Home / Romansa / My Hottest Daddy / Part 7 Terselamatkan

Share

Part 7 Terselamatkan

last update publish date: 2026-09-11 14:20:26

“Lepaskan, Ben. Lepaskan, Josh. Kalian lupa siapa yang paling berhak memerintah di rumah ini, hah? Ayahku yang mempekerjakan kalian!”

“Maafkan kami, Nona. Kami hanya …”

“Kau benar-benar akan melakukan ini padaku?”

“Nona …”

Eve membungkuk dan menggigit punggung tangan Ben, tetapi Josh berhasil kembali menangkapnya.

“Jangan biarkan dia lepas, Josh!” teriak Sintia yang baru saja keluar dari dalam rumah. Di belakangnya Zoe memerintah pada pelayan untuk mengambil tali.

“Tutup mulutnya. Sangat berisik,” perintah Sintia, berhenti di depan Eve. Yang menggeliat berusaha lepas dari cekalan Ben dan Josh. Kedua pria itu mengambil sapu tangan yang diulurkan Sintia dan membekapkannya ke mulut Eve.

Setelah mulut dan kedua tangannya terikat, Eve didorong masuk ke dalam jok belakang.

“Aku mengikuti dari belakang. Kita ke bandara.” Sintia mengambil kunci mobil yang diulurkan pengawal. “Aku harus memastikan orangku melakukan tugasnya dengan baik.”

“Ma, aku ingin ikut.” Zoe menyusul langkah Sintia menuju mobil yang terparkir di belakang mobil hitam.  “Aku juga ingin memastikannya tidak lagi mengganggu rencana pernikahanku dan Andrew.”

“Tentu saja, sayang.” Sintia merapikan helaian rambut Zoe yang menempel di pipi sang putri. “Kita akan mendapatkan kepuasan itu bersama-sama.”

*** 

Ronan mengernyit, menatap layar ponselnya. Apakah gadis itu baru saja menolak panggilannya? Dengkusnya dalam hati. Sekali lagi jarinya menyentuh tombol panggil. Hanya untuk mendengarkan suara operator kalau nomor Eve tidak bisa dihubungi.

“Yang lengan panjang atau lengan pendek, Tuan?”

Ronan menoleh, menatap dua gaun pengantin yang dipajang di tengah ruangan oleh desainer langganannya. Ia tidak terlalu pemilih, dan entah kenapa dirinya merasa perlu membiarkan Eve memilih yang paling disukai gadis itu.

Yang panjang atau yang pendek, ia akan membuat Eve memakainya. Sebelum keduanya berhadapan dengan pendeta untuk mengesahkan pernikahan mereka. “Kirim keduanya,” putusnya sambil beranjak dari duduknya. “Juga semua pelengkap yang kau tunjukkan.”

“Jack?” panggil Ronan. Beranjak dari duduknya dan Jack langsung mendekat. “Nomornya dimatikan. Pastikan lokasinya sekarang.”

“Baik, Tuan.” Jack membuka pintu belakang.

“Hubungi Alaric.” Ronan duduk di jok belakang. Sekali lagi mencoba menghubungi nomor Eve untuk ketiga kalinya. Apa gadis itu mencoba melarikan diri? Setelah kesepakatan mereka dibuat?

“Aku ingin akses lokasinya dari ponselku,” perintahnya setelah Jack duduk di balik kemudi. “Kita ke rumahnya. Sekarang.”

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di tengah jalanan yang lengang. Tetapi setelah sepuluh menit perjalanan, Ronan berseru, “Berhenti.”

Jack menepikan mobil di bahu jalan. Kepalanya berputar ke belakang melihat sang tuan yang tampak tegang.

Wajah Ronan sedikit tertunduk, menatap layar ponsel yang menampilkan peta dengan titik merah. Geraman tertahan terdengar saat kepala pria itu terangkat dan melompat turun. Jack langsung berpindah ke kursi penumpang dan Ronan duduk di balik kemudi.

“Hubungi Alaric untuk ke bandara dan menungguku di sana. Juga beberapa orang di bandara untuk memastikan Eve Raine Virelle tidak meninggalkan kota ini.”

Jack langsung merogoh ponsel di balik saku jas sambil memasang sabuk pengaman. Begitu sang tuan menginjak pedal gas, kecepatannya lebih tinggi dari sebelumnya. Menyelinap di antara kendaraan yang lain dengan lincah.

Perjalanan menuju bandara biasanya memakan waktu satu jam lebih, tetapi mereka sampai dalam waktu 30 menit. 

Alaric berjalan mendekat bersama dua anak buahnya yang lain saat Ronan turun dari mobil.

“Di mana dia?” Ronan berjalan ke arah yang ditunjuk Alaric.

“Kami sudah mengamankan mereka.”

Langkah Ronan terhenti. “Mereka?”

“Saya akan menjelaskan.”

Kemarahan yang bergemuruh di dada Ronan semakin mendidih. Sejak awal ia memang tak tertarik dengan perhatian yang ditunjukkan Sintia secara berlebihan terhadap dirinya. Seperti wanita-wanita lain yang terlalu menginginkannya. Memujanya dengan cara yang mulai mengganggu.

“R-ronan?” Kepucatan menyebar di seluruh permukaan wajah Sintia, bibirnya yang menipis tampak bergetar begitu pintu ruangan dibuka oleh pria berkemeja hitam yang memastikan mereka tidak keluar dari ruangan ini.

Semua rencananya sudah berjalan lancar setelah perawat bayarannya menyuntikkan obat bius pada Eve dan membuat bocah itu tak sadarkan diri. Mendudukkannya di kursi roda dan melakukan semua prosesnya. Mulai dari check ini dan mendapatkan boarding pass, bahkan pemeriksaan keamanan berjalan dengan lancar. Sampai ketika ia akan meninggalkan bandara dan dihentikan oleh dua pria tinggi besar yang membawanya dan Zoe ke ruangan khusus di lantai dua. Yang lebih membuatnya terkejut, ternyata dua orang suruhannya juga ada di sana dengan Eve yang berbaring di sofa panjang. Masih belum sadarkan diri.

“Seharusnya dia tidak di sini?” Ronan melirik ke arah Eve.

“A-aku tidak tahu apa yang terjadi, dia tiba-tiba ingin meninggalkan negara ini.”

“Kau sungguh tidak tahu?” Sudut bibir Ronan tertarik.

Kepala Sintia menggeleng dengan cepat. “Dia mengemas semua barang-barangnya dan …”

“Jangan membuatku bingung dengan omong kosongmu, Sintia.”

Jack berjalan masuk dengan seorang wanita berambut pendek. “Dia perawat yang menyuntikkan obat bius.”

Wajah wanita itu lebih pucat dari Zoe dan Sintia. Air mata menggenang di kedua kelopak matanya. “Maafkan saya, Tuan Voss. Saya hanya melakukan perintah yang diinginkan oleh Nyonya dan Nona Virelle.”

“Apa yang kau katakan?” teriak Sintia. “Kami bahkan tak mengenalmu.”

Ronan melirik ke arah Zoe. “Kami? Kau juga?”

Zoe pun menggeleng dan menghindari tatapan menelisik Ronan yang membuatnya mengkerut.

Ronan hanya terkekeh. “Tapi dia tahu kalian seorang Virelle,” decaknya sambil mengangkat jari telunjuk dan Jack membawa perawat muda itu keluar dari ruangan.

“Apakah ini artinya kau tidak merestui hubunganku dan anak tirimu?”

Rahang Sintia tampak mengeras, kukunya menancap di telapak tangannya sendiri. 

“P-paman,” sela Zoe sementara sang ibu berusaha menenangkan kemarahan. “Saya rasa ini bukan cara yang baik untuk menyelesaikan semua masalah ini. Eve, dia sama sekali tidak layak mendapatkan perhatian Anda sebanyak ini. Juga seperti yang Anda ketahui. Dia hanya gadis liar yang tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Gadis binal yang menggoda pria matang hanya untuk …”

“Kau mengatakan semua yang ingin kaulihat darinya atau ini hanya prasangka tak berartimu?”

Zoe membeku, mulutnya masih menganga. Butuh lebih dari sepuluh detik untuk mencerna kata-kata calon mertuanya tersebut. “T-tidak, Paman. Saya hanya mengatakan kebenarannya.”

“Kebenaran?” Salah satu alis Ronan tertarik ke atas.

“Saya tidak ingin paman tertipu olehnya.”

“Kau meragukan penilaianku?”

“Tidak, Ronan. Jangan salah paham mengartikan niat baiknya.” Sintia kembali bersuara. “Kami hanya berpendapat, kalau keputusanmu mungkin salah. Tidak ada niat buruk sama sekali.”

“Artinya kau tahu apa yang sedang terjadi.”

Mata Sintia berrkedip, suasana mendadak menjadi hening. “A-aku …”

“Aku mengerti.” Ronan melangkah maju, berhenti di samping Sintia. “Dia sudah cukup umut untuk menentukan dengan siapa akan menikah. Jadi kami tidak membutuhkan ijin atau persetujuan apa pun darimu. Secara hukum, kau bukan walinya.”

“K-kau tidak sungguh-sungguh akan menikahi anak itu, kan?” Sintia menahan lengan Ronan.

Ronan melirik ke pegangan Sintia di lengannya, yang langsung dilepaskan begitu menyadari kelancangan tersebut. “Kita hanya akan menjadi orang tua dari pengantin yang akan menikah. Kurasa itu tidak memberimu hak untuk ikut campur masalah pribadiku.”

Sintia membeku, wajahnya tidak bisa lebih pucat lagi.

“Atau kau ingin rencana pernikahan anak kita hanya sekadar wacana …”

“Tidak, Paman.” Zoe memotong kalimat Ronan dan maju ke depan. Memegang lengan Ronan di tempat yang sebelumnya ditahan oleh Sintia. “Saya sangat mencintai Andrew, saya tidak ingin kehilangan dia.”

“Bagus.” Ronan menarik lengannya. “Sekarang kalian bisa pulang dan melanjutkan rencana konsep pernikahan yang kalian inginkan. Sementara aku yang mengurus Eve.”

Sintia dan Zoe masih membeku di tempatnya. Hingga kemudian Jack membuka pintu dan Alaric mengarahkan keduanya keluar dari ruangan tersebut.

“Apa yang harus kita lakukan, Ma?” Sesekali Zoe menoleh ke pintu kaca buram yang semakin jauh di belakang mereka. Kedua lengannya memegang lengan Sintia. “Kalau Eve benar-benar akan menikah dengan ayahnya Andrew, apakah artinya dia akan menjadi … ibu mertuaku? Ibu tirinya Andrew? Tidak, Ma. Ini tidak boleh terjadi. Mamalah yang seharusnya menikah dengan ayahnya Andrew.”

“Diamlah, Zoe.” Langkah Sintia terhenti. Wajahnya masih merah padam dan rahangnya mengeras. Kamarahan masih berapi-api di kedua matanya. “Mama akan memikirkan langkah selanjutnya. Tetapi kita harus bicara dengan Andrew dulu.”

Baru saja Sintia menyelesaikan kalimatnya, ponsel Zoe berdering. “Dari Andrew.”

“Tepat sekali.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Hottest Daddy   Part 50 Menghindariku?

    “Aku hanya melewatkan makan malamku dan perutku mual.”“Tetap di tempatmu,” bentak Ronan saat kaki Eve bergerak turun, hendak menyentuh lantai. Tepat di atas pecahan gelas, yang beberapa pecahan sudah mengenai ujung jari kakinya. Eve membeku, menyadari kemarahan yang menguar dari tubuh Ronan. Menggigit bibir bagian dalamnya dan membiarkan Ronan mengangkat kakinya kembali ke atas tempat tidur.Ia hanya membeku di sana, hingga Ronan selesai membersihkan pecahan tersebut sendirian dan pelayan datang membawakan air madu hangat. Juga nampan makan paginya.Eve merasa lebih baik. Menghabiskan sarapannya hingga tak ada apa pun yang tersisa di piring dan gelasnya.“Sepertinya kau sangat kelaparan?”Eve mendongak, memandang Ronan yang berjalan keluar dari ruang ganti dan sudah rapi dengan setelan jas abu gelapnya. “A-aku tidak makan malam,” jawabnya sambil menghindari tatapan menelisik Ronan. “Dan tidak? Apa yang begit

  • My Hottest Daddy   Part 49 Tolong Mamaku

    “Kau bertemu kakakku?” Zoe menghadang Eve yang baru saja turun dari mobil. Senyum semringah membuat ekspresi wanita itu terlihat menggelikan.“Kenapa? Kau belum bertemu kakakmu? Atau kau tidak tahu dia sudah kembali?” Eve sengaja menabrakkan pundaknya hingga Zoe nyaris terjungkal.“Eve!” jerit wanita itu. “Apa tidak cukup kau membuatku kehilangan anakku, hah?”Langkah Eve terhenti. Rasa bersalah terhadap anak dalam kandungan Zoe yang tidak bersalah, seketika raib. Kepalanya masih pusing dan perutnya masih terasa mual. Tiba-tiba tenaganya habis dengan tanpa alasan.Garis dua yang menjadi hasil tes kehamilannya masih terbayang jelas di benaknya. Membuatnya semakin pusing dan emosi yang berusaha ditenangkannya sepanjang perjalanan pulang, kini melonjak dengan tiba-tiba. “Kau bilang apa?”Zoe berhenti di depan Eve. “Tidak cukup kau membunuh anakku?”Tangan Eve melayang, mendaratkan tamparan di pipi Zoe. “Jangan menggunakan

  • My Hottest Daddy   Part 48 Kesetiaan

               Eve tersentak bangun oleh dering ponsel milik Ronan. Bukan miliknya mendengar dari nada deringnya. Matanya membuka perlahan dan kedua lengan yang melilit tubuhnya di balik selimut membuatnya kesulitan bernapas. Tentu saja, nyaris setengah berat badan Ronan menimpanya.Tangannya perlahan mengangkat lengan Ronan dari pinggangnya di balik selimut. Hanya sedetik lengan Ronan terangkat, detik berikutnya lengan tersebut menarik tubuhnya lebih lekat dengan pria itu.“K-kau sudah bangun?”“Hmm.” Wajah Ronan tenggelam di cekungan leher Eve. “Sepertinya kau juga sudah bangun.”Eve menggeliatkan tubuhnya. Ronan sempat melonggarkan lilitannya, hanya untuk membalik tubuh Eve dan merangkak naik ke atas tubuhnya. “R-ronan?”Satu gerakan mengangkat kedua tangan Eve terpaku di atas kepala. Wajah Ronan membayang di atas wajahnya. Sementara tubuh pria itu menggantikan selimut tebal mereka. “Sepertinya kita sudah cukup beristir

  • My Hottest Daddy   Part 47 Berubah

    “Apa kau masih mencintaiku?”Eve terkesiap. Otaknya belum sempat mencerna pertanyaan tersebut saat tiba-tiba Airez menarik lengannya. Menutup jarak di antara bibir mereka. Eve merasakan bibir lembut Airez yang menyapu bibirnya, tepat sebelum pikiran warasnya mengingatkannya di mana mereka saat ini.Eve mendorong dada Airez dan membekap mulutnya. Lalu mengedarkan pandangan ke luar mobil. Beruntung posisi Arez memarkirkan mobil sedikit terhalang oleh pohin, sehingga petugas keamanan yang berjaga di pos tidak melihatnya.“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Airez bukan tak memahami kepanikan Eve. Senyum lembut masih terpasang di kedua sudut bibirnya sekalipun hatinya dibuat kesal oleh reaksi Eve. Wanita itu bukannya tersipu malu dengan ciumannya, malah panik seolah takut tertangkap basah oleh seseorang. Ck, seseorang, Ronan Voss tentu saja. Pria tua yang saat ini berstatus sebagai suami Eve.“Kau masih mencintaiku?” Airez tak menyerah untuk m

  • My Hottest Daddy   Part 46 Berselingkuh Di Depan Mata

    ‘Aku tunggu di bawah.’“Dari Airez?” Edith menarik kepalanya dan tubuhnya kembali tegak di sofa. Tertawa kecil saat Eve langsung menyembunyikan ponsel ke dalam tas.“Mobilku … di rumah.” Eve berpaling. Kenapa dia tidak berani menatap mata Edith? gerutunya dalam hati. “Akhirnya kesalah pahaman di antara kalian terluruskan?” Rain mengambil tempat di seberang meja. Mengangkat gelas sampanyenya. “Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi cinta sejati kalian.”Pandangan Eve langsung tertuju pada Rain, yang mengulurkan gelas sampanye lainnya pada Edith dan dirinya. “Apa yang sedang kita rayakan?”Edith yang sudah mengangkat gelas di udara, menatap Rain. Mempertanyakan hal yang sama.“Setiap hari adalah perayaan bagi kita, kan?”Eve memutar kedua bola matanya. “Kau tahu tentangku sama seperti aku mengetahui semua hal tentang kau dan Edith, Rain.”“Ehm, mungkin untuk … hubunganmu dan Airez yang mulai membaik.”

  • My Hottest Daddy   Part 45 Tujuan Kembali

    “Anak angkat sekaligus anak tiri Adrian Virelle.”“Tampaknya bukan sekadar kakak angkat, apalagi kakak tiri.” Ronan melirik tangannya yang terkepal. Pada buku-buku jarinya yang tampak memutih, begitu kuat menghancurkan lembaran foto yang tak perlu dilihatnya lebih dari sedetik. Ia tahu dengan pasti itu adalah gambar Airez dan Eve yang saling berpelukan. Di lobi rumah sakit dan salah satu café yang ada di sekitar gedung apartemen Bellina, seperti yang dikatakan oleh ALaric. Lebih intim dibandingkan pelukan Eve dengan Rain.Ia pikir Airez dan Dimitri hanyalah segelintir pria yang berada di sekitar Eve karena keserakahan Sintia dan kebodohan seorang Andrian Virelle. Semakin ia menggali tentang Dimitri, semakin banyak fakta-fakta yang membuat terganggu.“Cari tahu hubungan Airez dan istriku. Lebih detail lagi.”Alaric mengangguk, berpapasan dengan Andrew yang baru saja melangkah masuk. Dengan berkas biru tua di tangannya.“Kukira kau men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status