LOGIN“Lepaskan, Ben. Lepaskan, Josh. Kalian lupa siapa yang paling berhak memerintah di rumah ini, hah? Ayahku yang mempekerjakan kalian!”
“Maafkan kami, Nona. Kami hanya …” “Kau benar-benar akan melakukan ini padaku?” “Nona …” Eve membungkuk dan menggigit punggung tangan Ben, tetapi Josh berhasil kembali menangkapnya. “Jangan biarkan dia lepas, Josh!” teriak Sintia yang baru saja keluar dari dalam rumah. Di belakangnya Zoe memerintah pada pelayan untuk mengambil tali. “Tutup mulutnya. Sangat berisik,” perintah Sintia, berhenti di depan Eve. Yang menggeliat berusaha lepas dari cekalan Ben dan Josh. Kedua pria itu mengambil sapu tangan yang diulurkan Sintia dan membekapkannya ke mulut Eve. Setelah mulut dan kedua tangannya terikat, Eve didorong masuk ke dalam jok belakang. “Aku mengikuti dari belakang. Kita ke bandara.” Sintia mengambil kunci mobil yang diulurkan pengawal. “Aku harus memastikan orangku melakukan tugasnya dengan baik.” “Ma, aku ingin ikut.” Zoe menyusul langkah Sintia menuju mobil yang terparkir di belakang mobil hitam. “Aku juga ingin memastikannya tidak lagi mengganggu rencana pernikahanku dan Andrew.” “Tentu saja, sayang.” Sintia merapikan helaian rambut Zoe yang menempel di pipi sang putri. “Kita akan mendapatkan kepuasan itu bersama-sama.” *** Ronan mengernyit, menatap layar ponselnya. Apakah gadis itu baru saja menolak panggilannya? Dengkusnya dalam hati. Sekali lagi jarinya menyentuh tombol panggil. Hanya untuk mendengarkan suara operator kalau nomor Eve tidak bisa dihubungi. “Yang lengan panjang atau lengan pendek, Tuan?” Ronan menoleh, menatap dua gaun pengantin yang dipajang di tengah ruangan oleh desainer langganannya. Ia tidak terlalu pemilih, dan entah kenapa dirinya merasa perlu membiarkan Eve memilih yang paling disukai gadis itu. Yang panjang atau yang pendek, ia akan membuat Eve memakainya. Sebelum keduanya berhadapan dengan pendeta untuk mengesahkan pernikahan mereka. “Kirim keduanya,” putusnya sambil beranjak dari duduknya. “Juga semua pelengkap yang kau tunjukkan.” “Jack?” panggil Ronan. Beranjak dari duduknya dan Jack langsung mendekat. “Nomornya dimatikan. Pastikan lokasinya sekarang.” “Baik, Tuan.” Jack membuka pintu belakang. “Hubungi Alaric.” Ronan duduk di jok belakang. Sekali lagi mencoba menghubungi nomor Eve untuk ketiga kalinya. Apa gadis itu mencoba melarikan diri? Setelah kesepakatan mereka dibuat? “Aku ingin akses lokasinya dari ponselku,” perintahnya setelah Jack duduk di balik kemudi. “Kita ke rumahnya. Sekarang.” Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di tengah jalanan yang lengang. Tetapi setelah sepuluh menit perjalanan, Ronan berseru, “Berhenti.” Jack menepikan mobil di bahu jalan. Kepalanya berputar ke belakang melihat sang tuan yang tampak tegang. Wajah Ronan sedikit tertunduk, menatap layar ponsel yang menampilkan peta dengan titik merah. Geraman tertahan terdengar saat kepala pria itu terangkat dan melompat turun. Jack langsung berpindah ke kursi penumpang dan Ronan duduk di balik kemudi. “Hubungi Alaric untuk ke bandara dan menungguku di sana. Juga beberapa orang di bandara untuk memastikan Eve Raine Virelle tidak meninggalkan kota ini.” Jack langsung merogoh ponsel di balik saku jas sambil memasang sabuk pengaman. Begitu sang tuan menginjak pedal gas, kecepatannya lebih tinggi dari sebelumnya. Menyelinap di antara kendaraan yang lain dengan lincah. Perjalanan menuju bandara biasanya memakan waktu satu jam lebih, tetapi mereka sampai dalam waktu 30 menit. Alaric berjalan mendekat bersama dua anak buahnya yang lain saat Ronan turun dari mobil. “Di mana dia?” Ronan berjalan ke arah yang ditunjuk Alaric. “Kami sudah mengamankan mereka.” Langkah Ronan terhenti. “Mereka?” “Saya akan menjelaskan.” Kemarahan yang bergemuruh di dada Ronan semakin mendidih. Sejak awal ia memang tak tertarik dengan perhatian yang ditunjukkan Sintia secara berlebihan terhadap dirinya. Seperti wanita-wanita lain yang terlalu menginginkannya. Memujanya dengan cara yang mulai mengganggu. “R-ronan?” Kepucatan menyebar di seluruh permukaan wajah Sintia, bibirnya yang menipis tampak bergetar begitu pintu ruangan dibuka oleh pria berkemeja hitam yang memastikan mereka tidak keluar dari ruangan ini. Semua rencananya sudah berjalan lancar setelah perawat bayarannya menyuntikkan obat bius pada Eve dan membuat bocah itu tak sadarkan diri. Mendudukkannya di kursi roda dan melakukan semua prosesnya. Mulai dari check ini dan mendapatkan boarding pass, bahkan pemeriksaan keamanan berjalan dengan lancar. Sampai ketika ia akan meninggalkan bandara dan dihentikan oleh dua pria tinggi besar yang membawanya dan Zoe ke ruangan khusus di lantai dua. Yang lebih membuatnya terkejut, ternyata dua orang suruhannya juga ada di sana dengan Eve yang berbaring di sofa panjang. Masih belum sadarkan diri. “Seharusnya dia tidak di sini?” Ronan melirik ke arah Eve. “A-aku tidak tahu apa yang terjadi, dia tiba-tiba ingin meninggalkan negara ini.” “Kau sungguh tidak tahu?” Sudut bibir Ronan tertarik. Kepala Sintia menggeleng dengan cepat. “Dia mengemas semua barang-barangnya dan …” “Jangan membuatku bingung dengan omong kosongmu, Sintia.” Jack berjalan masuk dengan seorang wanita berambut pendek. “Dia perawat yang menyuntikkan obat bius.” Wajah wanita itu lebih pucat dari Zoe dan Sintia. Air mata menggenang di kedua kelopak matanya. “Maafkan saya, Tuan Voss. Saya hanya melakukan perintah yang diinginkan oleh Nyonya dan Nona Virelle.” “Apa yang kau katakan?” teriak Sintia. “Kami bahkan tak mengenalmu.” Ronan melirik ke arah Zoe. “Kami? Kau juga?” Zoe pun menggeleng dan menghindari tatapan menelisik Ronan yang membuatnya mengkerut. Ronan hanya terkekeh. “Tapi dia tahu kalian seorang Virelle,” decaknya sambil mengangkat jari telunjuk dan Jack membawa perawat muda itu keluar dari ruangan. “Apakah ini artinya kau tidak merestui hubunganku dan anak tirimu?” Rahang Sintia tampak mengeras, kukunya menancap di telapak tangannya sendiri. “P-paman,” sela Zoe sementara sang ibu berusaha menenangkan kemarahan. “Saya rasa ini bukan cara yang baik untuk menyelesaikan semua masalah ini. Eve, dia sama sekali tidak layak mendapatkan perhatian Anda sebanyak ini. Juga seperti yang Anda ketahui. Dia hanya gadis liar yang tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Gadis binal yang menggoda pria matang hanya untuk …” “Kau mengatakan semua yang ingin kaulihat darinya atau ini hanya prasangka tak berartimu?” Zoe membeku, mulutnya masih menganga. Butuh lebih dari sepuluh detik untuk mencerna kata-kata calon mertuanya tersebut. “T-tidak, Paman. Saya hanya mengatakan kebenarannya.” “Kebenaran?” Salah satu alis Ronan tertarik ke atas. “Saya tidak ingin paman tertipu olehnya.” “Kau meragukan penilaianku?” “Tidak, Ronan. Jangan salah paham mengartikan niat baiknya.” Sintia kembali bersuara. “Kami hanya berpendapat, kalau keputusanmu mungkin salah. Tidak ada niat buruk sama sekali.” “Artinya kau tahu apa yang sedang terjadi.” Mata Sintia berrkedip, suasana mendadak menjadi hening. “A-aku …” “Aku mengerti.” Ronan melangkah maju, berhenti di samping Sintia. “Dia sudah cukup umut untuk menentukan dengan siapa akan menikah. Jadi kami tidak membutuhkan ijin atau persetujuan apa pun darimu. Secara hukum, kau bukan walinya.” “K-kau tidak sungguh-sungguh akan menikahi anak itu, kan?” Sintia menahan lengan Ronan. Ronan melirik ke pegangan Sintia di lengannya, yang langsung dilepaskan begitu menyadari kelancangan tersebut. “Kita hanya akan menjadi orang tua dari pengantin yang akan menikah. Kurasa itu tidak memberimu hak untuk ikut campur masalah pribadiku.” Sintia membeku, wajahnya tidak bisa lebih pucat lagi. “Atau kau ingin rencana pernikahan anak kita hanya sekadar wacana …” “Tidak, Paman.” Zoe memotong kalimat Ronan dan maju ke depan. Memegang lengan Ronan di tempat yang sebelumnya ditahan oleh Sintia. “Saya sangat mencintai Andrew, saya tidak ingin kehilangan dia.” “Bagus.” Ronan menarik lengannya. “Sekarang kalian bisa pulang dan melanjutkan rencana konsep pernikahan yang kalian inginkan. Sementara aku yang mengurus Eve.” Sintia dan Zoe masih membeku di tempatnya. Hingga kemudian Jack membuka pintu dan Alaric mengarahkan keduanya keluar dari ruangan tersebut. “Apa yang harus kita lakukan, Ma?” Sesekali Zoe menoleh ke pintu kaca buram yang semakin jauh di belakang mereka. Kedua lengannya memegang lengan Sintia. “Kalau Eve benar-benar akan menikah dengan ayahnya Andrew, apakah artinya dia akan menjadi … ibu mertuaku? Ibu tirinya Andrew? Tidak, Ma. Ini tidak boleh terjadi. Mamalah yang seharusnya menikah dengan ayahnya Andrew.” “Diamlah, Zoe.” Langkah Sintia terhenti. Wajahnya masih merah padam dan rahangnya mengeras. Kamarahan masih berapi-api di kedua matanya. “Mama akan memikirkan langkah selanjutnya. Tetapi kita harus bicara dengan Andrew dulu.” Baru saja Sintia menyelesaikan kalimatnya, ponsel Zoe berdering. “Dari Andrew.” “Tepat sekali.”Pagi Eve belum pernah terasa begitu melegakan sejak dirinya memergoki Andrew di hotel bersama Zoe. Pun kelegaan itu hanya beberapa saat saja, ketika suara dering ponsel di nakas mengalihkan pandangannya dari dinding kaca. “Di bawah?” Eve melompat turun dari ranjang, nyaris terjungkal ke depan karena terserimpet selimut. ‘Kau baik-baik saja?’ “Y-ya.” Eve akhirnya berdiri dengan kedua kakinya dan berjalan menuju lift. “T-tapi kenapa kau ada di bawah?” ‘Kenapa? Aku sudah mengatakan akan menjemputmu besok pagi, kan?’ Mata Eve terpejam dan telapak tangannya menempel di atas kepala. “Y-ya, aku lupa. Aku turun sebentar lagi, beri aku lima menit.” ‘Oke.’ Tepat setelah Ronan menyelesaikan jawaban singkat pria itu, Eve mendengar denting lift dan pintu lift di depannya bergeser terbuka. Tubuh Eve membeku. “Hanya lima menit?” Ronan menurunkan ponselnya. “Bukan lima menit sepuluh detik? Atau dua puluh detik lagi? Aku tak keberatan …” Eve tersadar, mundur ke belakang dan kedua lenganny
“Kau tahu dia ayahku?” “Sekarang aku tahu.” Tangan Eve mendorong dada Andrew menjauh. “Dan balas dendam? Kau sudah tak cukup berarti untuk mendapatkan perhatianku sebesar ini, Andrew.” “Tak cukup berarti kau bilang? Hanya sebatas ini lima tahun hubungan kita bagimu?” Eve tertawa mengejek. “Hanya sebatas ini bagimu hingga kau mencampakkanku dengan cara pengecut seperti ini! Kau tak punya hak untuk mendikteku harus dengan cara apa aku memandang hubungan kita, pengecut.” Andrew sempat terpaku dengan semburan kata-kata Eve yang mengena tepat di dadanya. Kedua tangannya mengepal kuat dan rahangnya masih mengeras. “Dia ayahku.” “Lalu?” “Lalu kau bilang?” Eve membuang mukanya. Ia tahu kesepakatan rencananya dan Ronan akan membuatnya terus berada di sekitar Andrew. “Kau bilang tak akan muncul di hidupku lagi.” Eve mendengkus keras. “Aku bilang, kita tak perlu repot bertatap muka dan berbasa-basi. Seperti sekarang.” Andrew menggeram. “Kita tidak bisa saling mengabaikan kalau kau ben
Mata Eve perlahan terbuka, bersama ingatan yang samar-samar mulai jelas di kepalanya. Berita, ibu tirinya yang ingin mengusirnya keluar negeri seperti lima tahun yang lalu. Mulutnya yang dibekap dan …Eve terlonjak hingga duduk dan napasnya dengan keras. Kepalanya bergerak ke samping dan menemukan dirinya tengah berbaring di sofa panjang. “D-di mana aku?” tanyanya pada satu-satunya pria yang berdiri di samping dinding kaca dengan posisi memunggunginya.Kedua kakinya melompat turun, mencari satu-satunya pintu yang ada di ruangan luas tersebut. Apakah ia sudah sampai di negara mana pun yang dipilih Sintia secara acak untuk membuangnya?“Buka pintunya!” teriak Eve menemukan pintu yang dikunci. Tubuhnya berputar mengarah pada pria berjas hitam. Yang kini berputar menghadap gadis itu. Raut Eve seketika membeku. “K-kau?”Ronan menurunkan ponsel dari telinganya. “Kau sudah siuman?”“Di mana ini?”“Masih di bandara. Salah satu VIP Room.”Eve kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka.
“Lepaskan, Ben. Lepaskan, Josh. Kalian lupa siapa yang paling berhak memerintah di rumah ini, hah? Ayahku yang mempekerjakan kalian!”“Maafkan kami, Nona. Kami hanya …”“Kau benar-benar akan melakukan ini padaku?”“Nona …”Eve membungkuk dan menggigit punggung tangan Ben, tetapi Josh berhasil kembali menangkapnya.“Jangan biarkan dia lepas, Josh!” teriak Sintia yang baru saja keluar dari dalam rumah. Di belakangnya Zoe memerintah pada pelayan untuk mengambil tali.“Tutup mulutnya. Sangat berisik,” perintah Sintia, berhenti di depan Eve. Yang menggeliat berusaha lepas dari cekalan Ben dan Josh. Kedua pria itu mengambil sapu tangan yang diulurkan Sintia dan membekapkannya ke mulut Eve.Setelah mulut dan kedua tangannya terikat, Eve didorong masuk ke dalam jok belakang.“Aku mengikuti dari belakang. Kita ke bandara.” Sintia mengambil kunci mobil yang diulurkan pengawal. “Aku harus memastikan orangku melakukan tugasnya dengan baik.”“Ma, aku ingin ikut.” Zoe menyusul langkah Sintia menuju
“Apa ini, Ayah?” Andrew membanting tablet di tangannya ke meja makan. “Kenapa semua omong kosong ini muncul di pemberitaan? Dan sejak kapan ayah berhubungan dengan Eve? Aku bahkan tidak tahu kalian saling mengenal.”Ronan melirik benda pipih yang kini terkena cipratan dari jus jeruk yang tumpah di samping kirinya. Tak perlu melihat, apalagi membaca pemberitaan yang tengah beredar di luar sana. Semuanya pasti berjalan dengan sempurna setelah dirinya memberikan perintah pada Alaric dan Jack. “Kenapa? Ada masalah?”“Aku tak pernah mempermasalahkan siapa wanita yang berhubungan denganmu, tetapi Eve? Dia tunanganku. Tunangan anakmu.”“Mantan tunangan,” koreksi Ronan. Meletakkan cangkir kopinya dan bersandar pada punggung kursi. Sedikit mengangkat wajah untuk menatap langsung keponakannya tersebut. “Selain itu, kau memang tak berhak mempermasalahkan hubunganku dengan wanita mana pun. Termasuk ibumu.”Mata Andrew berkedip dan ekspresi wajahnya membeku.“Kaupun tak peduli semua orang membicar
“Menyelamatkan reputasi Anda?” Eve mengulang. Masih mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh pria matang di depannya. Gestur tubuhnya tampak santai dan seolah pembicaraan ini memang sudah direncanakan dengan sempurna. “Pernikahan?”Ronan mengeluarkan ponsel dari balik saku jasnya. Menunjukkan video yang sama yang dikirim oleh Rain beberapa saat yang lalu. ‘Gadis binal, yang mengejar pria matang demi keuntungan.’‘Mungkin pengaruh kurang kasih sayang karena ayahnya yang sudah meninggal.’Eve tak ingin membayangkan pemberitaan yang menyebar di luar sana karena video pengakuan Sintia. “Aku tak pernah bermain-main dengan sebuah hubungan. Tetapi mereka mengatakan aku mempermainkan gadis polos -yang sekarang menjadi gadis binal-.”Wajah Eve memerah, genggamannya pada dokumen di pangkuannya mengeras. Sudah bagus identitanya tersembunyi karena wajahnya yang tidak tertangkap kamera, wanita sialan itu sekarang malah memperkenalkannya pada seluruh negeri. “Kurasa kita hanya perlu memberikan







