MasukMata Eve perlahan terbuka, bersama ingatan yang samar-samar mulai jelas di kepalanya. Berita, ibu tirinya yang ingin mengusirnya keluar negeri seperti lima tahun yang lalu. Mulutnya yang dibekap dan …
Eve terlonjak hingga duduk dan napasnya dengan keras. Kepalanya bergerak ke samping dan menemukan dirinya tengah berbaring di sofa panjang. “D-di mana aku?” tanyanya pada satu-satunya pria yang berdiri di samping dinding kaca dengan posisi memunggunginya. Kedua kakinya melompat turun, mencari satu-satunya pintu yang ada di ruangan luas tersebut. Apakah ia sudah sampai di negara mana pun yang dipilih Sintia secara acak untuk membuangnya? “Buka pintunya!” teriak Eve menemukan pintu yang dikunci. Tubuhnya berputar mengarah pada pria berjas hitam. Yang kini berputar menghadap gadis itu. Raut Eve seketika membeku. “K-kau?” Ronan menurunkan ponsel dari telinganya. “Kau sudah siuman?” “Di mana ini?” “Masih di bandara. Salah satu VIP Room.” Eve kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka. Tatapannya berhenti di dinding kaca yang ada di belakang Ronan. Yang kebetulan menghadap langsung landasa pacu. Sebuah pesawat baru saja lepas landas. “A-aku … bagaimana paman bisa ada di sini?” “Paman?” Kepala Ronan miring ke samping. Eve menjilat bibirnya yang mendadak kering. Gugup sekaligus berterima kasih. Entah apa yang terjadi selama dirinya dibuat tak sadarkan diri oleh Sintia, ia tahu Ronan menyelamatkannya dari rencana licik sang ibu tiri. “R-ronan,” ucapnya kemudian dengan kaku. “Kupikir kau akan melarikan diri dan mengkhianati kesepakatan kita.” Eve menelan ludahnya. Sekarang Eve memikirkan kedua hal tersebut, dan langsung raib melihat tajamnya tatapan Ronan. “Bagaimana paman … ehm, maksudku. Kau menemukanku?” “Kau menolak panggilanku dan nomormu tidak bisa dihubungi. Satu-satunya hal yang kupikirkan hanya itu. Jadi aku …” Pandangan Ronan turun ke gelang yang masih melingkari pergelangan Eve. Eve menunduk. Menatap gelang biru dengan bandul R yang diberikan Ronan di mobil. “Kau tidak melepaskannya.” Kening Eve berkerut. Lalu matanya melebar menyadari alasan Ronan melarangnya untuk melepaskan gelang tersebut. “Kau memasang pelacak di gelang ini?” tanyanya sambil melepaskan gelang tersebut. “Sangat membantu, bukan?” “Aku bukan tawananmu.” Ronan hanya tersenyum tipis ketika Eve melempar gelang tersebut dan mendarat tepat di kakinya. “Oke. Kecuali kau juga ikut andil dalam rencana ibu tirimu?” “Tidak.” “Bagus.” “A-aku …” Eve menjilat bibirnya yang mendadak kering. Kepalanya berputar ke dinding kaca. Menatap pesawat yang terbang menjauh dan menjadi sebuah titik yang kemudian menghilang. Seperti kepercayaan dirinya saat ini. “K-kenapa kau menghubungiku?” tanyanya dengan suara yang masih kaku. Berharap kesadarannya hilang seperti pertama kali mereka bertemu. “Membicarakan rencana pernikahan tentu saja. Apalagi?” “K-kau serius akan menikah denganku?” “Kecuali kau memilih tuan Murray?” Kepala Eve seketika menggeleng dengan cepat. “Aku masih cukup waras.” Kedua ujung bibir Ronan terangkat, melangkah ke depan Eve yang masih berdiri di depan pintu. “Kau sudah mengemas semua barang-barangmu?” “Barang-barang?” Eve baru teringat barang-barangnya yang dikemas pelayan dalam koper yang besar. “Baru saja selesai diurus. Butuh waktu sedikit lama untuk mengambilnya kembali karena sudah masuk bagasi pesawat.” “Benarkah?” Napas Eve mendadak tertahan dengan jarak yang tak lebih dari setengah meter di antara mereka. “Atau masih ada yang tertinggal di rumahmu?” Eve membeku. Matanya berkedip pelan. Dua kali. “M-maksudnya?” Senyum Ronan tertarik lebih tinggi, menyentuh pundak Eve hingga tubuh gadis itu berbalik ke arah pintu. Membuka dengan kunci yang baru dikeluarkan dari saku celana. “Kau ingin kembali ke rumah itu?” Eve kebingungan menjawab pertanyaan tersebut. Sintia dan Zoe semakin nekat melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dengan semua pelayan dan penjaga keamanan yang lebih menuruti semua perintah Sintia dan Zoe dibandingkan dirinya. “Tentu saja aku harus bertanggung jawab dengan keselamatan istriku. Ah, masih calon istriku.” Eve kembali dibuat menahan napas. Kedua kakinya melangkah mengikuti tarikan Ronan di tangannya. Jemari pria itu mengisi sela jemarinya. Kuat dan lembut di saat yang bersamaan. Beberapa pria berjas hitam bergerak cepat mengarahkan para penumpang ke jalur lain. Kepala Eve sudah setengah berputar untuk mengedarkan pandangannya saat tiba-tiba Ronan memasangkan kaca mata hitam di matanya. “Kita tidak ingin gosip lainnya, kan?” Ronan memasang kacamata hitamnya sendiri. Ujung mata Eve sedikit melirik ke ekspresi wajah Ronan yang sulit diartikannya. Kacamata hitam ini tidak cukup menyembunyikan wajah mereka, tetapi melihat Ronan berhasil mengendalikan gosip di luar sana tentang mereka berdua, ia hanya perlu mempercayakan semuanya pada Ronan. Jeep hitam mengkilap menunggu di tepi jalur penjemputan, yang seharusnya dipenuhi orang-orang berlalu lalang. Ia masih melihat dua anak buah Ronan yang memasukkan tiga koper besar miliknya ke bagasi mobil saat memanjat naik, disusul Ronan di sisi kirinya. “Bolehkah aku bertanya?” Eve memberanikan diri memecah kesunyian yang menyelimuti keduanya sejak meninggalkan area bandara lima belas menit yang lalu. “Katakan,” balas Ronan tanpa mengalihkan pandangan ke layar tablet di tangan. “Kenapa kita harus menikah?” Ronan berhenti membaca email yang baru dibukanya. Kepalanya menoleh ke samping. “Tiba-tiba ragu, eh?” Eve ingin mengangguk, tetapi tatapan tajam Ronan membuatnya membeku. “A-aku … hanya ingin tahu. Kenapa aku?” “Jawabannya sudah jelas. Kita berdua tahu kenapa.” Eve merapatkan mulutnya. Sejenak keduanya saling pandang dam Eve kembali mengemukakan keraguannya. “T-tapi … tidakkah pernikahan adalah hal yang sangat besar dan sangat serius untuk mememperbaiki situasi saat ini.” “Kita punya cara lain untuk menyelesaikannya.” Eve menggigit bibir bagian dalamnya. Mengungkapkan kebenaran hanya akan menguntungkan sisi Ronan. Sama sekali tak menguntungkan dirinya. “Biasanya aku tidak memberi siapa pun kesempatan untuk memilih. Aku selalu menggunakan caraku. Dan bermain-main dengan orang yang cukup tolol untuk membuat masalah denganku.” Eve mengaduh karena gigitannya yang terlalu keras. Bau anyir memenuhi mulutnya. Senyum tersamar di ujung bibir Ronan, menarik ujung dagu Eve hingga terdongak dan mengusapkan sapu tangan biru muda. “Takut?” Mata Eve berkedip cepat. Menarik wajahnya dari sentuhan Ronan yang sempat membuat gelenyar aneh merayap di seluruh permukaan wajahnya. “Atau hanya gugup?” Ada kekehan yang terselip dalam suara Ronan saat memasukkan kembali sapu tangan dengan noda darah Eve ke balik saku jasnya. Eve memalingkan mukanya. Napasnya masih tertahan di dadanya saat membatin, keduanya. *** Selama lima tahu berkencan dengan Andrew, tak sekalipun Eve tahu di mana kediaman utama keluarga Voss. Ia hanya tahu Andrew tinggal di salah satu apartemen mewah di kawasan elit, setelah tahu kalau Andrew adalah pewaris sah Voss dari Zoe. Gedung apartemen tersebut menjulang tinggi di langit dengan bentuk dua menara yang berdiri berdampingan. Pandangan Eve menoleh ke gedung sebelah kiri, unit Andrew ada di lantai paling atas. Dan sekarang mobil yang dinaikinya berhenti di halaman depan gedung yang sebelah kanan. “Untuk sementara, kau akan tinggal di sini?” “D-di sini?” “Aku tak mungkin membiarkanmu tinggal satu gedung dengan Andrew sementara aku akan berada 20 km dari tempat ini, kan?” Kening Eve mengernyit. Ronan sedikit menelengkan kepalanya ke samping. “Ehm, maksudku, melihat hubungan kalian yang berakhir dengan cara yang tidak baik, ada baiknya kalian menjaga jarak.” Kernyitan di kening Eve hilang dan mengangguk. “Bawa ini, sepertinya ponselmu entah ada di mana.” Ronan mengulurkan ponselnya dan sebuah kartu berwarna navy dan mengkilat. “Lantai paling atas, unit 1. Kau bisa menemukannya dengan mudah menggunakan lift khusus. Dan jangan lupa, besok pagi aku akan menjemputmu.” “Menjemputku?” Ronan tak membalas tanda tanya besar di wajah Eve. Mendorong gadis itu melewati pintu putar. “Aku harus pergi.” Kepala Eve menoleh ke belakang dan melihat Ronan yang berjalan keluar. Alaric menghampiri dan keduanya naik ke dalam mobil. “Mari, Nona.” Dua pria berjas hitam mendorong masing-masing dua koper besar miliknya. Yang kemudian mengarahkan gadis itu menuju lift khusus. Eve menggunakan kartu yang diberikan Ronan, pintu lift berwarna emas mengkilat di depannya bergeser membuka saat tiba-tiba tubuhnya ditangkap dari samping dan mendorongnya masuk ke dalam lift. “Tuan Andrew, Anda tidak …” “Minggir,” sergah Andrew. Mendorong kaki salah satu anak buah Ronan yang menahan di tengah pintu. “Ada yang ingin kubicarakannya dengannya.” “Tuan Ronan …” “Urusanku bukan dengan ayahku, tapi dengannya.” Tatapan tajam Andrew membuat kedua pria berjas hitam tersebut mundur satu langkah dan membiarkan pintu lift tertutup. “Lepaskan, Andrew.” Eve menyentakkan pengan Andrew di lengannya. “Aku tak ingat masih punya utusan denganmu.” Kedua rahan Andrew mengeras, menggeram rendah dan mendorong pundak Eve hingga pundaknya membentur dinding kaca dengan keras. “Ini caramu balas dendam padaku?”Pagi Eve belum pernah terasa begitu melegakan sejak dirinya memergoki Andrew di hotel bersama Zoe. Pun kelegaan itu hanya beberapa saat saja, ketika suara dering ponsel di nakas mengalihkan pandangannya dari dinding kaca. “Di bawah?” Eve melompat turun dari ranjang, nyaris terjungkal ke depan karena terserimpet selimut. ‘Kau baik-baik saja?’ “Y-ya.” Eve akhirnya berdiri dengan kedua kakinya dan berjalan menuju lift. “T-tapi kenapa kau ada di bawah?” ‘Kenapa? Aku sudah mengatakan akan menjemputmu besok pagi, kan?’ Mata Eve terpejam dan telapak tangannya menempel di atas kepala. “Y-ya, aku lupa. Aku turun sebentar lagi, beri aku lima menit.” ‘Oke.’ Tepat setelah Ronan menyelesaikan jawaban singkat pria itu, Eve mendengar denting lift dan pintu lift di depannya bergeser terbuka. Tubuh Eve membeku. “Hanya lima menit?” Ronan menurunkan ponselnya. “Bukan lima menit sepuluh detik? Atau dua puluh detik lagi? Aku tak keberatan …” Eve tersadar, mundur ke belakang dan kedua lenganny
“Kau tahu dia ayahku?” “Sekarang aku tahu.” Tangan Eve mendorong dada Andrew menjauh. “Dan balas dendam? Kau sudah tak cukup berarti untuk mendapatkan perhatianku sebesar ini, Andrew.” “Tak cukup berarti kau bilang? Hanya sebatas ini lima tahun hubungan kita bagimu?” Eve tertawa mengejek. “Hanya sebatas ini bagimu hingga kau mencampakkanku dengan cara pengecut seperti ini! Kau tak punya hak untuk mendikteku harus dengan cara apa aku memandang hubungan kita, pengecut.” Andrew sempat terpaku dengan semburan kata-kata Eve yang mengena tepat di dadanya. Kedua tangannya mengepal kuat dan rahangnya masih mengeras. “Dia ayahku.” “Lalu?” “Lalu kau bilang?” Eve membuang mukanya. Ia tahu kesepakatan rencananya dan Ronan akan membuatnya terus berada di sekitar Andrew. “Kau bilang tak akan muncul di hidupku lagi.” Eve mendengkus keras. “Aku bilang, kita tak perlu repot bertatap muka dan berbasa-basi. Seperti sekarang.” Andrew menggeram. “Kita tidak bisa saling mengabaikan kalau kau ben
Mata Eve perlahan terbuka, bersama ingatan yang samar-samar mulai jelas di kepalanya. Berita, ibu tirinya yang ingin mengusirnya keluar negeri seperti lima tahun yang lalu. Mulutnya yang dibekap dan …Eve terlonjak hingga duduk dan napasnya dengan keras. Kepalanya bergerak ke samping dan menemukan dirinya tengah berbaring di sofa panjang. “D-di mana aku?” tanyanya pada satu-satunya pria yang berdiri di samping dinding kaca dengan posisi memunggunginya.Kedua kakinya melompat turun, mencari satu-satunya pintu yang ada di ruangan luas tersebut. Apakah ia sudah sampai di negara mana pun yang dipilih Sintia secara acak untuk membuangnya?“Buka pintunya!” teriak Eve menemukan pintu yang dikunci. Tubuhnya berputar mengarah pada pria berjas hitam. Yang kini berputar menghadap gadis itu. Raut Eve seketika membeku. “K-kau?”Ronan menurunkan ponsel dari telinganya. “Kau sudah siuman?”“Di mana ini?”“Masih di bandara. Salah satu VIP Room.”Eve kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka.
“Lepaskan, Ben. Lepaskan, Josh. Kalian lupa siapa yang paling berhak memerintah di rumah ini, hah? Ayahku yang mempekerjakan kalian!”“Maafkan kami, Nona. Kami hanya …”“Kau benar-benar akan melakukan ini padaku?”“Nona …”Eve membungkuk dan menggigit punggung tangan Ben, tetapi Josh berhasil kembali menangkapnya.“Jangan biarkan dia lepas, Josh!” teriak Sintia yang baru saja keluar dari dalam rumah. Di belakangnya Zoe memerintah pada pelayan untuk mengambil tali.“Tutup mulutnya. Sangat berisik,” perintah Sintia, berhenti di depan Eve. Yang menggeliat berusaha lepas dari cekalan Ben dan Josh. Kedua pria itu mengambil sapu tangan yang diulurkan Sintia dan membekapkannya ke mulut Eve.Setelah mulut dan kedua tangannya terikat, Eve didorong masuk ke dalam jok belakang.“Aku mengikuti dari belakang. Kita ke bandara.” Sintia mengambil kunci mobil yang diulurkan pengawal. “Aku harus memastikan orangku melakukan tugasnya dengan baik.”“Ma, aku ingin ikut.” Zoe menyusul langkah Sintia menuju
“Apa ini, Ayah?” Andrew membanting tablet di tangannya ke meja makan. “Kenapa semua omong kosong ini muncul di pemberitaan? Dan sejak kapan ayah berhubungan dengan Eve? Aku bahkan tidak tahu kalian saling mengenal.”Ronan melirik benda pipih yang kini terkena cipratan dari jus jeruk yang tumpah di samping kirinya. Tak perlu melihat, apalagi membaca pemberitaan yang tengah beredar di luar sana. Semuanya pasti berjalan dengan sempurna setelah dirinya memberikan perintah pada Alaric dan Jack. “Kenapa? Ada masalah?”“Aku tak pernah mempermasalahkan siapa wanita yang berhubungan denganmu, tetapi Eve? Dia tunanganku. Tunangan anakmu.”“Mantan tunangan,” koreksi Ronan. Meletakkan cangkir kopinya dan bersandar pada punggung kursi. Sedikit mengangkat wajah untuk menatap langsung keponakannya tersebut. “Selain itu, kau memang tak berhak mempermasalahkan hubunganku dengan wanita mana pun. Termasuk ibumu.”Mata Andrew berkedip dan ekspresi wajahnya membeku.“Kaupun tak peduli semua orang membicar
“Menyelamatkan reputasi Anda?” Eve mengulang. Masih mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh pria matang di depannya. Gestur tubuhnya tampak santai dan seolah pembicaraan ini memang sudah direncanakan dengan sempurna. “Pernikahan?”Ronan mengeluarkan ponsel dari balik saku jasnya. Menunjukkan video yang sama yang dikirim oleh Rain beberapa saat yang lalu. ‘Gadis binal, yang mengejar pria matang demi keuntungan.’‘Mungkin pengaruh kurang kasih sayang karena ayahnya yang sudah meninggal.’Eve tak ingin membayangkan pemberitaan yang menyebar di luar sana karena video pengakuan Sintia. “Aku tak pernah bermain-main dengan sebuah hubungan. Tetapi mereka mengatakan aku mempermainkan gadis polos -yang sekarang menjadi gadis binal-.”Wajah Eve memerah, genggamannya pada dokumen di pangkuannya mengeras. Sudah bagus identitanya tersembunyi karena wajahnya yang tidak tertangkap kamera, wanita sialan itu sekarang malah memperkenalkannya pada seluruh negeri. “Kurasa kita hanya perlu memberikan







