แชร์

Bab 7 Keberadaan Devan

ผู้เขียน: OptimisNa_12
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-31 20:12:10

Bab 7 Keberadaan Devan

Tiba-tiba Aland terkekeh kecil. Ia heran sekaligus merasa prihatinkan akan dirinya sendiri yang ternyata cukup lama melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Hingga akhirnya di titik ini, ia kembali membentangkan sajadah. Pemandangan Rania yang khusyuk dalam doanya semalam ternyata menjadi tamparan lembut yang menyadarkannya, bahwa ia telah terlalu jauh melangkah tanpa melibatkan Sang Pencipta.

Hingga tiba-tiba, ponsel Aland berdering. Panggilan dari Arga masuk.

"Saya sudah menemukan keberadaan Devan dan berhasil mengajaknya bertemu, Pak," lapor Arga dari seberang telepon.

"Kerja bagus," balas Aland, lalu menutup panggilan.

***

Kini, sinar matahari benar-benar memunculkan keberadaannya, menyelinap masuk sampai ke dalam kamar. Di atas ranjang, Rania terduduk lesu karena tak tahu harus berbuat apa.

"Hari ini aku mau dibawa ke mana ya?" pikir Rania.

"Umumnya, orang kalau bulan madu kan jalan-jalan, senang-senang, tapi pernikahanku?" Rania menghela napas pasrah. Ia betul-betul bingung karena keadaannya sekarang. Ia bahkan berpikir akan lebih baik berada di rumah daripada di tempat yang terlihat seperti surga dunia namun hanya memberinya kehampaan.

Sementara itu, Aland yang masih berada di balkon, tengah memejamkan matanya seraya menikmati sinar matahari yang menembus ke dalam tubuhnya.

"Benar-benar bulan madu yang tidak diinginkan," batin Aland, yang juga merasa bingung harus berbuat apa di keadaannya sekarang ini.

***

Di tempat lain, Devan yang sebelumnya bertemu dengan seseorang di cafe, akhirnya ikut pulang ke rumah orang tersebut dan menginap di sana.

Harry. Dialah seseorang yang menemui Devan di cafe, yang juga merupakan teman dekat dari Devan.

"Lo bisa tenang nggak, sih? Dari kemarin Lo tuh kayak orang gila," cetus Harry. Ia tiba-tiba muncul di hadapan Devan yang terduduk di satu sofa.

"Gimana gue bisa tenang coba? Kalau orang yang ngechat gue itu beneran punya rekaman CCTV-nya, tamat riwayat gue!" balas Devan. Ia benar-benar terlihat gusar.

Harry terdiam. Menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia itu tahu betul permasalahan apa yang tengah dialami teman dekatnya itu. Meski demikian, Harry mencoba tetap bersikap santai seakan merasa semua akan baik-baik saja.

"Ya terus gimana? Lo mau turutin kemauan orang itu? Yang padahal belum tentu bener," ujar Harry.

Devan beranjak mendekati Harry. "Come on, Bro! Gue nggak ada pilihan selain turutin kemauan dia. Lo kan tau sendiri, di hotel itu ada CCTV-nya. Jadi nggak mungkin orang itu bohong . Iya, kan?"

Harry kembali terdiam sejenak seraya menatap Devan. Ia lalu mengangguk ragu meski logikanya percaya dengan apa yang dikatakan temannya itu. "Ya udah, apapun yang Lo lakuin, gue bakal dukung," kata Harry akhirnya.

Devan berjalan sedikit menjauhi temannya itu. Dengan tatapan tajam ke depan, tangan mengepal, ia berjanji dalam hati akan membuat orang yang sudah mengirimkan pesan padanya itu menyesal.

"Lihat aja, gue bakal dapetin itu rekaman tanpa mengeluarkan uang sepeserpun." Devan menatap tajam ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia teringat kembali dengan kejadian tadi malam. Ia terpaksa menuruti keinginan dari seorang anonim yang mengaku memiliki rekaman CCTV saat dirinya membawa Rania ke hotel.

***

Kembali ke Rania. Ia yang masih terduduk di atas kasur, tiba-tiba mendapatkan pesan dari seseorang. Saat membukanya, seketika mata wanita berambut panjang itu terbuka lebar. Perasaannya juga mendadak senang lantaran apa yang dilakukannya membuahkan hasil sesuai ekspektasinya. Hanya saja ....

"Tapi gimana caranya biar aku nggak ketahuan ya?" pikir Rania tiba-tiba.

Rania masih bergeming di atas ranjang. Meletakkan ponselnya ke sisi kanannya. Ia lalu menarik kedua lutut ke dada dan menumpukan dagu di sana, membiarkan rambut panjangnya menjuntai menutupi sebagian wajahnya yang tampak bimbang.

"Nggak bisa. Aku nggak bisa kerja sendirian. Aku harus kasih tau soal ini ke Kak Rayyan," gumam Rania.

Dengan cepat, Rania lantas mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan teks yang cukup panjang pada Rayyan. Ia menceritakan semua yang dia lakukan pada kakaknya itu. Wanita berparas cantik itu juga berjanji akan segera menemui Rayyan sepulang dari bulan madu yang terasa membosankan itu.

[Jangan dulu dibalas pesannya, kita susun rencananya pas kita ketemu].

Pesan balasan dari Rayyan setelah Rania menceritakan apa yang menjadi rencananya. Lalu tanpa pikir panjang, wanita itu langsung mengiyakan perintah kakaknya.

Di waktu yang bersamaan, tanpa suara, ternyata Aland sudah berdiri di ambang pintu masuk. Ia keheranan lantaran melihat Rania yang tengah sibuk dengan ponselnya hingga tak menyadari keberadaannya.

Rupanya, Aland yang juga bingung dengan keadaannya sekarang, memutuskan untuk beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam. Akan tetapi, saat ia hendak masuk, langkahnya terhenti karena melihat istrinya yang asyik bersama benda pipih di tangannya.

"Mas Aland." Rania sedikit tersentak karena melihat Aland yang sudah berada di hadapannya.

Aland berjalan ke arah Rania. "Kamu siap-siap, kita pulang pagi ini juga," ujar Aland. Ia lantas keluar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Rania.

Pandangan Rania terus mengikuti ke arah Aland pergi. "Apa dia bilang? Pulang pagi ini juga?" Rania benar-benar tak habis pikir.

"Baru juga sampai kemarin sore, udah pulang aja pagi ini," gerutu Rania. Ia sempat tertegun mengingat keinginannya yang sebelumnya. Tapi entah mengapa, mendengar ucapan Aland yang terasa dingin tersebut, membuatnya merasa kesal sekaligus semakin yakin jika kehadirannya tidaklah benar-benar diinginkan.

"Terus kenapa dia malah pergi? Bukannya ikut beresin," gerutu Rania lagi. Ia pun turun dari ranjang menuju lemari yang berada di sisi ranjang.

***

Di tempat lain, Rayyan menemui seseorang bernama Zaky, karyawan di salah satu minimarket.

"Aku ada tugas tambahan nih buat kamu," kata Rayyan.

"Menarik nggak?" balas Zaky.

"Banget."

"Soal bayaran?"

"Aman. Tenang aja."

Zaky tersenyum senang. "Ok! Kirim detailnya."

"Siap!"

***

Kembali ke resort. Aland yang meninggalkan kamarnya ternyata kembali menemui Arga. Ia ingin mengajak sekretarisnya itu untuk sarapan bersama sembari membicarakan kelanjutan dari rencana mereka.

Tak lupa juga, Aland meminta salah satu staff resort untuk mengantarkan sarapan ke kamarnya. Tentu saja sarapan itu untuk Rania yang saat ini pasti sibuk dengan pekerjaannya yang diberikan Aland secara mendadak.

"Saya sebenarnya agak bingung, Pak," kata Arga.

"Bingung kenapa?" tanya Aland.

"Hanya butuh waktu beberapa menit saja, Devan langsung mengiyakan ajakan pertemuan kita. Janggal bukan?"

Aland terdiam seraya mengalihkan perhatiannya. Ia seakan sepemikiran dengan Arga. Karena rasanya sedikit mustahil jika Devan dengan cepatnya mengiyakan ajakan pertemuan dengan suami dari mantan kekasihnya. Terlebih, seandainya Devan tahu jika yang mengajaknya bertemu adalah Aland yang notabenenya seseorang dulu sempat dikiriminya foto masa lalu Rania.

"Kamu benar. Tapi, biarkan saja alasan yang membuat dia langsung mengiyakan ajakan kita. Toh, kita akan bertemu di tempat umum dan aku juga nggak akan takut kalau dia bertindak di luar dugaan kita," jelas Aland.

"Baik, Pak," balas Arga.

***

Di tengah perjalanan pulang, lagi dan lagi, suasana canggung kembali menyelimuti antara Rania dan Aland. Bahkan, saking heningnya keadaan, Arga yang berada di kursi kemudi, melalui spion tengah, ia hanya bisa menggeleng keheranan ketika melihat sikap dari kedua atasannya itu.

"Gak pa-pa, deh, pulang cepet. Malah bagus, aku bisa langsung ketemu kak Rayyan dan ngomongin kelanjutan rencanaku," ucap Rania dalam hati. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar.

Sampai tiba-tiba, pandangan Rania yang tak sengaja tertuju ke arah spion tengah, matanya justru bertabrakan dengan Aland yang juga sedang menatap ke arah yang sama. Mereka pun saling terikat pandangan selama beberapa detik yang kemudian Aland pun membuang muka ke arah luar jendela. Begitu juga Rania yang alhasil suasana di dalam mobil itu pun semakin terasa canggung.

"Astaghfirullah ...," batin Rania. Jantungnya pun mendadak berdetak sangat kencang.

Sedangkan Aland ....

Ia mengatur napasnya dan berkata dalam hati, "dia hanya pengantin penggantiku. Nggak lebih."

Bersambung ...

🍀🍀🍀

Terima kasih sudah membaca, mampir ke ceritaku yang lain ya 🥰 Semoga suka dan happy reading 🤗

Tetap Utamakan Baca Al-Qur'an 💜

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 42 Permintaan Rania

    Bab 42 Permintaan Rania "Berarti bener dugaan kita. Pasti pria misterius itu yang bawa mobilnya Ayahnya Devan," balas Ryan serius.Zaky mengangguk kecil. Ia sependapat dengan apa yang dikatakan Ryan barusan. Ya, memang itu yang sebelumnya ia curigai sejak awal mobil sedan itu keluar dari rumah keluarga Devan.Seraya terus mengikuti ke mana mobil sedan itu pergi, Ryan mencoba menghubungi Arga untuk memberitahukan apa yang barusan menjadi kecurigaannya bersama Zaky.***Waktu terus berlalu. Hingga kini sinar matahari mulai terbit. Di depan rumah mewah milik Aland, tanpa di duga, Zara muncul. Wanita yang mengenakan topi sebagai upaya menutupi wajahnya itu berulang kali berteriak memanggil nama mantan kekasihnya itu.Padahal si satpam sudah memintanya untuk pergi. Penjaga rumah Aland itu mengatakan dengan tegas jika bosnya melarang Zara untuk datang ke rumah. Akan tetapi, Zara yang keras kepala dan menganggap ucapan si satpam itu tidaklah benar. Ia justru mengancam akan melakukan bunuh

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 41 Mobil Ayah Devan yang Mencurigakan

    Bab 41 Mobil Ayah Devan yang Mencurigakan Ryan pun menjelaskan apa yang dilihatnya. Mulai dari kedatangan orang misterius itu, gerbang yang terbuka hingga kaitannya dengan informasi dari Bi Inah yang sebelumnya sudah ia ceritakan."Aku yakin orang itu pasti yang dimaksud sama Bi Inah," ujar Ryan.Jadi sebelumnya, ketika Ryan bertemu dengan Bi Inah, asisten rumah tangga keluarga Devan itu justru memberikan informasi padanya. Bi Inah mengatakan jika rumah majikannya akan kedatangan seseorang pada dini hari. Hal itu Bi Inah tahu dari obrolannya dengan si satpam yang diminta untuk berjaga pada waktu tersebut."Kita siap-siap. Kalau orang itu keluar, kita ikutin," ujar Ryan serius."Ok!" Zaky menunjukkan ibu jarinya.Setelah beberapa saat menunggu, sebuah mobil keluar melewati pintu gerbang."Kok mobil, Bang, yang keluar?" Zaky kebingungan."Itu mobil ayahnya Devan."Zaky menoleh ke arah Ryan dengan ekspresi wajah yang masih tak mengerti."Ikuti aja dulu," perintah Ryan pada Zaky yang sed

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 40 Sebuah Petunjuk

    Bab 40 Sebuah Petunjuk Ryan menjelaskan mengenai penyelidikannya. Ternyata, Bi Inah memang menyadari keberadaan mobil campervan milik mereka. Sempat merasa bingung dan heran karena belum pernah melihat mobil seperti itu. Mobil tapi tak seperti mobil, pikir bi Inah. Itulah mengapa perempuan paruh baya itu sempat terdiam sejenak menatap ke arah mobil campervan yang menjadi tempat tinggal sementara mereka itu."Terus? Bi Inah itu cerita nggak ke majikannya?" tanya Zaky."Aman," jawab Ryan.Zaky menghela napas. Meski sikap pria itu lebih sering terlihat selengekan, namun misi yang dijalankan tetaplah harus serius. Bukan hanya perkara karena dibayar, melainkan juga karena apa yang dilakukannya menyangkut nama orang yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri."Malah aku dapat info loh dari Bi Inah," ucap Ryan lagi."Info apaan?" sahut Zaky cepat. Ia tampak penasaran. Ryan pun menceritakan info yang dimaksud. Sampai setelah mendengarnya, senyum Zaky mengembang sempurna. Hatinya berbunga-

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 39 Aland Menemui Zara

    Bab 39 Aland Menemui ZaraAland mulai berjalan dengan Rania yang masih menggandeng tangannya. Di susul dengan Arga di belakang mereka.Benar, tak hanya Ryan dan Zaky yang beraksi, namun dengan dibersamai Arga juga Rania, langkah awal Aland untuk menjalankan misi balas dendamnya untuk orang-orang yang sudah mengusik hidup dan pernikahannya pun dimulai. ***Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mobil yang ditumpangi Aland akhirnya berhenti di depan satu rumah sederhana. Pria berwajah dingin itu lebih dulu keluar bersama dengan Arga. Sedangkan Rania diminta untuk menunggu sejenak di dalam mobil.Setelah mengetuk pintu, seorang wanita berambut panjang keluar. Ia adalah Zara."Aland!" Kedua mata Zara seketika melebar. Senyumannya mengembang sempurna.Zara senang dan tak menyangka kalau pria yang dulu hampir menikahinya itu kini ada di hadapannya. Apalagi, Zara hampir stress karena menunggu kabar dari Aland yang tak kunjung muncul setelah pertemuan terakhir mereka beberapa har

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 38 Aland Memulai Misi

    Bab 38 Aland Memulai MisiSingkat cerita, setelah menyelesaikan kewajibannya, Ryan kembali duduk di hadapan laptop kerjanya. Ia hendak mengecek kamera dasbor yang sebelumnya sudah ia sambungkan ke perangkat tersebut. Dan dari rekaman kamera yang tertuju ke arah depan luar mobil, terlihatlah seorang wanita paruh baya yang Ryan kenal. Wanita itu adalah Bi Inah. Ia adalah asisten rumah tangga yang sudah bekerja cukup lama di keluarga Devan. Terlihat, wanita paruh baya itu sedang membuang sampah pada pukul setengah empat pagi. Namun, setelah itu ia tak langsung pergi. Ia berdiri di tempat seraya menatap ke arah mobil campervan selama beberapa saat. Lalu kembali masuk ke dalam rumah dengan sikap yang biasa. Meski begitu, Ryan tak lantas tenang. "Zak! Zaky!" seru Ryan, memanggil nama rekan kerjanya itu."Kenapa? Ada apa?" sahut Zaky yang berada di dapur. Pria itu tengah membuat secangkir kopi hitam sebagai upaya mengusir kantuk yang masih melekat di mata. "Lihat, deh!" Ryan menggerakkan

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 37 Misi Dimulai

    Bab 37 Misi DimulaiAland berjalan mendekati istrinya. Mengusap lembut kedua sisi rambut Rania dengan senyum yang tak kalah manis. Senyuman yang membuat hati wanita itu meleleh dan jantung yang mendadak berdebar."Ada hal yang mau aku katakan," ucap Aland, menatap dalam netra Rania."Apa itu, Mas?" tanya Rania penasaran.Aland menatap lekat kedua bola mata istrinya. Ia kembali mengulas senyum untuk Rania. Senyuman tulus yang kini bisa Rania dapatkan setiap saat. "Waktu bermain sudah hampir dekat," ujar Aland serius."Bermain?" Rania mengernyit. Pikirannya mendadak negatif dan ia mulai tersipu malu. Mengingat bagaimana hubungan mereka akhir-akhir ini. Lebih hangat, intim dan terasa bukan lagi sepasang suami istri di atas kertas.Aland mengangguk kecil. "Iya," jawabnya setengah lirih."Tunggu. Maksud Mas Aland bermain apa, sih?" tanya wanita itu dengan ragu. Ia takut salah menafsirkan apa yang dikatakan pria dengan baju tidur berwarna hitam di hadapannya itu.Pertanyaan Rania barusan ju

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 6 Jawaban Rania

    Bab 6 Jawaban Rania "Dan yang kedua. Aku mau ngajak kamu kerja sama," ujar Aland menatap serius."Kerja sama?" Rania tak mengerti."Balas dendam."Rania terkejut. Ia terperangah tak percaya. "Tapi balas dendam bukan sesuatu perbuatan yang baik, Mas. Jadi maaf, aku nggak bisa terima kerjasama ini,

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 5 Ajakan Balas Dendam

    Bab 5 Ajakan Balas Dendam Aland terdiam sejenak. Ia sedikit tak menyangka dengan jawaban Rania. "Bagus!" Aland pun hendak kembali ke vila, namun sebelum langkahnya berlanjut, tiba-tiba terdengar suara mobil. Aland menoleh dan ia melihat kedatangan Zara.Akan tetapi, kali itu Zara tak datang sendir

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 4 Keberadaan Zara

    Bab 4 Keberadaan Zara Aland masih tak habis pikir. Hari yang seharusnya meresmikan hubungannya dengan Zara, justru menjadikan dirinya sebagai suami dari wanita lain. Alih-alih menyelamatkan muka keluarganya karena kepergian calon pengantinnya, kehadiran wanita itu justru menambah kerumitan dalam

  • My Husband, Marry Me : Balas Dendam Pengantin yang Terluka    Bab 3 Pengakuan Rania dan Kecurigaan Aland

    Bab 3 Pengakuan Rania dan Kecurigaan Aland "Aku dijebak, Mas. Walaupun aku juga gak tau, aku udah disentuh atau enggak. Karena saat aku terbangun, aku masih pakai pakaian lengkap. Hanya saja ... pakaian dan rambutku memang sedikit berantakan," ujar Rania lemah. Ia tertunduk tak berani menatap Alan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status