sudah rapi dengan setelan jas abu gelapnya. “A-aku tidak makan malam,” jawabnya sambil menghindari tatapan menelisik Ronan. “Dan tidak? Apa yang begit

  • My Hottest Daddy   Part 49 Tolong Mamaku

    “Kau bertemu kakakku?” Zoe menghadang Eve yang baru saja turun dari mobil. Senyum semringah membuat ekspresi wanita itu terlihat menggelikan.“Kenapa? Kau belum bertemu kakakmu? Atau kau tidak tahu dia sudah kembali?” Eve sengaja menabrakkan pundaknya hingga Zoe nyaris terjungkal.“Eve!” jerit wanita itu. “Apa tidak cukup kau membuatku kehilangan anakku, hah?”Langkah Eve terhenti. Rasa bersalah terhadap anak dalam kandungan Zoe yang tidak bersalah, seketika raib. Kepalanya masih pusing dan perutnya masih terasa mual. Tiba-tiba tenaganya habis dengan tanpa alasan.Garis dua yang menjadi hasil tes kehamilannya masih terbayang jelas di benaknya. Membuatnya semakin pusing dan emosi yang berusaha ditenangkannya sepanjang perjalanan pulang, kini melonjak dengan tiba-tiba. “Kau bilang apa?”Zoe berhenti di depan Eve. “Tidak cukup kau membunuh anakku?”Tangan Eve melayang, mendaratkan tamparan di pipi Zoe. “Jangan menggunakan

  • My Hottest Daddy   Part 48 Kesetiaan

               Eve tersentak bangun oleh dering ponsel milik Ronan. Bukan miliknya mendengar dari nada deringnya. Matanya membuka perlahan dan kedua lengan yang melilit tubuhnya di balik selimut membuatnya kesulitan bernapas. Tentu saja, nyaris setengah berat badan Ronan menimpanya.Tangannya perlahan mengangkat lengan Ronan dari pinggangnya di balik selimut. Hanya sedetik lengan Ronan terangkat, detik berikutnya lengan tersebut menarik tubuhnya lebih lekat dengan pria itu.“K-kau sudah bangun?”“Hmm.” Wajah Ronan tenggelam di cekungan leher Eve. “Sepertinya kau juga sudah bangun.”Eve menggeliatkan tubuhnya. Ronan sempat melonggarkan lilitannya, hanya untuk membalik tubuh Eve dan merangkak naik ke atas tubuhnya. “R-ronan?”Satu gerakan mengangkat kedua tangan Eve terpaku di atas kepala. Wajah Ronan membayang di atas wajahnya. Sementara tubuh pria itu menggantikan selimut tebal mereka. “Sepertinya kita sudah cukup beristir

  • My Hottest Daddy   Part 47 Berubah

    “Apa kau masih mencintaiku?”Eve terkesiap. Otaknya belum sempat mencerna pertanyaan tersebut saat tiba-tiba Airez menarik lengannya. Menutup jarak di antara bibir mereka. Eve merasakan bibir lembut Airez yang menyapu bibirnya, tepat sebelum pikiran warasnya mengingatkannya di mana mereka saat ini.Eve mendorong dada Airez dan membekap mulutnya. Lalu mengedarkan pandangan ke luar mobil. Beruntung posisi Arez memarkirkan mobil sedikit terhalang oleh pohin, sehingga petugas keamanan yang berjaga di pos tidak melihatnya.“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Airez bukan tak memahami kepanikan Eve. Senyum lembut masih terpasang di kedua sudut bibirnya sekalipun hatinya dibuat kesal oleh reaksi Eve. Wanita itu bukannya tersipu malu dengan ciumannya, malah panik seolah takut tertangkap basah oleh seseorang. Ck, seseorang, Ronan Voss tentu saja. Pria tua yang saat ini berstatus sebagai suami Eve.“Kau masih mencintaiku?” Airez tak menyerah untuk m

  • My Hottest Daddy   Part 46 Berselingkuh Di Depan Mata

    ‘Aku tunggu di bawah.’“Dari Airez?” Edith menarik kepalanya dan tubuhnya kembali tegak di sofa. Tertawa kecil saat Eve langsung menyembunyikan ponsel ke dalam tas.“Mobilku … di rumah.” Eve berpaling. Kenapa dia tidak berani menatap mata Edith? gerutunya dalam hati. “Akhirnya kesalah pahaman di antara kalian terluruskan?” Rain mengambil tempat di seberang meja. Mengangkat gelas sampanyenya. “Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi cinta sejati kalian.”Pandangan Eve langsung tertuju pada Rain, yang mengulurkan gelas sampanye lainnya pada Edith dan dirinya. “Apa yang sedang kita rayakan?”Edith yang sudah mengangkat gelas di udara, menatap Rain. Mempertanyakan hal yang sama.“Setiap hari adalah perayaan bagi kita, kan?”Eve memutar kedua bola matanya. “Kau tahu tentangku sama seperti aku mengetahui semua hal tentang kau dan Edith, Rain.”“Ehm, mungkin untuk … hubunganmu dan Airez yang mulai membaik.”

  • My Hottest Daddy   Part 45 Tujuan Kembali

    “Anak angkat sekaligus anak tiri Adrian Virelle.”“Tampaknya bukan sekadar kakak angkat, apalagi kakak tiri.” Ronan melirik tangannya yang terkepal. Pada buku-buku jarinya yang tampak memutih, begitu kuat menghancurkan lembaran foto yang tak perlu dilihatnya lebih dari sedetik. Ia tahu dengan pasti itu adalah gambar Airez dan Eve yang saling berpelukan. Di lobi rumah sakit dan salah satu café yang ada di sekitar gedung apartemen Bellina, seperti yang dikatakan oleh ALaric. Lebih intim dibandingkan pelukan Eve dengan Rain.Ia pikir Airez dan Dimitri hanyalah segelintir pria yang berada di sekitar Eve karena keserakahan Sintia dan kebodohan seorang Andrian Virelle. Semakin ia menggali tentang Dimitri, semakin banyak fakta-fakta yang membuat terganggu.“Cari tahu hubungan Airez dan istriku. Lebih detail lagi.”Alaric mengangguk, berpapasan dengan Andrew yang baru saja melangkah masuk. Dengan berkas biru tua di tangannya.“Kukira kau men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status